07 – PB : Ujian Kedua

Usai dengan pekerjaannya, Gluduk Alit mengendus-endus tanah disekitar situ, kelakuannya membuat beberapa orang memperhatikannya.

”Apa yang dia lakukan?” gerutu Khu Hong Li yang mendadak saja merasa, tak bisa tidak harus memperhatikan semua tingkah Gluduk Alit. Bukan apa-apa, gadis tanggung ini sudah kadung merasa, banyak kejutan yang bakal ditimbulkan Gluduk  Alit.

”Ah, disini rupanya…” seru Gluduk Alit. Lalu dengan cekatan anak itu membuat semacam sekop dan mata cangkul dari kayu-kayu yang ada disekitar situ. Pekerjaan Gluduk Alit ternyata menyita perhatian para orang tua.

Begitu pemuda tanggung itu mulai menggali, baru orang-orang paham ternyata Gluduk Alit sedang membuat bilik air. Dan caranya mengendus-endus tanah tadi ternyata sedang mendeteksi dimana tempat yang mengandung banyak air. Dengan sangat cekatan, Gluduk Alit membuat dua buah bilik(sumur kecil), yang letaknya cukup berjauhan, hal inipun membuat orang jadi bertanya-tanya.

”Nah, selesai sudah!” serunya. Tanpa menghiraukan tatapan heran orang, anak itu mencari kayu-kayu dan pelepah daun disekitarnya, lalu mulailah dia membuat sebuah ruangan kecil di depan bilik air, ruangan itu berukuran 1×1 meter dengan dipisah sekat selebar 1 meter lagi. begitu satu bangunan terbentuk, baru orang paham.. ternyata anak itu sedang membuat, kamar mandi plus kamar ganti darurat! Bahkan dengan adanya bilik air yang tadi di galinya, tak menutup kemungkian, tempat itu jadi kakus dadakan.

Khu Hong Li, adalah anak yang ekspresif, melihat apa yang di bikin Gluduk Alit, kontan saja dia bersorak gembira. ”Wah, Alit… kau pintar sekali!” maklum saja, dari tadi anak gadis ini sudah ngampet pipis, mau cari tempat yang sepi, kok hatinya kurang sreg. Untunglah otak dalam kepala Gluduk Alit isinya bukan melulu ide jahil!

Dengan wajah kepayahan Gluduk Alit nyengir, ”Makasih, akan sangat menggembirakan hati jika pujianmu ditambah sedikit bantuan.. tolong ambilkan aku tali itu.” kata anak itu seenaknya pada Khu Hong Li.

Tapi gadis ini pun tidak marah, dia sadar pekerjaan Gluduk Alit memang butuh bantuannya, campur tangan Khu Hong Li membuat beberapa muda-mudi yang lain juga tergerak turut membantu Gluduk Alit, tak berapa lama kemudian, mereka kini sudah memiliki 2 buah kamar mandi yang cukup baik.

Tepat matahari sampai di atas kepala, seluruh pekerjaan sudah selesai kecuali, Gluduk Alit! Baru mereka sadari ternyata murid Ki Daru Geni memang adalah tipe orang yang harus selalu bergerak. Pantasan saja dia sempat bicara, jika diajari memancing bisa mati karena bosan. Terlihat pemuda tanggung ini sedang sibuk membuat arang, usai menyelesaikannya, Gluduk Alit sibuk bergegas masuk kedalam hutan, entah apa yang dia cari, dan sepulangnya dari sana, orang baru tahu bahwa yang dicari anak itu adalah rempah-rempah. Dengan cekatan anak ini menumbuk-numbuk hingga rata. Harum aroma rempah yang di tumbuk, cukup menggelitik perasaan kaum wanita!

”Heh, apakah bumbu yang dia gunakan tidak salah? Harum sih cukup harum… tapi bagaimana dengan aromanya? Jangan-jangan daging olahannya terasa anyep..” bisik Intan Padmi pada Kumala Sari.

“Entahlah..” sahut gadis tanggung itu dengan memperhatikan Gluduk Alit, dia ingin membantu tapi ragu.

“Hoooi! Apa kaum wanita hanya bisa melihat aku kerepotan sen­diri? Aku tidak tanggung kalau sebagian daging, jadi tidak ada rasanya!” seru Gluduk Alit sembari mengoleskan bumbunya ke tiap ekor daging burung.

Para wanita yang ada disitu tersentak sadar. “Ah iya, Nak Alit memang perlu kita bantu..” sahut Kamila, menantu kakek Kim Liong. Begitu, sang ibu bicara, kontan Khu Hong Li langsung menghamburkan langkahnya, dengan cekatan dia turut membumbui.

“Benar juga..” sahut Dewi Ratri menimpali. Memang ke dua wanita yang paling tua disitu, hanya ibu dari kakak-adik Khu, dan ibu dari tiga bersaudara cucu Ki Blawu Segara. Sehingga dua wanita inilah yang paling cekatan membantu Gluduk Alit meracik bumbu, disamping Khu Hong Li.

“Hei, dan mana kau bisa mengolah rempah bumbu sebagus ini?” tanya Dewi Ratri itu pada Gluduk Alit dengan nada memuji.

“Ah, bibi..” ujar Gluduk Alit tersipu. “Ini rempah biasa saja, di hutan ini sangat banyak tumbuhan rempah-rempah, kebetulan saja aku tahu sedikit jadi tak ada salahnya kita gunakan, dari pada nanti harus memakan daging tanpa rasa.”

Sambil bekerja Kamila bertanya, “Dari mana kau belajar mengenal daun-daunan rempah ini?”

Gluduk Alit menjawab sambil mulai mengipasi arang, wajahnya mengerinyit karena ada sebagian asap mengarah kepadanya. “Waktu dalam perantauan aku selalu mencari pekerja sebagai pelayan ruman makan. Sebenarnya pikiran itu timbul karena aku tidak mau repot mencari makan…” katanya meringis, disambut tawa geli dua wanita itu. ”Aku termasuk palah pilih makan, kalau kusambi jadi kuli, hobi makanku jelas jadi terlantar.. aku tak cukup uang untuk membeli ini itu. Tapi kalau jadi pelayan, nah ini… biar tidak dibayar, kan aku bisa makan enak..” kembali dua wanita itu tertawa. ”Karena kebiasaanku jadi pelayan, lama-lama aku pernah juga diangkat jadi asisten koki, dari isitulah aku banyak tahu apa yang diperlukan untuk membuat makanan..”

Penjelasan konyol anak itu justru membuat haru hati kedua wanita itu. Dipikir-pikir Gluduk Alit paling banyak baru tiga belas tahun, tapi dia harus berjuang menghidupi dirinya dengan segala keuletan yang dibalut sifat nakalnya, justru kondisi kontradiktif itu membuat orang jadi susah menilai kelakuannya.

“Kalau begitu, tentu calon istrimu kelak tak perlu repot-repot harus belajar masak.” Kata Kamila mengalihkan rasa harunya dengan pertanyaan menggoda.

“Wah, bibi ada-ada saja, kalau istriku kelak tak bisa memasak, bagai­mana jika aku bangun kesorean? Bisa-bisa makan batu..” sahut Gluduk Alit dengan nada akrab.

”Kupikir, bagusnya kau memang dikasih makan batu, biar tidak banyak bicara!” tiba-tiba saja Khu Hong Li nyeletuk, membuat ibunya terkekeh. Ucapan anak gadisnya dengan pertanyaanya memang tidak nyambung, tapi jika diperhatikan lebih lanjut, seolah-olah ada benang merah masa depan yang sedang terjalin atas kedua anak itu.

