125 – Epilog Domino Effect [i]

125 – Epilog Domino Effect

Matahari sudah condong kearah barat, waktu sudah menjelang magrib, akhirnya Jaka siuman setelah pingsan dalam waktu cukup lama. Damparan lembut gelombang laut yang menghempas wajah secara simultan, membuat dia lebih cepat siuman. Perlahan-lahan pemuda ini beringsut duduk, mencermati kondisinya dengan seksama, mengantur nafas secara teratur, rupanya sistem olah nafas sudah bisa bekerja seperti biasa, membuat luka dalam hampir pulih. Simpul pada punggungnya-pun tidak menunjukan gejala-gejala aneh, tenaga liar yang diikatkan disana, sudah sirna. Kecuali tangan kirinya yang patah—dan butuh pengobatan lebih lanjut, pemuda ini tidak merasakan ada cedera lain. Racun dalam tubuhnyapun tetap stabil.

Pertarungan terakhir nan unik membuat Jaka termenung, bukan karena dia menyesali kekalahannya, bukan pula karena dia girang dengan hasilnya—karena dapat ‘menyegel’ tokoh yang dapat menjadi biang onar. Pemuda ini berpikir keras atas satu nama yang menjadi refrensi penghuni pondok bambu; delapan sahabat empat penjuru. Kedengarannya mereka tokoh-tokoh baik, tapi kenapa harus selalu memberi ‘makan’ tokoh yang bisa menghisap tenaga lawan ini? Mengapa mereka ‘memelihara’ tokoh yang demikian unik dan mengerikan, apa maksudnya?

Perlahan Jaka berdiri, meregangkan badannya lalu berjalan perlahan meninggalkan pesisir pantai. Kejap kemudian, tubuhnya melesat pesat kian menjauh. Melewati daerah-daerah sunyi penduduk, melakukan pergerakan cepat yang nyaris tidak pernah dilakukan sebelumnya. Entah kenapa Jaka memiliki perasaan tidak enak. Dia harus segera sampai di tempat dimana mereka berkumpul.

===o0o===

Dari kejauhan bangunan itu sudah terlihat, Jaka tersenyum. ‘Pulang’ menjadi kata yang nyaris tidak pernah terpikir olehnya, tapi bangunan itu mengingatkan Jaka tentang pulang. Karena disana ada teman yang menunggunya. Terkadang dia ingin lepas dari libatan semua orang. Menjauhi teman-teman yang terkadang menyebalkan, membuat pusing kepala, tapi pikiran seperti itu hanya timbul sesaat… nyatanya baru berpisah beberapa saat saja sudah membuahkan rasa rindu.

Rumah batu itu tetap berdiri seperti biasa, kokoh, menyendiri. Dari kejauhan Jaka merasakan ada keanehan. Tidak ada tanda-tanda kehidupan! Tanpa pikir panjang, Jaka segera mendobrak masuk. Pemuda ini terpana melihat kondisi didalam rumah itu. Seluruh isi rumah batu sudah tidak ada yang utuh, hancur total. Kemanapun mata menyapu, tak ada tanda-tanda kehidupan di ruangan utama. Jaka merasa serluruh tubuh menjadi lemas. Memastikan sekali lagi, tiap ruangan segera di periksa. Sama saja, tidak ada yang utuh!

Ekabhaksa… dimana lelaki gemuk itu? Jaka segera menuju ruangan bawah tanah, kondisinya juga sama. Siapapun yang datang kemari, sepertinya sudah paham dengan kondisi didalamnya. Tapi tak ada satupun orang! Tidak Wuru Yatalalana, tidak Phalapeksa, tidak pula Ekabhaksa! Kekawatiran yang teramat sangat atas keselamatan Ekabhaksa membuat pertimbangan Jaka nyaris tidak logis. Tangannya terkepal kencang, semburat hawa sakti yang tanpa disadari Jaka telah memiliki lonjakan kepadatan tenaga, sudah mengikis tembok batu ruang itu. Kemarahan yang tidak pernah terlontar, membuat dia ingin sekali menghancurkan seluruh bangunan. Tapi ingatan akan sesosok kakek tua yang berwajah damai membuat hatinya dingin. Sabar…

