124 – Domino Effect : … akhir sebuah awal – E [iii-Tamat]

Burung-burung yang terbang berputar, mendadak seperti mendapat damparan angin keras, gerakan hawan-hewan udara itu menjadi lebih berat dan perlahan membuyar. Padahal jarak arena pertempuran dengan burung-burung itu lebih dari dua puluh tombak. Jaka menatap kagum sang lawan, pada pengerahan awal tenaga saja, desakannya seolah melangitkan gumpalan-gumpalan energi tanpa batas. Keringat dingin menitik dari dahinya. Bukan kali ini saja Jaka mengalami masalah sulit, tapi baru kali inilah dirinya harus menjalani pertarungan yang tak terbayangkan. Ada rasa takut terselip, tapi rasa rindu saat harus memecah kebuntuan karena suatu permasalahan, jauh lebih besar menguasai gemuruh dada.

Dari sekian banyak pengalaman yang menakutkan, saat ini adalah sesuatu yang dapat di kategorikan kedalamnya. Dalam pandangan Jaka, lonjakan tenaga lawannya tidak lagi sekedar liar, tapi meletup meluap seolah tanpa batas. Secara teori, menyerap tenaga tanpa membebani tenaga sendiri itu sangat sulit dilakukan, selain tenaga sendiri juga digunakan untuk menyedot, harus ada tenaga cadangan lain yang berfungsi sebagai pencacah, penyaring tenaga dari luar. Orang itu seolah memilik ukuran wadag yang sangat besar, sehingga sanggup menampung sedemikian banyak tenaga. Makin banyak menampung tenaga, berdampak pada perlambatan gerak. Ini pula yang terjadi pada penghuni pondok bambu, tapi ada kondisi istimewa yang disadari oleh Jaka merupakan sebuah anomaly—keanehan. Tenaga liar yang meluap itu terus membuncah tanpa henti, dan itu sepertinya tak membebani wadag, Jaka baru bisa menduga ‘sepertinya’, karena dia belum bersentuhan langsung dengan himpunan-himpunan yang seolah tanpa batas itu.

Percakapan singkat mereka sebelumnya, sangat membantu Jaka terhindar dari akibat yang lebih buruk, juga untuk memahami dan menelaah kondisi yang terjadi. Sang lawan-pun agaknya sedang berusaha sangat serius untuk tidak memfokuskan energi bukan kepada Jaka. Tapi tetap saja dampak dari pengerahan tenaga itu seperti hempasan yang menampar.

Debar di dada begitu kencang, pemuda ini menghela nafas perlahan-lahan. Ini seperti sedang berdiri diarus sangat deras, apalagi perlahan-lahan sang lawan kini sanggup memfokuskan tenaga, dengan lebih baik. Sayangnya bukan kepada obyek mati, tapi pada Jaka! Ini tidak seperti yang direncanakan. Jaka tertawa getir, dalam hatinya masih ada setitik kebanggaan mengenai peringan tubuh yang nyaris tanpa cela, tapi dengan mencermati kondisi saat ini, peringan tubuh adalah satu-satuhnya hal yang tak boleh dilakukan, menjadi sebuah kemustahilan dia dapat bersinggungan dengan sang lawan dengan arus tenaga padat dan seliar ini!

Sementara untuk mendiagnosa kondisi sang lawan, kontak langsung jelas harus dilakukan. Dimasa-masa yang telah lampau, pemuda ini kebanyakan menguras tenaga lawan dengan olah langkah yang amat lihay, jika taktik seperti ini dilakukannya saat ini, mungkin pertarungan mereka akan selesai tujuh hari kemudian, dengan kekalahan telak ada pada pihak Jaka.

Berpikir kesana kemari tidak ada hal yang menguntungkan, Jaka hanya dapat melakukan satu hal. Dia akan membuka pikiran, melapisi titik-titik vital dengan tenaga dan pada akhirnya membuka diri selebar-lebarnya atas kemungkinan terburuk yang terjadi. Detik itu juga, seluruh pengetahuan yang pernah di cerna bagaikan sebuah slide, kembali berputar dari awal hingga akhir.

Penghuni pondok bambu itu menghembuskan nafas panjang, panjang, dan panjang… seolah tanpa akhir. Jaka memperhatikan dengan seksama, gumpalan energi yang tak terkira padatnya telah membentuk sebuah titik-titik udara terkompresi dalam paru-paru, ini akan membuat orang itu memiliki tenaga yang tak akan pernah habis. Jaka nyaris putus asa dalam menemukan celah. Satu hembusan nafas panjang saja, sudah membuat kulit pemuda ini serasa dihempas angin tajam. Sungguh tidak pernah disangka, di dunia ini ada manusia semacam itu.

Jaka menampar pipinya sendiri, lalu berteriak panjang… membangun semangat untuk diri sendiri. Meski tubuhnya serasa menabrak tembok tebal, Jaka memaksakan untuk melangkah setapak demi setapak.

Agaknya sang lawan merasa sangat tertarik melihat kondisi Jaka, baru kali ini ada orang yang tak dapat di hisap dengan hempasan awal tenaganya. “Kau sungguh menarik…” di sela-sela hembusan panjang nafasnya, orang ini masih sanggup berbicara.

Jaka hanya bisa membalas dengan senyum getir, hakikatnya untuk berbicara-pun sangat berat baginya. Langkah pertama, membuat logika ilmu yang sudah dipersiapkan Jaka jungkir balik. Bagaimana tidak, meski dengan cara yang di dapati secara singkat saat menghadapi si kekar membuatnya terlindung dari daya hisap, tapi tidak sanggup melindungi daya hempas yang membuat ngilu seluruh tulang. Lawan belum bergerak saja, sudah membuat pemuda ini kewalahan, apalagi jika dia bergerak?

Bergerak? Tunggu sebentar! Jaka nyaris menabok kepalanya sendiri, bukankah masalah utama penghuni pondok itu adalah kesulitan bergerak? Dia merasa tolol dengan berpikir keras untuk melakukan usaha ini-itu dengan sia-sia.

“Aku paham, aku paham!” teriak Jaka disela-sela langkah keduanya yang membuat isi perut serasa diaduk-aduk.

“Kau paham apa?” Tanya sang lawan dengan antusias.

“Tak dapat kujelaskan, kau seranglah aku dengan segenap tenagamu! Tapi tidak dengan cara berdiri ditempat, tapi bergeraklah!” teriak Jaka dengan gigi bergemertak, tenaga sakti pelindung yang mengelilingi tubuh, entah sudah berapa belas kali dihancurkan oleh hempasan tenaga sakti sang lawan, dan entah berapa belas kali pula Jaka harus menghimpunnya kembali. Untuk mencapai dua langkah mendekati sang lawan, teryata harus menghabiskan himpunan hawa murni sangat besar!

