123 – Domino Effect : … akhir sebuah awal – D [iii]

Tak ada percakapan diantara mereka, Jaka berkesimpulan lelaki kekar itu mungkin semacam penanggung jawab tertinggi, dalam sebuah golongan. Mereka menunggu sesaat—hingga situasi benar-benar kondusif, sampai akhirnya si lelaki kekar mendahului, mereka berlima memeriksa bagian bawah kandang sapi.

Begitu tingkat paling bawah diperiksa, bau menyengat karena daging gosong segera membuat mereka waspada. Si kekar menoleh pada dua orang yang datang lebih awal.

“Racun kalian tidak lagi berfungsi?”

“Apakah tuan ingin membuktikan sendiri?” jawaban pedas segera tercetus.

Si kekar menatap lawan bicaranya sekalias, lalu mendengus. Dia tak punya waktu untuk melakukan pekerjaan sia-sia. Goloknya di tancapkan ketanah dengan satu hentakan hawa murni yang luar biasa dahsyat. Selebar dua tombak segera retak.

Krrrk! Blaar! Buuum! Tanah yang di pijak si kekar hancur berturut-turut, amblas! Hingga ruangan paling dasar bisa dicapai oleh mereka.

Orang yang tadi bicara dengan ketus terlihat pucat. Meski si kekar tidak mengatakan apa-apa, tapi dia segera sadar diri, apa yang ditampilkan orang itu terlampau hebat untuk di tandingi. Lalu si kekar mengibasan tangan, seperti menarik tali dengan sentakan. Detik itu juga asap dalam ruangan tersedot dan dibuang keluar lubang. Jaka yang melihat gerakan si kekar makin terkesip lagi. Diapun menguasai pola gerakan seperti itu, meski sudah banyak hal yang di rubah dan ditambah, namun pokok dasar dari gerakan menyedot seperti itu sangat dipahami.

Jaka paham, ilmu yang di kuasainya memiliki sebuah hubungan tertentu dengan satu golongan, mungkin saja si kekar termasuk di dalamnya. Rasa gatal ingin membenturkan diri dengan lelaki itu makin kuat mencengkeram hasrat pemuda ini.

Suasana dalam dasar ruangan masih terasa pengap, tapi semua orang bisa melihat arang kayu dimana-mana, sementara harta benda berserakan dilantai.

“Kumpulkan, dan ambil lebih dulu!” Perintah si kekar pada dua orang yang datang bersama dengannya.

Keduanya bergerak melangkah, tapi desing penuh ancaman sebuah benda membuat mereka menghentikan langkah.

“Diam ditempat kalian!” bentak dua orang yang sekelompok dengan Sandigdha mencegah. “Apa-apaan ini, kenapa kau bertindak lancang seperti itu?” tegurnya pada si kekar.

Terdengar nada dingin dari mulut lelaki kekar. “Niratiçaya Ksatriya hanya berkawan dengan orang-orang kuat, tidak dengan para pecundang. Penyimpanan kalian dibobol orang, racun pun tidak sanggup menjadi pelindung. Lalu aku harus mengandalkan apa?” ujar si kekar menyindir, membuat dua orang ini terdiam.

Jika-pun pertarungan harus terjadi, mereka jelas tak akan sanggup menghalangi orang yang menyebut dirinya sebagai golongan Niratiçaya Ksatriya itu.

“Jadi… kalian meremehkan kami? Keluarga dibelakang kami?” ujar salah seorang dari mereka.

Si kekar termangu sejenak sebelum akhirnya menjawab dengan ringan. “Kalian tidak masuk dalam hitunganku. Keluarga kalian juga bukan kelompok lemah, kebetulan selain Niratiçaya Ksatriya membutuhkan kawan yang kuat, lawan yang kuat juga dibutuhkan. Membuat keluarga kalian menjadi lawan bagi kami, rasanya cukup setimpal!”

Kalimat itu bagi Jaka seperti loceng kematian, pada detik yang sama Jaka bisa melihat dalam tubuh si kekar mencul tenaga hisap yang membuat dua orang itu terseret kedepan.

“Berdermalah padaku!” bentak si kekar dengan melakukan sentakan dengan dua tangannya kebelakang, bagai segumpal asap yang demikian mudah dihisap, kedua orang itu tanpa sanggup berbuat banyak, terseret hebat hingga masuk kedalam jarak rengkuh.

Jaka tertawa dalam hati, ini adalah saat yang tepat baginya untuk membenarkan alasan meraih sebuah pertarungan baginya—sebuah pelampiasan. Dari atas, pemuda ini meluncur dengan pukulan dahsyat menghantam tanah, membuat daya hisap tersentak sesaat, lalu kejap berikutnya, dengan tubuh meluncur kebawah Jaka menyentakkan tangan keatas, membuat dua orang itu terlontar keluar dari lubang—lepas dari jerak hisap si kekar. Tidak berhenti sampai disitu, Jaka bersalto dan segera melakukan tendangan keras menyapu wajah si kekar.

