06 – PB : Ujian Pertama

Pemuda berusia dua puluh empat tahun itu berdiri di tengah arena yang telah dibuat para sesepuh, wajah Wingit Laksa terlihat jantan. Tingkah lakunya tak banyak basa basi, bisa dikatakan pemuda ini selalu bertindak dengan perhitungan dan benci tingkah yang terlalu membuang waktu percuma. Jika ada keperluan, dia selalu mengatakannya secara langsung, kalau tidak suka, pasti diutarakan saat itu juga. Singkatnya pemuda ini memegang nilai kejujuran sebagai pelita hidupnya. Langkah yang mantap membuktikan bahwa sepanjang usianya, dia selalu berlatih keras.

Dengan berdiri di tengah arena, Wingit Laksa memungut patahan ranting pohon. Lalu dia lemparkan ke batang-batang pohon yang paling besar. Gerakannya sangat mantap dan menimbulkan desir angin kuat. Ranting yang dilemparnya melesat bagai anak panah melesat dari busurnya.

Ranting itu menancap pada pohon dan menimbulkan getaran hebat, hamper seluruh bagian pohon itu bergetar. Rupanya getaran itu mengusik puluhan burung yang bersarang didalamnya. Burung-burung segera beterbangan kalut, mereka melintasi tanah datar dimana semua orang berkumpul. Begitu melihat burung-burung melintas, Wingit Laksa mengibaskan tangannya keatas.

Desir angin sederas badai keluar dari dua tangannya, dengan gerakan tenang dan mantap, dia memutar tangannya sampai tiga kali. Angin deras yang keluar berbalik kembali bagaikan pusaran. Itulah jurus hebat, yang pernah menjadi andalan Ki Blawu Segara, Badai Gurun. Pusaran angin yang menyedot itu, membuat puluhan burung tidak bisa terbang bebas, burung-burung itu makin rendah dari pemukaan tanah dan terakhir jatuh ketanah karena tidak ada daya untuk terbang lagi, akibat pukulan pusaran menyedot yang dilepaskan Wingit Laksa.

“Luar biasa!” seru Gluduk Alit melongo takjub. Pemuda tanggung ini tidak memperhatikan bahwa ucapan seperti itu bisa menjatuhkan harga dirinya. Dengan mengakui kemampuan orang lain, berarti tanpa sadar mengakui dirinya lebih lemah dibading orang itu. Dan memang ucapan Gluduk Alit membuat beberapa muda mudi yang hendak turut serta dalam uji kemampuan keluarga, menjadi mencibir meremehkan Gluduk Alit.

“Dua puluh sembilan ekor!” Ki Daru Geni mengumumkan hasilnya. Dan Gluduk Alit makin berdecak kagum.

“Kau hebat sekali kang.. ilmu apa tadi?” tanya Gluduk Alit dengan nada sungguh-sungguh, begitu Wingit Laksa selesai.

Pemuda itu menoleh, sesaat dia memperhatikan Gluduk Alit. Memang dia sendiri harus mengakui, bahwa dirinya tertarik sekali melihat tingkah polah Gluduk Alit tadi, tetapi dia tak menyangka anak itu akan menyapanya dengan nada yang menyiratkan bahwa dirinya lebih hebat dari murid Si Tinju Sakti. Sambil tersenyum Wingit Laksa menjawab, “Itu jurus biasa adi Gluduk Alit, namanya Badai Gurun.”

“Uff, kalau jurus biasa saja sudah sehebat itu apalagi jurus siapanan ya kang?” kata Gluduk Alit kembali berdecak kagum. “Salut-salut…” katanya sambil memperhatikan Wingit Laksa.

“Berikutnya Kamajaya!” terdengar dari seberang sana Ki Blawu Segara memanggil.

Pemuda bertubuh tegap cucu Khu Kim Liong si Naga Emas, melangkah ringan. Kalau tadi langkah cucu pertama Ki Blawu Segara terli­hat mantap, kali ini langkah pemuda berkucir itu terlihat begitu ringan. Siapa pun dapat menebak cucu Si Naga Emas pasti orang yang sangat ahli dalam Gin-kang atau peringan tubuh.

“Tunggu sebentar kang…” tiba-tiba saja Gluduk Alit berseru.

Mendengar suara muridnya, Ki Daru Geni berkerut kening. “Apa lagi pekerjaan anak setan ini…” gerutunya.

Kamajaya melihat kearah Gluduk Alit dengan kening berkerut. “Ada apa?”

“Aku harus protes dulu kang, sebentar ya…” kata pemuda tanggung ini seraya mendekati Ki Blawu Segara.

Ki Blawu Segara cukup sabar menghadapi tingkah Gluduk Alit, dia sendiri agak heran, anak dan cucunya untuk bersikap bebas padanya saja masih terlalu segan, tapi murid adik angkatnya malah seperti menganggap dirinya seperti kawannya saja!

“Apa lagi yang mau kau protes?” tanyanya.

“Begini kek, jika kita harus melakukan hal yang sama di dalam arena yang sudah dibuat, maka peserta terakhir tidak akan mendapatkan apapun.” Kata anak ini keberatan.

Mau tak mau seluruh calon perserta ujian membenarkan perkataan Gluduk Alit, tak mereka sangka, anak yang suka sok aksi punya kekritisan.

“Pendapatmu bisa kubenarkan, tentu saja kita juga penilaian pada tiap tingkatannya.”  Jelas Ki Blawu Segara sabar.

“Oh aku paham!” seru Gluduk Alit, “Apakah, maksudnya dengan hasil yang sama, tapi berbeda urutan, ada pertimbangan lebih?”

“Nah, kau sudah paham…” ujar kakek tertua ini membenarkan.

Gluduk Alit manggut-manggut. “Baiklah kek, terima kasih…” katanya sambil kembali ketempat. “Silahkan dilanjut kang…” seru Gluduk Alit pada Kamajaya.

Pemuda ini tersenyum, dia mengucapakan terima kasih padanya. Dengan mengamati pucuk-pucuk pohon dimana banyak burung bertengger dan membikin sarang, pemuda ini menanti saat yang tepat. Beberapa saat kemudian ternyata ada serombongan burung yang melintas diatasnya. Dengan cepat, pemuda itu memunguti ranting sebesar ibu jadi dan melontarkanya keatas. Pemandangan berikutnya adalah suguhan kemampuan ilmu peringan tubuh yang sangat piawai.

Kamajaya atau Khu Thian Hai melompat keatas dengan meniti ranting yang dia lemparkan tadi. Diatas sana, Kamajaya menggerakan tangannya berturut-turut sehingga burung yang sedang lewat bergerombol terke­jut dan terbang tak tentu arah. Dan pemandangan berikutnya membuat siapa saja tertegun menyaksikannya, karena dengan santainya Kamajaya melompat melenggang dari satu burung keburung lainnya. Pijakan pemuda itu pada burung-burung itu membuat mahluk angkasa tersebut tak berdaya. Dengan berpijak pada burung yang sedang terjatuh ketanah, Kamajaya kembali menapak tanah, gayanya yang luwes seolah sedang menururni anak tangga membuat Gluduk Alit bersorak.

“Wah, wah… hebat sekali kang!” katanya sambil mendekati Kamajaya. Kelakukan pemuda tanggung itu yang demikian spontan, ada yang mencemoohnya, menurut mereka, kelakukan Gluduk Alit, tidak mengindahkan harga dirinya.

“Kang, bagaimana kau melakukannya? Eh, maksudku itu ilmu perin­gan tubuh apa? lihay sekali, aku baru kali ini melihat orang nyaris terbang seperti itu!” cerocos Gluduk Alit memberondong Kamajaya dengan pertanyaan bertubi-tubi.

Kamajaya tersenyum melihat tingkah Gluduk Alit yang tidak memperdulikan penilaian orang tentang dirinya—bahwa dirinya bisa dipandang rendah orang iain. Tapi dia juga kagum melihat ketulisan Gluduk Alit yang memujinya tanpa ada maksud lain, selain bertanya.

“Itu peringan tubuh yag kupelajari sejak kecil, kakek memberi nama Bu-Eng Gin-Kang atau Peringan Tubuh Tanpa Bayangan.”

“Ck-ck-ck..” Gluduk Alit berdecak kagum. “memang benar-benar tanpa bayangan ya kang.. hebat sekali!”

“Terima kasih, tapi tingkat yang kupelajari itu belum seberaps..” kata Kamajaya merendah.

“Aduh! Kalau sudah sempurna seperti apa ya?! jangan-jangan kau bisa terbang benaran ya, kang?!” ujar Gluduk Alit pada dirinya. “Dunia ini benar-benar luas..” kata anak ini sambil mengaruk kepala. Matanya berbinar-biar, dia melihat begitu banyak kemungkinan dalam ilmu silat yang boleh jadi bisa dijadian acuannya dalam berlatih.

