119 – Domino Effect : Setitik kesadaran – B

Setibanya di rumah batu, Jaka menyempatkan diri untuk memulihkan kondisi, akibat luka yang diderita. Kini mereka tengah mendiskusikan apa yang harus dilakukan kedepan—selain mengikuti seluruh rencana yang sudah di tebarkan atas Sandigdha.

Keluarga Keenam. Sebuah nama fiktif yang tiba-tiba menyeruak di kentalnya aroma permusuhan dua kerajaan. Bahkan pertikaian antar golongan persilatan. Penikam bekerja dengan sangat rapi dan tak terdeteksi. Semua ini bermula dari ide Ekabhaksa yang serampangan.

“Aku ingin nama Keluarga Keenam ini bukan hanya sebuah kalimat tanpa isi!” ujar lelaki gemuk itu sambil menggebrak meja.

“Untuk apa?” Tanya Jalada dengan kening berkerut. “Permainan setan kemarin saja sudah cukup membuat nama Keluarga Keenam terkenal.”

“Masih kurang… masih kurang!” gumam Ekabhaksa.

“Kurang apanya?”

“Cuma kau yang mereka bicarakan.” Ketus Ekabhaksa pada Jalada, wajah lelaki ini  kelihatan semakin bulat saat sedang marah. Jaka tertawa mendengar alasan lelaki gemuk itu.

Sekalipun Ekabhaksa tidak terlalu memikirkan ketenaran, tapi tiap Penikam pulang, Keluarga Keenam yang jadi pembicaraan adalah lelaki yang sanggup melelehkan emas, kalau bukan si keparat Watu Agni alias Jalada alias Baginda, siapa lagi? Meski semula Ekabkasha ambil pusing, tapi lama kelamaan perutnya mulas juga.

“Jadi, usul paman bagaimana?” Tanya Jaka.

Mata Ekabhaksa tampak lebih bercahaya. “Aku tahu satu hal, yang kalian tidak tahu tentangnya. Khususnya dirimu!” dengus lelaki ini melirik Penikam sambil menyeringai penuh kemenangan.

“Ohya? Coba saja!” ujar Penikam menantang.

“Ada yang pernah dengar Wuru Yathalalana?” Ekabhaksa memulai infonya.

“Oh, si mabuk sesuka hati itu?” Tanya Pernikam.

Lelaki gemuk ini mengangguk. “Apa dia terkenal?” Ekabhaksa tidak bertanya kepada yang lain, hanya kepada Penikam, karena diruangan ini, hanya Penikam yang memiliki jaringan informasi luas.

“Sangat terkenal.” Jawab Penikam. Jaka sangat tertarik dengan obrolan itu.

“Apa yang membuatnya terkenal?”

“Huh! Selain dia jawara mabuk, lain hal tidak ada.” Jawab Penikam.

Mata Ekabhaksa bersinar. “Betul, selain mabuk, apapun tidak dilakukanya. Dalam satu hari hidupnya, lebih sering mabuk dari pada sadar. Tapi tahukah kau, pada saat sadar apa yang dilakukannya?”

Penikam menggeleng.

“Dulu, aku pernah mendengar selentingan kabar, katanya Riyut Atriodra pernah berhubungan dengan Wuru Yathalalana, tapi sejauh mana kebenaran informasi itu, sepertinya semua tertinggal dalam genangan arak Wuru Yathalalana.” Tutur Ekabhaksa.

“Kadang, pada saat mabuk. Kau bisa melakukan hal apapun yang tidak berani kau lakukan pada saat sadar.” Timbrung Jaka.

“Betul sekali.” Kata Ekabhaksa. “Pada saat dia sadar, dia menangis, dan berkeliling mencari jejak-jejak kelakuannya saat mabuk, kadang menebus dengan harta, bahkan menyiksa dirinya. Tapi, racun minuman keras sudah terlalu kental dengan darahnya, dia tak sunggup menghindari keinginan untuk mabuk.”

“Kemana arah pembicaraan kita? Aku tidak tertarik dengan manusia bernama Wuru Yathalalana.” Ketus Jalada.

Ekabhaksa memukulkan tinju ke tapak tangannya dengan perasan riang. “Itu maksudku! Tentu kalian tidak pernah tahu, pada saat dia mabuk, belum pernah ada yang sanggup membendung tindakannya.”

“Aku tidak percaya!” ujar Jalada merasa tertantang.

“Dengar dulu penjelasanku… mungkin bagi dirimu, Wuru Yathalalana tidak seberapa, entahlah… akupun tidak tahu sampai dimana tingkat kehebatannya saat mabuk. Tapi, saat dia mabuk, setiap orang yang mencoba menghalangi tindaknya, selalu di cegah oleh sekelompok orang!”

