122 – Domino Effect : … akhir sebuah awal – C [ii]

Sang Raja memberi isyarat kepada Mangkubumi Pastarana untuk bicara. Dalam saat yang singkat itu, Jaka segera bisa menilai, betapapun seorang raja memang lebih cerdik dan berpengalaman. Dia tidak membiarkan dirinya menjawab pertanyaan, jika itu terjadi sama saja menyerahkan kendali negosiasi kepada lawan bicara.

“Apakah anda tahu kenapa tanda ini terpasang?” Mangkubumi Pastarana memulai dengan pertanyaan setelah mempersilahkan mereka untuk duduk.

“Tidak tahu.” Jawab Jaka dengan berhati-hati, agaknya orang itu sudah memulai sebuah penjajagan. “Tapi menilik gelagatnya, pasti ada tamu yang berkunjung kesini. Dan itu cukup merepotkan anda.”

Mangkubumi Pastarana tersenyum. “Anda salah. Mereka sama sekali tidak merepotkan…”

Jaka segera berdiri memberi isyarat pada lainnya untuk mengikuti. “Kalau begitu kedatangan kamipun tidak diperlukan.” Kata pemuda ini tegas. “Maaf, kami harus segera pergi. Tanda yang kami berikan akan kami tarik kembali, dan hadiah yang diberikan kepada kamipun akan kami kembalikan tanpa kekurangan, mulai detik ini Keluarga Keenam bisa dianggap tidak pernah kenal dengan anda semua.” Jawaban pemuda ini yang tegas dan diluar dugaan membuat Mangkubumi Pastarana tertegun.

Betapa cepatnya orang itu—Jaka, mengambil keputusan, membuat Mangkubumi Pastarana tidak sanggup lagi melakukan nogosiasi dalam posisi yang sama kuat. Bagaimanapun pihak kerajaanlah yang lebih dulu mengundang Keluarga Keenam. Sebagai ‘pembeli’ nilai tawar mereka tidak cukup kuat.

“Tunggu!” sang raja akhirnya berbicara juga, dia berdiri dan melangkah mendekat, membuat semua orang merasa cemas, bagaimanapun juga tamu mereka tetaplah orang asing, keselamatan Sang Raja jelas menjadi prioritas, membuat Mangkubumi Pastarana dan Pratyadhiraksana turut mengiring maju dengan waspada.

Jaka membalikkan badan. Dengan nada tajam pemuda ini berkata. “Ingat, kami bukan kelompok yang berada dibawah ikatan peraturan manapun, kami tidak mengakui kedaulatan kerajaan manapun. Kami bebas berkehendak, kami tidak pernah menolak musuh, dan tidak takut bermusuhan dengan siapapun. Pun jika ada pihak yang kami akui menjadi kawan, lalu harus menjadi seteru kami, tak menjadi masalah besar bagi kami. Tanda yang kami berikan kepada kerajaan ini hendaknya tidak dipandang ringan. Ini sebagai peringatan buat anda sekalian!”

Nada yang tegas tanpa kompromi itu, lamat-lamat membuat mereka menyadari satu hal; Keluarga dari kalangan persilatan memang tidak bisa di perlakukan sama halnya dengan rakyat jelata, mereka memiliki otoritas penuh terhadap kelompok mereka sendiri. Berbicara dengan merekapun harus menempatkan mereka menjadi satu golongan yang setara.

“Baik, anggap aku salah bicara. Mari kita duduk dan merundingkan masalah yang ada.” Kata Mangkubumi Pastarana menyoja memberi hormat.

“Baik!” sahut Jaka dengan tersenyum, cara Mangkubumi Pastarana memberi hormat, bagi orang lain bisa mendatangkan penyakit, tapi tidak bagi pemuda ini. Apalagi Jaka tidak ingin mengecewakan harapan Ekabhaksa. Keluarga Keenam harus memiliki nama yang berkibar mentereng. Desakan hawa sakti yang keluar dari gerakan membungkuk Mangkubumi Pastarana berpilin membuat belasan pusaran yang mengerucut menjadi titik-titik tajam, bermaksud mencabik lawan tanpa ampun.

Sang Raja berkerut kening, meski dia tahu apa yang sedang di lakukan Mangkubumi Pastarana kurang sopan, dirinya tak mau mencegah. Bagaimanapun seorang tamu harus tahu diri, kalaupun mereka harus merendahkan diri karena kalah kemampuan, itu wajar. Tapi kalau mereka bisa bersikap jumawa seperti itu, sudah seharusnyalah mereka mengunjukkan kemampuan. Sang Raja kembali ketempatnya sambil memperhatikan degnan seksama.

Jaka balas menyoja, begitu tubuhnya membungkuk titik-titik dingin segera terhampar membuat situasi seperti beku dalam sesaat, ketegangan kian menjadi. Disaat bersamaan, semua orang bisa merasakan ada desakan bagai bola angin yang berpusing diantara Jaka dan Mangkubumi Pastarana. Hawa dingin yang semua terlihat mencekam ruangan, perlahan surut, berganti dengan munculnya belasan sulur bagai pusaran angin, melibas titik-titik tajam hawa sakti Mangkubumi Pastarana.

