127 – Merangkai Simpul Kekacauan [i]

note : maaf mungkin belum cukup, tapi tulisan yang saya susun di sela rasa malas, cape, bosan, dll.. ternyata bisa menghasilkan 1 chapter juga, alhamdulillah.. percaya tidak, 9 bulan saya butuhkan untuk menulis 1 chapter! alhamdulillah usaha WO saya sedang di uji Allah SWT dengan client yang masya allah–banyak. Dan konsekuensinya, ‘hobi’ yang kini menjadi ‘beban’ saya jadi terlantar… sungguh membuat para pembaca jadi kurang nyaman. tidaklah bijak jika saya berpanjang lebar, selamat membaca.. semoga next chapter bisa saya susulkan secepatnya. sekali lagi maaf.

WA : 088802814176 , BB : 741A5FAE,  FB: fokus wo <== bagi yang mau ngasih semangat😀

===============

Pekerjaan yang paling mudah dilakukan biasanya tidak pernah terpikirkan, itu yang akhir-akhir ini di rasakan oleh Jaka. Pertarungannya dengan Bhre dan perjumpaannya dengan Adiwasa Diwasanta dan sang kembaran, memberikan banyak inspirasi untuknya. Dan ide baru ini jelas akan disisipkan pada saat berjumpa dengan Sadewa, Kuntareksi dan Kundalini.

Dari tempatnya bertarung dengan Bhre, menuju Pesanggrahan Naga Batu tidaklah terlalu jauh, tapi Jaka sengaja tidak berkunjung lebih dulu. Meskipun dia memiliki janji untuk berjumpa dengan Sadewa, Kuntareksi dan Kundalini di hari kelima, toh perihal waktu bebas ditentukan sendiri. Jaka memilih berjumpa dengan kawan-kawannya lebih dulu. Ada yang harus dipastikan.

Entitas tiap data perlahan terkumpul, membentuk sebuah puzzle yang harus di satukan dengan teliti. Jika saja tiap kepingan informasi memiliki perbedaan, tentu mudah untuk membingkainya dalam sebuah satu kesatuan, tapi justru karena tiap kepingan memiliki kesamaan benang merah, membuat Jaka harus hati-hati dalam mengurutkannya. (baca chapter 97-99)

Pemuda ini bisa saja mencari Jalada—Watu Agni, atau si Baginda di seputar Perguruan Naga Batu—karena tugasnya mengawasi orang-orang yang keluar masuk—termasuk melacak keberadaan Ekâjati. Tapi, Jaka lebih memberatkan untuk menjumpai Penikam dan Pariçuddha yang bergerak ke air terjun Watu Kisruh, selain tempatnya paling jauh dari jangkauan, masalah yang sedang dalam pantau mereka berdua di pandang berbobot lebih.

Teringat dengan Penikam, Jaka menghela nafas panjang penuh syukur. Ingatannya kembali melayang saat dia harus bersusah payah menemukan Penikam. Sungguh tak di sangka, rekannya itu di tahan di kandang sapi! Kandang sapi yang merupakan kamuflase dari salah satu markas keluarga Tumparaka. Kondisi Penikam saat itu tak jauh beda dengan kondisi Phalapeksa, untung saja Jaka sudah pernah menangani kondisi seperti itu. Dalam kandang yang hangus itu, bergegas Jaka memberikan pertolongan.

Begitu sadar, yang tercetus dari mulut Penikam justru mengejutkan Jaka. “Pemabuk keparat…”

Namun sayangnya sampai beberapa hari kedepan kondisi Penikam justru tidak membaik, manakala dia sudah cukup sehat, ingatannya pada saat kejadian justru samar-samar. Tapi yang di ingat olehnya, Ekabhaksa sangat memegang teguh amanat Jaka, bahwa tanggung jawabnya dalam menjaga Phalapeksa benar-benar dilaksanakan.

Mengenai urusan; apa yang di maksud pemabuk keparat—yang menurut Jaka berkaitan dengan Wuru Yatalalana, lalu siapakah yang melukai Penikam dan kemana larinya Ekabhaksa, itu bisa di runut kemudian hari. Yang terpenting Jaka merasa lega, sebab tak ada satupun dari kawan-kawannya yang tewas. Entah seperti apa kepedihan yang harus di tanggung, jika pemuda ini harus kehilangan orang lagi.

–o0DSA0o–

Wisa Lambita, itu bukan nama racun, tapi jenis racun. Racun itu bersifat menggantung. Mengantungnya-pun ada dua jenis, pertama; tipe berdaya rusak ganas, jika pengobatannya salah, satu demi satu ruas tulang tak akan terikat otot lagi. Tapi salah satu kelemahan racun jenis lembita ini pun sangat fatal, dengan dosis tepat dan tempat yang tepat, penyembuhannya hanya akan berlangsung dalam waktu setengah hari saja. Kedua; tipe lambat, berjalan layaknya siput, mudah di bendung, tapi tak bisa ditanggulangi, karena siput bisa memanjat setinggi apapun bendungan yang kau buat. Dan sebagus apapun pengobatannya, waktu yang di butuhkan justru akan sangat lama dan melelahkan. Itu akan menjadi penyakit menahun, tidak mematikan tapi sangat mengganggu. Ibarat borok, begitu dirasa sembuh dan kau kupas, akan muncul borok baru. Begitu kira-kira perumpamaan untuk menggambarkan jenis wisa Lambita.

