129 – Menyebar dan Menuai Informasi

129 – Menyebar dan Menuai Informasi

Derak roda kereta terhenti. Rombongan aneh yang baru saja bertolak dari Watu Kisruh secara singkat itu ternyata ada juga yang berani menghentikannya. Siang bolong, di tengah jalan utama, di saksikan oleh orang-orang pula!

Cara menghentikannya sangat istimewa, orang itu meremas pohon di pinggir jalan, dan pohon sepelukan orang dewasa roboh melintang di jalan dengan suara berderak yang cukup menarik perhatian. Mau tak mau rombongan itu berhenti. Dari dalam kereta kuda, keluar lima orang yang segera menghadang didepan. Tampak sang kusir yang berwajah pucat memperhatikan si penghadang dengan tenang.

Orang itu berjalan sangat pelan sambil memperhatikan rombongan itu, tak berkata sepatah katapun, caping yang menutupi kepalanya di lepas dilemparkan begitu saja kesamping, membuat wajahnya terlihat jelas. Dan itu membuat beberapa orang yang cukup paham seluk beluk dunia persilatan tercengang.

Baginda! Seolah kau dengan sendirinya harus tahu, bahwa si penghadang adalah dia—Baginda. Ya, wajah dan gayanya berdiri memang mengingatkan orang kepada pimpinan satu wilayah. Wajah kotaknya yang gagah dengan mata menyorot tajam terasa sangat mengancam, yang sangat khas adalah rambutnya yang di gelung keatas, dandanan semacam itu sepertihalnya para trah darah biru, yang membedakan adalah, aura keras dan bengis yang memancar dari seluruh tubuhnya.

Tiada kata yang terucap, tapi setiap insan yang meyakini olah kanuraga, merasakan betapa pendaran tenaga sakti sudah terpancar bergelombang susul menyusul di kedua tangan Baginda. Kondisi seperti itu tak memungkinkan siapapun untuk bertanya, tapi bersiap untuk bertarung.

Baginda melangkah mendekati lima orang yang berdiri menghadang di depan kereta, hingga jarak mereka tinggal sepuluh langkah saja. Tidak memberi kesempatan orang untuk bertanya, Baginda memukulkan kedua tangannya kedepan, langsung mengarah kepada si kusir.

Wuss! Wuuss! Dua pukulan yang dilontarkan kepalannya secara lurus, tanpa kembangan menimbulkan bunyi deruan yang berderak-derak, seolah di dalam angin pukulan itu terdapat gumpalan lahar. Begitu cepat dan efektif.

Lima orang yang menghadang di depan kereta kuda ternyata bukan sembarang orang, nyaris pada detik yang sama mereka pun melontarkan pukulan secara beruntun menghambat pukulan Baginda.

Cess!cess! tak sangka dalam angin pukulan Baginda tersembunyi pukulan yang lain, meskipun bisa di tangkis oleh gabungan angina pukulan lima orang ini, tetap saja, tidak semua bisa tertangkis, seperti batu meteor yang jatuh bebas tanpa hambatan.

Blar! Sang kusir menangkis dengan cara luar biasa, dia menghentakkan tangan secara simultan mengibas keatas, membuang sisa pukulan Baginda. Bisa tertangkis, namun tenaga yang di hasilkan oleh benturan itulah yang di incar Baginda. Ilmu Ciwapâtra Hintên—golok intan yang telah di perbarui olehnya, justru menunggu tangkisan lawan, untuk mencipta celah. Pada celah itulah wujud sebenarnya ilmu Ciwapâtra Hintên menerobos, tidak lagi padat dan kuat, tapi tipis dan bengis. Menyayat kebelakang tubuh si kusir.

Srrrt! Blaaar…

Kabin kereta tak sanggup menampung ledakan tenaga Baginda dan seseorang di dalamnya. Pada awalnya membelah karena tak sanggup menerima pukulan tebas Baginda, selanjutnya karena benturan tenaga dari dalam, kabin kereta meledak Serpihan kereta hancur lebur, anehnya kuda yang menarik kereta tak terkena imbas apapun, hanya ketakutan dan membedal lari.

Baginda menyipitkan mata, mempertegas pandangan dihadapannya yang masih tersaput debu. Setelah meluruh barulah lelaki ini dapat melihat tegas, ada dua orang di balik debu itu. Mereka menggunakan baju dengan balutan menutup wajah. Orang yang di depan, nampak menghalangi pandangan Baginda yang masih ingin menelisik orang di belakangnya.