Pemuda ini tidak kepalang tanggung pula saat turun tangan, sebab Mangkubumi Pastarana pun tidak sekedar coba-coba dalam mengerahkan kemampuannya.

Krak! Krak! Krak! Belasan kali hawa sakti keduanya bentrok, tak bisa dilihat dengan kasat mata karena terkadang seperti siulet fatamorgana, tapi dilain saat bagai embun yang menguap terkena sinar mentari.

Tiap benturan, membuat Mangkubumi Pastarana merasakan hawa dingin dan dan panas yang berkali-kali menyambar selubung pertahanan dirinya. Meski tidak menyakitkan, tapi desakan dua hawa yang tidak kunjung putus itu, sangat merepotkan dirinya untuk fokus.

Dilain sisi, Jaka juga merasakan keanehan pada serangan Mangkubumi Pastarana, pusaran hawa sakti yang sudah ditangkisnya, terasa membal, lalu membentuk satu pusaran energi yang baru, demikian seterusnya. Rasanya seperti memotong ekor cicak, dan ekor itu tumbuh lagi—dalam jangka waktu yang dipercepat ribuan kali.

Bagi orang awam, keduanya hanya terlihat seperti sama-sama menyoja dalam waktu yang cukup lama, sampai akhirnya; mereka memutuskan untuk menyudahi ‘perang’ dalam rangka merebut ‘angin’ untuk bicara.

Jaka segera menarik tenaganya sampai titik nol, membuat serangan Mangkubumi Pastarana yang belum sempat ditarik, bagai bendungan jebol menghantam Jaka tanpa hambatan. Terlihat senyuman kemenangan tersungging dari semua pihak Mangkubumi Pastarana, termasuk Pratyadhiraksana—meski dia membenci Mangkubumi Pastarana.

Tapi Mangkubumi Pastarana tidak tersenyum sama sekali, wajahnya terlihat berkerut, bingung. Dia merasa serangannya masuk, telak menghantam. Namun dalam waktu yang sangat singkat, pada jalur pengerahan hawa murninya seperti mendapat guncangan, yang membuat nadinya berdenyut nyeri.

Pratyadhiraksana seperti memahami yang terjadi, dia pun turut menyoja, “Terima kasih banyak atas pengertian anda.” Katanya.

Pada saat itu pula Jaka merasa damparan tenaga yang merambat dari kaki hingga kepala, lalu memberikan efek seperti perasan. Terdengar tulang Jaka berderak akibat serangan mendadak itu. Jaka segera mengenali orang itu, dia bisa mengambil jeda serangan pada titik tenaga yang paling lemah, ternyata orang itu yang menyerang dirinya pada malam hari!

“Sama-sama!” sahut Jaka menggerakkan bahu. Kuda-kuda kaki diperkuat, lalu dengan gerakan yang alami Jaka menghentak lutut, memotong aliran hawa sakti lawan. Bahu yang sempat terpilin segera membentuk sebuah satu hentakan—karena dorongan dari lutut, yang segera mengembalikan serangan lawan. Tenaga lawan dibalas dengan cara serupa, memusar pula, merambat cepat membuat Pratyadhiraksana tidak menyangka akan ada balasan seperti itu. Dia merasakan sengatan pada lutut, membuat undur sejengkal langkah. Dari telapak kaki hingga pinggang dirasakan sebuah sengatan lemah, tidak menyakitkan, tapi membuat syarafnya kesemutan.

Kejut tak terkira, membuat Pratyadhiraksana tak berani bertindak sembarangan. Kalau menuruti emosinya, dia pasti akan segera mengerahkan beberapa ilmu dahsyat yang tak pernah dikeluarkan selama dirinya berada di dalam Kerajaan Kadungga. Tapi jika itu dilakukan, tentu akan menimbulkan kecurigaan, dan akan menciptakan musuh tak terlihat, Sang Raja. Itu berbahaya untuk seluruh rencananya.

Sebagai orang yang cerdik, dia segera mundur satu langkah di belakang Mangkubumi Pastarana, seraya berkata. “Mari, silahkan duduk kembali.” Diapun bersama Mangkubumi Pastarana kemudian undur diri berdiri disamping sang raja.

Jaka sangat menyadari dirinya sudah mendapatkan kendali situasi. Sambil duduk, Jaka menoleh kepada Cambuk. Padahal debar di dada Cambuk belum hilang akibat ketegangan tadi, tapi Jaka malah memintanya untuk berbicara sebuah masalah, membuat tenggorokannya tercekat sesaat.

Cambuk membuka buntalan yang sudah disiapkan, isinya potongan-potongan senjata yang dihancurkan Jaka sekalian saat mengacau di Perkampungan Menur, ada juga kain yang berisi noda darah, diatas kain itu terdapat lipatan kain lain. Kemudian secarik kain dengan tulisan.

