121 – Domino Effect : … akhir sebuah awal – B-ii

Bentakan itu keluar dari mulut tiga orang perkasa. Ya, tiga senopati sudah keluar, himpunan hawa murni mereka jelas tidak bisa diremehkan. Mereka bisa melihat lawan yang paling berbahaya adalah orang pertama—Jaka Bayu. Tapi menghadapi Jaka Bayu, mereka seperti sedang melawan angin. Serangan tombak sebagai yang pertama datang, mendesing begitu kuat mengulir menyedot udara disekitar. Dalam waktu yang singkat itu Jaka menyadari bajunya berkibar berpilin tersedot kearah serangan tombak, dengan sigap, pemuda ini memutar tubuh ke kiri menghindari serangan tombak, lalu memukulkan tangan kanan. Karena gerakannya begitu cepat dan memanfaatkan momentum putaran tubuh, pukulan Jaka seperti sebuah sabetan. Dibanding tangan, tombak jelas lebih panjang, tapi serangan Jaka sampai lebih dulu. Rupanya angin yang di timbulkan sabetan tangan Jaka membuat tombak melengkung, mengulir balik kearah penyerang, membuatnya tergetar memecahkan kayu gengaman, sebelum ahirnya mendorong si penyerang hingga belasan langkah.

Belum selesai dengan serangan itu, disaat bersamaan angin menyayat tajam mencoba memotong sabetan tangan kanan Jaka. Pemuda ini tidak mencoba menghindar, dengan cepat, dia menghantamkan tangan kirinya. Tiiing! Serangan yang ditimbulkan golok itu tertangkis angin pukulan Jaka, membuatnya melenceng jauh, mendorong kearah si penyerang tombak. Kaget dengan kondisi tersebut, membuat senopati ketiga yang sedianya akan menghantamkan gadanya kepunggung Jaka, harus melesat lebih dulu melewati Jaka begitu saja—tanpa menyerang, dan menangkis golok senopati kedua.

Traaang! Golok beradu dengan gada, keduanya sama-sama tergetar terjajar kesamping. Namun bisa menyelamatkan senopati pertama dari luncuran golok yang tak terkendali. Ketiganya berdiri bersisian menatap sang lawan dengan tangan gemetar. Bukan saja gemetar karena benturan demi benturan, tapi gemetar karena mereka menyadari, tugas amat berat sudah menghadang didepan.

Serangan itu terjadi hanya dalam tempo kurang dari dua hitungan, tapi gerakan yang sederhana dari sang lawan membuat tiga senopati itu menyadari, lawan mereka bukan sekedar hebat, tapi cerdik luar biasa.

Jaka tertawa, dia memburu kedepan begitu cepat, belum sempat ketiganya siap, tahu-tahu senjata mereka sudah berpindah ketangan sang lawan. Bukan itu saja, tombak senopati pertama tiba-tiba berpindah ke tangan senopati ketiga. Lalu gada senopati ketiga berpindah ke genggaman senopati kedua. Dengan sendirinya lelaki yang biasa memegang gada ini harus menggenggam golok rekannya, tanpa disadari.

Kejadian itu berlaku demikian cepat, dan Jaka sendiri berhenti mendadak di belakang tubuh ketiganya. Membuat orang-orang perkasa ini dengan reflek menghantamkan senjatanya kebelakang.

Trang! Trang! Trang! Tiga senjata saling berbenturan tak beraturan. Mereka lupa, senjata yang ada ditangan masing-masing sudah berubah. Sudah tentu penggunaan tenaga jadi tidak sesuai, dengan sendirinya arah serangan jadi melenceng tak karuan. Golok tertangkis gada, serangan gada yang berlebih tenaga tertahan oleh desingan tombak. Tiga senjata itu saling bentrok, dan berhenti hanya sejarak satu depa dari Jaka.

Lagi-lagi Jaka tertawa, membuat ketiganya meradang.

“Mampus!” teriak mereka menghamburkan pukulan sarat hawa murni.

Senopati pertama adalah keluaran Perguruan Angin Tanpa Gerak, pukulannya bertumpu pada ilmu Angin Tanpa Arah, bagai puting beliung yang berputar tak tentu arah menderu terlontar dari tinjunya, melesat begitu pesat. Senopati kedua, mengerucutkan jemarinya menghantamkan ilmu Jarum Cadas Berkobar, dari Perguruan Cadas Merapi. Angin mencicit mendesing mengiris pendengaran, ditingkahi sinar biru, menyemarakkan malam. Ditambah lagi sebuah Kibasan Tinju Tunggal dari Senopati Ketiga yang pernah memperdalam ilmu di Perguruan Lengan Tunggal, membuat orang sama menyangka inilah kisah akhir dari si pembuat onar!