“Tak sangka orang seterkenal dirimu mencari permusuhan dengan kami.” Desis lelaki yang melindungi orang di belakangnya.

Baginda mendengus. “Aku sedang ingin cari masalah, sederhana saja!”

Mendadak orang yang terkesan di lindungi itu menarik kawannya, dia membisikan sesuatu, membuat sang kawan ini memberi isyarat kepada yang lain untuk menarik diri.

“Kau sungguh beruntung, hari ini aku juga ingin cari masalah!” desis orang itu.

“Apakah karena kau sudah sembuh?” pertanyaan Baginda membuat orang-orang aneh itu terhenyak.

Dengan termangu, orang itu mengangguk, tangannya mengibas kebawah, sisa kabin yang masih utuh meledak begitu saja, dari balik ledakan berpuluh-puluh ekor ular ikut mencelat, membuat orang-orang yang menonton banyak yang kabur.

Baginda terbahak, “Bagus! Bagus sekali!” disusul tangannya saling memukul satu sama lain.

Buuuk! Buku jari bertemu buku jari, mendengarnya pun terdengar ngilu, tapi nampaknya itu cara Baginda melepaskan serangan yang merambatkan gelombang pukulan pada udara, dalam bentuk sulur-sulur golok yang menebas amat cepat.

Bak maestro penari, sosok dalam balutan baju yang juga menutup muka itu, mengerakan badan berputar dengan lengan terayun melambai. Tidak ada suara benturan, hanya saja Baginda bisa melihat diantara gemulai gerak tangan orang itu, lamat-lamat jemarinya seperti membentuk cakar, tapi hanya sekejap saja. Detik berikutnya, tebasan sulur goloknya bisa di netralisir dengan sempurna, meski demikian, lengan baju orang itu terlihat hangus meranggas—walau kedua lengan putihnya tak terluka sama sekali.

Baginda tersenyum. “Selamat!” ujarnya, lalu membalikkan badan, berjalan begitu saja meninggalkan lawannya dalam kebingungan.

“Apa maksudnya ini?” gumam si kusir bermuka pucat bingung, meski pertempuran sengit terjadi—walau singkat, tapi matanya tak pernah lepas dari kondisi sekitar. Dia tak memperdulikan Baginda. Dirinya menyadari, Kota Pagaruyung saat ini sungguh rawan, entah pihak mana saja yang bergerak, untung saja mereka semua menggunakan penyamaran. Tindakan Baginda yang membingungkan itu, membuat mereka segera bergegas melesat dengan cara berpencar.

Kondisi jalan berangsur senyap, kejadian yang hanya sepintasan itu meski memberikan efek kejut bagi kebanyakan orang, namun tidaklah sampai mengguncang emosi. Tapi ada pihak-pihak lain yang sangat terpukul dengan kejadian tadi.

==oDSAo==

 

Di sebuah ruangan, sebuah ketegangan melanda.

“Bagaimana mungkin dia bisa sembuh?” Tanya sesosok baju kelabu kepada orang di depannya, percakapan itu terjadi setelah mereka mendapatkan laporan tentang kejadian penghadangan Baginda.

“Tak bisa kujawab…” ujar rekannya yang berbaju hijau pupus menatap lepas menatap kebun bunga.

“Pertolongan macam apa yang didapat?” gumam Si Baju Kelabu lagi.

“Entahlah, tapi siapapun dia, racun yang demikian lama bisa di sembuhkan dalam setengah hari… ini pertanda. Sudah muncul orang yang menantang kita.” jawabnya. “Ada berapa orang yang sanggup melakukan itu?” dia balik bertanya.

Si Baju Kelabu terpekur. “Di kota ini setidaknya ada empat orang yang dimungkinan bisa menawarkan racun kita, tapi mereka terpantau tanpa gerakan. Lagipula menyembuhkan dalam satu hari, jelas mustahil!”

“Apakah Saudara Satu Atap?”

“Percuma juga menduga-duga.” Sahut satunya. “Bila hari kita menduga keterlibatan Saudara Satu Atap, kini pun sama saja. Pernahkah kau berpikir, bahwa ada seseorang yang menginginkan kita berpikir demikian?”

Si baju kelabu tertawa getir. “Jika itu benar, dugaanmu sungguh tamparan buat kita…”

Rekannya berpikir sebentar. “Ya, kau benar. Cara yang dilakukan kita ternyata di lakukan orang lain, lalu Saudara Satu Atap yang menerima keuntungannya.”