Duak! Tak terhindar, tendangan kaki pemuda ini menghantam hidung si kekar, itu cukup membuat gerakan reflek si kekar terhenti sesaat, ditambah lagi tendangan ini menjadi pijakan buat Jaka untuk naik keatas. Sejak serangan Jaka datang sampai dia berdiri di bibir lubang, terjadi kurang dari dua hitungan, begitu cepat dan efesien, membuat si kekar dan kawannya terperangah.

Marah karena secara kurang ajar si pendatang mengijak hidungnya, si kekar bergegas menyusul keluar dari lubang. Di lihatnya, pendatang itu menepukkan tangan ke bahu calon-calon korbannya.

“Pergilah kalian, nanti aku menyusul!” kata Jaka pada mereka.

Keduanya tidak mengenal Jaka, tapi dari cara pemuda ini melepaskan jerat hisap yang mengungkung tadi, membuat mereka percaya, tentulah ‘keluarga’ yang mengutus orang ini menolong mereka. Tanpa sangsi keduanya mengangguk dan bergegas kabur.

Sementara si kekar hanya bisa memandang mangsanya kabur dengan geraham mengembung.

“Siapa kau?!” bentak si kekar gusar.

Jaka tidak menjawab, ekor mata pemuda ini memperhatikan dua orang kawan si kekar yang masih melirik kebawah lubang, agaknya mereka tertarik untuk mengumpulkan harta benda yang masih berserakan itu.

“Kau ingin tahu siapa aku? Mudah. Kalahkan aku, kau akan dapat dua keuntungan. Diriku dan kotoran yang bertebaran itu.” Kata Jaka sambil menunjuk harta dilantai dasar.

Atas ucapan Jaka, lelaki kekar ini menjadi sangat waspada. Hanya orang-orang dengan kepercayan tinggi—yakin dengan kemampuan sendiri serta memiliki ‘nilai’ jual, berani mengatakan hal seperti itu. Dari caranya mengatakan harta sebagai kotoran pun sebenarnya sebuah sindiran dan hinaan bagi mereka. Apakah golongan Niratiçaya Ksatriya akan mengambil ‘kotoran’? Jika ya, memang demikianlah mereka membenarkan tuduhan Jaka.

“Tuan, serahkan orang ini pada kami!” geram dua orang yang menyadari kemana arah bicara Jaka.

Si kekar menatap Jaka, diapun merasa ragu untuk melawan pendatang itu. Bukan karena takut, tapi waspada. Instingnya menyatakan pendatang itu lawan yang sulit. Terbukti dari tendangan yang tadi menghajar hidungnya. Ilmu yang sedang dia kerahkan menimbulkan satu pusaran hisap yang amat kuat, serangan apapun justru akan mudah di netralisir oleh tenaga hisapnya, karena sifat hisapnya juga turut membetot tenaga lawan yang nantinya akan dipantulkan dan diserap sebagian. Tapi tendangan sang lawan tadi, kehadirannya tak bisa di rasakan. Menumpulkan reflek, datang begitu saja—meski tanpa hawa sakti. Tapi penghinaan semacam itu tak bisa diterima.

“Berhati-hatilah!” ujar si kekar memutuskan untuk melihat lebih dulu kemampuan sang lawan.

Jaka tertawa panjang, sebelum lawan bergerak, pemuda ini sudah melesat menubruk. Datang menerkam begitu saja. Berkaitan dengan kecepatan, tak banyak orang sanggup menandingi pemuda ini. Demikian juga dengan lawan-lawannya kali ini, mereka terperanjat dengan gerakan itu. Terburu-buru, keduanya melontarkan serangan yang mengeluarkan hawa hisap juga, tapi jauh lebih lemah dari milik si kekar. Jaka tersenyum senang, serangan itu justru mempercepat gerakannya berkali lipat. Membuat tangan Jaka dalam sekejap sudah menempel di ulu hati keduanya. Detik itu juga mereka jatuh menggelosoh seperti karung basah.

“Selesai! Ayo kita mulai…” Kata Jaka mengalihkan pandangan pada si kekar. “Kau memang pintar, manusia macam mereka hanya berguna membawa kotoran…”

Pandangan si kekar melebar, dia tak percaya anak buahnya di kalahkan dalam sekejap. Di dunia persilatan, mencari orang yang bisa menjatuhkan keduanya cukup sulit, tapi sang lawan kali ini bahkan tidak berkeringat untuk membuat mereka jatuh.