Pertarungan semacam ini baru kali ini di lakukan oleh Jaka. Untung saja dia sudah memahami sebuah teori baru yang dicupliknya dari si kekar—juga dari jalur tenaga yang sempat dirasakan saat menotok ubun-ubun Sumanohara Ratri. Itu teori umum tapi sangat sulit untuk dilakukan. Teori ini di beberapa bulan kedepan secara mudah akan membuat tokoh sekaliber Ki Adiwasa Diwasanta menjadi dongkol setengah mati. Membuat dia kesal karena ilmu yang sangat dibanggakan ternyata tidak berpengaruh pada Jaka.

Jaka merasa ini adalah ‘tembok’ yang harus di lompatinya, tidak… bukan dilompati, tapi didobrak! Tahap pertama; hanya menerima dan menepis. Ini teori yang setiap pelaku beladiri pasti mengerti. Tapi, saat kau harus menerima beban sebesar rumah, pertanyaan klise adalah; apakah sanggup? Jika kau sanggup, cara bagaimana kau mengembalikannya? Daya lontar beban itu, makin bertambah sesuai kecepatannya. Makin cepat dia terlontar, kemungkinan beban itu meningkat menjadi puluhan kali lipat pun bukan hal mustahil. Kalau sudah begitu, kau harus memiliki reaksi puluhan kali lipat di kali dua, untuk mengembalikannya. Terlepas dari bobotnya, kedengarannya sangat mudah. Tapi menjadi sangat sulit, saat tenaga yang menghambur kearahmu bukan saja bersifat menghisap, tapi juga menempel seperti lem paling kuat yang pernah ada! Saat kau menerimanya, dengan kecakapan dan kecepatan seperti apapun, tenaga itu akan meninggalkan jejak dan melekat. Entah itu selebar telapak tangan, entah itu cuma setitik, yang jelas kau tidak akan mungkin membuangnya secara tuntas. Manakala satu jalinan tenaga masih melekat—meski setipis rambut, akan memudahkan serangan kedua menghantam dirimu secara telak, karena ada satu jalur ikatan hawa serangan yang sudah terbentuk.

Demikian juga dengan kesulitan yang di alami Jaka, langkah ketiga telah ditapakkan. Pemuda ini lebih memilih melepaskan salah satu titik vital demi melindungi jantung dan nadi utama dari tenaga betot pemilik pondok bambu itu. Perlahan cairan asin terasa mengalir di bibirnya, Jaka tak sanggup untuk menahan darah mengalir lewat sela-sela bibirnya.

‘Ah, sudah berapa lama aku tidak terluka seperti ini?’ pikir Jaka dengan perasaan lega. Bagi orang yang akhir-akhir ini jarang mengalami kekalahan, perasaan takut kalah pun menjadi semacam penyakit psikis. Jaka-pun tak lepas dari perasaan semacam itu. Tanpa sadar, karena keengganan untuk kalah, membuat pemuda ini cenderung untuk mengurangi benturan langsung. Tapi momentum yang datang saat ini, benar-benar disyukuri Jaka Bayu. Meski isi perut terasa makin tak karuan, darahpun sudah tersembur kian banyak. Tapi semangat Jaka justru makin berkobar.

Pola tenaga sang lawan benar-benar unik dan tak bisa dinalar, disaat dia menghempas, Jaka melawannya dengan memaksakan diri melangkah kedepan, tapi detik itupula langkah Jaka seperti sebuah perjalanan memasuki jebakan, tenaga hempas mendadak menjadi hisap. Dengan sendirinya, Jaka harus melawan tenaga hisap itu dengan tetap melangkah. Dalam satu langkah, entah berapa belas kali perubahan hisap dan hempas itu terjadi, dan secepat itu pula Jaka harus menyesuaikan diri. Kalaulah ini terus menerus terjadi, bisa dipastikan sebelum pemuda ini menjangkau sang lawan, tenaganya akan menguap.

Telah disadari Jaka, satu-satunya cara untuk mempercepat langkah tanpa harus membebani diri, adalah dengan mengikuti daya betot itu. Bukan menyerahkan diri sepenuhnya, tapi memberikan beban seperlunya, untuk mengurangi kecepatan hisap. Pemuda ini memberatkan tubuh dengan mengolah daya hisap lawan, dengan daya hisap darinya. Meski level kekuatan dua daya hisap itu memiliki tingkatan beda, tetap saja akan menimbulkan daya tolak—meskipun itu sangat kecil. Dan itu sangat membantu Jaka dalam menyeret tenaga lawan untuk lebih variatif dalam ragam gerak hisap. Meski Jaka sudah memberikan intruksi pada sang lawan untuk bergerak, agaknya dia sangat sulit untuk melakukan gerakan-gerakan besar, maka menjadi ‘tugas’ Jaka-lah, untuk membuat sang lawan bergerak.

Manakala daya pantul akibat pertemuan dua hisapan sampai pada momentumnya, Jaka cukup memiliki jeda jarak yang bisa membuat dia melangkah kesamping, menepiskan tenaga lawan yang kian terasa membelit. Ikatan jalur hawa murni lawan pada tubuh Jaka sudah seperti benalu yang mencengkeramkan akar pada pohon induk, kurang dari sedetik itu, memaksa Jaka untuk membekukan ikatan hawa murni lawan. Tapi akselerasi hawa dingin yang terlampau cepat—tidak bisa mencapai puncaknya, dan sudah tentu tak sanggup memutuskan ikatan hawa yang membelit Jaka.

Pada saat momentum pantul itu lenyap, daya hempas membuncah dahsyat, mengikis ikatan beku yang semula dimaksudkan Jaka untuk membebaskan diri. Tentu saja pemuda ini harus segera mempertahankan diri, supaya langkah kaki yang sudah dengan susah payah dilakukannya tidak lagi surut.

Dengan satu tarikan nafas, daya hempas itu dihisap dengan membuka simpul-simpul Dashu, Fangmen, Feishu, Gaohuang, Xianshu, Geshu, Ganshu, Danshu, Pishu dan Weishu—semuanya ada pada sepuluh titik tulang belakang yang menjadi ‘pengikat’ rusuk, dalam melindungi isi dada.

Pengetahuan Jaka mengenai anatomi, membuatnya cukup leluasa dalam mengambil resiko-resiko paling kecil, diantara resiko terbesar. Daya hempas itu di ikatkan pada simpul Dashu—tiga cun di bawah leher. Jangan ditanya sakitnya seperti apa, membiarkan tenaga liar masuk menerobos begitu saja dan ‘disimpan’ pada sebuah titik punggung, ini sama saja membiarkan lehermu dikalungi celurit. Decit tenaga dengan ketajaman yang menyayat, membelit titik itu. Membuat seluruh tulang Jaka ngilu serasa dilolosi—belum lagi sensasi sayat pada tiap mili uratnya. Tapi dilain saat, daya hempas itu lenyap begitu saja—karena ‘disibukan’ dalam sebuah jalur yang sulit dan panjang. Sekedar informasi, titik Dashu sangat berkaitan dengan kesadaran, ingatan, dan isi dada. Bukan tanpa alasan Jaka mengarahkan tenaga ini ke titik Dashu, sentakan yang menyakitkan pada titik ini akan memperkuat ingatan, mengokohkan kesadaran dan memberikan otot-otot jantung daya yang lebih besar untuk pulih. Puluhan ribu jalur syaraf yang membentang antara Dashu hingga Weishu, memberikan ‘pekerjaan’ pada jalur hempas untuk melaluinya, dan hingga akhirnya tenaga hempas itu lenyap di makan ‘pajangnya’ jarak syaraf dalam titik Dashu.

