97 – Kesimpulan Awal

Tak lama kemudian, Sakta Glagah muncul dengan membopong gadis yang kondisinya makin melemah. “Ayah…” suara lelaki gagah perkasa terdengar serak, dia menjumput jemari keriput Ki Glagah, dan diciumnya. Dengan satu tangan memeluk ibunya yang sudah mulai renta.

“Siapa dia?” tanya Ki Lukita setelah Sakta Glagah menyalaminya.

“Aku tak bisa menjelaskan sekarang, bisakah ayah dan paman menolongnya?” pinta Sakta Glagah mendesak.

Ki Lukita cepat tanggap, dia memeriksa nadi gadis itu, sebagai orang yang dijuluk Tabib Manjur—bersama Ki Glagah, pendeteksian penyakit, atau luka dari nadi adalah sebuah kekhasan ilmu mereka.

“Aneh…” desis orang tua ini dengan kening berkerut. Sambil memastikan hasil pemeriksaan, Ki Lukita kembali memegang nadi di pergelangan tangan. Kerut pada keningnya makin dalam. Dengan seksama lelaki tua ini memperhatikan nafas gadis itu, terlihat panjang dan tersendat, kadang beraturan kadang pendek tak memiliki jeda, seolah sedang tenggelam.

“Kapan mulai mengalami pernafasan seperti ini?” tanya Ki Lukita membuat Sakta Glagah menggeregap.

“Mungkin, kemarin…”

“Aku tidak ingin mendengar kata mungkin, pastikan!” tandas Ki Lukita tegas membuat Sakta Glagah tergagu kawatir.

“Sebentar…” gumam lelaki ini memejamkan mata mengingat-ingat. Pada saat dia mendapat hadangan seorang yang aneh memasuki perbatasan Kota Pagaruyung, gadis ini masih bisa berkata-kata. Tapi teringat olehnya terkadang ada helaan panjang saat dia hendak mengatakan sesuatu, seolah itu pekerjaan paling berat.

“Dua hari lalu…”

“Kau yakin?” tegas Ki Lukita.

“Ya, paman! Sebelumnya hanya tubuh terasa melemah, tapi selanjutnya untuk bernafas juga mulai ada kesulitan, puncaknya sesampainya saya disini.”

Ki Lukita mengangguk, dia memperhatikan pernafasan gadis itu lagi. Wajah tuanya terlihat menua beberapa tahun, dan itu tidak lepas dari pengelihatan Sakta Glagah.

Sakta Glagah melihat dengan sangat tegang, “Apakah ada yang salah?” tanyanya dengan kekawatiran kian membuncah.

Ayahnya menatap sang anak dengan heran, dia sangat mengenal pribadi anaknya yang sangat tenang dan penuh perhitungan, tapi apa yang ditampilkan saat ini sangat bertolak belakang, semua ketenangan berganti dengan ketidaksabaran berbalut ketergesaan.

Ki Lukita tak menjawab pertanyaan Sakta Glagah, dia memberi isyarat pada Ki Glagah untuk memeriksa. Dengan cekatan orang tua itu segera melakukan tindakan yang sama. Bermula nadi leher, lalu nadi pada pergelangan tangan. Ki Glagah nampak terkejut, dia menatap saudaranya dengan pandangan meminta ketegasan. Ki Lukita mengangguk perlahan.

“Ap-apa yang sebenarnya terjadi, ayah? Apa yang menimpa dirinya?” Sakta Glagah bertubi-tubi bertanya. Begitu besar kekawatirannya, membuat dia terlupa, masih ada resep yang bisa jadi meringkankan beban hatinya.

Sang ayah dan pamannya tidak menjawab, mereka memberi isyarat kepada ibu Sakta Glagah untuk membopong gadis itu keruangan lain. Jangan di lihat tubuhnya yang renta dengan gerak-gerik lambat, menghadapi ketegangan seperti itu, nyatanya wanita tua tersebut bergerak segesit macan kumbang. Gadis berbobot cukup berat itu di angkatnya tanpa kesulitan sama sekali.

“Tunggu disini!” kata ayahnya dengan tegas, membuat langkah Sakta Glagah terhenti, dengan kegelisahan menjadi, lelaki perkasa itu hanya bisa termangu dengan berjalan mondar-mandir.
===
Pada waktu yang bersamaan..