Dari berbagai informasi yang terkumpul, Jaka sudah bisa mengambil kesimpulan, jenis lambita yang menyerang kerabat Ketua Bayangan Naga Batu, adalah jenis ganas. Hal ini dapat dia tengarai dari aroma obat yang teruar, waktu pertama kali Jaka masuk kedalam kampung misterius di tengah kota (chapter 62)

Pariçuddha di utus oleh Jaka untuk membayang-bayangi proses penyembuhan yang di lakukan di air terjun Watu Kisruh. Penikam-pun turut mengintai pihak-pihak yang akan memantau setiap kegiatan Ketua Bayangan Naga Batu.

Tapi ada satu hal yang cukup mengganggu pikiran Jaka, dan itu tidak di sampaikan didepan rekan-rekannya. Manakala pihak yang mengganggu Ketua Bayangan Naga Batu ikut mengawasi pergerakan mereka saat menuju air terjun, pasti ada satu trigger yang akan segera aktif. Apa dan bagaimana itu? Jaka belum dapat merabanya. Tapi kurang lebihnya; jika mereka mengetahui bahwa ada pihak yang membantu dalam pengobatan terhadap kerabat Ketua Bayangan Naga Batu, tentu ada satu konsekuensi tindakan baru, sebagai tindakan antisipatif—counter.

Deru air terjun terasa menghentak dada, beberapa hari sebelumnya Jaka pernah berniat ke tempat ini, tapi urung. Tak disangka saat ini, justru dia memiliki kesempatan. Batu yang bertebaran di sekitar air terjun membuatnya cocok di sebuah Watu Kisruh. Pandangan Jaka mengisar berkeliling, banyak pengunjung di sekitar air terjun cukup membuatnya aman. Paling tidak, jika ada seseorang atau kelompok yang bertindak mencolok, pastilah terlihat begitu bodoh.

Di sepanjang perjalanan, kode yang di berikan Penikam dan anak buahnya bisa di baca Jaka, itu berbunyi; sejauh ini belum mencurigakan. Tapi Jaka tidak percaya, bukan tidak percaya kepada kemampuan Penikam, tapi segolongan orang sedang berprogres meniru racun ganas masa lampu, sudah tentu tak akan mudah dilacak dengan cara biasa.

Mungkin, bertindak diam-diam itu baik, tapi lebih baik lagi jika seluruh perhatian orang terpaku padamu. Pemuda ini tertawa dalam gumam, dari tempatnya berdiri dia melemparkan ranting berturut-turut, dan detik itu juga tubuhnya melejit, kemudian menapak pada masing-masing ranting, melejit lagi dengan saat bersamaan menendang ranting yang dipijaknya. Sekilas tindakan itu seperti terbang. Seseorang yang bergerak bagai terbang, dan mendadak menerobos kebalik air terjun pasti menarik seluruh perhatian orang. Peringan tubuh pada umumnya hanya percepatan kendali atas tubuh, tidak dalam cara seperti yang ditampilkan Jaka. Sudah jelas gerakan semacam itu mimpipun orang tak akan membayangkan.

Banyak seruan kagum, ada pula pandangan terkejut, semua reaksi itu di sapu rata oleh pandangan Jaka. Ada dua kelompok orang yang segera mendapatkan perhatian Jaka. Tapi kondisi di balik air terjun ternyata lebih menarik. Sama halnya dengan Gua Batu, di balik air terjun Watu Kisruh ternyata terjamah peradaban. Ternyata ruangan di balik air terjun itu memiliki luas seribu kaki persegi, cukup luas. Bebatuan padas yang tergenang air tak cukup menyembunyikan tanda seringnya tempat itu di pijak manusia.

“Menarik sekali…” pikir Jaka. Tapi dia belum tertarik untuk menyelidiki lebih jauh. Saat ini, menarik perhatian orang-orang yang ada di sekitar air terjun adalah prioritasnya. Lalu dengan menjejakkan kaki sekuatnya pada dinding gua, Jaka menghempaskan tenaga untuk mendapatkan daya lejit maksimal, pemuda ini kembali ‘terbang’ menerobos air terjun, dan melesat begitu saja. Tindakan semacam itu dipandang orang lain sebagai kemubaziran, atau boleh jadi pamer semata, tapi bagi Jaka, dia memiliki dua macam keuntungan. Pertama; kaki tangan Sadewa sekalian sudah pasti akan menceritakan peristiwa tersebut, dan ini bisa menjadi bahan omong kosong dan nilai tawar yang akan menaikan nilai Jaka di mata orang-orang Perguruan Naga Batu. Kedua; pihak yang selalu memata-matai Ketua Bayangan, akan memecah perhatian padanya. Paling tidak, misi Jaka untuk menyembuhkan korban yang terkena jenis wisa lambita, akan terlaksana tanpa gangguan.