Tapi Jaka segera sadar, menyadari hilangnya daya hempas, detik berikutnya bisa dipastikan muncul daya hisap. Karena sudah ada tenaga hempas yang terikat didalam titik Dashu, Jaka langusng mengarahkanya kepada daya hisap. Membiarkan tenaga lawan terhisap sendiri, akan membuat fenomena ‘sendakan’. Ini sama saja saat kau harus meminum segelas air besar dalam satu tegukan besar, dan mendadak kau sadar masih ada air dalam gelas itu, lalu kau paksakan diri untuk tetap menelan. Biasanya, kalau tidak tersendak—hingga air keluar dari hidung, ya cegukan. Dan akibatnya…

Sreek! Satu langkah besar di buat oleh penghuni pondok bambu dalam sebuah seretan kaki, sebuah langkah yang tidak dikehendakinya.

Betapa besar pengorbanan Jaka untuk menyeret sang lawan hanya untuk melakukan sebuah langkah, tentu saja memiliki konsekuensi imbal balik yang cukup. Momentum itu membuat tenaga hisap dan hempas menghilang dalam waktu dua detik, itu sangat cukup untuk Jaka dalam menambah dua langkah. Bersamaan pula pemuda ini melakukan himpunan tenaga yang memiliki daya membal, sebuah Ilmu Mustika Hawa Bola Sakti yang sangat jarang dikerahkan.

“Bagus!” teriak pemilik pondok bambu, antara girang dan geram. Girang karena ternyata Jaka dapat membantu dirinya secara paksa untuk bergerak, tapi mengakibatkan wadag hawa saktinya berguncang. Membuat fokus tenaganya membuyar. Geram, karena ini sama saja mencoreng harga dirinya!

Sebelum langkah lebih jauh dilakukan Jaka, sebuah ledakan tenaga orang ini kembali menghempas Jaka. Pemuda ini sudah mengantisipasi datangnya serangan tenaga itu, hanya saja Jaka tidak pernah memperkirakan besarnya tenaga yang tercurah itu! Strategi mencancang tenaga lawan pada sepuluh titik di pungungnya jelas akan diulangi lagi. Kali ini tenaga yang amat dahsyat itu langsung menghatam wajah Jaka!

Pemuda ini menerima dengan gerakan menepis, untung saja sejak awal Hawa Bola sakti sudah dikerahkan. Efek serangan teramat dahsyat itu sedikit terguncang, sebalum akhirnya membuat tenaga yang tak terbayangkan itu menerobos masuk secara bebas melalui lengan kanan, langsung di belokkan begitu saja pada simpul Fangmen—satu ruas tulang belakang di bawah Dashu.

Namun ternyata satu titik Fangmen tidak cukup menampung arus yang luar biasa menggila itu, dengan menggigit bibir menahan kesakitan berkali lipat dari sebelumnya, Jaka memecah tenaga itu kepada empat simpul yang lain—Feishu, Gaohuang, Xianshu, dan Geshu.

Saat ini Jaka sedang merasakan siksaan paling menyakitkan yang pernah dia terima, tapi penghuni pondok bambu tengah tertegun dengan perasaan nyaman yang mendadak membuat langkahnya menjadi sedikit ringan.

Hamburan tenaga yang tak terkendali itu, terikat tuntas didalam simpul yang membahayakan nyawa Jaka, karena disaat bersamaan, setiap kali Jaka ‘mencancang’ tenaga lawan, itu sama saja mengeratkan ikatan hawa sakti lawan dengan tubuhnya. Jadi, serangan apapun akan langsung berdampak buruk pada Jaka, jika pemuda ini masih tetap menggunakan cara yang sama.

“Tadi kau memintaku bergerak, baik… aku akan melakukan satu hal yang belum pernah kulakukan sebelumnya. Jika kau beruntung, kau akan hidup dengan tubuh lumpuh tanpa perlu kehilangan tenaga…”

“Ji..ka t-tid..ak ber..un..tung?” Tanya Jaka dengan suara lirih, bagaimanapun tubuhnya sudah hampir mencapai batas yang bisa di toleransi.

“Mati.. tanpa bentuk!” desisnya dengan meggerakkan tangan kebelakang seperti sedang menarik sesuatu. Jaka segera teringat gerakan si kekar, bedanya tidak ada hawa dingin sama sekali pada daya hisap orang itu! Tapi dada pemuda ini rasanya seperti sedang di remas oleh tangan-tangan besi.

Krkkk! Krkkk! Dada Jaka terdengar berderak, kakinya terseret dengan mudah, meskipun menyakitkan, tapi rasa semacam itu sudah sangat familier bagi Jaka, dan itu bisa di netralisir sedikit demi sedikit. Jaka tidak bisa lagi membenturkan daya hisap dengan daya hempas yang sedang diikatkan pada lima simpul yang lain, karena tenaga yang terakhir itu masih berputar-putar liar tiap syaraf tulang belakangnya. Akibat hisapan sang lawan—jika dihitung dalam langkah—Jaka sudah memasuki langkah ke sembilan, dua langkah terakhir merupakan pertaruhan yang membahayakan jiwa!

Penghuni pondok bambu ini termangu-mangu menatap Jaka. Ternyata sang lawan tidak menjadi lumpuh karenanya, tidak pula mati tanpa bentuk. Dia melangkah mendekat dengan gerakan jauh lebih gesit dari sebelumnya.

Setibanya di hadapan Jaka, kening orang ini kian berkerut saat melihat pada wajah Jaka yang penuh bercak darah, juga terkelupas. Sama sekali dia tak menyangka bahwa itu adalah rias penyamaran Jaka yang telah menjadi rusak.

“Baru kali ini aku menghadapi lawan seperti dirimu…” kata penghuni pondok bambu itu yang hanya berjarak satu jengkal dengan Jaka.

“T-te…ri…ma ka-kka…sih…”

“Kau adalah lawan yang cukup membuatku repot. Aku berterima kasih atas pengurangan-pengurangan tenaga liar yang tidak perlu… tapi setelah kupikir-pikir, kaupun akan menjadi batu sandunganku di masa depan… aku lebih memilih melenyapkan dirimu, dari pada usahaku gagal!”

Dengan lemah, Jaka menatap sang lawan. “Ja-ja…wa…ban i-it-tu su…dah kuduga p-pu-pula…” gumam pemuda ini dengan lemah.

“Tapi tetap tidak berguna ya?” ujar sang lawan dengan menyeringai.