“Tak perlu kawatir, mereka tidak tewas. Hanya tidur, mungkin sedang bermimpi membawa kotoran anjing.” Ujar Jaka sengaja menyulut amarah si kekar.

Dan memang hati si kekar ini panas luar biasa, tapi dia justru menjadi prihatin menghadapi orang-orang semacam itu. Untuk menjajagi kekuatan lawan, dia menyebrak—melakukan gerakan menarik kebelakang dengan mendadak. Satu daya hisap langsung timbul dan menyedot Jaka.

Pemuda ini membiarkan dirinya terhisap, menunggu si kekar kesenangan karena serangannya memiliki efek, dia membiarkan Jaka melakukan hantaman kedada. Buuk! Wajah si kekar berubah, karena dia tak bisa menyedot tenaga lawan, seperti menghisap udara saja, semua kosong. Tapi tenaga serangan Jaka sanggup dipantulkannya secara sempurna. Jaka merasakan segulung hawa dingin menembus buku jari dan merambat bagai kilat mengcengkeram jantung.

Terkejut dengan pola serangan yang tidak sama dengan dugaannya, membuat Jaka bereaksi dengan mengibaskan tangan kirinya yang bebas menghantam dada sang lawan lagi. Buuuk! Terbit hawa dingin dari pukulan itu. Si kekar pun terperanjat dengan kesanggupan sang lawan untuk membalikan tenaga dinginnya.

Tapi lagi-lagi si kekar sanggup membalikkannya dengan sempurna, lewat tangan Jaka yang masih menempel di dadanya. Kali ini ada dua jalur hawa dingin merambat cepat—lewat tangan kanan dan kiri Jaka, berupaya meremas daya hidup paru-parunya.

Jaka sangat terkejut dengan sifat unik serangan lawan, karena kedua tangannya masih menempel di dada lawan, dengan sendirinya Jaka mengangkat lututnya melakukan serangan ke perut lawan.

Buuuk! Serangan Jaka serupa menambah garam pada luka sendiri. Tenaga yang dipancarkan dari serangan lutut, dikembali dengan tiga jalur hawa dingin yang kembali merambat ke paru-paru Jaka. Pemuda ini cukup panik menyadari dia tak bisa lepas dari hisapan si kekar. Posisi Jaka sekarang sangat aneh, dia hanya memiliki kaki kiri sebagai tumpuan, kedua tangan dan lututnya menempel di tubuh lawan. Jaka bertindak cepat, dengan susah payah dia segera menyalurkan tiga gempuran hawa dingin itu dengan melepaskan tendangan kedagu si kekar. Tendangan itu mencuat begitu saja, mencambuk seolah pemuda ini tidak memiliki lutut, tiga hawa dingin yang merambat melalui kedua tangan dan lututnya, sukses di belokan dengan serangan terakhir itu.

Jaka melakukan perjudian, kalau saja serangan inipun menempel pada dagu si kekar, dia akan melakukan hisapan pula untuk memantulkan tenaga-tenaga itu.

Duaak! Tendangan Jaka yang membawa tiga hawa dingin itu-pun menghantam dagu dengan begitu keras, tapi detik itu juga kakinya menempel di dagu sang lawan. Karena posisi Jaka jadi menghantung, dengan sendirinya tubuh si kekar jadi condong kedepan seolah mau jatuh tertelungkup.

Guncangan tubuh si kekar cukup memberikan momentum bagi Jaka untuk mengolah empat jalur hawa dingin yang kembali menghempas mencengkeram paru-parunya. Jaka mengerahkan pola hisap hawa dingin, dan dengan seketika menghempas membalkan, tenaga lawan.

Blaar! Tubuh mereka terpisah, Jaka terpental cukup jauh, namun dengan salto yang manis Jaka bisa menjejakkan kembali kaki di tanah. Sementara si kekar terguncang dua langkah saja.

“Hebat!” puji Jaka dengan tulus. Semangatnya bergelora untuk memecahkan keanehan tenaga lawan.

Si kekar memiliki metoda hawa murni yang serupa Jaka, tapi pola serangannya begitu berbeda. Kaki dan tangan Jaka masih terasa sakit akibat ledakan dua tenaga yang di paksakan terjadi didalam tubuh. Jemari pemuda ini masih bergetar keras, buku-buku jarinya terasa seperti dilolosi. Hawa dingin bukan masalah baginya, tapi sisa tenaga yang di balikkan ketubuhnya, merupakan empat jenis tenaga perusak di kali dua. Empat serangannya sendiri di tambah empat tenaga si kekar. Ini sangat membebani tubuh Jaka, khususnya tenaga si kekar, seolah didalam tubuhnya ada putaran-putaran yang membuat organ tubuh Jaka menjadi terasa bagai di pilin. Untunglah himpuna hawa murni Jaka lebih dari cukup untuk menetralisir. Dalam beberapa tarikan nafas, Jaka bisa menormalkan kembali kondis tubuhnya—meski buku jemarinya masih terasa sakit.

