122 – Domino Effect : … akhir sebuah awal – C [i]

Gemilang mentari pagi disambut ragam kicau burung. Di sebuah jalanan pinggir hutan, ada dangau yang dibuat alakadarnya oleh sang pemilik tanah. Terdengar bangku berderit perlahan menerima guncangan tubuh gemuk lelaki berwajah bundar, dia Tusarasmi. Orang ini duduk dengan menggoyang kaki. Wajah bundar Tusarasmi, dikuti bentuk tubuh yang juga tambun, menjadikan kakinya terlalu pendek untuk menjangkau tanah, tapi kondisi demikian malah lebih nyaman. Mulutnya sibuk mengunyah biji bunga matahari.

Di hadapan si wajah budar sudah duduk empat orang, Penjual Aren, Pemancing, Pande Besi, dan lelaki usia akhir empat puluh tahun. Saat datang, dia masih memakai kerudung penutup wajah. Ketika duduk bersama para koleganya, dia membuka penutup kepala. Semua orang menahan nafas saat melihat wajah itu. Sebuah luka memanjang dari dahi hingga dagu, membelah hidung tepat di tengah secara rapi. Luka itu sudah menutup, tapi bekas yang tertinggal membuat orang lain merasa seram.

“Kalian tentu sudah tahu kenapa kita berada disini?” kata lelaki bercodet itu membuka percakapan.

Hening, tak ada jawaban. Tapi semua orang mengangguk.

“Perintah sudah turun kepada kita. Aku akan membagi berdasarkan keahlian masing-masing.” Katanya dengan suara dingin. Lelaki ini beranjak menjauh dari orang-orang itu, dari balik pohon besar dia mempersiapkan segalanya, lalu membuka gulungan rontal.

“Tusarami,” sebutnya memanggil si wajah bulat itu, dengan terburu-buru dia turun dari kursinya dan memburu kearah si codet. “Kau akan bertindak sebagai Ketua Satu, daerah operasimu ada di Kerajaan Kadungga. Lakukan hubungan secara rutin dengan tuanku Anusapatik, setiap perintahnya merupakan tugasmu.” Katanya lirih. Lalu dilemparkan sebuah benda kearah lelaki itu. Sebuah lencana terbuat dari emas sebesar jempol dengan bentuk lonjong, ada lambang berbentuk ”X” ditengahnya tertulis angka 1. “Ini, daftar anak buahmu yang tersebar di wilayah Kerajaan Kadungga, mereka tidak melihat orang, mereka hanya melihat lencana.”

Tusarasmi menerima gulungan itu dengan takzim, mendapat tanda untuk pergi dari lelaki bercodet membuatnya segera berlalu tanpa menunggu lagi.

“Benconapaya!” si codet memanggil dengan suara keras, membuat Pande Besi itu bergegas mendekat. “Kau sudah tahu harus kemana?”

Pande Besi yang di sebuat Benconapaya mengangguk.

“Perkumpulan Pratyantara bagi kebanyakan kalangan persilatan, hanya dianggap sebagai perkumpulan penjambret berkelas. Tapi, sebagian besar kabar-kabar aneh yang beredar di dunia persilatan, merekalah yang pertama tahu. Bertindaklah dengan hati-hati, kemungkinan besar, bukan hanya kau yang menyusup. Pratyantara bagaikan primadona diantara telik sandi kelompok lain.” Terang si codet dengan nada rendah. “Jung Simpar sangat pintar dalam membuat anak buahnya bekerja, kau tentu tahu apa alasanmu harus kesana?”

Benconapaya mengangguk lagi masih membungkam, tangannya terkepal erat. Si codet tersenyum dingin. “Kau memiliki dendam pada Jung Simpar, tapi aku harus mengingatkanmu. Nyawanya sangat berharga, camkan itu!”

Pande Besi gadungan itu tercenung sesaat. “Apakah tuan izinkan aku membunuh orang-orang yang tiada kaitannya dengan Jung Simpar?”

