01 – PB : Gluduk Alit

PETUALANG BENGAL

Suasana dipuncak gunung Halimun nampak tenang dan tentram. Setiap orang yang memandang puncak itu, sudah pasti akan berdecak kagum, karena memang puncak halimun yang kebanyakan dikenal orang berada di gunung Kabut, sangat indah. Hutan di sekitar gunung kabut rimbun dan hijau, penduduk yang tinggal jauh dari kaki gunung itu juga ramah. Singkatnya kehidupan di sekitar Gunung Kabut begitu mengesankan dan menyenangkan. Namun tak ada yang tahu kalau di puncak halimun, setiap pendaki hampir dipastikan tersesat dan tak pernah kembali.

Karena dari dulu amat banyak orang yang bermaksud mendaki puncak itu, maka sudah tak terhitung banyaknya orang yang hilang disitu, dari pendekar kenamaan sampai maling atau penjahat paling hina sekalipun, tak tentu rimbanya. Berita menghilangnya orang-orang gagah di puncak gunung itu, membuat orang penasaran. Mereka juga mencoba untuk mendaki kesana. Tetapi tetap tak satupun yang kembali. Hingga puluhan tahun berikutnya, tidak ada orang yang berani menapakkan kakinya untuk menuju puncak Halimun. Paling banyak orang hanya mau berjalan sampai lambung gunung kabut yang diberi nama Pusara Keramat. Mereka hanya ingin mendapat petuah dari Pusara Keramat, karena menurut kabar angin, orang yang dimakamkan disana merupakan sosok setengah dewa yang belum pernah dikalahkan oleh siapapun.

Dan tempat itu diberi nama demikian karena adanya tiga makam yang saling berjejeran dengan hiasan sederhana. Disebut Pusara Keramat karena setiap orang usil yang mencoba membongkar atau bermaksud bertindak buruk didaerah situ, pasti kedapatan dalam keadaan gila atau bahkan mati dengan seluruh tubuh memucat biru.

Tiga makam yang ada disitu bukan sembarang makam yang berada dipekuburan umum. Tapi tempat itu merupakan bersemayamnya tiga jagoan yang sudah amat terkenal sejak dua abad yang lalu. Makam yang mempunyai batu nisan berwarna kelabu, merupakan makam Ki Tapa Ageng, seorang tokoh kosen yang berjuluk Malaikat Tanpa Ilmu. Julukannya yang amat aneh itu diperolehnya karena kesabaran dan kerendahan hatinya. Ki Tapa Ageng tak pernah menyombongkan ilmunya pada orang lain, bahkan konon Raja Utara yang memiliki ilmu pedang amat hebat takluk tanpa bertanding. Karena memang Ki Tapa Ageng belum pernah bertempur dengan siapa pun. Setiap orang yang bermaksud menantangnya selalu menyatakan takluk dan kalah, entah karena apa! Mungkin karena perbawanya.

Makam kedua yang berada di tengah dengan batu nisan berwarna putih kusam, berukirkan nama Ki Tapa Ardi. Semasa hidupnya dia mendapat julukan Dewa Pedang Tunggal, keahliannya memang bermain pedang, dan selama perjalanan hidupnya tak seorangpun yang dapat mengalahkan dirinya. Karena kehebatan pedangnya yang luar biasa, Ki Tapa Ardi hanya memiliki satu jurus ilmu pedang, yang hingga kini masih merupkan jurus legenda tak tertandingi, jurus tersebut yaitu Menunjuk Jalan Terang Kepada Ilahi. Menurut orang yang sudah pernah melihatnya bertempur, Dewa Pedang Tunggal ini hanya membutuhkan waktu lima puluh hitungan untuk mengalahkan lawan yang bagaimanapun hebat dan tangguh ilmunya.

Lalu makam yang paling pinggir dengan batu nisan berwama hijau, berukirkan tulisan dengan nama Ki Tapa Guntur, julukannya adalah Pawang Gledek. Kehebatannya tidak pernah disangsikan oleh golongan manapun. Julukan itu merupakan pertanda dia orang yang amat mahir dengan petir, bahkan menurut cerita pendekar sekarang; Ki Tapa Guntur dapat menghancurkan satu bukit dengan kekuatan petir yang dia serap dari alam. Ketiga orang itu merupakan kakak beradik dan mendapat julukan Tiga Pelindung Kaum. Karena memang saking baiknya ketiga orang itu pada kaum yang tertindas, hingga mereka melindungi tanpa pamrih dan juga tidak pernah tanggung.

Hingga kini julukan Tiga Pelindung Kaum itu masih bergaung santar, karena mereka menurunkan murid-murid dengan kemampuan yang selalu disegani kaum persilatan. Ki Tapa Ageng memiliki tiga murid lelaki, masing-masing mempunyai keandalan tersendiri. Murid pertamanya berjuluk Manusia Tanpa Amarah, murid kedua dikenal sebagai Penolong Budiman sedangkan murid ketiga berjuluk Kepalan Sakti Tanpa Daya. Ki Tapa Ageng tak pernah berkelahi dengan siapapun, kepandaian silatnya merupakan yang terlihai diantara kedua saudaranya, biarpun ia orang termuda. Meski demikian, kedua kakangnya tidak pernah menaruh iri padanya, sebab mereka sadar, kemampuan yang hebat itu diperoleh adik mereka dengan pengendalian diri sepenuhnya dan penyerahan diri sepenuhnya pula pada Tuhan.

