116 – Domino Effect : Lembah Halimun (1)

Meski pada akhirnya Jaka memutuskan untuk tidak mengungkapkan pengalaman itu, tapi pemuda ini pun harus menceritakan latar belakang kenapa mereka harus meminum ‘serum’ yang dibuatnya tadi.

“Apa yang paman sekalian minum adalah sebuah bibit racun.” Jaka tidak menjawab pertanyaan Ki Alih.

Tidak ada yang terkejut dengan ucapan Jaka, biasanya pemuda ini melakukan segala sesuatu dengan sangat terukur dan tidak pernah sembarangan. Mereka menunggu dengan tenang. Disaat bersamaan Penikam menyedot nafas dengan begitu kerasnya, membuat perhatian semua orang teralihkan pada dirinya.

“Uhuuuk!” beberapa kali batuk dan bangkis membuat Penikam menyudahi pengaturan nafasnya.

“Apa yang kau rasakan?” Cambuk buru-buru bertanya.

Penikam menggerak-gerakan badan, lalu mengalirkan hawa murninya kesekujur tubuhnya untuk memastikan. “Syukurlah, aku sudah tidak apa-apa. Sebelumnya untuk mengerahkan hawa murni, tiap organ tubuhku terasa sakit seperti di sayat, sekarang tidak lagi.” Jawabnya dengan wajah cerah.

Jaka manggut-manggut, “Duduklah bersama kami, paman.” Kata pemuda ini merasa lega, apa yang disusun dalam angannya ternyata sesuai dengan kenyataan.

Penikam duduk diantara mereka, dan Jaka meneruskan penjelasannya. “Bibit racun yang paman sekalian minum berguna sebagai penawar pada racun yang diidap Phalapeksa.”

“Apa yang mendasari keputusanmu, bahwa kami harus meminum bibit racun itu?” Tanya Jalada dengan dahi berkerut.

“Seperti yang aku katakan tadi paman, kita akan mengalami badai besar, dan sangat dimungkinkan kita aka bersinggungan dengan pemilik racun ini. Bersinggungan dengan sangat sering!” kata Jaka dengan tegas, kemudian menghela nafas panjang. “Racun yang di idap Phalapeksa merupakan salah satu racun masa lampau yang menakutkan.” Lalu Jaka menceritakan kejadian yang dialaminya siang tadi, bagaimana dia harus berjibaku dengan keganasan racun itu. “Racun yang menyerangku sifatnya sama dengan racun dalam tubuh Phalapeksa.” Kata Jaka menutup ceritanya.

“Apakah kita berbicara tentang keluarga Gumilata yang ahli racun itu?” Tanya Ki Alih merasa pembahasan Jaka kali ini sangat penting.

“Mungkin tidak, aku tidak tahu banyak tentang keluarga itu paman. Yang jelas, racun ini pernah di gunakan oleh Raja Jagal. Sepengetahuanku, Raja Jagal memiliki sumber racun dari Tabib Malaikat.”

Ki Alih tampak berkerut kening. “Pengetahuanku mengenai Raja Jagal sedikit lebih lengkap dari keteranganmu, mungkin ini bisa kau pakai untuk mengambil kesimpulan lebih mendekati kebenaran.” Kata Ki Alih secara tak langsung menyatakan kesimpulan Jaka terlalu premature dan terburu-buru.

Jaka menatap Ki Alih dengan takjub, dia paham maksud tersirat dari ucapannya. Jaka tidak keberatan dirinya ditegur, bahwa; penuturannya bisa saja salah, tapi kebijaksanaan Ki Alih menghalanginya untuk bertindak sefrontal itu dihadapan orang banyak, dan pemuda ini sangat menghargai sikap tersebut. Jaka sungguh ingin tahu tambahan informasi dari Ki Alih mengenai Raja Jagal, sebab dia hanya tahu sekelumit sekeder julukan saja—meski pada kenyataan Jaka pernah bertarung mati-matian dengan orang itu, diapun hanya meraba kemahiran racun Raja Jagal berdasarkan jalur himpunan kitab pertabiban yang dipelajarinya. “Silahkan paman.”