Senyap sekejap.

“Bagaimana dengan pekerjaan Kundalini?” Tanya si baju kelabu.

“Entah, dia langsung melaporkan kepada Beliau.”

“Kau tidak tahu?”

“Kundalini tak mengatakan apapun kepadaku.” Ujarnya datar, tapi cukup membawa satu nada kekecewaan.

Si baju kelabu menghela napas panjang, bahwasanya anak buah mereka sendiri sudah tak bisa menyatakan satu kabar kepada mereka sendiri, ini membuat mereka tak nyaman. “Sudah saatnya aku bergerak sendiri.”

“Memang seharusnya…” Ujar rekannya menegaskan.

Ruangan itu kembali senyap, lelaki berbaju hijau pupus ini menghela nafas panjang lagi. Sebuah pekerjaan yang berat tengah mereka lakukan, tapi di tengah jalan segala sesuatunya berubah, sejak lima hari terakhir semua hal menjadi aneh dan sulit.

==oDSAo==

 

Jaka memang memberikan cara pengobatan kepada kerabat Ketua Bayangan Naga Batu, namun siapakah sosok yang keracunan itu, Jaka juga ingin tahu. Mungkin, jika dia meminta secara baik-baik, Arseta akan menceritakannya. Tapi Pemuda ini justru mencari jalan yang sulit.

Penikam dan Arwah Pedang memang akan mematai-matai proses penyembuhan, hanya itu saja. Jaka tidak mengatakan kepada mereka berdua, ada orang lain yang bertugas mengganggu. Ya, Jalada, seorang tokoh yang memiliki harga diri tinggi di minta untuk menyerang rombongan itu! Ada banyak hal yang bisa dicapai Jaka dengan pekerjaan Baginda.

Pertama; untuk mengetahui apakah metoda pengobatan berdasarkan pengamatan lewat aroma, berhasil. Kedua; orang seperti apa yang sedang di sandera dengan racun? sampai-sampai bisa menekan pergerakan Ketua Bayangan Naga Batu. Apakah karena dia memiliki kekuatan secara fisik, atau status? Ketiga; manakala pengobatan itu membuahkan hasil, Jaka ingin melihat gerakan apa yang akan di buat oleh si penggagas kerusuhan. Keempat; Baginda. Ya, sosok ini membawa daya tarik tersendiri. Di tak pernah bergerak jika tak diganggu, apa yang akan di lakukan beragam pihak yang memiliki kepentingan, mengetahui tokoh kasta tinggi macam baginda kini bertindak membingungkan? Pagaruyung kini makin mencekam, setelah sebelumnya Serigala, lalu Beruang dan kini ada Baginda. Benteng ilusi yang di perlihatkan Jaka makin mengerucutkan sebuah dugaan, ‘tokoh besar’ tengah mengintai Pagaruyung. Cukup dari tiga tokoh tersebut, siapapun bakal berpikir keras, siapa kiranya ‘tokoh besar’ yang tengah ikut campur? Inilah yang dituju oleh Jaka. Kelima; gerakan apa yang akan di lakukan perkumpulan Garis Tujuh Lintasan? Untuk point ini, Jaka sekedar ingin tahu saja.

Meski dia sudah di baiat menjadi murid dari salah satu tetua garis—Ki Lukita, ada banyak pekerjaan yang membutuhkan latar belakang hebat sebagai penopang rencana-rencananya. Sekelumit informasi dari si penguasa ilmu Gaganantala Ruwag Kalawaça, yang merujuk kepada Delapan Sahabat Empat Penjuru, tentulah bukan sekedar info biasa. Dan memang, Jaka tidak menyangka bahwa para tetua itu merupakan bagian dari pada Perkumpulan Garis Tujuh Lintasan. Sebuah perkumpulan yang menjadi dasar dia berkecimpung di dunia persilatan. Jika Delapan Sahabat Empat Penjuru memiliki hubungan dengan penghuni pondok bambu, dan pria mengerikan itu pun ternyata ada hubungan pula dengan Sang Purwaduka Ki Gede Aswantama. Tentulah ada semacam relasi sulit, dan berintrik. Maka sejak saat itu; sudah terpatri di dadanya niat untuk mengulik rahasia mereka.