Jaka melesat diantara batang pohon, kecepatan yang tak mungkin di ikuti kebanyakan orang lain itu ternyata mendapat perhatian dari dua orang. Orang itu bertampang biasa, dia menatap bayangan Jaka dengan sorot mata yang menampilkan perasaan sulit di jelaskan. Disamping lelaki bertampang biasa, nampak lelaki bungkuk itu manggut-manggut.

“Menarik, sungguh menarik… entah peranan apa yang sedang di mainkan. Kemampuannya masih menjadi ganjalan bagiku.” Ujarnya.

“Hm.. kau urung bertarung dengannya, apakah akan diulangi?” Tanya Alpanidra—lelaki bertambang biasa.

Warsopama, si lelaki bungkuk yang merupakan saudara kembar Adiwasa Diwasanta, mengumam tak jelas. “Aku belum tahu, meski kami memutuskan untuk mundur, bukan berarti perhatianku padanya akan lepas!” desisnya seraya bergerak mengikuti Jaka, gerakan tubuhnya ringan seperti asap di hempas badai.

Alpanidra menghela nafas, berurusan dengan Jaka hanya akan mendatangkan sakit kepala berkepanjangan. Lebih baik dia memperhatikan apa yang akan terjadi di sekitar Air Terjun Watu Kisruh.

Tak berapa lama tujuh kelompok orang datang bersamaan, dalam rombongan berbeda. Ketujuh rombongan itu memakai kereta kuda. Yang mutlak mengetahui apa kepentingan orang-orang itu, hanya Jaka sekalian. Semua orang sama meraba-raba apa yang akan di lakukan mereka.

Wajah Alpanidra tampak tercengang, saat melihat dari dalam kereta keluar tujuh orang dengan wajah berlumuran bedak putih. Mereka membawa ranjang bamboo, dan menuangnya begitu saja. Ular! Ternyata mereka menuang ular dalam jumlah luar biasa banyak. Ini jelas cara mengusir orang yang sangat manjur. Kau tak perlu berteriak-teriak, cukup ular yang mewakili mulutmu.

Hampir tiap orang memaki panjang pendek, dan terpaksa sipat kuping lari. Diantara satu sampai seratus orang, paling banter hanya sepuluh orang yang tak takut ular. Tapi berhubung jumlah ular amatlah banyak, yang sepuluh orang inipun terpaksa harus angkat kaki.

Tak perlu menunggu hingga lima puluh hitungan, air terjun watu kisruh sudah steril dari orang. Anehnya ratusan ular yang di tuang itu tidak lagi bergerak jauh, hewan melata itu seperti diatur kembali menekati kereta kuda dan membentuk lingkaran—seperti memagari wilayah pinggiran air terjun. Alpanidra bisa melihat orang-orang yang datang kusus memata-matai rata-rata bersembunyi diatas pohon, seperti dia. Agaknya tujuh rombongan itu tidak memusingkan kemungkinan ada yang sembunyi di sekitar air terjun watu kisruh. Setiap rombongan mengeluarkan papan sepanjang satu tombak dari dalam kereta.

“Ah, mereka membentuk pagar.” Desis Alpanidra.

“Ya, dari pada bertindak sembunyi-sembunyi, lebih baik berterus terang dan pasang sikap waspada begini. Aku sangat suka caranya…”

Alpanidra terperanjat suara diatasnya persis membuat kuduknya meremang. Saat menoleh, ada rasa lega juga malu. “Ah, tuan muda..” ujarnya sembari menjejerinya.

Masih memperhatikan kegiatan di bawah, sang tuan muda berkata. “Aku tahu Warsopama memang sobatmu sebagaimana Adiwasa Diwasanta, tapi untuk saat ini, kau tidak perlu berhubungan dengan dia.”

Alpanidra tampak tercengang. “Kenapa? Bukankah kedekatanku dengan dia pun ada nilai tambah sendiri untuk kita?”

Si tuan muda mengela nafas. “Sebab orang itu sudah terlibat dengan dia.” Sahutnya pendek. Alpanidra paham yang di maksud dia, adalah Jaka Bayu.

“Aku masih belum paham..” ujarnya.

“Berdasarkan kondisi Harsa Banggi yang pernah menjajal kemahirannya, aku melihat seseorang yang berhubungan dengan dia, pasti akan menjadi lebih lembek.” Lalu dengan nada tajam, dia menyambung lagi. “Bagaimana menurutmu?”

Alpanidra tercenung. “Aku tidak berhubungan dengan dia, tapi aku merasa jika urusan yang melibatkan campur tangan pemuda itu, membuatku merasa urusannya jadi makin ruwet.”

“Apa yang terjadi saat kau merasa demikian?” kejar sang tuan muda.

“Kewaspadaanku menurun, karena terlampau fokus pada urusannya.”

“Itulah maksudku. Berurusan dengan dia, sama saja membiarkan dirimu tanpa pertahanan dan membiarkan dirimu di baca seenaknya.”

“Tapi anda berhubungan dengannya?” Tanya Alpanidra seolah memperingatkan.

