96 – Hari Kelima

Jaka duduk termenung memperhatikan peta yang sudah berhasil di salin ulang oleh Cambuk. Lelaki itu nampak terkantuk-kantuk menunggu komentar Jaka, maklum saja sejak dia mendapatkan ide dalam penulisan keterangan peta, sampai dini hari ini sudah berlangsung delapan jam. Hari yang melelahkan.

“Bagus sekali paman, silahkan beristirahat…” kata Jaka sembari menyandarkan punggung dan memejamkan mata sekejap, dengan ekor matanya Jaka melihat Hastin juga sedang tidur mendengkur. Pemuda ini tertawa dalam gumam, dalam hati dia sangat berterima kasih bahwa tokoh dengan nama bagai mega di angkasa itu mau memberikan sumbangsih tenaganya.

Menjelang dini hari adalah waktu yang sangat baik untuk melakukan koreksi atas segala tindakan, pemuda ini membasuh wajahnya dengan air, sebersit kesegaran menyirnakan rasa kantuk, setelah menyeka wajah, dia mengambil tinta dan membuat catatan-catatan yang harus mereka diskusikan sebelum fajar menjelang.

1. Momok Wajah Ramah, berhasil dilumpuhkan dengan sendirinya kedatangan Sakta Glagah sudah terpantau—jika ada orang-orang kita yang menjumpainya, bawa dia ke Kuil Ireng.
2. Resep yang diberikan kepada Sakta Glagah, akan membuat guncangan pada Perkumpulan Garis Tujuh Laut bersama Delapan Sahabat Empat Penjuru, mereka akan segera bergerak.
3. Jika Garis Tujuh Laut bergerak dengan sendirinya perkumpulan Garis yang lain akan ikut bergerak memanaskan suasana.
4. Orang-orang Ketua Bayangan Naga, akan mulai memburu Paksi dan Kiwa Mahakrura, kita akan memberikan petunjuk pada Paksi, tentang adanya aku. Bahwa aku adalah adik dari Ketua Bayangan Naga.
5. Kiwa Mahakrura harus dilumpuhkan di pada saat mencari informasi kejadian diGua Batu, dari mulutnya akan kita sebarkan informasi, Swara Nabya yang turun tangan.
6. Pisau Empat Maut, harus segera memberikan bantuan-bantuan padanya sesegera mungkin. Adiwasa Diwasanta bisa menjadi ujung tombak yang mematikan. Kita juga harus berhati-hati dengan posisi mereka, saat ini masih menjadi kawan, entah besok.
7. Meraup tenaga Pemabuk Berkaki Cepat yang sudah berhasil di provokasi. Mengarahkan mereka untuk mengepung Perguruan Naga Batu, buat suasana menjadi sangat meriah.
8. Riyut Atirodra, harus kita dapatkan jejaknya!
9. Bagaimana kondisi Jung Simpar saat ini?
10. Jejak Golok Sembilan Bacokan akan disebar di kota ini.

Sepuluh point yang di tulis Jaka masih memiliki banyak sisa pada halaman bawah, itu yang akan ditambahkan Ki Alih sekalian. Pemuda ini merebahkan badannya, dan memejamkan mata sekejap.
****

“Apakah kita memiliki catatan mengenai anak muda itu?” tanya Adiwasa Diwasanta pada Alpanidra, mereka nampak keluar dengan santai melalui pintu gerbang dari bangunan yang baru saja ditinggalkan Jaka. Beberapa orang dengan sangat hormat mengantarkan mereka keluar dari gerbang!

“Tidak, kecuali informasi yang keluar dari mulutnya sendiri apapun kita tidak memiliki ikhtisar mengenai Jaka Bayu.” Sahut Alpanidra.

“Apakah tidak ada yang mengikuti pergerakannya?”

“Pernah ada, tapi kepergok olehnya… dari pada kita membangunkan harimau tidur terlalu dini, lebih baik saat ini fokus pada masalah yang terjadi saja.”
Adiwasa Diwasanta mengumam perlahan. “Anak itu sangat.. jenius.. ah bukan, mungkin lebih kepada cerdik dan jeli.. hm, entah bahasa apa yang tepat untuknya …”

“Pertemuan pertamaku juga menyimpulkan begitu. Kupikir, tadi sewaktu dia menghadapiku, akan mengeluarkan jurus yang pernah mengejutkan Harsa Banggi, tidak tahunya ilmu setan…” gerutu Alpanidra. “Kau dan dia setali tiga uang!” Sambungnya.

