128 – merangkai simpul kekacauan [ii]

Dari cerita Kaliagni, disebutkan; Harsa Banggi mengetahui ciri khas bom asap buatan Jaka. Ini cukup baginya untuk merangkai rencana. Hanya kalangan tertentu saja yang mengetahui bom asap buatannya berasal dari mana. Tak bisa di sangkal, dia mendapatkan cara pembuatan ragam alat kepentingannya dari catatan murid-murid Sang Lila—meski dengan berbagai modifikasi yang sudah di lakukan. Tidak mungkin benda semacam itu dapat dikenali begitu saja, jika dia bukan seseorang yang memiliki cerita tersendiri—berkaitan dengan benda tersebut.

Maka itu dapatlah Jaka menarik kesimpulan, tidak mungkin seseorang—dari perkumpulan tertentu dapat memiliki informasi detail mengenai ciri-ciri bom asapnya, kecuali kelompok tersebut memiliki sumber daya luar biasa, dan tahu betul mengenai hal-hal yang berkaitan dengan Sang Lila. Bagaimana dengan Empat Pisau Maut? Mereka perkumpulan yang dikabarkan sejajar dengan kemunculan Sang Lila, kalau tidak bagaimana mungkin dengan ragam khasanah yang sudah dihilangkan Jaka masih dapat di kenali?

Berbekal ‘dugaan’ awal, bahwa orang yang di temui Kaliagi merupakan sosok yang latar patut di perhitungkan oleh siapapun, maka; sedikit banyak, aksi Serigala dan Beruang di Perguruan Naga Batu pasti akan dipantau.

Jaka sendiri harus memastikan kesimpulannya, bahwa: ada kelompok yang membutuhkan satu tumbuhan yang ‘langka’ dalam pembuatan sebuah pencampuran racun. Untuk mengkamuflase keperluannya itu, Jaka mengutus dua satwa memancing di air keruh, supaya ragam opini terbentuk sendiri.

Harsa Banggi pun menjadi titik tolak Jaka dalam menyampaikan informasi secara tak langsung kedalam Perkumpulan Empat Pisau Maut, terkhusus saat mereka harus berhadapan, dua titik penting pemahaman ilmu kanuragan Jaka, di lepas untuk mengarahkan opini, di mana dirirnya sanggup menggerakkan jantung Harsa Banggi berdetak lebih cepat, dan membuat tubuh kaku dalam kejap berikutnya. Bagi orang lain, itu mungkin sebuah kemungkinan pembukaan ilmu yang hebat, tapi bagi Jaka itu adalah bagian dari rangkaian pemahaman. Dalam hal ini karena Jaka sangat mengerti olah langkah yang di sarikan dari penemuan yang di berkaitan dengan Segara Sarpa—pendiri Garis Tujuh Langit, di padukan dengan olah nafas saat dirinya harus berhadapan dengan pemilik pondok bambu, maka terciptalah sebuah ritme nan magis.

Ritme semacam itulah yang digunakan Jaka untuk menarik Pisau Empat Maut dari kalangan yang sedang berkecamuk di dalam kota Pagaruyung. Jika Harsa Banggi dapat mengenali bom asapnya, dapat dipastikan ada orang lain lagi yang akan ‘tersadar’, sesungguhnya ‘kakunya’ gerakan Harsa Banggi bukan karena Jaka berhasil menyadap kemampuan lelaki bermata bak ikan mati itu, tapi karena gerak olah langkah yang di timbulkan Jaka.

Jadi, seandainya tak ada orang yang bisa mengambil kesimpulan sejauh itu, Jaka sudah memperjelasnya dengan membuat dirinya masuk sebagai murid Ki Lukita, salah satu tokoh yang juga merupakan bagian dari perkumpulan garis.