“Tabib Malaikat dan perguruannya merupakan satu rahasia dunia persilatan yang rumit, tapi kita tidak membahas itu.” Tutur Ki Alih mulai menjelaskan. “Kira-kira tiga generasi setelah para tabib itu lenyap, ada seorang tokoh yang menjuluki dirinya Raja Jagal, orang itu muncul bagai hantu melakukan pembunuhan sembarangan. Tapi… aku, maksudku; guruku, memiliki padangan lain tentang hal itu. Dia memiliki pola dalam melakukan pembunuhan, tidak asal. Meski korban yang jatuh sangat acak, tidak melulu dari kalangan persilatan saja, guruku menyimpulkan para korban itu memiliki temali hubungan yang sangat rahasia. Hingga kini beliau tidak tahu hubungan itu seperti apa, seolah telah mendapatkan benang merah penyebab pembunuhan, tapi begitu ditelusuri lebih lanjut malah bingung sendiri. Pada saat guruku memutuskan untuk melacak itu semua, kabar terputus begitu saja. Menurut informasi yang didapatkan, Raja Jagal keburu di desak oleh kalangan Dewan Penjaga Sembilan Ilmu Mustika, dari berita mulut kemulut, orang itu tewas. Tapi anehnya dua puluh tahun berikutnya Raja Jagal muncul kembali. Diapun melakukan pembunuhan yang sangat acak. Bedanya, begitu badai pembunuhan itu usai, tiada terdengar kabar apapun mengenai penindakan yang dilakukan kalangan tertentu, maksudku dari Dewan Penjaga Sembilan Ilmu Mustika.”

Jaka terpekur mendengar itu. “Paman bisa mengira berapa usia Raja Jagal yang terakhir?”

“Kurasa akhir limapuluhan. Sayang guruku tidak mewariskan informasi ini secara mendetail, tapi beliau pernah menyatakan. ‘dunia persilatan ini penuh dengan intrik berbahaya’, dia berpesan padaku; ‘jangan pernah percaya pada masa lalu’.” Jawab Ki Alih.

“Nasehat yang bijaksana.” Ujar Jalada, diamini semua orang. Diamnya Jaka membuat hening menyeruak di malam hari itu.

Pemuda ini menghela nafas, dia bisa meraba sedikit kesimpulan dari cerita Ki Alih. Mengacu pada kejadian yang dialaminya, Raja Jagal adalah sebuah nama yang diusung dari generasi ke generasi. Itu pula kesimpulan yang didapat saat berjumpa dengan Raja Jagal. Orang yang dia hadapi pada saat itu adalah generasi terakhir Raja Jagal. Orang itu masih cukup muda, berusia akhir tiga puluhan. Kematangan ilmunya jangan ditanya, luar biasa dahsyat.

Jaka menyedot nafas dalam-dalam. Ingatannya melayang kepada sosok bernama Raja Jagal, sebersit perasaan marah, kasihan, dan menyesal menyelimutinya. Perjumpaan mereka berkesudahan dengan pertarungan amat sengit ternyata membentuk satu jalinan perasaan aneh yang tidak bisa diungkapkan, perasaan saling menghormati muncul di akhir pertarungan. Tidak ada pembicaraan penting, hanya ratusan jurus dan hawa sakti berdesing silih berganti untuk mengungkapkan rasa suka cita yang menyelinap secara aneh.

