99 – Kesimpulan Sementara

“Mengenai Jung Simpar…” Jaka menatap Ki Alih meminta pejelasan.

Lelaki tua itu mengangguk. “Aku melepaskan tiga jenis Jung Simpar untuk dapat diikuti dan diamati.”

“Aha…” Jaka bertepuk gembira. “Jadi, paman membuat samaran tiga orang Jung Simpar?” Tanya Jaka meminta ketegasan.

“Betul!”

“Bagaimana dengan yang asli?”

“Orang itu memang keparat pengecut, dia lebih suka kita tahan dari pada harus menghadapi kejadian-kejadian yang membuat perkumpulannya mengalami kerugian.”

“Nampaknya penyelundupan yang dilakukan olehmu membuat dia jera?”

“Tidak juga, dia lebih takut kepada Swara Nabhya. Menurut Jung Simpar, perkumpulannya pernah disatroni oleh penghuni Lembah Halimun gara-gara ada anak buah wanitanya mencuri barang yang dilindungi Swara Nabhya…”

“Hm, patas saja gadis-gadis itu ketakutan waktu disinggung tentang Swara Nabhya..” gumam Hastin mengingat kejadian beberapa hari lalu saat dia berjumpa dengan anak buah Jung Simpar.

Jaka termenung, dia memang memiliki kesepakatan dengan Swara Nabhya untuk menuntaskan rasa penasaran mereka.

“Apakah sudah ada hasil dari ketiga orang itu?”

“Ketiga-tiga lenyap, masing-masing di tangkap di Perguruan Enam Pedang, dan Lengan Tunggal. Dan yang terakhir, berita yang kau bawa…”

“Kita bisa simpulkan sesuatu disini?” Tanya Jaka menginginkan detail.

“Bisa dan sangat jelas! Kedua perguruan itu memiliki kepentingan terhadap berita terakhir yang masuk ke perkumpulan Jung Simpar.” Jelas Ki Alih.

“Apa yang paman dapat selama ada di tempat Pratyantara?”

“Selain rencana perampokan yang penuh gaya, kebanyakan permintaan untuk mencuri barang-barang berharga. Tapi yang terakhir ini jelas memiliki kaitan dengan perjalananmu ke Perguruanan Enam Pedang.”

Jaka tidak menyela.

“Bermula aku mengira, pembayaran yang luar biasa atas pengiraman barang pada Biro Pengiriman Golok Sembilan akan menjadi sasaran Pratyantara, tapi ternyata bukan. Sebuah informasi yang masuk kepada Jung Simpar menyatakan, nilai dari barang yang dikirim itu jauh lebih tinggi dari pada ongkos pembayarannya. Tanpa menyelidiki lebih lanjut sebenarnya itu barang apa, Pratyatara bergerak melalui jaringan mitranya. Akibatnya bisa dibayangkan, kehebohan adanya barang yang bernilai sangat tinggi beredar di kalangan bawah tanah. Cukup dari berita ini saja, membuat telik sandi dari beberbagai perkumpulan rahasia memanfaatkan momentum untuk membuka celah kepentingan masing-masing.”

“Emas yang kuberikan padamu berasal dari pembayaran yang di lakukan sekelompok Walkali yang datang menyerahkan pembayaran pada Golok Sembilan Bacokan…”

“Walkali? Bukannya mereka serombongan pendeta lelaki? Kenapa berubah menjadi pendeta perempuan?” potong Arwah Pedang dengan penasaran.

“Semula aku berpikiran begitu, tapi coba renungkan baik-baik. Jika kau ingin menitipkan sesuatu yang berharga, pihak mana yang akan kau hubungi pertama kali?” Tanya Ki Alih pada Parçuddha.

“Wrddhatapasa…” gumam Arwah Pedang.

“Ya, Wrddhatapasa adalah orang yang bisa dan layak dipercaya, selain sebagai sesepuh Dewan Penjaga Sembilan Mustika, dia juga memiliki sekelompok pendeta yang bisa bekerja menyelesaikan sesulit apapun pengiriman barang. Cirinya sangat khas… tapi bagaimana mungkin orang-orang itu menyerahkan kiriman yang menjadi tanggungan seorang Wrddhatapasa? Dengan karisma dan pengaruh Wrddhatapasa, sangat tidak mungkin ada orang yang mau mencari setori dengan memalsukan nama mereka… tapi ternyata ada!”

“Jadi para pengikut Wrddhatapasa dipalsukan oleh sekelompok Walkali—pendeta wanita, yang entah berasal dari mana?” Tanya Jaka.