Dan bagi pemuda ini, cara berbelit seperti itulah yang dapat di gunakan dalam titik tolak rencana berikutnya. Pisau Empat Maut akan mengambil info dari petunjuk-petunjuk yang sudah di rangkai Jaka, sementara ‘si penggagas rencana’ justru merupakan tujuan terakhir Jaka. Jika benar mereka mengeksekusi rencana—sedikit banyaknya—berdasarkan reaksi dilapangan, maka Jaka percaya apa yang tengah di upayakan ini akan menggeser—entah seberapa banyak—dari rencana awal mereka.

Melepas ketegangan tidak semudah yang di pikirkan, itu yang terjadi manakala kau terlampau menganggap remeh urusan. Jaka kadang bersikap demikian, bukan karena meremehkan masalah, tapi karena hobinya yang tidak umum… ketegangan yang di hasilkan dalam sebuah masalah itulah yang di cari! Ketegangan, keruwetan masalah, membuatnya hidup, mencari solusi ditengah segala keruwetan, adalah seni, tidak ada yang salah pada seni, demikian juga solusi pada masalah tertentu, tidak ada ada yang salah. Hanya kurang tepat.

Kurang tepat? Ya, Jaka merasa ada yang kurang tepat pada rencananya, tapi justru dia menyadari sepenuhnya; bahwa rencana sempurna dapat tercipta, karena reaksi yang muncul dari target. Cara menguntit dan memata-matai yang terbaik, adalah; membuat target menguntit dirimu, membuat target penasaran dengan semua tingkah lakumu, dan ‘melibat’ mereka dengan semua kegiatanmu. Dalam kondisi yang cukup menegangkan seperti sekarang, teori ‘sederhana’ macam ini, hanya bisa dipikirkan oleh Jaka.

Tapi, apakah seseorang dari Perkumpulan Pisau Empat Maut dapat di buat sedemikian mudah terlena dengan teori sederhana ‘memancing harimau meninggalkan sarang’? tidak. Justru karena mereka mengaggap diri sendiri kelewat pintar, cara sederhana, akan diabaikan. Meski demikian, Jaka memahami; cepat atau lambat mereka akan sadar dengan rencananya, makanya dari beberapa hari lalu dia sudah membuat ‘sendi-sendi’ penguat ‘libatan’ kepada Alpanidra dan Tuan Muda, dengan mengikuti Serigala dan Beruang. Keduanya mengacau Perguruan Naga Batu, juga keduanya memiliki nama yang mentereng. Cukup dengan hal ini saja, tak perduli setinggi apapun kastamu, kau akan sangat penasaran dengan rencana Berung dan Serigala.

Jaka kembali muncul di air terjun Watu Kisruh. Praktis secara berterang, dia sudah bolak-balik dua kali. Dari tempatnya bersembunyi tadi, dia menyaksikan Wasopama ‘dilibat’ Arwah Pedang, sedangkan Beruang dan Serigala berhasil ‘melibat’, Alpanidra dan si Tuan Muda.

Suasana disekitar air terjun lengang, hanya gemuruh air yang menemani kesendirian Jaka. Namun bukan tanpa alasan, pemuda ini kembali. Dalam perhitungannya pasti akan ada pihak yang menemuinya atau meminta untuk bertemu. Selain itu, Harsa Banggi dan kawanya juga belum keluar dari balik air terjun, Jaka tak dapat menebak mereka sedang apa, tapi jikalau sampai sekian lama mereka tak juga kembali, dugaan Jaka bahwa di balik air terjun ada semacam ruangan, terbukti sudah.

Meski seolah berdiri mematung menikmati deruan air terjun, telinga dan perasa pemuda ini aktif dengan sempurna, gerakan di belakangnya sudah terpantau dari tadi.

“Apa maksud tindakanmu?” suara yang cukup berat cukup menyentak Jaka. Bukan karena kehadirannya, tapi sepertinya dia tahu itu siapa.

Tak menoleh Jaka menjawab. “Tidak ada, hanya bersenang-senang saja.”

“Hmk.” Dengusan tak percaya terdengar, dan Jaka berkisar satu langkah kesamping. Sebuah hawa serangan cukup kuat lewat begitu saja disampingnya.