Lelah lahir dan batin, kondisi semacam ini sudah sering dilaluinya. Tapi saat itu hanya menyangkut keselamatan diri sendiri, dia tak pernah menghiraukan. Tapi sekarang? Sudah banyak orang yang terlibat dengannya, keselamatan mereka menjadi tanggung jawab Jaka. Pemuda ini percaya, meski selalu ada kemungkinan untuk mengalahkan Ekabhaksa, tapi rasanya sangat sulit bagi orang lain untuk membuat salah satu tokoh dari Tujuh Satwa Satu Baginda menemui ajal—atau mengalami kekalahan. Jika dia mati, dimana mayatnya? Apa yang diincar oleh pengacau itu?

Jaka menuju kamarnya, aneh… hanya kamar itu yang tak tersentuh kerusakan, bahkan posisi kursi yang agak menyimpang—saat dia terburu-buru bangkit untuk mengetahui kabar Ratnatraya, juga belum berubah. Ini aneh! Apakah para perusak begitu terburu-buru hingga ruangannya yang kebetulan ada pada ujung ruang bawah tanah, tidak diperhatikan? Jaka bergegas memeriksa tempat penyimpanan barang-barang pribadinya. Dilihatnya satu persatu… tidak ada yang kurang. Untuk sesaat, Jaka kehilangan paham.

Jaka menghela nafas perlahan, matanya dikatupkan sejenak. Dia sadar apa yang barusan dilakukan, sangat ceroboh. Kurang hati-hati. Ini menjadi koreksi untuk dirinya… betapa melihat kelemahan orang lain itu jauh lebih mudah, dibanding melihat kelemahan sendiri. Diendapkan segala kekisruhan hati.

Hening… hingga akhirnya rasa sunyi memasuki relung hati

Tenang… membuat dirinya tenteram kembali lebih cermat.

Sabar… ikhlas, memastikan akal dan fikir menyadari hingga kedasar pengertian bahwa; semua yang bernyawa memang akan ajal.

Demikian Jaka menghempaskan segala keruwetan demi keruwetan dalam keheningan, segala ikhtiar tentu harus dilakukan, sebelum akhirnya dia memasrahkan diri.

Bagaimana mungkin sebuah perusakan yang demikian kacau, tidak menimbulkan jejak? Jaka kembali keluar. Mengamati kondisi sekeliling, dia ingat Penikam pernah menggali beberapa lubang, sedianya itu untuk menjebak babi liar yang sering berkeliaran disekitar rumah, tapi karena tidak satupun babi hutan bisa di tangkap, akhirnya Penikam membuat lubang yang sudah digalinya sebagai perangkap—untuk manusia.

Mata Jaka berbinar, meski bagian belakang rumah, tidak memperlihatkan perangkap-perangkap itu tak memperlihatkan hasil, tapi ada beberapa jejak yang tercetak pada beberapa titik—diatas perangkap. Jelas, si pengacau ini sangat terkejut menyadari tanah yang diinjak tiba-tiba melesak. Jejak-jejak itu hanya mencetak motif selapis tipis alas kaki yang di gunakan pelaku. Alas kaki yang digunakan terlihat penuh dengan motif tak beraturan, seolah-olah hanya sebuah ukiran ngawur. Tapi saat Jaka menegaskan pandangan, dia mendapatkan ada beberapa ciri khas Jaka menggambarnya pada secarik sobekan kain.

===o0o===

Tidak menunggu lama, Jaka membuat satu tanda berkumpul bagi Penikam. Memiliki rekan seperti Penikam memang satu keberkahan luar biasa bagi dirinya. Orang yang sangat berpengalaman itu memiliki jalur-jalur tak terbayangkan dan pustaka informasi yang bisa jadi sangat dibutuhkan oleh perkumpulan manapun.