Melihat hal-hal yang disiapkan oleh anggota Keluarga Keenam, membuat kalang pihak Kerajaan merasa, bahwa; justru mereka yang akan mendengar sebuah kabar, lalu kemudian akan bekerja sama mengatasinya. Padahal sejak semula mereka ingin meminta Keluarga Keenam mengurus pelaku teror tadi malam. Dari yang mengendalikan kini menjadi pihak yang dikendalikan. Demikian perasaan kalangan pihak Kerajaan.

Jaka melihat sedikit kegugupan pada tindakan Cambuk, dia tak mengizinkan kegugupan itu membuat pamor yang sudah ditanam tadi menjadi runtuh. Pemuda ini segera mengambil alih situasi.

“Apa yang ingin dibicarakan?” Tanya pemuda ini memecah hening.

Karena Mangkubumi Pastarana sudah terbentur dengan sikap tegas Jaka, maka orang inipun tidak mau bertele-tele. “Kami mengalami keadaan cukup rumit…” lalu diceritakan kejadian teror tadi malam, membuat Jaka sekalian hampir saja tertawa.

“Banyak orang berkemampuan hebat disini, kenapa harus kami yang turun tangan?” Tanya Jaka dengan mimik serius.

Mangkubumi Pastarana menghela nafas sejenak. “Kau benar, tapi jika kami harus berkonsentrasi mengejar pelaku, atau berjaga-jaga terhadap pelaku yang kemungkinan akan datang lagi, kekuatan kami menjadi terpecah. Sementara masih banyak persoalan lain yang perlu penanganan secara serius.”

“Ah… aku paham.” Gumam Jaka.

“Karena itu, Keluarga Keenam sebagai sahabat kami, harus bertindak membantu, bukankah begitu?” Tanya Mangkubumi Pastarana setengah menodong.

Jaka manggut-manggut. “Kau benar, kami tidak keberatan untuk mencari para perusuh itu. Dan, untuk kalian ketahui… kami membawa beberapa persoalan pelik kepada kalian.”

Sang Raja saling pandang dengan para pengikutnya. “Maksudmu bagaimana?” Sang Raja bertanya bingung.

“Sebelum dijelaskan lebih lanjut, kami memerlukan orang yang mengerti tiga jenis kemahiran.” Kata Jaka membuat Sang Raja tertegus sesaat.

“Katakan…”

“Mpu, tabib, dan orang yang mengerti jenis baju dan tulisan.” Terang Jaka.

Mangkubumi Pastarana mengangguk pada Sang Raja, setelah mendapatkan persetujuan untuk bicara hingga akhir, lelaki ini maju satu langkah dan berkata “Tak perlu tiga orang, cukup aku saja.”

Jaka saling pandang dengan Ki Alih sekalian. “Itu malah lebih bagus.” Seru Jaka mendekat sambil membawakan apa-apa yang di persiapkan Cambuk. “Silahkan periksa ini.” Pemuda ini memberikan beberapa potongan senjata.

Mangkubumi Pastarana memeriksanya dengan seksama, sebelum akhrnya dia meminta kepada seorang ajudannya untuk membawakan pedang yang biasa di pakai prajurit. Tanpa ragu, Mangkubumi Pastarana menghantakan pedang itu dengan ayunan kencang tanpa hawa sakti.

Trang! Prak! Lelatu api muncrat, dan ujung pedang yang digunakan Mangkubumi Pastarana patah. “Apa maksudnya ini?” Tanya Mangkubumi Pastarana tidak mengerti, ternyata pedang prajuritnya secara kualitas kalah jauh.

“Kami baru saja menghancurkan beberapa rumah penempa senjata, semuanya memiliki kualitas sebagus ini, bahkan lebih. Orang-orang yang membuat senjata itu, melakukan jual beli dengan sekelompok pihak yang tidak diketahui. Karena masih di wilayah Kadungga, membuat kami berinisiatif untuk menghancurkan senjata-senjata mereka. Tapi perihal pembeli, itu urusan kalian… ”

“Oh…” barulah Mangkubumi Pastarana sekalian paham, diam-diam mereka memiliki firasat jelek terhadap benda lainnya.

Jika potongan pedang saja bisa bercerita begitu banyak—bahwa; kemungkinan bahaya peperangan sedang mengintai kerajaan, dengan kekalahan telak dipihak Kadungga—karena senjata mereka kalah kualitas. Tentu, cerita tentang dua benda lainnya tak kalah mendebarkan.

“Kemudian ini.” Jaka memberikan kain bernoda darah, menyingkirkan bungkusan kain yang ada diatasnya.

Mangkubumi Pastarana mengamati kain itu dengan seksama, diterawang sesaat. “Tidak ada bekas percikan, hanya rembesan darah. Apakah kain ini tepat dimulut luka?”

Jaka mengangguk, membuat Mangkubumi Pastarana berkerut serius. “Artinya serangan yang dilakukan bukan dengan sabetan senjata, bukan pula pukulan. Tapi sejenis tusukan dengan ujung sangat tajam dan kecil. Namun memiliki daya letus terbatas pada ujungnya, membuat daging atau syaraf yang kena, bisa pecah dan mengalirkan darah cukup deras.”

