09 – PB : Penetapan Tugas Utama

“Nah, kini kuulangi, kenapa waktu itu kau mulai pencarian dari Pohon Maja?” Ki Gerah Langit kembali kepada pokok persoalan sebelum Ki Blawu Segara memutuskan untuk masuk ke acara inti.

Gluduk Alit kini memahami keseriusan Ki Gerah Langit, dia mendesak terus tentu memiliki alasan penting. “Sebenarnya, itu karena pemikiranku sendiri kek, aku mengerti dari seseorang tentang letak yang memiliki kemungkinan terbesar tumbuhnya Daun Tapak Gajah adalah didaerah tergelap, pada alam terbuka. Jadi menurutku dimana pohon maja yang memiliki daun lebar tumbuh adalah tempat. Itu saja.”

Ki Gerah Langit memuji keputusan remaja itu dalam hati. “Dari ceritamu tadi, ada beberapa rincian yang tak kau ungkap…!” kakek itu mengangkat tangannya saat Gluduk Alit, sudah membuka mulutnya. “Luka-lukamu yang bicara.”

Gluduk Alit menggaruk kepalanya, mau menghindarpun rasanya tak mungkin. “Bukan aku tak ingin bercerita, tapi aduh.. sialan, ini memalukan.” Kata remaja ini dengan wajah serba salah.

“Katakan saja, toh kau bukannya orang yang punya rasa malu..” kata gurunya mengompori membuat bibir sang murid manyun.

Karena desakan banyak orang—khususnya Hong Li yang gondok setengah mati. Akhirnya Gluduk Alit bicara juga. “Saat tubuhku dilemparkan kesalah satu sarang Gorilla, aku tidak pernah mengira jika sarang itu justru tempat tumbuhnya Daun Tapak Gajah, tubuhku tepat menjatuhi tumbuhan itu, semula hanya daun biasa, tapi beberapa buah.. ah tidak, kurasa semua buah tergencet hancur oleh tekanan tubuhku. Buah itu aneh sekali, hanya sebesar jempol kaki, tapi airnya banyak sekali. Boleh dibilang sekujur tubuhku dilumuri cairan buah itu… dan celakanya… celakanya…” Gluduk Alit macet tak sanggup lagi bicara.

“Ah… kau kan sudah sampai disini dengan selamat, apanya yang celaka?” sela Hong Li dengan perasaan puas bisa ganti memojokkan remaja Bengal itu, karuan saja kelakuan Hong Li membuat Gluduk Alit jadi kesal.

Pandangan semua orang menyatakan Gluduk Alit harus meneruskan ceritanya. Dengan perasaan berat akhirnya dia lanjutkan. “Celakanya…”

“Huuuu.. itu lagi, kok diulang?” potong Hong Li memanas-manasi, makin senang dengan wajah Gluduk Alit yang berubah warna itu.

“Celakanya…”

“Diulang lagi, Kurang kreatif…” gumam Hong Li lagi, tapi tak di acuhkan Gluduk Alit.

“… gatalnya luar biasa, tapi jariku mendadak kaku, tak bisa digerakkan, tangan dan kaki juga begitu. Lama-lama seluruh tubuh jadi kaku, leherku sempat luka tergores batu yang runcing, saat mencoba menggulingkan tubuh… rasanya semua tubuh seperti di rambati ribuan semut… begitu badanku bisa bergerak, yang pertama kali terpikir adalah segera menceburkan diri kedalam air. Makanya… segera kubuka seluruh baju…”

“Hai….!” Jerit Hong Li, rupanya setiap patah kata Gluduk Alit dia bayangankan betul-betul, saat Gluduk Alit menceritakan perihal buka baju, dengan sendirinya dalam benak gadis remaja ini juga terbayang Gluduk Alit yang polos!

“Tapi…” Gluduk Alit tak memperdulikan jerit kaget Hong Li. “akibat terkena cairan buah tadi, seluruh tubuh kecuali kepala, ditumbuhi bulu lebat berwarna merah seketika itu juga, sangat aneh! Aku kawatir betul bulu itu bakal ada di tubuhku selamanya. Saking kesalnya, aku berteriak… rupanya teriakanku didengar kawanan gorilla itu, mereka mendatangi tempatku.. benar-benar apes!”

“Memang kenapa?” kali ini sang guru bertanya.

“Mungkin waktu itu wujudku yang berbulu merah dalam pandangan gorilla betina, merupakan pejantan tangguh..”

Meledaklah tawa sang guru diikuti beberapa orang tetua lainnya. “Syukurin…” celetuk Hong Li puas betul.

“Aku tak sempat menghitung berapa banyak gorilla betina yang datang mendekatiku, berhubung rasa perih dan gatal luar biasa, kuhajar saja beberapa gorilla itu untuk sekedar melampiaskan rasa. Tak tahunya, makin banyak keluar tenaga, rasa gatal dan pedih kian berkurang, akhirnya.. aku berlari kesana-kemari memburu para gorilla jantan untuk kuajak beradu tinju…” Gluduk Alit menghembuskan nafas.