Apa yang akan dicapai oleh Jaka saat bertemu para Pelindung Naga Batu; Sadewa, Kundalini dan Kunta Reksi, sampai sekarang masih di pikirkan. Informasi terkini Perguruan Naga Batu, belum didapat, sementara kombinasi bunga yang hendak di capai oleh penggagas kerusuhan rasanya tinggal menunggu waktu saja, hingga akhirnya dia bisa membentuk satu jenis bunga yang tepat. Meski demikian, ada banyak hal yang membuat Jaka bisa mengoleksi informasi dari mereka. Sebut saja, kerusuhan yang di ciptakan Serigala dan Beruang.

Meski sebelumnya dia melesat cepat, kali ini Jaka hanya berjalan santai menuju tempat pertemuan, sebab dia tahu ada seseorang yang mengikuti langkahnya, siapa lagi kalau bukan kawan seperjalanan Harsa Banggi, lelaki sejenis Alpanidra. Saat Harsa Banggi memasuki balik air terjun, dia-pun mengikuti, bedanya setelah Harsa Banggi keluar, orang ini tidak nampak lagi. Jaka memaklumi, bagaimapun juga si tuan muda, tidak mungkin melepaskan perhatian terhadap tiap tindakan Jaka. Dugan pemuda ini, orang itu di khususkan untuk mengikutinya. Pemuda ini tak ambil pusing, makin jelas kegiatannya terekspose, makin baik. Selain dia tak perlu repot-repot menjelaskan, ada beberapa ‘umpan’ yang bisa dengan mudah di makan oleh pihak manapun, tanpa dia harus repot bermuslihat.

Dari keterangan Penikam, pemuda ini tahu harus kemana, tapi; jika gerak geriknya juga di amati orang lain, berarti dia harus tetap bertanya jalan. Janggal rasanya sebagai pendatang tahu kemana harus melangkah. Dan itulah yang dilakukannya, pada setiap tikungan pemuda ini bertanya kesana kemari. Waktu yang di tempuh hanya satu kentungan saja.

Jalan yang di lalui Jaka, merupakan jalan umum, tapi pemuda ini menyadari ada sebuah kejanggalan; suasana yang terlalu lengang! Jaka tersenyum puas, apapun yang membuat kondisi Kota Pagaruyung berubah jelas karena berbagai pihak sudah menyadari ada sekelompok orang yang sedang ikut campur dalam segala macam persoalan. Baik secara menggelap maupun berterang. Tentu saja Jaka boleh menepuk dada atas situasi ini, sebab hasil dari yang terpampang sekarang, prosentase terbesar disebabkan oleh tindakannya.

Tentu, sembuhnya ‘entah siapa’ yang berdiam bersama Arseta, cukup mempengaruhi pergerakan masing-masing. Kepada Ki Alih, Jaka meminta untuk melacak jejak Riyut Atirodra, dan seperti biasa, Ki Alih akan mencari dengan metoda yang tak biasa, mengingat pergerakan Riyut Atirodra terlalu terang benderang, maka yang akan di lakukan Ki Alih tentu mengambil informasi dari tiap sudut pandang masing-masing pergerakan yang terlibat.

Pesanggrahan Naga Batu sudah terlihat, dari kejauhan Jaka tak bisa melihat apa-apa. Bangunan berjarak empat pal dari pintu masuk utama—yang pernah di obrak-abrik Srigala itu, di jaga oleh lapisan-lapisan anak murid perguruan. Mungkin di lain hari pesanggrahan itu berupa tempat persinggahan umum, dan jarang di jaga, tapi setelah kejadian beberapa hari lalu, sudah menjadi keharusan setiap asset Naga Batu di jaga ketat.

“Ada keperluan apa?” tegur seorang penjaga pada Jaka.

Tak mau banyak cakap, Jaka mengeluarkan lencana berukir naga yang terbuat dari perunggu, penjaga gerbang itu menggeragap. “Oh, silahkan tuan.” Dengan tergopoh-gopoh orang itu memandu Jaka hingga masuk kedalam gazebo, kemudian pemuda ini diserah terimakan dengan orang lain.

“Siapa yang akan anda temui?”

“Apa perlu kusebutkan?” Jaka balik bertanya. Orang itu terheran-heran menyaksaikan seorang pemuda dibawah usianya, bersikap sedingin itu.

Jaka-pun tak mau membuang waktu percuma, dia tak ambil pusing dengan keheranan orang. Sambil menyandarkan punggung, pemuda ini memejamkan mata. Melihat sang tamu tak memperdulikan lagi, mau tak mau orang ini segera masuk keruangan pendopo dan menyampaikan kedatangan tamu pada petugas  yang lain.

