114 – Domino Effect : Semilir Angin Sebelum Badai

 

Pikiran manusia memang aneh, untuk beberapa alasan tertentu, semula Jaka begitu ngotot untuk mendapatkan harta Sandigdha, tapi setelah di dapat, dia tidak terlalu bersemangat. Atusiasnya entah menguap kemana, semua orang bisa merasakan itu. Tapi tak satupun menanyakan itu pada Jaka, sepanjang perjalanan menuju persembunyian akhir, pemuda ini tidak berkata sepatah katapun.

Dalam benaknya, Jaka sudah memiliki rencana. Itulah sebabnya sebelum mereka menjumpai para pimpinan Kerajaan Kadungga, Jaka mengusulkan dengan hati-hati cara ‘membuang’ harta itu. Tentu saja pemuda ini harus hati-hati dalam menyampaikan idenya, sebab begitu banyak orang terlibat dalam aksi kali ini. Setiap individu membutuhkan dana untuk meneruskan kehidupan masing-masing.

“Untuk apa harta sebenyak ini?” tanya Ki Alih dengan termangu-mangu, menyaksikan Jaka yang sedang membuka dan memeriksa tuas pintu kereta dengan hati-hati.

“Siapa yang menginginkan silahkan ambil, cuma kalau bisa, aku berpesan kepada paman sekalian untuk mengeluarkan satu dari sepuluh bagian untuk orang yang membutuhkan.” Sahut Jaka tidak berpaling, pemuda ini dengan hati-hati membersihkan tiap tempat yang terindikasi tersentuh racun.

“Kau sendiri?” tanya Ki Alih.

Pemuda itu menggumam, “Aku tidak butuh…”

“Hh.. sombong!” dengus seseorang membuat Jaka menoleh. Seulas seringaian serba runyam menghiasi wajahnya.

“Kapan kau datang paman?” tanya pemuda ini pada Jalada.

“Sudah lama.” Ujarnya dengan nada tajam. “Aku membereskan orang-orang yang mencoba mengikutimu. Sungguh pekerjaan ceroboh, Sandigdha mungkin tidak terpandang olehmu, tapi keluarga dibelakangnya dan orang-orang yang mengincarnya, pasti tidak akan melepaskan gerakan orang itu barang sejengkal!”

Jaka mengangguk. “Aku menerima teguranmu dengan hati ikhlas, paman.” Katanya dengan wajah penuh senyum, tidak terlihat keterkejutan disana. Padahal Ekabaksha, Ki Alih dan Cambuk, sama terkejut mendengarnya.

Jalada mengerutkan dahi. “Tapi tampangmu, seperti tidak ikhlas!” ketusnya lagi. Jalada sebenarnya ingin mengatakan, ‘kenapa kau tidak terkejut’, tapi egonya tidak menghendaki demikian.

Jaka tertawa, dia memberesi kain dan peralatan untuk ‘menangkap’ racun. Pekerjaannya membersihkan racun selesai sudah. “Gerakan kita demikian kasar dan kasat mata, dalam pandangan anggota kita yang lain, aku menduga paman Jalada akan menaruh perhatian khusus. Dan terima kasih untuk semua penyelesaian akhir.”

Gigi Jalada berderak. Sungguh sulit membuat Jaka, ‘skak mat’, tidak tahunya urusan ‘pembersihan akhir’ juga sudah dalam perhitungan Jaka. “Kapan sih rencanamu gagal?” tanya lelaki tinggi besar ini seraya mengambil tempat duduk di samping Ki Alih.

Jaka tersenyum kecil, “Rencanaku tidak pernah berhasil.”

“Heh?!” Jawaban pemuda itu membuat mereka mengerutkan alis.

“Paman sekalianlah yang membuatnya berhasil, aku hanya menempatkan pribadi dan memilih waktu yang tepat saja.” Sambung Jaka lagi dengan tawa kecil.

“Dasar…!” gerutu Jalada.

“Tapi, jika paman menginginkan rencanaku gagal total, kali ini mungkin ada kesempatan…” tiba-tiba Jaka melontarkan ide nyeleneh. Mana ada orang mendiskusikan kegagalan rencana kelompok pada anggotanya sendiri?

“Kau bicara apa?” tanya Ekabaksha yang dari tadi menjadi pendengar, kali ini tak kuasa menahan diri untuk bicara.