“Hiy… tak tahu malu! Mana tak pakai baju lagi…” celetuk Hong Li lagi.

“Kan masih ada bulu merah seksi.” Sahut Gluduk Alit dengan gemas.

“Ah, yang anggep seksi kan cuma gorilla betina…” balas Hong Li tak mau kalah.

“Masa? Setahuku tadi ada yag kepingin banget anu anu sama aku…” jawab Gluduk Alit membuat wajah Hong Li merah.

“Tidak sopan! Kau mau kuhajar? Anu-anu apa?!” selak Hong Li marah-marah lagi.

“Eh, sudah.. cukup-cukup!” akhirnya Ki Daru Geni memisah kedua remaja itu. “Kau bocah tengik! Bisa tidak tahan lidahmu untuk tidak menggoda adikmu itu?!” kata sang guru sambil mendelik.

Gluduk Alit nyegir sambil mengangguk. Lalu dia meneruskan ceritanya. “… tiap tenaga yang kukeluarkan, membuat tubuh menjadi sangat nyaman. Tanpa terasa, bulu-bulu juga rontok dengan sendirinya. Sungguh menyenangkan! Aku tak bisa membayangkan, memiliki bulu seperti itu seumur hidup.”

Hong Li meleletkan lidah, membuat wajah mencibir dengan jari menggores miring kening, saat Gluduk Alit memandang kearahnya. “Bugil sama gorilla, ih.. kurang kerjaan.” Katanya dengan berbisik, membuat gatal lidah Gluduk Alit, tapi karena plototan gurunya, kata-kata yang sudah di ujung lidah terpaksa ditelan lagi.

“Lalu, luka-lukamu itu?” Tanya sang guru.

“Ya itu… hasil dari adu jotos dengan kawanan gorilla, berhubung aku sudah nekat, kalah tenaga juga kulawan. Tapi anehnya, tiap kali aku mendekati mereka, mereka malah menjauh, seperti ada yang ditakuti… tapi saat aku menjauhi mereka, kawanan brengsek itu mendekatiku dengan cepat, menyerang semaunya. Kurang ajal betul! Begitu seterusnya…”

Hadirin membayangkan situasi Gluduk Alit, benar-benar konyol memang jika kondisi seperti itu berlaku terus menerus, seperti petak umpet saja.

“Sambil mendekati baju, dan memakai cepat-cepat, aku bergegas pula mencari Daun Tapak Gajah. Akhirnya aku punya akal, kukejar mereka menuju jalan terluar dari bagian tergelap rimba. Kawanan gorilla itu pontang-panting! Memang mengherankan… saat aku menghindar mereka mengejar, saat kukejar, mereka berlari melebihi kecepatan saat menyerangku.”

“Apa kau tidak melihat hewan lain selain gorilla?” Tanya Ki Blawu Segara.

“Tidak kek. Ohya… semua gorilla itu berwarna hitam keabu-abuan, aku juga melihat ada gorilla berwarna kuning, cuma sepintas memang. Nampaknya dia pimpinan kawanan itu, hanya anehnya dia tidak ikut dalam keramaian yang ada…”

“Ya iya lah, kusudian amat gorilla kuning main petak umpet sama mainan anak buahnya, kan seperti pakai barang bekas. Ih…” bisik Hong Li pada Intan Padmi, tapi tidak ditanggapi gadis itu.

“Hei, aku dengar itu!” Seru Gluduk Alit membuat Intan Padmi yang pertama menggeregap, sambil menunjukan jarinya pada Hong Li. Gadis ini tak mau Gluduk Alit salah menuduh. Tapi Hong Li tidak perduli meski remaja Bengal itu lagi-lagi melotot kearahnya, dia hanya menjulurkan lidahnya pada Gluduk Alit.

“Sementara, aku bisa menganalisa dari bahan yang diberikan saudara kalian ini.” Ki Gerah Langit kembali membuka ‘kuliahnya’ lagi. “Daun Tapak Gajah telah memberitahukan kepada kita, efek yang paling kasat mata adalah, menimbulkan gatal. Hanya dengan berkeringat, itu bisa dihilangkan. Sementara bulu merah yang muncul dalam tubuh saudara kalian ini, butuh pendalaman lebih lanjut. Menurut dugaanku, itu ada kaitnya dengan racun ular yang mematuk kakinya. Sisa racun yang masih ada dalam tubuhnya, di lipat gandakan sedemikian rupa, bersinergi dengan getah dan cairan buah yang melumuri tubuhnya, sehingga efeknya bisa menumbuhkan bulu. Dampak baiknya sendiri, luka yang di deritanya bisa cepat sembuh. Selepas pertemuan ini, kita akan membahasnya lagi.”