“Kamajaya menangkap dua puluh lima ekor!” kata Ki Daru Geni kembali mengumumkan.

Tidak terlihat kekecewaan pada raut wajah anak muda itu—bahwa jumlahnya kurang dari yang dihasilkan oleh Wingit Laksa, diam-diam Gluduk Alit memperhatikan Kamajaya. Anak ini bisa menilai, pemuda kakak Hong Li ternyata orang yang pandai membawa diri dan merendah, dalam pandangannya, Kamajaya bisa mendapatkan lebih dari jumlah yang didapat oleh Wingit Laksa, tapi dia dengan sengaja membiarkan belaskan ekor burung beterbangan, tanpa disentuh getaran hawa saktinya.

“Selanjutnya, Arman Syakar!” panggil Ki Blawu Segara.

Pemuda berkulit hitam manis berusia dua puluh tiga tahun langsung melesat cepat begitu namanya dipanggil. Dia bukannya melesat menuju ke tengah lapangan tanah terbuka itu. Tetapi dia mendekati rimbunan pohon besar dan menghantam dua pohon besar dengan keras.

Brak! brak! Batang pohon besar itu sampai berlubang terkena hantaman Arman Syakar—pemuda berhidung paruh burung beo. Arman Syakar kembali ke tengah arena, dan memperhatikan hasil pukulannya. Tak menunggu lama, burung yang bertangger di pohon beterbang karena kaget. Begitu segerombolan burung menggelepar terbang, pemuda itu segera melompat tinggi, begitu tingginya sampai-sampai Gluduk Alit melongo, dari tangannya berkelebat selarik. sinar hijau. Mulanya Gluduk Alit mengira pemuda itu bisa menggunakan semacam ilmu pukulan jarak jauh, ternyata dia menggunakan cambuk. Begitu cambuk dilecut, terdengar geletar suara bagai halilintar, bunyi cambuk bergema tiga kali tanpa mengenai burung. Suara ledakan cambuk membuat burung makin takut dan akhirnya tidak bisa terbang karena sebagian keseimbangan mereka terpengaruh bunyi keras itu.

Pemuda itu segera kembali ketempat dengan langkah penuh percaya diri. Gluduk Alit menggeleng-geleng melihat kehebatan Arman Syakar, tapi dia enggan berkomentar. Sebab anak ini melihat tatapan yang sangat percaya diri dalam pemuda itu, terkesan sombong.

Tiba-tiba saja orang merasa ganjil, mereka terbiasa dengan celetukan-celetukan Gluduk Alit pada tiap peserta, kenapa Arman Syakar tidak dikomentari, diam-diam mereka memperhatikan Gluduk Alit. Anak itu ternyata sedang termenung dengan wajah berkerut.

Arman Syakar mendekati Gluduk Alit. “Apa yang kau pikirkan?” sebenarnya pemuda ini ingin menanyakan, ‘bagaimana dengan kebolehanku’, tapi tentu saja itu tak dia lontarkan, mengingat pertanyaan itu bisa membuat orang salah paham dengan dirinya. Dia hanya ingin tahu tanggapan Gluduk Alit.

Anak ini menggeregap sesaat, dia menyeringi. “Aku sedang memikirkan ujian ini.” Katanya, entah dia mengerti atau tidak kemana maksud pertanyaan Arman Syakar.

“Oh ya, boleh aku tahu?”

Gluduk Alit mengangguk. “Mantap, lincah, dan terakhir…” anak ini menatap Arman Syakar dengan bibir mengulas senyum tengil. “Teguh.”

“Ow..” seru pemuda itu dengan senang, tak sangka ulasan Gluduk Alit cukup tepat. “Apakah ada kekurangan dari pengamatanmu?”

“Sejauh ini belum, kemampuan kalian membuatku terpacu untuk melakukan lebih baik lagi.” Kata Gluduk Alit dengan sungguh-sungguh. Kadang kala anak ini memang bersikap sangat serius saat dia sudah memiliki niat untuk melakukan sesuatu.

“Bagus! Generasi selanjutnya memang harus memiliki semangat seperti itu.” Puji Arman Syakar.

Anak ini tertawa. “Kau mengatakan itu, seolah-olah dirimu sudah terlalu uzur.”

Pemuda hitam manis itu hanya bisa meringis mendengar ucapan Gluduk Alit. Anak jangkung inipun, merasa bahwa Arman Syakar tidak sesombong yang dia kira. Asal tahu cara membuka komunikasi, ternyata pemuda itu cukup ramah.

“Dua puluh sembilan ekor!” tiba-tiba terdengar suara Ki Daru Geni, setelah menghitung beberapa saa.

Gluduk Alit menepuk-nepuk lengan Arman Syakar. “Hebat kau kang, lain waktu ketrampilan cambukmu yang istimewa itu, aku juga ingin belajar.”

Arman Syakar tersenyum, “Bisa diatur, tergantung apa kata para sesepuh..”

“Sekarang giliran Takeshi!” terdengar Ki Blawu Segara berseru.

Cucu kakek Akihiko segera maju untuk memperlihatkan kebolehannya. Pemuda dengan mata sipit dan wajah bundar itu tidak berpakaian layaknya orang pribumi tetapi dia mengenakan pakaian khas masyarakat negeri mentari terbit. Pemuda itu melihat keatas sesaat, tak ada satupun burung yang terbang. Mungkin burung dipohon-pohon besar juga tidak ada, karena getarsn suara cambuk tadi membuat burung yang urung menjadi korban kabur semua.

Pemuda ini berjalan agak jauh dari arena yang ditentukan, disitu ada lereng yang cukup curam. Di lereng itu terlihat banyak pohon rimbun dan semak tinggi yang kemungkinan bisa menjadi sarang burung. Takeshi mengambil batu-batu kecil dan menyambitinya gerumbulan pohon berdaun lebat. Gerakannya terlihat biasa, tak ada yang istimewa, tapi setelah sambitannya yang terakhir, berbondong-oondong burung meninggalkan tempat itu karena getaran sambitan Takeshi, membuat mereka tak nyaman. Begitu burung-burung beterbangan, pemuda ini melangkah santai kedalam arena.

Sesampainya didalam arena pemuda ini memekik tajam melengking. Kemudian Takeshi mencabut pedang samurainya, dan membolang balingkan secara cepat pedang itu. Gluduk Alit melihat hal yang amat menakjubkan terjadi, burung-burung yang terbang cukup jauh dari arena, mendadak saja seperti terkena damparan angin, merea terbang mengarah kedalam arena! Bibir tipis pemuda ini menyunging senyum, dengan cekatan dia segera melompat kekawanan burung yang mendekatinya. Dalam gerak lompatnya, Takeshi menyabetkan pedangnya. Gluduk Alit mendengar suara gaung mendesir lima kali, tapi dia hanya melihat sabetan pemuda itu sekali saja.

Suara menggaung terdengar mengerikan. Dan kejap berikutnya puluhan burung runtuh bagai buah runtuh dari pohon. Takeshi menyabar burung-burung dengan lengan bajunya dan dilemparkan kedalam keranjang yang sudah di sediakan Ki Daru Geni.

Jika tiap peserta menyembunyikan rasa kekaguman masing-masing, tidak demikian dengan Gluduk Alit, masih dengan mulut menganga saking takjubnya, mendekati Takeshi.

“Kang, itu tadi apa? Hebat sekali…” katanya.

Pembawaan Takeshi memang pendiam, tapi menghadapi Gluduk Alit yang sangat ekspresif dan tulus, mau tak mau dia harus menyahut.

“Ah, sekedar jurus Petir Menyalak Lima Kali..”

“Baru lima kali sudah begitu hebatnya, kalo sampai sepuluh kali seperti apa ya?” gumam Gluduk Alit menggaruk kepalanya makin keras, wajahnya berbinar.

“Tidak sampai sepuluh kali, paling banyak delapan.” Sahut Takeshi meluruskan.

“Aku cuma melihat satu kali sabetan, tapi terdengar lima kali bunyi gaung. Benar-benar cocok nama jurusmu kang…. Bagaimana tadi gerakannya?” Gluduk Alit bertanya.

Takeshi agak terkejut juga mendengar anak ini terang-terangan memintanya mengajarinya. Dalam dunia persilatan, meminta ajar sebuah jurus, tidaklah semudah memberikan sekeping uang, ada konsekuensi yang harus dijalani… tapi keterkejutnya makin menjadi, manakala pertanyaan itu ternyata bukan ditujukan pada dirinya, tapi pada diri Gluduk Alit sendiri, dia melihat pemuda tanggung itu memegang batang kayu, mematutkan dalam genggaman dan menyabet, gerakaknya persis dirinya. Samar-samar dia mendengar tiga suara menggaung dari sabetan Gluduk Alit. Sampai beberapa kali anak ini mengulang gerakannya sampai akhirnya dia sadar kalau sudah bergerak terlalu jauh dari tempatnya. Dengan mulut masih berkomat kamit, Gluduk Alit kembali duduk, jauh dari tempat Takeshi.