Dini hari itu ruangan di rumah Mintaraga menjadi tempat berkumpul para tokoh yang memiliki nama menjulang mega, kecuali Jaka Bayu—yang tidak ternama sama sekali, semua yang duduk mengeliling meja itu adalah para ksatria yang memiliki perbawa menggetarkan. Kebanggaan membuncah dada sang tuan rumah, berganti hari dan kondisi lain, untuk melihat para tokoh ini berkumpul, adalah kemustahilan.

Kertas yang di tulis Jaka, kini berisi tulisan lebih banyak lagi. Tiap orang menuangkan buah pikirannya disitu. Karena itulah yang akan mereka bahas kali ini—hingga tuntas.

“…dari mana kau bisa mengambil kesimpulan itu?” tanya Sadhana sang Serigala, setelah menyimak cerita Jaka tentang pertemuannya dengan Adiwasa Diwasanta dan Alpanidra. Yang dimaksud kesimpulan disini adalah, ‘tuduhan’ Jaka kepada Alpanidra bahwa orang itu yang ‘mengamakan’ aksi Momok Wajah Ramah.

Jaka mengusap hidung. “Aku sudah bersua dengan Momok Wajah Ramah sebelumnya, ada racun yang khas yang dia bawa. Pada saat berjumpa dengan Alpanidra-pun aku mencium aroma yang sama. Sangat mudah menarik kesimpulan kalau dua orang itu sudah bersua, terlepas apapun yang terjadi diantara mereka.”

Sadhana mengangguk-angguk, dia menoleh ke Beruang yang dari tadi seperti ingin berbicara. Mendapat kode dari rekannya, Çudhakara mendehem sejenak. “Aku bersua dengan beberapa kenalanku dimasa lalu.”

“Maksudnya, mereka yang paman bawa?” tegas Jaka.

Çudhakara mengangguk. “Ya! Dulu mereka ada sekelompok, sekarang tinggal tiga orang saja. Dan saat ini mereka bekerja karena ditekan orang lain. Tapi bukan itu yang ingin kubahas…” lelaki itu mengeluarkan kain yang di lipat rapi. “Aku ingin kau memeriksa ini.” Katanya pada Jaka.

Jaka membuka bungkusan itu dengan antusias, sebuah noda kecoklakan dan kehitaman yang ada dalam dua cuil kain terbungkus jadi satu. Sebelum memeriksa lebih lanjut, Jaka menatap pada Beruang meminta penjelasan lebih lanjut.

“Itu adalah mutahan yang keluar dari lambung mereka, dan lainnya darah hidup yang sengaja kukeluarkan dari mulut mereka.” Tutur Çudhakara menjelaskan.

Jaka mengeluarkan pisau setipis kertas dan jarum perak dari balik bajunya—menatap pisau itu terulaslah senyum tipis, pemuda ini teringat wajah jelita nan sendu. Jaka menjangkau api penerangan dalam ruangan dengan tangan kosong, seperti sulap saja pemuda ini bisa mengambil api dengan tangan kosong, pada telapak tangan pemuda ini berkobar api dengan nyala yang merata, bermula berwarna merah, lamat-lamat hadirin bisa melihat api itu berwarna biru kehijauan. Jaka menggosokkan kedua tapak tangan yang dipenuhi kobaran api itu, dua cuil kain berbeda jenis entah sejak kapan sudah ada dalam gengamannya. Anehnya kain itu tidak terbakar sama sekali, seolah ada lapisan hampa udara yang melindunginya!

Mereka yang ada dihadapan Jaka adalah tokoh-tokoh tingkat tinggi, tapi yang diperlihatkan Jaka benar-benar sebuah teknik sulit, teknik tenaga di dalam tenaga. Satu tenaga panas ada diluar, satu tenaga yang melindunginya dari panas ada didalam kobaran hawa panas itu. Dan lamat-lamat, mereka seperti melihat ada uap yang keluar dari dalam kain itu melayang-layang.

