117 – Domino Effect : Lembah Halimun (2)

Tersibaknya kabut hanya sesaat, parwwakalamahatmya berpendar lagi, seberkas asap tipis bergulung-gulung keluar dari dalam kotak. Kali ini ada persentuhan langsung, kontak antara kabut dengan parwwakalamahatmya membuatnya mengeluarkan kilatan tipis berwarna biru kehijauan. Dua Bakat siang-siang sudah menjauhkan diri. Kali ini area seluas puluhan meter persegi terbebas dari kabut, Dua Bakat bisa melihat kondisi Lembah Halimun dengan lebih jelas, kehidupan seluas itupula nampak layu.

 

Lencana Kosamasangkya

Tidak berbeda dengan dengan lembah pada lereng gunung pada umumnya, bedanya, seluruh kehidupan dalam lembah itu, memilik pola dua warna, kelabu dan biru. Persentuhan dengan parwwakalamahatmya membuat dedaunan menghijau sebelum akhirnya layu kelabu.

Sang majikan tidak pernah mengatakan, jika terlalu lama dirinya memegang racun parwwakalamahatmya—meski itu hanya kotaknya saja, akan membuat tubuhnya makin renta sedikit demi sedikit, dan tentu saja akan sangat berpengaruh pada tenaganya. Meski parwwakalamahatmya hanya bereaksi pada sejenis gas tertentu dalam Lembah Halimun, tapi bukan berarti tubuh manusia tidak terkena dampaknya.

Dua Bakat terlalu taklid (percaya secara membuta) dengan sang majikan, dia tidak berpikir, jika benda aneh yang dibawanya, bisa bereaksi dengan tiap mahluk yang selalu bersentuhan dengan kabut di dalam Lembah Halimun, bukankah dirinya-pun bakal menjadi korban pada urutan terakhir manakala pusat kabut sudah dia temukan. Yang jelas dirinya tidak mungkin pula bertanya kepada orang, sebab siapapun manusia yang berada disekitar Lembah Halimun, boleh jadi merupakan kalangan Swara Nabhya itu sendiri.

Rasa kesal karena peta sang majikan ternyata tidak berguna, membuat Dua Bakat melemparnya jauh-jauh kedepan. Melesat menembus kabut. Tapi, sebersit ingatan membuatnya mengurungkan niat, dan terburu-buru memburu arah lemparannya. Dirinya terlalu percaya diri karena sudah membekal parwwakalamahatmya, sayangnya jurang dihadapannya jelas bukan solusi bagi jenis racun apapun.

“Aaah…!” keterkejutannya menimbulkan pekik yang menggema melingkupi Lembah Halimun, sebagai tokoh yang berpengalaman sekalipun, Dua Bakat tetap tidak sanggup bereaksi menurut keadaan, bukan karena dia kurang ilmu, sama sekali tidak, tapi karena Lembah Halimun merupakan salah satu anomali alam yang memiliki jebakan fatamorgana akibat kabut dan uap yang tersebar diseluruh penjuru.

Tubuh Dua Bakat meluncur deras! Celananya sempat tersangkut pada sebuah ranting pohon, membuat tangan Dua Bakat segera meraih ranting itu… tapi, terlalu getas, ranting itu tak kuat menahan beban tubuhnya, hanya mengurangi luncuran jatuh untuk sesaat. Dia berputusasa atas hidupnya yang diujung tanduk. Dalam kondisi melayang jatuh, ekor matanya melihat catatan yang tadi dibuang melayang, tepat didepan hidungnya, menari-nari seolah mengejek ketololannya. Meski tahu dirinya mungkin saja sudah tidak memiliki kesempatan, dengan cekatan Dua Bakat meraih, menyimpannya dan.. bress!

Tubuh Dua Bakat membentur benda yang menghantarkan informasi pada otaknya bahwa; itu adalah beberapa temali yang terjalin begitu rupa. Jatuh dengan gaya bebas seperti itu—dengan lengan menyangkut tali, jangan ditanya rasanya seperti apa! Tapi Dua Bakat jelas tidak mau berleha-leha. Mendapatkan kesempatan sebaik itu, dengan cekatan, tangannya mencengkeram temali, kakinya berayun membuat tali yang melintang itu menggelayut sesaat sebelum menimbulkan daya pantul. Dua Bakat terlempar kedepan, kabut yang mengayut disetiap jengkal membuat orang ini berlaku sangat waspada, dia tidak tahu jarak dirinya dengan dinding tebing.