”Sialan… masa aku dikasih batu? Kena daun pahit saja aku jadi banyak bicara, apalagi kalau kena batu.” balas Gluduk Alit, membuat Khu Hong Li mendelik gemas karena diingatkan dengan gurauan anak itu tadi, sambil cemberut gadis tanggung ini melempar Gluduk Alit dengan arang. Berhubung Gluduk Alit sibuk memanggang daging, sambitan Khu Hong Li dibiarkan saja. Dikiranya paling banter hanya kena dadanya. Tapi dasar apes, justru sambitan gadis tanggung ini masuk kemulut Gluduk Alit! Kontan saja segala ucapan nakal Gluduk Alit tersembur pada Khu Hong Li, dan dibalas tak kalah pedas oleh gadis tanggung itu! Tentu saja kedua wanita dewasa itu harus berlelah-lelah memisah keduanya.

Perang omelan disela ’bakar burung’ membuat pusing orang yang mendengar. Tapi justru karena hal itu sadar atau tidak, membuat keakraban terjalin makin erat. Jika memperhatikan cara Gluduk Alit bicara dengan dua wanita dewasa itu, seolah sudah sejak lama dikenalnya, membuat para sesepuh terheran-heran. Tapi itulah kelebihan Gluduk Alit, dia selalu mudah bergaul dengan siapa saja tak terkecuali orang yang usianya berbeda jauh dengannya.

Semuanya kini telah siap, makan siang dan untuk persediaan malam sudah disiapkan. Bagi yang ingin membersihkan badanpun sudah tidak kerepotan lagi, karena bilik made in Gluduk Alit sudah bisa digunakan.

“Baiklah, semua sudah siap dan sekarang juga kita akan mulai ujian kedua!” Ki Blawu Segara membuka pembicaraan setelah mereka selesai makan siang. ”Dan yang perlu menjadi perhatian kalian, adalah; selalu waspada pada tiap kesempatan. Meskipun gunung ini wilayah teraman, tapi akupun tak bisa menafikan bahwa kemungkinan adanya bahaya.”

Mendengar wejangan Ki Balwu, mereka mengangguk. Tapi sekali lagi yang membuat mereka sebal adalah, karena Gluduk Alit masih dengan enaknya makan, saat Ki Blawu Segara memberi penjelasan, apalagi pemuda tanggung itu tanpan sungkan-sungkan membungkus beberapa panggang burung sebagai bekalnya!

“Sekarang berangkatlah!”

Aba-aba sudah dimulai, dan empat belas muda-mudi itu melesat berpencar. Masing-masing sudah mendapat keterangan dari gurunya jika daun yang mereka cari berada di dekat puncak gunung, disitu ada rimbunan pohon Tapak Gajah, yang memiiki daun berbentuk bintang dan apabila terkena getahnya, bisa menimbulkan keracunan dan kegatalan amat sangat, karena itu mereka diharuskan hati-hati saat memetiknya.

Kalau yang lain bergegas dengan peringan tubuhnya, Gluduk Alit malah masih bersantai-santai, bahkan pemuda tanggung itu malah memulai pekerjaan menganyam tikar, entah untuk apa!

“Hei, kau tak segera berangkat?” tanya Kakek Akihiko.

“Nantilah kek, batas waktunya kan masih lama..” ujar Gluduk Alit.

“Apa kau tidak takut kalah dengan saudaramu yang lain?” pancing kakek Kim Liong.

“Kenapa mesti takut kalah kek, menurutku itu tidak penting, lagi pula mereka adalah saudara-saudara seperguruanku. Apalagi bagiku pertandingan dan ujian ini diadakan bukan untuk mencari musuh, tapi mengeratkan persahabatan. Jadi, menang atau kalah tak akan banyak pengaruhnya..”

“Apa kau tidak mau memperlihatkan hal-hal yang bisa membuat gurumu bangga?”

“Membuat bangga ya…” sahut Gluduk Alit menanggapi pertanyaan Ahmed Khalid sambil berpikir. “Tentu saja semua daya upaya akan kukerahkan, tetapi jika harus membuat bangga, kupikir tidak perlu. Jika itu ternyata membuatku harus membebani diriku sendiri, maka aku tak terlalu memikirkannya. Aku belajar sebagai diriku sendiri, dan semua yang kupelajari dari kakek guru bisa menjadi ukuran kebanggan, manaka aku kelak tidak membuatnya malu. Dalam hal ini jika seorang guru merasa malu, berarti dia malu karena orang lain akan memandang rendah dirinya—dari ulah sang murid. Bukankah jika aku memberi perasaan semacam itu pada guruku, akupun jadi berdosa? Menjadi murid yang selalu menjadi beban perasaan guru? Kupikir rasa bangga itu bisa menjerumuskan kami kek…”

Ahmed Khalid takjub dengan jawaban ’ajaib’ anak itu! Benar-benar diluar pakem! Kali ini dia melihat Gluduk Alit dengan pandangan berbeda, ternyata ’kekurangajaran’ sikap Gluduk Alit memang didasari pengertian mendalam pada dirinya sendiri.

“Kenapa, rasa bangga bisa membuatmu terjerumus?” tanyanya lagi menguji.

“Kupikir jika aku menginginkan rasa bangga, maka aku tidak akan pernah maju… rasa bangga akan mendatangkan rasa puas, dan perasaan itu cukup menyesatkan.” Tutur Gluduk Alit masih sambil mengayam tikar.

Jawaban Gluduk Alit, terasa sangat ‘tua’. Ahmed Khalid, memandang Ki Daru Geni. Tatapan matanya mengandung tanya; ‘apakah kau ajarkan ini?’ Tapi melihat Ki Daru Geni menggeleng, sesepuh keturunan parsi ini berkesimpulan, bahwa apa yang diucapakan anak itu diambil dari perjalanannya.

Anak itu memang tak pernah berlaku sopan, dalam arti; terlalu berlebihan. Karena menurutnya, manusia hanya dibeda oleh usia dan sikap hidup saja, jadi tak ada bedanya seorang bocah dengan seorang kakek. Karena itulah Gluduk Alit selalu bertingkah wajar dan tidak ingin menghormati orang terlalu berlebih.

Tujuh tokoh sakti itu tertegun mendengar ‘komitmen’ yang dipegang Gluduk Alit. “Bagaimana jika tingkah laku dan cara bicaramu ternyata mencerminkan ketidakhormatanmu pada orang lain? Bukankah itu akan membuat malu gurumu dan kau akan berdosa karenanya—seperti yang kau ucapkan sendiri?” Tanya Ki Blawu Segara ingin menjajagi sampai dimana pemikiran Gluduk Alit.

“Bukan berarti seperti itu kek, sopan santun mutlak diperlukan, sementara cara menghormati orang kan tidak tiap daerah berbeda, jadi ini hanya masalah sikap saja. Hanya yang perlu kakek ketahui, aku selalu menganggap manu­sia itu sama. Kita sama-sama dilahirkan dari wanita, yang membuat kita tiba-tiba membungkuk terlalu dalam kepada orang lain, hanya karena kedudukan orang itu. Dan aku tak suka berlaku seperti itu, aku berlaku seperti manusia pada wajarnya. Jadi, mengenai sopan tak sopan—yang bisa membuat malu guruku—semua itu memiliki penilaian berbeda dari tiap orang.” Jawab Gluduk Alit dengan mantap.

“Jadi, kalau bisa kusimpulkan… kau hampir tidak memperdulikan tata krama?” tanya Ki Blawu makin tertarik, sebab percakapan dengan Gluduk Alit yang pandai biacar ini, membuatnya bersemangat.

“Entahlah kek… mungkin ada benarnya. Tapi menurutku aturan atau tata krama adalah pembatasan. Dan kebanyakan pembatasan membuat orang, biasanya akan berprilaku menentang.”

“Kenapa begitu?” tanya Ki Gerah Langit tertarik.