“Selain Jung Simpar, seluruh orang didalam perkumpulan itu kau bunuh-pun aku tak keberatan.”

Terlihat seringai bagai serigala di bibir Benconapaya, seperti halnya Tusaramsi dia memperoleh lencana nomor dua, artinya di bertindak sebagai nomor Ketua Dua, gulungan rontal berisi catatan nama-nama anak buahnya juga didapat.

Si codet tak lantas memanggil yang lain, dia menatap punggung Benconapaya hingga menghilang ditelan turunan jalan. Ada sedikit rasa simpati terhadap orang itu. Dia memiliki kemahiran membunuh tanpa perlu mengotori tangannya, atas alasan itu pula-lah yang membuatnya disebut Benconapaya—si akal keji. Dendamnya pada Jung Simpar terdengar remeh, dia hanya kalah bersaing mendapatkan perempuan. Tapi menjadi sebuah karat dendam manakala perempuan yang disukai, digunakan oleh Jung Simpar untuk mengeruk habis-habisan kekayaannya, menipu rontal kitab-kitab ilmunya, bahkan pernah membuat kejantanannya tak berfungsi selama sepuluh tahun! Selama sepuluh tahun yang penuh penderitaan, Benconapaya menjadi sosok yang sangat dingin dalam urusan nyawa. Sekalipun kau adik kandungnya, saat dia membutuhkan nyawamu untuk keperluannya, Benconapaya tak akan ragu menghabisimu.

“Subhaga!” nama si pemancing sudah dipanggil, membuat rekannya si Penjual Aren berkerut kening, dia tidak mengharapkan namanya dipanggil terakhir. Sebab beberapa puluh tahun terakhir, dialah yang mengendalikan Subhaga.

Si pemancing duduk dengan takzim di hadapan si codet. “Kau mendapatkan racun lagi?” Tanya si codet saat menyaksikan langkah berat si pemancing.

“I-iya…” jawabnya dengan suara lirih.

Si codet mengambil tabung bambu dari balik bajunya. “Mulai sekarang, kau bebas. Kaupun akan merasa berbeda…” Katanya sambil menyerahkan sebutir pil sebesar ujung kelingking. Subhaga menerima dengan gemetar, tidak menunggu lama, dia mengunyahnya, dan menelan dengan susah payah. Si codet tersenyum dingin, di sela-sela pekerjaan seperti ini kadang-kadang dirinya bisa menemukan hiburan. Saat kau bisa mengikat loyalitas orang lain, itu menjadi kesenangan tersendiri. Si codet bisa menjamin, Subhaga bisa berkorban nyawa untuknya.

“Kau menjadi Ketua Tiga, wilayah kerjamu khusus Kota Pagaruyung. Ini adalah hal-hal yang akan kau kerjakan,” katanya menyerahkan gulungan kulit kambing.

Subhaga membukanya, matanya berbinar. “Baik!” sahutnya tegas. Membawahi orang-orang dengan tingkatan ketua enam sampai ketua sepuluh, lengkap dengan anak buah masing-masing membuatnya, luar biasa semangat. Sebelum dirinya harus hancur lebur oleh pemilik Pedang Tetesan Embun, kemampuan Subhaga bisa disejajarkan dengan para ketua enam belas perguruan utama. Kemahiran paling menonjol adalah mengorganisasi sumber daya manusia, dia sangat bisa menempatkan orang menurut kemampuan, bahkan terkadang menarik kemampuan terpendam para anak buah hingga mencapai titik optimal. Tidak ada yang menakutkan dari kemampuan tersebut. Kecuali, karena semua begitu lancar tanpa hambatan, membuat Subhaga lupa diri, membuatnya merasa bisa menaklukan dunia persilatan. Atas ambisi yang tidak biasa, dirinya luluh lantak ditangan Pemilik Pedang Tetesan Embun.