Keterangan Ki Gerah Langit menjadi sinyal pembukaan acara. semua tetua dan Ki Gerah Langit saling berbincang sendiri, entah apa yang mereka rundingkan. dengan sendirinya anak murid merekapun saling ngobrol satu sama lain, Gluduk Alit terpekur dengan kepala tunduk, biasanya kalau sudah begitu sebentar lagi tidur.

Ki Blawu Segara berdiri. “Apa yang kami syaratkan pada kalian—tentang mendapatkan Daun Tapak Gajah, sebenarnya jauh panggang dari api. Kami tidak mengharapkan kalian untuk menemukannya, sebab daun itu memang sulit dicari. Tidak disangka akhirnya kalian menemukan juga. Selain induknya didapat, anakkan daun itupun kalian dapat juga, ini cukup menguntungkan bagi perguruan kita. Ki Gerah Langit bisa mengolahnya menjadi bahan yang bermanfaat bagi kita dan khalayak ramai.” Pandangan Ki Blawu menyapu satu demi para generasi penerus itu. “Tujuan kami melakukan ini adalah melihat tingkat kepatuhan, semangat, dan kecerdikan. Tidak ada pemenang disini, sekalipun Gluduk Alit yang mendapatkan induknya, jika anakannya tidak di perolehpun, kemanfaatnya tidak cukup baik.”

Ki Daru Geni sebenarnya tidak setuju dengan ucapan Ki Blawu Segara, bukan karena dia ingin ngeloni muridnya sendiri, tapi pada hakikatnya jika tidak ada Gluduk Alit, bagaimana mungkin muncul anakan Daun Tapak Gajah? Ini sungguh tidak adil! Dalam sesaat tabiat berangasannya muncul lagi…

“Aku tidak setuju!” Tiba-tiba Ki Daru Geni berdiri. “Kalau tidak ada muridku, mana bisa mereka dapat anakan Daun Tapak Gajah.”

“Keputusanku, sudah tetap adi! Tidak bisa diganggu gugat!” Kata Ki Blawu Segara membuat Ki Daru Geni makin sengit.

“Kau memang keras kepala, kakang! Sifatmu yang satu itu sulit dirubah! Maafkan aku!” sesuatu yang tak pernah mereka duga, membuat semua mata terbelalak.

Ki Daru Geni menyerang Dewa Badai dengan Tinju Arwah Perontok Cadas, hawa panas luar biasa menebar sampai radius sepuluh kaki, membuat para hadiri segera berloncatan menghindar.

“Apakah karena urutanku ada di nomor satu, kau selalu merasa tidak puas?” bentak Ki Blawu Segara menepis pukulan berhawa panas dengan penghacur luar biasa itu dengan kibasan lengan berputar, sebuah jurus andalan Dewa Badai Menghempas Gunung membuat pukulan Ki Daru Geni tertahan sejenak, tapi kejap berikutnya, Dewa Badai-lah yang dibuat terkejut!

Rupanya, pukulan Ki Daru Geni tidaklah seperti kondisi masa muda yang telah lalu, bisa di tepis dengan jurus andalannya. Pukulan Ki Daru Geni membawa semacam hawa angkuh yang tak bisa disurutkan dengan tangkisan, padahal kibasan Dewa Badai membawa hawa sakti hampir delapan bagian. Hanya bisa menahan sedetik, kemudian diterobos lagi dengan puntiran keras bagai bor.

Desss! Dewa Badai, terpukul tepat di dadanya, dia terhuyung empat tindak, terloncat sebersit darah pada bibirnya. Keadaan itu membuat gempar, semua orang, mereka tidak tahu harus berbuat apa dengan situasi itu. Untuk memisah, jelas tidak mungkin, tokoh-tokoh yang sejajar hanyalah setingkat Enam Dewa Sakti saja. kebingungan melanda anak cucu para tokoh itu.

Tapi hanya Gluduk Alit yang memperhatikan itu dengan sangat seksama, dia tidak berkedip, otaknya berputar keras.

“Bagus! Kau telah maju cukup jauh… tapi jangan senang dulu!” baju Dewa Badai, nampak mengembang sesaat, kejap berikutnya sebuah pusaran angin yang terlhat bagai fatamorgana menderu-deru di sekujur tubuhnya, beberapa batu yang terhisap meluruh menjadi matrial yang tak kasat mata.

“Murka Badai…” desis Ki Daru Geni menyeringai. “aku hapal dengan kebiasaaanmu!” dengan pekik membahana, guru Gluduk Alit menghantamkan tinjunya ketanah. Tidak ada yang terjadi akibat tinju itu, bahkan Ki Blawu Segara menyangka adik ketiganya itu melakukan kesalahan.