Pemuda ini sudah cukup mengobservasi saat masuk tadi, setidaknya ada dua puluh orang yang menjaga lintasan jalan umum, dan bisa dipastikan sudut-sudut mati yang lain pasti tak lolos dari pantauan. Dalam hati Jaka tersenyum sendiri, dia sungguh ingin tahu para penguntitnya masuk dengan cara apa. Apakah mereka hanya memperhatikan dirinya dari jauh, atau memutuskan masuk kedalam?

Cukup lama juga Jaka harus menunggu. Jelas tokoh semacam Sadewa sekalian tak mungkin menunggu, sebelumnya mereka meminta dia untuk datang tengah hari. Tak berapa lama berturut-turut muncul lima orang yang juga datang tanpa banyak cakap, mereka duduk tak jauh darinya. Menunggu.

Satu demi satu masuk kedalam, Jaka bisa memastikan, orang-orang itu memiliki lencana yang sama dengan dirinya. Dalam hati Jaka tertawa, Sadewa sekalian terlampau percaya dengan bubuk racunnya, sehingga tak pernah memperhitungkan bahwa obat semacam itu tak berfungsi. Dengan sendirinya Jaka bisa mengingat wajah-wajah yang masuk mendahuluinya. Tak terlihat mereka keluar, mungkin mereka keluar lewat jalan lain, mungkin juga ada obat lain yang siap membius—lagi.

Giliran Jaka tiba, setelah dipersilahkan, dia masuk. Ruangan dalam begitu luas, dan yang di temuinya bukan hanya Sadewa bertiga, tapi ada tujuh orang. Selain Sadewa bertiga, empat orang lainnya menutupi wajahnya dengan kain hitam tembus pandang. Tak terlihat para pendatang yang sebelumnya masuk satu persatu. Wajah-wajah merekapun sudah diingat dengan baik oleh Jaka, meski pemuda ini cukup paham kemungkinan wajah yang tampil saat ini akan berbeda dilain kesempatan.

Sadewa sekalian terlihat saling berbisik satu sama lain.

“Kau datang memenuhi undangan kami.”

“Ya, seperti yang diharapkan.” Sahut Jaka dengan nada takzim.

“Apa yang kau dapatkan sepanjang bergerak di kota ini.” Tanya Kundalini. Beruntun pembicaraan hanya satu orang saja yang bertanya, Jaka sudah bisa menduga bahwa orang itu memimpin kendali interograsi.

“Banyak sekali, tapi apakah diperlukan atau tidak…” jawab Jaka seakan ragu.

Kundalini mengangguk. “Kami hanya memerlukan informasi hal tertentu saja?”

“Seperti apa?”

“Kau bersinggungan dengan kaum persilatan?”

Jaka memasang tampang ragu. “E-entahlah, tapi saya menjumpai hal-hal aneh.”

“Ya?”

“Sehari setelah pertemuan kita, saya menjumpai kawanan padri, tidak sampai masuk wilayah sini, mereka nampak tergesa.”

“Seperti apa rupa mereka?”

Jaka menggambarkan orang-orang yang di senyalir sebagai kelompok Wredatapsa. Ki Alih, Penikam dan para rekan yang lain pernah membahas kalangan Wredatapsa. Dan mereka seperti meraba dalam gelap. Ya, kini saatnya Jaka mengetahui sekelumit siapa dan apa Wredatapsa sebenarnya. Dia melempar informasi palsu, untuk di analisis dan di antisipasi oleh pihak Kundalini.

Tak terlihat Kundalini bereaksi, mungkin Jaka perlu menyebar kabar palsu lebih luas.

“Kau hanya melihat saja, atau mengikuti?”

Jaka tahu, ini pertanyaan menjebak. Jika mereka tahu seperti apa Wredatapsa, jelas kalangan itu adalah orang-orang nomer satu di dunia persilatan, tak mungkin mudah di ikuti. Tapi tetap saja, Jaka mengangguk.

“Ya, kuikuti mereka… karena selain rombongan itu tak biasa, juga pedang yang meeka bawa, sangat menarik perhatianku.”

“Pedang?”

“Betul, awalnya, saya tak tahu itu pedang, karena ada dalam peti kecil. Tapi mana kala kelompok mereka di hadang oleh Keluarga Keenam, disitu saya baru tahu barang apa yang mereka bawa.”

“Keluarga Keenam?” alis Kundalini nampak menjengit, beberapa orang yang lain juga bereaksi. Sadewa terlihat ingin bertanya, namun Kundalini mengangkat tangan—mencegahnya. “Dari mana kau tahu itu Keluarga Keenam?”

