98 – Jalada, Sang Baginda

Pariçuddha membaca kesimpulannya sendiri berulang kali, tapi dia masih tidak terlalu yakin. “Aku masih kurang memahami dengan rencana Ketua Bayangan Naga, sebenarnya apa yang harus mereka percepat?”

“Banyak hal paman,” jawab Jaka. “Bagi mereka yang memiliki penopang informasi yang sudah cukup mengakar di kota ini, tidak mengetahui latar belakang para penghianat—atau yang dimungkinkan berkhianat, adalah kemustahilan.”

“Jadi, Kiwa Mahakrura dan Paksi sudah dapat mereka endus?”

“Pasti!” tegas Jaka, pemuda ini memang sudah menceritakan hasil dari pekerjaannya. “Mungkin mereka memang harus membayar mahal dengan siasatnya, tapi aku yakin, dia tidak akan membiarkan ini terjadi. Arseta itu lelaki yang memiliki tulang…” kata Jaka dengan tersenyum.

Hadiri paham dengan apa yang dikatakan Jaka, ‘memiliki tulang’ adalah kiasan untuk pekerja keras, atau berhati keras.

“Kalau begitu, apakah Kiwa Mahakrura, akan menjadi tanggungan kita atau Ketua Bayangan Naga?” Tanya Cambuk dengan mata masih merah, rasa kantuk belum sepenuhnya hilang.

“Kita tidak akan bertindak apapun pada orang itu, sudah menjadi tanggung jawab Ketua Bayangan Naga untuk membereskan kekacauan di tubuhnya sendiri.”

“Uh…” Hastin merasa kecewa dengan keputusan Jaka.

Jaka tersenyum. “Aku paham engkau bosan paman,”

“Bosan setengah mati!” sungut Hastin.

“Membiarkan pihak lain untuk mengurusi, bukan berarti kita diam saja, paman.”

“Lalu, apa yang harus kulakukan? Terus terang aku sangat malas, bosan, capek untuk mematai-matai orang!”

Jaka menganguk-angguk. “Aku paham, kini saatnya membiarkan mereka mengetahui jejak kita!”

Keputusan itu membuat Hastin tertawa lebar.

“Apa kau gila?” seragah Penikam. “Ini sangat tidak bisa diterima, akan membahayakan pergerakan kita disini!”

“Aku tidak setuju dengan pendapatmu!” Kata Hastin pada Penikam. “Membiarkan mereka tahu tentang kita bukan berarti membahayakan kegiatan kita. Sebab aku akan memastikan itu tidak akan terjadi, benar begitu Jaka?!” kata Hastin penuh tekanan.

Jaka tertawa. “Jika itu yang diharapkan… maka jadilah!” ujar pemuda ini menyetujui. Orang seperti Hastin memang tidak mungkin di kekang kebebasan geraknya, hal yang paling tepat untuk orang semacam Hastin adalah melabrak Kiwa Mahakura dan para kerabatnya.

“Lalu untuk memberikan mereka kesan bahwa, kita ada… apa yag akan kau lakukan paman?” taya Jaka memastikan.

Hastin Hastacapa menyeringai. “Aku tidak menyombongkan diri, tapi kepalanku sangat terkenal. Aku akan membekuk anak itu di tempat yang hanya diketahui kalangan mereka sendiri!”

Jaka diam termenung, maksud Hastin sangat jelas dia akan melabrak di sarang mereka sendiri, “Begitupun baik!”

“Tapi pihak Ketua Bayangan Naga bukankah tidak akan tinggal diam?” sela Pariçudha.

“Benar. Mereka akan bergerak mengurus Kiwa Mahakrura, paman Hastin juga akan mengurusnya. Dan nantinya akan ada orang yang mengurus kalian…” Hastin hampir menyela ucapan Jaka tapi pemuda ini mengangkat tangannya memberi isyarat dirinya belum selesai bicara. “Mereka bisa jadi adalah pihak penggagas keributan disini. Aku tidak tahu apakah mereka ada dipihak yang sama dengan pemilik bunga di Perguruan Naga Batu, atau tidak… akan kita pastikan setelah hal itu berlangsung.”