“Anak macam apa dia ini?” desis Takeshi terkejut.

Bukan cuma Takeshi saja yang terkejut, orang lain pun melihat Gluduk Alit dengan tatapan tak percaya.

“Apa kebiasaan muridmu memang begitu?” Tanya Kakek Akihiko pada Ki Daru Geni.

“Tidak selalu begitu, jika semangat belajarnya lagi membaik, diajari satu sudah tahu sepuluh. Tapi kalo lagi angot malasnya, diberi satu jurus mungkin, baru lima hari bisa dia dikuasainya.” Jawab Ki Daru Geni.

Kakek Akihiko mengangguk. “Daya amat anak itu cukup membuatku kawatir…” gumamnya.

Ki Daru Geni menyadari kemana arah bicara saudaranya. “Kadang kala aku juga berpikir demikian, apa yang dia amati dan tirukan, tidaklah semudah kelihatannya. Karena ada nafas, ada lekuk dan ada geseran aliran darah yang dia tidak tahu.”

“Aku kuatir dia tersesat…” sambung Kakek Akihiko.

Ki Daru Geni tersenyum. Tentu saja yang dimaksud tersesat adalah pola latihan yang bisa membuat seseorang mengarah pada kebinasaan sendiri. “Mengenai itu, aku percayakan pada nasib baiknya saja. Anak itu cukup bisa berpikir mana yang terbaik untuk dirinya. Tentu saja aku meminta kesediaanmu turut mengawasinya jika sempat…” sebuah permintaan terselubung, di lontarkan Ki Daru Geni, agar saudaranya memberi petunjuk pada muridnya.

“Aku tidak berjanji, tapi bisa kupertimbangkan.” Katanya terus terang.

Ki Daru Geni tertawa, memang sifat saudaranya yang satu ini sangat tidak kenal basa-basi, jika dia tak mau, ya dia akan bilang tak mau. Justru sikap itulah yang sangat disukai Ki Daru Geni. “Terima kasih, bisa mendapatkan janjimu saja sudah merupakan keuntungan buat anak setan itu…”

“Tiga puluh ekor!” terdengar Khu Kim Liong mengumumkan hasil perhituangannya. Gluduk Alit yang mendengar hasil itu bertepuk tangan.

“Hebat kang!” serunya sambil mengacungkan jempol pada Takeshi. Pemuda bertampang serius ini membungkukkan badanya pada Gluduk Alit.

“Arigatoo…” katanya.

“Apa katanya? Sambal soto?” Tanya Gluduk Alit pada pemuda di sebelahnya, dia adalah Sakyamuni, cucu dari Gulam Jabee.

“Wah telingamu sudah rusak tuh…” jawabnya dengan tartawa. Dengan nyengir Gluduk Alit tak menjawab.

“Berikutnya, Sakyamuni…”

“Tuh, kang… giliranmu tampil.” Kata pemuda tanggung ini seraya mendorong punggungnya.

“Iya, aku dengar. Telingaku masih sehat.. tidak  seperti dirimu…” katanya menggoda seraya bangkit berdiri.

“Sialan…” umpat Gluduk Alit dengan nyengir.

Perawakan Sakyamuni biasa saja, padat berisi, pemuda itu berkulit hitam manis. Tak disangka gilirannya begitu cepat. Dari tadi dia asik ngobrol dengan dengan Gluduk Alit, pemuda itu langsung cocok begitu bertemu dengan Gluduk Alit, karena memang sifatnya dengan sifat Gluduk Alit ada persamaan, sama-sama tak pernah serius menanggapi segala hal.

“Selamat berjuang Kang Mumun…” teriak Gluduk Alit.

Pemuda itu menoleh dan balas melambai, dia tak marah di panggil Mumun, karena itu kesepakatan mereka tadi, Gluduk Alit memanggilnya Mumun, sedangkan dia sendiri memanggil Gluduk Alit dengan sebutan Dulit. Singkatan dan Gluduk Alit. Anak itu akur saja, dia pikir jika punya nama panggilan yang aneh-aneh malah kedengaran bagus.

Pemuda ini melihat keatas, dia tidak beraksi seperti halnya para peserta lainnya, dengan sabar Sakyamuni menunggu, beberapa saat kemudian, muncul serombongan burung dari utara. Hanya lima ekor, Gluduk Alit yang meilhat hal itupun jadi kecewa.

“Wah, cuma sedikit…” gumam anak ini, melihat pada Sakyamuni dengan cemas. Tapi dia tidak melihat kekawatiran pada raut wajah pemuda itu. Dengan sabar dia menanti burung-burung melewati dirinya.

Pada saat burung tersebut tepat melewati Sakyamuni, pemuda ini malah mengatupkan matanya, bibirnya berkemak kemik. Gluduk Alit yang menyaksikan itu terheran-heran, ‘apakah Kang Mumun sedang memanjatkan doa sebelum menangkap burung?’ pikirnya.

Tiba-tiba saja pemandangan aneh terhampar, lima ekor burung yang sudah terbang menjauh itu mendadak kembali dan terbang berputar-putar diatas kepala Sakyamuni, seiring dengan kibasan tangan pemuda itu. Ada pekik yang melengking kecil pada saat tangannya mengibas, Gluduk Alit yang memperhatikan Sakyamuni terkejut, menyaksikan sepasang mata pada wajah yang sedang mendongak keatas itunya mencorong tajam, dan anehnya burung-burung yang berputar beterbangan itu langsung hinggap di depan Sakyamuni! Tak lama kemudian beberapa belas ekor menyusul dari berbagai arah. Setelah begitunya banyak burung mendarat dihadapan si pemuda, dia mengibaskan tangannya perlahan, seketika itu juga puluhan burung mendekur tak dapat mengangkat sayap lagi. Beberapa ekor burung yang masih beterbangan pun tiba-tiba saja sayapnya seolah kaku, dan meluncur jatuh! Sebelum tubuh beberapa ekor burung itu menghantam tanah, Sakyamuni menyambutnya dengan tepat, dan diletakkan di hadapannya.

Gluduk Alit buru-buru berlari menghampiri Sakyamuni dan langsung menghitung burung yang dijatuhkan. “Dua puluh lima ekor!” seru anak ini dengan bertepuk tangan.

“Hebat sekali kang! ilmu apa tadi? Kau ini pawang burung ya?” tanya Gluduk Alit terburu.

“Sialan memangnya aku ada tampang jadi pawang?” gerutu pemuda itu cemberut, tapi kemudian dia tertawa. “Itu tadi sedikit kemampuan dari Pek Hoatsut kau bisa menyebutnya sebagai Sihir Putih. Sayang aku belum sempurna mempelajari ilmu kakek, kalau sudah pada puncaknya, maka setiap mahluk sangat mungkin untuk ditundukkan, kecuali yang memiliki ilmu batin tinggi.”

Gluduk Alit mengangguk-angguk. Tiba-tiba tersembul, senyum di bibirnya. Sambil mengirirngi jalan Sakyamuni kembali ketempat, anak ini bertanya. “Kang, kau bilang bisa mempengaruhi mahluk, manusia juga bisa ya?”

“Bisa..” sahut pemuda itu.

Anak ini membuka mulutnya, tapi terkatup lagi, begitu terus sampai beberapa kali, membuat Sakyamuni terkekeh. “Kau mau tanya apa?” serunya dengan tawa masih tersisa.

Gluduk Alit menggaruk kepalanya berulang kali, “Aku cuma sedang membayangkan…” ujarnya ragu tak dilanjutkan lagi.

“Apa yang kau bayangkan?” kejar Sakyamuni.

Dengan meringis seperti habis makan nasi basi Gluduk Alit menjawab. “Beberapa waktu lalu, sempat ada seorang ibu—kukira dia agak pikun, menyangka diriku menyembunyikan suaminya, aku sudah setengah mati mejelaskan bahwa aku kebetulan saja jadi kawan mancing suaminya, dan saat dia berpamit untuk pulang kerumah, aku tak tahu kemana arah jalan yang dituju. Memang ibu itu sempat melihatku jalan bersama si suami sih… makanya keributan itu terjadi…”

“Lit, memang apa hubungannya dengan pertanyaan yang tak jadi kau utarakan?” Tanya Sakyamuni heran.

Gluduk Alit tertawa masam. “Kira-kira untuk orang tuli, apa ilmumu bisa kang?”