“Dari percakapan mereka.” Sahut Jaka singkat.

“Keluarga Keenam, melemparkan benda ini.” Jaka mengeluarkan lantakan emas, dengan tanda khusus.

Kali ini seruan kaget bukan saja keluar dari mulut Kundalini, tapi semua orang di ruangan itu. Tentu saja Jaka tahu, mereka bukan kaget karena emasnya, tapi karena tanda khusus yang tercetak di permukaan.

“Mereka meninggalkan ini begitu saja?” Kundalini bertanya tajam.

Jaka tersenyum, “Tidak juga, aku mengambilnya saat mereka saling labrak.”

Jelas perkataan ini menimbulkan penyakit yang tak sedikit, namun Kundalini bertiga pernah melihat peringan tubuh Jaka yang terlampau hebat, ucapan Jaka bisa ditoleransi.

“Kenapa mereka saling labrak?”

“Keluarga Keenam meminta rombongan padri kembali ketempat mereka berasal, tak boleh melewati daerah yang mereka juga.”

“Oh, ada kejadian seperti itu?” Kundalini makin antusias.

“Ya, mereka menolak. Padahal Keluarga Keenam mengeluarkan beberapa lantakan emas untuk biaya perjalanan para padri itu. Mereka berjalan terus menerobos hadangan Keluarga Keenam, akhirnya pecah pertempuran.”

“Siapa yang menang?”

“Seharusnya Keluarga Keenam.”

“Seharusnya?”

“Ya, jika saja para padre itu tak mengeluarkan pedang dari dalam kotakan, Keluarga Keenam pasti menang.”

“Ah, pedang… seperti apa bentuknya?”

Jaka menggambarkan Pedang Baja Biru. Selesai Jaka menyebut, paras Kundalini berubah sangat serius.

“Dan Keluarga Keenam kalah?”

“Tidak, mereka berhenti begitu saja, langsung memberi jalan.”

“Hm… terus?”

“Saat sekelompok padri itu berjalan melewati Keluarga Keenam beberapa langkah, detik itu juga mereka lari terbirit-birit. Kembali kearah mereka datang.”

“Kau tahu kenapa?”

Jaka menggeleng. “Tapi aku bisa menduga, tentu mereka takut karena melihat sosok pimpinan Kelurga Keenam.”

“Kenapa kau menduga begitu?”

“Sebab kudengar, salah satu kawanan Keluarga Keenam bicara; ‘Serigala sekalian saja harus mundur teratur bertemu beliau.’”

Ya, Jaka ingin melihat reaksi benteng ilusi yang di buatnya, apakah sudah masuk dalam antisipasi orang-orang ini? Dari gelagatnya, apa yang di lakukan Jaka memang sudah membuahkan hasil.

Hening sesaat.

“Ada yang salah!” tiba-tiba Kundalini berseru dan menatap Jaka dengan tajam.

“Ya?”

“Jika memang ada tokoh setangguh itu, kenapa kau bisa mengambil emas Keluarga Keenam begitu saja?”

Jaka mengangkat bahunya, “Entahlah, mungkin mereka memang sengaja membiarkannya. Saya mengambil itu, saat mereka bergebrak. Kupikir, alangkah sayang emas sebanyak itu harus tergeletak percuma.”

“Kau sudah perlihatkan emas itu dimana saja?”

Jaka tertawa dalam hati. “Di setiap kesempatan saat saya ingin membeli sesuatu atau membayar sesuatu. Sayang sekali tak satupun mau menukarnya dengan kembalian.” Desah Jaka. “Mereka lebih suka memberikan apa yang kubeli dengan cuma-cuma, aneh sekali.”

“Kemana saja kau perlihatkan?” kejar Kundalini lagi.

Tentu saja Jaka tahu kemana arah pertanyaan ini. Dia menyebutkan tempat-tempat yang tak mungkin dijangkau oleh Kundalini cs. Seperti toko kelontong milik Mintaraga misalnya, atau warung Ki Sampana—seorang penjual ronde yang di siksa oleh Dwisarpa—kelompok Bhre. “… ada yang menyarankan padaku untuk menukarkan di pegadaian dekat kediaman adipati.”

“Tidak boleh!” ketus Kundalini tiba-tiba. Dia berbisik kepada Kuntareksi. “Kau bisa menukarkan emas itu pada kami.”

Jaka tersenyum. “Begitu lebih baik, saya sudah kehabisan bekal.” Pemuda ini sengaja melemparkan informasi yang didapatkan dari Cambuk.

