119 – Domino Effect : Setitik kesadaran – A

119 – Domino Effect : Setitik kesadaran

Apa yang membuatmu teringat tentang mati? Apa yang menjadi perhatian utamamu? Apakah kau akan membawa harta kekayaan? Anakmu, istrimu? Kisah seorang istri yang bersedia satu liang kubur dengan suami sudah tentu omong kosong. Begitu liang lahat selesai tertimbun, hanya isak tangis yang mengiringimu. Selanjutnya apa? Apakah kau memiliki manfaat selama hidup?

Pikiran berseliweran tidak jelas memenuhi benak Dua Bakat, nalarnya berangsur-angsur pulih. Rasa sakit disekujur tubuh membuat dia yakin kehidupan masih menjadi bagian darinya.

“Kau sudah datang?” sebuah suara seperti terdengar dari dasar neraka membuat kuduk bergidik.

Mata Dua Bakat bekerjap, membiasakan suasana gelap dalam liang tempat dia jatuh. Sebuah helaan nafas panjang, seolah melepas beban yang menghimpit hati, terdengar begitu dekat dengan telinganya. Karuan saja orang ini segera beringsut mundur, sampai akhirnya dinding cadas menahan tubuh.

Matanya sudah dapat memandang kondisi disekeliling, dia tahu ucapan tadi bukan ditujukan padanya. Dalam pekatnya gelap, Dua Bakat masih dapat mengenali, ucapan yang entah datang dari mana di tujukan pada seseosok tubuh yang terdengar menghela nafas panjang pula.

“Betapa hidup ini menjadi sia-sia. Oh, waktu… pantaslah Yang Kuasa bersumpah atasnya.” Gumam sesosok itu membuat Dua Bakat heran.

Bagaimana tidak? Sebagai pendatang gelap di Lembah Halimun, seharusnya nasibnya tak sebaik ini… diacuhkan demikian rupa—dalam kondisi sehat pula. Mendadak. lelaki ini menampar kepalanya sendiri dengan menyeringai, ‘alangkah bodoh pikiranku!’ ujarnya dalam hati. Dia seharusnya bersyukur masih hidup, bukannya menjadi ‘heran’ atas nasib yang baik-baik saja.

“Benda berbahaya sudah sampai ditempat ini, sekalipun ada perbedaan diantara kita, tidak semestinya sebuah kehidupan terenggut karenanya.” Kata satu suara yang tak diketahui sosoknya terdengar jelas oleh Dua Bakat. Meski ucapan itu ditujukan kepada si pendatang, tapi Dua Bakat-pun paham, secara tak langsung teguran itu dialamatkan padanya.

Orang ini tidak dapat berkata apa-apa, keberaniannya sudah menguap entah kemana. Sambil menunduk, Dua Bakat hanya mengikuti percakapan yang ada di dalam ruangan itu. Dia sama sekali tak ada ide, untuk melakukan kelanjutan rencana sang majikan. Hakikatnya, hingga saat ini dia masih hidup-pun, sudah sangat disukurinya.

“Datangnya Kosamasangkya, memiliki dua kemungkian. Bahaya dan manfaat. Dari mana datangnya bahaya yang bisa menghilangkan kehidupan?” ujar sesosok itu bertanya.

Tidak ada jawaban hanya helaan nafas, “Berikan padaku…” suara itu membuat tubuh Dua Bakat bergetar dan tersedot kedepan menempel pada dinding. Sesaat kemudian daya sedot itu hilang, dan Dua Bakat jatuh terduduk dengan lutut lemas. Sungguh tak pernah dibayangkan ada aliran tenaga semacam itu. Meski sang majikan dan orang yang menotok jatungnya juga memiliki kemampuan mengerikan, tapi aliran tenaga tadi memiliki ciri unik dan berbeda. Tidak mengerikan, tapi membuat dia tak lagi memiliki keberanian, rasa takut segera melingkupi hati.

Tangannya merogoh kedalam baju, dan menyerahkan kotak berisi parwwakalamahatmya, dengan gemetar Dua Bakat menjulurkan tangannya kedepan dinding cadas. Mata lelaki paruh baya ini terbalalak saat melihat sepotong tangan terjulur menembus dinding cadas menyambuti kotak itu. Dirinya yakin benar, saat tubuhnya tersedot dan menempel, yang dirasakan adalah dinding cadas. Bagaimana mungkin, ada yang dapat menembus dinding cadas tanpa menimbulkan lubang? Dua Bakat yang terkenal cerdas dan banyak akal ini tergagu kehilangan paham.