Tapi… setelah dua hari, Penikam-pun tak muncul juga. Jaka benar-benar cemas. Kecemasan atas nasib kawan-kawannya makin memuncak, saat rumah batu kedatangan seorang tamu. Saat itu Jaka tengah mengheningkan diri untuk mengurai segala keruwetan tenaga yang terkadang masih muncul dalam tubuhnya. Pada kondisi seperti itu, bagi orang lain merupakan satu kemutlakan tak boleh melakukan aktifitas lain, bahkan memencarkan perhatian-pun tak boleh. Tapi cara dan sistem meditasi yang  dibangun oleh Jaka, benar-benar berbeda, jika dimungkinkan, dia bahkan dapat bertarung dalam kondisi bermeditasi. Dimana pada kondisi tersebut tenaganya sedang diurai tuntas.

Pendengaran Jaka memiliki sensifitas cukup baik, tapi dia baru merasakan kehadiran orang lain saat aura tenaga sang tamu menyentuh pintu masuk. Seolah orang itu ingin menyatakan jika dia tak ingin diketahui kehadirannya, pasti dapat setiap saat dilakukan. Cukup terkesip Jaka menyadari ada orang yang lolos dari perhatiannya hingga sebegitu dekat. Tangannya melambai, membuat pintu tersedot dan membuka sendiri.

Begitu pintu terbuka, satu sosok segera masuk. Tatapannya tertuju pada sudut ruangan yang berantakan—dimana Jaka duduk. “Jadi ini Keluarga Keenam?!” dia bertanya dengan nada dingin.

Debar di dada Jaka menyentak tak teratur dalam sesaat, dia bisa merasakan tamu tak diundang ini memiliki himpunan hawa sakti yang luar biasa. Masih dalam kondisi bermeditasi—duduk bersila, Jaka menjawab. “Kau benar.”

“Sepertinya baru kedatangan tamu? Atau Kecurian?” Tanya sang tamu menyindir.

Jaka tersenyum. “Yang manapun benar. Ya tamu… ya pencuri, tidak ada bedanya.”

“Oh…” ujarnya merasa diluar dugaan mendengar jawaban Jaka. Sangat sarkastik, secara langsung menuduh dirinya sebagai tamu juga sebagai pencuri.

“Hm,,, kelihatannya kau cukup keras hati. Baiklah, aku tidak akan bertele-tele. Kau butuh orang, akupun demikian.” Katanya singkat.

Jaka menghela nafas perlahan-lahan hingga memunculkan uap keputihan dari mulut dan hidungnya. “Orang seperti apa yang kau inginkan, dan orang seperti apa yang kuinginkan?”

Jawaban Jaka yang sangat berbelit-belit juga terkesan tidak mau bernegisoasi membuat orang ini naik darah. “Kau tidak memperdulikan nyawa kawan-kawanmu?”

“Perduli.” Sahut Jaka singkat, dengan uap makin banyak keluar dari ubun-ubun.

Kondisi Jaka yang seperti itu membuat sang tamu tertegun, sungguh tak di sangka ada orang yang sanggup melakukan penguraian tenaga hingga tubuh sendiri dalam kondisi kosong, dengan cara sesantai ini.

“Tapi jawabanmu menyatakan sebaliknya!”

“Dari mana aku tahu kau bukan pihak yang mengail diair keruh? Mudah sekali mengarahkan opini pada orang yang sedang tertimpa musibah. Siapa yang melakukan ini, dan siapa yang meminta, bisa berbeda golongan. Kau tentu tahu maksudku.”

“Hh! Sudah kuduga hal murahan seperti ini, akau kau kemukakan!”

Jaka tertawa pajang, membuat uap yang sempat menyelubungi wajahnya membuyar sesaat. “Benar ini memang murahan, tapi efektif membuatmu menyatakan diri sebagai penanggung jawab.” Katanya tandas, tegas. Meski Jaka sangat mencemaskan nasib penghuni rumah ini, tapi itu tak mungkin dia perlihatkan.