Ki Tapa Ardi sendiri mempunyai dua murid, laki-laki dan perempuan yang kemudian menjadi suami istri. Mereka memperoleh julukan Sepasang Pedang Dewa, karena memang jurus pedang mereka luar biasa. Sementara itu Ki Tapa Guntur hanya memiliki seorang murid yang bernama Santana, julukan sang murid adalah Pendekar Darah Petir. Kelihayan orang itu bukan sembarangan, berkat kecerdikannya, Santana dapat merubah berbagai gaya ilmu sang guru, biarpun pada hakikatnya ilmunya itu sama. Jika gurunya sudah mencapai tahap penguasaan terhadap kekuatan alam, dia hanya bisa dalam tahap dibawahnya yaitu penguasaan tubuh sepenuhnya. Dengan menggunakan Tenaga Sakti Puncak Petir ia dapat membuat setiap gerakan tubuhnya selalu di lindungi oleh berbagai macam kekuatan dahsyat dari tenaga petir.

Keenam murid tiga orang sakti itulah yang mengangkat dan menjunjung tinggi nama guru mereka. Dalam perjalanan untuk mendarma baktikan ilmu, tindakan merekapun tidak mengecewakan. Keenam murid guru-guru sakti itu selalu berpijak pada kebenaran, biarpun mereka mengambil jalan yang tidak lazim bagi pendekar pada umumnya. Tetapi dengan prinsip kebenaran dan keadilan diatas segalanya, keenam murid tokoh-tokoh sakti itu menjadi orang-orang yang amat disegani baik oleh lawan maupun kawan.

Karena banyaknya orang yang ingin berkunjung di Pusara Keramat, ke enam tokoh murid Tiga Pelindung Kaum mengutus murid-murid mereka untuk mengawasi dan selalu menjaga keamanan makam dan daerah seki­tar gunung Kabut, seperti yang telah dipesankan tiga guru sakti kepada keenam muridnya.

***

Sementara itu jauh dari puncak halimun, yaitu di sebuah Perguruan Silat Kipas Sakti, tampak seorang berusia tiga puluh lima tahunan itu, berjalan mondar-mandir di balai utama ruang berlatih. Orang yang masih tergolong muda itu, nampak sedang berpikir keras. Wajahnya yang tampan kelihatan berkerut kedalam, pertanda persoalan yang dipikirkannya merupakan masalah pelik.

“Tak kusangka kabar yang kukira hanya bualan belaka sudah tersabar sampai sejauh itu… bahkan guru sendiri menaruh perhatian pada berita itu. Benar-benar membuat penasaran!” lelaki itu berdiri mondar-mandir dengan tangan terkepal gemas.

Kelakuan lelaki itu diperhatikan oleh beberapa orang yang usianya lebih tua darinya. “Sudahlah Adi Gagas, engkau tidak boleh membantah perintah eyang guru, Memang kau yang menjadi ketua disini, tetapi bagaimana-pun juga semuanya harus dikendalikan oleh eyang guru sendiri.”

“Aku sangat menyadari itu kakang Gegana, tetapi… aku benar-benar penasaran dengan tugas yang diberikan eyang guru padaku ini! Apakan kau tidak merasa aneh kakang?”

Suasana tampak lenggang sesaat. “Hhh…” orang tertua yang berada disitu tampak menghela nafas panjang. “Ya… memang kalau kita tidak tahu pangkal dan ujung masalah, kita bisa penasaran seperti saat ini. Untung eyang guru sudah menceritakan sedikit tentang berita yang amat santar diluaran sana. Tapi sebelumnya, aku ingin bertanya, tugas apa sajakah yang eyang guru limpahkan padamu adi Gagas?”

Orang yang dipanggil Gagas tampak diam. “Eyang guru menyuruhku untuk selalu membuntuti seorang tokoh kosen berjuluk Setan Tangan Seribu, kakang tahu sendiri tugas seperti itu sungguh memalukan sekali. Bayangkan saja, kalau ada orang yang tahu, tentu akan mengira Ketua Kipas Sakti mengharapkan hasil benda pusaka curian dari tokoh itu. Sedangkan mengenai kabar munculnya sebuah Peta Keramat, benar-benar membuatku lebih pusing. Kabar diluaran sana mengatakan kalau peta itu didapat di sekitar perguruan kita. Apakah itu bukan suatu fitnah yang luar biasa? Lalu apa hubungan berita itu dengan tugasku mengejar si Setan Tangan Seribu? Bukankah aku lebih baik menangani isu tak sedap diluar sana? Seharusnya itu jadi prioritas utama kita!”

Kakak seperguruannya menggeleng kepala berulang kali. “Nah… belum-belum kau sudah mencela tugas dan apa yang disiratkan oleh guru dari tugas yang kau emban itu.. ketahuilah adi Gagas, berita mengenai munculnya peta itu memang benar adanya. Tetapi tentang munculnya peta itu disekitar perguruan kita ini, jelas merupakan kabar bohong belaka. Mungkin ada pihak yang tidak menyukai perguruan kita dan sengaja memanfaatkan situasi dengan kemunculan berita peta keramat. Lalu tahukah engkau mengapa kau diutus untuk membuntuti tokoh yang suka mencuri itu?”