Pemuda ini tidak menjawab, tapi dia melirik pada Jalada, si Baginda. Jaka cukup bisa menyelami kepribadian lelaki yang harga dirinya selangit itu. Sangat sulit membuatnya bertaruh, disaat-saat seperti ini Jaka bisa melihat ada kesempatan untuk ‘sedikit merubah’ sikap Jalada yang terkadang sombongnya minta ampun.

Alis Jalada nampak menjengit, satu-satunya keinginan dirinya sejak mengenal Jaka, adalah membuat pemuda itu ‘merasa apes’, menyerah dengan keputusannya. Tapi sejauh ini, Jalada tidak pernah menemukan celah yang tepat. Dan sungguh aneh, kali ini dia seolah melihat satu kesempatan besar tergelar didepannya. Dia tahu, otak setan Jaka pasti memiliki muslihat, tapi persetan! Kalau memang ada sesuatu yang membuat rencana Jaka gagal, kenapa tidak dia manfaatkan momentum ini?

“Baik! Aku akan menantangmu bertaruh.” Kata Jalada cepat.

Jaka mengangkat bahunya, “Terserah.”

“Tentang rencanamu yang ada kemungkinan untuk gagal, katakan padaku!”

Ki Alih dan yang lainnya saling pandang, mimik mereka seperti hendak menahan tawa menyaksikan cara Jalada yang kekanak-kanakan. Apalagi mereka bisa menebak, bisa dipastikan Jaka sedang memasang muslihat untuk Jalada, tapi seperti apa, mereka tidak pernah dapat menebaknya.

Jaka menatap mereka sekilas. “Dengar baik-baik, aku akan membuat harta dalam enam belas kereta ini, bertambah. Tidak kurang dari dua malam!”

“Omong kosong!” seru Ekabaksha dan lainnya hampir bersamaan, sementara Jalada tersenyum.

“Kau akan menambahnya berapa banyak?” tanya Jalada.

Jaka memiringkan kepalanya. “Paling tidak, satu kereta ini lagi.”

Jala tertawa panjang. “Baik-baik! Aku menerima ini!” serunya dengan cepat, takut Jaka berubah pikiran. “Apa taruhannya?”

“Terserah…” jawab Jaka santai.

“Kalau begitu akan kutentukan pada saat waktu taruhan ini berakhir.” Kata Jalada dengan pasti, dia yakin benar Jaka akan kalah. Siapa orangnya yang sanggup menggandakan harta sebanyak emas satu kereta dalam waktu dua malam?

“Boleh… itu juga baik. Tapi ada syaratnya, kalian harus menuruti setiap rincian rencanaku ini.”

“Tidak masalah.” Jalada menyahuti permintaan Jaka tanpa pikir panjang.

…dan Jaka menuturkan rencana seperti yang telah terjadi. Mereka diharuskan membawa seluruh harta dalam kereta dan serahkan kepada Kerajaan Kadungga, gertak dengan ancaman bahwa ini adalah harta bayaran dari pihak yang menginginkan keruntuhan sebuah pemerintahan, dan seterusnya, setiap detail rencana Jaka dijelaskan demikian runtut, membuat Jalada mulai khawatir bahwa pemuda itu sukses lagi. Dan ternyata, benar!
===o0o===

Keluarga Keenam, istilah itu baru lahir beberapa saat yang lalu dari mulut Jaka, tapi tak lebih dari tiga hari, nama Keluarga Keenam ini sudah menjadi buah bibir, kalangan bawah tanah. Hal itu terjadi karena begitu banyaknya pihak yang berkepentingan disekitar Kerajaan Kadungga menyadap informasi kedatangan iring-iringan enam belas kereta, dengan sendirinya mereka bersusah payah mencari tahu siapa pemilik iring-iringan yang luar biasa itu.

Semula, bagi Sadigdha sendiri istilah itu hanya omong kosong belaka, meski dia takut dengan ancaman racun yang ‘bersarang’ dalam tubuhnya, tapi itu tidak menghindari dirinya untuk melacak keberadaan Jaka. Tapi, baru saja dia memberikan titah rahasia kepada anggota mata-mata terbaiknya, tak lebih dari satu jam, orang suruhannya itu sudah kembali dalam keadaan telanjang, dan dalam keadaan tertotok! Betapa terkejutnya sang kasir, dengan terburu-buru, dia harus segera menutupi jejak keberadaan suruhannya.