“Kau tentunya mengenal ini!” sebuah bungkusan di lempar kehadapan Jaka.

Pemuda ini menggerakan tangan kirinya—yang sebelum ini patah, dengan mengepalkan berulang kali. Bunyi berkrotokan nyaring sarat tenaga—seolah menyiratkan betapa pulihnya tangan tersebut. Setelah membuka bungkusan, Jaka terkesip. Tapi diluarnya dia tertawa.

“Aku mengenal ini, tapi tak membuktikan apapun. Sama saja kau memungut sampah dari sekitar sini lalu memberikan padaku dengan menyatakan ini barang-barangku… sungguh lucu!”

“Kau benar-benar tidak inginkan keselamatan kawan-kawanmu?” Tanya sang tamu dengan geram melihat reakasi Jaka.

“Oh itu tidak benar, aku sangat perduli. Cuma kau harus berusaha lebih keras untuk meyakinkan diriku!”

“Apakah aku harus memotong salah satu tangan kawanmu?” tukas orang ini makin ketus.

Jaka makin gelisah, tapi dia tetap tertawa. “Itu juga bisa, tapi tak menutup kemungkinan kau mencari orang dijalan untuk sekedar kau potong tangannya. Ini menggelikan.”

“Apakah aku harus memotong kepalanya?!” geramnya lagi

“Kalau kopotong kepalanya, untuk apa semua pembicaraan ini? Kau cukup letakan kepala orang yang kau sangka sebagai teman-temanku disini, supaya aku menyakinkan itu benar adanya… lalu menangisinya, dan selanjutnya kita bertarung. Itu lebih mudah, dari pada bicara tak jelas seperti ini.”

“Setan alas! Kau benar-benar sialan!”

Jaka tertawa lagi. “Sudah banyak yang mengatakan begitu. Keluarga Keenam tidak ada yang takut mati, mungkin saja salah satu anggota kami ada padamu, tapi itu tak membuat diriku harus merasa sungkan denganmu.”

“Jadi, aku tak bisa mengancammu dengan sandera?”

“Oh, jadi kau punya sandera? Aku baru tahu…”

“Kau… kau memang…!” rasa percaya dirinya menguap sudah. Dari perbincangan barusan, sudah membalikkan perhitungan yang ada. Dia pikir, posisinya sudah diatas angin. Sehingga bisa meminta macam-macam. Tapi tapi teryata, orang yang dihadapinya benar-benar membuat perut kaku.

——-[bersambung]——–
note: maaf kesibukan sebagai wedding organizer yang baru buka lapak, plus baru perdana dapat client cukup besar, membuat waktu banyak tersita… mohon doanya agar semua berjalan lancar.

mengenai buku, sepertinya saya akan luncurkan (jika diappoval) dalam bentuk seri saja, mengingat halaman terlalu tebal…

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
Quote | This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , . Bookmark the permalink.

106 Responses to 125 – Epilog Domino Effect [i]

  1. Hartanto says:

    mantap suhu…..

  2. eld says:

    Mas boleh dong lanjutan cerita silat ya krn bagus banget

  3. jaytra888 says:

    Pagi mas Didit…,
    Belum ada yang berbaik hati mempercantik blog ini ya?
    Saya dah kangen banget sama Jaka Bayu. Hiks…. T_T
    Padahal lagi seru2nya, sampai2 saya baca ulang 3 kali yang di indozone.
    Pingin tahu lanjutannya…..

    btw, pingin tampilan web kayak di situs apa mas? (sebagai referensi)

  4. Pendosa says:

    hahah sabar sampe lebaran deh….mas didit nya lagi khusuk berpuasa….

    selamat menjalankan ibadah puasa untuk mas didit sekeluarga…..

    jgn lupa….kelar lebaran ceritanya langsung dilanjut!! *tetep nagih*

  5. kagemia says:

    Selamat berpuasa mas Didit.. Semoga kita mendapat berkah, rahmat dan ampunan-Nya. Aamiin.