Ketua perguruan Kipas Sakti menggeleng pelan, bahkan tiga orang lainnya yang merupakan kakang seperguruan Gagas juga menggeleng tidak tahu saat pandangan orang tertua dari perguruan itu menyapu mereka.

Dengan senyum sabar, lelaki tertua dari kesemua murid Kipas Sakti itu menjelaskan. “Pertama, guru ingin agar dua pusaka kita yang dulu pernah dicuri oleh tokoh itu bisa kau dapatkan kembali, yang kedua, engkau dapat mencari kabar kebenaran tentang peta keramat dari orang itu, dan yang ketiga, sesungguhnya peta keramat itu belum didapatkan oleh sipapun, karena menurut guru peta itu dulu disimpan oleh tokoh kosen berjuluk Raja Penghayal. Dan kau tentu tak bakal menyangka si Raja Penghayal yang bertubuh gemuk dan cenderung malas itu, merupakan tokoh yang terkenal amat pandai, cerdik juga sangat licik. Hampir empat puluh tahun yang lalu, ia dapatkan peta itu dari tokoh besar partai pengemis yaitu Pengemis Tangan Sakti yang merupakan keturunan langsung dari ketua partai Tangan Darah. Entah bagaimana cara ia mendapatkan peta keramat itu, yang jelas… dan harus kalian ketahui, Setan Tangan Seribu adalah adik seperguruan dari Raja Penghayal, Karena itu kalau bertemu dengannya kau tidak boleh sungkan dan tidak perlu bersikap menghormat. Karena Setan Tangan Seribu lebih menyukai orang yang angkuh dan penuh percaya diri, orang yang bersikap seperti itulah, dengan mudah dapat menjadi sahabatnya… dan mu­ngkin dalam hal ini pandangan guru memang tepat dengan melimpahkan tugas ini padamu. Sebab kau memang pandai sekali berganti sifat adi Gagas..”

Mereka menyimak penjelasan lelaki berusia empat puluh lima tahunan itu sambil tersenyum maklum, Gagas sendiri tertawa kecil dengan muka kemerahan mendengar ucapan kakangnya.

“Kakang Gandring, rasanya baru kali ini aku mendengar kalau ada dua kitab pusaka kita jatuh ketangan Setan Tangan Seribu. Sejak kecil kita diasuh eyang guru dan baru kali ini kita tahu ada benda Pusaka yang dicuri.. kitab apakah itu?” tanya orang bernama Gegana yang merupakan adik seperguruan tertua kedua.

“Dua kitab itu merupakan puncak tertinggi dari ilmu perguruan kita. Kalian tentu sudah pernah mendapatkan penjelasan dari guru mengenai ilmu Merubah Tulang Menjadi Urat dan silat sakti kipas Pengacau Angin. Dan tahukah kenapa sampai saat ini kita tidak pernah mendapatkan ilmu itu? Tak lain dan tak bukan karena dua kitab ilmu itu terjatuh ketangan Setan Tangan Seribu…”

“Tapi setidaknya eyang guru dapat memberikan dasar dari ilmu-ilmu itu..” gumam Gagas merasa kurang puas bahwa gurunya tidak menurunkan semua ilmu yang dimilikinya.

“Hm… engkau masih terlalu muda dan kurang pertimbangan, sering terbawa emosi pula, tentu saja tidak dapat berpikiran jauh kedepan adi Gagas. Eyang guru tidak mengajari kita karena beliau sendiri hanya mempunyai tiga bagian dari dua ilmu itu. Menurut guru sendiri kalau ilmu itu dapat dipelajari sampai tingkat ke enam barulah bisa digunakan dalam pertarungan…”

“Tapi kenapa eyang guru tidak memberikan teorinya sebagai pengetahuan saja, ada apa gerangan?” tanya Gurda orang ketiga terkuat dari perguruan itu.

“Guru dan aku sendiri tidak mau kalian menjadi korban..” kata Gandring dengan nada prihatin.

“Korban?!” hampir serempak empat adik seperguruan Gandirng tetegun dengan ucapannya.

Melihat raut muka adik-adik seperguruannya yang menyiratkan rasa ingin tahu, Gandring membuka baju atasnyanya, tetapi pakaian dalamnya belum ia buka. “Kalian tahu kapankah kita berlatih sungguh-sungguh sehingga pakaian kita terkoyak karena pengaruh pengerahan tenaga sakti tinggi?” tanya Gandring pada adik-adiknya.

“Hm.. kalau tidak salah tiga tahun lalu…” jawab Gesang, orang keempat.

“Dan apakah kalian melihat keanehan pada tubuhku?” tanya Gan­dring.

“Tidak…” keempatnya serempak menjawab.

“Nan, sekarang lihatlah keanehan ini…” Gandring membuka pakaiannya, dan empat adik seperguruannya terkejut setengah mati. Sebab dada dan perut kecil Gandring terdapat lekukan kedalam sebanyak tujuh belas buah. Dan pada setiap lekukan itu terdapat tanda kebiruan, dan berdenyut-denyut perlahan.

