119 – Domino Effect : Setitik kesadaran – C

“Jadi ini, yang namanya Wuru Yathalalana?” Tanya Watu Agni atau Jalada dengan suara dingin. “Sama sekali tidak menarik!” ketusnya.

Jaka tersenyum kecut. “Kau mungkin benar, tapi membiarkan orang yang memiliki dasar begini bagus, tenggelam dalam kenistaan mabuk, aku tak bisa tinggal diam.” Kata Jaka sembari memeriksa badan Wuru Yathalalana. Beberapa saat kemudian, nafasnya dihempas keras-keras. “Gila…” gumamnya.

“Kenapa?” Tanya Ekabhaksa ingin tahu.

“Orang ini mabuk bukan karena dia ingin, tapi karena dia terpaksa.” Ujar Jaka dengan prihatin. Penjelasan yang singkat ini menarik perhatian semua orang. Jalada, Cambuk, Ki Alih, dan Penikam mengambil tempat duduk di dekat Ekabhaksa. Bagi mereka, saat Jaka memberikan sebuah ulasan sebab musabab sebuah luka atau penyakit, adalah waktunya menyerap pengetahuan baru. “Aku menemukan pada Sanjiao Wuru Yathalalana, mengalami pembalikan teramat parah.”

“Tolong jelaskan dengan bahasa normal!” potong Jalada dengan wajah mengeras, membuat Jaka tertawa.

“Sanjiao, itu artinya tiga pemanas dalam tubuh kita. Jiao bagian atas itu bagian mulut lambung, tugasnya jelas, hanya memasukkan, tidak mengeluarkan. Jiao bagian tengah, adalah bagian tengah lambung, fungsinya untuk perubahan pencernaan panas yang timbul dari daging, cairan dan sayuran, juga termasuk lendir ludah. Tugas jiao tengah sangat fital, dari perubahan tadi akan dialirkan ke paru-paru untuk diubah menjadi darah…”

“Oh begitu, dan darah itulah yang menjadi sumber makan seluruh tubuh, menjadi tenaga…” kata Ki Alih.

“Tepat sekali!” jawab Jaka senang, penjelasannya ternyata dapat dicerna dengan baik.

“Kalau begitu, Jiao Bawah, tentu tugasnya hanya untuk mengeluarkan saja?” Tanya Cambuk.

Pemuda ini mengangguk-angguk. “Jiao bawah, keluar dari mulut atas usus besar, dan tugasnya memang hanya mengeluarkan, tidak memasukkan.” Kata Jaka menambahkan penjelasannya. “Wuru Yathalalana mengalami pembalikan fatal, Jiao atas mengeluarkan, Jiao bawah memasukkan. Coba paman sekalian bayangkan, manakala makanan masuk, tapi tak pernah bisa dicerna, apa yang terjadi?”

“Mati?” jawab Jalada.

“Benar, tapi dalam kasus Wuru Yathalalana, yang bisa di cerna hanya cairan. Dan cairan yang harus masukpun bukan sembarangan, cairan ini harus bersifat keras, merusak. Karena harus merangsang cairan dalam lambung supaya memaksanya bekerja, memaksa Jiao Tengah melakukan tugasnya, mengalirkan makanan keseluruh tubuh. Agaknya Wuru Yathalalana menyadari, hanya dengan arak yang sangat keras sajalah, baru bisa membuat lambungnya melakukan tugas.”

Penjelasan yang runtut itu membuat mereka bisa mengambil kesimpulan, kenapa lelaki itu disebut sebagai Wuru Yathalalana, dimana-mana dia harus mabuk, dia bukan mabuk karena ingin, tapi karena harus! Karena dipaksa! Karena jika tidak bisa mabuk, maka dia akan mati, karena tidak ada asupan apapun yang bisa membuat paru-parunya mengalirkan darah keseluruh tubuh. Diam-diam mereka semua bergidik. Penikam tahu benar, julukan Wuru Yathalalana sudah tersemat sejak dua puluh tahun lalu, jadi selama itu pulalah sebenarnya lelaki ini menderita.

Tenggorakan Ekabhaksa terasa kering, dia meminum air banyak-banyak. “Lalu pertanyaannya, apa yang membuat Sanjiao Wuru Yathalalana berubah?”

“Aku tidak tahu paman, tapi kesimpulanku begini; ada sebuah tepukan yang berisi tenaga sangat halus meremas lambung Wuru Yathalalana, remasan itu bersifat sinanggraha linumbir. Membuat fungsi lambung berhenti sebentar, membuat makanan yang masuk macet, lalu tenaga yang tersimpan dalam lambung, akan meledakkannya kearah yang berlawanan. Pada saat itu korban biasanya hanya merasakan mulut kecut, sampai pada akhirnya makanan apapun yang di telan akan dimutahkan kembali.”

Mereka mengangguk-angguk, sinanggraha linumbir berarti; disiapkan untuk dibiarkan. Penjelasan Jaka tadi sangat masuk akal, demikian juga dengan analisanya mengenai kemungkinan penyebabnya.