“Ah…” Jaka mendesah, dia sudah menangkap kemana arah pembicaraan Ekabhaksa. “Lanjutkan paman.”

“Aku yakin, kelompok ini ada hubungannya dengan hal-hal yang pernah dibicarakan Riyut Atirodra kepada Wuru Yathalalana. Mungkin ada sesuatu yang tak boleh diketahui pihak-pihak tertentu, dan mereka—sekelompok orang yang selalu menghalang-halangi, ingin mencari celah pada tiap tindakan Wuru Yathalalana. Entah celah seperti apa, tapi mereka seolah menjadi bayangan Wuru Yathalalana selama sepuluh tahun terakhir …”

“Sebenarnya, itu bukan urusan kita.” Tegas Jalada sudah bisa membaca kemana arah ide Ekabhaksa.

“Kau salah, selain itu tujuan dari orang-orang yang memiliki hati nurani, atas campur tangan kita nantinya, nama Keluarga Keenam akan sangat memiliki bobot, sangat!” tegas Ekabasha dengan semangat. “Terlepas dari latar belakang yang dilakukan Wuru Yathalalana, tiap pembunuhan yang di lakukannya tak pernah mendapat sorotan dari enam belas perguruan besar, apa kalian tidak heran dengan hal itu?”

“Apa korbannya adalah orang-orang yang bisa diacuhkan?” Tanya Penikam.

Ekabhaksa menggeleng. “Tidak demikian, mereka memiliki nama yang cukup disegani pada beberapa wilayah.”

“Darimana paman mendapat keterangan itu?” Tanya Jaka.

“Ada seorang kawanku yang pernah lolos dari tangan maut Wuru Yathalalana, anehnya dia pun tak berminat untuk membalas dendam. Sepertinya, ada kepentingan yang saling menyandera.”

Jaka menggeleng-gelengkan kepala. “Kita sudah cukup pusing dengan hal ini, tolong jangan paman campur adukan lagi dengan permasalahan lain.”

Ekabhaksa termangu-mangu. “Sayang sekali, saat ini Wuru Yathalalana ada di kota ini…” gumamnya membuat tiap orang saling pandang.

“Argh! Kenapa kau lemparkan ide seperti itu?! Aku tak bisa mencegah diriku untuk tidak ikut campur.” Kata Jaka sambil mendekapkan telapak tangan di wajahnya, membuat wajah cemberut Ekabhaksa kembali berseri. “Baiklah! Paman Ekabhaksa yang akan mengurus Wuru Yathalalana. Apakah kami dibutuhkan?” Tanya Jaka.

“Sangat!” katanya dengan bersemangat.

===o0o===

 

Malam itu juga Ekabhaksa sudah duduk di sebuah kedai terpencil di perbatasan kota, dihadapannya duduk mengelosoh lelaki seumuran, tangannya mencekal bumbung bambu, dari mulutnya berulang kali terdengar suara tersendak.

 

“Ayolah, aku menunggu giliranmu…” Ekabhaksa ikut-ikutan minum arak, masing-masing sudah menghabiskan enam belas gentong, tapi tak juga ada tanda-tanda berhenti. Wajah pemilik kedai sudah sangat pucat, soalnya persediaan arak untuk enam bulan kedepan hampir habis. Sudah berulang kali dia ingin menyetop dua tamunya, tapi satu kibasan tangan dari salah satunya membuat dia sadar, mereka tidak bisa di ganggu. Apa boleh buat dia hanya bisa duduk termangu, menanti keduanya meminta arak lagi.

 

Wuru Yathalalana sudah mabuk, tapi Ekabhaksa masih segar bugar, jangankan mabuk, minum duapuluh gentong lagipun dia masih sanggup. Dari kawannya dia tahu dimana harus menemui Wuru Yathalalana, dan selanjutnya, obrolan ringan yang merambat saling tantang kekuatan minum terjadi—dan itu memang direncanakan.

 

Tujuan Ekabahsha jelas bukan Wuru Yathalalana, bukan pula perbuatannya yang aneh, tapi sekelompok orang misterius yang berupaya mencegah orang lain ikut campur-lah, yang menjadi pusat rencananya. Menurut penyelidikan sahabatnya, sekelompok orang itu sudah menjadi bagian Wuru Yathalalana dalam kurun waktu yang lama, jelas ini bukan urusan sepele. Jelas pula bagi Ekabhaksa jika mereka bukan orang-orang yang bisa dianggap remeh.

 

Bagi dunia bawah tanah, nama Keluarga Keenam mulai dikenal, Ekabhaksa ingin mereka yang berkecimpung di dunia itu lebih mengenal lagi, lebih menaruh respek pada Keluarga Keenam. Sebenarnya terdengar konyol, menyematkan atribut hebat pada nama fiktif, tapi itulah umpan yang sejak semula di tebarkan Jaka, dia ingin ikut ‘menghiasnya’, memberi pernak-pernik kewibawaan dari nama kosong.

