11 – PB : Kecurigaan bertubi-tubi (i)

 

Pagi itu mentari belum lagi muncul, tapi penghuni perguruan itu sudah rusak mimpinya oleh hentakan-hentakan penuh energi. Siapa lagi Kalau bukan Gluduk Alit, seolah tiada lagi hari baginya, tiap saat hanya di gunakan untuk latihan dan latihan, berhenti hanya untuk istirahat dan makan lalu di lanjut lagi. Bahkan pelajaran semadi penghimpunan hawa murni yang paling malas di lakukan pun, kali ini di kerjakan tanpa keluh kesah.

Ki Daru Geni pernah naik darah, karena cara Gluduk Alit mengganti pelajarnya dengan semena-mena. Bagi anak tanggung ini, mempelajari hawa sakti, bisa di umpamakan naik kereta kuda. Otot, itu roda, otak itu kusir, dan kuda adalah kekuatan, dan arah adalah niat. Dan, tahi merupakan hasil. Setiap bergerak mengolah hawa sakti, selalu saja muncul kalimat : “arah.. arah.. arah” sampai puluhan kali dari mulut Gluduk Alit. Masih mending jka seperti itu, tiap kali tangan Gluduk Alit mengibas, selalu saja muncul kalimat “Tahi.. tahi.. tahi…” Karuan saja Ki Daru Geni jadi naik darah.

Tapi itu cerita dua tahun lalu, tak dinyana pagi ini, Ki Daru Geni mendengar lagi, kali ini membuatnya lebih eneg.

“Kusir.. tahi… kusir… tahi… kuda..!!”

“Bocah sialan!” geram Ki Daru Geni. “Bikin malu saja.” Ujarnya sambil mendekati muridnya. Tapi langkahnya terhenti, mata Ki Daru Geni menyipit, kali ini cara latihan Gluduk Alit belum pernah dilihatnya.

Gerakan Gluduk Alit sangat perlahan, namun simultan, setiap gerak seperti membawa bobot puluhan kati. Matanya ditutup sehelai kain, dan ucapan “tahi, kuda, kusir..” tetap saja mengkili-kili telinga Ki Daru Geni untuk menghajar anak muridnya ini. Tapi setiap gerakan yang di kembangkan Gluduk Alit selalu menghentikan niatnya itu.

Ilmu Dasa Welut memang di tengah di kembangkan pemuda remaja ini, bedanya tenaga yang melingkupi merupakan satu kesatuan ilmu Ki Daru Geni dan Ki Gerah Langit.

“Kelihatannya potensi Daun Tapak Gajah sudah memperlihatkan kasiatnya.” gumam Ki Gerah Langit menjajari rekannya.

“Dia begitu terburu-buru..” ujar Ki Daru Geni melihat pola latihan Gluduk Alit.

Ki Gerah Langit tak menjawab, sedikit banyak lelaki tua ini sudah paham mengapa Gluduk Alit melakukan itu, mungkin karena dugaannya yang kelewat berani itu, membuat remaja ini ingin menanggung semuanya sendirian. “Yah, kau tahu bocah itu seperti apa, mungkin dia ingin segera memenuhi janji pertemuan dengan tokoh yang sempat di singgungnya.”

Ki Daru Geni tak menjawab, dia merasa Gluduk Alit yang semi kalem—tanpa cengangas cengenges seperti ini benar-benar menjengkelkan.

Dugaan Ki Gerah Langit memang ada benarnya, apalagi setelah semalam sudah ada yang mengerjai dirinya. Gluduk Alit merasa dia harus berkembang secepat mungkin, maka remaja ini membuat satu keputusan berani. Dia membakar kitab pemberian Ki Gerah Langit, dengan tujuan supaya daya ingatnya tak lagi brengsek. Memang, sekali waktu otak Gluduk Alit sangat moncer, sekali baca langsung hapal, tapi ada kalanya otaknya seperti kerbau—bebal dan malas. Celakanya lebih sering seperti kerbau. Maka untuk merangsang ingatannya, dia membakar semua ajaran dalam kitab gabung, dan menggantungkan sepenuhnya pada daya ingat. Dan metode brengsek “tahi kuda” itulah yang sedang di lakukan untuk meresapkan kedalam otak dan hatinya.

Gluduk Alit menutup gerakan, setelah mencotop penutup matanya, barulah dia sadar kedua gurunya sedang melihat latihannya.

“Guru, saya memohon latih tanding.” Tiba-tiba saja Gluduk Alit menyoja membuat herak kedua gurunya.