“Coba kakek pikirkan,” kata Gluduk Alit sambil memandang Mata Malaikat sekejap. “Peraturan yang selalu berlaku dimana saja, selalu tidak mengatakan bagaimana dasar pembuatan aturan tersebut, sehingga membuat orang cenderung penasaran. Misal, ada larangan untuk tidak melewati jalan di wilayah tertentu, tanpa izin… orang awam akan berpikir, tanah di setiap belahan bumi itu sama, kenapa ada kekecualian tidak boleh dilewati sembarangan? Pasti dari peraturan yang kaku seperti itu hanya rasa penasaran, dan karena keingintahuan, mereka akan melanggar larangan itu.”

“Ah… kau!” seru Gurunya sambil menepuk kepala muridnya. “Banyak bicara! Sudah berangkat sana!” seru Ki Daru Geni sambil mendepak pantat Gluduk Alit.

“Huu.. kakek,” gerutunya. Pemuda tanggung ini bersuit, dan empat burung besar itu turun. Gluduk Alit mengikat kaki empat burung itu dengan anyaman tikar kecil yang selesai dibuatnya. Setelah selesai, anak itu menggebah si Merah.

“Ayo berangkat!” serunya sambil memberikan pekik dengan nada khusus yang ternyata di pahami oleh si merah. Empat burung itu mengudara, dua burung dibelakang dan dua lainnya didepan. Sementara Gluduk Alit duduk diantara keempatanya dengan riang.

Tujuh tokoh sakti yang ada dibawa menggeleng kagum dengan ulah Gluduk Alit. “Entah dugaanku benar atau tidak, tapi… anak itu bakal menyusahkan orang banyak, khususnya orang yang tak dia sukai..”

“Mudah-mudahan saja bukan orang golongan lurus..” ujar Ki Daru Geni menimpali perkataan Akihiko. Lalu tujuh tokoh sakti itu berkelebat cepat kearah dimana lima belas cucu murid mereka pergi.

Sementara yang menunggu di tempat itu tingga dua pasang suami-istri. Anak-mantu sesepuh Khu Kim Liong dan anak-mantu sesepuh Ki Blawu Segara.

***

Kehebohan Peta Keramat tidak hanya sampai isu-isu tentang tempat yang berhubungan dengan tokoh-tokoh tinggi. Bahkan tokoh yang sudah tidak pernah ikut campur dalam kancah persilatan, seolah dipaksa keluar lagi. Semua itu karena berita munculnya Raja Tendangan, seorang pendekar yang namanya mencuat tinggi sejak lima puluh tahun lalu. Raja Tendangan adalah tokoh golongan putih yang sudah tidak terdengar kabar beritanya, seperti halnya Enam Dewa Sakti. Mengapa semua tokoh tua tertarik dengan kemunculan Raja Fendangan ini? Tak lain karena Raja Tendangan adalah murid tokoh termahsyur Penolong Budiman. Raja Tendangan tanpa sengaja pernah menemukan peta harta karun Raja Gerda Urata yang sudah terpendam seratus tahun lebih. Tetapi karena Raja Tendangan bukan orang rakus, dia simpan peta itu di suatu tempat rahasia. Kemunculan Raja Tendangan, memang membuat semua orang jadi heboh. Sebab menururt isyu yang beredar, peta itu juga menunjukan tempat penyimpanan pusaka-pusaka yang tak ternilai harganya,

Karena semua orang tahu seperti apa macamnya Raja Gerda Urata, dia adalah raja yang tamak dan sangat lalim. Kesukaanya adalah mempelajari kesakitan dari perguruan atau tokoh sakti lainnya. Konon karena sang raja tidak bisa menjadi murid Tiga Pelindung Kaum, maka sang raja membumi hanguskan satu kota besar. Tapi perbuatannya harus dibayar mahal dengan kematian sangat tragis, yakni mati ditangan Sepasang Pedang Dewa, murid salah satu Tiga Pelindung Kaum. Entah karena kebetulan atau tak sengaja, Raja Tendangan menemukan peta itu di bawah reruntuhan Kerajaan Griya Muraka yang dipimpin si raja lalim itu. Seharusnya berita itu tidak menyebar luas, tetapi saat menemukan peta itu Raja Tendangan masih seorang pemuda belia, keinginan untuk tenar sangat besar. Dengan keingin besar, Raja Tendangan mencari dimana letak harta itu.

Setelah mendapatkan tempat itu, pemuda bernama Dirga Utama, sejak saat itu dikenal degnan juluk Raja Tendangan, karena dia berhasil mempelajari satu ilmu hebat dari kitab yang tersimpan di tempat rahasia itu, walau sebelumnya dia juga merupakan tokoh hebat, karena pernah mendapat gemblengan dari Penolong Budiman.

Karena kabar kemunculan Raja Tendangan itulah, hampir semua tokoh yang sudah memencilkan diri turun ke kancah persilatan kembali. Kabar yang tersiar itu sesungguhnya masih simpang siur. Karena di sisi lain, kemunculan Raja Tendangan dikaitkan dengan Peta Kera­mat, dan lagi ada kabar lain yang menyatakan Peta Keramat berada di partai Kipas Sakti, Pengemis Mata Setan atau Raja Penghayal. Dan yang paling membingungkan adalah, semua orang terlihat percaya. Mereka benar-benar dibutakan harta benda, sehingga main seruduk tanpa pertimbangan.

Begitu ricuhnya rimba hijau tanah Jawa, kegegeran yang diakibatkan munculnya Peta Keramat. Semua orang berlomba-lomba untuk mencari peta tersebut. Tiga tokoh sakti yang pernah membuat geger masa lalu, diburu. Kemana ada berita tentang mereka bertiga, maka disitulah tokoh sakti mengincarnya. Ketiganya adalah Pengemis Mata Setan, Raja Penghayal dan sesepuh perguruan Kipas Sakti atau mantan ketua perguruan itu.

Mereka diburu, karena kabar burung yang beredar mengatakan kalau salah satu diantara mereka memegang peta keramat tersebut. Meski belum jelas betul siapa yang memegang peta yang sesungguhnya, ada berapa kelompok yang menyebutkan bahwa tiga tokoh itu sengaja membagi peta agar tidak mudah bagi siapa saja yang ingin merebutnaya. Karena itulah mereka di buru-buru.

Dan sudah dapat dipastikan, Perguruan Kipas Sakti adalah sasaran paling empuk, karena tempatnya jelas. Sementara itu Raja Penghayal sudah lenyap hampir setengah abad, siapapun tak bisa menemukan dimana adanya tokoh iicik itu, Tapi lain halnya Pengemis Mata Setan, biarpun dia merupakan tokoh sakti kesohor, kalau diburu puluhan tokoh yang kesaktiannya sejajar dengan dirinya, mau tak mau Pengemis Mata Setan harus sembunyikan diri atau terpaksa menyamar bila ia ingin keiuar dan persembunyian.

Tak heran kalau Ketua muda Kipas Sakti yang sekarang, harus turun tangan sendiri untuk membersihkan nama perguruannya juga untuk menyirap kabar keberadaan peta keramat dan jejak Setan Tangan Seribu.

“Hh… sudah hampir sepuluh bulan ini aku keluar perguruan, jejak Setan Tangan Seribu tak juga muncul, yang kudengar hanya simpang siurnya keberadaan Peta Keramat. Benar-benar membuat hati kesal!” dengus Gagas. Lelaki ketua Perguruan Kipas Sakti itu memang sudah menjelajah hampir kesetiap pelosok untuk mencari Setan Tangan Seribu, demi merebut kembali dua kitab pusaka.

Setelah lelah kesana kemari, Gagas memutuskan untuk kembali ke perguruannya. Saat dia sampai di Gunung Gangging, lelaki itu melihat kelebatan orang berperawakan kurus. Gagas memang orang yang cepat penasaran, sehingga timbul tanya dalam hatinya untuk buntuti orang itu, dengan ilmu peringan tubuh piawai, dia buntuti sosok kurus tersebut.