“Apakah ada yang tahu, ilmu semacam itu apa namanya, dan dikuasai oleh siapa?” Tanya Jaka. Pertanyaan itu jelas tidak diajukan kepada semua orang, tapi hanya pada Ki Alih—secara tak langsung, sebagai seorang ahli pukulan, sifat-sifat ilmu pukulan yang ada di seantero dunia persilatan, paling tidak Ki Alih sudah pernah mendengarnya.

Ki Alih menghela nafas. “Kenapa kau harus memungut segala masalah aneh, Jakaaa?” gumam lelaki tua ini dengan wajah terlihat kian menua. Semua orang merasa apa yang akan diungkapkan Ki Alih cukup mengejutkan. Minat mereka meningkat.

“Paman tahu?” Tanya Jaka antusias.

“Ciri-ciri yang kau sebut itu digolongkan oleh para tetua sebagai ilmu sesat. Itu pukulan dari ilmu Durwiweka Punarbhawa.”

“Nama ilmu yang menarik…” kata Jaka dengan suara kering, dari namanya saja; Durwiweka Punarbhawa berarti; tolol menjelma lagi, Jaka bisa mengambil kesimpulan, ilmu itu pasti dikhususkan untuk menghancurkan himpunan-himpunan hawa murni. “Apakah ilmu itu diciptakan untuk menghancurkan hawa murni?” Tanya Jaka memastikan kesimpulannya.

Ki Alih mengangguk. “Itu akibat paling ringan, lebih parah lagi, ilmu itu bisa membuatmu lumpuh hanya menyisakan tulang di balut kulit. Organmu tak lagi berfungsi, tapi anehnya, untuk mati karena dampak ilmu itu sangat sulit. Ini yang membuat para tetua mengolongkannya sebagai ilmu sesat. Karena sekali orang menjadi korban, maka orang lain—atau kerabatnya, dipaksa untuk menjadi pembunuh.”

Jaka manggut-manggut. “Ya, lumpuh dengan seluruh organ tak berfungsi memang lebih buruk dari mati, karena sulit mati—juga tak bisa bunuh diri, maka si korban akan meminta tolong orang untuk membunuhnya.” Penuturan Jaka membuat mereka yang tak paham atas kisah Ki Alih, kini lebih mengerti. “Lalu… siapa yang menguasainya?”

“Pâpahara…”

“Ho, penawar kejahatan… kenapa pula digolongkan sesat? “ Tanya Ekabhaksa heran. Nama yang ‘berbau’ golongan kebenaran, ternyata divonis sesat.

“Aku tak tahu, tapi menurut berita, karena terdesak oleh sesuatu Pâpahara akhirnya bergabung dengan Riyut Atriodra.” Papar Ki Alih lagi.

Suasana menjadi hening, bahwasanya dihadapan mereka ini ternyata ada korban dari ilmu Durwiweka Punarbhawa saja, sudah sulit dipercaya. Lebih sulit dipercaya lagi, ada kabar yang menyatakan Wuru Yathalalana pernah berjumpa dengan golongan Riyut Atirodra. Apakah ini sebuah benang merah? Wuru Yathalalana juga melakukan pembunuhan-pembunuhan yang tidak pernah dicegah oleh Enam Belas perguruan Utama, bahkan Dewan Penjaga Sembilan Mustika, mengapa pula? Dan terakhir, Wuru Yathalalana memburu Sandigdha yang sedang diintai oleh tiga golongan (Si Tua Bangka, Kwancasakya, dan pemilik pukulan Pratisamanta Nilakara). Ini apa artinya?

Jaka tertawa kering. Dia benar-benar sudah memungut sebuah masalah besar. Menurut Ekabhaksa—yang merasa menyesal atas idenya, kalau saja ini bisa dibuang, lebih baik Jaka membuangnya. Tapi pemuda ini merasa sayang untuk melewatkan. Dia menolak ide Ekabhaksa.

“Baiklah-baiklah! Bukankah kunci semua pertanyaan ada pada orang ini? Tinggal kau sembuhkan, lalu cari cara supaya dia bicara, kan habis perkara?!” simpul Jalada dengan nada ketus seperti biasa.

“Ya-ya… kau benar sekali paman, benar sekali…” Kata Jaka tersenyum kecut, menyembuhkan orang memang keahliannya, tapi bagaimana dengan fungsi lambung yang terbalik? Dia belum pernah melakukannya. Ini tantangan baru!

“Arrrgh….” Erangan Wuru Yathalalana memecah konsentrasi Jaka, pemuda ini segera mendekat menatap orang tua bernasib menyedihkan itu dengan ragu. Akhirnya setelah menghela nafas panjang berkali-kali, Jaka memantapkan hati.

Tangan Jaka bergetar hebat, tiap ruas jemarinya mengeluarkan suara derak berkali-kali, hingga akhirnya suara itu tak lagi terdengar. Semua orang tahu, seluruh tenaga, nalar dan budi Jaka Bayu dipusatkan pada jemarinya.