“Inilah akibat dari pengerahan ilmu Merubah Tulang Menjadi Urat, andai saja aku tidak melatih silat sakti Kipas Pengacau Angin lebih dulu, dapat dipastikan kalian tidak akan melihat aku sekarang ini.. guru pernah memberikan teori dua ilmu itu padaku, dan aku.. seperti juga perasaan kalian saat ini, sudah pasti akan merasa penasaran karena cuma diberi teori tanpa boleh melatihnya.. maka secara diam-diam aku melatih segala petunjuk dari guru biapun itu dilarang, kejadian itu hampir tiga tahun yang laiu, yaitu dua atau tiga bulan setelah kita berlatih tanding, dan yang dikatakan oleh eyang guru memang benar, temyata melatih dua ilmu pamungkas itu sama dengan mencari jalan kematian sendiri. Menurut penilaianku, kedua ilmu pamungkas perguruan kita cukup mengerikan—jika kita tak mau menyebutnya sebagai ganas. Aku hampir mati saat mempeiajari ilmu Merubah Tulang Menjadi Urat. Beruntung eyang guru sering memantau latihanku, sehingga aku tertolong…” tutur Gandring dengan nada datar.

“Dan aku berharap kalian tidak mengiri ataupun ingin mempelajari ilmu ini sebelum dua kitab kita ditemukan. Sebab hasilnya seperti halnya aku sendiri. Aku tak mau perguruan kita kehilangan orang-orang terkuatnya!”

Keempatnya mengangguk-angguk mengerti. Dalam hati masing-masing, mereka merasa bersyukur guru atau kakang seperguruan mereka tidak memberikan teori dua ilmu itu. Sebab rasa penasaran bisa dipastikan mengusik keinginan untuk melatih dua ilmu itu, dan bencana dapat dipastikan datang menimpa seperti yang dialami kakang seperguruan mereka.

“Kalau kalian masih penasaran juga, kalian dapat memegang urat nadiku..” kata Gandring dengan nada tegas. Karena kebanyakan dari mereka masih penasaran betul dengan penjelasan kakang mereka, dengan cepat memegang urat nadi Gandring. Wajah mereka terlihat sedikit pias dan terkejut sekali.

“Kakang.. ini..ini..” gumam Gagas terkejut.

“Ya, aku kehilangan tenaga dalam dan hawa sakti yang kuhimpun hampir tiga puluh lima tahun, semua itu dikarenakan aku melatih dua ilmu hebat itu. Maka itulah selama ini aku tidak banyak membimbing kalian bahkan selalu menolak untuk berlatihan dengan kalian. Tapi jangan kawatir, kata eyang guru., aku kehilangan tenaga dalam hanya dalam seribu hari atau tiga tahun kurang.. kalau dihitung sejak saat ini.. berarti tinggal satu-dua bulan lagi tenaga dalamku pulih.. tetapi yang jelas aku sudah tertinggal jauh dengan tingkatan kalian…”

Dalam hati keempat orang itu, mereka juga turut merasakan penderitaan kakang seperguruan mereka. Mereka sadar, tingkatan ilmu dan tenaga sakti mereka dengan kakang seperguruan mereka hanya berselisih satu tingkat saja. Kalau selama ini Gan­dring tidak bisa berlatih bahkan tenaga saktinya lenyap, berarti tingkatan tenaga dalam Gandring bisa berada lima atau enam tingkat dibawah keempat adik seperguruannya sendiri!

“Sudahlah tidak perlu dipikirkan lagi, yang jelas adi Gagas harus segera jalankan tugas eyang guru, lebih cepat lebih baik!” Kata Gandring dengan nada menegur.

“Baik kakang..!” kata Gagas dengan nada mantap, dikarenakan ia memikirkan dua ilmu pusaka perguruan Kipas Sakti bakalan bisa ia peiajari tanpa resiko. Keinginan itulah yang memicu semangat dan membulatkan niatnya. Dan siang itu juga ia mempersiapkan kebutuhan yang diperlukan diperjalanan nanti. Lalu saat matahari menjelang tenggelam, Gagas berangkat dengan pakaian biasa, seperti ciri khas para perantau pada layaknya.

***

Sementara itu tak jauh dari perguruan Kipas Sakti, terdapat desa Jati Ngaleh. Desa itu cukup besar dan ramai, bisa dikatakan desa itu merupakan pusat bertemunya pedagang dari daerah lain. Lagi pula hanya dengan menempuh jalan sejauh seratus pal, sudah sampai di kota praja.

“Anak setan! Mau kemana kau hah…!” bentak seorang pelayan restoran di tempat itu. Pelayan dengan tubuh gemuk dan wajah berminyak tampak marah sekali. Rupanya pada saat dia mengambil serbet untuk mengelap meja, ayam panggang yang disiapkan untuk pelanggannya, hilang! Dan ia melihat seorang anak tinggi kurus berlari cepat dengan membawa beberapa daging panggang dan makanan lainnya. Dengan lari tergopoh-gopoh, pelayan gemuk itu mengejar anak tinggi kurus itu. Tetapi tenyata anak itu sudah menghilang entah kemana, larinya sungguh lincah.

Orang yang melihat kejadian itu hanya tersenyum geli. Kebanya­kan dari orang desa Jati Ngaleh sudah kenal dengan anak tinggi kurus yang mendapat julukan Setan Tengik. Entah kenapa anak itu tersebut mendapat poyokan seperti itu. Para penduduk desa juga tahu bahwa anak tinggi kurus itu tidak berlaku curang dan jahat, karena hasil curiannya selalu dibagi-bagikan pada orang yang membutuhkan. Lagi pula anak itu mencuri dari restoran yang terkenal paling pelit dan dibenci kebanyakan penduduk, tentu saja para penduduk mendukung tindakan anak itu, mereka menganggap tindakan anak tinggi kurus itu sebagai pelampiasan kekesalan mereka. Karena pemilik rumah makan besar itu umumnya pelit dan sombong, tidak mau berderma walau satu sen.