“Ah, ternyata tiga tingkat…” gumam Ki Alih dengan menggeleng kagum. Tadinya dia berpikir apa yang dilakukan Jaka adalah mengerahkan tenaga di dalam tenaga, tapi tidak tahunya tenaga yang di sembunyikan untuk melindungi kain dalam kobaran api itu, masih terdapat satu tenaga lagi! Dan itu difungsikan untuk melindungi uap yang dihasilkan dari dua macam proses yang sudah terjadi, semacam proses ekstrak kondensasi yang sangat sulit.
Jaka mengibaskan tapaknya, dengan gerakan sangat cepat, buliran cairan yang didapat dari proses kondensasi itu, di tangkap dengan punggung pisau yang sudah disiapkan. Hanya ada dua jenis titik bulir air di punggung pisau, tentu saja Jaka tidak menangkap buliran itu dengan cuma-cuma, sebentuk tenaga yang membekukan sudah mengalir pada pisau—untuk menahan penguapan. Semua hadirin hampir-hampir menahan nafas mengikuti betapa sulitnya proses yang terjadi.

Dengan sangat hati-hati, Jaka mencelupkan jarum peraknya pada bulir pertama yang dihasilkan dari mutahan. Dengan seksama, Jaka melihat perubahan pada ujung jarumnya yang mulai menghitam dan akhirnya membuat jarum peraknya berkarat. Wajah pemuda ini terlihat sangat serius, dengan hati-hati, dia mencabut jarum kedua dan di masukkan kedalam bulir cairan kedua—yang dihasilkan dari mutahan darah hidup. Tidak ada reaksi apapun, kecuali ada warna semu hijau yang sangat tipis tersaput diujung jarumnya.

“Aku berterima kasih dengan apa yang sudah paman bawa ini.” Kata Jaka memecah keheningan. “Kita memperoleh kemajuan untuk menyimpukan persoalan bias ini…”

“Apa yang kau dapat?” Tanya Çudhakara kebingungan.

Jaka menghela nafas sejenak. “Pernah dengar, Saudara Satu Atap?” Tanya Jaka dengan menatap wajah-wajah dihadapannya.

Semua orang menggeleng, hanya Sadhana saja yang mendadak wajahnya memucat. “Kau dengar itu dari mana?”

Terulas senyum pahit di bibir pemuda itu, “Aku tidak mendengar, aku mengalami…” desisnya. “Silahkan paman jelaskan!” pinta Jaka dengan nada penuh tekanan, membuat pertanyaan yang diujung lidah Sadhana tertelan kembali.

Lelaki ini menatap Jaka dengan pandangan aneh. “Saudara Satu Atap… sejauh yang aku tahu adalah perkumpulan paling tua yang pernah ada. Kalian mungkin pernah mendengar cerita asal muasal saudara seperguruan Tabib Hidup-Mati dan gurunya. Apa pendapat kalian?” tak menunggu jawaban orang lain, Sadhana meneruskan ulasannya. “Pada akhirnya kita akan mengambil kesimpulan bahwa; dasar dunia persilatan yang ada saat ini, dibentuk oleh mereka. Dengan cara penyeragaman—satu visi, satu pikiran, dan penghilangan terhadap hal yang menentang pola pikir mereka.“ Sadhana menarik nafas sejenak. “Tapi jika harus membicarakan Saudara Satu Atap… apakah ada yang tahu bahwa guru Tabib hidup-Mati adalah anggota Saudara Satu Atap?”

Keterangan itu benar-benar membuat semua hadirin terkejut. Sang tabib dipandang oleh sebagian kalangan, seperti dewa. Kebolehanya dalam beragam disiplin ilmu membuatnya bisa melakukan hal yang dianggap mustahil, termasuk menciptakan dan menggembleng seorang berjuluk Tabib Hidup-Mati yang pada akhirnya menumpas pergerakan para saudara seperguruannya.

“Sebenarnya itu perkumpulan macam apa?” Tanya Pariçudha dengan tenggorokan tiba-tiba terasa kering. Tanpa sadar diraihnya segelas air, entah sejak kapan ketegangan merambati hatinya.

“Tidak ada yang tahu itu perkumpulan macam apa, tapi mengingat Sang Lila adalah anggota mereka…”

“Sang Lila itu julukan guru Tabib Hidup Mati?” potong Ki Alih bertanya.