Hastin nampak masih penasaran. “Aku tidak suka jika ada orang yang bermain dibelakangku, apa aku harus menghajar mereka juga atau aku harus berpura-pura kalah? Argh! Aku tidak bisa belaku seperti itu!”

“Tentu saja tidak…” jawab Jaka tertawa geli. “Merupakan kebebasan penuh bagi paman untuk melakukan apapun bagi para penguntit… menghajar mereka pun menjadi cara yang tepat untuk memberitahu sekelumit keberadaan kita. Ohya, hampir aku lupa… selain keberadaan kita, Swara Nabhya juga dilibatkan, paman…” Jaka juga menunjuk pada catatan yang sudah dibuatnya, supaya Hastin tidak terlupa, disana disebutkan bahwa; dia, akan dimunculkan dalam rumor sebagai adik Ketua Bayangan Naga

“Baik! Bagus sekali!” seru Hastin berkali-kali sambil mengiyakan, jika ada orang yang paling suka bertempur dalam segala kondisi, hanya Hastin Hastacapala orangnya.

“Jaka, aku masih tidak paham dengan obat yang kau berikan padanya…” tiba-tiba Pariçudha meminta kejelasan tentang obat yang di berikan pada adik iparnya.

“Saat aku memasuki tempat mereka aku mencium bau obat yang khas, tak perlu kujelaskan itu obat macam apa, tapi aku tahu bahwa mereka meramu secara salah, dengan tempat pengobatan yang salah pula! Apa yang sedang mereka buat itu obat yang digunakan untuk menunda racun bekerja, paling lama enam hari… dan aku memberikan obat yang serupa dengan takaran dan cara lebih tepat, serta dosis lebih besar.”

“Oh, itu mengapa kau mengatakan itu hanya sementara?”

Jaka mengangguk. “Dari aroma obat itu aku dapat menyimpulkan bahwa; pergerakan Ketua Bayangan Naga sebenarnya tersandera. Aku hanya melonggarkan ikatan pada mereka, akan kita amati apa yang akan mereka lakukan… ini adalah titik balik rencana kita.”

“Aku tidak melihat adanya titik balik!” seru sebuah suara yang dingin membuat orang-orang berpaling kepada sosok tinggi besar dalam balutan baju putih.

“Ah, ayolah paman Jalada… kau membuat ini tampak sulit.” Kata Jaka dengan tertawa lebar, sosok bernama Jalada lebih dikenal dengan julukan Baginda, orangnya sangat sulit diajak berbicara—hampir seperti Hastin, tapi lebih keras kepala, sulit di redam jika sudah ada kemauan, begitupula jika ada sesuatu yang disimpulkan, akan sulit untuk merubah pola pikirnya. Baginda baru saja sampai dari pekerjaan yang membosankan—begitu menurutnya.

“Aku tidak ingin menerangkan secara detail, karena waktu kita tidak banyak. Jadi begini, kenapa kukatakan sebagai titik balik? Karena obat yang kuberikan itu akan menerangkan banyak hal… sangat banyak, itu saja!”

“Jelaskan!” desak Jalada dengan nada tajam.

“Ah…” Jaka menggeleng-geleng kehabisan akal, mengadapi orang satu ini, dia sering mati kutu. “Baiklah, baiklah…” katanya menyerah.

Beberapa orang tampak tersenyum, kehadiran Baginda terkadang menyebalkan—jika tak ingin disebut sangat dihindari, tapi pada waktu-waktu tertentu—dimana Jaka tidak ingin mengatakan lebih detail, kehadiran Jalada—Baginda si tukang paksa, sangat diperlukan.