  6. dhanie27pudlian says:

    sdh lama nih bang didit ngga ada update terbarunya, mumpung bulan puasa ngga ada yg kawinan jg kan. jd bisa dong di update jaka bayunya

    • jannotama says:

      mudah-mudahan bisa saya lanjutkan… sebab, terkadang sangat sayang membuang tiap detik di bulan ramadhan ini (takut tahun depan ga ketemu). selamat menunaikan ibadah di bulan ramadhan, kawan-kawan!

      • kapten says:

        iya selamat menunaikan ibadah puasa juga mas didit
        semoga amal ibadah kita di terima Allah .
        dan puasa bulan ini semoga lebih baik dari puasa yang kemaren
        amiiiiiiiin……

      • jannotama says:

        amin mas kapten… insha allah setelah ramadhan saya full charge. sekedar sharing. di bulan suci ini, saya baru takziayah kawan saya di tasik yang baru saja almaruhm 15 juli kemarin. saya langsung tergetar…. selain sedih, sebuah keadaran lain juga menguat. apa itu? bahwasanya saya (kita) tak memiliki jaminan apapun untuk bisa mengatakan besok kita masih hidup dll… apa yang kita upayakan selama hidup, tak akan kita bawa… hanyalah amal ibadah yang kita bawa… semoga tulisan besok, SS akan lebih mencerminkan ‘aura’ kesadaran itu.

        selamat beribadah ramadhan kawan-kawan!

      • dhanie27pudlian says:

        selamat menunaikan ibadah puasa semoga kita dapat menjalankan dengan lebih ikhlas dan mengharapkan keridhaanya

      • apringendut says:

        selamat berpuasa jg pak bos.. semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT..

  7. ekaputra says:

    sabar ya semuanya…mumpung puasa. sabar…. mas didit….. cepettaaann doooong…!!!

  8. gondrong says:

    bingung mo koment apa..intinya cuma menanti..tah itu update epilog nya ato lngsung update Elegi naga batu,ato sekedar pemberitahuan di mna nyari buku cersil SS ni..tetap dinanti dengan khidmat..

  9. hari says:

    Wah, suhu masih sibuk terus ya? Jaka Bayu entah bgmn kabarnya ya?

  10. alwin says:

    Suhu didit , kapan nih is Jaka dapat sentuhan lagi. Dah sakau nihhh

  11. Maladewi says:

    Duhh dah lama nie ga muncul-muncul, sabar menanti suhuuuu,…….

  12. Bantarmangu says:

    Mungkin update nya,di bulan puasa ato habis lebaran,ditunggu saja saudara saudari,soale lagi mangsan mbarang nggawe

  13. cepot says:

    bung didit sdh masuk bulan juni dari target bulan april untuk update terbaru ss tapi sampai sekarang blm turun juga dari pertapaannya,kapan donk…?

  14. pahlevi says:

    Jaka Bayu udh meninggal, innalillahi wainnaillahi rajiun

  15. hari says:

    Wah, masih sibuk banget dengan bisnisnya ya mas?🙂 sudah kangen banget nih dengan lanjutannya🙂 kapan ada sambungannya ya mas? Selalu sukses bisnisnya dan waktu luang juga terjaga🙂 salam

  16. yoesman says:

    suhu di lanjut….

  17. kapten says:

    sabar kawan kawan

  18. yasin says:

    udh 6 minggu Jaka Bayu belum nongol

  19. apringendut says:

    wahh blm ada to… sibuk ya bos hehe.. syukur lah klo sibuk brrti byk job ne wakakkk….