‘Andai saja…’

Brak! Belum selesai kilasan dalam benaknya usai, tubuhnya menghantam dinding tebing, ketidaksiapan dirinya membuat Dua Bakat merasakan sakit menyengat sampai ubun-ubun, tapi tangannya tidak berhenti. Jemarinya segera mencengkeram dinding tebing untuk mencari pegangan… Crak! Berhasil! Meski agak berguncang sedikit, tubuhnya kini menggelantung di tebing! Untuk tokoh sekelas Dua Bakat, membenamkan jemari ke batu-batuan jelas mudah… tapi ketegangan atas rentetan demi rentetan kejadian tadi, membuat jemarinya terlasa lemah. Helaan nafas lega Dua Bakat memecah hening, mengawali pengerahan pondasi tenaga dengan lebih mantap.

Berturut-turut tangannya menyentak keatas, sungguh tak pernah disangka, ternyata dia terjerumus cukup dalam. Tebalnya kabut membuat lelaki ini tidak bisa memastikan berapa jauh lagi jarak yang harus ditempuh. Tapi makin lama, cengkeraman tehadap dinding tebing kehilangan daya tembusnya, apa mau dikata kelelahan sudah menggerogoti semangat dan tenaga. Mendadak, terdengar kesiur angin dihadapannya, dengan sigap Dua Bakat mengelak kesamping dan menempelkan tubuhnya rata dengan dinding tebing. Kabut sedikit tersibak. Ah, ternyata sepotong tali!

Kuduk Dua Bakat merinding, tidak mungkin tali muncul sendiri, siapa orang yang ada diujungnya? Apakah penghuni Lembah Halimun? Itu sudah jelas!

‘Mati aku!’ Pikirnya dengan putus asa mulai merambati hati. Tunggu punya tunggu, tak ada reaksi apapun, meski tahu bahaya menghadang, kesempatan hidupnya di atas tebing jelas jauh lebih besar dari pada tergantung begini rupa. Dua Bakat memutuskan untuk merambati tali itu. Tak mau ceroboh, lelaki ini merambat dengan sangat perlahan.

Dua Bakat terus meraba-raba tali untuk yang kesekian kalinya, dan saat ini tertambat pada ujung tebing, ah.. sudah sampai! Pikirnya tak kehilangan kewaspadaan. Meski kedengaran konyol, Dua Bakat jelas tidak mau menyerahkan nyawa karena kesalahan kecil. Saat tangannya mencapai bibir tebing, detik itu juga tubuhnya melesat kedepan, lalu menggelinding, dia tidak perduli meskipun lautan golok menghadang, karena dia siap! Tapi, setelah sekian lama menunggu dengan hawa sakti mengelilingi tubuhnya secara penuh, tidak terjadi apa-apa! Sungguh mengherankan… siapakah yang menolong dirinya? Kalau sang majikan, jelas tidak mungkin. Dia bisa menilai gerakan orang itu terbatas, lagipula untuk apa harus dirinya yang berangkat jika akhirnya orang tua itu yang datang sendiri? Kusut masai rasa pikiran Dua Bakat, meski banyak pertanyaan menggayut benak, dia tidak pernah mengira, akan begitu senangnya saat menjejakkan kaki di tanah datar.

Kabut yang menyelimuti sekeliling dirinya, membuat Dua Bakat memutuskan untuk menggunakan parwwakalamahatmya lebih cepat. Ketakutan terhadap keselamatan dirinya membuat setitik belas kasihan yang semula tumbuh di hati, terampas habis. Jika sebelumnya benda itu bisa bereaksi meski masih terbungkus dalam kotak, Dua Bakat memutuskan untuk membukanya. ‘Persetan dengan kehidupan yang ada, kabut sialan ini harus enyah dari pandanganku.’ Hanya itu yang terbetik dalam benak orang ini.

Tak bisa dipungkiri, rasa putus asa itu bisa menggelapkan kepekaan nurani, tapi jika kau menarik nafas lebih dalam, memenuhi rongga paru-parumu, merasakan setiap hisapan udara masuk kedalam tubuh dengan rasa syukur, kau akan mengerti hidup itu sebenarnya adalah anugerah. Merasa miskin dengan anugerah sangat istimewa seperti itu, merupakan kobodohan. Kebanyakan orang menyerahkan keputusan berdasarkan amarah, rasa putus asa, dan hanya mengandalkan pertimbangan akal, itu jelas tidak menjadi solusi akhir, cobalah kau berdamai dengan nuranimu. Bertanyalah padanya… manakala baik sepotong benda dalam tubuh manusia, maka akan baik pula seluruhnya, benda itu bernama hati (nurani). Selanjutnya, buat keputusan!