Sakyamuni tergagu, “Entahlah…” jawabnya ragu. “belum pernah dicoba juga… memang kenapa?”

Dengan wajah cemberut, Gluduk Alit menyahut. “Sudah setengah harian kujelaskan pada ibu itu bahwa aku tidak ada hubungan dengan suaminya yang hilang—belakangan aku baru tahu kalau suami ibu itu pelupa, dia nyasar masuk kedalam rumah adiknya…”

“Lalu?”

“Ibu itu berteriak-teriak bahwa aku penculik… karuan saja teriakannya membuatku, gugup. Sebab banyak warga yang datang membawa pentungan…” jelasnya dengan cemberut.

“Kau lawan mereka?” Tanya Sakyamuni dengan bibir mulai beranak tawa.

“Heee.. boro-boro melawan, aku kabur saja!” cetus Gluduk Alit gemas.

“Kenapa begitu?”

Dengan cemberut Gluduk Alit menjawab. “Baru aku tahu kenapa penjelasanku tak menyelesaikan masalah, tak tahunya ibu itu tuli. Orang-orang yang dipanggilnya pun semua tulalit, aku tidak tahu mereka menggunakan bahasa apa, jika aku bilang, ‘aku tidak menculik’, kenapa seolah-olah penjelasanku mengatakan, ‘benar aku menculik’?! dari pada pusing, ya aku kabar saja kang…”

Mendengar cerita Gluduk Alit yang antik itu, kontan saja Sakyamuni tak sanggup menahan tawanya, demikian juga dengan muda-mudi yang mendengarkan cerita Gluduk Alit secara diam-diam, mereka menahan tawa. “Wah apes amat nasibmu…” katanya disela-sela tawa.

“Makanya aku tadi tanya, apa bisa ilmumu diterapkan sama orang tuli?” Tanya Gluduk Alit menyambung lagi.

Sakyamuni tak kuasa menahan tawa yang dari tadi dia simpan dalam mulut, gelaknya membuat para sesepuh menoleh kearah mereka dengan kening berkerut.

“Kelihatannya cucuku ketemu dengan orang sejenis…” katan Gulam Jabee menggumam.

Ki Daru Geni tertawa mendengarnya.”Kuharap pertemuan mereka bukan hal yang merugikan cucumu…”

Gulam Jabee menyahut. “Bukan itu maksudku, aku paham benar orang seperti apa sifat Sakyamuni, biarpun dia orangnya ramah dan kadang selalu memandang ringan tiap persoalan, hakikatnya dia termasuk orang yang pilih-pilih jika berteman. Tak pernah kulihat anak itu begitu bebasnya bergaul dengan orang, baru kulihat kali ini saja …”

Ki Daru Geni hanya tersenyum saja mendengar ‘curhat’ saudaranya. “Seperti yang kubilang, semoga banyak kebaikan, dalam pertemanan mereka…”

Sakyamuni mengira, Gluduk Alit itu orang yang kemaruk silat, tak tahunya, anak ini mendasari keinginannya hanya untuk hal sepele. Sifat seperti itu benar-benar menggelitik dirinya untuk mengenal si Dulit lebih dekat.

“Kurasa….” Kata Skayamuni masih menghabiskan sisa tawanya. “Kurasa ilmuku bisa dipakai juga untuk hal semacam itu. Apa kau mau membalas mereka?” tanyanya.

“Tadinya sih, tapi kupikir-pikir ih… malas benar! Kau tahu tidak kang. Jika aku harus berpikir membalas kelakukan mereka. Ada banyak kerepotan bagi diriku sendiri. Pertama, mungkin saja aku harus mempelajari ilmumu, dan pastinya itu memakan waktu tak sedikit.. aku tak mau dikekang seperti itu. Kedua, aku harus kembali ketempat itu.. ih, memikirkannya saja bikin mulas! Masa aku harus mengulang perjalanan tiga malam tanpa henti? Tak usah ya….”

Sakyamuni menepuk-nepuk bahu Gluduk Alit dengan tertawa lebar, pertanyaannya tadi memang cuma ingin menjajagi hati kawan barunya yang berbeda usia. Cara penyampaian Gluduk Alit memang acak-acakan dan seenaknya sendiri, tapi dari situ dia bisa menangkap gambaran pribadi Gluduk Alit yang tak mudah sakit hati—dengan didasari sifat ‘malas’ membalas. Beberapa orang yang tadi juga ikut mendengar celoteh Gluduk Alit, mau tak mau jadi membayangkan betapa anak muda tanggung itu ternyata sudah berani mengarungi ganasnya dunia persilatan diusia terlalu dini. Dari sekilas kemampuan yang sempat diperlihatkan Gluduk Ailt, hal-hal baru yang diserapnya ternyata membuat cara pandang anak itu memiliki daya kritis pada berbagai masalah.

“Omong-omong, aku pernah melihat beberapa pertarungan yang menggunakan semacam ilmumu kang.  Ternyata sangat mengerikan jika dipakai dijalan sesat ya kang?”

“Ih, kau melihatnya dimana? Apa benar serupa dengan milikku? ” Tanya Sakyamuni tertarik.

“Di sekitar Gunung Sempu, kurasa mereka melakukan tindakan saling mempengaruhi. Bentakan-bentakan mereka, kadang membuat orang yang ada di seklilingnya jadi kehilangan pegangan…”

“Hm…” Sakyamuni menggumam, memang kakeknya pernah bercerita ada banyak aliran semacam Pek Hoatsut miliknya, hanya saja sejauh ini dia belum pernah bertemu dengan para pemilik ilmu-ilmu sejenis. Dia kagum, menyadari peruntungan Gluduk Alit begitu besar. “Memang, kalau dibawa menuju ke jalan sesat, dampaknya mengerikan. Biasanya ilmu semacam itu akan berbalik mengenai diri mereka sendiri jika menghadapi kekuatan yang lebih besar.”

“Oh, begitu..” seru Gluduk Alit dengan manggut-manggut

“Makanya aku tak pernah memakai ilmu itu jika tidak benar-benar kepepet..”

“Kau benar-benar lelaki sejati kang..” ujar Gluduk Alit kagum.

“Apa maksudmu?” tanya Sakyamuni dengan kening berkerut.

“Lho, aku memujimu kok.. Oh, aku tahu! Kau menyangka aku mengira dirimu bukan lelaki benaran?”

“Sialan!” sungut pemuda itu sambil menjewer Gluduk Alit, tetapi anak bengal itu mengelak sambil tertawa haha-hihi.

Kemudian berturut-turut dipanggil, Kumala Sari yang mendapat lima belas, Mlira Devi, Aisyah Arifa, Gurba Dignya, Kitahara dan Intan Padmi yang masing-masing mendapatkan tujuh belas, kemudian Kenji, Akina dan Himuro, masing-masing mendapat dua puluh ekor. Cara menangkap mereka sama dengan cara pendahulunya. Seperti Kitahara misalnya, dia menangkapnya sama dengan cara Takeshi. Lalu Intan Padmi caranya sama dengan Balung Gegana. Singkatnya bagi mereka yang satu guru—satu kakek, cara menangkapnya sama. Dan yang terakhir adalah Gluduk Alit!

Banyak yang ingin tahu cara seperti apa yang akan digunakan pemuda tanggung itu. Seusai ujian, tiap-tiap peserta mendapatkan sambutan ramai dari anak ini, dengan sanjung puji dan kadang kala celetukan konyol. Kelakukan pemuda tanggung itu, mau tak mau mendapat peratian kusus dari tiap orang.

“Alit Wijaya!” Ki Blawu Segara memanggilnya sebagai peserta terakhir.

Dengan berdebar-debar pemuda tanggung itu segera berjala menuju arena. Gluduk Alit memang sengaja di taruh di urutan akhir karena Ki Daru Geni hanya memiliki murid tunggal.

“Ayo Dulit, kau pasti bisa!” seru Sakyamuni memberi semangat, demikian juga Arman Syakar yang sudah cukup akrab dengan anak ini.

Sambil nyengir, anak ini membungkukan badannya seraya berucap. “Aligatoo..” tatapan mata Gluduk Alit mengarah pada Takeshi bersaudara.

Takeshi yang mendengar cara anak ini bergurau mengerutkan kening sambil membungkukkan badannya, seraya bekata. “Maturnuwun…”

Gluduk Alit nyengir mendengar ucapan pemuda keturunan negeri mentari terbit itu. Dengan jantung berdebar lebih kencang, kaki Gluduk Alit sudah menapak ke tengah arena. Anak ini melihat berkeliling, tak tega hatinya melihat begitu banyak burung menggeletak tak berdaya, memang tidak semuanya mati, tapi, untuk apa sebenarnya ujian ini, jika harus mengorbankan begitu banyak hewan? Demikian terbetik pertanyaan dalam benak anak nakal ini, tapi dia juga sadar tak mungkin mengkritik secara berterang, pada orang-orang yang disegani itu!