Cambuk adalah seorang birokrat, tentu saja dia paham, ‘pegadaian’ dekat rumah tinggal Adipati, adalah ‘kantor’ mata-mata yang berkamuflase. Sengaja isu itu Jaka lemparkan untuk melihat keterkaitan kelompok Kundalini dengan pemerintah setempat. Melihat reaksinya, mereka seperti menjaga jarak. Ini info baik bagi Jaka.

Salah seorang bercadar hitam masuk kedalam, dan memberikan sekantung uang pada Jaka, pemuda ini tak keberatan emas satu-satu harus lepas.

“Kapan kau berkunjung ke rumah makan Ki Sampana?” Kundalini mengejar lagi.

“Setelah kita bertemu.” Sahutnya singkat.

Jaka tertawa dalam hati. Kejadian kebakaran yang menimpa rumah makan Ki Sampana, dan sehari berikutnya, rumah makan itu bisa berdiri lagi tepat di sebelahnya, dengan bentuk yang sama persis, tentu saja jadi perbincangan para telik sandi yang berkeliaran di Pagaruyung. Jaka memang memerintahkan semua sumber daya Mintaraga untuk membangun rumah makan Ki Samapana seperti semula, selain untuk memberikan sinyal bahwa di belakang Ki Samapana ada kekuatan besar yang mendukung, juga untuk memberikan satu ‘trademark’, bahwa kabar-kabar aneh bisa didapatkan di rumah makan itu. Ini masalah logis saja, jika ada kekuatan yang melindungi pemilik rumah makan, tentu ada satu maksud dan tujuan tertentu pula di balik pembangunan yang serba instan itu. Para mata-mata akan membaca ‘pesan’ tersebut, dan pada saatnya kelak, Jaka mengharapkan rumah makan Ki Samapana menjadi tempat transaksi ‘dunia bawah tanah’—informasi, isu apapun yang berkembang di seputar Pagaruyung dan dunia persilatan bisa didapatkan.

Jawaban Jaka tadi adalah jalan buntu, bahkan setelah Kundalini bertanya hal lain, Jaka menjawab tak ada kejadian menarik. Bisa dipastikan setelah pertemuan tadi, di belakangnya akan bertambah satu orang lagi yang akan menguntit semua gerak-geriknya. Pemuda ini paham, dengan informasi palsu yang di kabarkan tadi, Penikam dan kawan-kawan harus membuat satu rekayasa fakta lapangan, untuk mengarahkan opini salah siapapun di belakang Kundalini.

Satu pekerjaan sudah selesai. Tinggal melihat apakah ‘api’ yang akan ‘mematangkan masakan dan menghanguskan ikan-ikannya’, sudah siap. Langkah demi langkah menjauhkan pemuda ini dari Pesanggrahan Naga Batu, dan tentu saja masih dikuntit ketat oleh orang si tuan muda.

[bersambung]

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
Quote | This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

40 Responses to 129 – Menyebar dan Menuai Informasi

  1. Su Ripto says:

    waduhh mas didit lha ko macet ki mas.. sudah nunggu lama ini mas,, WOnya lg banjir order ya mas,, pdhl bulan syuro hehe.. semoga mas didit berkenan melanjutkan ya mas, sukur2 sampe tamat, kalo ga yaa cukup sampe elegi naga batu selesai ya mas,, matur nuwun

  2. kok semuanya macet ya mas? ele elee

  3. abdi says:

    Assalamualaikum mas didit….lanjutan ss dan pb nya dah di post pa belon….???
    Thanks

  4. dian says:

    minal aidzin wal fai’dzin mohon maaf lahir batin
    selamat menjalankan ibadah puasa ntuk yang menjalankannya
    mas didit,d tunggu thr ny yaitu ss bab selanjutnya

  5. andri says:

    udah masuk 1 ramadhan tapi sekarang belum ada update terbaru. mas didit mana nich janjinya…

  6. kagemia says:

    Alon alon waton kelakon mas didit…
    Tetep semangat mas…

  7. fajar__dwi says:

    mas suhu didit,, saya nunggu pedang tetesan embunnya.. kalo bisa tolong dikirim dong ke email saya.. dari chapter awal.. makasih..