Dua Bakat jelas sudah kehilangan pertimbangan nurani karena guncangan rasa takut, dengan tangan gemetar, dikeluarkan parwwakalamahatmya, seperti sinar yang menembus kepekatan malam, pendaran hawa dari dalam kotak itu langsung menyibak kabut sejauh dua langkah. Orang ini berpikir, jika dirinya membuka kotak, tentu kabut akan bergerak lebih jauh lagi. Masih dengan jemari bergetar…

“Hm!” satu gumaman membuat Dua Bakat berjingkat kaget, jemarinya segera mencengkeram kotak—kawatir ada yang berupaya merampas, memasukkannya dalam kantong kulit khusus dan menyembunyikan di balik baju. Kabut yang sempat tersibak kembali menyelimuti sekitar Dua Bakat. Rasa kebas yang merambati jemarinya, tidak diindahkan. Ketegangan atas hadirnya pihak lain di lembah ini jelas menyita perhatian lebih banyak. Dengan sangat perlahan Du Bakat bergeser menjauh dari tempatnya berdiri.

Dua Bakat jelas tidak ingin bertindak bodoh dengan bertanya siapa orang itu, seluruh indera pendengaran dan kepekaannya di pusatkan untuk merasakan lingkungan seluas dua puluh langkah, tapi dia tidak menerasakan apapun. Begitu senyap, seolah hanya tebaran batu-batu yang tersembunyi di balik kabut.

Mendadak dari balik kabut muncul setitik cahaya, pendaran cahaya hanya terang sesaat, dan meredup seperti kunang-kunang dari balik malam. Cahaya itu bukan hanya satu, tapi banyak dan berjajar menjalar seperti titik-titik api yang secara simultan hidup, menjalar. Meskipun dia bodoh—pada kenyataannya jelas tidak—Dua Bakat bisa melihat itu adalah ‘jalan setapak cahaya’, titik cahaya pertama sudah padam. Meski tidak tahu cahaya itu akan menuntun kemana, Dua Bakat segera melesat mengikuti jalan itu.

Di ujung cahaya, Dua Bakat menemui kenyataan titik cahaya itu hanya segumpal benda yang habis karena terbakar, entah terbuat dari apa. Tapi yang jelas kehadirannya sudah diketahui warga Lembah Halimun, tapi mengapa dirinya tidak di kuntit, sebagaimana cerita-cerita yang selama ini beredar diluaran?

“Lihat petamu!” terdengar suara lirih menyusup ketelingannya, namun menimbulkan gaung di kepala Dua Bakat, membuat lelaki ini menjadi pening, sungguh dunia dalam Lembah Halimun penuh dengan kemisteriusan, entah siapa orang yang berulang kali ‘menyelamatkannya’. Lagi-lagi dalam hatinya timbul syak wasangka, apa mungkin itu sang majikan? Minimal orang suruhannya… tapi, lagi-lagi dugaan itu dia mentahkan sendiri.

Dengan menajamkan matanya Dua Bakat melihat peta dari sang majikan, pada catatan awal tertulis, ‘lepas dari cahaya, dua langkah kekiri, raba sebuah nisan.’ Karuan saja Dua Bakat melongo membaca itu, seolah antara: tali, cahaya, dan peta sang majikan, ada jalinan kisah yang membentuk simpul mati! Dan membuat hatinya terasa rumit. Kuduknya meremang, kali ini dia sadar betul, dirinya mutlak menjadi pion yang hanya bisa berjalan lurus. Tak ada jalan mundur. Entah nanti hidup atau mati, itu juga menjadi pertanyaan besar. Berpikir begitu, malah membuatnya lebih tenang. ‘persetan!’ desisinya sambil menggertak gigi.

Dua Bakat mulai melangkah kekiri, kaki dan tangannya meraba-raba dalam kepekatan kabut, tapi dia tidak membentur sesuatupun, kembali ketempatnya, Dua Bakat mengganti arah dan menggeser kekiri, demikian seterusnya, pada kali ketiga—saat tubuhnya sudah membalik 180 derajat dari tempat kedatangannya tadi, barulah dia merasakan ada batu. Aha.. ini dia! Cetusnya gembira.

Dia belum tahu setelah diraba, hendak diapakan? Belum lagi benaknya memutuskan untuk melihat peta, sebuah gerakan dibawah kakinya membuat Dua Bakat kaget, sebuah lubang menganga menjerumuskan dirinya yang masih diliputi keterkejutan. Tangannya meraih kesana-kemari, tapi tak juga mendapatkan sesuatupun untuk digunakan sebagai penahan tubuh.

Bluk! Dua Bakat sampai diujung dasar dengan dada berdesir lega, untunglah lubang itu tak terlalu dalam, pikirnya. Paling tidak hanya dua tombak saja. Di dalam lobang tidak ada kabut, itu membuat secercah harapan kembali bersemi di hati. Dua Bakat, tahu harus kemana. Ternyata peta dari sang majikan, menggambarkan jalan bawah tanah! Tapi, jika jalan hanya ada satu ruas terbentang, apakah peta diperlukan?