Mendadak Gluduk Alit keluar dari arena, tindakannya mengherankan banyak orang, pandangan orang memperhatikan anak itu berjalan hendak menemui Ki Blawu Segara

“Maaf Kek, ada yang harus kutanyakan…” kata Gluduk Alit setiba di hadapan sesepuh tertua.

Ki Blawu Segara mengerutkan keningnya, sekalipun pertanyaan remeh anak itu tidak membuat ‘riak’ pada suasana, tapi cara anak ini bertanya rupanya mulai mengusik ketenangan sespuh tertua ini. “Kau mau menanyakan apa lagi?”

Gluduk Alit menggaruk kepala sesaat. “Bagaimanakah saat burung yang didapat, terhitung syah?” tanyanya pada Ki Blawu Segara.

Kakek itu tidak segera menjawab, teringat olehnya sebelum Gluduk Alit memulai, dia memandang berkeliling, dan diapun memandang berkeliling, baru dia sadari begitu banyak buruung teronggok di tanah, biarpun kebanyakan hewan udara itu belum mati, tapi kondisinya tak jauh dari itu. Diam-diam Ki Blawu Segara memuji kepekaan murid adik angkatnya. Tapi dia pun tak mau terang-terangan mengatakan itu.

“Hm, kau ini selalu saja bertanya hal aneh-aneh!” serunya dengan wajah serius. “Tapi kalau itu memang membuatmu ragu, baiklah… burung yang kau tangkap dalam keadaan syah jika sudah berada di tanah…”

Gluduk Alit terdiam. “Apakah ada batas waktu tertentu?” sambung pemuda tanggung ini.

Ki Daru Geni menggeleng-geleng melihat cara muridnya ‘ngobrol’ dengan orang yang jauh lebih tua, seperti dengan teman sepantaran saja! Benar-benar kurang ajar!

“Hm, kurasa dalam tiga puluh hitungan!” jawab Ki Blawu Segara.

Mendengar itu Gluduk Alit berkerut kening, “Apa tidak bisa lebih sedikit Kek?” tawarnya.

“Main tawar segala…” cetus Ki Blawu Segara agak geli, tapi wajahnya dibuat makin serius. “Kau pikir ini pasar? Sudah, dua puluh hitungan!” katanya dengan nada tak bisa ditawar lagi.

“Baiklah…” gumam anak ini berkerut kening. “Mudah-mudahan sanggup.” Desisnya.

Ki Gerah Langit sangat berkepentingan dengan seluk beluk calon muridnya, maka semua gerak gerik anak itu tak pernah lepas dari pengamatannya. Mendengar ucapan terakhir tadi Ki Gerah Langit segera bertanya pada Ki Daru Geni.

“Apa kau memberinya pelajaran untuk hal seperti ini?”

Ki Daru Geni menggeleng. “Aku tak heran jika dia gagal, bisa menangkap satu ekor saja sudah syukur.”

“Tapi ucapan terakhirnya tadi seolah-olah dia mempersiapkan sesuatu…” katanya sambil mengatakan apa yang tadi sempat dia dengar.

“Eh, masa?” seru Ki Daru Geni tertarik, diapun kali ini tidak akan melewatkan gerak-gerik muridnya, nampaknya sang murid sudah mendapatkan tambahan bekal selama dalam pengembaraannya.

“Apa alasanmu meminta keringanan tadi?” Tiba-tiba Kakek Akihiko bertanya, dia juga bisa memahami kenapa Gluduk Alit menegosiasi dengan kakanganya, tapi karena dia juga tak ingin memuji orang dari kalangan luar—Kakek Akihito tetap menganggap Gluduk Alit dari kalangan luar, meski dia di aku sebagai murid saudaranya—dengan sendirinya dirinya harus memancing niat Gluduk Alit dengan percakapan, supaya maksud anak itu diketahui orang banyak.

“Rasanya sayang melihat banyak burung yang hidup bebas, harus berakhir begitu saja. Lagipula burung yang sudah di dapat, terlalu banyak untuk kita makan—bahkan sampai esok hari..” kata Gluduk Alit beralasan.

Sementara di pihak para peserta, kasak kusuk juga terjadi. Ucapan anak itu seolah Gluduk Alit sanggup menyatakan—mengusahakan, burung turun ke tanah dalam dua puluh hitungan, kebanyakan dari mereka tercengang heran, mereka ingin tahu apa yang hendak dilakukan pemuda tanggung yang selalu membuat jengkel hati siapa saja kalau sudah memulai tingkah ulahnya itu. Sebab segala cara hebat sudah tergelar di depan mata mereka, dan apakah Gluduk Alit akan menggunakan peringan tubuh atau menggunakan angin pukulan, atau bahkan sihir? tidak ada yang tahu!

Gluduk Alit memejamkan, matanya sesaat, tangannya bergerak-gerak dari atas kebawah bagai sedang menghimpun tenaga untuk mengeluarkan himpunan hawa sakti.

“Kau pikir dia akan melakukan apa?” tanya Kumala Sari pada Kitahara ketika melihat gerakan Gluduk Alit.

“Kurasa, seperti yang lain..” kata gadis cantik berkulit putih itu singkat.

“Kupikir dia akan mengeluarkan ledakan tenaganya seperti tadi, lihat saja gerakan tangannya!” kata Akina berbisik di telinga.

“Mungkin memang benar..” sahut Kumala Sari makin heran dengan gerakan Gluduk Alit yang berulang-ulang.

Mendadak anak ini bersin berulang-ulang! “Ah, lega rasanya…” gumamnya. Rupanya Gluduk Alit melakukan gerak itu untuk mendorong tekanan udara yang tidak perlu di dalam tubunnya—tekanan yang dimungkinkan bisa membuat cegukan atau bersin pada waktu yang tak diduga.

“Huuu…” Terdengar olehnya gadis cilik yang tadi sempat habis-habisan dikerjai olehnya mencibir.

“Maaf..” katanya sambil nyengir.

“Sialan! Kupikir sedang apa, masih juga bermain-main..” gumam Intan Padmi merasa jengkel.

Gluduk Alit berdiri dengan tenang, tidak lagi bersikap santai dan seenaknya, pemuda tanggung ini menyadari, apa yang akan dia lakukan itu adalah murni percobaan yang baru akan dilakukannya! Dengan memutar tangannya, anak ini melakukan sebuah gerakan yang membuat Wingit Laksa berubah raut wajahnya.

“Kenapa dia bisa gerakan seperti itu?” batinnya melihat cara Gluduk Alit bergerak, benar-benar mirip dirinya! Tiba-tiba saja beberapa ekor burung yang tergeletak tak berdaya, tersedot dalam gerak pusaran tangan Gluduk Alit, semua hadirin sama tahu bahwa burung yang tersedot dalam putaran lengan Gluduk Alit dalam keadan tak berdaya, tapi mendadak anak itu mengambil sepotong kayu yang sudah dia persiapkan, melakukan gerakan sabetan sekali!

“Gila! kenapa hampir sama?” pikir Takeshi. Dia dan saudara-saudaranya terkejut! Sabetan itu adalah kepandaian yang tadi mereka lakukan! Terdengar bunyi bergaung dua kali, tidak terlalu keras, tapi cukup mendebarkan bagi Kakek Akihito.

Bunyi gaung itu seolah menyentak kesadaran burung yang masih berputar dalam pengaruh angin yang ditimbulkan kibasan lengan Gluduk Alit. Sayap hewan udara itu mulai terkepak, begitu kepakan terbentang sempurna, anak ini kembali mengejutkan orang, kali ini Arman Syakar. Pemuda berhidung beo itu nampak melongo, melihat diantara sela sabetan anak itu terkandung ayunan yang menyerupai cara dia memainkan cambuk! Diapun mendengar bunyi meledak lirih dari kibasan lengan baju anak itu.

“Entah sampai tingkatan mana dia bisa menyerap cara-cara khusus kami?” pikirnya cucu Ahmed Khalid terheran-heran.

Gerakan-gerakan itu tersusun secara dinamis dan terangkum dalam satu olahan jurus yang membuat Ki Daru Geni melongo. Begitu ledakan serupa bunyi pecut terdengar, beberapa ekor burung itu terbang ke berbagai arah, seolah-olah hewan-hewan itu tidak pernah mengalami kejadian!

Ternyata rangkaian gerakan anak itu adalah untuk menyadarkan beberapa ekor burung! Hadirin tidak mengerti cara apa yang akan di lakukan anak itu untuk menarik burung. Cukup dari beberapa gerak yang dilakukan tadi, membuat para sesepuh tercengang.