Keempat serangan yang di lakukan Jaka tadi, ternyata juga cukup menimbulkan efek bagi si Kekar, dia belum pernah melakukan hisapan berkali-kali, demikian pula belum pernah membalkan tenaga lawan hingga lebih dari satu kali. Biasanya cukup satu kali, dan tuntas sudah. Tapi empat tingkat hisapan yang ternyata tak membawa hasil, cukup membuat wadag hawa murninya kempis dan membutuhkan waktu untuk normal lagi. Ini serupa orang menyedot air lewat pipa, tapi sayang pipa terlampau besar dan panjang, akibatnya pipi kempot, dada sesak. Itu pula yang tengah di rasakan si kekar, tenaganya belum bisa di himpun dengan sempurna, tersendat disana-sini. Karena bersamaan dengan hisapan dia harus meretur balik tenaga lawan pula, efek ini cukup membebani tubuhnya.

Jaka tidak memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerang, dia masih menganalisa keunikan tenaga lawan. Mungkin bagi orang lain itu tindakan bodoh, tapi Jaka berpendapat berbeda. Ini adalah saat-saat yang tepat untuk memikirkan, menerapkan, memperbaiki kekurangan dirinya. Kondisi yang serba mempet, tegang dan menyentak adrenalin, bagi Jaka adalah saat yang tepat untuk memaksa dirinya selangkah demi selangkah untuk maju. Itulah alasannya, mengapa dia bisa begitu banyak mengetahui kazanah pengetahuan ilmu silat—tanpa harus mengetahui namanya. Setiap lawan adalah ‘guru’ baginya, mayat-pun bisa menjadi ‘guru’ baginya. Pengetahuan anatomi manusia dan pertabiban adalah kunci dari kazanah ilmu-ilmu Jaka.

Keduanya saling pandang, perjumpaan mereka ini seperti sebuah takdir yang aneh. Si kekar selalu tinggi dalam menilai dirinya, tapi kali ini dia harus menghentikan pola pikir semacam itu.

“Jadi, Niratiçaya Ksatriya adalah kelompok yang hebat?” Tanya Jaka membuat si kekar menyadari, Jaka bukanlah segolongan dengan dua calon korbannya tadi.

Si kekar tetap membisu, menghadapi lawan yang aneh, dengan himpunan hawa murni yang makin lama semakin kacau, membuat dia tak berani bertindak gegabah.

“Ksatriya itu golongan kedua, masih dibawah para Brahmarsi—pendeta dari kasta brahma. Tapi kalian menganggap diri kalian Niratiçaya—tertinggi. Ini aneh bagiku. Apakah kalian juga masih di bawah kendali orang?” Tanya Jaka langsung pada pokok permasalahan.

“Kau siapa?” si kekar tidak menjawab, malah balas bertanya.

Jaka tersenyum, keengganan si kekar untuk menjawab merupakan permakluman bagi pemuda ini, bahwa kemungkinan itu benar adanya. “Pernah dengar Keluarga Keenam?”

“Hhgg!” dengus si kekar tidak berkomentar, diam-diam dia terkesip, beberapa hari terakhir memang terdengar kabar santer betapa gebrakan Keluarga Keenam itu demikian menghebohkan, tak disangka hari ini dirinya juga ketagor batu, bernama; Keluarga Keenam. Untuk mundur jelas bukan gayanya, tapi berbenturan lagi dengan Jaka, jelas dia tidak memiliki keyakinan apapun.

“Baru kali ini aku menghadapi lawan yang sanggup bertahan dari salah satu ilmu mustika, Hawa Dingin Penghancur Sumsum. Tapi itu bukan berarti aku akan mundur, aku meminta ketegasan darimu, apakah kau sudah membulatkan tekad untuk menjadi lawan Niratiçaya Ksatriya?” si kekar coba mengulur waktu untuk memperbaiki hawa murninya. Memberikan sebuah ‘gertakan’ atas nama besar ilmu mustika itu diharapkan membawa hasil.

Jaka memang terkesima dibuatnya, ternyata Hawa Dingin Penghancur Sumsum merupakan ilmu mustika, dan itu pula yang di kuasainya?! Tapi ini cara seperti itu, tak cukup bagi lawan untuk membuat Jaka Bayu goyah.