“Aku ini kekecualian. Dia membacaku, akupun membacanya… kami saling mengukur. Dan ya terus terang, dengan melihat cara kerjanya, aku dapat memprediksi gerakannya lebih lanjut.”

Alpanidra paham maksud ucapan tuan mudanya. “Saat ini boleh jadi kita masih bekerja sama, tapi siapa tahu, besok dia sudah menjadi lawan?” gumam lelaki ini di amini sang tuan muda.

Sebuah kereta dengan corak yang sama, muncul belakangan. Benteng dadakan yang baru mereka buat, tersingkap satu jalan. Ular-ular yang semula membentuk semacam ‘tali’ pertahanan-pun, menyibak perlahan membiarkan kereta itu masuk dalam lingkaran pertahanan ular.

Dan kereta itu tidak berhenti melainkan terus dipacu hingga masuk kedalam air. Hingga akhirnya dua ekor kuda itu tak sanggup lagi menariknya. Mendadak saja tuas dari kereta terlepas semua membebaskan kekang kuda, dan kereta ini mendadak melaju dengan cukup pesat ke tengah-tengah sungai—bak perahu, mendekati curahan air terjun. Kondisi mengapung itu kurang lebih memakan waktu satu kentungan, tak ada yang tahu apa yang sedang terjadi.

Tidak ada gerakan apapun dari dalam kereta, tiba-tiba saja kereta itu bergerak kepinggir, dan kait kekang kuda sudah kembali dipasangkan beberapa orang. Dalam beberapa hitungan saja, kereta itu sudah dihela menjauh dari air terjun watu kisruh. Demikian pula dengan tujuh rombongan lain yang datang lebih dulu, mereka membereskan segala sesuatu—termasuk ular-ular yang dengan jinaknya masuk kedalam keranjang. Situasi air terjun kini begitu lengang dan mendatangkan perasaan mencekam.

Sekalipun tuan muda dan Alpanidra merupakan orang-orang kasta tinggi organisasi rahasia, merekapun gagal paham dengan kejadian yang di amati dari awal hingga akhir.

“Apa yang kau lihat?” tanya si tuan muda.

“mereka datangdari kampung tengah kota.” Jawab Alpanidra.

“Apa yang di lakukan?”

“Tidak paham. Tapi bisa kupastikan ada kaitannya dengan Jaka.”

Sang tuan muda berpikir, ‘mungkinkah ini yang akan menjadi faktor api atau angin yang dibiacarakan Jaka?’

“Sepertinya aku perlu bertanya secara langsung.” Ujar Alpanidra. Tapi tindakannya segera di cegah. Sebab begitu bayangan rombongan kereta mulai menghilang dari area watu kisruh, muncul sosok yang membuat Alpanidra terkesip.

Arwah Pedang bergerak duduk di tepian air terjun. Disusul muncul pula Beruang yang memperhatikan keadaan sekeliling terutama di atas pohon.

“Ah, pengacau di Naga Batu ini pun kemari?” desis sang tuan muda.

“Kupikir dia bersahabat dengan Arwah Pedang.” Simpul Alpanidra. “Hanya Serigala yang belum muncul…” baru saja terucap begitu, ekor matanya melihat sosok Serigala yang duduk mencangkung di batang pohon, tak jauh dari mereka bersembunyi. Sungguh mengherankan, padahal mereka cukup waspada, bagaimana mungkin kehadiran Serigala tidak terdeteksi? seolah dia muncul demikian saja, padahal merekapun sudah datang sedari tadi.

Serigala melompat turun dan menghampiri Beruang.

“Apakah kau melihat kehadirannya?”

Wajah sang tuan muda dan Alpanidra berubah, bukan karena pertanyaan Serigala, tapi cara bicara Serigala dengan suara yang kerasnya minta ampun. Bahkan deru air terjun-pun bisa teratasi. Seolah dia sengaja ingin menunjukkan kepada pengintai, tak perlu repot-repot menyadap pembicaraan.

“Arahnya menuju kesini, aku yakin tak jauh-jauh dari sini.” Jawab Beruang dengan suara tak kalah keras. “Ada yang mencurigakan?”

“Banyak, tapi sudah kugebah sebagian, lainnya adalah para pemeran penting, aku biarkan saja…” ujar Serigala lagi.

Cara bicara keduanya sudah cukup membuat siapapun yang datang memata-matai, adalah bagian dari rencana dua orang ini.

Tapi sang tuan muda dan Alpanidra tak bergeming. “Mereka hanya menggertak.” Gumam Alpanidra.

Sang tuan muda tak menanggapi, biarpun mereka selalu bertindak diam-diam, ada kalanya merekapun bergerak terang-terangan. Harsa Banggi ada di bagian ini.

Baik Serigala maupun Beruang kali ini melihat dua sosok bergerak mendekat. Meskipun mereka belum pernah bertemu salah satunya, tapi orang dengan sorot mata bak ikan mati itu, jelas tokoh yang pernah di ceritakan Jaka. Sedangkan satunya adalah lelaki bertampang biasa, setipe dengan Alpanidra, bedanya dia lebih gemuk dan pendek.