“Kukatakan tadi, pembuatan obat ini harus dengan aroma tepat dan pada tempat yang tepat. Dengan resep yang kuberikan, mereka akan bergerak mencari tempat yang tepat untuk menghasilkan aroma obat yang pas. Dalam waktu yang sangat singkat ini daerah yang paling memungkinkan mereka tuju hanya, Sungai Batu. Tepatnya air terjun Watu Kisruh.”

“Bagaimana bisa begitu?!” Tanya Baginda membuat Jaka seperti di todong.

Jaka menghela nafas panjang antara dongkol dan geli. “Obat yang kuberikan adalah penangkal racun jenis lembita—mengantung, racun ini berdaya rusak ganas, jika pengobatannya salah, satu demi satu ruas tulang tak akan terikat otot lagi. Tapi salah satu kelemahan racun jenis lembita ini pun sangat fatal, dengan dosis tepat dan tempat yang tepat, penyembuhannya hanya akan berlangsung dalam setengah hari saja, meski kau terperangkap racun selama bertahun-tahun. Hawa yang dihasilkan air terjun dengan suara deru yang menghentak dada, ditambah obat yang tepat, akan sangat cepat menguraikan racun ini. Tabib yang di miliki Ketua Bayangan Naga pasti bisa memahami cara pengobatan yang kuberikan itu.”

“Aku sudah paham, lalu kaitannya dengan titik balik?!” seru Baginda tak sabar.

“Racun itu tidak sembarangan kau dapat, meski itu adalah kerabat Tabib Hidup Mati, dia tidak akan pernah terpikir untuk membuat racun ini, sebab ada satu jenis bahan pembuatannya yang hanya di kuasai oleh golongan tertentu.” Jaka mengangkat jarinya memberi isyarat pada Baginda untuk tidak menyela. “Aku tidak tahu itu golongan apa, tapi jika benar racun itu yang digunakan… kita dapat melihat ekor penggagas kekacauan ini!”

“Aku masih tidak paham dengan titik balik!” kali ini Hastin berseru tidak sabar, membuat Jaka tertawa.

“Aku memang belum menjelaskannya,” ujar pemuda ini. “adalah mutlak, Ketua Bayangan Naga dalam pengawasan pihak ini… pada saat mereka menuju air terjun Watu Kisruh, merekapun akan datang kesana untuk mengawasi.”

“Ah…” Penikam berseru tanggap, dia segara keluar dari ruangan untuk segera mencari orang-orangnya, menempatkan mereka di sekitar air terjun Watu Kisruh. Jaka tersenyum senang melihat reaksi Penikam yang cepat.

“Saat korban terbabas dari racun, mereka akan sangat antusias bertanya dari mana datangnya penangkal.”

“Bertanya?” ujar Hastin kurang paham.

“Aduh paman, kenapa kau tanyakan bahasa bertanya segala? Itu sama dengan bahasa yang kau gunakan, mungkin lebih dari itu…” jelas Jaka setengah dongkol.

Beberapa orang tertawa, bahkan Baginda orang yang sangat kaku itupun tersenyum tipis, bahasa tanya milik Hastin adalah kepalannya, dia tidak pernah menyampaikan ‘pertanyaan’ dalam kalimat yang wajar.

“Jadi..” lanjut Jaka. “Kita akan mengikuti tiap orang yang datang-pergi, dari dan ke air terjun Watu Kisaruh!”
===

“Dia bernama Prawita Sari…” Sakta Glagah mulai menjelaskan pada orang tua dan pamannya. “Calon Ratu Kerajaan Rakahayu…”

“Itu belum menjelaskan kenapa kau begitu panik!” desis ayahnya dengan nada tajam.

“Dia… putriku!” kata Sakta Glagah perlahan dengan wajah tertunduk.

“Apaaa?” ketiga orang tua itu terkejut bukan kepalang.