Subhaga berjalan perlahan hingga akhirnya berhenti sesaat didepan si Penjual Aren, pada setiap langkahnya, hawa sakti membumbung, menembus titik-titik yang terbelenggu dua puluh tahun lampau. Wajah si Penjual Aren berkerut tak senang, dia bukan orang buta, apa yang di lakukan Subhaga adalah pamer kemampuan untuk berkata; kau tidak layak lagi memerintahku. Tiap langkah Subhaga membangkitkan hawa murni yang kian bergejolak liar, menerjang setiap sudut syaraf, membangkitkan kekuatan yang pernah menjadi andalannya. Saat tubuhnya lenyap dari pandangan si Penjual Aren, semangat Subhaga telah pulih total.

Si codet menghampiri Penjual Aren. “Kau, ikuti aku!” desisnya tanpa banyak bicara, lalu melesat begitu cepat.

Hal itu cukup membuat Penjual Aren tertegun, tak sempat bertanya, diapun mengikuti dengan ketat. Di sepanjang jalan, hatinya bertanya-tanya; ‘apakah aku bersalah? Sampai-sampai tidak mendapatkan tugas tertentu?’

Saat si codet menghentikan langkah di sebuah gerbang, si Penjual Aren bisa membaca tulisan itu. Perkampungan Menur. Suasana sangat senyap, membuat si codet mengerutkan kening. Mereka bergegas masuk kedalam, melalui gerbang yang tak tertutup itu, dalam perkampungan tak ada satupun orang terlihat, begitu lengang. Dua hari yang lalu si codet pernah datang ke perkampungan ini, dan saat itu semua terlihat normal.

Si codet memberi isyarat kepada Penjual Aren untuk memeriksa. Keduanya bergerak keseluruh penjuru untuk memeriksa kemungkinan informasi yang bisa didapatkan.

Tak berapa lama kemudian, si Penjual Aren sudah menghampiri si codet. Dia membawa sepasang pedang dengan ketebalan yang tidak biasa. Si codet memeriksa pedang itu.

“Apa ini?” Tanya si codet.

Tentu saja si Penjual Aren tahu maksud pertanyaan itu, si codet tidak bertanya karena bentuknya, tapi kenapa ada pedang seperti itu di Perkempungan Menur.

“Pedang ini tidak memiliki insial siapa yang membuat, seperti yang biasa di buat Perkempungan Menur. Tapi dari kekerasannya yang belum optimal, ini belum terlalu lama dibuat. Logam pembentuknya termasuk dari jenis paling baik, aku bisa memastikan bahan dasar ini masih bisa didapat di seputar Kota Sakadhawara. Ada tiga jenis pemasok, dua diantaranya aku kenal, dan mereka tidak memiliki bahan seperti ini. Tinggal memastikan yang satunya. Kesimpulan sementara, pedang ini dibuat di sini.”

Si codet mengerutkan kening. “Ada berapa jenis pedang seperti itu?”

“Hanya dua ini saja.” Jawab si Penjual Aren

“Apakah ada sisa bahannya?”

“Ti-tidak.”

“Jadi, apakah kesimpulanmu itu masih mungkin?”

Penjual Aren ini tergagu, “Ti-tidak… rasanya, tidak.” Sahutnya tergagap. Si codet sangat mudah mengkoreksi kesimpulannya. Mungkin dengan dia diharuskan mengikuti si codet, akan mendapatkan pengetahuan baru. Ini cukup menghiburnya.

“Menurutmu, kenapa banyak senjata berpatahan disini?” pertanyaan si codet seperti menguji, membuat Penjual Aren harus hati-hati menjawab.

“Kurasa, ini seperti pengujian… anggap saja pihak lain atau katakanlah orang dalam perkampungan ini sendiri yang menguji tingkat kekerasan senjata-senjata mereka. Nyatanya tak ada satupun yang bertahan dalam satu tebasan.”

Si codet manggut-manggut. “Apa kau tidak melupakan satu hal penting?”

Penjual Aren mengerutkan kening. “Ah ya, tidak adanya jejak-jejak kaki pada bangkai senjata. Orang yang menghancurkan senjata ini pasti memiliki kemahiran tinggi.”