“Tentang hal ini, aku tidak ada informasi…” kata Ki Alih sambil menghela nafas.

“Jadi, sementara kita berkesimpulan seperti Jaka. Sebuah kesimpulan yang umum…” ujar Sadhana membuat Jaka meringis. “Sama halnya dengan kesimpulanku tentang Saudara Satu Atap dan kesimpulan Jaka tentang hal itu… karena Wrddhatapasa adalah kalangan yang tidak banyak orang tahu dan hanya kalangan tertentu yang mengenal namanya, kurasa kegiatan yang sangat mahal itu dilakukan untuk penyaringan saja…”

“Maksud paman, ada orang gila yang berani membuang-buang emas sedemikian banyak untuk menggiring opini para pemilik telik sandi, bahwa Wrddhatapasa-lah yang melakukan transaksi dengan Biro Pengiriman Golok Sembilan?” Tanya Jaka menarik benang merah.

“Ya…”

“Aku tidak sepenuhnya setuju.” Tukas Ki Alih setelah berpikir beberapa saat. “seperti yang tadi disimpulkan adi Sadhana, bahwa ini adalah kegiatan penyaringan yang sangat mahal. Dan tiap telik sandi akan menolak kesimpulan mereka sendiri, bahwa; bagaimana mungkin kalangan terhormat melakukan kegiatan segila itu? Dan kita akan mencari-cari jawaban yang tidak pernah ada. Kita akan mencari kemungkian ada pihak yang memalsu kalangan Wrddhatapasa…”

“Maksud Kakang Alih, pihak itu adalah Wrddhatapasa itu sendiri?” Tanya Sadhana tidak percaya.

“Tepat!”

“Tapi, bukannya kakang juga menolak kesimpulan seperti itu?” debat Sadhana.

“Ya, tadi aku memang mengingkari kesimpulan awalku dan mencoba mencari kambing hitam. Tapi setelah kupikir baik-baik, tidak ada pihak yang dirugikan selain Wrddhatapasa sendiri…” tegas Ki Alih. “Dan kita bisa membalikan logika pertanyaan dengan hal yang sama; pihak yang dirugikan akan memperoleh simpati dari kalangan banyak, dan secara keuangan keuntungan yang akan dia peroleh jelas lebih besar!”

“Cukup masuk akal bagiku,” gumam Jaka. “Pertanyaan berikut; tidak mungkin seseorang melakukan kegiatan seaneh itu jika tidak yakin mendapatkan keuntungan berlipat dari yang dikeluarkannya… selain uang, apa yang akan di dapat Wrddhatapasa?”

Pembicaraan sudah memasuki babak krusial yang menyimpulkan beragam hal kegiatan aneh yang mendasari pergerakan mereka. Tapi sejauh ini kesimpulan yang didapat pun harus menanti hasil observasi yang masih bertebaran di lapangan.

“Mungkin bisa kutambahkan sedikit.” Ujar Baginda tiba-tiba. “Kadang kala kita disesatkan oleh anggapan kalangan Wrddhatapasa hanya sekelompok laki-laki tua, tidakkah kalian berpikir Walkali juga bisa di bentuk oleh Wrddhatapasa?”

Senyap, tak ada yang menanggapi, tapi beberapa diantara mereka mengangguk mengiyakan.

“Kurasa lebih baik kita kerucutkan pada kesimpulan awal. Bagaimana jika ternyata… Wrddhatapasa dan para kerabatnya menggagas usaha perlawanan terhadap Saudara Satu Atap? Apakah mereka memiliki kemampuan untuk itu?” ujar Jaka bertanya untuk membuka gagasan lebih luas lagi.

“Ya, mereka mutlak memilikinya!” sahut Ki Alih dan Baginda hampir bersamaan.

“Nama, kedudukan, jaringan, dan kekayaan, tidak akan sulit dihimpun oleh Wrddhatapasa…” gumam Sadhana. “Tapi apa keuntungan mereka dengan melakukan perlawanan terhadap Saudara Satu Atap?”

“Kurasa untuk jawaban itu akan kita dapatkan jika kita bisa berbicara dengan salah satu hulubalang Riyut Atiodra.” Ujar Jaka.

“Darimana kau dapatkan ide sengawur itu?” cetus Pariçuddha.

“Paman ingat, apa yang membuat mereka keluar kandang?”

“Aku tidak ingat sama sekali,” jawab Pariçuddha dengan wajah masam. “Bukankah kau tidak jadi mendengar keterangan Kanayana?”