Pada dasarnya, dengan mempelajari tubuh manusia secara detail adalah jalan bagi Jaka untuk mencapai ragam tataran ilmu yang aneh-aneh. Dengan mengetahui sebab luka pada Wuru Yathalalana, ditambah sekelumit keterangan dari Ki Alih, kazanah ide kemungkinan untuk penyembuhan akibat ilmu Durwiweka Punarbhawa, terbuka lebar. Getaran pada tangan Jaka sudah berhenti, tadinya setiap orang bisa merasakan betapa besar beban hawa sakti yang sedang ditahan Jaka, tapi lambat laun, tenaga itu mengecil… mengecil… dan pada akhirnya tidak terasa sama sekali. Tapi berbanding terbalik dengan itu, wajah Jaka memucat, keringat bercucuran deras dari dahinya.

Jaka menyentuhkan jemari dengan perlahan ke lambung Wuru Yathalalana, menekannya sedikit demi sedikit, sampai akhirnya tiap orang terbelalak, saat melihat jemari Jaka amblas kedalam perut Wuru Yathalalana. Tidak-tidak… bukan amblas, tapi seolah-olah seperti amblas, ternyata jemari pemuda ini menekan perut Wuru Yathalalana sedemikian rupa, membuatnya terlihat menembus. Mata Jaka terpejam, nadi pada tangan terlihat berdenyut begitu kencang. Kejadian itu berlaku hampir satu jam, dan kian lama, wajah Jaka makin pucat dengan seluruh tubuh bermandikan keringat.

Akhirnya, Jaka menarik tekanan jemari, lalu dia menghempaskan badan di sebelah Wuru Yathalalana, semua orang bisa melihat betapa menderu pernafasan pemuda ini. Ekabhaksa segera mencengkeram tangan Jaka, dia mulai menyalurkan hawa murninya untuk menopang laju hawa murni pemuda ini.

“Tak usah paman…” kata Jaka dengan suara lirih.

Namun saat semua perhatian orang tertuju pada Jaka Bayu, tiba-tiba saja Wuru Yathalalana membuka matanya, lalu berkata dengan lemah. “Ehm… se-sepertinyaaa… aku mencium bau bu-bubur ayam… ah, kelihatannya enak… air liurku sampai-sampai keluar… bagus-bagus-bagus…”

Jaka tertawa mendengarnya, cukup dari ucapan Wuru Yathalalana dia bisa menyatakan eksperimennya telah membawa hasil baik!

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
Aside | This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , . Bookmark the permalink.

12 Responses to 119 – Domino Effect : Setitik kesadaran – C

  1. muryadi penceng says:

    buat man handoko selamat ber mumet ria hihihi…
    buat om didit semangat terus deh biar lancar updatenya hehehe

  2. hery says:

    Semakin mantap yah walaupun harus menunggu dengan sabar lanjutan chapter beeikutnya,gak ada komentar cuman nunggu aja pertrmuan kompok garis lintang sama kelompok jaka bayu harus ditemukan ( klu memungkinkan mas didit) biar nanti ada kisah cinta yg rumit hehehhehshs

    • ssmamaze says:

      ho oh mas, aku aja yg nulis pengen cepet2 sampe ke klimaks cerita, tp olala ikan2 lg butuh kasih sayang, jadinya moloor kelamaan sampe mood juga ilang hehe..

  3. wahyu piningit says:

    mantap lnjt trus

  4. |a says:

    selalu tak sabar mengikuti ketrampilan suhu didit ”menghidupkan” cerita, apalagi, kian lama makin menukik –sekaligus melebar– merangkul berbagai kemungkinan untuk kembali masuk pada ketakterdugaan. keren deh!

    jalan lama-lama ya, lanjut terus.. jadikanlah ini proyek utama, karena pilinan ceritanya terlalu sayang jika dikesampingkan. salam.

    • ssmamaze says:

      tak bermaksud pula untuk berliku, hanya menulis mengikut imajinasi.. Eh, tau2 jadi cerita ga jelas spt ini.. semogat tidak bosan menanti chapter selanjutnya.

  5. eds5 says:

    Ahh… setelah sekian lama… kerinduan akan seruling sakti sedikit terobati… makin penasaran… kalau bisa dipercepat dong…🙂

  6. Handoko says:

    Halo Mas Didit, Mbak Ir,
    Han1977, numpang baca ya, dah lama saya ga bisa santai, skrg mau santai2 dulu, menikmati bacaan SS, baru mulai baca dari bab 8.

    Semangat Mas!

    Salam

    • ssmamaze says:

      monggo mas han, terima kasih sudah mampir di web yg acak kadut.. Mau desain tp gaptek,jadi ya.. Apa adanya deh.

      kritiknya, jangan segan ya.. Btw PAB keren banget deh.. Istri saya simpenin file2 PAB dan sy habiskan dalam wkt semaleman..

      T-O-P B-G-T!

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s