“Bisa kupastikan, bukan orang dalam perkampungan.” Gumam si codet. “Lanjutkan…”

Lelaki bernama asli Tuhagana ini mengerutkan kening. “Ya-ya.. kesimpulanku tadi salah besar. Ada orang datang kesini melakukan teror. Bisa kita tinjau dari lenyapnya seluruh penghuni perkampungan ini.”

Si codet membenarkan. “Kau belum melihat reruntuhan bangunan, coba kau periksa.” Perintahnya, membuat Tuhagana segera bergegas. Meski dirinya cukup teliti, ternyata si codet jauh melebihinya.

Tuhagana memeriksa reruntuhan yang meranggas gosong, namun tiap serpihan kayu bangunan itu ternyata luar biasa keras. Pilar bangunan yang memiliki pecahan serpihan dalam besaran sama, hanya ada dua. Artinya orang itu sengaja menghancurkan pilar penyangga bangunan untuk membuatnya runtuh.

“Aku tidak tahu jenis ilmu apa yang menghancurkan pilar kayu ini.” Gumamnya setelah berhadapan kembali dengan si codet.

“Tak usah salahkan dirimu. Ilmu di dunia ini memang sangat luas.” Kata si codet menerawang salah satu serpihan kayu. “Ada dua jenis ilmu disini, aku bisa memastikan pukulan penghancur yang dipenuhi unsur api, segera diredam dengan pukulan dingin. Bukan sembarang pukulan dingin yang bisa di uapkan suhu, namun dingin yang membekukan dengan menguatkan unsur paling lemah. Arang yang lemah digubah membatu…”

Tuhaguna tercekat. ”Apakah yang melakukannya satu orang atau lebih? Lalu pukulan macam apa itu?”

Si codet terdiam, pada masa lalu dirinya sempat di sebut orang dengan julukan Mahaprajna, namanya sendiri memang Prajna. Berhubung karena kepintarannya, orang menambah nama dengan Maha. Tapi, munculnya Sadhana membuatnya dia jungkir balik, analisis sang Serigala lebih tajam dan lebih mumpuni ketimbang dirinya. Tokoh-tokoh terhormat lebih suka berbicara kepada Sadhana, dan sisanya—orang-orang kalangan rendahan, lebih mencari dia. Karuan saja kondisi ini membuat dirinya marah, dengan semangat tinggi di tantangnya Serigala untuk bertarung, yang akhirnya menjadi penyesalan mendalam bagi Prajna. Sebuah luka yang tidak mungkin hilang menjadi identitas baru. Mahaprajna menghilang, berganti nama dengan sebutan Ekajâti. Si codet menghukum dirinya dengan sebutan untuk kalangan sudra— Ekajâti, terlahir sekali lagi menjadi kalangan rendah. Nama Ekajâti sebagai peringatan baginya utuk selalu mengejar kemampuan Sadhana.

Kini, pertanyaan Tuhagana membuat gerahamnya mengembung—kesal! Saat ini dia tidak bisa menjawab, dan itu membuatnya seperti dihantui bayangan Sadhana yang tengah tersenyum mengejek. “Aku.. tidak tahu.” Jawab Ekajâti jujur menekan kekesalan. “Tapi bisa kusimpulkan orang ini bukan dari keluaran perguruan utama. Ada kemungkinan dia pemegang ilmu mustika.”

“Kurasa untuk mempersempit hal ini, kita bisa melacak dari pemasok terakhir.”

“Tidak perlu, itu bisa menyusul nanti.” Ujar Ekajâti menggeleng. “Aku menemukan satu sandi telik, kita akan mengikuti ini.”

Keputusan sudah dibuat, namun rasanya Tuhagana masih belum puas. “Jika anda tidak keberatan, aku bisa mengerahkan kekuatan yang sudah kuhimpun di perbatasan timur Kota, untuk memastikan.”