“Apa kau lihat kemana anak setan itu lari?!” tanya pelayan gemuk itu pada penduduk desa yang kebetulan sedang berjalan di depan rumah makan itu.

“Tidak tahu!” jawabnya ketus.

Dan setiap penduduk yang ditanya selalu menjawab demikian, sebabnya jelas, rasa benci mereka pada tingkah laku pemilik rumah makan, tanpa sadar menjadikan mereka melindungi anak tinggi kurus itu. Baru jadi pelayan saja sudah sombong apalagi majikannya.. begitulah dalam hati mereka selalu mengumpat kalau melihat pelayan gemuk bermuka minyak.

Akhirnya setelah mencari-cari, si pelaya gemas sendiri “Eh, kau melihat anak tinggi kurus tadi?” tanyanya pada saat hendak kembali ke rumah makan, kepada lelaki berpakaian sederhana. Kelihatannnya lelaki itu bukan orang situ.

“Tidak tahu..” jawabnya singkat.

Dengan memaki dan menyumpah serapah sekian kaliannya, akhirnya pelayan restoran itu kembali ketempatnya bekerja. “Dasar Anak setan! awas kalau kedapatan, kutampar kau dari pantat sampai jidat..!” gerutunya sambil kembali melayani tamu dengan senyum dipaksakan.

Sementara itu lelaki berpakaian sederhana tampak tersenyum tipis, karena saat menoleh dia sempat melihat bayangan disudut jalan, ternyata memang anak tinggi kurus yang mengambil makanan tadi. Karena rasaan keingintahuannya terusik, dia bergerak cepat memburu Anak pencopet tadi. Gerakannya gesit sekali, bagaikan elang menyambar mangsanya, tiba-tiba saja dia sudah berada diujung jalan.

Tampak olehnya anak tinggi kurus itu sedang berjalan santai sambil bersiui-siul riang melewati jalan-jalan kecil yang diapit deretan rumah-rumah penduduk.

“Hatiku senang, hari ini dapat makan siang, lalu perutku kenyang dan guruku tak bakalan meriang… perut bernyanyi, lima hari tak makan kari ayam!” terdengar oleh orang berpakaian sederhana itu nyanyian si anak dengan nada yang bersemangat dan terdengar jenaka. “He-he-he… lagu yang di ajarkan guru memang konyol, tapi aku suka.. lapar tak lapar, tetap saja membanyol, dasar orang tua malas..” Anak itu terdengar menggerutu disela nyanyian dan siulannya.

Tak berapa lama kemudian, sampailah ia ke tempat paling ujung dari jalan sempit itu. “Guru, lihat… aku sudah dapat masakan yang kau pesan…” teriak si Anak sambil berlari cepat.

Orang berpakaian sederhana yang membuntuti si Anak, tampak terkejut melihat gerakan anak itu. “Hm… rasanya jarang sekali ada anak yang sudah memiliki ringan tubuh selincah itu, kecuali ia murid tokoh kosen..”

“He-he-he.. Anak tengik rupanya kau memang cukup berguna ya.. tapi apa orang yang lebih butuh sudah kau bagi lauk selezat ini?” tanya suara tua dari balik gubuk yang berdiri cukup kokoh.

“Jangan kuatir guru, sebelum aku mencari pesananmu, aku sudah membagikan rejekiku pada teman-teman senasib. Selagi masih ada Gluduk Alit mereka tidak akan mendapat caci maki dan kelaparan lagi.” Ujar si Anak sambil membusungkan dada, wajahnya keiihatan kemerahan pertanda saat dia berbicara sangat bersemangat dan bersungguh-sungguh.

“Bagus-bagus.. kadang-kadang kau tahu aturan juga!” ujar suara dari balik gubuk. Dan si anak yang bernama Gluduk Alit masuk kedalam gubuk itu, dan tak berapa lama kemudian ia keluar.

“Hm.. siapa gerangan orang yang ada di balik gubuk? Dari suaranya, aku yakin orang itu bukan seorang tokoh silat, rasanya dia hanya orang biasa saja. Tetapi Anak ini.. ha, Anak ini benar-benar membuatku penasaran, ada suatu daya tarik tersendiri saat memandangnya…” gumam orang berpakaian sederhana itu merenung.

Angin sore berhembus kencang, gubuk itu terdengar berderak-dersk. Atap rumbianya sedikit terangkat keatas. “Guru, angin sudah begini kencang.. kau masih berada didalam.. cepatlah keluar.. sekarang sudah saatnya berlatih.” seru Gluduk Alit dengan suara lantang.