Sadhana mengangguk. “Ya, julukan yang berarti pelaku kesenangan… konon semua yang dilakukan hanya untuk kesenangan semata. Aku tidak tahu lebih lanjut keterangan mengenai perkumpulan itu. Hanya saja setelah Jaka menyinggung perkumpulan tertua itu, aku jadi teringat tentang beberapa masalah yang mengganjal di benakku, dan dapat sedikit menyimpulkan hal aneh…”

Tidak ada yang mencoba menyela ucapan seorang Jirnnodhaçakti (ahli membangun hal-hal yang hancur—ahli rekontruksi). “Bagaimana jika Sang Lila ternyata mendapat perintah dari Saudara Satu Atap untuk membasmi seluruh insan persilatan? Maksudku, mereka-mereka yang tahu perihal Saudara Satu Atap?! Coba kalian pikir, apa gunaya dia menelurkan tiga orang murid yang kemudian mengaduk-aduk insan persilatan dengan racun ganas, sebelum akhirnya dia ‘munculkan’ murid terakhir sebagai juru selamat? Kita mungkin menganggap itu sebagai penyesalannya, untuk memperbaiki keadaan, tapi pada akhirnya semua jalur ilmu para tokoh yang menjadi korban mereka kuasai, dengan alas an untuk mewariskannya kembali pada keturunan para korban. Kedengaran seperti pahlawan…” sampai disini Sadhana setengah menggeram.

“Tapi, semua kabar yang beredar itu terdengar dibagiku itu adalah cerita sampah! Aku mengetahui informasi inipun dari seorang tua yang masih hidup pada zaman kekelaman itu, saat ini dia sudah meninggal.. tapi dia mewariskan kepadaku fakta-fakta yang harus kurangkai… yang tak juga selesai hingga kini. Sampai saat ini aku tidak pernah berani berpikir bahwa kejadian masa lalu memang untuk ‘membungkam’ tentang keberadaan Saudara Satu Atap.”

“Itu akan kita bahas nanti paman…” sela Jaka. “Kurasa semua orang sudah paham dengan maksudku, siapa gerangan Saudara Satu Atap.” Kata pemuda ini menatap rekan-rekannya dengan tajam. “Jika kesimpulanku benar, kita akan menghadapi badai pembunuhan kedua… kali ini, akan jauh lebih dahsyat dari masa lalu!”

Perlahan namun pasti bulu kuduk mereka meremang. Hastin yang paling malas mendengarkan segala macam ulasan pun menjadi lebih memfokuskan perhatiannya.

“Apa yang diambil dari tawanan paman Çudhakara, adalah racun yang dipakai oleh Saudara Satu Atap. Racun ini sangat murni, sama sekali tidak ada perubahan dalam pembuatannya. Aku cenderung menyimpulkan orang yang menggunakan racun ini tidak tahu menahu sejarah dibalik pembuatannya. Pengetahuan ini mutlak tidak mungkin di simpulkan oleh orang lain, kecuali para kerabat Tabib Hidup-Mati yang paham benar dengan cara kerja Saudara Satu Atap. Apakah sudah ada yang menangkap apa yang ingin kukatakan?”

Semuanya menggeleng.

Jaka menghembuskan nafas begitu perlahan. “Ada pihak yang mengetahui secara jelas hal yang menjadi larangan… larangan itu adalah untuk mencari tahu keberadaan Saudara Satu Atap.”

Jaka kembali menatap rekan-rekannya dengan sorot tegas. “Siapapun mereka, jika ada sepercik informasi tentang kalangan yang berhulu kepada Saudara Satu Atap… mereka—Saudara Satu Atap akan memburu mereka, dan melenyapkannya seperti yang telah disimpulkan paman Sadhana.”

“Tapi, camkan ini! pihak ini—pihak perancang keonaran ini, justru menginginkan sisa-sisa pengetahuan tentang Saudara Satu Atap dibangkitkan lagi! Pihak ini menyadari, untuk melawan Saudara Satu Atap adalah sebuah kemustahilan. Hal yang paling mungkin adalah memberi rangsangan-rangsangan kejadian disetiap penjuru, untuk mencari tahu siapa-siapa saja yang sanggup mengambil kesimpulan secara benar—setidaknya mendekati kebenaran! Jika pihak-pihak itu telah ditemukan… dan jika kita ternyata dapat mengambil kesimpulan benar, maka detik ini juga kita sudah menjadi bidak catur orang itu! Sadar atau tidak, kita akan digunakan sebagai alat untuk melawan Saudara Satu Atap!” tutur Jaka menutup penjelasannya, membuat ketegangan makin terasa.

“Tentunya, menjadi bidak bersamaan dengan kerabat Tabib Hidup-Mati…” gumam Hastin berkesimpulan.