Tapi, Jaka mungkin dilahirkan untuk menjadi tipe lawan yang paling dibenci. Kemahirannya dalam ‘menerima’ mungkin tidak pernah bisa di tiru oleh kalangan manapun, menerima disini berarti merasakan, meresapi penderitaan, bukan menerima untuk menolak, bukan menerima untuk menangkis. Kibasan Lenga Tunggal terfokus pada satu pukulan sampai lebih dulu, Jaka menyambutnya dengan tangan terulur cepat merasakan benturan dalam sesaat, membuat syaraf di lengan menegang seakan ingin pecah menerima desakan hawa sakti serangan itu, sebelum akhirnya Jaka mengipatkan tangan, menumbukkan angin pukulan senopati ketiga kepada serangan jemari yang mencicit.

Blaaar! Tubuh senopati ketiga terpental kesamping, menumbuk lengan senopati pertama yang mengerahkan pukulan Angin Tanpa Arah-nya. Seharusnya pukulan itu akan menjangkau kepala Jaka, tapi berhubung tumbukan sang rekan membuat lengan mereka saling berbenturan, membuat pukulan-pukulan dahsyat itu cerai berai.

Kurang dari satu tarikan nafas saja, pukulan yang dilancarkan mereka tuntas di patahkan Jaka. Ketiga orang itu termangu dengan kegagalan tadi. Pemuda ini tak menunggu, dia merasa sudah tidak perlu berhadapan dengan lawan, dengan pesat tubuh Jaka melenting masuk kekomplek istana!

Tapi belum begitu jauh Jaka bergerak, lima orang datang menyerang tanpa ampun, tekanan lima hawa sakti yang menderu bermaksud menghancurkan penyusup, membuat Jaka harus mengerahkan peringan tubuh lebih cepat lagi.

Bral! Blar! Ledakan hebat terjadi tepat di belakang tubuh Jaka, pemuda ini enggan untuk berhadapan dengan lima penghadang. Dengan peringan tubuh luar biasa, Jaka bisa menghindari mereka tanpa kesulitan. Menerobos masuk lebih dalam lagi. Perbuatan Jaka ini memang sengaja ingin menarik keluar inti kekuatan dari Kerajaan Kadungga.

===o0o===

Dari kejauhan, seseorang melihat keramaian dari atap bangunan bendahara kerajaan. Dia menghela nafas dingin. Mungkin satu-satunya orang yang paham dengan maksud serangan keistana itu hanya Sandigdha saja. Atas berita dari Keluarga Keenam, sang raja percaya bahwa akan ada serangan ke istana, bahkan Keluarga Keenam sudah menyerahkan tanda untuk siap membantu jika pihak istana sewaktu-waktu mendapat serangan. Serangan yang muncul kali ini memang sangat hebat, Sandigdha bisa melihat para senopati dilumpuhkan dengan mudah hanya oleh tiga orang pengacau.

Sandigdha bukan orang buta, saat dia keracunan, dia melihat orang yang memberikan air kepada pemuda berkedok itu, sosok yang gemuk. Dan kini salah satu dari tiga orang pengacau memiliki postur gemuk. Sandigdha bersumpah, dia yakin para penyatron istana adalah orang yang meracuni dirinya!

Beberapa hari ini dia selalu jadi target orang, yang terakhir oleh si pemabuk. Orang ini meyakini semua itu adalah pekerjaan dari orang yang membuat dia batuk setengah mati. Batuk? Bahkan saat mengintai diatas atap bangunan-pun, Sandigdha masih terbatuk-batuk, meski tidak separah sebelumnya, tapi cukup membuat dadanya gatal dan tak dapat memusatkan perhatian.

“Kau tak bermaksud menghentikan mereka?” Tanya Sandigdha menyadari di sebelahnya sudah muncul orang lain.

“Hmk!” dengus orang itu. “Tidak perlu!” sahutnya dingin.

“Ketidakhadiranmu sebagai Pratyadhiraksana bisa membuat posisimu terancam.” Kata Sandigdha, tanpa memalingkan wajah dia tahu siapa yang hadir.

“Pada saatnya kerajaan ini juga akan jatuh ketanganku, aku tidak takut dengan segala macam ancaman.” Dengusnya. “Lagipula, ada orang pintar lainnya yang menganggap ini semua bukan ancaman.”