Dengan lemah, Jaka memperhatikan tawa orang itu, ada semacam kegilaan dan histeria didalamnya. “Me..nu…rut…mu?” Jaka balik bertanya.

“Matilah!” desis orang itu memukulkan telapak tangan kanan dan kiri, dia ingin menepuk hancur kepala Jaka. Gerakan itu sangat cepat, meski tidak membawa desakan hawa sakti seperti sebelumnya—yang dapat menghancurkan kepala pemuda ini tanpa perlu menyentuh.

Jaka hanya bisa menatap lemah serangan itu…

Plak!

Tepukan itu tidak mengenai kepala, tapi tertahan oleh lengan kiri pemuda ini secara melintang. Tangan kanan penghuni pondok itu mengenai siku Jaka, sedangkan tapak kirinya, terhalang kepalan tinju. Sementara Kepala Jaka menunduk dalam.

Bersamaan serangan itu tertangkis, lengan baju kiri Jaka langsung hancur lebur. Belasan luka gores dan bacok membuat penghuni pondok bambu terkejut sesaat, tapi dia lebih terkejut lagi menyadari ada keanehan pada pangkal lengan sang lawan, warna merah kehitaman dan biru kehitaman yang menggaris hingga siku sepertinya menyiratkan sebuah intrik.

Jaka masih menundukkan kepala dengan kening berkerut menahan sakit. Serangan secara langsung yang dia terima ternyata tak sanggup dihadang oleh himpunan hawa saktinya, Jaka bisa merasakan lengan kirinya patah, dengan pergelangan retak.

Sementara sang lawan sedang tercengang menyaksikan di tengah-tengah telapak tangan kanannya timbul bintik sebesar buah jambe, berwarna merah-biru kehitaman.

“Racun?” bisiknya dengan tatapan tak percaya. Dia tak percaya ada racun yang sanggup menyusup ketubuhnya. Menyadari ada perubahan pada kulit yang tiba-tiba terkelupas dan dalam waktu singkat menimbulkan ruam, hingga menjalar sampai pergelangan, dengan teriakan antara kaget, dan marah, dihempaskannya tenaga untuk membendung menjalarnya racun itu. Tapi ternyata racun itu bukan hanya menjalar di tangan kanan, tapi tangan kiri-pun juga terjangkit.

“Terkutuk!” bentaknya bengis sambil melotot kearah Jaka.

Jaka melihat sang lawan yang masih sibuk menahan menjalarnya racun dengan pikiran melayang. Sungguh tidak disangka, luka akibat sayatan Pedang Baja Biru, kali ini menyelamatkan nyawanya. Meskipun akibat pengerahan tenaga berlebihan pada lengan kirinya, membuat keseimbangan Racun Getah Biru menjadi terganggu. Jaka tak mengacuhkan lawannya, dia merebahkan diri di tanah sambil mengerahkan tenaga himpunan Melawat Hawa Langit untuk menentramkan gejolak racun.

Setelah beberapa lama menenteramkan racun, Jaka akhirnya beringsut duduk. Tubuhnya masih terasa ngilu, tenaganya pun sudah menyusut drastis, untuk berdiri saja rasanya sangat sulit. Sentakan-sentakan pada enam simpul di tulang belakangnya membuat kepala Jaka berdenyut kesakitan. Jika sebelumnya dia bisa meredam pergolakan hawa liar sang lawan, tapi karena tenaga yang digunakan untuk meredam, harus dialihkan untuk menenteramkan racun, membuat lonjakan hawa liar itu kian menjadi.

Jaka mengerang kesakitan, tubuhnya kembali merebah dan berkelojotan.

Penghuni pondok bambu menyaksikan kejadian itu dengan seringai sadis, kondisinya sekarang pun dalam keadaan ‘tersandera’ akibat racun sang lawan, membuatnya tak leluasa mengerahkan tenaga sembarangan. Sebenarnya dia bisa saja langsung membunuh Jaka, tapi mengingat betapa cepat menjalarnya racun di kedua tangan, membuat dia harus senantiasa memfokuskan tenaga untuk menekan rambatan racun yang sangat aneh. Sekali saja dia lena dengan mengerahkan tenaga untuk melakukan aktifitas lain, kemungkianan kehilangan kedua tangan jelas tak mau diambil. Masih ada dendam membuncah yang harus diselesaikan.

Meski dia tak dapat bertindak terhadap Jaka Bayu—lawan anehnya, menyaksikan sang lawan berkelojotan cukup menghibur hati. “Cepatlah mampus!” harapnya dalam desis.

Jaka bukannya tak mendengar ‘doa’ sang lawan, sebenarnya dia ingin membalas ucapan sang lawan, sayang saat ini dirinya masih berkutat dengan desakan tenaga liar. Kalau saja masih ada tenaga tersisa, Jaka pasti tak mau kehilangan kesempatan emas, untuk menyalurkan lonjakan-lonjakan liar itu untuk memperbesar wadag hawa murni. Tapi sayangnya itu tak bisa dilakukan.

Apa yang menyebabkan dirimu merasakan kesakitan? Itu karena otak selalu memberi sugesti bahwa kesakitan itu tidak wajar. Tapi bagaimana jika itu dibalik? Jika kesakitan itu adalah hal yang wajar? Dan sehat adalah tidak wajar? Jaka teringat dengan metoda hipnosis simple itu. Ditariknya nafas dalam-dalam, diawali dengan berdoa kepada Yang Maha Kuasa, lalu disugestilah dirinya berulang kali, bahwa rasa sakit yang dialami adalah sebuah keharusan, sebuah kondisi yang memang setiap hari hingga akhir hayat, akan menjadi bagian yang tak terpisah.

Perlahan… perlahan… perlahan, gerakan tubuh yang liar itu melemah, hingga akhirnya diam sama sekali.

“Mati?” gumam penghuni pondok bambu sambil mengoyang-goyang tubuh Jaka dengan kakinya. Tiba-tiba dia tersentak kaget, sungguh tak disangka gerakan kecil saja membuat laju racun menimbulkan satu titik ruam baru. “Benar-benar racun gila!” makinya panjang pendek sambil menghempaskan pantat di samping Jaka.

===o0o===

Senja sudah dijelang, akhirya setelah bersusah payah mensugesti dirinya baik-baik saja, Jaka duduk sambil meregangkan tangan, seperti baru bangun tidur. Lengan kirinya yang patah-pun tak dia rasakan lagi.

“Kau gunakan racun jahanam apa?!” Tanya pemilik pondok bambu dengan terheran-heran menyaksikan betapa bugarnya kodisi lawan.

Seperti kebiasaan semula, Jaka tertawa. Mendengar pertanyaan itu, membuat Jaka terpikir satu ide yang baik. “Aku tak akan menjawab, bukankah kau menginginkan untuk sanggup mengarahkan tenaga kepada satu titik?”

“Tapi bukan dengan cara ini!” bentaknya.