“Sejak kapan kau jadi alim begini?”

“Sejak tadi malam guru.” Jawab Gluduk Alit kalem.

Ki Daru Geni terbahak sambil menampol kepala muridnya. “Ayolah, udah gatal pula tanganku menghajarmu.”

Tanpa ba-bi-bu, kakek tinggi kurus ini menghajar dengan satu pukulan lurus tanpa kembangan, Gluduk Alit sudah siap, dengan du tangannya dia menahan pukulan itu dan menggelincirkannya kesamping.

Sayang, Ki Daru Geni tak bermaksud main-main dengan latihan kali ini, dia melihat sudah ada peningkatan terhadap dasar tenaga sang murid, maka 30% tenaga di keluarkan lebih banyak dari biasanya.

Pukulan gurunya memang bisa di tangkap dan tertepis kesamping, tapi remaja ini merasakan tangan gurunya bagai batang besi yang bobotnya luar biasa berat, dia hanya bisa menpisnya sedikit, dan pukulan itu menyerempet bahunya. Untung saja Gluduk Alit tangkas, begitu pukulan sang guru mengenai bahu, saat itu juga remaja ini membuang dirinya dengan cara melintir mengikuti dorongan pukulan.

Terkejut dengan cara muridnya, membuat Ki Daru Geni makin bersemangat, dengan satu langkah panjang, elakan sang murid sudah masuk dalam jangkauan serangan berikut. Sebuah tinju lurus tanpa kembangan menderu menghantam tubuh Gluduk Alit yang masih berputar.

Remaja ini menyadari pukulan gurunya, dengan cekatan dia mengangkat kakinya dan melibat pukulan sang guru, membuat dirinya melintir lebih cepat lagi. Lima kali Ki Daru Geni menghajar, dengan cara yang sama pula Gluduk Alit menepis dan melepaskan tenaga gurunya yang luar biasa.

Ki Gerah Langit ikut gatal juga melihat latih tanding yang lebih menjurus pertarungan itu. “Aku datang bocah!” serunya turut nimbrung.

Kontan saja Gluduk Alit terkejut, mendapat serangan Ki Daru Geni saja sudah keripuhan luar biasa, kini datang pula serangan yang membuat pagi itu terasa bagai siang bolong. Tiap gerakan Ki Gerah Langit menguapkan lapisan-lapisan Dasa Welut-nya. Anak ini mengubah pola elakannya, kali ini dia menyerang dengan Ki Daru Geni dengan gerakan Ki Gerah Langit, dan menangkis serangan Ki Gerah Langit dengan Tinju Akhirat Penakluk Bumi, tapi tinju yang seharusnya digunakan, di gantinya dengan kaki!

Demikian seturunya, semula Gluduk Alit keripuhan dalam mengoplos jurus, makin membadai serangan kedua gurunya, makin lancer anak ini mengeluarkan perbendaharaan jurus-jurusnya. Meski sukses menghindari benturan langsung, bukan berarti Gluduk Alit lepas dari efek hawa sakti yang di pancarkan kedua gurunya. Tubuhnya yang tanpa baju, sudah memar disana sini, kedua lengan juga sudah melepuh. Wajahnya juga sudah bengep tak karuan. Tapi, sinar mata Gluduk Alit begitu jernihnya, dia sangat senang dengan latihan kali ini. Tanpa sadar setapak demi setapak tingkatan remaja ini mulai menaiki tataran lebih tinggi.

Dengan teriakan lantang, Gluduk Alit melenting secara vertical, menyerang Ki Daru Geni dengan sepakan yang di gubah dari Tinju Akirat Penakluk Bumi, dan menyerang Ki Gerah Langit dengan jari tertakub satu sama lain, seperti sedang menyembah, lalu di sabetkan sedemikian rupa.

Sepanjang seratus jurus, kedua tetua itu sudah melihat beigtu banyak kembangan yang di lancarkan Gluduk Alit yang tak pernah mereka sangka, seolah semua tercipta saat itu juga, menariknya lagi, semua itu di dasari dari kedua ilmu mereka berdua. Tak ingin mengecewakan muridnya, kedua orang tua ini memapaki serangan Gluduk Alit.

Desh! Desh! Tendangan Gluduk Alit di tangkis dengan jotosan, sayatan jemari remaja ini di tengkis dengan sepakan tegak lurus oleh Ki Gerah Langit.