“Sebuah benda beraroma kematian.” Gumam suara dari balik dinding. “Apa yang kau inginkan?”

Terdengar suara terkejut dari si pendatang yang tadi berbicara dengan suara dari balik dinding. Tak pernah disangka orang yang memiliki harga diri setinggi langit itu, mau bercakap-cakap dengan pendatang asing. Lebih-lebih lagi Dua Bakat, dia bahkan sudah lupa apa tujuannya datang ke Lembah Halimun.

Begitu pertanyaan itu di lontarkan, pikirannya segera bekerja. “Se-sebuah.. ra-racun.” Kata Dua Bakat dengan tergagap.

“Hm… benda semacam itu terlalu banyak di luar sana!” ujarnya dengan nada getas, membuat Dua Bakat tercekam. “Kau bersusah payah datang kesini, tentu ada yang diharapkan?!”

Tenggorokan Dua Bakat mendadak kering, dia menelan ludahnya berkali-kali. “Sa-saya tidak tahu jenisnya… ta-tapi tentu tuan lebih tahu.” Terbata-bata Dua Bakat menjawab. Meski kemungkinan besar tentang tujuan dirinya datang, orang itu sudah tahu, Dua Bakat cukup sigap untuk tak mengatakan alasan sebenarnya. Sekecil apapun kesempatan yang bisa dimanfaatkan untuk kesalamatannya, dia akan gunakan itu!

Terdengar dengusan lagi. “Pergilah!” sebuah kekuatan menghempaskan Dua Bakat ke ujung ruangan, dan terus terdorong lebih jauh, membuatnya berguling-guling bagai daun kering, hingga akhirnya telinga lelaki ini menangkap debur derasnya aliran air. Karena terlalu tegang, Dua Bakat tidak sadar bahwa tangannya sudah menggengam sebuah kotak terbuat dari keramik. Sebelum tubuhnya masuk kedalam aliran air, Dua Bakat buru-buru memasukkan kotak tersebut kedalam kantung penimpanan dalam baju. Dan sesaat kemudian… Byuuur! Dia terhanyut entah kemana.

“Kenapa, kau berikan benda itu?” Tanya sang pendatang kepada sosok di balik dinding.

Tidak ada jawaban, hanya desahan nafas panjang, sesaat kemudian dia menjawab lirih. “Kau pasti tahu, benda ini sanggup menarik kekuatan di lembah ini untuk keluar…”

“Aku tahu!” seru si pendatang dengan singkat.

“Dan ini sangat serasi dengan Kosamasangkya…” jawaban terakhir itu begitu dingin dan terkesan tidak memperdulikan apapun.

“Kau.. kau tidak khawatir dengan apa yang akan terjadi nanti?” seru sang pendatang dengan suara serak, agaknya dia bisa membayangkan kekacuan apa yang akan terjadi.

“Ha-ha-ha..” Tawa yang datar teruar, membuat orang yang mendengat turut merasakan kepepatan batin. “Hmk! Dengan kejadian yang menimpaku. Pembalasanku ini jauh lebih baik!” kata orang dari balik dinding dengan tawa dalan gumam. Sebuah tawa yang getir. “Aku berharap ada perubahan, meski perubahan ini bakal memakan korban…”

“Kau mengkhawatirkan keselamatan orang atas bahaya benda yang kau dapatkan… tapi, tapi kenapa?! Kenapa kau harus melepaskan sebuah kunci yang dapat mengaduk situasi diluar sana?!” seru si pendatang dengan sengit.

“Apa yang terjadi dimasa lalu, sekarang dan akan datang, jelas tidak bisa diprediksi ketepatannya. Tapi aku percaya! Akan ada orang yang turut campur dengan permasalahan ini. Siapapun dia, akan menerima satu pelajaran hidup yang berharga.”

“Kau… kau mempertaruhkan ini semua pada dasar yang tidak jelas!” geram sang pendatang ini degnan perasaan tak karuan.

Tawa getir kembali terdengar. “Kau berkata seperti itu, membuat orang menyangka kau kehilangan asa kepada Yang Maha Adil!”