Sakta Glagah sudah memiliki keluarga, dengan dua orang anak, putra-putri. Dan semuanya ada bersama mereka, di kota Pagaruyung ini. Bagaimana mungkin datang satu orang anak lagi?

“Kau harus menerangkan dengan sangat jelas… sejelas-jelasnya!” kata Ki Glagah dengan nada penuh tekanan, wajahnya nampak berkerut tidak senang.
===

Pada waktu bersamaan…
Wangkar—si Momok Wajah Ramah, mengejapkan matanya berulang kali, ruangan yang terang itu membuat dia harus menyesuaikan pengelihatan. Dia bersumpah akan menguliti orang yang sudah memperlakukan dirinya seperti pesakitan.

“Ah, kau sudah sudar?” sebuah suara asing menyapanya.

“Siapa kau?!” Tanya Wangkar dengan kegeraman memuncak.

“Maafkan aku jika membuatmu tidak nyaman, tapi ini demi keselamatanmu sendiri… aku butuh bantuanmu!” kata orang itu sambil membebaskan totokan pada Wangkar.

Lelaki ini menatap si penyergap dengan otak yang mengaduk-aduk ingatan. “Kau.. kau… Netracurik?!”

“Ya, ini aku. Kita sudah pernah bekerjasama…” pada saat mengatakan ‘bekerjasama’ Netracurik sudah mencekal pergelangan tangan Wangkar yang melakukan pergerakan kecil—nyatanya orang ini sangat teliti dan waspada. “Jangan coba-coba!” desisnya. “Jika aku bermaksud membunuhmu, kau sudah mati dari tadi!”

Wangkar menghela nafas, apa yang dilakukannya adalah reflek. Saat ini dia benar-benar hilang pertimbangan. Dia tak tahu harus melakukan apa. “Katakan padaku, apa yang membuatmu melakukan hal ini padaku?”

Netracurik melepaskan gengamannya, dia memberikan secangkir air jahe pada Wangkar. “Kau tahu, jika dirimu sedang dijadikan umpan?”

Pertanyaan itu membuat Wangkar hampir saja tersendak. “Maksudmu?”

“Apa tugas terakhirmu?” Tanya Netracurik.

Wangkar menelan ludahnya berkali-kali. Netracurik mengingatkan dirinya pada tugas terakhir yang merupakan keruntuhan total seorang Momok Wajah Ramah.

“Katakan padaku, apa kau sudah melakukan hal itu atau belum?!” desak Netracurik dengan nada meninggi. Nampaknya dari pertanyaan terakhir Netracurik sudah tahu apa tugas Wangkar.

“Ak-aku sudah melakukannya…” jawab Wangkar dengan menggertak gigi.

“Apa yang terjadi?” kejar Netracurik dengan tegang.

“Tidak ada…”

“Apa maksudmu tidak ada?!”

“Dengar! Momok Wajah Ramah sudah mati! Aku gagal! Kau dengar?!” teriak Wangkar setengah membentak dengan berdiri. Lalu dia terduduk dengan tubuh lunglai, melakukan hal jujur memang berat, tapi setelah dia katakan itu, dadanya terasa ringan.

“Oh, syukurlah…” Netracurik merasa sangat lega.

“Apa apa denganmu?!” bentak Wangkar dengan suara meninggi.

“Dengar, aku sudah di jebak oleh Lindu Wastu untuk melakukan kegilaan yang tidak pernah kusadari akibatnya. Untung saja aku diselamatkan oleh keadaan…” Netracurik tidak mau mengatakan kenapa dirinya gagal, sebab dia merasa keberadaan Jaka Bayu sekalian bisa menjadi pelindung baginya. “Secara diam-diam aku mendengar tugasmu dari Bergola. Dia sedang melaporkan kelakuanmu pada pimpinannya. Kupikir Bergola akan kena semprot karena merasa tidak nyaman dengan prilakumu, tak tahunya ketua kalian menjawab, ‘dia akan jadi batu loncatan yang berharga’… aku tidak berani mendengar lebih jauh, kemampuan ketua kalian diatasku, aku kawatir kepergok.”