Beda tenaga, beda segala-galanya, membuat Gluduk Alit terpental bagai kitiran, namun begitu tubuhnya menyentuh tanah, secara cekatan remaja ini melenting bagai udang, menyerang dengan pola yang sama, hanya dibalik. Ki Daru Geni menapat sabetan kedua tangannya, Ki Gerah Langit mendapat dua tendangan kayuh.

“Haaa… usang sekali!” seru Ki Daru Geni tertawa senang. Dia bisa melihat apa yang dilakukan sang murid, memasuki level yang lebih tinggi dari serangan sebelumnya. Karena pada setiap serangnnya menimbulkan satu pusaran, sabetan tangannya menggeletar menimbulkan akumulasi tenaga yang terpusat pada satu titik, demikian juga dengan tandangan kayuhnya.

Dua lelaki tua ini pun menangkis dengan cara yang di balik, Ki Gerah Langit menghantam tepat di tulang kering Gluduk Alit, demikian juga Ki Daru Geni menanhkisnya dengan tendangan tegak lurus.

Moment benturan tingkal dalam kejapan mata, hanya saja satu tendangan kayuh Gluduk Alit memang sempat tertangkis oleh tumbukan Ki Gerah Langit, dan mendadak tubuh remaja itu mengkerut, dan memanfaatkan daya tangkis Ki Gerah Langit, dan berganti posisi begitu cepatnya. Menendang tendangan tegak lurus Ki Daru Geni dan memapakai pukulan Ki Gerah Langit dengan cengkeraman, satu kaki yang menganggur menekuk, lututnya mengarah kepala Ki Gerah Langit.

“Murahan!” seru Ki Gerah Langit marah, tapi matanya terlihat tertawa. Dengan tenang libatan tangan remaja ini di sentakkan, dan lutut pemuda ini di hajar balik.

Lagi-lagi Gluduk Alit harus terpental, dan seperti yang mereka duga, saat menyentuh tanah, murid mereka membal dan melakukan serangan frontal. Demikian, setidaknya ada dua belas serangan yang di lancarkan Gluduk Alit dengan pola serupa dan variasi berbeda, meskupun di tangkis dengan lebih keras, tetap saja remaja ini kembali dengan cara yang berbeda. Hingga akhirnya untuk ke tiga belas kalinya, Gluduk Alit saat melenting balik, dia bergerak dengan hanya satu serangan, tinju lurus. Tapi kedua orang tua ini terperangah, sebab pada tinju itu, seperti tersaput satu asap fatamorgana.

“Bagus!” Ki Dari Geni menangkis dengan tinju serupa, mementalkan Gluduk Alit, tapi entah kenapa tangan kakek jangkung ini pun turut terpental, dan memukul Ki Gerah Langit, untung saja orang tua itu cekatan bergerak, hingga kibasan Ki Daru Geni dapat di tangkis.

“Menyerah deh…” Gluduk Alit terduduk dan tidur terlentang, seluruh tubuhnya tak ada bagian yang tidak melepuh. Dadanya mengombak kencang. Remaja ini merasa tubuhnya remuk redam.

Kedua kakek itu saling pandang, mereka mundur dari arena, dan baru disadarinya Ki Blawu Segara dan Ki Sindu menyaksikan latihan mereka.

“Selamat adi…” ucap Ki Blawu Segara menepuk pundak adiknya.

“Apanya yang harus di selamati kakang?”

“Muridmu itu bergerak dalam pola dasar tapi kekokohannya benar-benar nyata, himpunan dasar tenaganyapun sudah jauh lebih baik saat dia meledakkan tenaga bila hari.“

“Ah, masih terlalu dini untuk memujinya.” Jawab Ki Daru Geni tak bisa menyembunyikan kegembiraan hatinya. Apa yang di bicarakan kakangnya itu memang nyata, dan lebih dari itu; tenaga akhir yang di hasilkan Alit Wijaya merupakan satu hal baru yang harus di telaah ulang, unsur mencipta nampaknya lebih berkembang pada diri muridnya. Sayangnya banyak hal yang tak efektif. Mungkin pola pengajaran berikutnya akan di sesuaikan.

“Apa latihanmu tak terlalu keras?” Tanya Ki Sindu.

“Begitulah caraku mengajar, kakang. Lagi pula anak itu kalau belum babak belur belum berhenti.”

Pembicaraan mereka terhenti menyadari Gluduk Alit mendatangi mereka. “Selamat pagi tetua.” Sapa Gluduk Alit takzim.

Ki Blawu Segara dan Ki Sindu mengangguk.