Empat pasang mata bertemu, seolah ada percik api pada tiap pandangan mata.

“Ayo, mulailah!” dari kejauhan tanpa juntrungan, terdengar suara memprovokasi. “Membosankan!” suara berikut sudah melampaui keempat orang yang sedang berhadapan, dia sosok bayangan yang bergerak sangat pesat dan menerobos air terjun.

Ternyata Jaka! Warsopama tampak mengikuti dengan ketat, tapi dia tak berani menerobos kedalam air terjun, hanya bisa berdiri termangu di salah satu batu yang paling besar. Matanya melirik memandang Arwah Pedang yang duduk dengan sikap bak sedang bersemedi. Tak memperdulikan dirinya.

Kening Warsopama berkerut makin dalam, sepanjang jalan dia mengikuti Jaka, barulah sadar pemuda ini hanya membawa jalan kesana kemari tanpa maksud. Yang lebih gila lagi, pemuda itu seolah bisa meninggalkannya sewaktu-waktu, tapi itu tak di lakukan. Saat dirinya kehilangan jejak, Jaka muncul, begitu seterusnya, hingga akhirnya mereka kembali ke watu kisruh.

Jaka melesat keluar dari air terjun sembari tertawa. Kali ini gerakannya jauh lebih cepat dari kedatanganya, Warsopama sudah malas mengikutinya, dia bergerak kearah lain. Kejap berikutnya Arwah Pedang-pun bergerak kemana Warsopama pergi.

Pemandangan yang serba ganjil itu membuat sang tuan muda makin tidak mengerti dengan permainan yang di lakukan Jaka.

“Aku tidak paham, sungguh tidak paham…” gumam Alpanidra.

“Ah…” desah sang tuan muda dengan mata berbinar. “Aku tahu!” desisnya.

Alpanidra melihat dengan sorot ingin tahu juga. “Kehadiran pertamanya adalah memancing antusias kalangan tinggi, kurasa Serigala, Beruang dan Arwah Pedang ada kaitannya dengan Jaka. Manakala mereka muncul, siapapun pihak yang sedang diamati Jaka, akan lebih terlihat gerakannya.”

“Anda melihatanya?”

“Tidak. Belum! Tapi pasti akan kita ketahui. Dan mendadak Jaka muncul lagi, kali ini kucing-kucingan dengan Warsopama. Tidakkah kau melihat disini ada maksud yang lebih dalam?”

“Ya, begitu Jaka berhasil memaksa mundur Warsopama dan kawan-kawan, sudah tentu mereka tidak berdiam diri, meskipun tak mengambil tindakan. Apa yang di lakukan Warsopama-pun adalah bagian dari rasa penasaran terhadap Jaka. Tindakan Warsopama dan kawan-kawan sudah ada dalam perhitungannya, kesana kemari dengan diikuti tokoh tinggi macam Warsopama, aku yakin Jaka bertingkah seperti seorang tuan yang di ikuti pelayan…”

“Bukankah itu yang kau arahkan kepada dia?” Tanya sang tuan muda.

Alpanidrapun mengiyakan, dia datang kepada Warsopama saat sobatnya itu tengah bermain-main dengan pembunuh bayangan. “Tapi, nampaknya pelayanan yang di maksud Warsopama tidak seperti maksud yang kuinginkan.”

“Itu karena Jaka memaksa mereka mundur. Jika itu belum terjadi, aku yakin ‘pelayanan’ Warsopama akan mengganggu Jaka melebihi benalu pada pohon.” Simpul sang tuan muda.

“Aku jadi heran… apakah dia begitu mahirnya membaca situasi?” gumam Alpanidra.

“Kurasa, ada informasi yang masuk padanya yang kita tidak punya, maka dia bergerak demikian bebas, tak takut langit-bumi, tidak takut kepergok.”

“Kita harus tahu info seperti apa itu!” cetus Alpanidra.

“Tak perlu, pada saatnya kita juga akan tahu. Lagipula, dengan cara apa kau akan meminta informasi padanya? Keras? Dia jauh lebih keras dari dugaan kita. Menipu? Aku kawatir justru kaulah yang akan ditipu.”

“Aku hanya kawatir jika tak bergegas, kita tak cukup membuat persiapan.”

Sang tuan muda tak menanggapi, dia lebih tertarik melihat kondisi Harsa Banggi. Sejak Jaka membuatnya jadi ‘lembek’, lelaki itu butuh situasi dan lawan untuk menaikan semangat. Tak di sangka Jaka muncul sengaja menyiram ‘minyak’. Harsa Banggi justru orang yang tak suka menuruti anjuran orang. Manakala Jaka berteriak untuk mulai—jelas maksudnya bertarung, justru hal itulah yang tak akan di lakukan. Sudah cukup Harsa Banggi mendapat ‘kerugian’ di tangan Jaka, bagaimana mungkin dirinya akan menambah kerugiannya dengan menuruti perkataan Jaka?

Dan lelaki inipun hanya lewat begitu saja, lalu dengan rekannya menerobos air terjun. Serigala dan Beruang membiarkan saja, mereka duduk tepat dibawah pohon persembunyian Alpanidra.