Jaka tidak berkomentar, sebenarnya dia hampir saja mengatakan; ’serupa dengan seranganmu yang berkesan tajam’, tapi pada forum seperti ini, ucapan tersebut akan sangat membahayakan, karena bisa diolah sedemikian rupa oleh orang-orang yang tak menyukai Mangkubumi Pastarana, untuk menyingkirkan dia dari istana.

“Lalu apa maksud kain ini?” Tanya Mangkubumi Pastarana berkerut kening.

“Ini terjadi tepat di perbatasan kota ini, apakah tidak ada yang tahu?”

Mangkubumi Pastarana menoleh kepada salah satu senopatinya, tapi dia hanya menunduk, artinya; tidak tahu ada kejadian semacam itu.

“Korbannya adalah salah seorang tetua perguruan yang cukup besar, tak perlu kusebutkan namnya, kini dia dalam perawatan kami, sampai sekarang belum siuman juga.”

“Karena luka itu?” Tanya Mangkubumi Pastarana tidak percaya, meskipun luka itu bisa membuat daging koyak, tapi tidak mematikan, tiadk membuatnya menjadi terlalu parah..

“Bukan, tapi karena ini…” Jaka mengangsurkan bungkusan yang tadi ditaruh diatas kain penuh bercak darah itu.

Saat Mangkubumi Pastarana membuka, Jaka menyarankannya untuk hati-hati. “Itu adalah racun yang kami daur ulang kembali dari luka si korban.”

Wajah Mangkubumi Pastarana berubah sangat serius. Meskipun dia tidak memiliki pengetahuan mengenai racun seluas Jaka, tapi cukup mengetahui ciri racun berbahaya dari bentuk dan warnanya. Dengan cepat, Mangkubumi Pastarana menyayat ujung jemarinya, meneteskan darah tepat diatas bubuk racun tersebut.

Cesss! Darah yang tercampur bubuk racun segera menghitam, lalu kain yang digunakan membungkus racun itu secara perlahan ternoda warna hitam.

“Racun apa ini? Sungguh ganas!” desis Mangkubumi Pastarana menyingkirkan kain tersebut.

“Tidak tahu,” Jawab Jaka. “Tapi sifatnya sangat ganas, begitu masuk kedalam tubuh, akan mengejar darah, sagat sulit menyembuhkan racun seperti ini, karena selain sifatnya yang cepat membaur, racun ini juga mengencerkan darah.”

Kata demi kata sudah didengar semua orang, membuat situasi jadi tak nyaman. Sudah tentu Sang Raja pun harus segera bersiap dalam pengamanan yang kian ketat, karena boleh jadi si pemilik racun tidaklah sebaik hati peneror malam kemarin yang hanya ‘bermain-main’ terobos sana sini, gebuk sana-sini.

“Lalu terakhir, ini… silahkan diperiksa.” Jaka menyerahkan kain tipis yang berisi tulisan ‘sedang mengikuti san- – – -’ bagian lanjutan sepertinya sengaja di coret.

Mangkubumi Pastarana kembali meneliti kain. ”Kain ini terbuat dari pintalan serat kayu gaharu, sungguh mahal, lagi pula tidak semua orang bisa membelinya. Ini dibuat berdasarkan pesanan kusus. Pemiliknya pasti bukan orang biasa.”

“Bisa dari kalangan istana?” Tanya Jaka membuat tiap mata menatap kearahnya. Penyakit dalam kata yang diucapkan Jaka sungguh tidak kecil.

Pratyadhiraksana mengumpat dalam hati, ‘setan alas! Dengan ini gerakanku makin terbatas!’ dan tentunya bukan Pratyadhiraksana saja yang merasa demikian, pihak lain yang memiliki mata-mata di sekitar Kerajaan Kadungga-pun menjadi was-was.

“Bagaimana dengan jenis tulisannya?” Tanya Jaka.

Lagi-lagi Mangkubumi Pastarana harus menggeram menyaksikan hal terakhir, begitu banyak kepusingan yang bisa menimbulkan kepanikan, telah di bawa Keluarga Keenam.

“Tiap goresannya sungguh cepat, berkesan tergesa. Artinya dia selalu bergerak mengamati. Tapi siapa itu ‘san- – – ’ yang di maksud?” Tanya Mangkubumi Pastarana membuat  wajah Pratyadhiraksana berubah sesaat. Apakah tujuan Keluarga Keenam adalah Sandigdha? Pikirnya gundah.

“Kami tidak menyelidiki sampai sejauh itu, bagaimanapun ini diluar kewenangan kami. Jika kami harus bergerak untuk menyelesaikan permasalahan, harus ada komitmen yang dibangun diantara Keluarga Keenam dengan siapapun!” tegas Jaka.