Ekajâti tersenyum tipis. “Seharusnya itu sudah kau lakukan, tanpa harus bertanya padaku. Pergerakan kita harus efektif.” Lelaki bercodet ini lalu menjelaskan pada Tuhagana tentang jenis dan kegunaan simbol yang dia temukan. Ekajâti menyatakan supaya Tuhagana mengikuti tanda-tanda itu.

Tak menunggu lebih lama, mereka berpisah jalan. Ekajâti mengikuti sandi telik, yang sejak awal Jalada sudah mengikuti orang yang membuat sandi tersebut. Tuhagana berkelebat cepat menuju pusat kota.

Mereka begitu bersemangat bergerak, tanpa sadar sudah menjadi bidak rencana Jaka Bayu. Kosongnya Perkampungan Menur, dan Pedang yang sengaja ditinggal, lalu sandi yang akan tercipta karena kondisi panik… semua sesuai rencana Jaka. Cara pemuda itu ‘memintal’ memang unik, ‘bulu domba’ memang akan segera dipintal, dan biasanya tidak pernah lepas dari ‘kotoran’ yang menempel pada bulu. Ekajâti sekalian sebagai ‘kotoran’, entah akan digunakan atau tidak oleh Jaka, semua tinggal menunggu waktu pula. Menunggu hasil akhir dari rencana Keluarga Keenam yang sudah mendapat undangan resmi dari pihak kerajaan.

===o0o===

Pagi itu di pusat Kota Skandhawara sangat semarak dalam keheningan. Bagaimana itu bisa terjadi? Hening karena tidak ada satupun orang yang berani keluar rumah. Semarak, karena setiap pintu rumah, dalam radius dua pal dari istana ada prajurit berjaga, jalanan begitu lengang. Tuhagana menyumpah panjang pendek, setiap pejalan kaki yang memasuki radius dua pal, langsung diarahkan untuk menyingkir menjauh. Kondisi seperti ini membuat orang-orang yang ditanam di sekitar kota jelas tidak bisa berkutik. Untuk menyelinap di pagi hari seperti ini jelas tidak bisa dilakukan. Mau tak mau, Tuhaguna hanya bisa mengamati situasi, dia tahu jika kondisi seperti ini diberlakukan, pasti ada kejadian penting di istana, dan kalangan istana sedang bersiap-siap menyambut tamu.

Lelaki ini sudah tinggal di Kota Skandhawara itu selama dua puluh tahun. Seingatnya, dalam kurun waktu tersebut, hanya ada empat kali kejadian serupa saat ini. Tapi di masa lalu, pengamanan para prajurit pun hanya berlaku tak lebih dari setengah pal wilayah istana. Diam-diam timbul rasa ingin tahu Tuhaguna.

Dia bergerak menjauh, mengharap ada salah satu dari anak buahnya memberikan tanda. Dan tanda itu ditemukannya menjauh dari pusat kota, mengarah tepat kepondokan didalam komplek kolam ikan. Tuhagana tidak melihat adanya perubahan pada tanda yang sudah disepakati, ini membuatnya yakin.

Tapi, manakala dia akan masuk kedalamnya, sesaat dia merasa ragu. Intuisinya menyatakan ada bahaya di depan sana. Tuhagana membalikan badan… dan nyaris saja dia berteriak kaget saat dibelakangnya ada orang yang tengah menggedong tangan.

“Kau mau masuk?” Tanya lelaki paruh baya itu.

“I-iya…” Tuhagana cepat tanggap menjawab dengan menggeregap, “Sa-saya ingin menawarkan air aren kedalam.” Ya, sehari-harinya dandanan Tuhaga memang seperti orang nderes air nira, dengan dua bumbung bambu besar digendong.

“Kenapa harus jauh-jauh kemari?” Tanya orang itu dengan kening berkerut.

“Soalnya, pusat kota tak bisa dimasuki, supaya bisa balik modal untuk hari ini, ya.. saya tawarkan kesiapa saja…”

Orang itu manggut-manggut sembari menatap Tuhagana dengan seksama, dia bersuit sejenak lalu melambai pada gerumbulan semak di komplek kolam. Seseorang muncul dan berjalan mendekat.