“Bukankah Niratiçaya Ksatriya membutuhkan lawan yang kuat pula?” balas Jaka balik bertanya membuat si kekar tercengang. “Keluarga Keenam tidak pernah menolak lawan paling kuat sekalipun. Makin kuat lawan kami, makin pesat pula kami tumbuh!” kalimat terakhir betul-betul penuh percaya diri, dan si kekar sudah merasakan betapa anehnya sang lawan ini, dia percaya apa yang diutarakan Jaka memang hal yang sebenarnya.

“Kami menghormati lawan-lawan kami.” Kata si kekar manggut-manggut sambil menggengam timang emas di pinggangnya. Pada saat itu sebenarnya dia terpikir untuk menggunakan golok atau sepasang pedangnya, tapi karena jalinan hawa muninya belum lagi normal, pikiran tersebut langsung ditepis. Jalan mundur yang paling aman adalah, membuat satu teka-teki pada sang lawan untuk di pikirkan.

“Kuharap kau tidak ada hubungannya dengan si tua Bangka yang saat ini coba dihindari Sandigdha.” Jaka pun ingin membuat kesimpulan setelah melihat reaksi lawan, kedatangan si kekar ke Kandang Sapi membuat Jaka bisa melihat alurnya, si kekar kenal dengan Keluarga Tumparaka, dan bisa dipasti kenal Sandigdha pula.

Timang emas yang di genggamnya terlihat bergetar. “Kau tahu tentang dia?” si kekar balas bertanya pula.

“Siapapun yang menghalangi jalan Keluarga Keenam, pasti kita ketahui. Sandigdha sudah ada ditangan kami, apapun yang direncanakan, dihindari, ditakuti, tak satupun terlepas dari pantauan kami.” Jaka mulai membuka satu rahasia untuk memancing rahasia yang lain. “Pergerakan Sandigdha akan membuat Tua Bangka salah langkah, dan itu kami tunggu. Aku sangat tidak sabar untuk bertemu dengan tokoh masa lalu yang menggetarkan!” kalimat terkahir hanya kesimpulan Jaka tentang Tua Bangka, tapi itu cukup menggetarkan si Kekar.

“Benturan kalian akan menguntungkan kami.” Jawab si Kekar singkat menutupi keterkejutannya.

Jaka tertawa. “Benar, begitu pula dengan Kwancasakya.” Pemuda ini sudah bisa mengambil kesimpulan dari reaksi psikologis singkat si kekar. Dia tahu—dan mungkin berhubungan dengan si Tua Bangka.

Cukup dari jawaban Jaka, si kekar sudah cukup dalam mengambil kesimpulan. Keluarga Keenam tidak bisa dianggap remeh. Meski beda umur cukup jauh, dia sendiri merupakan kawan seperjuangan Anusapatik, sebutan Niratiçaya Ksatriya pun merupakan sandi bagi orang-orang yang mencoba bangkit lagi setelah kekalahannya di masa lalu. Mengenai hubungan Anusapatik dengan Tua Bangka yang sedang dihindari Sandigdha, sudah jelas merupakan kawan sehaluan. Tapi dengan adanya lawan kuat yang menyelip diantara mereka, akhirnya si Kekar tahu alasan Sandigdha, kenapa dia harus ‘membelot’ dari Tua Bangka. Dia sudah membuktikan betapa ‘bencana Keluarga Keenam’ yang menimpa Sandigdha memang tidak bisa di tangani secara sembarangan.

Kalau sudah begini, selain harus fokus kepada pemilik Pedang Tetesan Embun, merekapun harus fokus kepada Keluarga Keenam. Memecah konsenterasi untuk menghadapi lawan-lawan hebat jelas perbuatan gegabah. Kekalahan masa lalu pernah mereka alami karena hal serupa, jelas tidak mungkin hal tersebut terulang lagi.

Si kekar melempar timang emas kepada Jaka.

“Untuk apa?” Tanya Jaka dengan alis berkerut.

“Niratiçaya Ksatriya akan melihat dari luar kalangan untuk sesaat. Tapi bukan berarti kami nanti tidak ikut campur untuk segala kepentingan yang dianggap perlu.”

Jaka tak menjawab, dia membiarkan si kekar membawa pergi dua rekannya. Gemertak lelatu api disekitar Kandang Sapi menemani pemuda ini dalam perenuangannya. Kalau dia tidak salah mengartikan, sebuah kekuatan sudah diundurkan untuk sesaat. Tapi, apakah mereka mundur hanya untuk melakukan ancang-ancang untuk menyerang lebih dahsyat, Jaka tidak tahu. Tapi cukuplah dari penguasaan ilmu mustika si kekar, pertanyaan tentang Wrhaspati kini mengemuka di benak Jaka. Wrhaspati adalah salah satu dari sembilan tetua pada Dewan Penjaga Sembilan Mustika, yang disenyalir terlibat atas perbuatan aniaya pada Wuru Yatalalana. Kenapa orang yang menyatakan sebagai Niratiçaya Ksatriya menguasai ilmu mustika? Pastilah mereka pernah bersinggungan dengan para anggota dewan itu. Atas dasar apa pula mereka mendapatkan ilmu itu? Mencuri kitab mustika jelas sebuah kemustahilan.