Tetapi lelaki itu terkejut saat membuntuti bayangan itu. “Gila! Sampai kapan si kurus itu lari? Tenaganya bukan main, meli­hat gelagatnya dia sudah menempuh jarak jauh sekali, wah.. aku sudah mulai lelah mengikutinya… apalagi dia yang sudah menempuh perjalanan lebih jauh dariku.. sesungguhnya tokoh sakti dari mana dia?” tanya Gagas dalam hatinya. Biar badan sudah terasa penat, namun kekerasan hatinya mengalahkan kepenatan badannya.

Setelan menepuh jarak puluhan bahkan ratusan pal, akhirnya si kurus itu berhenti juga, dia berhenti pada sebuah tanah terbuka. Tentu saja Gagas bukan orang bodah yang mau bersembunyi di tanah terbuka, dengan cekatan lelaki itu bersembunyi di antara semak-semak tinggi yang tumbuh di pinggir tanah terbuka.

“Lodra! Keluar kau.. aku datang untuk memenuhi keinginanmu!” Teriak nyaring si kurus bergema seantero penjuru. Suara yang kelihatan diperdengarkan biasa saja, tetapi terasa menyentak pembuluh darah. Hal itu dirasakan betul oleh Gagas yang bersembunyi di tempat itu.

Lelaki itu bersembunyi masih dengan nafas turun naik tak teratur, sedangkan si kurus yang diikutinya bernafas biasa. Dari situ bisa dilihat perbandingan keiihayan dua orang itu sangat berbeda jauh.

“Ha-ha-ha.. kau datang juga Sumarta!” entah dari mana terdengar suara tertawa berkumandang bertalu-talu seperti bedug dipukul tanpa henti. Kalau saja si kurus yang mendengarkannya dengan tenang, lain halnya Gagas yang bersembunyi, dia merasakan dadanya seperti di hantam godam.

“Gila! Kekuatan orang yang akan datang rasanya jauh berlipat dari kesaktianku.. sungguh aku merasa malu menjadi ketua partai terkemuka..” gumam Gagas merasa sadar diri begitu melihat kenyataan yang ada. Memang lelaki itu sering bertualang, tetapi selama petualangannya orang yang dijumpainya tidak pernah ada yang kesaktiannya melebihi dirinya, dan itu membuat hatinya sedikit sombong. Tapi sekali ini harga dirinya seperti abu tertiup angin, rasa-rasanya lelaki berusia lebih dari tiga puluh tahun ini, baru sadar dengan bunyi pribahasa, di atas langit masih ada langit.

Baru pertama kali inilah, dia temukan kesempatan berharga, dapat menyaksikan kemampuan tokoh sakti, yang kemungkinan besar kesaktian dua tokoh itu, diatas gurunya. Dengan hati berdebar penuh ketegangan, Gagas memperhatikan apa yang akan terjadi didepannya.

Kedua orang tokoh sedang berhadapan dengan tatapan mata tajam, biarpun mereka terli­hat santai dan tidak ada niatan bertarung, sesungguhnya mereka berdua sedang dalam keadaan waspada penuh.

Gagas Aran yang mengikti pertemuan dua orang sakti itu, memperhatikan mereka berdua dengan tatapan mata penuh gairah. Sebab jarang kiranya menemukan kesempatan emas seperti itu, pertemuan dua tokoh yang dia perkirakan memiliki ilmu sangat dahsyat itu membuat dirinya harus berhati-hati dalam pengintaian.

“Bagus sekali perbuatanmu Lodra! sudah berpuluh tahun aku tak mencampuri kehidupan persilatan, tetapi engkau masih saja ngotot ingin bersua denganku sekalipun dengan cara licik! Itu bukanlah sifatmu!” dengus kakek tua bertubuh kurus,

“Huh! Kau tidak perlu mengomentari tindakanku, apa yang kulakukan kali ini semuanya demi kepentingan dunia persilatan!” sang kakek yang bernama Lodra, balas menjawab tak kalah ketus.

“Kentut busuk!” maki kakek bertubuh kurus, dia bernama Sumarta. Ki Sumarta dan Ki Lodra merupakan tokoh sakti masa lalu, mereka berdua merupakan sepasang pendekar yang memiliki sifat aneh sejak terjun ke kancah persilatan. Tidak ada yang tahu siapa sebenarnya mereka berdua, hanya saja jika dilihat dari ciri-ciri kedua orang yang memiliki perbedaan bagai langit dan bumi itu, setiap tokoh tua tentu dapat menebak kalau mereka adalah Iblis Langit Dewa Bumi.

 

Keduanya tidak banyak basa-basi, sebuah jotosan dengan kecepatan bagai kilat menerpa Ki Lodra. Kakek tua itu tak menangkisnya, dia mengelak kesamping dan balas menjotos, dalam detik berikut belasan jual beli jotosan berhamburan. Gagas Aran melihat pertarungan itu dengan terheran-heran, mengingat pada awalnya mereka memiliki perbawa begitu dahsyat, dia pikir akan ada jurus sakti dan ilmu-ilmu menggidikkan bakal tersembur keluar, tak tahunya cuma baku jotos.

“Sialan. Kalau cuma adu jotos seperti itu, kuli pasar juga masih lebih baik!” Makinya dengan sebal. Setelah melihat lebih lama lagi, Gagas Aran memutuskan untuk kembali meneruskan perjalanannya. Tapi mana dia sudah membalikan tubuh, dan sesaat memperhatikan tempat sekitar pertarungan kedua orang itu, Gagas Aran sangat terperanjat.

Disekeliling pertarungan mereka, ilalang dan pohon-pohon nampak tidak bergoyang, padahal hari itu angin cukup besar, seolah tempat mereka bertarung ada dimensi lain. Gagas Aran melihat lebih tegas lagi… ternyata pertarungan itu sudah tidak lagi saling elak, tapi sudah saling tangkis. Anehnya, setitikpun suara tidak terdengar. Padahal, dari masing masing tangan keduanya seolah tersembur api dan air!

“Apa yang terjadi?” pikir Gagas Aran makin heran, tanpa sadar lelaki ini mendekati pertarungan sunyi itu. Kira-kira berjarak sepuluh langkah dari mereka, barulah dia bisa melihat dengan jelas bahwa keduanya tidak menginjak tanah, kaki mereka beralsakan pucuk-pucuk ilalang.

“Astaga!” pekik pemuda ini terkesip kaget.

Rupanya suara pemuda itu membuat kedua orang tua itu asdar, pertemuan mereka di intai orang. Sontak seperti dikomando, mereka saling menghantamkan jotosan dan terpisah. Begitu keduanya memisah, barulah Gagas Aran mendengar suara yang cukup menggelegar.

“Siapa kau?!” bentak Ki Sumarta memandang garang kearah Gagas Aran.

Jelek-jelek begini meski dia sadar benar kemampuannya tidak nempil untuk melawan salah satu dari kedua orang itu, tapi Gagas Aran harus menjaga gengsi sebagai ketua perguruan. Dengan membenahi bajunya, dia menjura ala kadarnya—seolah dia satu tingkatan, pada mereka.

“Aku Gagas Aran, ketua Perguruan Kipas Sakti. Mohon maaf jika mengganggu pertemuan anda berdua, aku tak sengaja lewat disini.”

“Alasan basi!” bentak Kakek bertubuh kurus itu mendadak dia mengibas begitu saja kearah Gagas Aran.

Pemuda ini cukup cerdik, pasti kibasan kakek itu bukan tanpa alasan, mengingat pertarungan mereka begitu sunyi, pasti keduanya memiliki kemampuan semacam Pukulan Udara Kosong, pukulan yang membuat ruang hampa disekeliling mereka. Dengan terburu-buru, Gagas Aran menghimpun tenaga saktinya, dan balas mengibas.