Seringaian di bibir Dewa Badai mendadak terhapus begitu saja dengan perasaan kejut luar biasa, pusaran dalam tubuhnya terasa di hentikan oleh cengekeraman hamparan bumi. Ya, saat itu tanah di bawah kaki Dewa Badai menguak satu lubang yang memiliki putaran berlawanan arah dengan angin yang mendesing disekujur tubuh Dewa Badai.

Keterkejutan orang tertua itu hanya sebentar. “Mainan anak-anak!” bentaknya, dengan mengibaskan kedua tangannya, membuat rekahan tanah yang menghisap kakinya meledak!

Blaaar! Satu detik akibat ledakan itu membuat pertahanan Dewa Badai terbuka satu titik, dan inilah yang di incar oleh Ki Daru Geni, “Rasakan mainan anak-anak ini!” sebuah tinju sederhana terlontar dengan kecepatan menakjubkan. Mata Dewa Badai terbelalak melihat serangan susulan itu.

“Salah besar!” bentaknya. “Aku sudah menunggu itu!” lalu sebuah tinju yang sama memapaki serangan Ki Daru Geni.

Duk!Blaar! Dentuman bagai puluhan ton petasan berkumandang, letupan yang diakibatkan beradunya dua tenaga sakti kasta tertinggi itu mengguncangkan jejakan kaki para hadirin. Ki Blawu Segara nampak tersurut mundur dua langkah, demikian pula dengan Ki Daru Geni.

“Cukup, adi!” bentak Ahmed Khalid berdiri disamping Ki Blawu Segara, begitu pula berturut-turut, Gulam Jabee. Akihiko Yutaka dan Khu Kim Liong.

“Bagus, kalian semua akan melawanku! Aku terima dengan senang hati!” bentak Tinju Sakti Penggetar Bumi sambil mengangkat kedua tinjunya kelangit. Tubuhnya menggeletar penuh desakan hawa sakti.

Lima anggota Enam Dewa Sakti melawan saudara ketiga mereka! Hawa sakti sudah saling bertebaran di sekujur tubuh keenam orang itu. Pemandangan ini benar-benar memperihatinkan, dan pasti akan menimbulkan ketidakadilan bagi siapapun yang melihatnya. Tapi sudut pandangan seperti itu tidak bisa diputuskan begitu saja, manakala kau sudah lebih dulu menyatakan Ki Daru Geni sebagai orang yang bersalah. Dilain sisi, jika ucapan Ki Blawu Segara tidak berat sebelah, belum tentu Ki Daru Geni akan lepas kendali. Jadi, jika di hitung kesana kemari, seharusnya mereka sama-sama salah, dan ini tidak perlu terjadi.

Semua anggota keluarga besar Enam Dewa Sakti heboh, mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan. Gluduk Alit-pun terlihat agak bimbang. Namun kejap berikutnya, anak Bengal ini membuka bajunya dan melemparkan ke arah lima anggota Enam Dewa Sakti, sementara tubuhnya meloncat kearah gurunya, melakukan serangan dengan Tinju Arwah jurus pertama, mengarah pelipisnya!

“Anak tengik!” bentak gurunya terperanjat.

49

Serangan Gluduk Alit berhenti ditengah jalan, melompat diantara mereka selanjutnya dia melakukan sesuatu yang tak pernah terpikir oleh semua orang.  Tubuh jangkung kurusnya nampak menggeletar, wajahnya memerah saga, dari tubuhnya berdesing suara angin yang membuat Dewa Badai terperangah. Murka Badai adalah ilmu andalan Dewa Badai, demikian pula Tinju Arwah yang sudah dia pahami seluk beluknya, disatukan sedemikian rupa membuat tanah yang dipijak Gluduk Alit rengkah. Tingkat seperti itu bukan apa-apa jika di banding tiap murid yang sudah matang dalam penguasaan ilmu-ilmu Enam Dewa Sakti. Tapi yang di lakukan Gluduk Alit, adalah sebuah symbol yang harus dilihat dengan pikiran jernih oleh enam tetua itu.

Baju yang di lempar ke arah lima tetua mengartikan, ‘tolong jangan serang’. Pukulan yang diarahkan ke gurunyapun bisa bermakna dalam. Bisa sebuah penghianatan pada sang guru, bisa penghinaan, bisa pula pengalihan perhatian. Sementara hal terakhir yang di lakukan Gluduk Alit, adalah sebuah sinergi puluhan tahun lalu yang tidak mungkin di lupakan kedua tetua itu—antara gurunya dan Dewa Badai, mereka telah bahu membahu dalam banyak hal. Masa, hanya untuk urusan sepele, enam tetua harus saling serang? Makanya Gluduk Alit sengaja melakukan penyatuan dua kutub pukulan yang tidak mungkin. Untuk mengingatkan mereka.