“Apa yang harus saya lakukan sekarang? Apakah pengajaran bisa dilakukan sekarang tetua?” Tanya Gluduk Alit kepada Ki Blawu Segara.

“Kau sungguh terburu-buru.” Ujar Ki Blawu Segara dengan tersenyum, melihat wajah Gluduk Alit yang ungu bengkak seperti terong busuk. “Nanti tunggu saudara-saudaramu siap, ada pembagian.”

Keempat tetua berlalu, namun sebelumnya Ki Sindu yang terakhir berlalu sempat bicara padanya. “Nanti malam, aku akan ajarkan engkau hal yang menarik… kalau kau mau.”

Tanpa pikir panjang, Gluduk Alit mengiyakan. Meskipun dalam kepalnya timbul macam-macam prasangka.

===o0o===

Sebelum membersihkan diri, Gluduk Alit mampir ke dapur, anak dan cucu Ki Sindu Nampak tengah mempersiapkan makanan, tak perlu di suruh, remaja ini membelah batang-batang kayu kering.

“Makasih nak mas…”

Gluduk Alit menoleh mendengar suara itu, seorang wanita cantik akhir tigapuluhan keluar dari dapur. “Ehm.. sudah biasa bibi, katakan saja kalau bibi perlu apa-apa.”

“Kebetulan, kalau kau tak keberatan, tolong petik kelapa dan, kau bisa berburu?”

“Baik bi.” Sahut Gluduk Alit cepat. “Kalau berburu itu nama tengahku..” sahut Gluduk Alit sambil menyeringai, lalu mengaduh, dia masih merasakan sakit di wajahnya yang beberapa kali kena gaplok guru-gurunya.

“Apa tidak lebih baik kau lakukan sesuatu pada wajahmu?” ujar wanita cantik itu. “Aku punya ramuan untuk luka seperti itu.”

“Ah-ha, terima kasih bi.. sudah biasa, nanti juga sembuh sendiri.” Kata Gluduk Alit sembari ngacir.

Dari kejauhan wanita cantik itu berseru. “Cukup kelinci saja ya, jangan yang lain..”

“Baik bi,” sahut remaja ini berteriak.

Ufuk Timur sudah menguning terang, tak mau terlambat remaja ini bergegas mencari tempat yang di tengarai sebagai sarang kelinci. Ternyata Gluduk Alit harus berlari cukup jauh untuk mencarinya. Matarahari sudah terlihat penuh, paling tidak sudah satu jam dia berlarian. Begitu mendapatkan tempatnya, tak butuh waktu lama, untuk menangkap sebelas ekor kelinci. Pemuda tanggung ini, cukup suka daging kelinci, dan tahu mana kelinci liar mana peliharaan. Apa yang di dapatkannya, membuat remaja ini bingung.

“Aneh, ini kelinci peliharaan. Kalau memang masih kepunyaan keluarga kakek Sindu, masa harus memelihara sejauh ini? Kalau bukan, berarti disekitar wilayah ini ada orang lain?” pikirnya. Gluduk Alit ragu untuk menyembelih kelinci-kelinci itu, dia hanya mengikat leher-leher kelinci dengan akar pohon.

“Ah, jadi bingung…” makin dipikir makin bingung, dari pada kesalahan, remaja ini melepas lagi kelinci-kelinci itu. Sebagai gantinya dia mencari ikan, saat mencari lokasi kelinci tadi, ada sungai cukup lebar di bawah sana.

Satu jam kemudian kemudian, ikan yang di perolehnya cukup untuk makan sekampung, besar-besar pula. Sepanjang perjalanan pulang, remaja ini makin tenggelam dalam pemikirannya. Sungai tempat dia mencari ikan pun, ada beberapa titik yang terbiasa di kunjungi orang, pun disana dibentuk bilik sedemikian rupa, semacam perangkap ikan. Gluduk Alit kawatir itu menjadi peliharaan orang pula, maka dicarinya tempat yang tak pernah terjamah orang, pinggiran sungai dengan semak belukar tinggi. Setelah memetik kelapa, tanpa di suruh; anak ini membakar ikan jadi setengah matang, setelah di bumbui dia membungkusnya dengan daun pisang.

“Bi, maaf… pesananmu tak dapat kuperoleh, ini sebagai gantinya.” Kata Gluduk Alit sambil menyerahkan belasan bungkusan daun pisang, yang sudah di bakarnya.

“Apa ini?”

“Pepesa ikan.”