“Tidak ada cara yang gampang untuk menyembuhkan ketergantunganmu dengan tenaga yang kau serap dari orang-orang. Kecuali kau dengan suka rela mau menghancurkan wadag hawa murnimu, urusan bisa selesai!”

“Keparat! Itu tidak mungkin!”

Jaka mengangguk-angguk. “Karenanya, bersabarlah…” Ujar Jaka datar.

Atas jawaban-jawaban yang bersahabat dari Jaka membuat orang ini termangu. “Sampai kapan aku harus begini?” tanyanya dengan suara lebih lunak.

“Aku tidak tahu tahu, tergantung dirimu sendiri. Jika bukan kau yang kuhadapi, cara semacam ini hanya akan menimbulkan korban. Tapi kau istimewa… tenagamu seolah tidak pernah habis. Media racun yang ada di dua tanganmu ini, akan membuat kau berupaya dengan keras untuk memusatkan pada satu titik. Hingga pada puncaknya, racun itu dapat kau hilangkan.”

“Aku tidak mengerti…”

“Kau kurang paham tentang apa? Oh, mungkin tentang hawa murnimu sediri? Begini… tenagamu itu ibarat pohon besar, dia akan menjulang lurus dengan ranting-ranting menghias ditiap sudutnya. Jika kau menginginkan pohon itu tumbuh lurus—sama halnya kau menginginkan supaya tenagamu dapat diatur, potonglah seluruh ranting-rantingnya secara bertahap. Tenaga liar yang bergolak dalam dirimu adalah ranting. Racun yang menyerang tanganmu, adalah cara yang tepat untuk memotong liarnya rantingmu…” Kata Jaka sembari berdiri.

“Bukan itu maksudku!”

“Oh?” Jaka melegak. “Jadi apa?”

“Kenapa kau tetap bersikap baik padaku?”

Pemuda ini tertawa. “Kau kurang percaya dengan orang lain, itu urusanmu. Aku percaya setiap orang memiliki hati yang bisa berubah.”

Penghuni pondok bambu ini tercenung. “apa yang kau harapkan dariku?” tanyanya menyelidik.

‘Tidak ada.” Jawab Jaka singkat.

“Jika nanti aku dapat menyelesaikan ini…” katanya sambil menatap dua tangannya. “Aku tidak akan menjamin diriku akan memiliki belas kasih yang sama sepertimu!”

Jaka mengangguk-angguk. “Biarlah waktu yang akan menjawab niatmu. Aku tidak memiliki hak apapun, tapi… aku meminta satu hal…”

“Apa itu?”

“Saat kau ingin membunuh orang, ada baiknya kau ingat apa yang terjadi hari ini.”

“Hari dimana aku kau permalukan?” ujarnya sengit.

Jaka menggeleng. “Bukan itu.”

“Lantas?”

“Bahwa rasa sakit tidak menghalangi orang untuk menebarkan kasih sayang.”

“Hh… omong kosong kaum puritan!” desisnya menghina.

“Seharusnya kau melihatku lebih baik lagi…” kata Jaka melangkah mendekat, karena hari sudah menjelang temaram, selama percakapan Penghuni pondok bambu itu nyaris tidak pernah memperhatikan perubahan fisik pada lawannya.

“Eh…!” mau tak mau Penghuni pondok bambu terkejut saat menyadari dari tiap lubang di wajah lawannya terus menerus mengalirkan darah. Dia tidak perlu bertanya, apa yang dilakukan Jaka saat pertarungan tadi, dapat dicernanya dengan baik. Yang mengherankan justru kejadian setelahnya, mengapa sang lawan seolah-olah tidak apa-apa? “Tapi… tapi… apakah kau tak merasa menderita?”

Jaka tertawa getir. “Aku tidak bisa menjawab itu… saat ini aku harus pergi untuk mencari tempat untuk memulihkan diri.” Kata Jaka sambil berjalan perlahan-lahan menjauhi Penghuni pondok bambu.

Lelaki paruh baya ini termangu-mangu menyaksikan langkah terseok sang lawan. “Ada baiknya kau berjumpa dengan Delapan Sahabat Empat Penjuru, mereka ada di ujung perbatasan antara Kerajaan Rakahayu dan Kadungga…”

Jaka menghentikan langkah tertatihnya, dia membalikan tubuh. “Untuk apa?”

“Aku tahu kau sedang mencari sesuatu. Mereka bisa membantumu…”

Jaka mengumam tak jelas, lalu berjalan menjauh setapak demi setapak.

Menyaksikan tubuh yang berjalan kadang terhenti karena rasa letih itu, tak membuat Penghuni pondok bambu ini menyesal atas sarannya. Dia menatap pisau yang sempat diambil dari balik baju Jaka. Pisau itu bercerita banyak. Dia ingin sekali percaya pada Jaka, tapi… pisau itu ‘menghalanginya’. Biarlah Delapan Sahabat Empat Penjuru yang akan menghabisinya. Anggap saja dia membayar hutang budi—tidak jadi membunuh Jaka, dengan memperpanjang nyawa pemuda itu dengan menyerahkan kepada ‘ahlinya’. Lebih baik mereka yang ‘mengurus’ Jaka.

Tangannya melambai, melesatkan pisau yang tadi sempat diambilnya. Himpunan hawa sakti yang tiada tara memudahkan Penghuni pondok bambu ini menyisipkan pisau diantara robekan baju sang lawan yang berlalu belum begitu jauh. Atas perbuatan reflek tadi, Penghuni pondok bambu termangu-mangu takjub. Nyatanya, belum lagi satu hari dia mengerahkan tenaga terus menerus untuk menahan racun, daya fokus untuk melontarkan senjata yang tak pernah digunakan—karena meluapnya tenaga liar, bisa dengan mudah dilakukan. Ada setitik rasa sesal telah melakukan keputusan ‘brutal’. Hanya setitik saja, selebihnya dia dibuai rasa girang. Karena langkahnya kini tak lagi berat saat melangkah masuk kedalam pondok.

Jika saja Arwah Pedang menyaksikan keputusan Jaka, mungkin lelaki itu akan diam-diam kembali kedalam pondok untuk menghabisi penghuni pondok bamboo. Entah keputusan Jaka dengan tidak ‘menghabisi’ Penghuni pondok bambu apakah akan memiliki dampak baik, atau buruk. Jaka tidak perduli, dia hanya melakukan sesuai suara hati. Tapi dilain sisi… selalu ada perhitungan matang yang dia lakukan, hanya Tuhan yang tahu apa yang akan dilakukan Jaka Bayu, kelak.

===o0o===

‘Niat baik’ Penghuni pondok bambu untuk meminjam tangan orang dalam membunuh lawannya, jelas gagal total. Setiap mata-mata yang dikirim ke pondok bambu oleh salah satu Delapan Sahabat Empat Penjuru—yang juga berfungsi sebagai ‘santapan’ sang penghuni pondok, tidak membuahkan hasil. Lelaki paruh baya yang di maksud, tak pernah muncul di Kota Pagaruyung.