“Ah, maafkan aku paman…” kata Jaka dengan tersenyum. “Waktu itu Kanayana mengatakan; ‘…pelanggaran sekecil apapun dari kalangan luar, sudah merupakan aib’, itu sudah cukup bagiku untuk menyimpulkan apa yang terjadi pada mereka.. seperti yang kita tahu, Riyut Atriodra adalah perkumpulan yang pantang di ganggu, satu gangguan kecil saja akan membuat mereka keluar. Nah, saat mereka keluar kandang… ini adalah makanan empuk penggagas semua keributan ini untuk mengganggu mereka lebih jauh, dan pada akhirnya akan menarik semua kekuatan Riyut Atirodra keluar kandang. Mereka akan diarah sedikit demi sedikit menghadapi Saudara Satu Atap… jika ini sampai terjadi, seperti yang kukatakan tadi… akan terjadi pertumpahan darah yang lebih besar dari kejadian masa lalu!”

Jaka menatap wajah mereka satu persatu, “Dan tahukah kalian, apa sebenarnya yang menjadi kekayaan dari Riyut Atirodra?”

“Loyalitas dan kumpulan dari beragam golongan?” jawab Ki Alih.

“Betul, tapi masih ada jawaban yang lebih tepat…”

“Rahasia…” gumam Sadhana. “Kumpulan rahasia!” cetus lelaki ini dengan bersemangat. “Mereka adalah golongan terbuang, ada banyak dari mereka yang sebenarnya tidak pantas bergabung disana, tapi dipaksa oleh keadaan dan badai fitnah, akhirnya mereka tidak punya pilihan!”

“Betul paman! Beragam rahasia yang dihimpun oleh Riyut Atirodra itu merupakan ‘pusaka’ tak ternilai. Tentu saja siapapun yang menginginkan itu butuh mengolah informasi dan memilahnya, apakah informasi rahasia yang dikumpulkan Riyut Atrirodra, adalah kejadian nyata atau hanya ilusi.”

“Jadi, siapapun penggagas rencana keji ini akan mendapakan banyak keuntunga?” gumam Baginda.

“Ya… dan tugas kita semua untuk mencegah itu terjadi. Terlepas dari kesimpulan kita benar atau salah, Riyut Atirodra benar-benar harus kita lindungi!”

Itu adalah kesimpulan akhir, tentu saja untuk sementara. Masing-masing membuat catatan yang diedarkan untuk saling dibaca. Koordinasi, pemahaman dan penyeragaman ide disaat kritis ini adalah sebuah kemutlakan yang tidak boleh diingkari.

“Aku masih heran darimana mereka tahu jika Jung Simpar ada kaitannya denganku?” gumam pemuda ini bertanya sendiri.

“Kau lupa siapa yang kau hadapi, Perkumpulan Pisau Empat Maut itu memiliki jaringan yang luas! Cikal bakal mereka juga hidup di masa-masa sulit pada saat Sang Lila membuat kekacauan dunia persilatan.” Timpal Sadhana.

“Aku tahu itu paman, aku hanya mencoba mencari tahu dimana letak kebocoran kita…”

“Bukan kebocoran pada kita, tapi berita itu ada pada anak buah Golok Sembilan Bacokan!” sahut Baginda menimpali.

Jaka membenarkan kesimpulan itu. Apa yang mereka saksikan pada saat Ki Alih membuka samarannya—sebagai kusir, dihadapan orang banyak, cukup layak dijadikan informasi yang sangat bernilai.

“Jadi, kita masing-masing akan membagi tugas…” Jaka menutup pertemuan dini hari itu dengan rasa kantuk datang kembali. “Paman Pariçuddha akan pergi ke air terjun Watu Kisruh, Paman Hastin akan memastikan Kiwa Mahakrura dan atasannya mengambil kesimpulan salah. Paman Sadhana dan Paman Çudhakara akan memata-matai semua pergerakan yang dibuat oleh Alpanidra… meskipun mereka menyatakan menjadi sekutuku, tapi bukan berarti aku menutup mata dengan semua pergerakan mereka.”

“Paman Jalada, memantau semua yang datang ke Perguruan Naga Batu. Ki Alih akan mencari jejak Riyut Atirodra…”

“Lalu aku?” Tanya Cambuk tak sabar.

“Memastikan apa yang tercantum dalam peta itu sukses!” tegas Jaka.