“Tepat!” seru Jaka dengan darah bergelora, terbakar semangat. Sebab sebuah penggalan epik kejadian di masa depan yang akan menguncang sendi-sendi kemanusiaan harus mereka lindungi mati-matian. “Aku tinggal menyimpulan satu hal untuk memastikan bahwa pembicaraan kita ini, benar!”

“Apa itu?” Tanya Ki Alih. “Ah… jangan kau katakan bhawa itu adalah resep obat yang kuberikan pada Sakta Glagah?!” seru Ki Alih tak dapat membayangkan tokoh semacam Sakta Glagah digunakan menjadi batu uji bagi kesimpulan Jaka.

“Sayang sekali paman, memang itu yang kumaksud!” kata Jaka dengan tersenyum. “Kita akan menunggu hasil pengobatannya!”
===

Istri Ki Glagah sudah melepaskan seluruh pakaian yang dikenakan gadis itu, kini dia hanya mengenakan selembar kain putih yang di tutupkan begitu saja.

“Kau siap adi?” Tanya Ki Glagah pada Ki Lukita, guru Jaka Bayu itu mengangguk dengan tegang.

Apa yang akan mereka lakukan adalah menutup Sembilan puluh empat saraf yang tersebar dari Jiangming-Chingming, hingga Zhiying-Chihyin yang bermuara pada meridian kandung kemih—dari kepala, punggung hingga tulang ekor—itu adalah enam puluh tujuh bagian yang akan dikerjakan Ki Lukita. Sementara Ki Glagah sendiri menangani dua puluh tujuh titik dari mulai Yongquan-Jungchuan hingga Shufu yang bermuara pada meridian ginjal—itu ada dibagian dagu hingga lambung.

Jumlah yang akan dikerjakan Ki Glagah lebih sedikit bukan berarti lebih mudah, justu itu bagian paling sulit, karena dia harus menyesuaikan tiap penutupan syaraf yang di lakukan oleh Ki Lukita. Keduanya saling tatap dan menyelaraskan nafas, kesalahan dalam penyelarasan nafas dapat membuat jeda waktu totokan berbeda, dan itu akan mengakibatkan cacat permanen pada si gadis.

Ibu Sakta Glagah menatap keduanya dengan tegang, tugasnya adalah menyambung simpul tenaga yang di lakukan kedua orang itu. “Mulai!” desisnya dengan konsentrasi memuncak.

Kedua orang itu membentak bersamaan, dan detik itu juga, desingan totokan menyayat kebekuan udara di bawah tanah. Bahkan Sakta Glagah di luar kamar dapat mendengar desingan-desingan totokan. Suara yang sangat biasa baginya, kini membuat keringat didahi jatuh berderai tak henti-henti dengan kecemasan memuncak.

Waktu yang dibutuhkan orang tua dan pamannya untuk melakukan proses itu tidak sampai seratus hitungan, tapi lelaki perkasa ini seolah merasa itu adalah saat paling berat dan mencekam dalam hidupnya. Dia lebih suka dirinya yang mengalami kejadian itu.

Pintu kamar terbuka, degup jantung Sakta Glagah makin berkejaran. Menyaksikan ketiga wajah tua itu mengerut penuh peluh.

“Bagaimana ayah?” tanyanya dengan terburu.

Ayahnya mengangkat tangan sebagai isyarat baginya untuk bersabar. Barulah Sakta Glagah menyadari, ketiga orang tua itu dalam kondisi kuyu dan terengah. Padahal dia tahu benar ilmu-ilmu ketiga orang tua itu jelas lebih matang darinya, tentu pengobatan yang dilakukan tadi benar-benar menguras tenaga.

“Sementara dia aman ngger…” ibunyalah yang menyahut.

Jawaban ibunya membuat Sakta Glagah menghela nafas lega, seolah beban yang selama ini menekan batinnya terhempas sama sekali.

“Tapi itu tidak bisa bertahan lama, kita harus mencari obat yang tepat!” sambung ibunya lagi.

“Ah, alangkah bodohnya aku!” seru Sakta Glagah dengan suara girang, dia buru-buru mengeluarkan kain yang di dapati dari sahabat yang aneh. Diserahkan kain berisi resep itu pada ibunya.

Wanita tua itu membaca dengan hati-hati, wajahnya menampilkan rona tak percaya.

“Biar kulihat,” pinta suaminya.