Enam Dewa Sakti adalah orang yang paling paham apa yang sedang dilakukan Gluduk Alit, pemuda itu sedang melakukan sebuah kefatalan yang dapat menjadi penyesalan di masa depan, kelak. Dua kutub tenaga yang sangat berbeda itu dicoba disatukan dalam tubuhnya yang belum memiliki himpunan tenaga sakti yang sepadan, dan itu bisa memecahkan pembuluhnya.

Baik Ki Daru Geni dan kelima tetua lain, sama-sama membentak, dan melakukan sebuah totokan yang membuat laju tenaga dalam tubuh Gluduk Alit sontak berhenti paksa. Enam totokan yang mengarah ke titik berbeda menerpa Gluduk Alit. ‘Serangan’ mendadak itu jelas sulit dihindari Gluduk Alit, tapi tidak membuat remaja Bengal ini kehilangan akal untuk membuat kesulitan pada kenam tetua itu.

Tubuhnya melintir dengan egosan yang membuat gemas gurunya, jemari gurunya dia terima dengan pantat disonggengkan pada totokan sang guru. Kalaupun totokan itu kena sasaran, jelas Ki Daru Geni harus mencuci jemarinya sehari semalam karena bau tak sedap! Lima totokan lain, di arahkan anak Bengal dengan satu gerakan menggiring, yang mengarah langsung ke kantong kemenyannya! Seharusnya Gluduk Alit sulit untuk menghindar dari enam totokan yang datang bagai kilat itu, tapi karena pengabungan jenis jurus dan tenaga yang dilakukan secara serampangan tadi, ternyata melejitkan sebuah tingkatan aneh, dalam tubuh anak Bengal ini seolah ada kekuatan untuk menyedot dan menepis lalu menggelincirkan serangan! Desing enam totokan, dengan susah payah diarahkan pada alamat yang dimaksud remaja nakal ini! Untuk tingkatan setinggi Enam Dewa Sakti, jika mereka sampai harus menyerang kantong kemenyan keponakan murid, entah harus ditaruh dimana muka mereka!

Gluduk Alit lupa sedang berhadapan dengan siapa, meski mereka cukup dikejutkan dengan gerakan aneh tersebut, kemahiran Enam Dewa Sakti memang menakjubkan, masing-masing dapat menahan gerakan sesaat sebelum kembali melejit mengarah titik yang dituju.

Tak-tak-tak! Saat terkena totokan Gluduk Alit sedang dalam posisi mengenaskan, kaki kanannya terangkat kedepan seperti aka menerjang, sementara kedua kepalan tangannya sedang dijulurkan kebelakang seperti menyongsong gerakan lawan. Posisi tubuhnya seperti sedang terbaring dalam kondisi membeku. Namun itu hanya untuk sesaat saja, kejap berikutnya Ki Daru Geni menghajar hampir sekujur tubuh Gluduk Alit, dengan gerakan membadai. Suara bak-buk berkali-kali membuat anak-anak gadis mengerinyitkan dahi, bahkan Hong Li terpekik ngeri.

Tapi tak satupun mencegah perbuatan Ki Daru Geni, sebab mereka sadar apa yang dilakukan si Tinju Sakti Penggetar Bumi ini adalah meluruskan jalur syaraf muridnya yang terlanjur semerawut akibat keteledorannya menggabungkan dua kutub jurus berbeda.

Ki Daru Geni sudah menghentikan gerakannya, dengan menghela nafas panjang-panjang dia menghampiri kerumunan anak-murid Enam Dewa Sakti.

“Jangan kawatir anak-anak! Kami hanya melakukan sedikit sandiwara…” ujar Ki Daru Geni dengan tawa lebar.

“Benar!” timpal Ki Blawu Segara seraya menjajari adik angkatnya.

“Untuk apa kek?” Tanya Gurba Dignya, debur jantungnya belum lagi surut gara-gara kejadian tadi.

Dewa Bada tertawa pendek. “Sebenarnya kami sedang iseng, mencari beberapa jawaban yang mungkin nanti bisa kami gunakan untuk kepentingan lain.”

“Apa si sucow, kok berbelit-belit begitu?” Seru Hong Li mendadak, agaknya anak dara ini sudah mulai sedikit tertular sifat blak-blakan Gluduk Alit.

“Tidak bisa diterangkan dalam satu dua kata, nanti saja. Kita tunggu keadaan anak nakal itu.” Kata Dewa Badai menatap Gluduk Alit yang sedang dalam perawatan Ki Gerah Langit.

“Uuuhk!” terdengar suara batuk-batuk serasa penuh dahak. “Hoooek!” Gluduk Alit meludahkan sekumur darah kental dengan lendir kehijauan.

“Iiiih… jorok!” seru Hong Li dan Akina Yutaka bersamaan. membuat remaja bengal ini nyengir, masih sambil duduk menggelosoh di tanah, Gluduk Alit menyeka mulutnya.