Beberapa bulan kemudian, salah seorang Delapan Sahabat Empat Penjuru justru mengangkat orang luar sebagai muridnya. Berita ini membuat Penghuni pondok bambu gelisah, sebab bisa menghambat rencana-rencana yang sudah disusun bersama. Dilain sisi konon katanya sang murid memiliki kemahiran peringan tubuh yang istimewa, dia ingin sekali mendapat ‘kunjungan’ murid baru yang ahli peringan tubuh itu, karena meskipun daya fokus tenaga saktinya makin membaik, kemampuan peringan tubuh yang selama ini diserap dari ragam orang, justru tidak sanggup digunakan secara optimal saat ditumpangkan dengan tenaga yang tengah di ‘rapikan’. Mau tak mau, menunggu adalah rutinitas yang kembali menjadi pekerjaannya.

Entah bagaimana reaksi Penghuni pondok bambu, jika tahu orang yang mungkin nanti akan mengunjungi dia adalah orang yang sama?

===o0o===

Jaka terbaring dengan nafas lemah dibawah pohon besar, sugesti terhadap dirinya sudah dicabut. Rasa sakit membuat dirinya tak sanggup lagi bergerak. Wadag hawa murninya saat ini masih kosong. Jaka benar-benar heran, dengan metoda Melawat Hawa Langit seharusnya, dia sudah sanggup menghimpun hawa murni. Karena sistem olah nafas Melawat Hawa Langit adalah dari luar menuju pusat, bukan dari pusat menuju kedalam—kesekujur tubuh, artinya; pemuda ini sanggup memanfaatkan hasil serapan hawa diluar lingkungan tubuhnya sebagai tambahan daya sakti.

Ini pasti memiliki hubungan dengan tenaga liar yang masih menyentak enam simpul diruas tulang belakang, sentakan-sentakan itu menerobos liar kesegenap syaraf, membuat olah nafas Jaka kacau. Hingga akhirnya, Jaka membiarkan begitu saja hawa liar itu bertingkah sesuka hati. Menurut perhitungannya, saat hawa liar itu kehilangan daya, dia akan sanggup menghimpun lagi tenaganya. Tapi kondisi itu tak kunjung datang.

Pemuda ini kembali mensugesti dirinya, kalau itu tak dilakukan, bagaimana dia harus melanjutkan hidup tanpa makan minum? Tapi meskipun pikiran menyatakan ‘tidak sakit’, kondisi fisik tidak bisa berbohong. Meski Jaka dapat berjalan hingga menuju tepi sungai, tapi tenaga untuk menangkap ikan pun sudah tak ada lagi. Ini benar-benar ironis. Pisau yang sudah ada ditangan untuk berburu ikan, kembali dimasukkan kedalam bambu lentur yang melingkari pinggang dengan susah payah.

“Sudahlah… kupasrahkan kepada-Mu.” Gumam Jaka menceburkan diri kedalam sungai. Setelah meminum sepuasnya, Jaka membiarkan mulutnya terbuka didalam sungai, dia berharap dengan cara bodoh demikian ada ikan yang cukup ‘pintar’ mengira mulutnya sebagai lubang persembunyian.

Tapi belum lagi cara antiknya membawa hasil, gemuruh air bah bergulung-gulung dari hulu membuat Jaka terbelalak. Tubuhnya digulung banjir bandang, terhanyut begitu deras, menabrak batu berkali-kali, bahkan kepalanya sempat bertubrukan dengan batang kayu yang ikut hanyut digulung air bah. Hilang sudah kesadarannya…

===o0o===

Entah berapa lama Jaka tak sadarkan diri, begitu sadar, mulutnya tercekik rasa asin. Ah, ternyata dia terjepit diantara batu dan batang kayu yang juga tertimpa batu besar, dan kini ada didasar laut! Tidak dalam, paling hanya sekitar sepuluh tombak, tapi dengan kondisi yang lemah seperti ini—tanpa bisa menggerakan anggota badan, agaknya hanya kematian yang ada didepan mata.

Pasrah dengan kondisi semacam ini, justru membuat plong pikiran Jaka, mendadak satu jalur simpul pada tulang punggung, terasa mengedut lemah, Jaka tahu simpul itu adalah titik Ganshu, simpul yang masih kosong dari pembagian tenaga liar, sungguh aneh… simpul yang tidak dialiri hawa liar justru memberikan respon positif terhadap kebutuhannya akan udara.

Jaka sudah tidak bisa berpikir lagi, udara yang tersimpan dalam paru-paru sudah sangat menipis. Dia hanya merasakan berturut-turut pada simpul Ganshu, Danshu, Pishu dan Weishu, timbul pusaran tenaga yang seolah menyentak kembali simpul Weitao—diantara kantung kemih dan kemaluan, membuat olah nafas Melawat Hawa Langit aktif kembali.

Tapi manusia itu bukan hewan air, keterbatasan udara membuat Melawat Hawa Langit pun sia-sia. Dibatas ambang antara sadar dan tidak, keruhnya air laut membuat Jaka seperti berhalusinasi. Dia seolah merasakan ada sebuah bibir lembut menghembuskan bergulung-gulung udara, yang membuat olah nafas Melawat Hawa Langit, benar-benar melangitkan tenaganya hingga kepuncak, menghancurkan batu dan batang kayu yang menjepit badannya, membuat bibir yang telah menghembuskan nafas padanya menjauh.

Jaka tidak tahu selanjutnya apa lagi, dalam kondisi yang samar-samar itu rasanya arus bawah laut yang cukup kuat membawa dirinya entah kemana. Hingga akhirnya terdampar di pantai.

Lamat-lamat Jaka mendengar seseorang berteriak dengan suara lembut melengking memanggil seseorang, tapi ini pasti mimpi, pikir Jaka.

“Pertiwi, dimana kau?” teriak suara itu mencari-cari.

“Aku disini Diah…” terdengar jawaban dari kejauhan.

“Bukankah kau yang tadi tenggelam?” terdengar suara berkesan dingin, bertanya keheranan.

“Tidak, aku memang berenang, tapi aku baik-baik saja…” jawab gadis yang dipanggil Pertiwi menjawab keheranan.

“Hah, masa?! Jadi siapa yang kuberi bantuan nafas?” tanya Diah tercekat kaget.

“Memangnya ada?” Pertiwi balik bertanya. “Mungkin kau berciuman dengan ikan tengiri…” sambungnya dengan tawa mengikik, mengantarakan Jaka terlelap lebih pulas. Sungguh mimpi yang aneh.

[Domino Effect—Tamat]

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
Quote | This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , . Bookmark the permalink.

104 Responses to 124 – Domino Effect : … akhir sebuah awal – E [iii-Tamat]

  1. Dwis says:

    Mas, masih kami tunggu kabar baiknya (a.l. kelanjutan si jaka)… Matur nuwun.. Tetep semangat mas😀

  2. Ahmad says:

    Top Markotop jos gandos,, makasih masbrooo,, dah kangen deng jaka dan konco2 nya..