===o0o===

Undurnya si kekar ternyata berdampak sangat besar dalam pergerakan si Tua Bangka. Kekuatan yang sudah disusun Tua Bangka melalui Dua Bakat, sedikit demi sedikit tergerus. Ki Alih sukses melenyapkan Benconapaya di Pratyantara, membuat kabar yang seharusnya selalu terkirim dari dalam perkumpulan itu, terputus total. Sementara Jalada dengan sukses menghabisi Tuhagana. Jalada yang mendapat tugas untuk mengikuti ‘benang merah’, sempat bertarung dengan si codet Ekajâti, sayangnya dia lolos. Si Baginda begitu gusar karena sumber beritanya harus terputus, dia memutuskan untuk mengejar Ekajâti, untuk memberikan pertanggungjawaban kepada Jaka.

Sebuah kesalahan dari Sandigdha yang terus menerus menghindar, membuat tua Bangka bermaksud untuk menarik seluruh sumber-sumber yang dimiliki si bendahara. Tapi atas kedekatannya dengan mantan muridnya, membuat Tua Bangka terpaksa mengurungkan niat. Membuatnya berpaling kepada Kwancasakya untuk bekerja sama!

Masuknya Jaka mengatasnamakan Keluarga Keenam, membuat pihak Anusapatik dipelopori oleh si kekar untuk menarik diri dalam sesaat. Seperti yang sudah disampaikannya kepada Jaka, mereka akan melihat dari luar kalangan. Tapi itu bukan berarti mereka diam. Pandangan Anusapatik di arahkan pada sebuah Biro Pengiriman Golok Sembilan. Dia menghimpun dana yang sangat besar untuk menyerahan sebuah benda, sehingga membuat opini berkembang liar.

Pihak-pihak berkepentingan ada yang menduga, bawah; orang-orang yang membawa emas kepada Biro Pengiriman Golok Sembilan adalah, kalangan Walkali, atau Wrddhatapasa. Anusapatik juga menebar teror dengan ciri pengerahan ilmu mustika yang dikuasai teman-temannya, sehingga ada pula pihak yang menganggap Dewan Penjaga Sembilan Mustika-pun turut serta dalam kericuhan yang senyap ini. Pendek kata, Anusapatik mengkamuflasekan tiap gerakannya dengan menyebarkan isu. Atas kesibukan Anusapatik yang menciptakan situasi rusuh dengan berbagai isu, membuatnya lengah. Ada pihak yang sudah menggerakkan Kosamasangkya, lewat penemuan simbol Kosamasangkya yang di lakukan Pejabat Pratyadhiraksana. Semuanya sudah diatur demikian rupa, membuat setiap orang seolah bergerak atas inisatif sendiri, tapi sebenarnya sudah terkontrol sedemikian rupa.

Munculnya Keluarga Keenam memang sebuah anomali rencana yang tak terduga, meskipun nanti akan cukup merepotkan si pengagas rencana, tapi baginya itu hanya masalah waktu saja. Semuanya akan beres!

===bersambung ke 124 [ending domino effect]===

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
Quote | This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , . Bookmark the permalink.

62 Responses to 123 – Domino Effect : … akhir sebuah awal – D [iii]

  1. ysn26 says:

    mas Didit,masih sibuk mengurusi pernikahan adiknya x.tgl 17 maret kemaren kan adiknya nikah

  2. toto says:

    Kang Didit… dimanakah engkauuuuuuuuuuu…..
    Jaka dimanakah engkauuuuuuuuuuuuuuuuu…..
    Aku disini duduk manis menunggumuuuuuu….🙂

  3. cepot says:

    kang didit kapn dilanjutin ceritanya lagi….

  4. toto says:

    Berhubung pak boss lagi mengumpulkan embun tuk buat pedang, maka ‘beliau’ sangat teramat sibuk, soale belakangan ini jarang turun hujan.
    (eh… ntu kan cerita pedang tetesan embun… uuupppsss sorrriiii… salah…)🙂
    Berhubung pak boosss lagi sibuk mencari bambu wulung tuk buat suling… (tanaman langka) maka beliau ‘terpaksa’ keliling nusantara dengan jalan kaki… (jontor deh🙂 )🙂 . . .🙂
    Apakah pak boss lagi berusaha mencari ‘bakal adik’ tuk skaya bayu…🙂
    Apakah ikan2 pada mabur…?🙂
    Salam… no offence … pissssss …an euiii🙂

  5. sham says:

    Boss , kfn klnjutn crita nya d update ?