“Maksudmu, Mangkubumi Prastarana?” Tanya Sandigdha. Terhadap orang yang baru saja disebut namanya, Sandigdha menaruh kewaspada tinggi. Mangkubumi Prastarana sama dengan mahapatih, ditangan dia pulalah, roda pemerintahan berjalan jika sang raja berhalangan. Kehadiran raja sendiri lebih kepada pemutus persoalan-persoalan genting. Kedudukannya setara dengan Widyabhre—sang wakil raja.

Terdengar graham bergemletuk. “Kalau bukan karena dia, tahta kerajaan ini sudah menjadi milikku.”

Sandigdha bergumam tak jelas. “Dewasa ini, gerakanku juga sangat terbatas. Aku tak bisa banyak membantu, apalagi Tua Bangka itu memata-matai terus.”

Pratyadhiraksana terdengar tertawa kecil. “Dia memiliki empat mata-mata, semuanya sudah ada di tanganku.”

“Kau yakin semudah itu dia ditangani?” Tanya Sandigdha sambil terbatuk-batuk. Orang ini tidak pernah tahu, jika Pratyadhiraksana adalah mantan murid si tua Bangka yang mengganggunya.

Lelaki itu terdiam, meremehkan mantan gurunya jelas merupakan perbuatan konyol, dia hanya mengetahui sekelumit masa lalu sang guru. Pertanyaan Sandigdha telah menguncang sikap menganggap remehnya.

“Apa yang harus kita lakukan?” Tanya Sandigdha lagi meminta kepastian, setelah situasi hening.

“Diam saja, tidak perlu bereaksi!” tegasnya.

“Tapi…” bibir Sandigdha terkunci, sebetulnya dia sangat ingin menceritakan nasib sial yang menimpanya. Tapi, berhadapan dengan Pratyadhiraksana yang licik, dia harus ekstra berhati-hati. Saat Pratyadhiraksana mengetahui nilai tawarnya melemah, dia bisa memastikan orang itu tak akan segan menjadikannya sebagai korban berikut untuk rencana ambisiusnya.

“Ya?”

“Aku hanya memikirkan posisimu saat ini, kita tahu Mangkubumi Prastarana selalu menjadi batu sandungan, dalam kekacuan ini kau pun harus memunculkan diri.”

Saran Sandigdha membuat kening Pratyadhiraksana berkerut. “Ada benarnya juga…” gumamnya.

Saat menoleh Sandigdha tidak lagi melihat lelaki itu. Diam-diam dia menghela nafas lega. Jabatan bendahara kerajaan Kadungga memang atas andil Pratyadhiraksana, sejauh ini mereka bekerja sama untuk hal-hal yang menguntungkan. Tapi jika di pikir lebih lanjut, Sandigdha bahkan tidak mengetahui latar belakang Pratyadhiraksana. Ada kalanya dia merasa Pratyadhiraksana adalah tokoh dari kalangan terhormat, tapi mengingat sikap kejam dan liciknya, dia menyangsikan dugaan itu.

===o0o===

Jaka sudah memasuki wilayah istana, dari perbincangannya dengan Cambuk, pemuda ini bisa mengetahui kemana dia harus pergi. Sang raja memiliki ruangan tersendiri, dengan bangunan tersendiri pula. Jaka sudah berada dijalan yang tepat untuk mencapainya.

Namun, satu sosok orang sudah menghadang dirinya. Dia orang tua berusia akhir lima puluhan, matanya tengah terpejam. Jaka berhenti sesaat, lalu berjalan menghampirinya, sampai jarak mereka hanya tinggal satu jangkauan saja. Dibelakang Jaka menyusul lima orang yang tadi melepaskan pukulan untuk menghentikan pemuda ini.

Pemuda ini hanya melirik atas kehadiran lima orang itu, mereka nampaknya sangat menaruh perindahan pada lelaki yang menghadang Jaka, terbukti mereka tidak sembarang bergerak setelahnya.

Jaka tak ingin basa basi, tangan kanannya mengibas, tekanan tenaga berhawa padat menghantam orang tua itu. Matanya yang terpejam segera terbuka, nampak dia sangat kaget. Tubuhnya miring kekiri, untuk mengelak, tapi mendadak angin pukulan itu berputar menggila tak tentu arah dan mencambuknya, rasa kejut jelas tercermin di wajahnya. Meski orang tua ini tidak kerepotan menangkis desakan angin yang memecut itu. Belum lagi habis tangannya menepis serangan dua tingkat dari Jaka, sebuah desingan meluncur pula dari dalam angin berpusing tadi, menghantam frontal menohok bahu.

“Ih!” orang tua itu merendahkan bahunya dan mengeletar sekali, menaikan bahunya lagi untuk memapaki serangan.