Mangkubumi Pastarana menatap orang dihadapannya dengan seksama, baru satu orang dari Keluarga Keenam, tapi sudah menimbulkan kerumitan seperti ini. Bagaimana jika mereka bergerak serentak? Mangkubumi Pastarana tak bisa membayangkan. Dia menatap Sang Raja meminta pertimbangan.

“Kalian meminta komitmen, rasanya itu terlampau jauh!” kata Sang Raja merasa keberatan.

“Terserah anda Yang Mulia…” kata Jaka dengan nada tanpa beban. “Tidak ada kerugian apapun buat kami, toh kewajiban kami menolong Kadungga hanya untuk menangkap penyusup yang menebar ancaman tadi malam. Apa-apa yang kami lakukan—dengan berakhir membawa beberapa barang bukti ini, hanya pekerjaan sambil lalu. Hanya sebagai bentuk perhatian terhadap kawan, supaya berhati-hati. Maka ini tidak untuk dikerjakan dengan serius.”

Bagi mereka, ucapan Jaka seperti menerima recehan, membuang emas. Bersedia mengurus masalah kecil, tapi tak mau yang rumit. Dan seperti yang diisyaratkan tadi, jika pihak Kerajaan Kadungga ingin Jaka sekalian menuntaskan, maka ada komitmen yang harus di bangun.

Berdasarkan gagalnya ujian dari Mangkubumi Pastarana untuk merobohkan Keluarga Keenam, ditambah lagi kemahiran mereka dalam mendaur ulang racun, serta bisa mendapatkan secarik kain langka dengan tulisan sandi, rasanya untuk menuntaskan ketiga masalah yang mereka ungkapkan tadi, jadi mudah sekali. Tapi komitmen apa yang diminta oleh Keluarga Keenam, sampai saat ini Sang Raja enggan ingin tahu. Bagaimana jika nanti Keluarga Keenam ternyata mengganggu kedaulatan negerinya? Ini berbahaya!

Entah mengapa, baik Mangkubumi Pastarana maupun Pratyadhiraksana, memiliki pendapat sama, mereka merasa; memanggil Keluarga Keenam itu tindakan yang terlampau terburu, dan bisa pula menjadi kesalahan fatal. Pratyadhiraksana memastikan Keluarga Keenam akan bertindak layaknya benalu. Dan ini memusingkan! Karena banyak keterbatasan gerak yang bakal di alami Pratyadhiraksana. Padahal sebelumnya dia pernah memerintahkan Sembilan Belantara sekalian untuk mencari tahu tentang Keluarga Keenam. Tanpa diduga, sudah dua kali ini dia bersua, dan semua membawa kerugian baginya! Sudah tentu Pratyadhiraksana merasa dongkol setengah mati!

Sang Raja berunding dengan Mangkubumi Pastarana, dia menanyakan apakah tidak mungkin segala sesuatunya justru merupakan rekayasa Keluarga Keenam untuk mengacau? Mangkubumi Pastarana tak bisa menjawab pasti, dia berpendapat racun yang dibawa Keluarga Keenam bukanlah sembarang racun yang bisa dibuat dalam jangka waktu singkat.

Sang Raja termenung sesaat. “Baiklah, aku akan mengambil resiko besar dengan mendengarkan apa kemauan kalian.”

Jaka tersenyum. “Saya rasa bukan hal yang luar biasa, kami cuma meminta kepercayaan dari pihak kerajaan untuk menyelesaikan semua masalah ini.”

“Oh…” Sang Raja terbelalak, lalu tertawa. “Hanya seperti itu?”

“Ya…” sahut Jaka.

“Itu sangat mudah!” serunya lega.

“Tentunya, jika kami harus menyelidik kesana kemari supaya tidak mendapat salah paham dari pihak Kerajaan Kadungga, ada tanda khusus yang bisa kami dapatkan. Begitu kan?” ujar Jaka.

“Tentu, tentu…” sahut Sang Raja cepat. Tanda kepercayaan yang di minta Keluarga Keenam, itu sama halnya tanda kepercayaan yang di miliki para pejabat kusus yang bertugas keliling negeri.

Mangkubumi Pastarana bisa menghela nafas lega, Keluarga Keenam hanya membutuhkan kebebasan bergerak secara formal—meskipun mereka tidak membutuhkan itu. Tapi entah kenapa bagi Pratyadhiraksana, tetap ada hal yang aneh. Tapi dibagian mana yang aneh, dia tak tahu.

===o0o===

Pertemuan itu ditutup dengan diberikannya empat lencana emas yang memiliki stempel langsung dari Sang Raja. Lencana ini menyebutkan Keluarga Keempat dapat bergerak bebas di seluruh wilayah Kadungga. Bahkan untuk bertemu dengan para pejabat yang saat ini hadir-pun, sama mudahnya bertemu penjual tempe. Tanpa tetek bengek birokrasi menyebalkan.