Orang itu tertawa. “Jika kau berkesimpulan begitu, maka aku akan sangat hati-hati padanya. Tahukah kau, gerakan yang di lakukan sebelum pukulannya menghentikan laju tenaga saktimu itu adalah enam belas macam gerakan dari dua belas perkumpulan berbeda?”

Alpandira tidak memberi komentar. Semula dia kira beberapa gerakan rumit yang ditarik berulang kali oleh Jaka adalah gerak tipu. Tapi setelah dipikir ulang, rentetan gerakan yang mengandung beberapa ciri gerak dari berbagai perkumpulan, adalah semacam ancang-ancang menuju satu titik kekhasan sebuah ilmu. Dulu saat dirinya menguasai ilmu pukulan yang sangat diidam-idamkan orang, untuk melepaskannya, lebih dulu butuh pengerahan dua belas gerakan khas dari pukulan tersebut, sebelum merambat menuju puncak. Saat ini dia sudah menyederhanakan menjadi satu gerakan saja. Dia berkesimpulan, apakah Jaka telah membuat dirinya menjadi ‘kelinci percobaan’ pukulan barunya? Karena untuk ukuran sebuah ilmu pukulan andalan, ancang-ancang yang dilakukan pemuda itu terlampau banyak—meski itu dilakukan dengan sangat cepat.

“Tapi yang paling menarik adalah, ada lima jenis tenaga yang berputar sangat cepat dalam lontaran pukulannya. Aku melihat sedikitnya ada tiga macam hawa sakti, yaitu; Hawa Dingin Penghancur Sumsum, Badai Gurun Salju, dan Hawa Bola Sakti, dua hawa sakti lainnya aku kurang tahu. Kelimanya berputar dengan sangat cepat, aku merasakan sebelum pukulan anak itu mengenai dirimu, paling tidak dia sudah melakukan dua kali sirkulasi kelima hawa murninya…”

Kali ini Alpanidra benar-benar terkejut. “Dia menguasai tiga ilmu mustika?”

Pertanyaan itu disambuti anggukan rekannya.

“Pantas saja dia sanggup menahan Pancawisa Mahatmya…” desisnya.

“Meski aku melihat hawa itu selapis tipis, pandanganku tak bisa disangkal! Mungkin dari catatan Wrddhatapasa, kita bisa melihat masa lalu anak itu…” timpal Adiwasa Diwasanta.

“Ah…” Alpanidra tak berani berkomentar, Wrddhatapasa adalah sebutan umum pada Pendeta Tua, tapi yang di sebut Wrddhatapasa yang dimaksud rekannya itu hanya ada satu orang. Dia salah satu sesepuh Dewan Pelindung Ilmu Mustika, mungkin hanya Adiwasa Diwasanta yang bisa bebas ngobrol dengan orang yang disebut Wrddhatapasa.

****

Momok Wajah Ramah berada dalam kebimbangan besar, memasuki pusat kota di malam hari tak membuatnya merasa nyaman. Kali ini dia bahkan merubah caranya berpakaian dan raut wajahnya dengan samaran.

Dengan hati gelisah orang itu berjalan dengan mata berkisar waspada, seluruh tanda rahasia perkumpulannya bertebaran di tiap jalan. Beberapa dari tanda itu bahkan di buat oleh Bergola yang menyatakan: “Mencari rekan.”

Dalam banyak hal, Momok Wajah Ramah merasa bisa mengontrol Bergola, tapi setelah dirinya runtuh habis-habisan seperti saat ini, dia menjadi sangat kawatir jika berjumpa dengan rekannya itu. Dilain sisi, orang yang sudah melucuti dirinya juga merupakan kekawatiran terbesar baginya, untuk melakukan satu tindakan busuk lagi Momok Wajah Ramah harus berpikir ulang seratus kali.