  6. ddn says:

    antri baannnkkkkk…..

  7. h3nsutheja says:

    ikut ngantri om……

  8. eds5 says:

    Kalau boleh nebak, 1 biang onar = Saudara Satu Atap? atau Suta Sena?

  9. benny says:

    antri juga bang…dipojok warung

  10. yoesman says:

    ngantri jga…

  11. toto says:

    ikut antri ahhh :))

  12. Krincing says:

    Aku di sini masih menunggummmuuuuu…

  13. toto says:

    sbenarnya ss ini mau dibawa kmana?
    Penulisnya sangat mengerti membuat orang adict dengan ss, persis sperti agatha cristy,
    apa memang blajar dari beliau?
    Pak boss biasa sarapan nasi misteri, siang dahar tekateki, malam nyarap kasus, besoknya pusing deh… karna kebanyakan pikiran… weleh-weleh…
    Lanjut bosss… tetap semangat… en rejeki lancar… salam untuk orang rumah…🙂

    • jannotama says:

      ss tadinya hanya sekedar cersil bak bik buk doang, tapi berhubung pikiran penulis ga melulu alay dan labil hehe (makin berkembang gitu), diciptalah satu jalinan kisah yg berbelit2, ibarat pecut ekor 9, makin keatas tangkai cuma 1 doang, pun demikian dgn ss.. Kelihatannya mambrah mambrah, tapi nanti akan bermuara menjadi 1 biang onar… Semoga rencana tsb tereksekusi dengan baik.

      Makasih mas toto

  14. jannotama says:

    ki lurah, kira kira itu sisi menyebalkan dari ss hehe

  15. D4k0c4n says:

    Jadi g sabar baca kelanjutannya hahahahahahaha..

  16. Ki lurah says:

    betul betul bukan hanya sekedar baca tapi untuk menikmatinya kita harus berpikir cerdas manataf

  17. jannotama says:

    maturnuwun mas bara sudah menyempatkan diri rawuh di gandok alakadarnya ini..

    Kebetulan ini murni imajinasi, saya tak punya background SOF (beneran ga mudeng nih, singkatan dari apa ya mas?)
    kalaupun dianggap bisa menceritakan secara teoritis wah.. Ini bener2 kebetulan yg tak disengaja.. Menulis cersil itu membuat hal mustahil jadi nyata (dalam cerita), ibarat ajian rawa rontek dalam saur sepuh.. Biar kata dilumat berkali2 selama jazad masih dibumi, dia tak mati jua.. Semua hal aneh dan khayal dikisahkan tanpa batas.. Cuma, karena saya menginginkan kisah ini agak sedikit logis, unsur mistik tak saya campurkan.. Kira2 itu sebagai gambaran.

    Sekali lagi,Kesuwun sudah rawuh.. Jangan segan mengkritik bila memang ada yg tak pas.

    Salam kenal.

    • Bara says:

      Dari suhu saya, beliau menyebut itu adalah spirit of fire ( semangat dari api ) karena latar belakang beliau adalah ilmuan yang mempelajari tentang tubuh manusia ( saya sendiri nggak tahu gelarnya ). dan karena energi yang di latih adalah hawa panas, maka di namakan semangat dari api (SOF).

      FYI, santet dan rawa rontek sebenarnya bisa aja kalau di jelaskan secara teoritikal, tapi kembali lagi hal itu berseberangan dengan yang saya pelajari walaupun di pelosok masih aja penguna ilmu ini.

      hehehehehhe, saya terdampar kesini juga gara gara temen saya yang di indozone, nyaranin untuk baca cersil seruling sakti. Dan saya pun tidak mampu untuk mengkritik cersil ini, karena level yang sedang di bicarakan ini masih termasuk khayalan buat saya… maklum belum nyampe saya.

      hehehehhe pokoknya asal saya ada waktu dan tiap ada waktu untuk turun gunung tak sempetin mampir ke warnet, di gunung nggak internet soalnya.. :))

      salam kenal balik pokoknya kang janotama hheheheheh🙂

  18. Bara says:

    Wah… nggak nyangka ini… walaupun ceritanya ini khayalan ( moga moga bener ini khayalan anda atau mungkin malah kang didit ini salah senior SOF, yang menghilang, hahahahhahahaa )….

    soalnya saya mengenal seseorang , penguna SOF ( anda bolehnya menyebutnya tenaga dalam ) yang mengunakan teori sama untuk memajukan dan meningkat penguasaan SOF dan anda menceritakan dengan luarbiasa, bagaimana SOF itu bekerja, menganalisanya… akhirnya SOF ada yang menceritakan dengan teoritikal yang bagus dan bukan dicampur dengan masalah gaib…

    Kemarin saya di beritahu soal cersil ini, tapi saya sih masih sedikit tidak percaya… ( maklum segelintir orang yang mampu mencapai tahapan itu ).