Satu bidak besar sudah digerakkan oleh Jaka, pemuda ini sengaja meniru tulisan yang berada pada krah baju Nekawarnnarengit yang dibunuh Sandigdha. Kecuali potongan senjata yang memang nyata diambil dari Perkampungan Menur. Bukti lain yang bisa ‘bercerita’ adalah murni rekayasa. Bagaimana dengan ‘bukti’ racun? Itu adalah bentuk reka ulang dari racun yang di gunakan Sandigdha untuk memoles seluruh kereta uangnya, yang dicampur dengan biang racun dari hati merak yang dibuat dengan bisa ular paling keras dari dunia barat—yang juga merupakan pemberian Sandigdha.

Semua yang di lakukan Jaka bukannya tiada arti.. Untuk menipu seorang ahli memang butuh keahlian tinggi pula, Jaka bersama Ki Alih dan Jalada berdiskusi cukup intens untuk menciptakan sebuah pukulan berciri seperti yang disimpulkan Mangkubumi Pastarana. ‘Bukti’ pukulan bercampur racun, makin memudahkan Jaka untuk mengarahkan opini. Kain dengan percikan darah beserta racun, digunakan Jaka untuk mengantisipasi pergerakan orang yang melukai Phalapeksa. Manakala pihak yang berwenang tahu, ada pergerakan misterius dengan berbekal racun dan kemahiran tinggi, membuat Jaka mudah mensinkronkan setiap strategi dalam menghadapi beragam situasi di lapangan. Sebab, kali ini sudah ada lencana emas dari Sang Raja di kantongnya.

Lalu, apa alasannya menggunakan kain dengan pintalan serat gaharu? Sesuai opini yang di arahkan Jaka, kain gaharu jelas hanya bisa dinikmati kebanyakan kalangan kerajaan. Jaka berasumsi, Kwancasakya sudah masuk pula kedalam Kerajaan Kadungga. Dengan menyamakan kalimat yang terdapat di dalam krah baju Nekawarnnarengit, sudah cukup memberikan ‘teguran’ bagi pihak Kwancasakya untuk berhati-hati, agar tidak sembarangan bertindak—mengail diair keruh. Jaka ingin memberitahu pada Kwancaskya, bahwa; Keluarga Keenam memantau gerakan mereka.

Inilah cara Jaka dalam ‘memintal bulu domba’, siapapun oranganya—dalam hal ini Pratyadhiraksana—pasti akan segera memberi tahu seluruh kejadian di balairung istana kepada Sandigdha. Dengan sendirinya Sandigdha si Tangan Bayangan akan menggeliat mencari pelindung, entah dia akan membawa jejak ini kepada si Tua Bangka, atau justru kepada pihak lain—yang belum Jaka ketahui, itulah garis besar rencana Jaka.

Begitu njelimet, membuang tenaga dan pikiran banyak pihak. Apakah hanya demi mengurus tokoh tingkat lima dalam keluarga Tumparaka saja? Tentu tidak. Pada dasarnya Jaka sangat berkepentingan dengan racun masa lalu yang sedang di jiplak oleh ‘si entah siapa’. Karena pemuda ini sadar, ada hal yang jauh lebih mengerikan sedang dirancang oleh seseorang. Dia harus menghentikannya. Hanya itu!

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
Quote | This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , . Bookmark the permalink.

50 Responses to 122 – Domino Effect : … akhir sebuah awal – C [ii]

  1. fada says:

    mas, mantap jaka bayu.. kalo g salah da 3 buku cersil ya mas. q dah download SS1,, tp yg 2 n 3 g bisa d download. kalo ada tlg mas krm k email q yg 2 n 3.. salam hangat

  2. Ki lurah says:

    asa bernostalgia deui baheula sering sakauwwwww sering kewarnet klo dirumah kispeedy lg pundung lamon di ADBM istilahna nunggu wedarnya lontar ayeuna mah nunggu sijaka bayu Sang JANNOTAMa tetep semangat Ki maju terus buat para pengikut sang ketua sakaowwwwwwwww.

  3. Ki lurah says:

    kalau g salah inget mas didit domisili di cihanjuang cimahi? maaf klo salah.

  4. Ki lurah says:

    mantap ki betu betul cerita yang menguras adrenalin. seakan saya dibawa masuk kedalam ceritanya dan saking ngefans nya anak sayapun sy beri nama jannotama.

    • jannotama says:

      Wah serius nih ki lurah? Semoga jannotama-nya ki lurah menjadi anak soleh, berbakti pada orang tua dan ‘sakti mandraguna’ dalam menguasai ‘kedigdayaan’ ilmu2 saat ini….

  5. rif says:

    Luar biasa SS nya mas didit….
    saya sdh berkali-kali baca ini,tapi selalu menarik tuk dibaca….
    semangat selalu mas didit,moga Allah SWT selalu memberi tolong dan karuniaNya kpd anda sekeluarga.

    • jannotama says:

      amin. terima kasih semoga terhibur.
      demikian pula dgn mas @rif (jg kita semua) semoga selalu bersyukur karena senantiasa dalam kasih sayang, hidayah, rahmat dan karunia Allah SWT.

  6. jannotama says:

    amin..
    semoga lancar terus moodnya nih. Sementara sedang saya susun chapter baru untuk mendekati closing DE,dan bisa jadi dasar pijakan untuk episode lanjutan.