Si pendatang nampak termangu dengan kecekatan Jaka yang sedemikian baik. “Aku menunggu janjimu.”

Jaka memutar badannya menghadapi si pendatang. “Itu bisa kupastikan.” Katanya lekat-lekat memandang si pendatang.

“Kau tahu siapa aku?”

Pemuda ini mengangguk.

“Kau tidak heran?” orang itu bertanya.

“Heran…”

“Kenapa tak bertanya?”

“Apakah harus? Semua orang punya rencana sendiri-sendiri.” Tukas Jaka tersenyum kecil. “Dan aku memastikan kehadiranmu di sini tidak akan sia-sia.”

“Apakah sudah ada kabar?”

Jaka tercenung sejenak. “Belum ada.”

“Kenapa kau begitu percaya diri bisa membantuku?!” suara orang itu agak tinggi.

Jaka tertawa tanpa suara. “Kau yang memiliki akar kuat pun dapat diadu domba orang. Dalam hal ini kau harus menghargai proses yang sedang terjadi. Tenang saja, belum ada kabar; bukan berarti kiamat. Jika kau tak mendapatkan kabar, bukankah lebih baik kabar baik itu yang menghampirimu sendiri?” kata Jaka dengan lambat-lambat.

“Jadi…” orang itu tercenung. “Kau melakukan ini semua, demi untuk kabar itu?”

“Benar. Tapi tidak sepenuhnya demikian, karena semua masalah saling berkait. Kabar yang kau cari akan muncul kepermukaan, entah itu jelas atau tersamar.”

Orang itu terdiam, lalu mengangguk lambat-lambat. “Ya, keluarga keenam memang tidak bisa di anggap remeh.” Ujarnya sambil membalikan tubuh, dengan gerakan bagaikan asap tertiup angin, orang itu pergi begitu saja.

Jaka menyeringai, ‘api yang berkobar’ sudah datang satu lagi. Ya, orang itu dari Garis Tujuh Api yang mencari anaknya. Meskipun Jaka berjanji akan mencari kabar tentang hilangnya sang putri, dia pasti tak bisa sesabar itu. Maka, dengan sembunyi-sembunyi Jaka meninggalkan tanda yang bisa di ketahui golongan Garis Tujuh Api, supaya dia bisa memantau pergerakan dirinya.

Kota Pagaruyung, mungkin belum pernah mendengar Keluarga Keenam, tapi mulai saat ini Jaka yakin, akan ada yang menyebarkan berita itu. Karena Jaka menyadari Harsa Banggi sedang mematai-matai dirinya. Jaka yakin orang itu belum keluar dari air terjun, tapi tahu-tahu bisa muncul di situ, menandakan ada jalan tembus di balik air terjun.

Jaka tertawa, rasa girang menyeruak begitu saja, dia merasa persoalan ini akan maskin menarik. Kalau saja Harsa Banggi bukan bagian dari dalam Empat Pisau Maut, pasti Jaka tidak akan berpikir macam-macam. Tapi, kehadiran Harsa Banggi yang secara sembunyi-sembunyi pasti sudah di perhitungkan dengan matang, bahwa dia akan ketahuan oleh Jaka. Untuk apa tindakan ‘seceroboh’ itu? Bukan lain untuk melemparkan opini kepada Jaka, bahwa air tejun watu kisruh menyimpan sesuatu. Si Tuan Muda sudah ‘membaca’ sifat Jaka yang memiliki keingintahuan besar, maka kehadiran Harsa Banggi bisa ditafsirkan banyak hal selain untuk memancing pergerakan Jaka. Cuma saja, Si Tuan Muda pun belum bisa meraba sampai dimana informasi yang dikuasai Jaka, mimpi pun dia tak menyangka kehadiran Harsa Banggi justru dimanfaatkan oleh Jaka.