“Apa alasanmu dengan tindakanmu ini? Memperingatkanku?!”

“Kau ini tolol atau apa?” bentak Netracurik. “Aku memang bukan orang baik-baik, tapi aku memegang janjiku pada istriku—Winarsih!”

Wangkar hendak mengatakan sesuatu tapi dia tak jadi, nama Winarsih membuatnya membeku… dia memiliki seorang adik yang sangat dicintai, dan adiknya itu menikah dengan seorang bajingan besar seperti dia. Wangkar tak bisa menerima itu, bagaimanapun buruk prilakunya, dia tetap menginginkan adiknya hidup bahagia dengan orang biasa. Dia tidak pernah tahu orang macam apa suami adiknya itu, tapi dia bersumpah jika orang itu menelantarkan adiknya, dia akan membunuh tanpa ampun. Namun adiknya berhasil menyembunyikan diri dengan baik, bahkan suaminyapun bisa menutup identitas dengan baik. Sungguh tidak disangka Netracurik adalah suami adiknya!

“Aku berjanji pada istriku untuk menjaga dirimu!” desis Netracurik.

Wangkar tergagu dengan perasaan campur aduk. “Bagaimana keadaannya?” Tanya Wangkar dengan suara serak.

“Aku… aku meninggalkannya beberapa waktu terakhir ini… tapi dia baik-baik saja.” Tutur Netracurik dengan wajah tertunduk, saat ini dia tak ingin menjelaskan derita dirinya dalam upaya kembali menjadi ‘seorang lelaki sejati’, sampai-sampai dimanfaatkan Lindu Wastu tanpa sadar.

Sepi menggigit dikeheningan pagi itu.

“Kau mau aku melakukan apa?” Wangkar bertanya dengan suara lemah.

“Bukan, kau. Tapi kita!” tegas Netracurik sambil mengecilkan lentra di ruangan itu. “Aku memiliki satu rahasia yang harus kubuktikan sebelum akhirnya kita serahkan pada pihak yang tepat!”

Alis Wangkar terangkat satu, “Rahasia?”

Netracurik menggigit bibirnya. “Aku tidak akan menceritakan sekarang, bagaimanapun juga aku tak mungkin tolol dengan percaya begitu saja padamu!”

“Ya, kau memang harus begitu…” ujar Wangkar dengan tersenyum pahit.

“Tapi kau bisa mengetahui satu hal,” ujar Netracurik dengan menatap Wangkar dalam-dalam. “Kerajaan Rakahayu dengan Kadungga akan segera berperang!”

Wangkar tampak tidak antusias. “Bukan urusanku…” gumamnya.

“Harus! Sebab Winarsih dianggap menjadi mata-mata Kadungga saat Prawita Sari hilang dari istana!”

“Kau bajingan pembohong! Kau bilang tadi dia baik-baik saja!” Wangkar memukul Netracurik dengan membabi buta. Dan lelaki itu tidak berusaha menghindar, bagaimanapun kejadian itu memang kesalahannya. Rasa sakit yang dideranya itu adalah hukuman yang wajar, bahkan kurang!

Wangkar jatuh terduduk, dengan wajah tampak tidak percaya. Dulu, dia dengan Bergola pernah ditugaskan untuk menculik Prawita Sari, sebelum akhirnya tugas itu di gantikan oleh tiga orang yang pada akhirnya digagalkan Sakta Glagah. Tragisnya dia malah ditugaskan untuk menganggu kedatangan tiga orang dari Perguruan Sampar Angin yang mengiringi tokoh besar! Lebih tidak di sangka lagi, ternyata adiknya menjadi dayang di istana!

“Sebenarnya apa yang sedang terjadi?” bisik Wangkar dengan terengah-engah melihat wajah Netracurik lebam, pikirannya buntu.

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s