“Maaf, bukan sengaja kok… hoek!” Gluduk Alit kembali memutahkan sekumur darah membuat nafasnya ngos-ngosan tak karuan, dirasakan olehnya pandangan mata berkunang-kunang, saat memejamkan mata kepala Gluduk Alit terasa berputar kencang. “Adoooh pusing, lemas betul, mungkin seperti ini rasanya datang bulan…” gumamnya, membuat Ki Gerah Langit langsung memukul kepala Gluduk Alit.

“Sopan sedikit!” Bentaknya sambil melotot.

Gluduk Alit nyengir serba salah, belum lagi mulutnya siap membalas kata-kata Ki Gerah Langit. Si Mata Malaikat itu sudah menyumpalkan kendi ke mulut Gluduk Alit.

“Minum!” katanya dengan tegas, membuat mata Gluduk Alit melotot karena berteguk-teguk air dia telan secara terburu-buru. “Atur nafas!” perintahnya lagi, membuat remaja ini tidak bisa berbuat banyak.

Sambil mengenakan bajunya, remaja ini menyemburkan bersin berulang kali, Gluduk Alit menarik nafas panjang-panjang lalu tenggelam dalam pemusatan hawa murni, asap tipis bagai fatamorgana nampak mengepul dari sekujur anak ini.

Ki Daru Geni tercenung sesaat melihat kondisi muridnya, dia menatap sahabatnya dengan pandangan penuh tanya. Namun Mata Malaikat tidak menjelaskan banyak hal selain mengangkat jempolnya. Dan itu cukup buat Ki Daru Geni.

Suasana jadi hening sesaat, untung saja Gluduk Alit tak lama dalam mengatur nafasnya, sambil berdiri perlahan, remaja ini menggeleng-gelengkan kepalanya berkali-kali.

“Bagaimana perasaanmu?” Tanya Ki Gerah Langit.

“Sudah baikan kek, cuma kepalaku rasanya…” kata Gluduk Alit sambil berjalan.

“Kau mau kemana?” Tanya Ki Gerah Langit membuat Gluduk Alit heran.

“Tentu saja berkumpul dengan mereka…” katanya sambil mengerjap mata berkali-kali, tatapannya masih nanar, kepalanyapun rasanya pusing betul.

“Melangkah yang betul! Kau baru saja mengambil arah sebaliknya…” jelas Ki Gerah Langit membuat Gluduk Alit menggoyang kepalanya lebih keras. Dan baru menyadari ternyata dirinya melangkah kearah berlawanan, sambil menggamit tangan Ki Gerah Langit supaya tak sempoyongan, anak itu berjalan mendekati sang guru dan semua orang.

“Bagaimana kondisimu?” Tanya Ki Daru Geni.

“Sudah baikan, guru.” Jawab Gluduk Alit singkat, lalu dengan menghepas pantatnya ketanah anak ini kembali mengatur nafas, semua orang melihat betapa pucatnya wajah Gluduk Alit.

Meskipun Ki Blawu Segara memberi isyarat pembicaraan bisa di lakukan lagi, tapi melihat keadaan Gluduk Alit, merekapun tak ada yang buka suara. Hal ini malah membuat Ki Daru Geni merasa sungkan.

“Kalian mungkin terkejut dengan kejadian tadi,” Kata Ki Daru Geni. “Percayalah, ini hanya sebuah sandirwara yang kami atur secara singkat. Selain hendak memberi kejutan, kamipun hendak melihat kemungkinan orang yang bisa di beri amanah tugas berat.”

“Ya, apa yang paman kalian kemukakan tadi, benar adanya. Kami memutuskan untuk tidak melakukan ujian macam-macam lagi, selain ini berkaitan dengan penemuan Daun Tapak Gajah, sebenarnya kita memiliki beberapa kewajiban yang seharus dilakukan beberapa tahun sebelumnya… tapi karena satu dan lain hal, baru bisa kita lakukan tahun ini.”

Tidak ada yang berusaha menyela ucapan pimpinan Enam Dewa Sakti itu. Bahkan Gluduk Alit yang tenggelam dalam pemusatan hawa murninya bisa ikut menyimak dengan takzim.