Dalam tiap langkahnya, Dua Bakat berpikir; ‘Apakah ada golongan dalam Lembah Halimun yang menudukung rencana sang majikan? Orang luar menyusup kedalam lembah ini tanpa diketahui, jelas tidak mungkin. Sepanjang perjalanan, Dua Bakat sudah puluhan kali menyamar, tiap orang yang dia jumpai, di duplikasi sedemikian rupa, untuk mengaburkan perhatian pihak Swara Nabhya. Tapi, makin mendekati lembah itu, dia tak menjumpai satupun orang. Dan kondisi seperti itu justru mencemaskannya, mau berapaka kali pun menyamar, jika tidak ada orang yang bisa disamarkan, kehadirannya sebagai orang asing, tetap bisa terendus.

Setelah beberapa puluh langkah, suara desir tertangkap telinga lelaki itu, ketegangan kembali mencekam dirinya. Boleh dibilang Lembah Halimun adalah sarang hantu, mungkin sampai sekarang, hanya dirinya yang sanggup masuk sejauh ini—terlepas dari banyak keganjilan yang membantunya. Diam-diam Dua Bakat meruntuk dalam hati, entah kenapa tugas semacam ini-pun dia mau mengerjakan. Kesetiaan pada sang majikan memang landasan utama, tapi sikap aneh orang tua itu akhir-akhir ini, membuat dia menjadi ragu-ragu dalam bersikap.

Desir suara itu bagai gemuruh di dadanya, Dua Bakat paham betul dengan perasaan ini, desakan yang memaksanya harus mengerahkan hawa sakti—dengan lari terbirit-birit, jelas merupakan pekerjaan orang, bukan keanehan alam. Satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah berlari, dan berlari. Persetan dengan gelapnya lorong bawah tanah! Persetan pula dengan air yang mulai menggenangi kakinya!

Dua Bakat dihadapkan dengan lorong cabang lima, yang tanpa pikir panjang diambilnya lorong paling kiri—setidaknya itu tertera dalam peta sang majikan.

“Setan alas! Buntu!” desisnya dengan ketakutan merambat dada. Gemuruh karena tekanan hawa sakti seseorang masih membangunkan bulu kuduk, kini ditambah lagi jalan buntu. Seluruh otot dalam tubuhnya mengejang. “Sial!” geramnya dengan geraham mengatup.

Tak teringat ada tulisan dalam peta, supaya menghantam tanah tepat pada dinding penghalang. Kepalan tangan menghantam dinding dihadapannya. Desssh! Curahan hawa sakti karena desakan rasa takut dan panik, membuat ledakan tenaga dari tubuh Dua Bakat berlipat ganda. Dinding penghalang yang terhantam, secara aneh meluruh dalam debu, menyibak lapisan belakang penghalang yang membuat bunyi gemuruh menggaung tiba-tiba memenuhi lorong itu.

“Lebah!” pekik Dua Bakat dengan kuduk meremang kian dalam. Sebisa mungkin dirinya meminimalisir nafas, membuatnya seperti batu, selapis demi selapis hawa saktinya ditarik supaya tidak memancarkan gelombang. Bakat tertinggi Dua Bakat jelas ilmu menyamarnya, bahkan kondisi batu-pun, dia bisa menyerupainya. Dingin, kokoh, diam dan membeku. Lebah-lebah beterbangan disekliling Dua Bakat tanpa melakukan apapun.

Gelapnya lorong tidak bisa menyembunyikan siulet tubuh lebah, dari ekor matanya, Dua Bakat bisa melihat betapa besar lebah yang keluar dari lubang pukulannya. Paling tidak sebesar kepalan tangan. Hatinya terguncang, tapi lantas dengan segera di katupkan lagi matanya. Dia harus membuang jauh-jauh pengelihatan tadi, karena mempengaruhi pikiran, dan itu akan menimbulkan keringat. Setitik keringat akan membuat lebah itu mendekatinya. Sungguh konyol rasanya orang seperti dirinya harus mati disengat lebah. Dua Bakat hanya bisa tersenyum pahit, gejolak hatinya mereda, seluruh pikiran ruwetnya perlahan mengabur, hilang… ditelan getar kepak sayap lebah.

Entah berapa lama Dua Bakat berada dalam kondisi membantu, perlahan ototnya menggeliat, dan berapa saat kemudian matanya terbuka. Instingnya bisa meraskan lebah-lebah itu tidak kembali kedalam lubang yang tadi dibuatnya.

‘Apa boleh buat…’ pikir Dua Bakat serba salah, mundur jelas tidak mungkin, jalan satu-satunya hanya masuk dengan memperbesar lubang yang sudah dibuatnya.