“Benar, dia penjual aren?” Tanya orang itu pada si pendatang.

“Benar. Dia memiliki kedai di perbatasan luar kota dekat sungai.” Jawabnya.

“Sudah berapa lama berjualan?”

“Belasan tahun.” sahut si pendatang

“Hm…” orang itu menatap Tuhagana. “Kau masuklah, akan kubeli…”

“Ba-baik…” Atas tanya jawab tadi, Tuhagana menjadi sangat terkesip, untung saja sehari-harinya dia memang benar berjualan air aren. Keraguan membuatnya ingin menghindar dari orang-orang itu, tapi masa sih penjual aren punya kewaspadaan seperti itu? Dengan mengeraskan hati dia melangkahkah kaki kedalam.

Tanda itu berhenti tepat di pintu komplek kolam, pematang menuju bangunan itu cukup lebar, di kanan kiri terlihat gemercik air terdengar karena riuhnya ikan berebut makanan. Saat memasuki ruangan, Tuhagana menahan sekuat tenaga untuk tetap bertingkah seperti biasa, dia menahan diri untuk tidak berseru kejut. Bagaimana tidak, seodag dari anak buah yang baru dikumpulkannya, tengah menyantap bubur. Pandangannya menatap kosong, tangannya menyendok perlahan, di sebelahnya sudah menumpuk tiga-empat-lima.. sembilan piring bekas bubur. Tuhagana sangat sulit untuk menelan ludah karena perutnya tiba-tiba terasa kejang. Dia tahu metode yang sedang dilakukan orang-orang ini terhadap anak buahnya serupa Çabda Daharijja—kalimat sejahtera, yang bersifat seperti hipnotis.

Mereka tidak menanyakan apapun, hanya menyuruh si korban makan dan terus makan, tak perduli sang korban merasa sesak, pada saatnya nanti, Çabda Daharijja akan dilepas, mereka akan bertanya satu kali saja, jika korban masih menyangkal, Çabda Daharijja akan membelenggunya lagi, dan dia akan terus makan…makan dan makan, sampai mati.

“Sa-saya letakkan dimana?”

“Taruh saja di situ.” Katanya menunjuk meja disamping orang yang tengah makan bubur.

Tuhagana memang kejam, tapi kalau harus membunuh anak buah karena desakan yang tidak perlu, itu belum pernah dilakukan. Aren ini memang enak, tapi juga bisa membunuh kalau kau meminum dibawah kuasa Çabda Daharijja. Setelah mendapat uang, Tuhagana bergegas permisi dan segera pergi, dia ingin sekali menghajar orang-orang itu. Tapi kehadiran salah seorang yang tak terdeteksi olehnya cukup membuat dia sadar, dirinya tengah berhadapan dengan kalangan berilmu tinggi. Membuatnya berpikir jernih untuk segera menjauh.

Setelah Tuhagana lenyap, podok itu diguncang tawa berderai. Orang yang makan bubur tertawa hampir saja tersendak. Tangannya meraup wajah, dan terlihat wajah tuanya. Dia Ki Alih.

“Jaka… Jaka, akal setanmu memang aneh-aneh! Apa kau tidak kasihan dengan orang itu?” katanya di sela-sela tawanya.

Dari dalam, pemuda yang sudah menyamar menjadi lelaki paruh baya ini tertawa pendek. “Dia memang pejual aren, informasi Penikam tak diragukan. Sayangnya gerakan orang itu tak cukup baik dalam menyembunyikan himpunan hawa murni. Sikapnya juga dibuat terlalu santai, malah makin mencurigakan. Apa paman tidak memperhatikan sorot matanya saat melihat wajahmu tadi? Matanya berekspresi cukup serius. Haha… sungguh penjual aren yang sakti.”

mereka masih sempat bercakap-cakap sesaat, hingga akhirnya seorang paruh baya lain  masukkeruangan. “Cukuplah main-mainnya, kita sudah ditunggu!” Kata Cambuk yang tadi bertanya jawab dengan Jaka di depan komplek kolam, mempermainkan Tuhagana. Orang ini telah mempersiapkan segala keperluan untuk dibawa ke istana.