“Dasar Anak tengik! Tidak bisa mengerti kesukaan orang tua! Kau memang persis tukang tagih!” gerutu suara tua dari dalam gubuk. Lalu terdengarlah langkah-langkah tertatih. Dan astaga.. orang berpakaian sederhana yang sedari tadi menguntit Gluduk Alit menjadi tertegun kaget. Bagai melihat hantu di siang bolong. Sebab orang yang baru keluar dari gubuk, temyata berpawakan tinggi, mungkin ada dua meter lebih tinggi tubuhnya. Dan yang lebih membuatnya tertegun adalah pakaian orang tua itu yang penuh dengan tambal, tetapi bukan sembarang tambal, melainkan tambaian kain berwarna coklat dan merah, lagi pula baju yang di kenakan kakek itu termasuk baru. Kelihatannya biarpun orang tua itu kurus, tetapi urat tangan dan kakinya terlihat kokoh dan terbayang kekuatan dabhsyat disitu. Wajah si kakek juga terlihat murah senyum,

“Astaga.. kalau tidak salah bukankah orang itu Tinju Sakti Penggetar Bumi? Salah satu tokoh Enam Dewa dari barat?! Tapi seingatku beliau sudah dikabarkan lenyap empat-lima puluh tahun lalu?! Tetapi aneh.. siapakah yang berdiri dihadapanku ini? Apakah benar itu orangnya? Rasanya tidak mungkin meleset dugaanku ini! Biarlah kulihat sampai dimana perkembangan keadaan ini…” pikir orang itu sambil bergerak waspada, dan ia segera mencari tempat persembunyian yang lebih aman dan tak mudah ketahuan.

“Aha, kau memang benar, angin sudah begini kencang. Sekarang apa yang mau kau latih?” tanya orang tua itu dengan nada panuh kasih.

“Jurus kemarin guru!” ujar anak itu dengan cepat.

“Hai.. bukankah kau sudah menguasainya dengan mahir?” tanya orang tua tinggi kurus dengan heran.

“Dasar guru yang sudah mulai pikun.. dulu guru pernah menyanyikan syair seperti ini..

Berjalan tak ada ujung

Mengais harta tak ada tujuan

Belajar keras tak kepalang tanggung

Biasanya satu yang diperlukan

…apa guru lupa dengan lagu itu? Bahkan guru mengatakan kalau belajar banyak dan terlalu beragam biasanya, tak banyak gunanya!” ujar si Anak dengan pandangan mata berbinar.

”Hi..hi., kau memang benar, mungkin syair itu kunyanyikan tiga atau empat tahun silam. Tapi otak tengikmu memang cerdas bisa mengingat sampai sekarang.. kau seperti kawanku yang sangat malas itu, ha-ha-ha.. lagi pula seingatku saat kunyanyikan syair itu pada waktu aku merasa kesal, sehingga terucap begitu saja syair tadi. Tapi apa hubungannya syair tadi dengan latihanmu?” sang guru bertanya serupa menguji

“Ha… guru ini bagaimana?! Begini, kalau satu jurus yang kita latih terus menerus bukankah akan lebih baik dari pada harus melatih beragam jurus tetapi yang hanya kita dapatkan cuma sebagian atau bahkan kurang… bukankah lebih baik mengulang yang sudah ada dari pada meminta yang baru tetapi yang sebelumnya dapat terlupa atau bahkan jauh dari sempurna?“

Orang tua itu tampak terkejut mendengar uraian muridnya. “Ha-ha-ha… otak tengikmu ternyata bisa jalan juga!” seru sang guru memuji ala kadarnya. Padahal dihatinya dia sangat girang dan bangga, ‘lihatiah dunia..Anak yang kudapatkan ini pasti sanggup mengaduk dunia persilatan.’ Pikirnya sambil mengusap kepala anak itu. “Baiklah sekarang aku ingin bertanya padamu, dari lima puluh jurus yang kuberikan padamu, apakah sudah kau kuasai semuanya?”

“Belum guru..” jawab anak itu jujur.

“Hah! Jadi selama ini apa saja kerjamu?!” si kakek berlagak terkejut mendengar jawaban si Anak.

“Huu.. guru cuma bisa mencela. Biarpun lima puluh jurus sudah kuhafal semua teori dan gerakannya, tetapi hingga saat ini hanya tigapuluh jurus yang dapat kulatih secara sempurna, dan aku jamin guru tidak akan kecewa melihat hasil kerja kerasku selama ini.” Kata anak itu dengan yakin.

“Tiga puluh jurus kau latih sempurna? Ah! Dasar Anak tengik! kalau bicara selalu ngaco, coba kulihat sampai dimana kesempurnaan jurus yang kau latih..” ujar kakek itu sambil duduk di bangku depan gubuk.

“Baik!” Lalu anak jangkung itu berdiri menjauh dari tempat gurunya duduk. Baju Kuning yang sudah pudar warnanya dia lepas. Dan tampaklah tubuh yang padat berisi, dengan otot terbentuk sempurna dan mulai menampilkan lekuk kokoh.

“Hm, tak kusangka anak baru berumur sepuluhan tahun seperti dia sudah bertubuh demikan baik dan lentur… agaknya dia memang anak yang tekun berlatih.” Pikir lelaki berpakaian sederhana itu dari persembunyiannya.

Gluduk Alit bergerak perlahan, kaki kirinya maju kedepan satu tapak. Lalu dengan gerakan cepat, tangan kirinya membuat gerakan mematuk dan mencakar, sedangkan tangan kanannya bergerak menotok kesana kemari, pada jurus pertama Anak itu sudah bergerak sedemikian hebat. Tetapi dua kakinya tak bergerak sama sekali, begitu memasuki jurus kelima, kakinya mulai bergeser membentuk lingkaran dan segi lima yang teratur.