Desh! Desh! Desh! Rentetan pukulan bertubi-tubi dan sangat terukur memperlebar lubang yang sebelumnya sudah dibuat. Hawa sakti yang dimiliki Dua Bakat ternyata sanggup menggerus dan mengurai batu karang hingga menjadi debu. Tapi pekerjaan itu jelas bukan hal mudah, dia harus berhenti cukup lama untuk mengembalikan tenaga yang tadi dihamburkannya.

Saat Dua Bakat masuk kedalam lubang, pemandangan pertama yang menyapa bola matanya jelas sebuah ruang kosong nan gelap. Untuk menyalakan api di tempat selembab itu jelas cukup sulit, untung saja matanya cukup tajam. Berangsur-angsur retinanya bisa beradaptasi dengan kegelapan, dan citra dalam lorong dibalik penyekat itu membuat kuduknya kian meremang.

Betapa tidak, semilir angin yang mendesir dengan hawa lembab; ternyata adalah aliran air yang menembus masuk kelorong bawah. Seperti air terjun, namun kedapnya lorong itu membuat gemercik suaranya tersekap begitu rupa.

Saat dirinya termangu-mangu, dengung lebah sudah kembali! Dua Bakat jelas menginginkan dirinya kembali dalam kondisi membatu, tapi dia tidak lagi sanggup memfokuskan pikirannya. Sebab desakan tenaga yang tadi menghilang, kembali menyerang dirinya!

‘Kurang ajar!’ pikirnya. Apa boleh buat, akhirnya Dua Bakat berasumsi, dibalik aliran air itu pastilah ada ruang kosong. Sebelum melompat menerobos, Dua Bakat melepaskan pukulan jarak jauh!

Brak! Aliran air itu dengan mudah tersibak, pukulan tadi menembus sesuatu dibaliknya, menghancurkan lapisan itu dan membuatnya menjadi buta sesaat! Secercah sinar menyilaukan langsung diserap oleh retinanya begitu saja. Dua Bakat jelas ingin menggosok matanya, tapi dengung dibelakangnya yang kian dekat membuatnya tidak memiliki pilihan selain harus menerobos kedepan! Dengan gaya loncatan bagai harimau menerkam, tubuhnya masuk melalui celah yang dibuat oleh pukulan tadi.

Tapi, hatinya terasa tenggelam… karena dia tidak merasakan ada hamparan daratan untuk mendarat, seolah dirinya masuk kedalam ruangan tanpa batas, dan kesadarannya memudar seketika.

===o0o===

Empat orang itu duduk bersila dengan tenang, mereka sedang menunggu sang atasan menemui. Sungguh tidak biasa mereka harus menunggu selama itu. Hampir sepenanakan nasi kemudian, barulah pintu di hadapan mereka terbuka. Mereka berempat segera menghaturkan sembah.

Orang itu mengulapkan tangannya. “Bagaimana dengan tugas kalian?”

Satu demi satu melaporkannya, ternyata keempat orang ini memiliki tugas seperti halnya Dua Bakat, mereka mengambil keping demi keping lencana untuk diserahkan kepada seorang tukang jagal sapi. Mencari kepingan yang di maksudkan sang atasan, jelas sebuah permasalahan tersendiri, tapi mereka sukses dengan tugasnya.

“Jadi, dia sudah menerimanya?” gumam orang ini sambil menekan dadanya yang masih terasa sesak. Benturan yang terjadi dengan sosok mencurigakan—setelah menjumpai Sandigdha, sampai saat ini belum bisa dienyahkan. Padahal Pukulan Pratisamanta Nilakara yang berhasil diyakini, sangat pilih tanding.

“Sudah, tuan…” jawab keempatnya serempak, masing-masing memang menyerahkan kepada orang yang sama—dalam waktu berlainan.

“Bagus!” ujarnya dengan seringai suka cita. Mimpi untuk menguasai berlaksa tanah dengan mahkota menghias kepalanya, sudah terlalu sering menganggu tidur. Tapi dengan keterangan para anak buahnya yang terpercaya, mimpi itu makin dekat diambang mata.

“Kalian tidak menjumpai kesulitan?” Tanya Pejabat Pratyadhiraksana menyambung, sambil menyapukan pandangan mata pada keempat anak buahnya.

Mereka menggeleng dengan mantap. Keempat orang ini jelas bukan tokoh sepele, bahkan dua diantaranya merupakan tokoh kasta tinggi dari Perguruan Naga Batu. Meskipun mereka terkadang mempertanyakan keanehan kelakukan sang atasan, namun ketinggian ilmu orang itu menundukkan hati mereka. Masing-masing menceritakan, betapa pencarian keping yang dimaksud tidak membawa bahaya, tapi penuh teka-teki. Dan saat menemukan benda—yang ternyata dibagi menjadi empat itu, masing-masing tersimpan begitu saja di rumah penduduk biasa. Setidaknya kesimpulan itu mereka dapatkan, setelah melakukan penyelidikan selama beberapa hari.