Jaka bisa menangkap ada sesuatu yang ingin di sampaikan oleh Raja Jagal. Tapi tradisi dibelakangnya tidak memungkinkan dia berbicara secara berterang, hanya pukulan, tendangan, bacokan, dan kemahiran pembunuh-lah yang bisa dia curahkan. Seolah dari sanalah dia berteriak mengungkapkan perasannya. Dan akhirnya, Jaka mengambil satu kesimpulan berani. Bagi orang lain menerima luka mematikan, jelas perbuatan konyol, super tolol. Tapi Jaka melakukannya, dia tidak sedang berjudi dengan nyawanya, tapi dari pertarungan panjangnya pemuda ini bisa ‘membaca’ ada sebuah kepentingan lebih besar di belakang Raja Jagal, yang jika rencana itu dilakukan, kesalahpahaman akan melahirkan dendam, dan dendam akan menimbulkan suatu badai penuh darah.

Pada akhirnya, sebuah keputusan yang mengatasnamakan Generasi Raja Jagal, meminta Jaka untuk menerima serangan mematikannya dengan tangan kosong. Jika pemuda itu berhasil mengatasi (bukan menghindar), maka apapun rencana dibelakang Raja Jagal, akan berhenti di tempat itu, pada saat itu juga! Jaka menyanggupinya, dan keputusan itu berkesudahan meninggalkan satu baris luka menganga di dadanya. Tapi dilain pihak Jaka juga berhasil memukul Raja Jagal, pukulan yang bisa membuatnya mati, tapi itu tidak dilakukan. Diakhir pertarungan, Jaka mendapatkan janji lelaki itu selaku Generasi Raja Jagal, bahkan memperbolehkan pemuda ini menggunakan nama Raja Jagal untuk keuntungannya.

“Baik, kulanjutkan uraianku.” Lanjut Jaka memecah keheningan. “Aku sudah memeriksa tiap jengkal luka dalam tubuh Phalapeksa, tapi tidak satupun menjadi penyebab racun, hanya ada satu titik luka saja. Dari sanalah aku memulai langkah pengobatan. Setitik racun ini sungguh sangat lihai, bukan maksudku menyatakan hanya racunnya saja yang lihai, tapi menempatkan luka itu sendiri merupakan tataran kazanah ilmu yang tinggi…” sampai disitu, Jaka terdiam. Dia teringat dengan lukanya sendiri yang berupa empat garis sayatan didada kiri. Padahal hanya sentuhan cakar yang sangat kecil, tapi menimbulkan dampak begitu hebat. Luka yang diderita Phalapeksa itu hanya setitik saja, setitik jarum. Tapi berada di bawah telinga, menembus hingga pertengahan leher. Jika saja waktu itu Jaka tidak memeriksanya dengan seksama, luka itu akan terlewat.

“Paman sekalian, bisakah kalian memeriksa luka ini sebentar?” pinta Jaka seraya membuka bajunya sebagian. Ekabaksa tidak perlu memeriksa untuk mengetahui itu luka akibat apa, dia siang-siang menyatakan, tidak tahu. Berturut-turut Cambuk, Penikam, Jalada dan terakhir Ki Alih.

“Apa kesimpulan kalian?” Tanya pemuda ini.

“Andai saja ada Sadhana…” gumam Cambuk sambil menggeleng atas pertanyaan Jaka. Penikam-pun tidak tahu. Hanya Jalada dan Ki Alih yang masih merasa ragu dengan kesimpulan mereka.

“Bagaimana?” desak Jaka lagi.

“Aku tidak yakin.” Ujar Jalada. “Tapi masa, iya?” gumamnya membuat Jaka bingung.

“Aku juga tidak yakin…” timpal Ki Alih.

“Baiklah, daripada kita semua bingung, ketidakyakinan kalian boleh diutarakan keluar.” Kata pemuda ini mendesak lagi.

“Pukulan Naga Beracun…” kedua pesilat kawakan ini menjawab hampir berbarengan, nyatanya kesimpulan mereka sama.

Jaka belum pernah mendengar pukulan itu. “Ilmu seperti apa itu?”

“Akupun tidak begitu tahu, tapi dari ciri-cirinya sepertinya itu memang Pukulan Naga Beracun.” Jawab Jalada.

Pandangan Jaka bergeser kepada Ki Alih. “Paman?”