Gluduk Alit mengawasi angkasa, dia masih melihat beberapa ekor bung yang tadi ‘pingsan’ kini terbang ke berbagai penjuru. Begitu hewan udara itu hamper hilang dari pandangan. Anak ini mengeluarkan beberapa lembar daun bambu yang di jalin sedemikian rupa, sehingga menyerupai, batang bambu. Anak ini memutar-mutar daun bambunya, dari putaran lengannya terdengar suara semacam sendaren, bila diperhatikan lebih lanjut suara itu hampir menyerupai bunyi kumbang pohon.

Aku belum pernah mencoba untuk yang dua kalinya, tapi mudah-mudahan saja apa yang kupelajari dari paman Banaran, cukup ampuh, pikir Gluduk Alit.

Setelah cukup menimbulkan suara dari daun bambu, pemuda bengal itu merogoh saku celananya, dan dia mengeluarkan suling bambu. Dengan sigap anak ini mulai melengkingkan sebuah nada saja, hadirin berkerut kening melihat cara Gluduk Alit yang ‘ajaib’ dan terkesan aneh. Beberapa dari mereka melihat keangkasa, tapi tak satupun ada burung muncul.

Timbul prasangka dalam hati para peserta bahwa upaya ‘ajaib’ anak itu ternyata sia-sia belaka. Mendadak nada dalam lengkingan suling yang ditiup Gluduk Alit berubah, kali ini seperti membawakan sebuah lagu, tetapi kejap berikutnya suara suling Gluduk Alit jadi panjang dan tanpa irama, nadanya tetap, tetapi suaranya makin melengking tinggi, membuat beberapa orang harus berkerut kening karena terganggu. Setelah beberapa lama suara itu melemah, dan terdengarlah nada aneh dari suling Gluduk Alit. Pemuda tanggung itu meniup dengan mengerahkan hawa sakti sehingga iramanya terdengar berkelok-kelok, dan makin melengking. Lalu sebagai gerakan terakhir, Gluduk Alit melepas tiupan sulingnya dan menggerakan tangan yang memegang suling dengan cepat, kecepatan gerak tangan pemuda bengal itu membuat suling bagai masih ditiup.

Semua yang melihat demonstrasi yang diperlihatkan Gluduk Alit masih mengerutkan kening, mereka baru sadar, ternyata sedemikian lamanya Gluduk Alit meniup suling, hanya dengan menggunakan satu tarikan nafas! Suasana hening seketika, mereka memperhatikan kesegenap penjuru, tidak ada burung lewat! Sementara Gluduk Alit berdiri dengan nafas terengah.

Beberapa orang sudah terlihat mencemooh aksi Gluduk Alit yang sia-sia, tapi kejap kemudian wajah-wajah yang meremehkan itu hilang berganti dengan keheranan luar biasa! Sebab lapat-lapat oleh para tokoh sakti itu dari berbagai penjuru terdengar kepak sayap dan suara burung. Tak berapa lama kemudian, banyak dari orang-orang membelalak takjub melihat begitu banyak burung yang datang, ternyata dipimpin oleh burung-burung yang tadi ‘dilepaskan’ Gluduk Alit. Rasa takjub langsung menyelimuti dada mereka. Apalagi begitu melihat dari empat penjuru, kawanan hewan udara itu menukik dan turun tepat didepan Gluduk Alit yang masih diam terpekur seperti sedang bersemadi, ada yang mendekam di bahu, di kepala dan di tanah. Semetara guru Gluduk Alit sibuk menghitung burung yang berada ditanah. Hadirin baru sadar, kenapa anak itu bertanya berapa lama burung bisa dinyatakan sah… tapi, belum lagi sampai dua puluh hitungan, belasan burung sudah ada yang terbang. Pada hitungan ke duapuluh, hanya tinggal belasan ekor saja yang masih ada ditanah, itupun pada hitungan kedua puluh lima, seluruhnya burung kembali terbang. Termasuk yang sempat bertengger di tubuh Gluduk Alit.

“Pada hitungan ke dua puluh, hanya ada delapan belas ekor yang sah dihitung!” teriak Ki Daru Geni penuh rasa bangga.

“Sialan anak itu, tadi mengatai aku sebagai pawang, nyatanya di sendiri pawang burung..” gerutu Sakyamuni tertawa sebal.

Gluduk Alit mendengar itu, dia hanya tertawa nyengir pada Sakyamuni. “Tampangku tidak cocok jadi pawang, kang…” katanya setelah ada disamping Sakyamuni.

Membuat pemuda itu terbahak sambil mengucek-ucek rambut Gluduk Alit, sikap mereka yang sangat akrab, seolah sudah pernah bertemu sekian lamanya, membuat iri peserta lainnya. Mereka iri bukan karena kedekatan Sakyamuni, tapi iri karena tidak dapat bersikap terbuka seperti Sakyamuni.

Wingit Laksa mendekati Gluduk Alit dan memberi selamat. ”Adi Alit, aku ingin tanya…”

”Silahkan kang,”

”Gerakan pertamamu tadi…”

Gluduk Alit segera memotong. ”Aku berterimakasih atas pengajarmu kang.” katanya membuat Wingit Laksa heran.

”Pengajaranku?”

”Ya, waktu kau melakukan gerakan Badai Gurun tadi, seluruh tahapannya terlihat jelas bagiku. Sekalian saja aku juga mohon maaf jika engkau tidak berkenan, kang. Habisnya, aku tidak tahu bagaimana harus mencari burung, begitu teringat gerakanmu tadi aku segera melakukannya…” kata pemuda tanggung ini membuat Wingit Laksa dan beberapa orang terheran-heran.

”Maksudmu, kau menggunakan gerakan tadi setelah melihat apa yang kulakukan?”

Gluduk Alit mengangguk. ”Apakah kau keberatan kang?” tanya anak ini.

”Aku tidak, tapi ada baiknya kau meminta ijin dengan kakek.” katanya memberi saran. Rasa tercengang pemuda ini masih membekas. Dia teringat waktu mempelajari itu, butuh waktu seharian untuk membuatnya cukup matang terkuasai. Tak nyana, dia melihat ada orang yang punya kemampuan melebihi dirinya.

”Apakah kau tadi juga memasukkan unsur Letupan Cambuk Ular yang kumainkan?” tanya Arman Sayakar yang juga mendendekati Gluduk Alit.

”Eh, iya.. maaf ya kang…” kata Gluduk Alit dengan meringis serba salah.

”Tidak apa-apa, cuma seperti yang di katakan kakang Wingit Laksa, bahwa engkau harus memperoleh ijin dari sesepuh…” sarannya. Membuat pemuda tanggung ini mengangguk-angguk.

”Tapi aku tidak setuju, kau menggunakan gerakan kami.” Kitahara menimbrung pembicaraan.

”Wah, maaf kalau begitu…” kata Gluduk Alit meringis-ringis. ”Bagaimana mungkin aku tidak melakukan sedikit gerakan kalian, karena yang terpikir olehku untuk menerbangkan burung-burung itu adalah jurus Petir Menyalak Lima kali?”

Kalimat ’terpikir’ yang diucapkan Gluduk Alit, membuat Kitahara terdiam. Reflek yang dilakukan anak itu membuat dia cukup terpukul. Anak didik Ki Daru Geni ternyata bisa mengamati gerakan yang dia lakukan berhari-hari untuk mempelajarinya, hanya dalam sekali pandang, rasa iri itu yang membuat dia tak suka melihat Gluduk Alit menggunakannya.

”Tapi, kalau kalian keberatan, aku tidak akan menggunakannya lagi…” sambung Gluduk Alit, anak ini tentu saja tidak memahami apa yang dipikirkan Kitahara.

”Tapi aku tidak berpikir demikian,” mendadak Takeshi menyambung. ”Adik…” katanya pada sang sepupu. ”jika kita memiliki pikiran sependek itu, coba kau bayangkan… bagaimana jika posisi adik Alit adalah sebagai lawan. Apakah kau akan memintanya untuk tidak melakukan gerakanmu, pada saat bertarung denganmu? Itu jelas tidak mungkin! Apalagi Adik Alit adalah murid sadara kakek kita!”

Kalimat Takeshi yang terbiasa diam, memang cukup tajam. Hakikatnya dia memperingatkan adik sepupunya, sebenarnya dia sedang ’menyindir’ Gluduk Alit supaya, ’hati-hati’ dalam bertindak dan mengingatkan kepada pemuda tanggung itu, bahwa yang dia lakukan itu dibawah tanggung jawab Ki Daru Geni. Tentu saja Gluduk Alit sangat paham kemana arah pembicaraan Takeshi. Dengan wajah yang semringah, anak ini mengangkat jempol pada pemuda itu.