Pejabat Pratyadhiraksana mengerutkan kening, mendengar keterangan tersebut. Bagaimana mungkin, lambang sepenting itu, disembunyikan secara sembarangan? Keluarganya menghimpun ragam informasi yang cukup mendetail, dan demi ambisnya, sejak masa mudanya dia sudah mempelajari semua informasi itu dengan seksama. Secara umum, lambang pada lencana yang mereka cari adalah; sebuah lingkaran dengan satu garis vertikal dan tiga garis horizontal berjajar. Tapi, dari catatan yang ditemukan dalam perpustakaan istana, mengambarkan lambang tersebut masih ditambah gambar latar lain. Perbedaan itu menjadi pertimbangan selama beberapa hari ini, tapi bertumpuknya masalah membuat dia tak lagi memikiran hal tersebut.

‘Ah, biarlah…’ pikirnya dengan kening masih berkerut. “Ada hal lain?”

Dua orang dari mereka saling pandang, “Ada yang aneh… tapi tidak ada kaitanya dengan tugas kami.”

“Ceritakan!”

Secara bergantian mereka mengisahkan perjumpannya dengan seorang lelaki paruh baya (penyamaran Jaka Bayu) yang memiliki kemampuan sangat menjengkelkan, berkali-kali mereka memukul, tapi selalu saja mengarah pada titik yang itu-itu saja. Lebih mengesalkan lagi, pukulan mereka tidak menimbulkan dampak apapun.

Wajah Pejabat Pratyadhiraksana nampak berubah. “Apakah dia menyatakan sesuatu?” dalam hatinya dia sudah memiliki dugaan, tapi terlalu dini jika harus diungkap sekarang.

“Tidak, hanya diam. Bahkan memprovokasi saya untuk turut menyerang.” Lalu berceritalah ia secara runtut apa yang terjadi.

Tidak yakin dengan apa yang didengar anak buahnya membuat orang ini hanya manggut-manggut saja. “Kemungkinan besar aku mengenal orang itu, tak perlu kalian risaukan.” Bagaimanapun dirinya harus menjaga wibawa di depan mereka. Mengatakan tidak tahu, jelas mencederai ‘kebesarannya.’

“Sekarang, apa yang harus kami lakukan?” salah seroang bertanya.

Pejabat Pratyadhiraksana termenung sejenak, agaknya orang yang bertempur dengan anak buahnya cukup menyedot perhatian. “Kalian amati setiap gerak langkah di sekeliling bendahara.” Ujarnya dengan datar.

“Sendika tuan.”

“Dan manakala kalian bertemu orang yang kebingungan mencari jejak seperti ini, bawa dia ketempat biasa.” Pejabat Pratyadhiraksana menunjukan satu gambar lingkaran dengan beberapa garis mengelilinginya, citra seperti itu seperti gambar matahari yang dibuat anak-anak.

“Sendika tuan.” Secara serempak keempatnya menyembah dan segera berlalu dari hadapan Pejabat Pratyadhiraksana.

Menatap kepergian anak buahnya, orang ini menghela nafas dalam-dalam. Ada rasa senang, tapi ada juga kekawatiran. Lambang pada lencana yang sudah ditemukan anak buahnya, adalah Kosamasangkya. Secara harfiah, berarti gudang harta tak terhitung. Kosamasangkya memiliki kedalaman informasi yang sangat berharga. Dia sendiri tidak mengetahui secara persis, tapi dari jalur keluarganya, Pejabat Pratyadhiraksana memastikan memiliki petikan-petikan informasi berharga dari tiap barang yang dianggap remeh. Dalam gudang kerajaan didapatkan secarik infomasi tentang keberadaan Kosamasangkya—dalam selipan kidung asmara, yang bagi para petinggi kerajaan dan anak keturunan raja, sama sekali tidak memiliki arti.

Kidung itu menyiratkan; taring yang tersembunyi di balik taburan air, menunggu saat untuk membayar upeti. Sepenggal kalimat itu tidak memiliki makna apapun, tapi dengan kecerdikan orang ini, dia bisa mengartikan bahwa; taring—mengartikan ancaman. Hal tersembunyi dibalik taburan air, adalah kabut. Dan satu-satunya tempat berkabut yang membahayakan adalah Lembah Halimun. Dan ‘menunggu’, menurutnya adalah; kurir yang bertugas menjemput segala macam urusan dari luar Lembah Halimun. Jadi orang ini berasumsi, ada pihak yang menunggu untuk membayar upeti, atau hutang. Dia ada di balik Lembah Halimun. Tentu, sewaktu-waktu orang semacam ini hanya bisa keluar tenaga saat Kosamangkya datang. Kosamangkya merupakan lencana hutang, dan pada kesimpulan akhir, kau bisa memanfaatkan golongan berhutang dari Swara Nabhya untuk kepentinganmu.