Plak! Sebuah benturan tanpa wujud membuat kaki kanan Gagas Aran melesak, dan kaki kiri terjajar satu langkah. Sementara tangannya merasakan himpitan yang tak berkesudahan. Dengan menggertak gigi, pemuda ini mengerahkan tenaganya sampai dua belas bagian.

“Haha… tidak buruk, lumayan untuk seorang muda sepertimu bisa menahan garukanku.” Ki Sumarta tertawa bergelak.

Demikian juga Ki Lodra turut tertawa bergelak.

Gagas Aran melihat keduanya dengan pandangan aneh, tiba-tiba saja, dia merasa ingin tertawa juga, bermula bibirnya meringis-ringis, pemuda ini sadar, tawa dari kedua kakek itu bukan sembarang tawa, tapi ada semacam pengaruh gaib yang membuat dia mengikutinya. Dengan kedua tangannya, Gagas Aran mendekap mulutnya, bahkan bibirnya di tekuk kedalam supaya dia tidak tertawa! Tapi bibirnya rasa-rasanya tak bisa dikendalikan, seolah bibirnya memiliki keinginan untuk menyeriangai sendiri.

“Haha…” sesekali pemuda ini ikut tertawa lepas, tapi dia kemudian buru-buru mendekap mulutnya. Wajahnya terasa panas, dia sadar pasti tampangnya yang cakap itu menjadi sangat jelek, dalam hati dia sempat bersyukur, kondisinya itu tidak dilihat gadis-gadis. Maklum saja, sebagai ketua yang terpandang, ada kalanya dia memiliki sifat ingin selalu menonjol dan diperhatikan orang, khususnya wanita!

Keadaan itu hampir beberapa lama membuat, Gagas Aran akhirnya berinisiatif menotok syaraf di bawah rahang, supaya gerakan bibirnya berhenti. Tapi belum lagi dia sempat menotok. Tiba-tiba Ki Lodra menepuk pipinya sendiri, dan Ki Sumarta juga menepuk bibirnya. Gerakan kedua kakek itu tiba-tiba diikuti oleh Gagas Aran. Jarinya yang siap menotok tiba-tiba membuka seperti hendak menampar lalu mendadak terangkat mengambil ancang-ancang. Karuan saja hatinya kaget bukan kepalang!

Plak-plak! Mendadak tangan kiri menampar pipinya sendiri dan tangan kanan menampar mulutnya. Kepala Gagas Aran terasa pusing, seumur-umur dia baru kali ini di gampar oleh tangannya sendiri! Dari awal dia memang meyakini kekuatan tangannya dapat meremukan apapun, pada saat ini dia sangat bersyukur kalau tangannya ternyata tak bisa meremukan bibirnya sendiri.

“Siala…!”

Plak! Belum habis makiannya, tangan kirinya menampar pipi sendiri.

“Apaa…!”

Plak! Bibirnya kena tampar lagi, sebenarnya dia ingin mengatakan “apa salahku?” tapi lagi-lagi dipotong tamparan tangannya sendiri.

“Kad..!”

Plak-plak! Makian ‘kadal’nya belum habis, kembali dipotong tamparan beruntun kedua belah tangannya. Baru kali ini seumur-umur, Gagas Aran merasa benci pada tangannya sendiri!

Berkali-kali, pipi dan bibirnya kena gampar tangan sendiri, sungguh gemas dan sedih tak terkira rasa hatinya.

“Hahaha… kurasa cukup Sumarta.” Seru Ki Lodra dengan tertawa-tawa, sungguh aneh padahal belum lama berselang kedua kakek ini saling baku hantam, sekarang bisa tertawa lepas dan saling sapa begitu enaknya.

“Nah, anak muda.. kau harus tahu, ini adalah salam khas jika bertemu dengan kami, tak perduli kau raja, pangeran apalagi cuma ketua perguruan, pasti akan merasakan untuk yang pertama kali kena gampar sendiri.” Kata Ki Sumarta dengan wajah masih senyum-senyum.

Gagas Aran benar-benar kapok, dia tidak lagi mau jaga gengsi merasa sejajar dengan kedua kakek itu. Jika harus bertarung mati-matian, biar kata lehernya diancam hendak ditebas dia pasti tak akan berkerut kening—kira-kira demikian niatnya, tapi jika harus ‘berkelahi’ dengan tangan sendiri, dia kapok, tobat!

“Ahhun..hohon haah…” maksudnya berkata ‘ampun mohon maaf’, tapi apa daya pipi dan bibir sudah bengkak besar, untuk bicara sulit setengah mati!

“Dia bicara apa?” Tanya Ki Lodra pada Ki Sumarta.

“Mana aku tahu,” katanya ketus. “Kau pikir aku ini dukun?”

“Sialan, ditanya baik-baik malah jawab begitu!” bentak Ki Lodra, lalu keduanya kembali berbaku hantam dengan seru.

Gagas Aran tak menyia-nyiakan kesempatan emas itu, dengan mengerahkan peringan tubuh sekencang-kencangnya, pemuda itu, ngibrit tanpa basa-basi. Tubuhnya melesat dengan pesat, menuju rimbunan hutan di depannya. Dihatinya sudah timbul rasa jera yang amat sangat. Dia bersumpah, akan kabur sejauh-jauhnya jika ketemu kedua orang kakek itu.

‘Akhirnya aku menjauh juga dari mereka…’ batinnya. Dengan nafas terengah-engah Gagas Aran menyandarkan tubuhnya di sebatang pohon besar. Kepalanya tertunduk diletakkan diantara kedua lututnya.

“Henar-henar sial!” teriakan pengungkap kekesalan hatinya di lontarkan sekencang-kencangnya. Tapi dia lupa bibirnya belum bisa mengatup karena bengkaknya terlampau besar. “Aduh…” Gagas Aran mendekap bibirnya, teriakan tadi membuat bibirnya berdenyut-denyut mendatangkan rasa sakit. Tapi, sebenarnya lebih kepada, sakit hati…

“Sudah jauh-jauh lari malah teriak-teriak…” mendadak terdengar satu suara yang membuat Gagas Aran kepingin semaput. Di depannya sudah muncul lagi kedua kakek tadi!

“Iya, dasar tolol! Kita jadi tahu dimana kau sembunyi..” sungut suara yang terdengar lebih melengking, suara Ki Sumarta.

“Ahhuuun….” Maksudnya berkata ‘ampun’, tapi apa daya bibirnya terlampau sulit untuk melafazkan kalimat. Pemuda itu menyembunyikan kepala di kedua lutut. Habis sudah! Apes… pikirnya dalam hati.

“Kita belum berkenalan lebih jauh, kenapa kau kabur? Seharusnya kau tunggu kami selesai dulu!” bentak Ki Lodra.

Gagas Aran cuma bisa manggut-manggut saja, memangnya selain mengangguk dia bisa berkata apa? Dalam hati, pemuda ini sudah pasrah. Terserah keduanya mau melakukan apa pada dirinya—asal tidak naksir saja—dia akan mencoba bersabar dan menahan hati.

“Ayo, ikuti kami!” perintah Ki Sumarta melambaikan tangan pada pemuda itu, dengan kepala tertunduk Gagas Aran mengikuti langkah kedua kakek aneh itu. Dia bersumpah, jika punya kemahiran serupa kakek itu, hal yang pertama kali dilakukan adalah membuat keduanya menapar mulut sendiri-sendiri!