”Aku bertanggung jawab penuh dengan yang kulakukan, kang… jangan kawatir jika apa yang kugunakan dari kalian, pasti tidak akan kuselewengkan.” tegas anak ini, mantap.

”Haha, sayang kau tidak menggunakan keterampilanku, aku sangat tidak keberatan jika kau bisa menyadap kemampuanku.” tiba-tiba saja Sakyamuni nyeletuk.

Gluduk Alit tertawa. ”Terima kasih kang, nanti suatu saat aku pasti akan merecoki dirimu untuk mengajarkan padaku!”

”Aku yang apes, kalau begitu!” seru Sakyamuni dengan tertawa lebar.

Tapi sebuah pekikan panjang, membuat orang-orang terkejut. Mereka melihat keatas, terlihat oleh mereka empat ekor burung seebsar kambing berputar-putar. Wajah Gluduk Alit menegang sesaat, tiba-tiba dia berseru riang.

”Ahaa, si merah!” Gluduk Alit melambaikan tangannya. Mendadak saja empat ekor burung itu menukik tajam dengan paruh mengarah Gluduk Alit.

”Waduh, sialan!” seru pemuda itu berkelit, seraya melompat keudara. Lompatan pemuda tanggung itu membuat Khu Hong Li memekik kecil.

”Bu Eng Gin Kang?” serunya tak percaya.

Ya, memang! Lompatan anak itu begitu ringannya, di tengah udara dia bersalto dan kakinya menendang paruh burung berwarna hitam. Begitu tendangan Gluduk Alit mengenai paruh, tubuh anak itu terpental, tapi pentalannya membuat Kamajaya berdecak, sebab dengan sangat ringan, Gluduk Alit menggeliat dan menjejakkan kakinya di punggung si burung lalu melenting lagi menapak pada tiga ekor lainnya. Persis gerakan dirinya tadi!

Hadirin disuguhi tontonan yang mengesankan, meski banyak orang disitu dengan kemampuan diatas murid Ki Daru Geni, tapi apa yang di lakukan pemuda tanggung itu membuat hati mereka berdesir. Tak disangka, demikian memikat bakat murid Ki Daru Geni.

Gluduk Alit masih ’kucing-kucingan’ dengan empat burung itu diudara! Dia melompat-lompat kesana kemari, di tiap punggung, dia membuat hewan udara itu sebagai pancalan. Dan kelihatannya empat ekor burung itu cukup tahu diri jika orang yang mereka serang malah bermain-main, dengan terbang membentuk putaran besar, keempatnya turun.

Tentu saja Gluduk Alit juga menyusul turun dengan terjun. Jejakan kakinya tidak selembut jejakan Kamajya saat mendarat, tapi cukup dilihat dari caranya mencangkok ilmu peringan tubuh tanpa bayangannya, membuat Kamajaya mau tak mau memuji pemuda tanggung itu. Sesampainya di tanah, anak ini dengan gembira memeluk leher burung berwarna merah. Hadirin baru pernah melihat ada burung sebesar itu. Burung berwarna merah memekik dan diam saja saat Gluduk Alit mengucek-ucek lehernya.

“Ah, sahabat merah, engkau datang pada saat yang tepat!” Kata Gluduk Alit sambil mengelus leher burung itu. Gluduk Alit tidak perduli dengan mereka yang memadanginya dengan padangan mata takjub dan sebal.

”Kenapa kau bilang dia datangnya tepat?” tanya Sakyamuni mendekati Gluduk Alit dengan ragu-ragu, sebab dia melihat sikap tiga ekor burung lainnya yang galak.

Gluduk Alit nyengir. ”Apa dirimu mau, menghabiskan puluhan ekor burung itu kang?” tanyanya melirik kearah tumpukan burung, ’korban’ uji coba kemampuan para keturunan Enam Dewa Sakti.

”Ah sialan, tentu saja tidak.” jawab Sakyamuni seraya menjauh. Sambil menyaksikan Gluduk Alit yang berlari mengambil bebrapa ekor burung yang sudah mati, anak itu memberikan burung-burung itu pada keempatnya. Dengan cekatan empat ekor burung itu menyambar makanan empuk itu dan langsung terbang menyusup di kerimbunan pohon di tengah hutan.

“Oh, jadi burung itu yang dia tolong di bukit Tuntang?” tanya Si Tinju Sakti pada Ki Gerah Langit.

“Benar,” jawab Si Mata Malaikat.

“Bagaimana bisa tiga burung lainnya juga tunduk dengan anak tengik itu? Sedangkan yang ditolong dia cuma satu?!” tanya Ki Daru.

“Mungkin saja burung yang ditolongnya itu merupakan rajanya burung elang sehingga dia dapat membawa tiga ekor lainnya..” jelas Ki Gerah Langit.

Setelah hingar bingar aksi Gluduk Alit, dengan berseru, Ki Blawu Segara telah menutup ujian tahap pertama. Beberapa orang yang semula memandang remeh Gluduk Alit, sedikit demi sedikit berkurang sejak mereka saksikan, cara Gluduk Alit menyerap kemampuan disekelilingnya, belum lagi caranya memanggil burung yang aneh.

Setelah dinyatakan usai, Gluduk Alit tidak lagi bergabung dengan para peserta lainnya, sebab masing-masing sedang mendapatkan pembekalan dari gurunya. Dia duduk di depan gurunya dan Ki Gerah Langit.

“Anak tengik! Dari mana kau belajar memanggil burung seperti itu?” tanya gurunya penasaran.

Gluduk Alit memandang gurunya sesaat, pemuda tanggung itu tidak tahu kalau pertanyaan gurunya tadi menarik perhatian semua orang yang ada disitu, hanya saja mereka berpura-pura tidak memperhatikan, tentunya kecuali lima tetua lainnya, mereka sudah tua dan tak sudi berlaku pura-pura.

“Guru dulu pernah berkata; mempelajari suatu pengetahuan itu penting, dan aku juga setuju dengan pendapat itu. Di sepanjang perjalananku, aku banyak hal dari orang lain. Mereka bukan orang kuat atau pesilat tangguh, hanya seorang petani atau pedagang, bahkan seorang pengemis. Aku belajar dari mereka, tadinya aku sempat menganggap remeh mereka, pikirku; ’biasa apa si mereka ini? Paling hanya mencangkul, mencari makan untuk sehari-hari.’ Ternyata aku salah kek, bahwa nyatanya, orang-orang seperti itu adalah orang-orang yang sangat tangguh! Karena mereka bisa mempertahankan hidup mereka dan keluarganya dalam sebuah perlindungan yang baik. Makanya, aku tidak pernah ragu menimba pengalaman apapun dari mereka…”

Penuturan Gluduk Alit yang teratur dan sedikit berbau ’filsafat’ membuat gurunya heran. Biasanya muridnya itu, kalau bicara ceplas-ceplos, memang ada kalanya muncul ’kesopanan’—yang menjadi sebuah kemustahilan bagi Gluduk Alit. Tak disangka olehnya, dalam setahun ini, muridnya mendapatkan kemajuan yang membuatnya tercengang. Kemajuan dari segi perbendaharaan ilmu kanuragan, dan kematangan pikir.

”Tapi tidak kupungkiri, banyak pengalaman orang lain yang menjadi dasar pijakan pikiranku, guru.” Sambungnya lagi. ”Aku bertemu dengan seorang pengemis yang membuatku terkesan sampai saat ini, aku sempatkan untuk bercakap-cakap dengannya, dia mengatakan padaku begini, “Hei bocah sialan! kau pikir semua manusia itu bisa mengatasi kekurangannya? Setiap orang pasti memiliki kekurangan, dan kelebihan. kelebihan yang satu maenutupi kekurangan yang lain” begitu salah satu ucapannya padaku, lalu kutanyakan padanya apa kelebihan seorang pengemis. Kakek itu menjawab sambil tertawa, “Dasar anak bodoh! kau pikir pengemis itu tak berguna? orang yang benar-benar mengemis itu jauh dan perasaan munafik, jauh dari iri dengki dan persaingan yang membuat kebanyakan orang menghalalkan segala cara. Kejelekan seorang pengemis adalah kelebihan si pengemis itu sendiri, tak ada salahnya orang berlaku seperti pengemis asal jangan hatinya yang mengemis, aku cukup banyak  pelajaran berharga darinya. Bahkan tanpa kusangka, dia mengajariku cara melakukan tipu-tipu daya yang biasa dilakukan golongan hitam, ”Kau pasti akan berjumpa dari salah satu cara keji ini. Aku tak sedang menyombongkan diri, bahwa apa yang kuajarkan sudah mencakup kebanyakan pola pikir, kebanyakan orang-orang sesat…” begitu katanya.”

”Oh, kau beruntung berjumpa dengan tokoh yang menyembunyikan diri.” seru Ki Gerah Langit.