Duuk! Bahunya terasa bergetar hebat. Namun disaat bersamaan terdengar teriakan nyaring dari atas. Cahaya yang menyinari ruangan itu mendadak puluhan kali bertambah lebih terang. Sebuah serangan dengan pijar bagai bola api menghantam Jaka.

Jaka terperanjat dengan datangnya serangan itu, sungguh tak dikira olehnya ada orang yang bisa menempatkan jeda serangan secermat si pendatang ini. Tiga tingkat serangan yang tadi dilancarkan Jaka, memiliki kelemahan karena berhasil ditangkis oleh si orang tua. Kelemahan itu membentuk interval jeda atas susutnya tenaga, tak disangka saat-saat yang hanya terjadi dalam beberapa detik itu, bisa dimanfaatkan oleh seseorang untuk menyerang Jaka.

Wuusss! Bola api bagai mutahan lahar tercurah langsung menghunjam kepala Jaka, pemuda ini dengan sigap menjatuhkan diri, membuat punggungnya menjadi titik rotasi, lalu menerima serangan dengan kaki, memutar dengan cara dikayuh, seperti sedang bermain bola, lalu dilontarkan kembali!

Antara serangan dan pengembalian yang dilakukan Jaka terjadi begitu cepat, detik itu juga Jaka meloncat tepat dibelakang gumpalan api yang baru saja dilontarkan balik.

Duar! Buuk! Tak menyangka serangannya akan di tangkis, dengan sendirinya tak ada waktu untuk mengindar. Dengan lengannya, bola api itu ditangkis. Tapi mendadak dari tengah bola api, muncul kepalan tangan menumbuk lengannya pula!

Jaka memanfaatkan daya pantul akibat tangkisan, sambil melompat lebih tinggi. Tawanya mengalun panjang menggantung di tengah udara, selain sebagai isyarat untuk pergi pada Ekabhaksa dan Ki Alih, Jaka juga sengaja menunjukkan bahwa kepergiannya bukan karena terdesak, tapi karena dia ingin.

Senyap segera menggigit malam. Semua terjadi begitu cepat, tanpa tanda-tanda, pergerakan penyusup tidak bisa dilaporkan pula oleh telik sandi yang berberjaga diseputar istana. Pertarungan singkat tadi menarik tensi ketegangan Kerajaan Kadungga pada tingkat yang tinggi.

“Kau tahu siapa orang itu?” Tanya suara dengan nada berat membuat Pratyadhiraksana—orang yang datang terakhir, menolehkan kepala.

“Mungkin, orang-orang yang di kirim oleh kerajaan tetangga?” sebuah prasangka dari Pratyadhiraksana sengaja dilontarkan. Situasi seperti saat ini, adalah waktu yang tepat untuk mengail di air keruh.

Lelaki tua itu tertawa. “Mungkin saja…” katanya sambil membalikan badan. “Dia menyerangku dengan satu pukulan berisi tiga jenis pukulan berbeda perguruan, membuatmu terperanjat dengan menerobos benteng Tinju Matahari Meletus milikmu. Ha-ha… tentu kerajaan tetangga sangat mudah mencari orang seperti itu. Betul?” orang ini tak menunggu jawaban, dia sudah berlalu.

Pratyadhiraksana termangu-manggu. Jawaban Mangkubumi Prastarana mementahkan kesan yang ingin ditanamkan. Secara satir, pemuka kerajaan itu hendak mengatakan, dugaannya tadi mustahil terjadi. Memang, hampir tidak mungkin mencari orang yang dalam satu gerakan bisa mengeluarkan kemampuan dari ragam perguruan. Sebenarnya dia ingin menyerang dengan Pratisamanta Nilakara, tapi itu sama saja menyingkapkan satu jati dirinya pada sang Mangkubumi Prastarana. Hal itu makin membahayakan posisi dirinya. Pratyadhiraksana menatap bekas pukulan lawan, lamat-lamat terasa ada satu keakraban pada tenaga yang menghantam secara langsung itu.

Wajah lelaki ini mengeras. “Apakah dia?” pikirnya dengan hati tak tenteram.

Selama ini dia cukup tenang dalam mengeksekusi tiap rencana, tapi atas kedatangan satu lawan yang membuat dia harus terluka, dan membangkitkan rasa kawatir tak terkendali saat berjumpa untuk kedua kalinya, mengharuskan Pratyadhiraksana meninjau ulang semua rencananya.

Jika dugaannya benar, pertanyaan utama adalah: untuk apa orang yang sanggup mematahkan Pratisamanta Nilakara bermain pada ‘kolam’ yang sama?