  20. mewi says:

    Lanjutin dong suhu……udah lama nggak posting lagi…

  21. indra says:

    mas suhu…. kapan lanjutannya. kalau mau baca mulai dari awal lagi kok situs ini ga ada?????
    indozone juga ga bisa………

  22. benny says:

    mas didit kami selalu setia menunggu ss update

  23. anang says:

    ma sbro? sehat keluarga? semoga selalu diberi kesehatan utk seluruh keluarga mas didit yaaa

  24. hari says:

    Masih sibuk dgn pekerjaan ya suhu? Sukses selalu ya? Seruling saktinya terus ditunggu lho! Semoga ada waktu di sela2 kesibukan ya suhu🙂

    Selalu sehat, dan sukses!

  25. toto says:

    “Jaka Bayu” Lagi sibuk ngurusin orang2 yang ‘doyan’ kawin.. 🙂
    “Gluduk Alit” Lagi Sibuk2in diri ngurusin ‘periuk nasi’ nya ‘Jaka Bayu’🙂
    “Yudha Gerhana” Lagi sok sibuk ngurusin gaweannya si Gluduk Alit dan Jaka Bayu🙂
    SOOOOOOO…. bagaimana mungkin bung Didit punya waktu nguber2 mereka??????🙂

  26. andri says:

    kang didit kpan nich ss-nya di lạnjutin lagi. klo ss belum bisa di update gimana klo gluduk alit sama yudhanya di upload biar bisa mengisi kekosongan slama ss dlm proses editing….

  27. anang says:

    mas didit. piye tooo?? dah kangen neh……… hehehehe

  28. cipto says:

    ikutan komeng..
    menunggu kelanjutannya Jaka Bayu , Kang Didit…!
    moga tetep sehat sekeluarga dan bisa nyempatin respon request ini ..Amien.
    nunggu bareng teman” yg lain .. wkwk

  29. andri says:

    kang didit sampaikan nich ending elegi perguruan naga batu di update lagi,janjinya katanya tanggal 16 april tapi sampe tanggal 25 april blm ada tuh updatenya…..

    • jannotama says:

      belum sempet mas, mohon maaf…. WO saya alhamdulillah lagi banjir order (berkat doa temen2 semua)… pas senggang ya buat tidur, ga sempet nulis hehe

      • kapten says:

        alhamdulillah lancar semoga semakin lancar ja AMINNNNNNNNN
        YANG PENTENG GAK LUPA MA KITA KITA JA
        MOGA TAMBAH SUKSES🙂

  30. Maspur says:

    Luar biasa
    menegangkan penuh teka-teki.
    sebuah karya imajinasi yang hebat….
    Salut buat Mas Didit..
    Kami tunggu lanjutannya.

  31. kapten says:

    sabar kawan kawan
    intinya sabar aja
    hihihi

  32. maladewi says:

    Suhu Didit Lanjuttttannya Donggg Di tunggu……. Oia mo nanya kalo tentang yuda gerhana lanjuatannya mo di lanjutin di web ini juga ga?????

  33. jaytra888 says:

    klo jaka bayu penampilan alim, tp klo yudha lbh fulgar dan suka mengail di tempat yg sempit dan padat.
    ups… keceplosan. maaf yee… hehe…
    hbs ga sabar nunggu sih.
    jaka bayu lg bertapa.

  34. anang says:

    sabaar temen2, mas didit lagi suibuuk pool
    kata Jaka Bayu. Orang Sabar Pantatnya Lebar. WKWKWKWKWK

  35. kapten says:

    sabar sabar sabar
    sabar sabar sabar
    sabar sabar sabar

  36. Muryadi says:

    Sabener e pingin komen …. Tapi ra sido ah….bingung arep komen opo…..hahhaahahaay….

  37. jhoni says:

    kang didit, mana jaka…

  38. andri says:

    bung didit kapan elegi perguruan batu di upload n dah tanggal 18 april nich btw gmana klo di selingi dengan yudha dan gluduk alitnya…

  39. kingstyle says:

    moga usahanya lancar bung didit..ditunggu ya kitab saktinya ss…

  40. happy anniversary mas didit, mugi langgeng sehat lan barokhah, aamiin

  41. heulang says:

    Happy anniversary, bro.
    Wish your marriage is a blessed marriage forever.