Rasa penasaran, masih mencengkeram hati Sandigdha, beberapa jam kemudian dia kembali menitahkan empat orang sekaligus, tapi.. merekapun mengalami nasib yang sama. Rasa takut diam-diam menyelinap dalam hati, bisa saja dia melakukan hal yang lain dengan meminta tolong jaringan dalam keluarganya, tapi jika itu sampai ketahuan, dia tak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan Jaka, padanya. Istilah Keluarga Keenam, kali ini mau tak mau, Sandigdha mempercayainya sepenuh hati. Secara rahasia, Sandigdha hanya mengutus kurir dengan menuliskan tentang kehadiran Keluarga Keenam dan ciri-ciri anggotanya, bahkan dia menyertakan serpihan dari emas yang sempat dilumerkan oleh Jalada, untuk dianalisis oleh keluarganya. Secara licik, Sandigdha menjatuhkan noda untuk Jaka—dengan jaringan Keluarga Keenam-nya, bahwa; pemuda itulah yang membunuh kerabat mereka di kandang sapi—salah satu gudang penyimpangan Keluaraga Tumparaka. Rencana cuci tangan yang hebat, mengingat anak buahnya tak mungkin buka mulut mengenai kejadian sebenarnya, karena mereka bersama dirinya sama-sama terkena ‘racun’ buatan Jaka Bayu.

Sampai matipun Sandigdha tak pernah menyangka, yang membuat utusannya berkali-kali kalah tanpa busana begitu, tak lain karena perbuatan si Kambing Hitam—Sembilan Belantara! Bukan Jaka Bayu.

Sembilan Belantara-pun tidak menyangka, orang yang dia ganggu, merupakan salah satu unsur kejutan dari sang majikan, yang ‘difungsikan’ kembali melalui Dua Bakat. Sambil ‘mengganggu’ Sandigdha, Sembilan Belantara tidak pernah melupakan tugasnya untuk mencari jejak murid sang junjungan.

Dilain pihak, lelaki yang memiliki pukulan aneh itu mencermati perkembangan ini dari kejauhan dengan hati terkesip. Pertemuan saat utusan Keluarga Keenam datang, diapun turut hadir, telah dirasakan olehnya, para utusan itu memiliki kehebatan yang tak bisa secara ceroboh dia simpulkan kemampuannya. ‘Keluarga Keenam, siapa mereka sesungguhnya?’ dia berpikir untuk menanyakan itu pada sang guru yang sudah ‘dibuangnya’, tapi niat itu diurungkan, dia lebih baik berkonsenterasi memulihkan diri. Mungkin, Dua Bakat sekalian sebentar lagi akan menemukan jejaknya untuk melonggarkan totokan di jantung mereka. Tenaga mereka yang sangat ahli, bisa dimanfaatkan untuk mencari jejak Keluarga Keenam.

Semua urusan menjadi saling silang, tumpang tindih, bersinggungan, tanpa mereka sadari kenapa itu terjadi.

Satu-satunya yang bisa memandang kejadian yang makin rumit itu dengan lebih jernih, adalah penanggungjawab Nekawarnnarengit. Krah baju Nekawarnnarengit sudah dia temukan, dengan sendirinya jejak sang tersangka—Sandigdha, sudah bisa dia cium. Cuma saat ini dirinya belum bisa menjumpai sang kasir untuk ‘bertanya’, kenapa membunuh anak buahnya. Karena diwaktu bersamaan, dia menyaksikan Sembilan Belantara, mengandaskan tiap upaya Sandigdha. Sebagai orang yang sudah biasa menyusup kedalam bentuk kerusuhan yang sedang dan akan terjadi, satu-satunya hal paling tepat adalah dengan menahan diri. Dia tak ingin ceroboh mencampuri jeratan tali temali masalah yang belum diketahui ujungnya. Tapi, sampai disinipun dia sudah mendapatkan kesimpulan sementara, bahwa; Keluarga Keenam ada dibalik semua kejadian.

Sambil berlalu, Penanggungjawab Nekawarnnarengit memasukkan kesimpulan analisisnya di kerah baju dan lipatan celananya. Standar operasi dalam Kwancasakya memang demikian, informasi adalah nomor satu, nyawa nomor sekian. Sungguh sayang, Kwancasakya yang terbiasa mendapatkan informasi dengan tepat dan cepat pun, kali ini dipaksa mengambil kesimpulan salah.
===o0o===

Perubahan situasi dalam tiga hari benar-benar membuat Jaka Bayu merasa cukup puas dengan muslihatnya. Nama Keluarga Keenam benar-benar diperhitungkan, akan tiba masanya, para pengganas yang membunuh teman-temannya, datang untuk sekedar ‘memeriksa’ kebenaran berita Keluarga Keenam.