“Keparat! Apa maunya?!” sungutnya dalam hati, seraya memeriksa kondisi didepan istana.

Serangan mendadak itu tidak menimbulkan kerusakan apapun, kecuali memukul ego para prajurit dan senopati, termasuk dirinya.

===o0o===

Sementara didalam kamarnya, Sandigdha terlentang dengan dada bergemuruh. Dia yakin, besok; orang-orang yang menamakan diri sebagai Keluarga Keenam akan datang. Namun, Sandigdha berharap dugaannya salah.

Malam itu dilalui oleh banyak orang dengan perasaan tidak nyaman.

Pagi hari sudah dijelang, saat membuka jendela kamarnya, mata Sandigdha terbelalak. Hampir saja tersendak. Pada bangunan paling tinggi terdapat secarik kain kuning, dengan bagian atasnya terpancang seruling terbuat dari bambu wulung. Lamat-lamat angin yang bertiup melalui lubang seruling menerbitkan suara ‘ngung-ngung’ secara konstan. Itu adalah panji kebesaran Keluarga Keenam, jika pihak kerajaan sudah meletakannya pada bagian tertinggi, artinya mereka mengundang Keluarga Keenam. Ini semua terjadi pasti berkaitan dengan serangan tadi malam! Serangan yang melumpuhkan titik-titik keamanan. Perlahan, Sandigdha merasakan kuduknya berdiri.

“Apa yang mereka incar?” benaknya bertanya-tanya, namun tak satupun jawaban didapat.

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
Aside | This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , . Bookmark the permalink.

30 Responses to 121 – Domino Effect : … akhir sebuah awal – B-ii

  1. Enika says:

    mas didit, PA nya juga yach…ane penasaran abis nih chargenya…

  2. adin cahyono says:

    banyak yang mau mas, apalagi untuk cersil yang berkualitas seperti SS ini. untuk PA dan PB gak dijadikan satu disini ya mas, apa barangkali ada blognya sendiri???

    • jannotama says:

      terima kasih u/ sarannya, ada masukan kira2 penerbit mana yg bisa dikontak? He..

      ttg PA PB rencana mau digabung kesini, berhubung saya nubi bgt masalah web, cara untuk memisahkannya menjadi 1menu kategori tersendiri masih trial eror.

      • jaytra888 says:

        saran aja om.
        bikin page/halaman baru aja. di wordpress dah canggih kq. hehe…
        tinggal nti sorting nya dari kategorinya. sepertinya gitu lebih mudah ya.😀

      • jannotama says:

        ngga gape tu bro mau ganti-ganti.. gimana caranya ya?

        On Tue, Mar 12, 2013 at 1:26 PM, serulingsakti

      • jaytra888 says:

        paling gampang dipisahin lewat katagori om. misalnya gini, katagori utama ada seruling sakti trus PA, dll. lalu dalam katagori itu dibuat sub katagori lagi yaitu bab-bab dari cerita itu. hehe…
        klo misal msh bingung coba mampir ke mbah google atau youtube aja om.😛
        btw, semangat terus ya updatenya SS. “It’s my favourite story”. saya suka gaya manipulasi cerita dan proses pemecahan teka-tekinya. top dah!!!!😀

      • jannotama says:

        makasih ilmunya ya…. nanti saya praktekin
        makasih juga sudah mengikuti ss

      • jaytra888 says:

        siap om…
        moga makin top.
        jgn lupa update yudha gerhana ya…

  3. jaytra888 says:

    Saya menantikan kisah ini bisa dicetak menjadi sebuah buku. Saya pasti beli!!
    Tetap semangat untuk mas Didit. hehe…

  4. januar says:

    tiga kata buat mas didit TERIMA KASIH BANYAK.

  5. mewi says:

    Mantap Lanjut Teruss

  6. dhanie27 says:

    Mantap mas didit, makin seru aja ceritanya …
    ditunggu terus lanjutan ceritanya great… story..

  7. willy says:

    Keren bro..keep posting..

  8. pendosa says:

    kerennn alurnya…… semangat broo nulisnyaa

  9. Dhani says:

    Asiiik rameee nih…
    Aduhhh tambah penasaran ni kisah keluarga ke enam nya mas…. Lanjut terussss

  10. HERY says:

    mantap mas didit gak begitu lama jeda untuk upload chapter ini ,terima kasih sangat penasaran untuk klimak di perguruan naga batu

  11. yoesman says:

    Suhu didit mang bener2 mantabs…SS mang bener2 bkin kta sakaw hehehe…..lanjut suhu…mksih

  12. jannotama says:

    lanjutannya yang kemaren, nih….

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s