“Bu-bukan begitu, hanya saja… aii, perbuatanmu ini seperti melepas harimau ke belantara hutan.” Komentarnya dengan perasaan tak karuan.

“Mungkin seperti itu… tapi kita tidak pernah tahu hati orang. Kita tidak pernah mengetahui perubahan apa yang akan terjadi…” Jawabnya dengan suara kering, lalu dengan nada menyindir, dia melanjutkan. “Lalu, setelah bertahun-tahun kau menjaga kembalinya Kosamasangkya. Apa yang kau dapatkan dari sana? Apa yang kau harapkan?”

Si pendatang terdiam. Ucapan orang itu memang benar. Semua itu hanya sia-sia. “Persetan!” dengusnya dengan kemarahan merambah hati. “Tapi, aku bersumpah… jika saja kehidupan disini menjadi cerai berai karenamu, aku bersumpah…” ucapannya terhenti.

“Kau akan membunuhku?” Tanya orang di balik dinding.

“Membunuhmu tidak ada gunanya. Kau pasti tahu aku akan melakukan apa… jangan pernah lupakan siapa diriku sebelum ini!” si pendatang membalikkan tubuh dan melesat pergi begitu saja.

Sebuah helaan nafas berat menggayut dari balik dinding. Di dalamnya, sosok lelaki dengan kepala dipenuhi uban nampak termangu, lalu menutupi wajah dengan kedua telapak tangan. “Apakah aku melakukan hal yang benar? Duhai Sang Lila, benih yang kau tebarkan menuai hasil begitu dahsyatnya… ” sebersit air mata meleleh dari sela-sela jarinya. “Semoga ada orang yang menyadari diluar sana…” harapnya.

===o0o===

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , , . Bookmark the permalink.

11 Responses to 119 – Domino Effect : Setitik kesadaran – A

  1. Naber says:

    Mantappppppp

  2. ysn26 says:

    oh y suhu,gimana kalo halaman awal web ini hy menampilkan judul ceritanya aja.soalnya jk mau membaca dr awal agak kesulitan mengikutinya.cz ini kan tampilan penuh.jadinya agak sulit mengikuti bab selanjutnya

  3. dhanie27 says:

    Jaka lama ngga muncul d Indozone ternyata d sini ada, makasih suhu atas ceritanya lanjut terus

  4. ZUAE says:

    Salam knal kang Didit..
    Sy udh brulang kali bca Si Jaka Bayu, tp aneh y tetep aja rame, hihiks
    Syang romantisme y krang, Si Jaka trlalu asik dgn pmikiran y sndiri, kasian kn kang ntar Jaka cpet tua lo,
    hhehe…;-)
    N’ so pasti JAKA, YUDHA & GLUDUK ttap smangat mngejar cita2 dan wanita wkwkwk
    Lanjutttt .. .. ..

    • ssmamaze says:

      hehe.. terima kasih, istri saya juga protes.. kok ‘kering’ banget. emang belum sampai pada saatnya saja… kalau di kisah Pendekar Aneh, tokohnya obral cinta, kalau yang ini saya pengen ‘pelit’ cinta hehe.. pengen bikin romanisme yang bikin bercucuran air mata deh kayanya xixixi ( kalo kesampaian, abisnya bukan spelsialis roman sih :D) makasih ya sudah membaca…

      • ZUAE says:

        Nah kan, mba Irmaya aja blang kering, dan emang dsar kering sih crita y hihi..;-)
        Mdahan lncar aja nulis y n’ lncar jga rizki y ya Kang..
        Jgn lupa ya Kang, bumbu2 y d bnyakin biar rame rasa msakan y hihiks..
        Nanya kang,
        blog Pendekar Aneh ad gak ??
        soal y yg d indozone ga lngkap, ky chapter y perawan2 sadis – menuju inggit baka ga ad, pnasaran pengen ngeliat prtemuan k dua Yuda ama Widi Arum hihiks

      • ssmamaze says:

        mungkin mau di update disini juga, tapi bingung nih mau bikin webnya.. nubi banget kalo bikin web, jadi cuma sekedar upload saja

  5. ysn26 says:

    k’ g’ dilanjutkan suhu

  6. ysn26 says:

    ditunggu lanjutannya suhu

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s