“Oh,” agak terkejut wanita itu menerima bungkusan dari Gluduk Alit, di bukanya satu mencium aromanya lebih dekat dan mencuil sedikit. “Wah bagus sekali, ini enak! Terimakasih. Kau bergegaslah membersihkan diri, setelah ini kita makan bersama.”

Gluduk Alit mengangguk, dari pada menggunakan kamar mandi yang ada di dalam perguruan, dia lebih suka mandi di tempat terbuka dekat dengan bangunan tempat latihannya tadi malam. Setelah mengetahui beberapa kelumit masalah, dalam pikiran remaja ini setiap yang di lakukan penghuni perguruan ini menjadi satu tanda tanya dan kehati-hatian tersendiri.

Ki Blawu Segara memimpin makan pagi, wajah Gluduk Alit yang bengkak menjadi perhatian anak-anak Enam Dewa Sakti.

“Kenapa wajahmu lit?” Tanya Sakyamuni.

“Biasa kang, pagi-pagi di bikin nyungsep…” jawab remaja ini sambil menyeringai. Matanya mengisar kesekeliling, tak sia-sia juga pepes buatnya, semua orang menikmati.

“Ehm, kau suka sekali ikan ya?” Tanya Gluduk Alit pada Hong Li.

“Iya..” jawab remaja putri ini sambil sibuk memilah duri.

“Enakkah?”

“Iya enak sekali, Ibu Mbayu Luh Nindya pintar sekali memasak…”

Gluduk Alit menyeringai, “Betul…” Katanya. Sebenarnya pemuda tanggung ini akan menyambung omongan, tapi melihat gurunya mendelik, dia mengurungkan niat.

“Nah, berhubung pagi ini ada salah satu saudara kalian yang minta langsung adanya pelatihan, setelah sarapan kita akan membagi kelas.” Tutur Ki Blawu Segara.

Wingit Laksa, Gurba Dignya, Arman Syakar, Sakyamuni di ajar Khu Kim Liong. Intan Padmi, Aisyah Arifa, Mira Devi diajar Akihiko Yutaka. Takeshi Yutaka, Kenji Yutaka, Himuro Yutaka, Khu Tian Hai di ajar  Gulam Jabe. Khu Hong Li, Kitahara Yutaka dan Akina Yutaka, diajar Ki Daru Geni. Luh Nindya dan Wulan Asti—cucu Ki Sindu pun tak luput dari pengajaran, mereka masuk kedalam kelas Ki Daru Geni. Sementara sebagai ke khususan karena terpilih mendapat tugas berat, Gluduk Alit di ajar Ki Blawu Segara dan Ahmed Khalid. Ki Blawu Segara membabaskan para anak dan cucu murid Enam Dewa Sakti untuk belajar kepada siapa saja manakala di anggap sudah cukup oleh pengajarnya.

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
Quote | This entry was posted in Petualang Bengal and tagged , . Bookmark the permalink.

19 Responses to 11 – PB : Kecurigaan bertubi-tubi (i)

  1. Anoname99 says:

    Lanjutan nya udh ada lum nich, penasaran banget soalnya..

  2. LUKITO says:

    Lanjutnya mas bro … penasaran puoolll

  3. lanjutnya kang
    kangen, ngebbet iki hehehe
    hla wong josssss je

  4. Bbg says:

    Terima kasih Mas Janotama, sudah kangen sama gluduk alit.

  5. tamabarakta says:

    ah kangennya….lanjut lanjut

  6. jabrik says:

    alhamdulillah ….

  7. otikul says:

    Siiip .. obat kangen paling mujarab. Matur nuwun …..

  8. Dhani says:

    Manteeeppp Brooo. keep up the good work…!

  9. ridlo says:

    Lebaran paling asyik klo dapat THR Dulit dr mas didit.
    THR. …… hihihi

  10. kapten says:

    terima kasih mazzz
    komenya kayak atas
    semangat maz

  11. tama says:

    kayanya Dulit ini critanya bung didit waktu masih remaja ya? bandel” gimana gitu.😀

  12. ridlo says:

    Gluduknya aja difokusin mas, SS agak berat mikirnya, apalagi ngarangnya…. Smoga sehat selalu. Makasih updatenya…

  13. mas didit udah sembuh kah?? jaga kesehatan dulu aja mas.. biar cpet sembuh ya.. makasih gluduknya

  14. Su Ripto says:

    wahhh pak didit udah sembuh y pak.. makasih updatenya pak

  15. R Braja says:

    Top Markotop….habis SS langsung PB
    Lanjutttt Mas….

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s