Ki Alih menghela nafas panjang, sebagai maestro pukulan yang di juluki Kepalan Arhat Tujuh, perbendaharaan ilmu pukulan Ki Alih jelas sangat luas, demikian pula dengan pengetahuan tentang pukulan. “Pukulan Naga Beracun adalah salah satu dari ilmu mustika. Aku meragukan bekas ilmu ini digunakan padamu, karena setahuku, ilmu mustika ini tidak pernah keluar dari pintu Dewan Penjaga Sembilan Ilmu Mustika. Ilmu ini terlalu ganas, maka setiap orang yang lolos dari seleksi, selalu disodorkan delapan ilmu mustika lain sebagai pilihan.”

“Berarti Ilmu Mustika Naga Beracun merupakan tingkatan paling tinggi?” Tanya Ekabaksha.

“Bukan berarti demikian.” Jawab Ki Alih sambil menggeleng. “Para dewan sengaja menyegel ilmu itu karena daya rusak yang ditimbulkan. Sebenarnya masing-masing ilmu mustika saling mengatasi satu sama lain. Hanya saja… Naga Beracun ini justru ilmu paling aneh, jika di buat urutan, kita bisa menempatkannya di urutan terbawah. Tapi jika menghadapi ilmu lain yang setingkat lebih rendah, daya rusak Naga Beracun, jauh lebih cepat dari ilmu mustika lainnya.”

Jaka mengumam membenarkan, mengingat dia sendiri terluka cukup parah karena cabikan yang menyayat kulit. Kalau bukan karena pengalaman dan kesigapannya, mungkin dia bakal menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk melakkan penyembuhan.

“Jika ada orang lain diluar pengetahuan dewan yang menguasai… berarti ada kebocoran dalam dewan penjaga itu sendiri.” Gumam Jaka dengan mata berbinar. “Ini sangat menarik!” katanya sambil menggebrak meja, membuat Ki Alih kawatir dengan penjelasanya tadi.

“Tapi, aku-pun bisa saja salah…” sambung Ki Alih terburu-buru. “Kau jangan menganggap ini adalah kesimpulan final.” Ki Alih pantas merasa kawatir, jika dugaannya dijadikan dasar pijakan penyelidikan Jaka, bisa dipastikan Dewan Penjaga Sembilan Ilmu Mustika akan disusupi pemuda ini! Dan kejadian berikutnya dia tak bisa membayangkan!

Jaka tertawa, dia bisa meraba sampai dimana kekawatiran orang tua itu. “Urusan kita masih terlampau banyak, saat ini aku tidak akan kemana-mana.” kata pemuda ini. “Yang jelas, luka yang baru saja kualami, sama persis dengan luka yang di alami Phalapeksa.”

“Tapi aku tidak melihat ciri yang sama dari luka kalian?” Tanya Ki Alih.

“Ini masalah teknis paman, orang yang melukaiku tingkatannya jauh dibawah orang yang melukai Phalapeksa. Dia bisa mengatur caranya melukai lawan sesuka hati. Bisa kupastikan orang ini sangat menakutkan. Itu pula-lah yang membuatku berkeputusan, paman sekalian harus memperoleh bibit racun. Cepat atau lambat kita akan berhadapan dengan mereka.” Jaka lalu menjelaskan secara terperinci, sumber luka Phalapeksa hanya satu titik yang mematikan.

“Tapi, bagaimana mungkin Pukulan Naga Beracun bisa digubah menjadi satu titik serangan mematikan?” gumam Penikam.

“Orang itu pasti sudah lepas dari pakem teori, peyakinanya sudah sangat mendarah daging. Dan seperti kata Jaka, sesuka hati.” Jelas Ki Alih. Lalu lelaki paruh baya ini menatap Jaka. “Aku hanya mengidentifikasi berdasarkan pola pukulan dan luka, tidak kepada racun yang menyertainya. Kau lebih paham tentang itu.”

Jaka mengangguk. “Karena itulah, aku menyatakan kita menghadapi orang-orang yang belum jelas keinginannya. Tapi, aku sudah mengarahkan mereka kepada tembok yang cukup tebal.” Ujar pemuda ini sambil tersenyum.