Ki Glagah membacanya, sebuah resep tertulis bahan-bahan yang mustahil didapat, jika itu bukan perkumpulan mereka! Itulah yang membuat Sakta Glagah sangat terkejut saat membaca resep tersebut. Akar Bunga Gurun, Daun Kurumbhagi, dan Buah Jalanidhi. Ketiga unsur itu hanya ada di perkumpulan mereka. Buah Jalanidhi mungkin termasuk hal umum—meski sulit didapat—tapi bukannya tidak bisa dicari, buah ini dapat digunakan sebagai obat bius. Sedangkan Akar Bunga Gurun jelas merupakan produk yang tak mungkin ditemukan oleh pihak manapun, kecuali kau mengatahuai adanya Perkumpulan Garis Tujuh Lintasan. Teristimewanya Daun Kurumbhagi, daun langka berbentuk seperti pisau; berkhasiat untuk menghentikan pendarahan seketika, itu tidak akan bisa ditemukan ditempat lain, kecuali di Kalangan Garis Tujuh Laut, perkumpulan mereka!

“Siapa yang memberikan resep ini?” Tanya Ki Glagah dengan nada prihatin, dari ulasan dalam resep tersebut, Ki Glagah bisa menyimpulkan orang yang menulis itu adalah orang yang sangat paham tentang pengobatan dan berpengalaman luas. Dan yang jelas kemungkinan orang itu mengetahui keberadan mereka, di Kota Pagaruyung.

Sakta Glagah menceritakan pengalamannya saat melintasi perbatasan kota itu. “… satu hal yang menyita perhatianku hingga kini adalah pukulan yang dilakukan orang itu. Bermula aku mengira dia dapat membuat detak jantungku dipacu belasan kali lebih cepat, tapi kupikir-pikir kemampuan semacam itu adalah mustahil, tanpa ada bentrokan langsung. Saat ini aku berkesimpulan, kedatanganan orang itu adalah untuk meminta perhatianku.”

“Apakah ada kemungkinan orang itu ada dalam pihak yang sama?” gumam Ki Lukita dengan berpikir keras.

“Maksud paman?” Tanya lelaki ini kurang jelas.

“Orang yang melukai gadis itu, dan pemberi resep obat adalah pihak yang sama…” simpul Ki Lukita.

Sakta Glagah tercenung, “Aku tak dapat menyimpulkan hingga sejauh itu. Sebab siapapun orang itu, akan sangat bodoh berupaya mengusik kalangan kita!” tegasnya dengan mata berkilat. “Lalu… apakah resep itu memang cocok?” sambungnya dengan nada penuh harap.

“Ya,” Jawab Ki Lukita membuat kegembiraan Sakta Glagah membuncah. “Sayangnya kami tak dapat melakukan itu…” kalimat terakhir membuat harapan Sakta Glagah seolah musnah.

“Tapi kau tak perlu cemas, murid pamanmu dapat melakukannya.” Kata sang ibu memastikan.

“Murid?” Sakta Glagah bertanya penuh keheranan. “Apakah paman mengangkat muid baru tanpa sepengetahuanku?”

Ki Lukita mengangguk. “Belum sampai sepekan ini.” Katanya sambil tersenyum, mengingat Jaka Bayu yang penuh gairah dalam melakukan berbagai hal, membuat lelaki tua ini rindu dengan murid barunya itu, dan kejadian saat ini dapat menjadi alasan memanggil murid terakhirnya itu untuk pulang.

Sakta Glagah menatap pamannya dengan tercengang, memangnya murid yang diangkat dalam waktu satu pekan, dapat mewarisi kemahiran macam apa? Keingintahuan tentang murid baru sang paman menggelitik batinnya.

Ki Lukita menekan tuas di bawah meja, tak berapa lama muncul laki-laki paruh baya menghadap.

“Ada tugas apa, Ki?”

“Undang pulang murid terakhirku…” perintah Ki Lukita.

“Baik.”

Langkah menjauh pesuruh itu membuat Sakta Glagah makin penasaran dengan sosok murid sang paman. Ah persetan, pikirnya. Toh sebelum sore nanti aku akan berjumpa dengan dia! Pikirannya melayang-layang memastikan apa yang harus dia lakukan jika murid baru sang paman ternyata tidak becus dalam upaya penyembuhan!

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to 97 – Kesimpulan Awal

  1. x-an says:

    Up loadnya jangan lambat mas didit, ini aku bacanya sudah slow…….klu jg ikan di bawa juga alat tulisnya ya

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s