  7. dhanie27 says:

    Alhamdulillah ada lanjutan cerita jaka Bayu, pas buat teman begadang nih. maklum kerja malam hehehe..
    rupanya mas didit lg dalam mood bagus nih buat nulis, lanjut terus mas semoga selalu sehat n tambah rejekinya biar makin lancar buat ceritanya, amin

  8. ysn26 says:

    mas didit,q py usul.gimana kalo jgn terburu2 posting di indozone.setelah 2 minggu disini baru per capter di posting di indozone.biar rame blognya gitu.kalo blognya rame,mas didit jg semangat bikin critanya.

  9. ZUAE says:

    Sialaaan Si Jaka mkin hari otak setannya bkin gregetan aja, smpai2 Raja memelas melas bicaranya ama Jaka dasarr hihiks…
    Kang Di2t please jangan d bkin tragis dong crita romansanya Jaka, ckup siti nurbaya aja yg ga2l cintanya hihi, pokoknya 4 adik sperguruan, si putri dan si gadis benteng yg misterius sdh jd hak mutlak Jaka d masa dpan hehe..
    Pendekar Bengal kpan kang???

  10. aris says:

    Menunggu Lanjutan nya ^_^….dari smp baca cersil dari semua pengarang sampai sekarang uda punya anak 3 *.* baru kali ini baca cersil ” SS” tiap 2 jam selalu browsing SS wordpress… siapa tau ada update terbaru……hehehehehe kangen kang jaka bayu…uda kayak kangen ketemu anak…sampai terbawa mimpi….”SS” memang bikin sakau Akut….^_^kalo ada buku nya sampai tamat trus dijual seharga motor juga saya beli……hahahahahahahaha…” GBU Suhu..

  11. BadjoeBarat says:

    Nek saya pokoknya ngikut aja mas. . Di sambung Alhamdulillah, g di sambung jg Alhamdulillah. . Yang penting bs membaca karya mas didit, mantap2 soalnya hehehehe. . .

  12. eds5 says:

    Membawahi orang-orang dengan tingkatan ketua enam sampai ketua sepuluh, lengkap dengan anak buah masing-masing membuatnya, luar biasa bersemangat. Sebelum dirinya harus hancur lebur oleh pemilik Pedang Tetesan Embun, kemampuan Subhaga bisa disejajarkan dengan para ketua enam belas perguruan utama.

    Kemahiran paling menonjol adalah mengorganisasi sumber daya manusia, dia sangat bisa menempatkan orang menurut kemampuan, bahkan terkadang menarik kemampuan terpendam para anak buah hingga mencapai titik optimal. Tidak ada yang menakutkan dari kemampuan tersebut. Kecuali, karena semua begitu lancar tanpa hambatan, membuat Subhaga lupa diri, membuatnya merasa bisa menaklukkan dunia persilatan. Atas ambisi yang tidak biasa ini, dirinya luluh lantak di tangan Pemilik Pedang Tetesan Embun.

    Aaahhh…. Cerita Pedang Tetesan Embun belum sampai ke sini… makin penasaran…

    • jannotama says:

      untuk urusan yg berkaitan dengan tokoh2 masalalu yg habis oleh PTE, sepertinya akan dibahas di PTE. tp sy juga sedang mempertimbangkan u, menggabungnya di SS, dengan pola Flashback spt pd domino effect ini, tapi.. Ya akan berdampak pada kenikmatan membaca.. Mungkin.

  13. BadjoeBarat says:

    Matur suwun mas didit hehehe. . .

  14. jannotama says:

    mas heri, dirasa2 mungkin yang ideal memang 1minggu 1-2 x upload. Tapi tak saya batasi pula.. Pas mood lg jreng.. Siapa tahu bisa lebih. Hehe

    makasih sudah menjadi bagian dari perjalanan SS (demikian juga u/ pembaca yg lain)

  15. HERY says:

    terima kasih berkali kali terima kasih mas didit akirnya kesampaian 1 minggu 2 chapter no coment semua yang di sajikan mas didit sangat luar biasa di tunggu klimax elegi naga batu ,saya kira untuk akir elegi naga batu ini masih banyak menyisakan permasalahan yang mungkin di episode selanjutnya perlu di selesaikan. istimewa untuk waktu dan tenaga juga pikiran untuk menyelesaikan SS INI.TETEP SEMANGAT MAS DIDIT

  16. shino says:

    ini cerita silat yang bener2 gila, ane sampe pusing nunggu cerita lanjutannya……. semoga sehat selalu ya suhu …….

  17. willy says:

    hebat membuat imajinasi berputar liar….kira2 romancenya ada gak yah??..two thumbs up buat bro didit, keren, mantap dan bikin penasaran untuk ceritanya

    • jannotama says:

      maturnuwun jika terasa terhibur…

      Tentang romance insha allah ada, tak segila yuda tentunya:D, saya sedang merancang kisah cinta yg mengenaskan untuk tokoh kita.. Kira2 bagaimana? Hee..