Gluduk Alit menggut-manggut, ”Ya, aku cukup penasaran siapa dia sebenarnya, maka kutanyakan padanya, apakah dulunya dia adalah tokoh terkenal? Dia menjawab, “Aku ini orang bodoh dari yang paling bodoh, mana bisa terkenal makin bingung aku mendengar jawabannya. Hanya saja saat aku hendak meninggalkannya, kakek itu berpesan padaku begini, ”kau akan temui kebusukan manusia di mana saja, yang tersenyum itu boleh jadi menggeram, yang menangis boleh jadi sedang tertawa, kau harus waspada dengan itu. Tidak ada kebenaran di bumi ini jika tanpa sifat asih, kalau kau bisa berlaku seperti bumi.. tidak perlu kau cari kawan, dia akan mencarimu!” begitulah kek.. salah satu dorongan keinginan untuk mempelajari apa saja, karena ulasan pengemis itu. Aku tak segan-segan menimba ilmu dari siapa saja, tidak mesti harus olah kanuraga, aku bahkan sempat mempelajari cara berburu yang efektif seorang petani…”

Penuturan Gluduk Alit yang panjang lebar membuat gurunya dan semua yang mendengarkannya dengan tak kentara, menjadi makin tertarik.

“Kau ini memang senang melantur kemana-mana, dari tadi yang kutanyakan adalah siapa yang mengajarimu cara memanggil burung?”

Gluduk Alit nyengir mendengar ucapan gurunya. ”Dari seorang bernama Basra, dia seorang pengail kek, aku pernah melihatnya bersiul keras, lalu puluhan burung mendekatinya. Karena tertarik aku mintanya mengajariku cara memanggil burung, tapi karena aku belum selihay dia, maka dia menganjurkan aku memakai suling…” tutur Gluduk Alit, tak menyebutkan nama asli Ki Banaran, takutnya sang guru mengenal dia, apa lagi Ki Banaran sudah mewanti-wanti padanya untuk tidak memberi tahu siapapun tentang keberadaan mereka yang di pimpin Ki Waskita.

“Dia seorang pesilat tangguh?” tanya Ki Gerah Langit.

“Yang kakek pikirkan semua tentang ilmu silat..” olok Gluduk Alit dengan nyengir, membuat Ki Gerah Langit melotot padanya. “Mungkin saja dia seorang pesilat, aku menduga demikian.. karena suatu saat pernah melihat dia mengail tidak dengan mata pancing, hanya dengan benang dan joran saja.. tapi anehnya selalu saja ada ikan yang terkail, lebih aneh lagi setelah mendapatk ikan, dia melepaskannya lagi… katanya memancing dengan caranya dapat melatih kesabaran. Aku sempat ditawari, tapi aku menolak… bisa dipastikan memancing seperti itu bisa membuatku mati bosan!” tutur Gluduk Alit membuat gurunya tergelak.

Gluduk Alit bukannya ingin menyembunyikan semuanya pada gurunya, hanya saja dia menghormati Ki Waskita yang juga tidak berusaha mencari tahu siapa guru Gluduk Alit. Jadi anak itu berpikir agar adil, lebih baik tidak diberi tahu siapa sebenarnya yang membimbing dirinya selama dua bulan terakhir.

“Hahaha.. bagus sekali! meskipun kau anak paling tengik, tapi aku sangat mendukung apa yang kau lakukan!” kata Ki Daru Geni gembira. “Aku tidak perduli ilmu silatmu tak mengalami kemajuan, bahkan kau terlantarkan, yang penting kehidupanmu itu harus bersih! Bersih dari ketamakan dan rasa iri, aku membebaskan engkau melakukan apapun, selama itu memiliki alasan jelas, masuk akal dan tidak membelakangi kebenaran!”

Gluduk Alit mengiyakan berulang kali mendengar wejangan gurunya. Tapi yang mendengar perkataan Ki Daru Geni, jadi berkerut kening tak mengerti. Apa kata orang persilatan murid salah satu Enam Dewa Sakti tidak bisa apa-apa?!

Tentu saja pikiran mereka tidak sama dengan jalan pikiran Ki Daru Geni, dengan kemajuan yang diperlihatkan muridnya, dia tidak mengkhawatirkan bagaimana kelak tingkatan ilmu kanuragan muridnya. Yang dipikirkan sekarang adalah bagaimana memupuk dasar pikir dan tuntunan batin pada muridnya, supaya tidak melakukan hal-hal yang

“Eh bocah.. apakah pengemis yang kau temui itu selalu membawa tempurung dari besi?” Ki Blawu Segara menyela.

Gluduk Alit mengerutkan keningnya, dia mengingat-ingat bagaimana sosok kakek pengemis yang pernah ia jumpai di salah satu kota yang dia singgahi selama satu bulan.

“Aku tidak begitu ingat kek, tapi yang sangat kuingat, meski pengemis, kakek itu terlihat rapi, beliau selalu menjaga kebersihan tubuhnya. Dan satu hal lagi.. kakek itu berambut empat warna di bagian belakang, mesikupn seluruh kepalanya di tutup kain, pernah suatu ketika aku melihatnya menyibak rambut…”

“Ah, rambut empat warana?” kali ini Kakek Kim Liong bertanya dengan nada sangat ingin tahu.

“Benar kek.” tegas Gluduk Alit.

”Kau yakin tidak salah lihat?” kejarnya lagi.

Gluduk Alit menggeleng pasti.

“Apakah warnanya kuning, putih, hitam, dan biru?!”

“Eh, dari mana kakek tahu?” kali ini pemuda tanggung itu terhenyak heran.

Kakek Kim Long dan enam orang lainnya saling bertetapan. “Hahaha.. ternyata anak ini peruntungannya memang besar..” celetuk Ahmed Khalid.

Dengan wajah heran Gluduk Alit memperhatikan para sesepuh itu. ”Memangnya kenapa kek?” tanya Gluduk Alit penasaran.

“Tidak apa-apa,” sahut Kakek Ahmed Kahlid menggeleng.

”Cuma ada yang ingin kupastikan, apakah dia pernah mengajari kau sesuatu, atau memberikan satu tuntunan khusus padamu? Atau bahkan dia pernah memegang punggung atau dadamu?” sambung Ki Blawu Segara bertanya beruntun.

“Tidak..” sahut Gluduk Alit kian penasaran. “Kakek pengemis itu hanya memberikan aku nasehat, wejangan dan menceritakan berbagai tipu daya yang pernah dia ketahui. Sebenarnya ada apa? Apakah dia adalah seorang tokoh jahat?” tanya Gluduk Alit memastikan kembali.

Ki Blawu Segara menggeleng, “Bukan, hanya memastikan saja..” memang kakek ini penasaran dengan terbukanya seluruh simpui tubuh Gluduk Alit. Karena itu dia ingin tahu apa yang dilakukan kakek itu pada murid adiknya. Apalagi dan keterangan Gluduk Alit, dia sudah dapat memas­tikan kakek yang diceritakan bocah itu adalah Pangeran Bodoh Empat Nyawa, seorang tokoh sakti yang tidak pernah muncul didunia persilat sejak mereka keluar perguruan, hanya namanya saja yang selalu disinggung-singgung orang, sehingga ciri khusus dari orang itu dapat mereka ketahui. Konon ada berita yang pernah terdengar Pada masa muda Enam Dewa Sakti, bahwa seandainya saja ada empat Raja Neraka—seorang tokoh ganas dan berilmu tinggi—tak bakalan dapat menumbangakan Pangeran itu.

Tapi melihat kebingungan Gluduk Alit, berarti bukan kakek pengemis itu yang membuka simpul dalam tubuh pemuda bengal itu.

“Ah, sudahlah! Sebentar lagi kita akan mulai dengan ujian kedua.” tukas Ki Blawu Segara meruntuhkan niat ingin tahu Gluduk Alit. ”Sementara kita akan membangun tempat tinggal sementara di sini.” sambungnya lagi.

Matahari belum lagi sampai ke puncak tertinggi, kesempatan seperti itu tak disia-siakan oleh semua orang untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Semua orang yang ada disitu bekerja membuat bedengan, dari pelepah daun. Karena yang bekerja adalah orang yang memiliki bekal pengetahuan diatas rata-rata, maka efektifitas kerja merekapun sangat baik.

Gluduk Alit tidak ikut membuat bangunan sementara, dia diberi tugas untuk membersihkan burung-burung hasil ujian mereka. Seperti yang dikatakan anak itu tadi, untung saja ada empat ekor burung predator yang siap menampung kelebihan ’makanan’ mereka, dengan demikian anak itu tidak memusingkan dimana akan membuang sisa bangkai burung yang lain.

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
Quote | This entry was posted in Petualang Bengal and tagged , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s