“Kau bisa menghadapi mereka?” Tanya sang tuan muda sedikit bimbang.

“Hanya satu.” Desis Alpanidra.

“Ah, kurasa tidak perlu berhadapan secara keras. Keduanya memang kuasumsikan ada hubungan dengan Jaka, tapi hubungan seperti apa; kita belum tahu.” Lalu tubuhnya melejit dengan ringan meninggalkan persembunyian di ikuti Alpanidra. Gerakan mereka memang tak menimbulkan desir angin, tapi tak sanggup melenyapkan bau tubuh. Justru Beruang dan Serigala sangat baik dalam melacak jejak berdasarkan bau. Keduanya bergegas mengikuti dalam jarak yang aman.

Walaupun belum melihat sosok yang diikuti, namun keduanya paham, tugas yang dibebankan oleh Jaka, cukup berat. Mereka dapat merasakan betapa berat aura yang tengah mereka lacak. Meskipun keduanya menyadari diatas pohon adalah tempat persembunyian sasaran, tapi keduanya tak mau ceroboh. Mereka sama-sama ragu dalam bertindak, maka cara yang paling baik justru pura-pura tak tahu lokasi musuh.

Itulah alasannya Jaka memasangkan Beruang dengan Serigala. Keduanya merupakan petarung andal, tapi mereka lebih suka bergerak sendiri. Tapi Jaka berpandangan lain, empat tangan lebih baik dari dua tangan, dan menghadapi perubahan di dalam organisasi Pisau Empat Maut, Jaka tak mau mengambil resiko.

Jaka memang tak pintar merangkai kata, tapi dia cukup mahir merangkai kesimpulan. Meskipun Jaka bekerja sama dengan perkumpulan Pisau Empat Maut, adanya Adiwasa Diasanta di sisi sang tuan muda, membuat Jaka tidak dapat tenang. Perkumpulan itu bisa menghimpun tenaga luar biasa, tentu memiliki andil tak kecil dari perubahan yang terjadi pada setiap situasi. Jika dugaan Jaka benar, bahwa sosok penggagas kekacauan di Pagaruyung ini mengetahui semua pergerakan yang ada, maka cara satu-satunya adalah; menepikan para ‘pemain besar’, untuk mendinginkan kepala masing-masing.

Bhre sudah, kini tinggal Pisau Empat Maut. Ya, dua kelompok ini justru di lihat oleh Jaka sebagai katalis sempurna dari semua rencana sang penggagas. Kedua organiasi itu memiliki sumber daya luar biasa, justru merekalah pion paling sempurna yang dapat dimainkan oleh ‘si entah siapa’, dengan trik yang demikian halus. Maka, mereka harus di tepikan sementara. Cara yang di lakukan Jaka-pun hanya di mengerti oleh dirinya. Dia biarkan bhre dan si tuan muda membaca semua gerakannya, menggiring opini mereka dalam satu wadah ide. Dan sedikit demi sedikit menjadi alat ‘cuci otak’ sempurna, untuk melepaskan pemikiran yang memang di arahkan oleh si penggagas rencana.

Jaka pernah menyebutkan kepada Bhre, bahwa kegiatan apa pun yang mereka lakukan tak lebih dari perencaan simultan oleh kelompok tertentu (chap.102-103), maka secara terang-terangan Jaka meminta mereka mundur. Menghadapi Bhre yang tinggi egonya, ‘mudah’ bagi Jaka untuk memainkannya. Tapi Empat Pisau Maut jelas cerita berbeda, mereka tak bisa di hadapi dengan halus, tak bisa pula dengan keras. Hanya dengan membentuk opini selapis demi selapis, menyesatkan kesimpulan mereka sendiri-lah, yang tengah di arahkan Jaka secara bertahap.

Siapa yang tahu jika Harsa Banggi juga merupakan ‘bidak’ rencana Jaka dalam ‘membelokkan’ perhatian sang tuan muda dari urusan di Pagaruyung?

 

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
Quote | This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

79 Responses to 127 – Merangkai Simpul Kekacauan [i]

  1. rahmat hariadi says:

    Lanjut mas bro… kangen critanya

  2. jannotama says:

    kawan-kawan.. maaf meleset dari rencana, karena sempet sakit saya harus bedrest s/d puasa ke 15.. baru update sebagian, semoga untuk selanjutnya bisa minim sebulan 2 kali. amiin

  3. tama says:

    dan bulan puasa pun hampir berakhir… kapankah jaka kan muncul? apakah setelah lebaran…
    tak pasti… ku hanya bisa menunggu. … dan menunggu…
    hingga akhir waktu atau hanya ini akhir cerita dri jaka.. ?

  4. rif says:

    Di tunggu kelanjutan SSnya mas didit.