“Mari…” kata Jaka mendahului keluar.

Ternyata, bendera kebesaran Keluarga Keenam cukup membawa dampak bagi lingkungan sekitar istana. Pembersihan yang di lakukan besar-besaran oleh pihak kerajaan, membuat orang-orang Tuhagana terpaksa harus menyingkir. Ini malah menguntungkan pihak Jaka. Di mata Penikam, orang-orang semacam itu sangat bisa dibedakan jika dibandingkan penduduk biasa. Mereka meringkus tiga orang dengan cepat, lalu membawanya kedalam komplek kolam. Di sepanjang jalan, Jaka membubuhkan tanda sandi yang didapatnya dari saku mereka. Dan kesudahannya, itu memancing kedatangan Tuhagana, membuat Jaka sekalian bisa memberi tanda, siapa-siapa orang yang harus mereka waspadai.

===o0o===

Mungkin para prajurit banyak yang menyumpah panjang pendek, dalam bayangan mereka tamu yang akan mereka sambut itu rombongan besar dengan perbawa gagah mengesankan. Tak tahunya hanya empat orang tua saja. Jaka Bayu, Penikam, Cambuk dan Ki Alih. Tampang mereka semua paruh baya, bajunya sederhana saja. Tapi yang membuat istimewa, langkah-langkah kecil mereka ternyata melesatkan tubuh hingga belasan langkah kedepan dengan gerakan lambat–melayang! Ini demonstrasi peringan tubuh yang hebat!

Pratyadhiraksana yang turut menyambut didepan gerbang, terlihat begitu tegang. Jika orang yang sempat dia hadapi beberapa hari lalu adalah salah satu panglima Keluarga Keenam, empat orang itu entah bertindak sebagai apa. Dia cukup mengerti bagusnya kualitas peringan tubuh para pendatang itu.

Rombongan itu di pandu Pratyadhiraksana menuju balai pertemuan. Disana sudah menunggu Sang Raja, Widyabhre dan Mangkubumi Pastarana, lalu terakhir Pratyadhiraksana. Selain itu, disekitar sang raja juga di kelilingi para senopati tangguh dengan beberapa orang berpakaian pertapa, sorot mata mereka tajam berkilat.

Jaka sesaat memandang berkeliling, lalu mereka memberi hormat.

“Maaf jika kedatangan kami membuat situasi gaduh.” Jaka memulai pembicaraan. “Undangan untuk kami sudah ditebarkan, adakah sesuatu yang bisa kami lakukan?”

[bersambung ke bagian 122 – C [ii]]

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
Quote | This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , . Bookmark the permalink.

28 Responses to 122 – Domino Effect : … akhir sebuah awal – C [i]

  1. indra says:

    mas suhu …. lihat mulai dari jilid 1 kemana ???? saya tidak bisa buka di indozone…?
    trims

  2. eds5 says:

    setuju ama xizie… yang utama adalah Seruling Sakti dan pedang Tetesan Embun…
    karena menurut saya, cerita ini yang paling mantap dan butuh “mood” yang luar biasa…
    Yang lain diupload sesekali juga gpp…🙂
    check trus tiap ari sampe 20x… kali aja ada lanjutannya…🙂
    Kagum buat Mas Didit…

    • jannotama says:

      terima kasiiih
      anda benar mas eds5, butuh mood bagus untuk nulis, meskipun kesibukan saya tak seperti dulu.. Tapi saat tahu ikan gurame lagi teler mendekati ajal(musim2 spt skrg ini bikin gurame pada ajeb-ajeb, kemaren smpt mati 18 ekor.. 1ekornya 7-10ons) Ya terang bikin mood langsung menukik, buat nyenggol komputer aja malas hehe..
      *mode rada curhat off*

  3. xizie says:

    tapi bagiku, yg utamax ttp ss, cz klo hny sekali baca pasti kurang, pengenx lagi danlagi.
    munkin jk istiqomah rutin.bs lbh baik.