“Kalian mungkin pernah mendengar cerita dari masing-masing kakek kalian, bahwa jalur ilmu yang kami miliki ini masih ada hubungannya dengan Tiga Pelindung Kaum. Ya, guru kami… Ki Suro Santang merupakan pembantu Tiga Pelindung Kaum, karena ketekunan dan sifatnya yang baik, Tiga Pelindung Kaum mengizinkan Ki Suro Santang untuk turut serta dalam latihan dengan murid-murid generasi awal Tiga Pelindung Kaum. Belasan tahun kemudian, tingkatan yang di peroleh guru kami, cukup membuat bangga Tiga Pelindung Kaum, hingga akhirnya mereka mengangkat guru sebagai, murid penutup. Meskipun sebutannya adalah murid penutup, selisih usia guru cukup jauh dengan murid tertua—guru lebih tua sepuluh tahun. Singkat cerita, karena rasa percaya Tiga Pelindung Kaum pada guru, mereka menitipkan ragam pusaka pada guru untuk menjaganya, untuk melindungi dan memberikan kepada orang-orang yang dipandang berbakat dan cocok lahir batin. Tugas itu sangat berat, tapi amanah itu tak mungkin guru tolak. Sampai akhirnya sebuah Cupu Naga Mas—salah satu pusaka Tiga Pelindung Kaum, membuat heboh duna persilatan puluhan tahun lampau. Dan kini, sebuah peta keramat yang konon merupakan kunci harta karun ilmu kesaktian membuat heboh jaga persilatan. Peta itu tidak ada hubungannya dengan Tiga Pelindung Kaum, tapi menurut guru, Tiga Pelindung Kaum pernah menyinggungnya sekali, dalam kesempatan lain, dan itu mau tidak mau menjadi perhatian kami saat ini.” Ki Blawu Segara menghela nafas sesaat.

“Saat itu Tiga Pelindung Kaum hanya mengatakan, ‘mungkin saat Peta Keramat benar-benar muncul, ganjalan kita bisa sedikit terurai’, bagaimana mungkin tokoh setingkat mereka ternyata punya ganjalan? Beberapa tahun lalu, beberapa anak murid Tiga Pelindung Kaum menemui kami, dan secara langsung meminta tolong kepadaku untuk mencari Peta Keramat. Sementara aku jelas tidak mungkin keluar berpetualangan lagi, maka beberapa waktu terakhir ini, kusiapkan anak muridku secara khusus untuk membantu pencarian Peta Keramat.”

Gluduk Alit mendengarkan dengan seksama, dia mengerutkan keningnya, dari Ki Waskita Gluduk Alit pernah mendengar bahwa Peta Keramat adalah bikinan Masahito Hiroki pada masa tujuh puluh tahun lalu, sangat tidak nyambung rasanya Tiga Pelindung Kaum membicarkan benda yang tidak ada di masa mereka—karena Masahito Hiroki hidup setelah masa Tiga Pelindung Kaum berakhir. Sebenarnya ada berapa Peta Keramat sih? Pikir Gluduk Alit dengan bingung. Tapi kebimbangannya hanya bisa ditelan sendiri, sebab dia harus menyimpan amanah dari Ki Waskita untuk tidak menceritakan itu pada siapapun.

“Lalu, apa hubungan cerita kakek guru dengan kejadian tadi?” Arman Syakar memberanikan diri bertanya.

“Jangan menyela, Arman…” tegur Kakek Ahmed Khalid pada cucunya.

“Biarkan saja adi Ahmed, kita tidak boleh menghalangi kekritisan generasi muda.” Kata Ki Blawu Segara membela. “Terus terang, urusan Peta Keramat ini telalu ruwet dan telalu banyak simpang siur fakta yang melingkupinya. Secara iseng, kami sempat membahas secara singkat, kira-kira orang seperti apa yang cocok untuk di beri tugas berat ini? Mengingat kehadiran Peta Keramat di kuntit pula oleh hadirnya para tokoh masa lalu, jelas tugas ini akan sangat berbahaya. Maka kami memutuskan untuk mencari orang yang tanggap pikiran, tangkas tindakan dan cerdik, tidak takut melakukan kesalahan, berani memutuskan sebuah tindakan meski itu sangat bodoh!”

Sampai disitu, barulah hadirin paham kenapa Ki Daru Geni dan Ki Blawu Segara ‘bertarung’, ternyata memancing reaksi, mereka semua. Tak tahunya semua orang dicekam dengan rasa sungkan bertindak, dan tidak berani bertindak apa-apa, kecuali… Gluduk Alit!

“Apakah orang itu sudah ditemukan?” Tanya Arman Syakar menegaskan, sebenarnya pertanyan itu tidak berguna pula, sebab dia-pun maklum bahwa Gluduk Alit adalah orang yang terpilih.

“Itu tergantung alasan tindakannya…” kata Ki Blawu Segara pada Gluduk Alit.

Remaja ini sudah menyelesaikan semadinya dari tadi, wajahnya tidak sepucat tadi. Warna merah sudah menyebar di selebar wajahnya.

Ki Daru Geni menepuk bahu muridnya. “Jadi apa alasan tindakanmu tadi?” Tanya gurunya.