    Ntar tiap minggu sekali kalau tidak ya sebulan sekali saya pasti sempatkan untuk mampir ke sini…..

  19. willy says:

    Mantap mas bro..benang merah sudah mulai terbuka..keep posting

  20. ZUAE says:

    Akhirnya kaki tangan nganggur Jaka mukulìn org jga..
    Bengalnya dong kang di2t, udah kangen nih ama si biang onar cilik.. ya ya ya kang di2t ya??
    BTW Thanks banyaaak..

  21. apringendut says:

    horeee kesuwunnn bosss,,, hahaha, dina minggu siapna tanda tangan y bos wakakakakk

    • jannotama says:

      beres.. Nyong jas jasan neng kono (akeh sing nganggo loh..) hehe.. Pokoke sing dadi panitia nganggo kacamata rambut cepak, ganteng *plak* kuwe inyong hehe

      • apringendut says:

        hahaha oke boss,, inyong batikan bae ya bos, soale tamu tak diundang,, T_T
        hahaha,,

  22. akanksant says:

    Nunggu antrian sembako lg ah..jatah hari ini sudah habis di telan bulat2,tp tetep belum kenyang.sabar menunggu dibawah emperan rumah sambil tengadahkan lengan..kasihan pak..belum kenyang pak..dilanjut pak..chapter barunya pak….he.he.he…SS emang bikin ketagihan..ban2 kamsia cianpwe…

  23. cepot says:

    mantab kang didit, lanjut trus gak pake lama,ceritanya sangat menarik….

  24. BadjoeBarat says:

    Aaarrrggghhhh Mantaapppp. . . . Makasih mas didit, sukses selalu pokoknya… Hehehehehe. . . .

  25. wahyu piningit says:

    mantap.. Benang” mrh’y udh mlai d sambungkan nich

  26. HERY says:

    terima kasih untuk upload nya mas didit baru selesai dari repot harus repot lagi nulis kelanjutan ss.cuman untuk ending de mungkin akan terlihat jelas permasalahan yang sebenarnya, salah satu mungkin pengobatan puteri sakta glagah juga kesembuhan phalapeksa.bagaimanapun akirnya yang jelas banyak terima kasih untuk mas didit dan semua yang terlibat dalam pengembangan SS.

  27. harry tjen says:

    Amazing suhu didit…..hanya bisa berkata “”tambah lagi donk suhu didit..”” sehat, sukses & bahagia selalu nya mas didit & mbak irmaya!!

  28. andriwijaya says:

    Asikkkk ada lagi sambungan nya.. terima kasih suhu didit….makin seru, penasaran, tegang….pokok nya maknyus sangatlah …..luar biasa suhu

  29. aris says:

    Lanjuttt lagi suhu didit!! Tambah episode 124 nya..bonus lahhh…penasaran saya..Gbu suhu didit

  30. garak says:

    sip suhu bener2 makin panas nh ceritanya..
    ditunggu truzz lanjutanyya,,makin ga sabar nih hee….

  31. dhanie27pudlian says:

    salut buat mas didit atas ceritanya, benar-benar membuat pembaca bukan sekedar membaca tp juga harus berpikir, mengingat dan menghubungkan semua cerita. bikin pusing tp selalu menunggu chapter2 yg baru
    Terima kasih n selalu semangat mas didit..

    • jannotama says:

      jangankan yang baca, yang nulis aja kudu buka kitab besar ss untuk ngingetin siapa-siapa saja tokoh yang sedang dan akan digarap hehe

      • paririan says:

        aha….. ini dia, sayang saya gak punya buku besarnya😀
        jadi musti nginget inget [itupun kalo inget]😀 , untung di update kali ini ada resume dibawahnya😀

  32. Saladinxc says:

    Gilaaa .keren abis lah.
    Mohon ending untuk domino effect nya… ga ku ku.hihihihi

    Seneng banget melihat ada musuh y ang keren. ga cuma gebuk gebukan doang. wkwkwkwk

  33. yoesman says:

    makasih suhu didit…sukses buat suhu didit,SS bener2 apik…

  34. benny says:

    mantap….hanya itu kata yang bisa saya sampaikan….

  35. aris says:

    Thanks suhu didit!!! Tambah seru cerita nya…mulai sedikit terbuka siapa saja musuh kang jaka bayu….ayooo di lanjut lagi suhu didit…GBu Suhu..

  36. pendosa says:

    gak sia2 pagi2 gua buka ini udah update….. thanks bro….makin seru ajaaaa

  37. jannotama says:

    masih anget.. Fresh from the ms.word😀

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s