  3. santoso says:

    sudah tiba waktunya….. kang, hehehe…

  4. xizie says:

    jika sudah masuk ke penerbit buku.
    apakah masih bisa/boleh dipublikasikan lewat online?

  5. Sham says:

    Tidak ada lagi ya boss cerita lanjutannya ??

  6. Bantarmangu says:

    Sabar menunggu aja,moga2 mba irmaya cepat sembuh,amiin. Apa meng kedungbanteng bae,mbok olih bocoran ss sing anyar,sisan njaluk tanda tangan mas didit.

  7. alaswingit says:

    ikut ambil nomor antrean juga….

  8. yasin says:

    Ntar ada gk y?

  9. toto says:

    antriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii………………..🙂
    Booooooooooooooooooooooo………….🙂

  10. willyu says:

    Jadi mikir apakah sang penghianat 8 sahabat adalh sakta glagah..

  11. Willy says:

    ngantri jatah sembako

  12. yasin says:

    mgkin lg sibuk berurusan dg penerbit.karna katanya mas Didit mau meluncurkan buku

  13. alwin tila katikana tarigan says:

    Suhu Didit, mana lanjutannyaaaa. Waktunya Jaka tinggal 7 hari lagi loo

  14. badjoebarat says:

    moga ending elegi perguruan naga batu april 16th 2013 amiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnnnnnnnnnnn. . .

  15. Dhani says:

    Mas Didit. maap ganggu…hubungan si orang tua sakti yg ada di pondok ama salah seorang delapan sahabat empat penjuru. ( Ki Glagah Cs.) yang ada perjanjian rahasia. apa saling berhubungan jg dgn kelompok si tua bangka dari sandigda cs????

  16. kapten says:

    sabar🙂

  17. yasin says:

    ntar ada postingan gk?

  18. h3nsutheja says:

    ngantri juga ah……..

  19. yoesman says:

    waktu nya ngantri…dah sakau nih…hehehehe…

  20. benny says:

    dengan penuh kesabaran menunggu sang jannotama datang di depan mata memandang….

  21. Basawa says:

    sang lila, saudara satu atap, pihak kerajaan, waduh turunannya banyak banget kalau bacanya nggak teliti binggung

  22. rif says:

    Apakah pada cerita selanjutnya nanti Sakta Glagah akan menjadi anggota Jaka Bayu mas?
    sepertinya kekuatan kelompok Jaka akan bertambah di kota ini….
    Orang kuat yang bertujuan sama dengan Jaka….

  23. eds5 says:

    Uhh… Dah ga sabar menunggu pertemuan Jaka Bayu dengan Sakta Glagah dan putrinya. Apakah pertemuan dengan puterinya Sakta Glagah akan membuat cerita asmara baru? Mungkin pengobatannya butuh “buka pakaian” sehingga hati si putri terpincut?? Hehehe… “berharap”

  24. toto says:

    halloooooooooooooooooooo……….🙂
    lanjutannnnnyaaa….. mannnna……🙂
    absen… ahhhhhhhhhhhhhhhh……..🙂
    ………………………………………………………

  25. doni says:

    SERULING SAKTI….. cersil paling sulit di tebak endingnya

  26. harry tjen says:

    Musuh nya jaka banyak nya……belum kelihatan siapa sebenarnya dalang kekisruhan yang terjadi…ada orang tua sakti yang digubuk”menurut saya berasal dari perguruan macan lingga…mau tanya suhu apakah orang tua yang di gubuk satu komplotan dengan anusapatik dan si tua bangka?

  27. sarbi says:

    mudah2an esok lusa sudah ada lanjutannya

  28. xizie says:

    Menyaksikan tubuh yang berjalan
    kadang terhenti karena rasa letih
    itu, tak membuat Penghuni pondok
    bambu ini menyesal atas sarannya.
    Dia menatap pisau yang sempat
    diambil dari balik baju Jaka. Pisau
    itu bercerita banyak. Dia ingin sekali
    percaya pada Jaka, ((tapi… pisau itu
    ‘menghalanginya’. ))

    sprtinya pisau itu di dpt dr cucu Ki Gede Aswatama.

    lalu siapa yg memuluskn fitnahan pada tokoh diatas?

  29. harry tjen says:

    Kapan lanjutan elegi naga batu nya suhu didit…..oh ya kalo nanti jadi di terbitkan buku nya….buku yang mana akan di terbitkan? PTE , SS (elegi naga batu & perguruan enam pedang)atau SS secara utuh(pte &ss)…. dan kapan kira2 terbitnya suhu? Siap2 borong buku SS neh…

  30. Gluduk Alit says:

    Baru kali ini saya baca buku bolak balik kaya setrikaan. Biasanya sekali baca langsung sdh ngerti alurnya. Berbeda dengan SS…beberapa kali saya harus ulangi baca lagi dari awal..karena ada istilah ataupun alur ataupun tokoh misterius yang muncul belakangan..yang masih terkait dengan bab-bab awal. Sukses buat Mas Didit “Jannotama”.
    Penasaran saya dengan istilah2 “jawa kuno” ataupun “sansekerta” nya itu dapat dari mana Mas??🙂

    • jannotama says:

      itu bahasa jawa kawi mas, bahasa serapan-serapan dari hindu yang digunakan zaman jawa kuno.. dan di gunakan pada bahwa dalang (tapi tidak semua dalang bisa)

  31. toto says:

    molor or not tidak jadi masalah.

    Yang penting adalah konsistensi dalam meneruskan apa yang sudah dimulai walau hal tsb mungkin sangat lambat ~ intinya; semangat, yakin dan terus berkarya ~ bagus atau tidak itu relatif ~ SEMANGAT.

    Menghadirkan suatu karya tulis dalam edisi cetak bisa memotivasi diri untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya ~ saya pribadi berharap suatu saat sdr. Didit dapat menjadi seperti “agatha christy”nya indonesia.

    SEMANGAT……..🙂

    • jannotama says:

      amiiin…

      namun rasanya menjadi seperti agata kristi mustahil mas toto… selain harus operasi kelamin, juga harus secerdas beliau hahahaha… kidding😀

      pengharapan dari pembaca SS, adalah sebuah sanjungan dan doa buat saya, semoga dalam forum silaturahim SS ini, kita semua selalu moving forward dalam bidang masing-masing! amiiiiin..

  32. pentol says:

    mas didit, apakah karya lainnya juga pindah kesini, atau buat web lain?.. ngefans banget soale pada semua tokoh2 nya.

    • jannotama says:

      rencananya seperti itu, dengan mengedit bahasa/penulisan.. Kususnya pendekar aneh.. Banyak bahasa yg tak genah hehe.. Tapi semuanya mipil (bertahap) saya juga harus belajar desain web lebih lanjut..

      • xizie says:

        kalo SS di film kan jadi anime.
        mungkin bisa seperti Kensin di film Samurai X.
        ato malah Hunter X Hunter.
        yang para pemain nya mempunyai jurus2 hebat.