      • willy says:

        Jangan seperti pendekar aneh romancenya…jangan2 si jaka punya kekasih dibunuh sama organisasi saudara satu atap nih..hihihi makin kacau pemikiran liarnya

      • jannotama says:

        mas willy, seperti apa nantinya.. Kita lihat bersama, SS saya ploting serius di cerita, kl percintaan hanya sbg pemanis saja, tentu tidak berlebihan..

  18. benny says:

    makin seru ceritanya nih sukses terus buat bang didit dan diberi kesehatan hingga SS bisa muncul setiap minggu 3x aamiiin

  19. aris says:

    dinas dari jakarta-surabaya naik kereta api di temani bab terbaru dari cersil “SS” sambil mengulang dari bab pertama…sungguh asyik sekali.thanks suhu didit.

  20. muryadi says:

    perebutan kekuasaan yg melibatkan kalangan persilatan tingkat tinggi dari masa
    lalu.ambisi masa lalu dari kalangan persilatan yg bangkit kembali,saling memanfaatkan,menjadikan suasana rumit tak jelas ujung pangkalnya.di tambah masuknya para pencinta kedamaian-yg tak ingin ada pertumpahan darah.menyebabkan adu fisik dan strategi yg di gelar ,sehingga seperti benang kusut ,,….haduh ini hanya sebagian inti masalah yg ada,blm tentang pencarian jati diri dan keluarga,-membuat cerita masih akan meng ular panjaaaang sekali

    tak ketinggalan masalah asmwara tentunya..hahay…

    • jannotama says:

      uhuk-uhuk, makasih dah ‘merangkum’ inti cerita, semoga umur,kesehatan dan mood berpadu serasi, membuat SS tak lekas basi, hingga akir diksi.. Uhuk..uhuk.
      Asmara, tentu ada.. Tapi tak sebrengsek Yuda di PA,tentunya hehe

      • muryadi says:

        kok pakai terbatuk batuk hehe…kalo dibilang merangkum nggak lah ya,masih jauh kayaknya ,mengingat intrik di atas intrik yg mumet i.hanya sekedar menarik benang yg mulaì terlihat-walau mungkin masih jauh dari pemikiran -mungkin…uhuk …uhuk.,.hmm…(masih ada efek serbuk putihnya jaka hehe)
        di twitter kok gak ada update an .jadi baru tahu ni hari

      • jannotama says:

        iya nih mas muryadi, kl saya tekan button twitter ga mau terbuka sih.. Mungkin browser sy yg ‘ajep-ajep’, jadi promo ke twiter beberapa kali tak bisa dilakukan.

  21. jannotama says:

    amin… Terima kasih, semoga mas @yoesman juga demikian.. rizki,kesehatan lancar

  22. yoesman says:

    Terimakasih suhu…smoga suhu didit sllu diberikan kesehatan dan limpahan rejeki…amien

  23. heulang says:

    Terima kasih mas Didit, sudah demikian memanjakan kami dengan mengupload cerita, yang sangat bermutu ini, dalam jarak yang singkat. Semoga mas Didit senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan.

    • jannotama says:

      amin, terima kasih kembali.

      demikian pula dengan mas @heulang dan kawan2 semua, semoga rizki dan kesehatan, keberkahan lancar tercurah, semoga kita senantiasa tak lupa bersyukur pula..

  24. jannotama says:

    mas @eds5, mungkin nanti seperti lumba2 deh.. Kadang keliatan ekornya, kepalanya, bahkan seluruh badannya.. Tapi mendadak lenyap lagi.. Byur, nyelem. Hehe..

  25. xizie says:

    hem. bener bener dah. pdhl hny
    ….Pada dasarnya
    Jaka sangat berkepentingan
    dengan racun masa lalu yang
    sedang di jiplak oleh ‘si entah
    siapa’. Karena pemuda ini sadar,
    ada hal yang jauh lebih
    mengerikan sedang dirancang
    oleh seseorang. Dia harus
    menghentikannya. Hanya itu!
    ….
    tp bs dbuat brtahun2 dan bikin candu bagi para pembaca.
    huft, salut salut.

    • jannotama says:

      hehe.. Memang pengarangnya aja yang rada ‘sinting’ tukang bikin rumit urusan..
      Agak Sesuai slogan aparat kita: “kalo bisa diperlambat, ngapain dipercepat” hehe…

  26. Dhani says:

    ini Baru di baca jam 2 malam. pas begadang betulin laptop org. maklum teknisi. Makasih banyaaaaak deh suhu. Tiap 6 jam an liat di ini Site. akhirnya ada jg sambungannnya. alhamdulilah… hupfff

  27. eds5 says:

    Mantap… langsung sedot… masih belom keliatan ekornya, belom keliatan ujungnya…. keknya masih panjang nih…🙂
    Lanjutttttt… trus bro…

  28. jannotama says:

    monggo dipun waos, bagian ke 2, capter 122 – C
    hufff….
    Lg trial seminggu bisa berapa kali upload nih..:D

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s