Sudah jelas, Swara Nabhya memiliki sebuah aturan yang ketat, lencana hutang tidak akan berarti apapun, saat hutang yang ditagihkan merugikan Swara Nabhya. Maka, lelaki dengan jabatan Pratyadhiraksana ini, merancang sedemikian rupa muslihat secara halus—dengan meminjam tangan. Dia hanya ingin, siapapun orang yang mendapatkan Kosamasangkya dari si tukang jagal, dapat memberi pertolongan demi pertolongan bagi orang yang berkunjung ke Lembah Halimun dalam waktu dekat ini. Dan itu, jelas tidak akan merugikan Swara Nabhya, karena mereka tidak tahu bahwa sang tamu membawa parwwakalamahatmya.

Bagi pejabat Pratyadhiraksana. Tukang Jagal Sapi hanya kurir. Tapi, jelas dia bukan orang sembarangan. Jika ada daftar seratus tokoh terkemuka di dunia persilatan dewasa ini, tak ada satupun yang sanggup masuk kedalam Lembah Halimun. Tapi orang itu ternyata bisa. Derajatnya jelas bukan main-main.

Rencana mantan gurunya sangat jelas terbaca olehnya. Dia mengerti benar, mantan gurunya ingin mengguncang dunia persilatan dengan memanfaatkan Swara Nabhya—entah dalam bentuk rencana apa. Dalam waktu yang khusus, dia pernah menuturkan bahwa dirinya memiliki salinan peta dalam Lembah Halimun, yang didapatkan dari usaha mata-mata. Bukan mudah usaha penyelundupan itu, sebab selalu saja mengalami kegagalan tiap tahunnya. Tapi, bukan tak memiliki hasil—tiap nyawa yang terkorban selalu membuahkan titik-titik informasi—meski terbatas.

Selembar peta yang kali ini berada di tangan Dua Bakat, adalah hasil dari pengorbanan nyawa puluhan orang, dengan rentang waktu puluhan tahun pula. Dirinya tak pernah mengambil hati ambisi mantan gurunya, tapi pada suatu kesempatan, tanpa sadar, dia menyebutkan: saat parwwakalamahatmya datang, hanya ada dua pilihan bagi Swara Nabhya. Menang jadi arang atau, kalah jadi abu. Dari situ, tidak perlu menjadi cerdas untuk mengetahui, seberapa berbahayanya parwwakalamahatmya. Cukup dari perkataan itu, membuat Pejabat Pratyadhiraksana meletakan pondasi rencananya, menunggangi segala kepentingan mantan gurunya!

Bukan tanpa alasan, dirinya membelenggu Dua Bakat sekalian dengan totokan khusus, orang yang pernah diandalkan oleh mantan gurunya di masa lalu, tentu akan menjadi alat berharga baginya pula. Totokan khas keluarganya yang dimodifikasi dengan ilmu Pukulan Pratisamanta Nilakara, tentu tidak akan sanggup di buka mantan gurunya. Kemampuan totokan yang membatasi fungsi jantung dengan waktu yang sangat terbatas, membuat dia bisa memata-matai seluruh gerakan Dua Bakat sekalian. Sebab; orang yang keselamatannya tergantung pada dirinya, pasti akan melacak jejak—yang sengaja ditinggalkannya. Dan sudah tentu mantan gurunya, akan bergerak dibelakang Dua Bakat sekalian.

Orang ini mengepalkan tangan dengan senyum lebar, seluruh rencana si tua Bangka jelas ada dalam genggaman! Dia bisa mengatur alur tiap rencana sekehendak dirinya. Paling tidak, itu yang ada di benaknya. Sama sekali tidak disadari, misi yang di emban oleh Dua Bakat, adalah mengambil racun yang justru merusak secara tak langsung impiannya! Alangkah ironis, sementara tiap pertolongan yang ada di Lembah Halimun adalah atas andilnya, tapi diwaktu yang berbeda, Dua Bakat akan menimpakan buah simalakama padanya.

===o0o===

Sebuah lonceng sudah dibunyikan, tukang jagal sapi itu mendesah sedih. Dia duduk termangu sambil membayangkan kerusakan apa yang akan ditimbulkan karena ditemukannya Lencana Kosamasangkya. Seharusnya dia bisa menghentikan ini, tapi janji leluhur mengikatnya, demikian pula dengan belasan jiwa keluarganya yang kini dijadikan jaminan. Apa yang bisa dilakukannya saat ini hanya berharap ada pihak yang sanggup menghentikan laju rencana gila ini.