***

Ciri-ciri Daun Tapak Gajah yang diutarakan Ki Blawu Segara sudah diingat baik-baik oleh semua peserta ujian. Mereka mengingat baik-baik bentuk dan warnanya, serta bahaya yang mungkin saja ada disekitar daun itu. Dari guru masing-masing, mereka mendapat pemberitahuan bahwa secara umum Daun Tapak Gajah berkhasiat untuk menawarkan racun ringan dan gatal-gatal, sementara getahnya justru bisa dijadikan racun. Para guru mereka memberi ‘bocoran’ bahwa terdapat penjagaan di seputar daun itu, tapi tidak memberikan penjelasan penjagaan seperti apa.

Perlu di ketahui Gunung Arjuna memiliki keunikan yang jarang terdapat di gungung lain, seperti halnya Gunung Halimun, dimana terdapat makan yang dikeramatkan, di gunung Arjuna juga ada hal-hal yang ditabukan orang. Entah bagaimana rinciannya, yang jelas kehati-hatian memang modal utama dimana saja.

“Kupikir mudah saja mengambil daun itu, kenapa kakek hanya mengijinkan mengambil dua lembar saja?” Tanya Intan Padmi pada kakaknya, Gurba Dignya.

Pemuda itu tidak langsung menjawab, sebagai seorang cucu dari Dewa Badai yang memiliki kebijaksanaan, sikap itu agaknya menurun pada anak-cucunya. “Tak bisa kupastikan Padmi, aku yakin, tidak semudah kedengarannya…” hanya perkataan itu yang dia ucapkan, dirinya tidak mau sembarang menjawab, takut dikira sombong.

Wingit Laksa yang melesat diurutan terdepan terlihat berhenti, diikuti kedua adiknya. Di sudut-sudut lain rombongan peserta lain yang datang dari berbagai arah juga sudah tiba. Tempat yang mereka tuju adalah salah satu puncak Gunung Arjuna, arah yang diberikan oleh guru masing-masing membawa mereka ke satu-satunya puncak yang serupa ciri dari guru mereka. Tentu saja perjalanan masing-masing tidak mungkin secepat yang di sangka, karena memeriksa ciri-ciri geografis dari salah satu puncak tidaklah mudah. Sejak mereka di lepas oleh guru masing-masing, sudah ada sekitar empat jam-an berselang, barulah satu demi satu secara berurutan mencapai puncak itu.

Gadis-gadis yang seumuran sudah jamak akan segera bergabung dengan kawan sebayanya, begitu pula dengan Intan Padmi, saat melihat Hong Li, dan Mira Devi tiba, gadis itu segera bergabung dengan keduanya. Demikian juga Kitahara Yutaka, Akina Yutaka dan Aisya Arifa, merekapun bergabung dengan tiga gadis yang lain. Di antara rombongan enam gadis muda itu, yang paling tua adalah Aisya Arifa dan Intan Padmi, tapi yang paling vokal diantara mereka justru Hong Li.

Setelah mereka semua berkumpul, baru terasa kalau ada yang kurang. Siapa lagi kalau bukan Gluduk Alit! Tentu saja semua orang merasakan, hanya saja tak mau diungkapkan. Sekalipun Sakyamuni orangnya cenderung acuh dan paling dekat dengan Gluduk Alit, tapi pemuda ini pun tak begitu perhatian, dia sedang sibuk mencari dimana letak pohon yang memiliki Daun Tapak Gajah.

“Kemana anak tengik itu?” tiba-tiba satu keheningan dipecahkan oleh suara seorang gadis, beberapa dari mereka menengok, jika yang bersuara Hong Li, semua orang tidak heran, karena Hong Li memang anak yang aktiv, tapi justru yang menyuarakan suara dalam benak orang-orang adalah Aisya Arifa, gadis yang cenderung pendiam.

“Kurasa dia kesasar…” celetuk Hong Li dengan terkikik.

“Ah, tidak mungkin!” seragah Akina Yutaka tiba-tiba. “Bukankah dia tadi yang memastikan nama daun itu? Sepertinya dia jauh lebih mengerti dari kita.” katanya diamini Mira Devi sepakat, keduanya bersama Hong Li adalah yang termuda.

”Biar saja dia dengan urusannya, kita dengan urusan kita sendiri!” cetus Intan Padmi merasa sebal, kedatangan mereka ke puncak itu bukan untuk membahas anak brengsek yang kurang ajar, begitulah menurutnya. Entah kenapa dia merasa antipati pada Gluduk Alit, bukan karena benci atau bagaimana, hanya merasa sebal saja kalau melihat dan mendengar namanya disebut.

”Ah, betul itu!” seru Hong Li berkeplok. ”Ayo kak, kita cari bersama!” seru gadis ini menggerakkan minat gadis-gadis yang lain.

Kecuali enam gadis tanggung itu yang mencari berkelompok, ke delapan pemuda yang lain berpencar mencari daun yang dimaksud, tak disangka mencari daun yang memiliki ciri unik, justru sangat sulit. Mereka pikir daun yang memiliki kekhasan akan sangat mudah ditemui dalam kerimbunan dedaunan yang lain.

”Mencari satu lembar saja setengah mati, apalagi dua lembar!” gerutu Hong Li kesal setelah dia menyibak belasan semak dan mengamati dedaunan di kerimbunan pohon kesana kemari, tak juga mendapatkan yang di cari.

”Sabar…” seru Mira Devi menepuk-nepuk bahunya.

”Aku kawatir, kalau ternyata… hanya ada dua lembar daun saja bagaimana? Apakah kita harus berebut?” tiba-tiba Kitahara yang pendiam, bersuara.

Dan kawan-kawannya menoleh kepadanya dengan pandangan mata terkejut pula, mereka baru terpikir masalah itu! Benar juga, jika daun yang dimaksud para kakek yang juga merangkap guru mereka ternyata sangat terbatas, apakah mereka harus saling berebut?

”Ih tidak sudi!” jawab Hong Li cepat. ”Lebih baik aku gagal dari pada harus bertarung rebutan daun, tak usah ya!” seru gadis tanggung ini cemberut.

Semua, teman-temannya menyatakan akur. Bahkan Intan Padmi yang cenderung serius, tertawa lebar sambil menepuk bahu Hong Li. ”Benar adik Hong Li, aku setuju!”

Nyatanya, keempat belas muda mudi itu sudah ubek-ubekan hampir dua jam tak juga menemukan daun yang dimaksud. Hong Li sudah cukup menyabarkan diri dengan menambahkan waktu pencarian satu jam lagi, tapi tak juga dapat. Wajahnya kelihatan letih dan ada rona kesal disana. Dengan sebal gadis tanggung itu duduk di sebongkah batu sambil menjulurkan kakinya, seluruh badan terasa pegal, kaki juga rasanya mau patah. Baru kali ini Hong Li harus bergerak tanpa henti, meski kakeknya termasuk keras dalam mengajarkan ilmu kesaktian, tapi kelelahan karena berlatih tentu beda rasanya.

Meski tiap orang tidak mengutarakan kekecewaannya sebagaimana Hong Li, tapi dari raut wajah mereka, nampak jelas bahwa ujian kedua kali ini mereka gagal. Tiba-tiba saja…

”Aku dapat!” seru Sakyamuni dengan gembira, pemuda itu masih sibuk menyibak kesana kemari, dari dalam semak dia berteriak.

”Aku juga…!” seru Gurba Dignya tertular kegembiraan Sakyamuni, dia juga masih mencarinya dalam semak-semak. Berturut-turut Wingit Laksa, Arman Syakar, Takeshi, Kenji, Himuro dan Thian Hai mendapatkannya dalam waktu hampir bersamaan.

Demikian juga dengan Aisya Arifa dan kawan-kawan, terpacu keberhasilan rombongan lelaki, keenamnya berpencar lagi dan mencari di tepat yang bahkan pernah mereka cari! Dan anehnya mereka mendapatkan daun itu! Masing-masing hanya memetik dua lembar. Pas!