Gluduk Alit menggaruk-garuk kepalanya. “Ngg… aku tidak berpikir jauh, hanya menghitung begini. Jika guru harus menghadapi lima tetua yang lain, sehebat apapun guru bukanlah tandingan mereka, maka aku melepas baju sebagai tanda meminta perhatian, harapanku waktu itu, salah satu dari tetua ada yang bisa menafsirkan itu sebagai ‘menyerah’, lalu kuserang guru untuk meyakinkan kepada kelima kakek guru lain, bahwa aku tidak sependapat dengan pikiran guru, bahwa aku ingin meluruskan pola pikir guru. Berikutnya, ilmu Kakek Blawu Segara yang aku tahu pasti tidak mungkin bisa kutiru mentah-mentah, sengaja kuaduk dengan ilmu guru. Bayanganku, paduan dua jurus ini bisa menarik perhatian semua orang untuk mengingat hubungan yang telah lampau… hanya itu.”

Ki Blawu Segara dan tetua yang lain saling pandang, nyata memang, apa yang dilakukan Gluduk Alit merupakan sebuah reaksi dan pola pikir sangat maju, yang tak mungkin mereka lakukan pula di usia seperti anak Bengal itu. Mau tidak mau, hadirin juga harus mengakui kecepatan tindakan Gluduk Alit memang tidak terbetik dalam benak mereka.

“Kau sudah mendengar, bahwa ujian akhir yang kami lakukan itu adalah untuk mencari orang untuk diamanahi tugas berat?”

Gluduk Alit mengangguk.

“Kau keberatan dengan tugas itu?” Tanya Ki Blawu Segara.

“Bukan aku keberatan kek, tapi aku yakin banyak yang lebih cocok dengan tugas ini, kemampuan saudara-saudara yang lain jelas lebih unggul dariku.” Kata Gluduk Alit dengan raut sungguh-sungguh.

“Kau tak usah menempel emas dimukaku, Dulit. Jelas-jelas kau yang di pilih, mau melemparkan tugas berat ini kepada kami-kami, tak usah ya…” kata Sakyamuni dengan berhaha hihi. Membuat beberapa hadirin tersenyum membenarkan pikiran Sakyamuni. Pemuda ini sangat tanggap dengan situasi, pertanyaan Ki Blawu Segara bisa mengaikbatkan kecemburuan salah satu dari mereka, jelas terpilihnya Gluduk Alit untuk memegang amanah tugas, sangat dia dukung, tapi bagaimana dengan orang lain? Makanya dengan cekatan Sakyamuni menutup kemungkinan rasa iri berkembang dengan dengan pernyataannya.

“Bagaimana, apakah ada yang keberatan tugas ini jatuh pada saudara kalian Alit Wijaya?” taya Ki Blawu Segara menatap wajah semua hadirin satu persatu. “Jika ada ganjalan, katakan sekarang, jangan bicara dibelakang. Bersikaplah jantan!”

Tidak ada tanggapan juga.

“Baik, dengan ini kami akan serahkan tugas yang di minta oleh anak murid keturunan Tiga Pelindung Kaum untuk di emban oleh Alit Wijaya.”

Gluduk Alit mendesah, bukan karena mengeluh mendapat tugas. Tapi dia sadar betul, tugas berat yang akan dipikulnya pasti memiliki konsekuensi besar.

“Mulai tahun depan, kau akan kami gembleng secara bergilir. Sampai akhir tahun ini, kewajibanmu adalah menyerap pelajaran dari gurumu hingga tuntas! Untuk selanjutnya, giliranku memberikan pelajaran, lalu tetua Ahmed Khalid. Tetua Gulam Jabee, tetua Akihiko Yutaka dan terakhir tetua Kim Liong. Apakah kau sanggup?”

Gluduk Alit menelan ludahnya berkali-kali, membayangkan digembleng para tetua yang begitu hebat membuatnya senang bercampur kawatir, takut kebebasannya dibatasi.

“Sanggup tetua…” sahut Gluduk Alit singkat.

“Kalian jangan salah sangka, bukan hanya Alit Wijaya yang akan mendapatkan gemblengan secara bergilir, tapi kalian semua harus bersiap untuk menjadi penerus enam Dewa Sakti!” keputusan Ki Blawu Segara yang terakhir menggirangkan mereka semua, rasa tak puas yang sempat menggayuti batin, tersapu dengan sendirinya.

Ki Blawu Segara tersenyum puas, bagaimanapun sebagai orang yang lebih tua, dia bisa meraba apa yang bergolak dalam pikiran para cucu muridnya. Dia juga mengagumi kecepatan berpikir Sakyamuni yang mencoba meredakan situasi akibat keputusannya yang memang sengaja di umbar di muka umum. Ternyata para penerus Enam Dewa Sakti tidak mengecewakan. Ki Blawu Segara merasa masa depan Enam Dewa Sakti tidak akan terkubur begitu saja dan ini menggirangkan hatinya.

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
Quote | This entry was posted in Petualang Bengal and tagged , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s