Pada saat memasuki jurus ke sepu­luh, anak itu perdengarkan lengkingan tinggi, lalu ia bersilat dengan gerakan melompat seperti belalang, dua tangannya memainkan gerakan yang berbeda, matanya tampak seperti mata orang juling, Sebab mata kirinya memperhatikan gerakan tangan kiri dan mata kanannya memperhatikan gerakan tangan kanan. Memasuki jurus keenambelas, sontak gerakan anak itu berubah hebat, dari pukulan cakaran dan totokan, kini berubah menjadi penuh tendangan. Kakinya yang panjang berkelebatan kesana kemari. Sampai jurus keduapuluh gerakan kaki itu berhenti sesaat, lalu ia diam saja.

Tiba-tiba Anak itu berteriak keras, tangannya berkeiebat mendorong kedepan sedangkan tubuhnya direndahkan—nyaris jongkok. Saat ia mendorong, kuda-kuda Anak itu tergempur kedepan, tetapi yang amat mengagumkan, Anak itu bersalto kebelakang dengan lentingan tinggi, lalu berdiri masih dalam keadaan kuda-kuda setengah jongkok.

Mendadak gerakan kakinya berubah drastis, dari kuda-kuda setengah jongkok, kini menjadi berjingkat dengan satu kaki, sementara tangan kanan dan kirinya melakukan serangan meiingkar-lingkar dengan ujung jari menguncup seperti membuat paruh. Kalau tangan kiri menyerang kedepan, tangan kanannya melakukan pertahanan dengan gerakan melingkar dan melakukan serangan beruntun di belakang tangan kiri, sementara kaki kiri yang menggantung melakukan tendan­gan kedepan dan kebelakang, langsung disusul dengan tendangan memutar.

“Hiaaat…”

Tiba-tiba gerakan Anak itu seperti tak bertenaga lagi, tubuhnya menggelosoh seperti ular melata, dan bergerak dengan tendangan sapuan kaki dan cabikan tangan. Begitu gerakan serangan yang amat aneh itu berhenti, tubuh si Anak melenting dan bersalto, jari tangannya terkepal keras sehingga buku-buku tangannya berderak-derak saking kencangnya dia mengepal. Dua tangannya dia silangkan di depan dada, lalu disentakan kesamping kanan dan kiri. Kemudian kepalan tangan si Anak membuka dan tersemburlah sinar hitam yang bergerak cepat menyambar pohon.

Crep-crep-crep! Sinar hitam itu menancap di pohon, dan gerakan anak itu pun berhenti. Anak itu mengatur nafasnya yang sedikit memburu, ialu ia bersila didepan gurunya.

“Astaga.. Anak sekecil itu bisa bersilat demikian mengagumkan, aku yakin benar kalau sudah dewasa, anak itu bisa menguasai para jawara yang ada. Kalau tidak saiah ilmu silat yang dimainkan tadi memiliki unsur Lima Dolanan Satwa… Kijang, Bangau, Macan, Beruang dan Kera.. meski baru ia mainkan tiga dolanan satwa, tapi gabungan jurus yang dia mainkan sangat luar biasa! Andai jurus itu dimainkan tokoh kosen, kiranya sangat susah untuk memecahkan kelemahannya… benar-benar punya bakat!” gumam orang berpakaian sederhana dari persembunyiannya.

“Bagaimana guru? Apakah latihanku sudah termasuk sempurna?” tanya Anak itu setelah selesai mengatur nafas, mata si Anak kelihatan berbinar cerah.

Kakek itu memejamkan matanya sambil tersenyum tipis. Dalam hatinya ia berkata. “Anak tengik ini bakatnya sangat luar biasa… padahal jurus yang kuajarkan ada tujuh bagian saja dan tiap bagian dipecah menjadi sepuluh bagian, tak disangka pada gerakan sepuluh jurus pertama dia sanggup menggabungkan dengan gerakan berlawanan, hm.. sesungguhnya sampai dimana keuletan otak dan ototnya bila latihannya kukatakan belum sempurna?”

“Latihanmu sudah cukup anak tengik! Tetapi masih jauh dari sempurna!“ si kakek penggai perkataannya sendiri, ia ingin melihat rekasi Anak itu, tetapi tak disangkanya mata Gluduk Alit rampak makin berbinar. “Lagipula kenapa tadi pada gerakan terakhir kau gunakan jurus Kera Menyambit Gunung dengan batu krikil? Bukankah itu gerak jurus kelimapuluh?”

“Memang benar guru, tetapi jika aku tidak melakukan gerakan itu, rasanya permainan silatku lebih kacau, sebab pada jurus tiga puluh seharusnya aku melakukan jurus pertahanan, dan kalau ada orang menyerang, bukankah mudah sekali aku terkena serangan? Jadi kupikir memasukkan jurus limapuluh sebagai serangan kejutan, lebih baik…”

“Anak ini benar-benar cerdik… rasanya jika di kutitipkan pada kakang mbarep pun bakal kewalahan menghadapi otak setannya nanti..” pikir si kakek dalam hati. “Baik! Aku terima alasanmu, tetapi sebagai hukuman keburukan latihanmu, aku akan menambah duapuluh jurus lagi untuk hari ini.. jadi ilmu silat Lima Satwa Sakti kuanggap selesai kuturunkan padamu! Ingat satu bulan yang akan datang aku akan menurunkan silat Delapan Tangan Pemecah Awan, dalam satu bulan ini kau harus sudah bisa kuasai tujuh puluh jurus dengan sempurna, kalau tidak… hm, aku akan turunkan ilmu-ilmu yang lebih rumit lagi!”