Bentuk daun itu memang seperti yang diceritakan Ki Blawu Segara, Cuma warnanya hijau muda, dan selebar dua telapak tangan berjejer, panjangnya satu jengkal, hanya saja ada hal yang membuat beberapa orang berkerut kening.

”Kenapa tidak ada penjagaan seperti yang disebutkan kakek?” gumam Arman Syakar terheran-heran, meski banyak kejanggalan dia pun tak sanggup berpikir lebih lanjut untuk memecahkannya, dengan perasaan apa boleh, mereka mulai turun dari puncak gunung itu.

Perjalanan pulang terkadang dirasa lebih cepat dari pada saat mereka naik, tak sampai satu jam mereka sudah sampai di tempat mereka pertama berkumpul. Disana, guru-guru mereka sudah menunggu. Anak-anak muda itu mana tahu jika tiap gerak geriknya di ikuti oleh guru-guru mereka, dan kini nyatanya para sesepuh itu tiba lebih dulu. Tentu saja tidak mengherankan mengingat kesempurnaan ilmu ketujuh orang sesepuh itu!

”Eh, kemana Gluduk Alit?” seru Hong Li setelah mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru, tak juga menemukan pemuda ceriwis itu. ”Apakah dari tadi dia belum datang?” tanyanya pada sang ibu. Ibunya menggeleng, bersama orang tua Wingit Laksa, mereka masih sibuk menyiapkan makanan untuk para anak murid Enam Dewa Sakti.

Karena penasaran, Hong Li menanyakan pada Ki Daru Geni. “Maaf sucow, apakah Gluduk Alit belum kembali?”

Kakek tinggi kurus itu menggeleng, wajahnya tetap menampilkan rona senyum. ”Kurasa sebentar lagi…”

”Sucow tidak cemas?” tanya Hong Li heran, meski terkadang jika dirinya mengingat Gluduk Alit sering merasa jengkel, tapi rasa cemas mendadak membuat perasaannya tak enak, bisa saja anak itu kena musibah atau dapat halangan.

”Haha… anak seperti itu dicemaskan malah hanya membuat kepala pusing saja!” serunya dengan nada riang. ”Kau tak usah kawatir, kita tunggu saja kedatangannya.”

Dengan wajah belum puas karena jawaban sucownya kurang sreg, Hong Li mendekati kakeknya. ”Kongkong, benar tidak sih daun yang kami dapat ini?” gadis itu bertanya sambil melendot manja pada kakeknya. Sebenarnya dia ingin menanyakan ketidak hadiran Gluduk Alit, tapi berhubung Ki Daru Geni sendiri tak memberikan jawaban jelas, tentu saja jawaban kakeknya bisa dia tebak.

Sang kakek memeriksa daun yang dibawa cucunya, dibolak balik daun itu. Keningnya berkerut. ”Benar, ini memang salah satu dari jenis Daun Tapak Gajah, cuma usianya belum satu hari.” Jelasnya.

”Ah, masa? Daun sebesar ini belum mencapai satu hari?” seru Hong Li kaget. Keterkejutkan anak dara ini membuat yang lain tertarik.

”Nanti, akan kita jelaskan. Kau makan saja dulu sana…” ujar sang kakek menyuruh cucunya bergabung dengan kawan-kawannya yang sudah mulai mengambil jatah makan. Jawaban kakek Hong Li sebenarnya juga ditunggu peserta ujian lain, tapi apa boleh buat kakek itu tidak menjelaskan apapun, merekapun melanjutkan santapannya.

Masih bersungut-sungut Hong Li menuju tempat yang sudah disediakan, dengan kesal anak dara itu menggigit panggang burung besar-besar membuat ibunya berseru kawatir.

”Sari… apa-apan kau ini, makan jangan seperti kuli!” desis Kamila disamping anaknya.

”Ih, ibu… seperti tak tahu aku lagi kesal saja.” sahut anaknya dengan suara tak jelas, karena masih mengunyah makanan, sifat Hong Li menurut kakaknya kadang seperti keledai, jika di dorong malah macet, dibiarkan malah berjalan, di bilang ibunya seperti kuli, bukannya lantas berhenti, malah makan kian lahap, membuat ibunya gemas.

”Aduh anak ini, kau ini perempuan, bersikaplah wajar. Masa, makan seperti itu.” nasehat Kamila melihat anaknya yang masih menggigit daging lagi, padahal kunyahan di mulutnya belum lagi habis.

Tapi gadis tanggung itu seperti tak mendengar ucapan ibunya. Sang ibu geleng-geleng kesal. Tapi dalam hati dia tidak bisa menyalahkan anaknya itu, melihat Kumala Sari atau Hong Li yang sedang ngambek, seperti melihat dirinya waktu masih muda. Agak geli juga wanita itu menyaksikan anaknya sudah menghabiskan satu ekor burung panggang dengan cepatnya.

”Coba lihat itu kakakmu Intan Padmi atau Aisyah, bisa menahan diri dan kelihatan anggun sejak kapan kau punya sifat angot seperti kerbau begitu?” ujar ibunya menggoda.

”Ah, biar saja!” gumam Hong Li tak jelas.

”Hm, aku mau liat apa kata Alit melihat kau begitu senang dengan masakannya…” tiba-tiba ibunya berkata seolah sambil lalu saja, tapi reaksi anaknya cukup mengejutkan.

”Ih, siapa sudi makan buatan anak sialan itu!” seru Hong Li menghentikan kunyahannya seketika. Ibunya tertawa geli melihatanya.

”Yang kau makan itu bikinan ibu, tapi memang tadi sempat dibubui Alit..” terangnya, membuat Hong Li meneruskan makannya kembali, tapi tak sekalap tadi. Diam-diam ibunya menggeleng heran, baru disadari jika sikap anaknya itu tak seperti biasa. ”Kau ini kenapa si?”

Setelah menghabiskan dua ekor dan meminum beberapa gelas air, barulah Hong Li merasa lega. ”Aku kesal bu…” sahutnya sembari mengelap mulut.

”Gara-gara mencari daun itu?”

“Salah satunya…”

“Yang lain apa?”

Hong Li menggeleng, tak mungkin dia katakan pada ibunya dia kesal gara-gara tanya dimana Gluduk Alit tak mendapat jawaban yang memuaskan. Bisa-bisa ibunya tertawa sampai giginya copot! “Mungkin gara-gara lapar…” akirnya Hong Li menjawab sekenanya membuat sang ibu tertawa.

Setelah semua peserta selesai makan, Ki Blawu Segara menyuruh mereka berkumpul. Kakek itu berpaling pada Ki Daru Geni, dan disahuti anggukan oleh adik angkatanya itu. Nampaknya Ki Blawu Segara menyadari ketidak hadiran Gluduk Alit, tapi Ki Daru Geni selaku guru memberi isyarat bahwa acara dilanjut saja, mereka tak usah menunggu kedatangan muridnya.

“Baiklah, anak-anak. Aku ingin kalian mengumpulkan semua hasil pencarian yang kita syaratkan pada Ki Ahmed.”

Didahului Wingit Laksa, dengan tertib mereka menyerahan hasil pencarian yang menghabiskan waktu setengah harian itu, pada Ahmed Khalid. Kakek tua itu menerimanya dengan memisahnya berdasarkan nama masing-masing peserta. Diam-diam para peserta heran, mengapa tempat yang disediakan untuk Gluduk Alit justru jauh lebih kecil dari yang disediakan untuk mereka?

Sebelum Ki Blawu melanjutkan petunjuk berikutnya, Hong Li tiba-tiba bertanya. ”Sucow, saya mau bertanya…” sikap anak dara itu membuat beberapa orang mengingat pada sikap Gluduk Alit yang ceplas-ceplos.

”Silahkan Hong Li…” sahut Ki Blawu Segara ramah.