  4. Dhani says:

    Suhu… Maap Request nih… kalau bisa Tiap Senin nya SS 1 ama 1 lg Pendekar Aneh atau Pendekar Bengal nya Di selang seling ada Di indozone dong… Ini SS rame karna Cerita Yg Njelimet dan 2 Yg Lain biar ga stress nunggu smingu seminggu nih… Kamsia

  5. Nova Yoga says:

    Wah..wah.. tulisan2 penjenengan ini memang seperti “candu” buat penggemar cersil, khususnya saya ini. Bagaimana tidak.. kalau tidak salah hitung sudah 41x saya baca SS dan masih saja tidak bosan dengannya.. sungguh membuat penasaran..
    Salut buat karya Njenengan Mas. Tetap semangat!

    • jannotama says:

      bahwasanya tulisan yg masih mentah,banyak kekurangan seperti ini ternyata dapat disematkan dalam kategori “candu”, sungguh sebuah kehormatan bagi saya.
      terima kasih

  6. garak says:

    1 x baca bikin penasaran,,baca lagi penasaran lagi karya suhu didit emang udah kaya candu,. ditunggu truz kelanjutan “ss”nya,,mudah2an seminggu lebih dari 1 x he.. ngarep ya suhu…

  7. hery says:

    Terima kazih maz didit cuman sangat pendek betapapun pendeknya terima kazih untuk jerih payah mas didit semuanya istimewa di tunggu kelanjutanya.:-)

  8. yoesman says:

    Makasih suhu didit….mga2 seminggu bsa 2x lbh…lagi lagi…sakau trus…

  9. BadjoeBarat says:

    “Katakanlah : “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rizqi bagi siapa yang dikehendakiNYA di antara hamba-hambaNYA dan menyempitkan bagi siapa yang dikehendakiNYA. Dan apapun yang kamu infakan dari sesuatu, maka DIA menggantinya dan DIA sebaik-baik pemberi rizqi.” (QS Saba,34:39)

    Alhamdulillah udah smpai yg ‘c’ . . Makasih untk infaknya mas didit hehehehe. . . . Amiinnn. . .

    • jannotama says:

      amin..

      Semoga dihitung sebagai sedekah yang baik. Dan menjadi pelapang jalan rizki.. Demikian pula untuk teman2 semua, semoga lantjar terus rizkinya..

  10. jannotama says:

    mas @dani27, kelihatannya 2-3 x seminggu jadi demand yah? Kata dokter, kebanyakan bisa overdosis loh.. Hehe

  11. aris says:

    lagi…lagii..lagii…suhu…baca “SS” memang bisa bikin Lupa & Cuekin istri…. …hahahahahaha…

    • jannotama says:

      segitunya? Wah-wah..

      Ada persamaan loh😀 kalo saya, pas lagi mood nulis,istri yg muring2. Abis kl istri lg minta tolong sesuatu, jawabannya “nanti”, dan itu bisa berjam2 yg akan datang..
      gimana istri jadi ngga sewot nih.. Haha..

  12. dhanie27pudlian says:

    Terima kasih mas didit atas ceritanya yang sangat kreatif, membuat kita para pembaca selalu menanti kelanjutan ceritanya. kalau bisa jangan 1 kali semingu, 2 atau 3 seminggu kl bisa hehehe… btw selalu semangat mas. ganbate…

  13. |a says:

    seminggu bisa dua-tiga kali, tentu akan kian memancing kreativitas, hahaha…. terus melaju bung didiet, bersama doa2 kami…

  14. benny says:

    aamiin..moga bisa 2x seminggu

  15. jannotama says:

    meniru jejak pak Dahlan Iskan [MH didokumentasi oleh kawan dahlanis di: http://www.dahlaniskan.wordpress.com ], yang penuh hope (manufacturing hope) tiap senin.. Sepertinya, setiap senin SS bisa hadir menemani teman2.. Insya Allah. syukur seminggu bisa lebih dari 1..😀

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s