“Kau pikir, mereka benar-benar akan mencari Kwancasakya dan Keluarga Gumilata?” Tanya Penikam.

Jaka mengangguk memastikan. “Kalangan dengan kemungkinan mendekati kebenaran untuk mendalami tentang jenis racun ini, hanya dua golongan itu saja. Sengaja kuciptakan satu golongan yang merendahkan Kwancasakya dan Gumilata. Dengan sendirinya, siapapun mereka ini… akan melacak melalui kedua golongan itu. Terus terang aku tidak tahu kita akan menghadapi apa, sebelum mereka menyapu banyak kalangan secara membabi buta, lebih baik aku arahkan pada tujuan yang jelas, kita bisa memantaunya dengan lebih cermat.”

“Cerdas!” seru Ekabaksha. “Yang penting, pada saatnya nanti, aku bisa bertarung sepuas hati.” Kata lelaki gemuk ini membuat Jaka tertawa lebar, dan suasana menjadi lebih cair.

“Berkaitan dengan racun,” Sambung Jaka lagi. “Aku menjadi khawatir dengan maksud mereka. Apakah sekedar menguji coba racun? Atau ingin menarik pihak tertentu dari persembunyian? Atau membalas dendam?”

“Kupikir, pilihan balas dendam tidak layak.” Sahut Cambuk. “Phalapeksa jelas bukan orang yang tepat untuk dijadikan sasaran tokoh kasta tinggi.”

Jaka mengiyakan.

“Namun demikian, keterangan menjelang dia pingsan, bisa menjadi dasar pijakan kita.” Sambung Cambuk.

“Tapi, bisa saja dari Phalapeksa-lah mereka meminjam mulut untuk membelokkan kabar sebenarnya.” Bantah Penikam. “Jangan lupa perinsip di dunia kami adalah; informasi salah yang didapat dengan susah payah akan dianggap sebagai kebenaran. Dan itu akan sangat mudah membelokkan fakta.”

Jaka-pun mengiyakan pendapat ini. Penikam adalah mata-mata kelas wahid, jam terbang kegiatannya jelas tidak perlu diragukan. Masukkan tadi masuk akal. Pada saat sekelompok orang mengambil kesimpulan salah sebagai sebuah fakta, kehancuran sudah ada didepan mata.

“Baiklah, kita bisa menarik kesimpulan, saat ini sedang menghadapi; kelompok yang mengetahui jalur pengetahuan racun dari Tabib Malaikat, mereka juga termasuk golongan orang yang paham ilmu mustika. Dan satu lagi, kemungkinan masih memiliki hubungan dari jalur Raja Jagal.” Papar Jaka.

“Lalu apa persiapan kita?” Tanya Jalada. “Maksudku selain bibit racun yang sudah kau dapatkan dengan susah payah.” Sambungnya menambahkan.

Jaka termenung sesaat. “Kupikir, jika Phalapeksa memunculkan diri, mereka akan segera mengejar orang tua itu. Jika dugaanku tidak meleset, mereka akan mengarah padaku, secara pribadi.”

“Kau pribadi? Apakah karena kau sanggup memunahkan racun mereka?” Tanya Ki Alih.

“Itu salah satunya.” Jawab Jaka singkat.

Tatapan semua orang menuntut jawaban dari Jaka.

“… sebab aku adalah satu-satunya orang yang sanggup menahan dan memunahkan racun mereka.” Sambung pemuda ini dengan lambat. “Jika aku tidak salah duga, aku sudah menghancurkan salah satu harapan yang dipupuk mereka. Sejak awal, kemunculan mereka jelas sedang mencari diriku.” Pungkas Jaka.

Ki Alih sekalian menelan ludah. “Se-sebenarnya kau sudah melakukan apa?” Tanya Ekabaksha dengan suara kering.