Cambuk mengangguk, tentu saja yang dimaksud Jaka adalah membuat tiap rencana itu lancar dengan antisipasi yang sudah mereka lakukan. Hal ini juga menghindari kecurigaan pihak yang berada di Gua Batu tentang sudah terendusnya rencana-rencana mereka.

“Kau sendiri bagaimana?” Tanya Hastin sambil menguap.

“Aku akan bersenang-senang…” jawab Jaka dengan menyeringai. “Sadewa dan teman-temannya pasti memiliki keterangan yang layak untuk kita tahu.”

“Hm, kurasa semua sudah ada bagiannya…” gumam Hastin berdiri meninggalkan ruangan itu, sebelum ‘bertanya’ pada kalangan Kiwa Mahakrura, hal pertama yang dilakukannya adalah tidur.
===

“…begitulah ayah, ibu. Bukan aku bermaksud menghianati perkawinan yang sudah kulakukan, tapi kondisi yang kritis saat itu dengan hal-hal yang harus dilakukan secara cepat membuat aku harus melakukannya tanpa ragu.” Tutur Sakta Glagah menjelaskan tentang latar belakang pernikahan dengan putri Kerajaan Rakahayu.

“Kenapa saat kunikahkan dulu, kau tidak mengatakan bahwa kau sudah menikah?” tuntut Ayahnya.

“Aku tak mungkin mempermalukan ayah di depan orang banyak, lagi pula tugasku sebagai penanggungjawab prajurit dan telik sandi kerajaan tak memungkinkan aku untuk mengatakan pernikahanku dengan anak sang raja… bahkan, kalangan keluarga raja sendiri tidak mengetahui bahwa akulah ayah calon ratu mereka!”

Ketiga orang tua itu saling pandang, nampaknya mereka bisa menerima alasan Sakta Glagah.

“Aku juga minta tolong pada ayah-ibu dan paman untuk tetap merahasiakan identitas Prawita Sari yang sebenarnya.”

Ketiganya mengangguk, sang ibu bahkan merasa iba pada anaknya. Bagaimana mungkin seorang ayah tidak bisa menyapa sang buah hati dengan cara yang semestinya, tentu perasaan seperti itu merupakan sebuah siksaan yang menyakitkan.

“Lalu apa yang terjadi dengan cucuku?” Tanya sang ibu memahami keputusan yang di ambil anaknya.

“Ada pihak-pihak tertentu yang membutuhkan keberadaan Prawita Sari, dan Luh Siwi untuk dijadikan jaminan. Untunglah aku bisa menggagalkan usaha itu, sayang sekali Luh Siwi tertawan oleh mereka. Tapi aku sungguh tak menyangka mereka berani menggunakan racun!”

Ki Lukita menghela nafas, dia bisa membayangkan tulang tuanya akan ikut bergejolak lagi. Jika putri mahkota Kerajaan Kadungga—Raden Roro Luh Siwi, tertawan oleh pihak yang belum diketahui, tentu akan banyak gesekan-gesekan yang terjadi antara Kerajaan Rakahayu dan Kadungga, sebab selain bertetangga baik secara politik dan budaya, kedua kerajaan itu tidak pernah mendapat kata sepakat. Itu adalah api dalam sekam yang tertanam sejak dulu. Kejadian saat ini bisa membuat api perang berkobar lebih cepat.

“Racun yang digunakan oleh para penyerang bersifat sangat lambat, selama hidup aku belum pernah menjumpai racun semacam ini…” ujar Ki Lukita. “Resep yang kau peroleh dengan penjelasannya memang sangat masuk akal dan aku yakin itu akan berhasil… yang mengganggu pikiranku adalah, apakah kau tahu siapa yang menyerangnya? Jika pihak itu hanya sebatas menginginkan tebusan, rasanya penggunaan racun langka dan sangat sulit ini, sebuah harga yang terlalu mahal…”

“Aku sudah memiliki dugaan, tapi ucapan paman membuatku tak berani menduga lebih jauh.” Jawab Sakta Glagah dengan gundah. “Paman… apakah kau yakin muridmu bisa menyembuhkan anakku?”

Ki Lukita mengangguk pasti. “Kau tenangkan dirimu, kondisi anakmu tidak terlalu mengkhawatirkan saat ini. Pengobatan yang dilakukan Jaka Bayu—jika Tuhan mengizinkan, akan menyembuhkannya seperti sedia kala.”

Ucapan yang penuh percaya diri itu membuat Sakta Glagah tenang. Jadi dia bernama Jaka Bayu, pikirnya. Entah seperti apa orangnya. Desahnya dengan kegelisahan terus merebak.

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s