 

Ekabhaksa memperhatikan Wuru Yathalalana dengan seksama, menurut kawannya, manakala sudah sampai pada puncak mabuknya—dengan pertanda mutah-mutah, orang itu akan menjadi beringas dan akan segera berlari.

 

“Huuuak…” Wuru Yathalalana mutah sangat banyak, kaki Ekabhaksa sampai basah dibuatnya. Lalu lelaki gemuk ini melihat keanehan pada biji mata Wuru Yathalalana, bola matanya memutih total, jelas kesadaran orang ini sudah punah.

 

“Aaaaargh!” terdengar teriakan menyayat dari Wuru Yathalalana, dan berikutnya orang itu menghabur kedalam gelapnya malam.

 

Ekabhaksa dengan cekatan membuntuti Wuru Yathalalana, dalam kondisi tidak sadar kecepatan dan kegesitan si tukang mabuk sungguh mengagumkan, kalau saja Ekabhaksa tidak melihat sendiri, dia tak akan percaya ada orang semacam itu. Dan arah si pemabuk membuat jantung Ekabhaksa berdegup cepat.

 

Sandigdha! Pemabuk ini menuju tempat si bendahara! Jaka yang turut menguntitpun terhenyak dengan kejadian itu, sungguh sebuah keanehan. Apakah tukang mabuk itu mengenal Sandigdha? Wuru Yathalalana langsung menerobs masuk kedalam rumah yang penuh dengan penjagaan, tapi tak satupun yang bisa menahan kelakukannya, dia mengobrak-abrik seluruh rumah mencari-cari sesuatu… atau seseorang.

 

“Arrrrgh….!” lengkingan panjang membuat dinding-dinding rumah sang bendaharawan serasa bergetar, sebelum akhirnya si pemabuk itu keluar dan berlari lagi. Ekabhaksa jelas tidak mau ketinggalan. Dan pada akhirnya, sebuah tempat membuat lelaki gemuk ini terhenyak. Kandang Sapi! Tempat dimana beberapa kelumit harta Keluarga Tumparaka di gasak Sandigdha.

 

Dan disana Ekabhaksa bisa melihat Sandigdha tengah duduk bersimpuh dihadapan dua orang lelaki paruh baya. Wuru Yathalalana jelas tidak perlu bertanya apapun, begitu melihat Sandigdha, tubuhnya segera berkelebat menubruk tanpa aturan. Karuan saja Sandigdha terkejut, tapi belum lagi dirinya bergerak, dua orang yang berada dihadapannya sudah mengibaskan tangan, menahan gerakan si pemabuk.

 

Wuss! Wuss! Satu damparan angin panas menghentikan gerakan Wuru Yathalalana. Saat ini sifat si pemabuk, tidak seperti manusia, dia hanya berteriak-teriak dan kembali menyerang kedua orang itu bertubi-tubi. Tubuhnya meleting dengan geraman memekakkan, tangannya membentuk satu cakar. Tiap sabetan tangan si pemabuk membuat tanah terkelupas, batu pecah menyerpih, bahkan pepohonan yang terkena desauan angin dari cakarnya, turut tersayat.

 

Ekabhaksa melihat pertarungan itu dengan kening berkerut, kenapa sekelompok orang yang katanya selalu menjadi ‘bayangan’ Wuru Yathalalana tidak tampak? Tidak menyerang dua orang yang mencoba melindungi Sandigdha? Pertarungan itu berjalan seru, Wuru Yathalalana tampak sangat ngotot menyerang Sandigdha, setiap ada celah dari dua orang lawannya, dia akan mencoba menerobos melakukan satu cabikan pada Sandigdha. Caranya bertarung sungguh serampangan, seperti anjing gila, tak mengenal takut pula. Angin tajam menyayat yang merobek keheningan malam itu dengan mudah di hindari Sandigdha, karena pada saat bersamaan sebuah tendangan sudah menghantam tangan si pemabuk, membuat pukulan cakar jarak jauhnya meleset.

 

Di persembunyianya, Ekabhaksa merasa bimbang, matanya berkeliaran mencoba mencari dimana Jaka bersembunyi.

 

“Ssst… aku disini.” Bisik Jaka dari atas Ekabhaksa membuat lelaki tambun itu terperanjat. “Sementara ini jangan lakukan apapun. Jika sudah waktunya, kita akan turun tangan untuk membantu Wuru Yathalalana.”

 

“Heh?!” Ekabhaksa terkesip. “Kenapa?” tanyanya dalam bisik.