“Baik guru!” kata si Anak dengan suara mantap sekali. Semen­tara orang yang dari tadi mengintip guru dan murid tadi makin terkejut mendengar ucapan si kakek.

“Aneh.. kakek ini benar-benar aneh, kulihat latihan si anak sudah begitu bagus bahkan terlalu bagus, tetapi kenapa dibilang jauh dari sempurna? Apakah kakek itu sendiri memiliki jurus yang lebih hebat? Lagipula alangkah janggalnya, sebagai hukuman ketidakbecusan saat lati­han, bukannya peiajarannya diulang lagi, tapi malah di tambah dengan ilmu yang lebih rumit? Hm… benar-benar guru dan murid yang aneh, apakah aku harus menunda perjalananku?” pikir orang itu dalam hati. Tapi dia tak dapat melanjutkan angannya, sebab kedua orang yang sedang dia intai itu sedang melakukan sebuah kegiatan lagi. Mereka benar-benar menarik untuk diikuti.

“Nah, kau perhatikan jurus kelima puluh satu sampai jurus ketujuh puluh.” Sehabis berkata, si kakek bersilat dengan gerakan amat lambat seolah-olah ia baru sembuh dari sakit, tapi yang amat mengherankan hati, Gluduk Alit malah memandanganya dengan mata berbinar gembira. Setelah jurus yang dipergaakan habis, kakek itu berhenti sesaat, lalu tubuhnya berkelebatan cepat sekali sehingga hanya bayangannya saja yang tampak oleh mata.

Wuut-wuut! Tak lama kemudian usailah duapuluh jurus terakhir.

“Bagaimana, apakah kau sudah bisa memperagakannya?” tanya si kakek dengan suara berat, tapi nafasnya biasa saja.

“Apakah dari awal, atau jurus yang tadi guru mainkan?” tanya si Anak.

“Lebih baik kau mulai dan jurus ketiga puluh satu hingga akhir.” ujar si kakek.

“Baik!” Anak itu lalu bergerak dengan amat cekatan, gerakannya tampak lentur tapi agak sedikit kaku, tak lama kemudian anak ini menyelesaikan jurusnya. “Bagaimana guru?”

“Lumayan, inti sudah mulai kau pahami, tetapi satu bulan lagi, kau harus bisa sempurnakan ketujupuluh gerakan itu. Sekarang, coba kulihat latihan tenaga sakti dan peringan tubuhmu, sudah sampai sejauh mana..” kata si kakek.

Tanpa banyak cakap lagi, Gluduk Alit segera bergerak-gerak ringan, dia meloncat-loncat di tempat, Lalu dengan sentakan keras, tubuh anak itu melesat keatas hanpir tujuh tombak dan ia turun dengan lambat. Dan saat itu si kakek menghembuskan nafasnya dengan kuat dengan kibasan tangan kedepan, dari tangannya terdengar gemuruh angin, Gluduk Alit ikut tersapu kebelakang.

“Kurang bagus! seharusnya kau terlontar seperti bulu terkena angin, tapi itu sudah cukup untuk saat ini. Coba perlihatkan tenaga sakti yang kau latih…” kata si kakek begitu kaki Gluduk Alit sudah menjejak tanah kembali.

Dengan patuh anak itu segera berjalan dan dihampirinya batu sebesar kepala kerbau. Lalu diangkat dengan serta merta… orang berpakaian sederhana yang mengikuti latihan Gluduk Alit, mengira batu itu hendak dipindahkan dekat dengan sang guru, tetapi tak diduga sama sekali, ternyata Gluduk Alit malah melontarkan batu itu keatas.

Wuuut! “Lihatlah guru..” teriak anak itu sambil melompat keatas pada saat batu besar itu meluncur turun. Hampir saja orang berpakaian sederhana itu keluarkan teriakan kaget dan ngeri karena dia membayangkan kepala anak itu pecah.

Praaak! Tampak debu tipis mengepul begitu kepala si anak dan batu itu berbenturan. Gluduk Alit tampak turun dengan selamat dan batu yang dilontarkannya pecah menjadi tiga bagian.

“Bagaimana guru?!” tanya Anak itu.

“Hm.. seharusnya batu itu menjadi serpihan kecil.. tetapi untuk tahap pemula sepertimu, sudah cukup lumayan.” Ujar si kakek, dan ia menyambung dalam hati. “kau benar-benar anak tengik yang luar biasa! Kalau saja empat saudaraku melihat ini, pasti mereka akan menggembleng habis-habisan anak ini.”

“Nah.. sekarang kau latihlah semua jurus dan tenaga saktimu, ingat satu tahun lagi kita bakal menghadapi masa yang boleh dikatakan sulit, kau harus dapat menampilkan kebolehanmu. Jangan membuat aku malu!”

“Baik guru…” Setelah menghormat pada kakek jangkung itu, Gluduk Alit tidak kelihatan lagi, nampaknya dia sengaja memperlihatkan ilmu peringan tubuhnya, agar sang guru percaya kalau latihannya kali ini benar-benar akan membuatnya dapat menguasai ajaran sang guru dengan sempurna.

[bersambung]
note: chapter di sini, tidak sama dengan di indozone, saya upload sekaligus supaya memperingkas.

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
Quote | This entry was posted in Petualang Bengal and tagged , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s