  5. cepot says:

    sementara waktu trus berjalan dan ramadhan sudah memasuki hari ke 17 tapi apa daya SS,GLUDUK ALIT DAN YUDHA tidak kunjung di update. padahal di ramadhan ini kita harus menjaga perbuatan kita yang sudah dijanjikan. bagaimana nich bung didit para penggemar menantinya sesuai dengan tulisan bung didit yg akan di ada update baru di ramadhan ini

  6. aris says:

    belum yak hihii😀
    still waiting mz didit

  7. Su Ripto says:

    hehe inyong tah selalu sabar kang afrizal.. mas didit tenang bae.. kumpulna disit mood,e .. hehe inyong slalu menunggumu pokoke

  8. Afrizal says:

    udah ku bbm mas didit, katanya lagi merangkai kata dan ngumpulin mood.. sabar aja ya..

  9. hihi ane jg dh menanti nanti ini.. puasa br 5 hari :v .. mungkin mas didit lg dlm proses finishing kawan2.. dan jg ntar habis lebaran biasanya banyak yg hajatan.. ni kyknya mas didit di bulan puasa mlh banjir order WO ni (amiinn).. ane setia nunggu kehadiran lanjutan si jaka dkk mas.. dan makasih buat mas didit yg sdh menghibur kami dg “cerita spionase” versi pendekar mas hehe.. gratis pula😀

  10. usep says:

    mas didit mana nich ss dll,katanya puasa dah ada yg update tapi sampe skr blm ada.jgn suka berjanji klo qtanya tdk bisa menepati apa yg dijanjikan,kasian para pembaca setia yg setiap hari slalu buka situs mas didit n ternyata harapan kosong

  11. bantarmangu says:

    kayane wis setahun lewih kiye,syukur arep dilanjut wulan puasa tek enteni mas,moga moga lancar terus usahane aamiin.

  12. tama says:

    setiap hari lihat SS gara” di janjiin bulan puasa di lanjut. gak sabar nunggu😀

  13. asiikk puasa mo dilanjut, makasih pak bos Didit.. jd bs buat baca sekaligus nunggu waktu buka ni.. dr 2000 sekian halaman hmpir apal ane, tiap hr ane baca tanpa bosen.. tenkyu verimac pak bos😀

  14. lupus says:

    haiya dr td q bolak balik baca trnyata belum ehh suhu Didit dh ngasih komen diatas bhw dilanjut bulan puasa, siap suhu, cantrik tunggu

  15. jendral says:

    siap.. 86 ndan Didit.. saya tunggu dan ga bosan2 baca dari chapter awal sampai chapter trkhir ini..

  16. adi says:

    liat comen kirain dh dilanjut trnyata bulan puasa,, hahaha ok ndan gw tunggu clalu,, mkasih ndan

  17. Dwis says:

    siap menunggu mas didit🙂

  18. kristanto says:

    matur nuwun mas didit, moga usaha lancar… nulisnya juga lancar…hehhe

  19. jannotama says:

    puasa dilanjut kawan-kawan…. nantikan ya

    • kapten says:

      kita selalu menanti dengan sabar setia mas didit
      dengan penuh harap.
      kami ucapkan banyak terima kasih terima kasih dan terima kasih …………….

    • yusman says:

      Akhirnya….dilanjut lgi….dah ga sabar nunggu mpe puasa hehe…

    • tejo says:

      kula always nunggu pak.. keleresan menwai puasa.. saged kangge nunggu buka.. maturnuwun saderenge

  20. Dwis says:

    dhalem taksih ngantri mas didit..

  21. godam says:

    niki critanipun bade diupdate mboten mas didit , ngentosi sayah suwi

  22. astrajingga says:

    nunggu sekian lama…. cuma PHP:'(

  23. cepot says:

    suhu didit manah nich janjinya,katanya tanggal 16 April 2015 sudah ada update SS maupun gluduk alit tapi sampe tanggal 17 April belum ada tuh updatenya

  24. nungggu 2 hari lagi jadi ga sabar nih mas didit ayo semangat

  25. kapten says:

    sabar sabr sabar

  26. banyu says:

    tiap minggu buka..blm ada update yg baru…sedihnya tuh disinii..

  27. yoserizal says:

    Mantab ceritanya suhu didit

  28. Jeonshin Weed says:

    -_-

  29. dikit lg bulan april., semoga mas didit ngrampungin elegi perguruan naga batu, sukur2 ampe tamat ya mas :v

  30. rif says:

    semoga bulan april 2015 ini, elegi perguruan naga batu rampung penulisannya.
    Alhamdulillah….

  31. Dika says:

    Sepertinya cerita Jaka bayu ini sudah terlupakan oleh suhu didit. ach.. semoga saja ini hanya mimpi😀

  32. kaswa says:

    Gimana rencana cetak bukunya? Jd ngga? Boleh pesan duluan..🙂

  33. UNO says:

    mana episode 128 mas….????

  34. doni pratama says:

    semoga di awal tahun 2015 ini .. jaka bayu bisa di lanjutkan lg. itu harapanku.

  35. yoserizal says:

    Okeee,mas didit bagus alur ceritanya….lanjut terus pantang mundur

  36. andy tama says:

    ayo mas didit semangat di tunggu kelanjutannx …….