Lencana Kosamasangkya merupakan suara yang bertalu-talu, merembat dalam gema yang sunyi, dengan kecepatan melebihi perkiraan siapapun, sebuah rentetan dari tali temali rencana yang telah disusun sedemikian rupa dari puluhan tahun silam. Saat lencana ditemukan, saat lencana sampai di Lembah Halimun, maka pada saat itu pula-lah harta berupa emas segera bertebaran di segenap penjuru. Bukan sebagai pengganti atau ganti rugi atas tutupnya usaha—seperti yang terjadi pada Biro Pengiriman Golok Sembilan, tapi emas yang beredar itu justru sebagai penanda bagi setiap kalangan yang berkaitan dengan rencana awal. Tanda untuk bergerak!

Emas, tidak mungkin mampir di tempat-tempat remeh, apalagi didapatkan oleh orang-orang remeh. Emas akan mencari majikan yang setara. Golok Sembilan Bacokan telah salah mengira, dia berpikir harga yang akan dikeluarkan para pengirim barang itu adalah untuk menghilangkan jejak perguruannya. Emas yang telah dibagi-bagikan kepada anak muridnya, kini telah berpindah tangan. Ada banyak cara mendapatkan 144 batang emas murni, kebanyakan dari kejadian ‘perampokan’, sebagian yang lain berpindah tangan karena judi.

===o0o===

Racun dalam diri Phalapeksa sudah terlalu dalam dan terlampau lambat untuk ditangani, membuat Jaka harus bersabar. Banyak pertanyaan di bendak pemuda ini, yang mungkin saja Phalapeksa bisa menjadi rujukan jawaban.

Ada satu beban dalam hati pemuda ini yang hingga kini belum bisa dia ungkap, yakni; mengenai kemungkinan adanya mata-mata di dalam kelompoknya sendiri. Korban yang telah berjatuhan di pihak Jaka, mutlak karena adanya pihak ketiga yang mengetahui rencana yang akan dijalankan. Antisipasi mereka membuat Jaka harus merelakan sahabat-sahabatnya menjadi korban.

Kesalaha seperti itu tak mungkin lagi dilakukan Jaka, bukan karena dia sangat hebat. Tapi pemuda ini tidak mengijinkan dirinya untuk menghadapi korban lebih banyak lagi. Biarlah kali ini ‘lubang’ masih menganga di tubuh kelompoknya, tapi dengan cara mengikuti tali yang menarik jerat, tentu akan diketahui siapa yang turut menarik keuntungan didalamnya.

Jaka menitipkan Phalapeksa secara khusus kepada Ekabaksha, meski orang itu sangat tidak sabaran dan cenderung berangasan, tapi pada dasarnya apapun permintaan Jaka tidak pernah tidak dia laksanakan. Tentu bukan tanpa tujuan Jaka menugaskan Ekabaksha, Phalapeksa bisa saja dihilangkan karena dia merupakan saksi kunci.

Kambing hitam. Ya, Jaka kini sedang menyaksikan ‘kambing hitamnya merumput’, pemuda ini tengah menyaksikan Sembilan Belantara mondar-mandir diantara ramainya pengunjung pasar. Orang seperti dia jelas sedang berupaya bertemu dengan teman-temannya. Persis seperti yang di pinta oleh Jaka, supaya dia bergerak bersama teman-temannya.

“Ah, orang itu lagi…” gumam Jaka saat melihat salah seorang dari penyerangnya tengah berada di dalam pasar pula. Sepertinya bukan kebetulan dia berkunjung kesana. Sebab baju kebesarannya sebagai prajurit tidak ditanggalkan.

Pemuda ini segera menyusup mendekat, ekor matanya bisa melihat di tangan sang prajurit tergenggam gambar bulatan dengan garis beraturan yang mengililinginya, gambar matahari. Sangat remeh.

Kejadiannya hanya sesaat, perajurit itu berjalan berpapasan dengan Sembilan Belantara, dan beberapa detik kemudian ‘kambing hitamnya’ segera menguntit si prajurit. Jaka menyeringai, kejadian semacam ini bisa dibilang karena nasib baik sedang berpaling kearahnya. Kondisi Sembilan Belantara yang dalam keadaan tertotok, sudah cukup memberikan penjelasan pada Jaka. Mungkin kali ini adalah hari akhir dari masa totokan. Jadi, harus diperbaharui. Dan tentu saja Jaka bisa dengan leluasa melihat siapa orang yang melakukan totokan itu.

‘Menyenangkan…’ pikirnya sembari membeli beberapa jajanan pasar lalu, mengikuti kambing hitamnya dengan santai.

Pasar itu masih tetap ramai. Jika Sembilan Belantara mengikuti si prajurit, maka Jaka menguntit Sembilan Belantara. Tapi ada beberapa orang lagi yang turut menguntit Sembilan Belantara, dan dia tidak menyadari Jaka menjadi bagian dari mereka.

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s