 

“Nanti saja penjelasannya.” Tukas Jaka sambil mengerobongi kepalanya dengan kain gelap, mau tak mau Ekabhaksa meniru cara Jaka.

 

Pertarungan itu tengah memasuki klimaks, Wuru Yathalalana dikeroyok tiga orang, tapi karena kegilaan yang ditimbulkan mabuknya, membuat dia tak ambil pusing dengan beberapa bagian tubuh yang terkena serangan lawan. Saat itu, sebuah bacokan golok bergerigi milik Sandigdha memotong ruang hindarnya, membuat gerakan Wuru Yathalalana terkunci, dan mau tak mau harus bergeser kearah lain. Dan seperti yang sudah diduga Ekabhaksa, pada arah lain sudah menunggu dua tebasan tangan berisi hawa sakti mengarah leher dan kemaluan si pemabuk.

 

Tapi sebelum serangan-serangan itu mencapai sasaran, Jaka sudah bergerak diikuti Ekabaksha. Lesatan Jaka langsung menumbuk punggung salah satu penyerang, sementara dalam waktu bersamaan Jaka melancarkan menendang tepat mengarah kepala penyerang yang lain. Gerakan itu dilakukan sangat cepat, bersamaan dengan serangan yang diarahkan pada Wuru Yathalalana.

 

Karuan saja keduanya merasa lebih baik menghindari serangan gelap dari pada harus menghantam Wuru Yathalalana. Sementara Ekabhaksa dengan lincahnya sudah berhasil mendaratkan satu bogem mentah tepat di hidung Sandigdha, membuat bendaharawan ini berteriak kesakitan. Serangan mendadak seperti itu benar-benar tak pernah dia bayangkan bisa muncul di salah satu tempat Keluarga Tumparaka!

 

Gerakan Jaka tidak berhenti, dia langsung menotok ubun-ubun Wuru Yathalalana, membuat si pemabuk jatuh menggelosoh tak sadarkan diri. Dan kejap berikut, menyerang Sandigdha, menggenjot perutnya dengan sebuah pukulan, membuat dua orang paruh baya itu berteriak cemas, lalu segera melancarkan serangan pada Jaka, meskipun posisi mereka sangat sulit, sekalipun serangan itu mengenai Jaka, tak akan berakibat fatal. Tapi mendadak, ditengah jalan, Jaka membatalkan serangan lalu berbalik, memapaki dua serangan lelaki paruh baya itu.

 

Dessh! Dessh! Mereka terpental dengan dua kaki tertekuk, terseret sampai beberapa tombak. Jaka tidak mengejar keduanya dengan serangan lebih lanjut, dia hanya memandangi mereka, lalu berkata. “Main-main dengan urusan Keluarga Keenam, mau cari mati?” lalu kepalanya menoleh kepada Sandigdha, memberi isyarat supaya dia pergi.

 

Meski bingung, Sandigdha jelas sangat paham atas situasi genting ini, tak perlu isyarat itupun, dia segera mengerahkan ilmu peringan tubuh sekencang mungkin untuk kabur. Sementara kedua lelaki paruh baya saling pandang. Beberapa gebrakan yang dilakukan si pendatang, sudah cukup berbicara banyak. Mereka menghadapi lawan tangguh! Keduanya bimbang, apakah akan meneruskan pertarungan yang jelas-jelas sulit mereka menangkan, atau kabur? Agaknya opsi terakhir mereka pilih dengan berat hati.

 

Jaka membiarkan mereka hilang begitu saja. Kegelapan malam telah menyamarkan segalanya, pemuda ini pun tak bisa mengenali wajah-wajah sang lawan.

 

“Apakah aku perlu mengejar mereka?” Tanya Ekabhaksa.

 

Jaka melepas kedok kainnya, “Tak perlu paman, lagi pula keinginan paman untuk mencitrakan wibawa Keluarga Keenam makin dalam, sudah tercapai, kan?” Tanya Jaka dengan tawa khasnya, membuat Ekabhaksa meringis. Meskipun benar, tapi bukan begitu keinginannya, tapi sudahlah!

 

Pemuda ini segera memeriksa keadaan Wuru Yathalalana. “Menurutku, mereka adalah bayangan Wuru Yathalalana.”

 

“Tapi, kenapa mereka bersama Sandigdha?” gumam Ekabhaksa seperti bertanya pada dirinya.

 

“Aku juga tidak tahu, mungkin si pemabuk ini bisa membantu kita.” Kata Jaka sambil mengangkatnya. Mereka segera melesat pesat menuju rumah batu. Jaka tahu, dua lawan yang kabur tadi, pasti berniat mengikuti mereka, tapi atas kelihayan Ekabhaksa yang mengambil arah berkelok-kelok tak karuan, membuat dua lelaki paruh baya itu kehilangan jejak.

===o0o===

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
Aside | This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s