  37. andy tama says:

    kapan lanjutannx om ……

  38. dhewi says:

    mungkinkah cerita ini akan d lanjt.. sdgkn org’y udh bosen nulis.. emg phn yg tggi itu mudah tertiup angin.. mudah”an aja pohon’y g roboh..

  39. rbrajamusti says:

    Kulo nuwun….
    Nderek langkung Mas Didit…
    Nyuwun pangapunten, bolak balik mampir, kok suwung terus..

  40. andri says:

    mas didit udah lama nich tidak ada updatenya n daripada lama untuk mencari inspirasi ss alangkah baiknya yg di update seperti pendekar Aneh dengan tokohnya Yudha Gerhana trus Petualang Bengal dengan tokohnya Gluduk Alit dengan di updatenya kedua cerita tsb bisa membuat para pembaca bisa terhibur walaupun di sela-sela kesibukan W.O

  41. kepyar says:

    Mas Didit kapan dilanjutkan lagi?? masih sibuk kah??

  42. angkasa jagat says:

    mas didit, saya sudah lama mau menanyakan sesuatu nih…cuma karena ceritanya terlalu bagus (hehe)..jadi baru sekarang ingatnya yaitu..judulnya kok tidak sesuai dengan isinya . karena tidak diceritakan mengenai serulingnya…mohon penjelasannya. thanks

  43. eldwin says:

    Thx mas udah ada updatean nya. Semoga tetap berlanjut mas ceritanya (ngarep banget he…)

  44. Jeonshin Weed says:

    JAYULIT

    Jaka udh 13x baca
    Bayu 11x
    Alit 8x

    Ayo bang didit, semangat!!!

  45. andriyanto says:

    mas didit saya mau usul nich dmana sambil menunggu jakanya di update lagi gmana updatenya di selingi dengan cerita gluduk alit sama yudha si pendekar aneh

  46. Jeonshin Weed says:

    menunggu dengan penuh kegalau-an

  47. kapten says:

    terima kasih terima kasihhhhhhhhhhhhhhhhhhhh
    semangat mas didit
    semoga di beri kelancaran usahaya mas amiiiiiiiiiiin

  48. lukito says:

    MELEGAKAN MAS BRO. MATURNUWUN BANYAK, SEKEDAR BERHARAP KELANJUTAN KARYA
    MAS DIDIT MBOK YAO JANGAN TERLALU LAMA HE HE HE …. INI KESAN PEMBACA YANG NGEYEL AND GAK NGERTI REPOT NYA ORANG ……
    TETAPI TERIMA KASIH BANYAK MAS DIDIT ……..

  49. kagemiais says:

    ow.. mas didit tiyang puer-woker-torico nggih???

  50. andriyanto says:

    GAN, SELAIN SS DI LANJUTIN JUGA DONK GLUDUK ALIT SAMA YUDHA/PENDEKAR ANEH SAMBIL MENUNGGU SS DI TULIS LAGI N BIAR PARA PEMBACA GA LAMA MENUNGGU…

  51. royan says:

    ahhh…akhirnya muncul juga dengan segala teka-tekinya….
    sukses ya Mas…
    di tunggu terus ni…

  52. pendosa says:

    kemana aja bung didit…..

    akhirnya nongol juga ini lanjutannya….. moga sukses usaha WO nya !!

  53. rbrajamusti says:

    Matur nuwun Mas Didit
    Mugi2 sehat kalian sukses selalu.

  54. doni pratama says:

    makasih suhu didit akhirnya muncul juga🙂
    tapi kok makin bingung ya….. kelihatan rumit gitu ceritanya. semakin penasaran sama otak besar semua kejadian di kota pagaruyung.
    semangat ya…. suhu didit.

  55. yayok says:

    Terimakasih om, akhirnya bisa muncul lagi…

  56. hari says:

    Hebat, salut dan terimakasih atas segala pengorbanan suhu!

    Ditunggu sambungannya dgn penuh gairah🙂

  57. Hartanto says:

    Akhirnya muncul juga……..setelah lama ditunggu-tunggu
    Mantap suhu lanjut terus……….

  58. yusuf a says:

    Alhamdulillah SS Come Back….
    Dilanjut terus yaaa…..

  59. Yoesman says:

    Alhamdulillah SS nya dilanjut lgi…mga SS dan WO nya bsa tambah sukses…

  60. Alhamdulillah bisa baca lagi. Bravo mas Didit. Sehat selalu

  61. andriyanto says:

    Alhamdulillah SS muncul lagi,walau disela-sela kesibukan WO nya msh bisa menulis ss
    lanjutin trus mas….

  62. si jo says:

    mantab …..lanjut lagi suhu!

  63. benny says:

    thanks mas didit moga ada tambahan bab bab selanjutnya…sukses EO nya

  64. iqfir says:

    langsung tegang… sip suhu didit…

  65. haryunendra says:

    Alhamdulillah masih bisa mbaca SS lagi
    semangat mas moga SS ma WOnya bisa jalan bareng hehehehehhehe

    • dhewi says:

      mungkinkah cerita ini akan d lanjt.. sdgkn org’y udh bosen nulis.. emg phn yg tggi itu mudah tertiup angin.. mudah”an aja pohon’y g roboh..

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s