Tadinya pemuda ini akan pura-pura tak mengetahui kehadiran Harsa Banggi, tapi jika dia bersikap demikian, itu sama saja tak menghargai tingkatan Harsa Banggi, dia sudah bersembunyi seketat itu, dan menampilkan satu ciri ‘kecerobahan’ di sengaja, yang hanya bisa di deteksi orang macam Jaka.

Jaka menoleh kearah persembunyian Harsa Banggi, tidak mengatakan apa-apa; hanya menyeringai. Lalu melesat begitu pesatnya kearah timur. Sesaat kemudan Harsa Banggi keluar dari persembunyian, di susul oleh Warsopama. Bukannya orang tua itu sedang di mata-matai Arwah Pedang? Kenapa muncul di situ lagi?

“Keluarga Keenam?” gumam Warsopama dengan berkerut. “Kau pernah dengar?”

Harsa Banggi menggeleng.

“Apa yang sedang di rencanakan orang itu?” wajah tua Warsopama berkerut makin dalam.

“Entahlah… apapun itu, omong-omong  kau bisa lepas dari kuntitan orang?”

Warsopama tertawa tak menjawab. Harsa Banggi mengeluh, entah kenapa sekarang ini seolah semua orang berpenampilan penuh misteri. Hanya karena seorang Jaka Bayu.

“Tak usah kau risaukan, kalau jodoh tak akan kemana.” Ujar Warsopama sambil melangkah di ikuti Harsa Banggi yang makin tak mengerti arah pembacaaran orang tua itu.

==o0o==

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
Quote | This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , , . Bookmark the permalink.

21 Responses to 128 – merangkai simpul kekacauan [ii]

  1. kristanto says:

    maturnnuwun mas didik,semoga selaludiberi kemudahan …

  2. cepot says:

    mas didit manalagi update terbaru ss,yudha dll

  3. ekaputra says:

    obat kangen yg sangat mujarab

  4. royan says:

    akhirnya setelah menunggu sekian lama….
    semoga cepat sembuh dan di lanjut ss nya….

  5. xizie says:

    Muga update lagi sebelum gema takbir berkumandang🙂 semoga sll dikasih kesehatan dan rizki yg lancar.

  6. lupus says:

    cepat sembuh y suhu.. makasih

  7. Pendosa says:

    akhirnya update jugaa…… rajin2 di update dong bung didit >,<

  8. tama says:

    trimakasih bung didit… ss nya disambung lgi😀
    semoga cepat sembuh bung didit.
    aqu masih agak bingung coba baca lg dr awal:-/

  9. jendral says:

    yahh mas didit sakit yak.. cpet sembuh y mas.. makasih updatenya mas

  10. makasih pak bos.. semoga cepet sembuh ya.. ni sy br mbuka hehe.. mlh mas diditnya sakit, semoga cepet sembuh mas.. dh mo lebaran,tmen2 sy dh sy kasih tau ni bhw ms didit dh posting kelanjutan crita pasti mereka seneng makasih y mas

  11. R Braja says:

    Alhamdulillah..matur nuwun mas Didit.
    Mugi enggal mantun…

  12. kagemia says:

    Alhamdulillah, matur nuwun mas sampun dilanjut SS-ipun. Mugi sakitipun cepet mantun lan saged makaryo malih. Aamiin.

  13. Dwis says:

    Alhamdulillah, makasih mas sampun dilanjut. Mugi saged cepet mantun sakitipun mas. Tetep semangat nggih…

  14. Afrizal says:

    horeeeeeeee
    tq mas didit…

  15. cepot says:

    thanks mas atas update ss,tapi bagaimana dengan cerita pendekar aneh sama petualangan bengal kapan kira2 bisa di update…..

  16. jannotama says:

    iya bro… sebelumnya memang saya mau nulis diawal ramadhan, tapi harus bedrest, sampe puasa ke 15, jadi terlantar.. semoga update tidak lama lagi

  17. godam says:

    alhamdulillah update juga

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s