Jaka tidak menjawab secara langsung. Dia hanya berkata. “Aku telah mencoreng kehormatan tokoh pujaan yang dianggap sangat suci bagi mereka. Aku tidak membenarkan tindakanku, tidak pula menyalahkan mereka, selama rencana masih dalam tataran wacana, tindakanku memang terlampau cepat. Tapi jika aku membiarkan mereka…” Jaka menghela nafas tanganya mengepal, “mungkin hingga kini Jaka Bayu tidak berani muncul dihadapan paman sekalian, aku tidak pernah ada. Harga nyawa tidak ada harganya saat kita menunduk di depan kezaliman!”

“Sebenarnya apa? Apa yang kau bicarakan?” tanya Ekabaksha makin bingung.

Jaka terdiam sesaat.

“Apakah orang itu… Raja Jagal?” Tanya Ki Alih hati-hati.

“Dia memang tokoh luar biasa dahsyat, tapi wibawa dan tindakannya belum bisa digolongkan menjadi ‘orang suci’, untuk anggotanya.” Jelas Jaka mementahkan dugaan Ki Alih. Tentu saja jawaban ini makin membingungkan.

“Sudahlah, tak perlu dibahas.” Jaka mengulapkan tangan. “Dalam jangka waktu dekat ini, kita akan segera berjumpa dengan pemilik racun hebat. Sebisa mungkin tiap anggota mendapatkan bibit racun sebagai antisipasi.” Putus Jaka membuat mereka kecewa. Bagaimanapun kejadian di Gunung Tumenggung—Gunung Manggala—Gugusan Pulau Kendriya, terlalu kompleks untuk diuraikan. Sampai saat ini Jaka terus menyimpannya dalam hati, hingga tiba saatnya untuk diurai secara tuntas. Sebab jauh di dasar hatinya, ada satu kenyataan yang dia sendiri belum bisa mengartikan. Mungkin pada saat kepingan fakta makin banyak, Jaka bisa menetapkan hati untuk melakukan hal yang terbaik.

Hingga larut, mereka membahas bagimana harus bertindak. Ekabaksha paling semangat untuk mencari orang yang melukai Jaka, tapi pemuda ini merasa itu tindakan sia-sia. Menurut Jaka, saat Phalapeksa muncul kembali di rimba hijau, kelompok itu akan segera mendekat.

Saat Jaka lepas dari jerat racun—(belakangan Jaka sekalian baru mengetahui bahwa racun mematikan itu diciptakan oleh Saudara Satu Atap), pemuda itu merupakan satu-satunya korban yang lolos dari kelinci percobaan Saudara Satu Atap. Sayangnya karena menganggap Jaka hanya sekedar kelinci percobaan, mereka tidak pernah memperhatikan latar belakang korban secara detail, termasuk wajahnya. Maklum saja, biasanya tak satupun orang bisa selamat dari jeratan mereka.
===o0o===

Dua Bakat memaki panjang pendek dalam hati, meskipun dia percaya dengan sang majikan, bukan berarti dia merasa nyaman dengan kepolosan tubuhnya. Demi rencana penghancuran Lembah Halimun terlaksana, sang majikan mengupayakan kesembuhan bagi Dua Bakat dengan metoda yang belum pernah dia lakukan. Tentu saja demi menjaga gengsi, dirinya menyatakan pada Dua Bakat, metode ini adalah cara rahasia yang belum pernah dirinya lakukan. Karena itulah sebelumnya dia menyatakan tidak bisa membebaskan totokan sang murid, karena ragu menggunakan cara ini.

Benak Dua Bakat menggambarkan cara yang mungkin akan dilakukan sang majikan adalah dengan penyaluran hawa, dari kulit ke kulit! Sial, bukankah artinya mereka harus bersentuhan satu sama lain, tanpa busana?! Wajah Dua Bakat memucat, meskipun dia sangat menghormati sang majikan, dia tetap lelaki normal! Memikirkannya lagi, membuat tubuh Dua Bakat panas dingin.