  33. toto says:

    apakah elegi nagabatu dapat diselesaika hanya dengan 2 bab laghi saja?
    Dengan melihat waktu dan janji yg tlah dinyatakan kemudian besar memang demikian adanya(satu bab selama satu minggu)

    Adapun orang yg dihadapi jaka baru2 ini bisa jadi adalah orang yg di “paksa” utk menjadi “pejaga” dari 2 mestika malaikat gunung emas ~ yg harus dihadapi jaka kembali untuk mendpatkan “lambang kepercayaan” garis tujuh. 🙂
    Smoga nyonya didit lekas sembuh ~ kehidupan kluaga menjadi bahagia kembali ~ suami semangat mengarungi lautan kehidupan.🙂

    • jannotama says:

      kemungkinan molor mas @toto, berhubung naskah sudah saya masukin ke penerbit… Kita liat nanti apakah di approve apa engga..

      • rif says:

        wah….gak sabar menunggu bukunya terbit mas….
        saya ikut mendo’akan semoga diterima mas karya anda….
        ini karya yang sangat bagus….
        ke penerbit mana mas kalau boleh tau?

      • jannotama says:

        mas @rif, saya masukin di mizan (yang khusus cetakin seri fiksi) saya nitip sama sodara.. ga tau deh… sekedar usaha. semoga ada tindak lanjut…

      • kapten says:

        amin

      • badjoebarat says:

        wah lha trus hadiahnya pas hari ultah nikah tnggl 16 besok gmana mas?????????????????

  34. hartanto_Sky says:

    Satu kata………….MANTAP

  35. Marsmyth says:

    Mas Didit, jalinan cerita SS kan rumit banget nih, mungkin perlu tuh dibuatkan wikia untuk SS. Kali aja nanti ada yg buatkan Petanya, biografi tokoh-tokohnya dll. Kayak serial Wheel of Time atau Dune gitu..

  36. thx atas cerita yg menarik ini,semoga di beri kemudahan rizki dan dilimpahkan kesehatan atas mas didit sekeluarga.
    amiin

  37. mantabs, makasihmas didit. n smoga istri cepat sehat kembali. salam

  38. apringendut says:

    hadeww makasih banget pak bos udah nyempetin ngrampungin SS ne dikala istri ente sakit,, ane hny bisa berdoa pak bos,,semoga mba irma cpt sembuh ya,,

  39. benny says:

    waduh makin rame aja nih…moga lekas sembuh ya mbk irmaya…(atau jangan2 udah isi mbk irmanya ya)..aamiin

  40. yasin says:

    tp jgn dibuat sedih percintaannya.

  41. ZUAE says:

    Moga Mba Irmaya lekas sembuh, dan Kang Di2t skeluarga selalu d beri kesehatan oleh ALLAH SWT. Amin..
    Seneng rasanya bs ktemu Jaka lg, ap lg ad Si Gadis Salju dkk tmbah smangat dahh hehe,
    sy ngefans bnget ama Diah Parewesti, dingin sok angkuh tp pas ktemu Jaka lgsg bnting harga dahh hehe..
    Btw Thanks Kang Di2t,

    • jannotama says:

      amin, terima kasih doanya…

      sudah terlalu lama ss, garing.. Mulai chapter depan, kisah ss udah ke elegi nagabatu lagi.. Jadi,persinggungan dengan cewek2 caem, bakal sering terjadi (rencananya)… Tapi jangan berharap ‘seboros’ yuda pendekar aneh ya.. Hehe

  42. yasin says:

    dulu q kira jaka ketemu diah di perguruannya,n gurunya jd anak buah jaka.ternyata disini tho.btw jaka terdampar di kepulauan Kendriya y?
    Jd penasaran siapa y diantara 8 shahabat 4 penjuru yg akan jd musuh Jaka?jgn2 kakek dlm banteng itu manusia karet?
    tambah bingung…. Dan penasaran tentunya

  43. heulang says:

    Pertama: Terima kasih untuk updatenya, akhirnya muncul juga setelah ditunggu-tunggu.
    Agak bingung dengan yang ini:
    — quote—
    Tepukan itu tidak mengenai kepala, tapi tertahan oleh lengan kiri pemuda ini secara melintang. Tangan kiri penghuni pondok itu mengenai siku Jaka, sedangkan tapak kanannya, terhalang kepalan tinju. Sementara Kepala Jaka menunduk dalam.
    — quote —

    Bingungnya, kalau lengan kiri yang menahan, sementara orang itu ada (diasumsikan) di depan Jaka, harusnya telapak kanan bukannya ditahan siku dan telapak kiri ditahan tinju?

    BTW, semoga nyonya cepat sembuh, ya mas. Anda juga jaga kesehatan lah kalo nggak kami ikut sakit, sakit karena nunggu update-an ha…ha…ha….

    • jannotama says:

      wah betul sekali.. Sungguh cermat.. Terima kasih atas koreksinya (juga doanya).. Gini nih nulis sembari jaga istri sakit, kurang fokus..

      makasih ya.

  44. kapten says:

    hahahahha
    makasih mas didit,makin makyos ceritanya,
    dan semoga istrinya lekas sembuh Amin,,,,,,,,,:)

  45. hery says:

    Terima kasih mas didit untuk upload yang sudah kita tunggu 2,gak ada komentar semua istimewa cuman klu mau seperti ADBM stiap chapter harusnya minimal seperti chapter akhir ini atau lebih banyak.terima kasih untuk mas didit dan keluarga

  46. andri says:

    great end to begin the superb next level

  47. pendosa says:

    seruuuuuuuuuuuu…….thankyou SS nyaa
    ini toh knp si diah nanya jaka pernah hampir mati tenggelam……

    btw,moga2 mba irmaya cepet sehat mas didit…..GBU

  48. h3nsutheja says:

    Semoga cepat sembuh buat si-“mbak”nya ya mas Didit…. Mantap, lanjutkan….!

  49. BadjoeBarat says:

    Makasih mas didit ‘SS’nya. . . Semoga mba irmaya cepat di beri kesehatan. . . Amin…

  50. garak says:

    sipp terima kasih suhu tas ilmu barunya.. mudah-mudahan istri suhu bisa cepat sembuh.. Amien..

  51. rif says:

    Syukron mas Didit…
    Semoga mbak Irma lekas diberi kesihatan oleh Allah SWT.
    Mas Didit juga selalu diberi limpahan rahmatNya.
    Amiin….

  52. yoesman says:

    Terima kasih suhu didit…
    Smoga mba irma lekas sembuh…

  53. toto says:

    makasih bnyk buat ssnya. MANTAP gitu lohhh..🙂
    Smoga subo didit lekas sembuh dan bisa beraktivitas sebagaimana sebelumnya.

    Salam, God bless us all🙂

  54. bupunsu says:

    Terima kasih Suhu didit, mantab… Semoga cepat sembuh untuk istrinya suhu…

  55. jannotama says:

    maaf telat, urus istri yang mendadak sakit ..😦.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s