”Kenapa tempat yang disediakan untuk Alit, jauh lebih kecil dari tempat kami?” tanya anak dara itu polos.

Beberapa sesepuh itu terlihat tertawa, Ki Blawu segara juga nampak tersenyum sekilas. ”Ini hanya dugaan saja, jika memang nanti daun yang di perolehnya selebar daun kalian, tempat ini tinggal di perbesar saja.”

Mendengar jawaban dari orang tertua itu Hong Li hanya bisa bersungut-sungut tak puas. ”Heran, kenapa semua orang menjawab setengah-setengah sih?” gerutunya.

”Setengah-setengah bagaimana?” tanya Ki Blawu Segara membuat wajah anak dara itu merah padam, tak disangka ucapannya yang sambil lalu terdengar!

”Anu.. sucow, jawaban tadi tidak membuatku puas..” kata Hong Li apa adanya.

Ki Blawu Segara terbahak, ”Aku tahu, tentu saja jawabanku tidak membuatmu puas. Aku hanya ingin tahu kau bisa jujur atau tidak menyuarakan ketidakpuasanmu.” ujar kakek ini membuat kepala anak dara itu tertunduk. ”baiklah, sebenarnya tidak ada alasan khusus tentang tempat penyimpanan ini. Kita hanya bisa memastikannya setelah Alit datang itu saja…” kata kakek itu sambil menoleh pada adiknya yang kedua.

Ki Ahmed Khalid mengerutkan alisnya. ”Aku tidak yakin apa yang terjadi, terus terang saja, semua gerak-gerik kalian kami pantau dari awal, termasuk saudara kalian Alit Wijaya…” pemberitahuan itu membuat paras para peserta berubah.

”Paman Guru, mohon maaf… kenapa kami harus di awasi? Apakah karena kemampuan kami belum cukup?” tanya Wingit Laksa merasa heran, disamping itu dia juga merasa keberatan

”Bukan demikian maksud kami,” jawab Ki Ahmed Khalid menjelaskan. ”Kalian pasti masih ingat, waktu kami memberi tahu bahwa mungkin saja di sekitar daun tapak gajah ada bahaya menunggu, atau katakanlah semacam penjagaan…”

Hampir seluruhnya mengangguk.

”Apakah kalian menemui hal yang kami syaratkan?” tanya Ki Ahmed lagi.

Mereka menggeleng serempak.

”Itulah, yang jadi pertimbangan kami… menurut kebiasaan Daun Tapak Gajah selalu di jaga beberapa ekor binatang berbisa dan seekor kera. Konon binatang-binatang itu adalah peliharaan para sesepuh masa lalu, tentu kalian tidak lupa dengan kisah Tiga Pelindung Kaum, bukan?” tentu saja pertanyaan Ki Ahmed bukan sesuatu yang harus dijawab, sebab siapapun orangnya yang berkecimpung di dunia persilatan, mengetahui tentang Tiga Pelindung Kaum semacam pengetahuan wajib, selain mereka merupakan tokoh panutan, anak muridnya pun sampai saat ini masih tersebar luas, meski mereka bertindak diam-diam. ”Nah, beberapa ekor binatang itulah yang membuat kami harus waspada, tak mungkin kami biarkan kalian menghadapi binatang yang di piara oleh para sesepuh itu… tapi nyatanya kalian tidak menemui bahaya sedikitpun!”

”Lalu apakah artinya itu tetua?” tanya Wingit Laksa dengan berbagai pertanyaan muncul dibenaknya.

”Aku tidak bisa menebaknya, mudah-mudahan saudara kecil kalian akan kembali membawa berita baik.” sambung Ki Ahmed.

”Mohon maaf, tadi kakek Kim Liong mengtakan bahwa daun ini berusia satu hari, apakah artinya itu? Saya bingung…” mendadak Takeshi menanyakan sesuatu yang memang dari tadi menjadi pertanyaan yang menggayuti benak para peserta.

”Daun Tapak Gajah merupakan salah satu daun langka, tapi kelangkaanya bukan berati jumlahnya sedikit. Jumlahnya cukup banyak, sayangnya memang sulit dicari…” Kakek Kim Liong menyambung pembicaraan, untuk menjawab pertanyaan Takeshi. ”Dan salah satu keunikan daun itu adalah, dia bisa tumbuh dalam tempo yang sangat cepat, bukan dalam hitungan hari, tapi dalam hitungan jam! Itulah yang membuat kalian serempak mendapatkan daun-daun itu…” sambil menyesap kopi yang sudah disiapkan, kakek itu melanjutkan. ”Tapi munculnya daun itu, hanya jika Daun Tapak Gajah Induk sudah didapatkan orang lebih dulu.”

”Ah….” barulah para peserta sadar, meskipun mereka sudah mencari di tempat yang sama berkali-kali, tak juga mendapatkan daun tersebut, tapi nyata pada giliran berikutnya daun itu justru mendadak muncul di tempat yang sudah mereka cari berkali-kali!

”Kalau begitu.. berarti daun induknya sudah diperoleh?” gumam Sakyamuni bertanya pada dirinya sendiri.

”Ya, dengan sendirinya sudah ada yang memetik daun itu lebih dulu…”

”Apakah dia, Alit?” tanya Aisyah Arifa mendadak.

Kali ini semua orang menoleh pada Ki Daru Geni, demikian juga dengan sesepuh yang lain. Kakek itu nampak meneguk minumannya sejenak. ”Aku tidak bisa memastikan nduk…” jawabnya pada Aisyah Arifa.

”Tapi bukankah kakek mengikutinya?” tanya gadis itu lagi.

Ki Daru Geni nampak menyeringai. ”Anak sialan itu sulit sekali kuikuti…” katanya, membuat semua orang tak percaya, masa orang selihay Ki Daru Geni tak bisa mengikuti muridnya?

Namun kemudian Ki Daru Geni bercerita bahwa muridnya pergi dengan menunggang burung, anak itu membuat ayunan yang dibawa keempat ekor burung! Barulah para peserta paham, ternyata Ki Daru Geni kehilangan jejak muridnya. ”… sebelum aku kehilangan jejaknya, aku sempat melihat anak sialan itu melompat dari udara, dia masuk ke rerimbunan pohon jauh dihadapanku. Meskipun aku percaya pada kemampuannya, tapi aku juga kawatir kalau-kalau dia harus berhadapan para penjaga Daun Tapak Gajah…”

”Jadi, sucow sendiri juga kehilangan jejak Alit…” gumam Hong Li kecewa.

Hening suasana disekitar mereka, tapi keheningan itu tidak berlangsung lama, karena sayup-sayup terdengar suara orang bernyanyi, semua orang sangat familier dengan suara itu. ”Alit…” hampir tiap orang mengumamkan nama anak remaja itu. Betapapun tengil dan menjemukan tingkah Gluduk Alit, tapi pada saat mereka berkumpul demikian rupa, ketiadaan Alit yang baru mereka kenal setengah hari itu, begitu terasa!

”Ah..ha-ha… aku terlambat ya…” seru sebuah suara dari dalam hutan, semua kepala menoleh menanti munculnya remaja yang membuat hati orang jadi geregetan ingin menabok.

Beberapa orang ada yang berkomentar. ”Kok suaranya berbeda ya?”

Hong Li menyahuti ucapan Akina. ”Paling mulutnya sedang mengunyah sesuatu…” ujarnya terkikik mengingat dia juga tadi melakukan hal yang membuat kesal ibunya.

Kemudian muncullah remaja yang ditunggu banyak orang itu. ”Aaaah….” hampir tiap orang menjerit tertahan begitu melihat Gluduk Alit.

Bahkan gurunya dan Ki Gerah Langit langsung melesat memapaki kedatangan Gluduk Alit dengan wajah-wajah cemas!

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
Quote | This entry was posted in Petualang Bengal and tagged , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s