“Kau, kemari!” suara sang majikan terdengar dari balik bilik. Membuat Dua Bakat merasa sangat tertekan. Dengan langkah terasa berat, lelaki ini melangkah kedalam bilik. Ternyata didalam bilik beris gentong air sebesar dua pelukan orang dewasa tengah dipanasi.

“Masuk!” perintah sang majikan dengan tegas. Tidak perlu dua kali perintah, Dua Bakat sudah masuk kedalam gentong yang mulai menghangat. Air didalam gentong ternyata sudah bercampur dengan ragam rempah. Proses itu terasa berjalan lambat, Dua Bakat mulai menyalurkan hawa murninya secara berkala untuk menahan air yang makin panas. “Bersiaplah…” desis sang majikan, telunjuknya teracung kearah api, dan mendadak Dua Bakat merasakan sengatan puluhan kali lipat lebih panas dari sebelumnya. Dengan sendirinya dia pun meningkatkan hawa murni secepat mungkin. Pada saat itulah satu sengatan menerjang ulu hati, membuatnya terasa sangat mual, dan..

“Uh-huuk…” segumpal dahak berwarna kemerahan terbatuk. Rasa sesak yang melingkupi ulu hati sejak beberapa hari lalu sedikit berkurang. Tidak menanti perintah sang majikan, Dua Bakat segera keluar dari gentong, dan melakukan semadi dengan tubuh terbalik, satu tangannya menyangga tubuh, tangan yang lain tentu saja menutupi auratnya. Seharusnya tidak begitu, tapi kondisi hawa murni yang dipaksa menyentak cepat, membuat ‘itunya’, pun menjadi terpaksa ‘menyentak’ pula
.
“Cih!” sang majikan terasa geli melihat kondisi anak buahnya, dia melangkah keluar menunggu Dua Bakat selesai dengan semadinya.

Tak berapa lama kemudian Dua Bakat sudah keluar dengan wajah agak memerah karena posisi semadinya yang terbalik, tentu saja dia tak lagi telanjang.

“Bagaimana?” sang majikan bertanya dengan nada datar.

“Sa-saya rasa ada perubahan, cuma sejauh apa, sayapun tidak tahu cara memeriksanya.” Kata Dua Bakat dengan hati-hati, takut menyinggung sang majikan, bagaimanapun upaya tadi sangat dia hargai.

“Kau tidak perlu kawatir, aku memang tidak bisa membebaskan secara permaen, tapi kau tak perlu kawatir, untuk tiga bulan kedepan, kau aman!” tegas sang majikan.

Dua Bakat menghela nafas lega. Saat itu juga sang majikan memberikan kotak kecil yang berisi parwwakalamahatmya yang sudah menyatu, sebuah peta menuju Lembah Halimun-pun sudah dikantongi Dua Bakat. Sang Majikan memberikan keterangan sangat mendetail tentang keadaan Lembah Halimun. Pada dasarnya Dua Bakat buta sama sekali dengan daerah Lembah Halimun. Jadi tiap keterangan sang majikan ditelan bulat-bulat.

Dengan dilepas sang majikan, Dua Bakat segera melakukan perjalanan. Dia sadar, kemungkinan tugasnya kali ini lebih banyak sial dari pada selamatnya. Tapi sebagai orang yang sudah berkecimpung di dunia penuh intrik, Dua Bakat tidak takut menghadapi rintangan yang akan menghadangnya.