Momok Wajah Ramah berpapasan dengan penjual gorengan yang memikul bakulnya, penjual itu pulang dengan wajah riang, nampaknya laku semua. Mereka berselisih jalan dalam jarak sangat dekat. Untuk pertama kali dalam hidupnya Momok Wajah Ramah berpikir; apakah dirinya harus mencari uang dengan cara berjualan?

Manakala pikirannya melayang kesana, penjual gorengan itu dengan kecepatan bagai kilat memukulkan pikulannya kepinggang Momok Wajah Ramah, lelaki ini terkesip. Dengan reflek dia menjatuhkan tubuhnya kedepan, mengambil kerikil dan disambitkan pada penyerangnya! Sayang, gerakan itu hanya terjadi diangan-angannya, sebab sabetan penjual gorengan itu datang lebih cepat. Tubuh Momok Wajah Ramah menggelosoh.

Sebelum tubuh itu jatuh, penjual gorengan itu sudah menangkap bahu lawannya. “Kau kenapa, apa kurang sehat tuan? Mari biar saya antar…” katanya dengan suara sumbang.

Mulut Momok Wajah Ramah terkunci gagu, dia ingin memaki kalang kabut, dia ingin supaya orang lain yang baru saja berpapas dengan mereka mengetahui bahwa dirinya di serang. Tapi orang itu hanya berhenti sejenak, melihat mereka berdua lalu berjalan menjauh.

“Jika ingin menyamar, lebih baik kau potong kakimu…” Momok Wajah Ramah hanya mendengar satu kalimat itu sebelum akhirnya dia tak bisa mendengar apa-apa. Ya, pikirnya, tubuh yang lebih tinggi dari kebanyakan orang, memang menjadi ciri khasnya. Pantas saja orang itu menyarankan dirinya untuk memotong kaki. Momok Wajah Ramah hanya bisa merasa ketakutan dan keputusasaan melingkupi dirinya dengan sempurna.

****

Sakta Glagah sudah ditinggalkan ketiga pengawalnya, dia memasuki sebuah rumah penginapan. Seorang gadis yang nampak kelelahan dan lemah tergolek di pembaringan. Hati lelaki ini nampak bergemuruh melihat ketidak berdayaan itu, tapi dilain sisi, dia juga merasa ada harapan tersemai saat melihat bungkusan kain dalam genggamannya. Bungkusan yang di serahkan seorang sahabat barunya yang aneh.

Lelaki ini meraba tuas yang terletak di belakang kanvas lukisan, begitu tuas ditarik, suara gesekan lirih di lantai menyingkapkan sebuah tuas pintu lain. Dengan tindak hati-hati, dibukanya tuas itu, serbuah udara pengap dari pintu yang terbuka itu menerobos kamar. Ternyata sebuah jalan rahasia bawah tanah. Begitu sirkulasi udara dalam lorong itu cukup baik bagi pernafasan orang yang sakit, Sakta Glagah mendukung gadis itu dengan sangat hati-hati, dan masuk kedalam lorong.

Tuas penutup pintu sudah dia tekan dari dalam lorong, kondisi kamar itu kembali sedia kala, bedanya kedua penghuni sudah tidak ada.

Dengan langkah terburu, Sakta Glagah menerobos kian dalam, setelah berjalan dengan lika-liku dengan banyak persimpangan yang memusingkan, akhirnya lelaki ini sampai pada pintu bercat putih. Perlahan didorongnya kemuka, pintu itu membuka keatas bukan kesamping, gerakan daun pintu menekan sebuah tuas kecil yang terhubung dengan tali.
====

Ting! Denting lirih di salah satu rumah sesepuh Kota Pagaruyung membuat penghuninya saling pandang. Denting itu berarti ada sebuah pintu dalam ruangan bawah tanah yang terbuka.

“Dia sudah datang…” kata seorang perempuan tua pada suaminya dengan kegembiraan membuncah.

Ki Glagah mengangguk tersenyum, “Semoga dia dalam keadaan baik…”

Mereka berdua beranjak dari duduk dan masuk kedalam dapur, ternyata disanalah pintu masuk kedalam lorong tersembunyi. Keduanya bergegas menuju ruangan pertemuan, di sana sudah menunggu Ki Lukita yang turut merespon bunyi ‘ketukan meminta masuk’.

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s