  8. Dian says:

    di mana…..di mana….di mana mas diditnya…..?!?! Ku hrs mncr d mn…..?!?!
    Tiap hr buka ss tp smp hr in blm update jg ??
    Mungkinkah ky thn kmrn updateny pas bln puasa lg.heh….. sabar….sabar… org sbr d syng mas didit eh… slh ding maksudny d syng TUHAN. hi…hi…

  9. Fat pEnk says:

    always nunggu mas didit.. kayane lagi akeh pisan hajatan.. mas didit lg banjir order yak.. sukses selalu ya mas WOnya.. salam buat keluarga.. dan saya se”KERABAT” fans SS juga selalu mendoakan mas didit usahanya selalu lancar.. serta tidak lupa lanjutannya ya mas.. seruling saktinya aja juga ga apa2.. cerita yg laen sambil alon2 bae.. sing penting jaka disambung ahihiiiii

  10. rif says:

    assalamu’alaikum…
    mas Didit, ditunggu kelanjutan SS nya, semoga mas Didit sekeluarga sehat dan diberi keberkahan oleh Allah SWT. amiin.

  11. Seruling sakti by dian says:

    Mas diditny sehat2 aja kan,ini udah 1bln lbh dr yg d janjikan lho.dan janji adlah hutang d tunggu banget jaka bayu ini.

  12. cepot says:

    mas kpn nich update terbaru,katanya janji tgl 16 april 2016 tapi sampe detik ini blm ada tuh updatenya.jngn suka berjanji klo ga bisa menepati janjinya.
    thanks dari penggemarmu yg setia menunggu

    • Fat pEnk says:

      ahihiii udah sange nungguin ya mas.. eh salah.. udah sakau yak.. sama donk kalo gitu.. mas didit lagi sibuk apa ora fans berate wis nunggu kiye

  13. cepot says:

    mas didit udah tgl 16 april 2016 n beberapa jam lagi menuju tgl 17 april kpn ada update terbaru ss,yudha dan gluduk alit…..

  14. Sumangkar says:

    28 hari lagi , mudah mudahan ada update terbaru

  15. tama says:

    bung didit… mana nih lanjutannya?

  16. gluduk alit says:

    Semoga segera dibukukan,ane pasti beli

  17. kagemia says:

    Matur nuwun mas…
    Mugi lancar mas..

  18. cepot says:

    mas didit, endingnya udah lewat dari tgl 25 Agt 2015 nich…kpn pastinya ending ss

  19. rahmat hariadi says:

    Lanjut semoga lebih mnarik untuk slnjtnya dripada cersil ADBM

    • jannotama says:

      ahaha… saya fans berat ADBM, jadi bisa menyakinkan anda.. saya tak bisa seperti beliau Ki SHM… ini hanyalah cerita pengisi waktu senggang, dengan sedikit refrensi sana sini untuk pemanis belaka.. terima kasih sudah menjadi bagian tulisan tak jelas ini… *menjura*

  20. Bbg says:

    Terima kasih Mas Janotama,Seruling Saktinya, makin seru saja

  21. alhamdulillah hadiah 17an mas @Jannotama makasih ya😀

  22. tama says:

    yg di hadapi baginda kemungkinan istri dari ketua bayangan. … gerakan melambay…lengan putih…
    kalau anaknya sepertinya tidak mungkin. anak dr ketua bayangan perguruan naga batu sifate manja. betul gak bung didit?
    sumpah ya…. ni cersil walau menurut bung didit udah 70 % tp masih banyak tokoh yg blum di kenAl dan masih banyak mistery

  23. hery says:

    tambah seru mas didit ,udah lama kayaknya seruling sakti terbenkalai ,syukur mas didit masih bisa menyisihkan sedikit waktu di tengah kesibukan . hehehehe

  24. rif says:

    mantaaappp….syukron suhu Didit…semoga selalu diberi kesehatan & Kemudahan oleh Allah SWT. Alhamdulillah.

  25. jannotama says:

    Terima kasih semuanyaaa…

  26. Pendosa says:

    suwunnn mas didit buat lanjutan seruling saktinyaaa

  27. kapten says:

    terima kasih terima kasih terima kasih
    suwon suwon suwon seng kuatah
    moga di beri kelancaran dan kesehatan mase
    semangat massssssss

  28. moch yasin says:

    sip. lanjutkan.

  29. Ferdi says:

    Mantap suhu…..

  30. Dukun says:

    Cingcay abiz..semoga allah swt memberi sukses dan kesehatan skelurga suhu,agar cersil nie dpt berlanjut dgn segera gak terlalu lama..nungunya

  31. masfir says:

    trims
    lanjutannya slalu d tunggu

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s