  42. anang says:

    absen….. setelah mengikuti cerita jaka bayu lewat web tetangga, baru sekarang ketemu web sumbernya. asyik, bingung, penasaran, gregetan……… kapan kapan KOPDAR sesama penggemar jaka bayu donk………..

  43. Bantarmangu says:

    Neng ulang tahun perkawinan,moga2 mas didit sekeluarga diparingi panjang umur,sehat lan ditambah rizkine,amiin.

  44. Marsmyth says:

    Happy Anniversary mas Didit…
    Moga-moga langgeng..
    Moga-moga lanjutannya cepet keluar juga…

  45. Willy says:

    Happy Anniversary…………………
    terus menjadi keluarga yg selalu rukun dan Bahagia dan dipermudah segala urusannya…….
    Amin……..

  46. kagemia says:

    Ikut absen Mas..

  47. kapten says:

    sama kayak di atas🙂

  48. yoesman says:

    Happy Anniversary….,moga tetep langgeng,slalu bahagia dan slalu sukses suhu didit dan keluarga….amien.

  49. Hartanto_sky says:

    Happy Anniversary…………………
    Semoga terus menjadi keluarga yg selalu rukun dan Bahagia…….
    Amin……..

  50. jhoni says:

    happy anniversary kang didit, moga tetep langgeng dan bahagia selamanya….
    ditunggu kelanjutannya …..

  51. toto says:

    happy anni…versaries……🙂
    happy anni…versariiies……..🙂
    happy an…ni…ver.. sa.. riiieeesss……🙂🙂 . . . .🙂
    Have… a.. good.. life.. for.. you…🙂🙂
    (please read with “happy birtday song”) la.. la.. la.. la.. la.. laaaaa…..🙂

  52. braja says:

    3 jam lagi tanggal 16 April…siap2 sarapan bareng Kang Jaka..🙂

  53. toto says:

    Halllllllluuuuuuuuuuuuuuuuuuu…………….
    Kemanakah perginya kang jaka??????????
    Apakah lagi tirakat??????
    Ato lagi bertapa????
    Lamaaaa amattttttttt…..??🙂
    Absen booooooooooooooooooooooooo……………🙂

  54. uklis says:

    mantap nih kalau di jadiin buku

  55. hari says:

    makasih suhu… top! sukses utk WO-nya, jangan putus juga jaka bayunya hehehe…

  56. toto says:

    apakah cerita nafas buatan merupakan refleksi pengalaman pribadi????….. Tanya kenfa…🙂

  57. ZUAE says:

    Wahh.. hbis sdah riwayat kluarga keenam, ga tega rasanya ngeliat pnderitaannya si Jaka..
    Rasa2nya Jaka doang nih, pendekar yg klo ngadapin msuh2nya ga prnah bsa mnang2, blum lg menghadapi sang Lilla !!! OMG.. hmpir d pastiin dah si Jaka Bayu tnggal nmanya doang..
    Ngomong2 Diah n Pertiwì mana, rasa2nya chapter sbelumnya ad si my idol deh Diah Prawesti yg lg nyelamtin Jaka lwat nafas buatan !!!!???
    btw slamat dah buat kang Di2t, mdah2an usahanya lancarrr n berkah..