Sayangnya, Dua Bakat tidak mengetahui, bahwa sang majikan sama butanya dengan dia. Orang tua itu tidak pernah menginjakkan kaki di Lembah Halimun. Tapi saat menerangkannya, dia seolah-olah sudah pernah masuk kesana berkali-kali. Pada dasarnya orang inipun tidak terlalu mengharap tugas Dua Bakat akan tuntas secara sukses. Caranya menjalankan rencana seperti dua sisi mata uang, masing-masing bergerak bersamaan. Parwwakalamahatmya adalah bonus utama, tapi menggerakkan tiap insan yang terhubung antara dirinya dan Anusapatik, adalah tujuan utama. Dua Bakat-pun tidak lebih dari bidak catur yang sudah diatur sesuka hatinya.
===o0o===

Lembah Halimun selalu diselimuti kabut setiap saat, letak lembah itu tidak sulit ditemukan, tidak pula tersembunyi. Lembah Halimun termasuk didalam gugusan Pegunungan Nabhastalamaya, mungkin karena setiap saat pegunungan itu selalu diselimuti kabut, masyarakat menamainya Nabhastalamaya yang berarti; terdiri atas kabut. Mungkin dari keunikan geografis itulah, seseorang berinisiatif membentuk golongan Swara Nabhya (suara dalam kabut). Danitu sudah berlalu ratusan tahun silam, hingga sekarang kalangan itu seperti ada dan tiada. Jika kau mengatakan Swara Nabhya hanya tinggal cerita, sewaktu-waktu kaupun bisa dikunjungi para penghuni Lembah Halimun.

Tidak ada yang tahu kemunculan kalangan Swara Nabhya, tahu-tahu mereka ada, terkadang membantu, terkadang menyulitkan. Tapi, kalangan persilatan sama-sama memaklumkan Swara Nabhya adalah pelindung barang bukti. Silih berganti tokoh menjungkir balikkan dunia persilatan, tapi tak ada satupun yang berani menginjakkan kaki mendekati Lembah Halimun.

Dua Bakat sudah sampai di tapal batas pegunungan Nabhastalamaya, sepanjang perjalanan, dia sudah bersalin rupa sebanyak tiga puluh tujuh kali—termasuk busananya. Orang ini sadar, tiap saat berjumpa dengan orang lain, bisa jadi dia adalah mata-mata dari Lembah Halimun. Dari pada mengambil resiko, lebih baik Dua Bakat melakukan kemahiran bersalin rupa untuk keselamatannya.

Sang Majikan tidak pernah menerangkan, kenapa parwwakalamahatmya bisa menjadi titik fatal bagi Lembah Halimun. Tapi Dua Bakat segera menyadarinya, kabut di sana tidak sama dengan kabut pada umumnya. Makin jauh Dua Bakat berjalan, dia makin menyadari daya pandangnya tak lebih dari lima langkah saja, apa yang ada di depan sana, dia tak tahu ada halangan apa. Hanya saja, tercium bau seperti telur itik yang menandakan sejenis gas metana tercampur dalam kabut, yang senantiasa menyelimuti daerah itu. Mungkin itulah alasannya parwwakalamahatmya menjadi senjata mematikan bagi kabut di Lembah Halimun. Nampaknya sifat parwwakalamahatmya adalah mengikat gas, itu pula yang terjadi saat sang majikan mengerahkan ilmu Suksmasukabhitahetu.

Meski Dua Bakat tidak mengetahui sifat ilmu sang majikan, setidaknya dia bisa meraba, bahwa; daya bunuh atas racun yang berpendar pada ilmu ilmu Suksmasukabhitahetu bersifat sama dengan kabut ini. Berpikir demikian, Dua Bakat segera mengeluarkan kotak kecil berisi parwwakalamahatmya yang sudah menyatu. Benar saja! Tiba-tiba saja kabut-kabut itu seperti menguap, dan membuat jarak pandang Dua Bakat meluas. Tapi pemandangan berikutnya membuat bulu kuduk lelaki ini bangun. Bagaimana tidak, setiap kabut-kabut hilang, setiap unsur tumbuhan yang disinggahi kabut menjadi layu karena bereaksi dengan parwwakalamahatmya.

“Ini gila…” gumam Dua Bakat seraya menyurutkan langkahnya, keraguan kembali menyelinap dihati. Meski selama dalam perjalanan dia sudah menghafal mati peta Lembah Halimun, tetapi sesampainya ditempat itu, gambaran sang majikan sama sekali tidak berguna! Dua Bakat mengeluh…

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s