    • jannotama says:

      hahaha…. inilah yang bikin Jaka susah kalah, karena susah menang. diah cs akan keluar lagi setelah epilog kelar

      On Sun, Apr 14, 2013 at 7:05 AM, serulingsakti

  58. Rizal says:

    Suhu…….
    kok saya jadi bingung ya ?!?@#$
    saya kira ini ini flashback…..
    coz ada ada cewek yang ngasih nafas buatan ke Jaka.
    Bukan nya itu si gadis ES ???
    Salah satu Penggemarnya Jaka dalam kelompok kecil yang di ketuai Jaka (Dia dan Pertiwi)
    ato namanya aja yang mirip2

    • jannotama says:

      ini memang flashback… kalau mas rizal jeli, inilah sekelumit rekontruksi kejadian pada chapter 39, waktu diah bertanya kepada Jaka saat doi bertanya, sesuatu seperti : “loe pernah tenggelam ya?”😀 gitu…

      On Sun, Apr 14, 2013 at 1:11 AM, serulingsakti

  59. yasin says:

    Kirain udh kembali di ELEGI NAGA BATU,ternyata masih ada epilognya.
    sukses slalu mas didit.

  60. Saladinxc says:

    Wah sing sukses usahanya. jangan lupakan kami para pendukung jaka bayu ya suhu. semoga bukunya lebih laris. aku ikut mengiklankan deh mouth by mouth kalo bukunya udah keluar suhu.

  61. Bantarmangu says:

    Matursuwun mas didit, wis upload,dienteni lanjutane mas.

  62. andri says:

    kang didit,saya mau usul nich,gmana disela-sela kesibukan kang didit mencari nafkah n juga kesibukan untuk menyelesaikan ss-nya, bagaimana klo di selingi dengan cerita yudha sama gluduk alitnya,agar web kang didit makin banyak yg mengunjunginya….

  63. akanksant says:

    Siapakah sang tamu..? Apakah tetua dari telik sandi kwancasakya,keluarga tumparaka,pemilik pukulan pratisamanta nilakara atau durwiweka purnabhawa..? Makin seru aja nie cianpwe,makin banyak jagoan bermunculan.alamat cerita makin panjaaaaaaang dan yg jelas makin ane penasaran nie cianpwee…kalo ane boleh nebak sang tamu mungkin keluarga tumparaka tingkat 3,mungkin 2 atau langsung tingkat 1..

  64. maladewi says:

    Mantaaapps, di tunggu lanjutannya mas,,,, semangatttt!!!!

  65. eds5 says:

    Begitu pintu terbuka, satu sosok segera masuk. Tatapannya tertuju pada sudut ruangan yang berantakan—dimana Jaka duduk. “Jadi ini Keluarga Keenam?!” dia bertanya dengan nada dingin.

    Wah… gawat nih riwayat keluarga keenam…
    Siapa ya kira-kira sosok tersebut?? Apakah si tua bangka? atau Anusapatik?

  66. akanksant says:

    Mantap cianpwee..semoga buku nya laris..buat para hohan dan tayhiap bantu promosiin cinkeng nya cianpwee didit agar lebih di kenal luas di kalangan rimba hijau dan sungai telaga..sayang kan cinkeng yg bagus tp promosi nya kurang jd kurang terkenal…SUKSES CIANPWEE…!!!

  67. kapten says:

    terima kasih mas didit nyempetin ngelanjutin di kesibukan yang numpuk.sekali lagi terima kasih
    dan semoga usaha ya lancar semuanya,amiiiiiinnnnnnnnnnnnn🙂

  68. rif says:

    thanks mas Didit….
    ditunggu bukunya terbit….

  69. xizie says:

    mantap. di tunggu info dan lanjutannya

  70. garak says:

    terima kasih suhu ditunggu kitab pusakanya..
    mudah2an sukses selalu..
    Amien..

  71. pendosa says:

    mas didit jgn di bikin gantung lagi…. arghhhhhhhhhh

  72. WOnya rame y pak bos,, sepp sepp (Y)

  73. Alhamdulillah sudah ada lanjutan lg,, maturnuwun pak bos.. lembur lembur truss ane,, untung pak bos sdh upload lg jd + vusing ne hahahahaaaa… gimana mba irma pak,, sdh sehat apa belum?

  74. di tunggu bukunya mas, sukses buat usahanya

  75. yoesman says:

    di tunggu bukunya…makasih suhu didit…

  76. benteng says:

    Di tunggu bukunya🙂

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s