Tapi ada kecemasan pula merambat dalam hati. Kondisi tetua dari Perguruan Enam Pedang—Phalapeksa, makin mengkhawatirkan, kalau bukan karena caranya yang unik dan sangat efesien untuk menyambung nafas sang tetua, mungkin malaikat maut sudah siang-siang bersalaman dengan orang tua itu. Penikam yang beberapa saat sempat bersinggungan dengan sang tetua—dengan membantu Jaka memindahkan tubuhnya kelain ruangan, ternyata tertular racun itu.

Untung saja Jaka cepat tanggap, dia bisa mengatasi kejadian tak disangka-sangka itu. Meski kondisi Penikam bisa di pulihkan—karena efek racun yang terkontaminasi terlalu singkat, tetap saja membuat Penikam harus beristirahat paling lama dua minggu. Ini membuat Jaka menghela nafas dalam, merasa prihatin. Metoda melacak informasi yang dimiliki Penikam, jelas tak bisa ditiru, mau tak mau Jaka harus mencari informasi dengan caranya sendiri.

Tapi seperti apa yang di yakini Jaka selama ini, bahwa; di balik kesulitan ada kemudahan. Kejadian tertularnya Penikam, menyadarkan Jaka tentang kesimpulan yang diungkapkan Ekabaksha sebelumnya, yakni; Phalapeksa, kemungkinan diletakkan begitu saja oleh seseorang di perbatasan kota. Jika orang itu bukan sosok yang penting—yang memiliki pemunah tersendiri, tentu sekarang orang itu sedang berkutat dengan efek racun yang sudah menulari dirinya.

Secercah ide itu cukup bagi Jaka untuk memulai pencarian. Pemuda ini sudah memiliki tujuan yang pasti, kemana harus pergi.
===o0o===

Situasi di seputaran Kerajaan Kadungga begitu tenang, sangat tenang malah, membuat tiap orang merasa gelisah. Bahkan Perkampungan Menur yang bergiat membuat ragam senjata, harus menghentikan kegiatannya. Ini disebabkan perintah dari Sandigdha, yang menyuruh mereka untuk bersiaga.

Sementara Dua Bakat telah bertemu dengan sang majikan, tak jauh dari batas terluar Kerajaan Kadungga, dia melaporkan semua kejadian yang dialami, termasuk beberapa benda yang dia dapat.

“Tuan, saya tidak tahu untuk apa semua ini… mohon petunjuk.” Kata Dua Bakat dengan gelisah dan sesekali terbatuk, dadanya sesekali terasa sesak. Bagaimana mungkin dia tak gelisah, sementara waktu yang dihabiskan sudah sebelas hari, artinya dia tinggal memiliki tiga hari sisa untuk segera melonggarkan totokan di jantungnya, padahal jejak murid tuannya-pun tak dia miliki jejaknya. Bayang-bayang kematian sudah menari dalam benak.

Sang majikan memperhatikan kotak kecil dan dua bungkusan kain lainnya, dalam kotak yang diberikan oleh Sandigdha, ada beberapa lembar rontal yang menjelaskan bagaimana semua itu harus dilaksanakan.

“Hm, kau menjauh lebih dulu.” Sahut sang majikan dengan singkat membuat, Dua Bakat segera beringsut menyingkir.

Lelaki tua itu memperhatikan baris demi baris tulisan. Sebenarnya dia tidak perlu membacanya, sebagian tiap huruf dia masih ingat betul, karena yang menggoreskan huruf demi huruf adalah dirinya dan dua orang tokoh lain, mereka menuliskan dalam waktu yang berbeda. Ada semacam keharuan yang terbersit dalam wajahnya, dari tempatnya berdiri Dua Bakat bisa melihat mata majikannya seperti berkilau. Wajah bijaknya kini tersaput kekejian, yang dulu—hingga kini, membuat dirinya tunduk.

Meski dia masih hafal tiap kalimatnya, tapi demi menghindari kesalahan, setiap patah kata dibaca ulang sampai tiga kali, begitu hatinya merasa mantap, lelaki tua itu kembali menyadari; masalah yang dulu menghantui kegagalan percobaan mereka adalah; tiadanya benda-benda yang dibutuhkan dalam tulisan itu. Penyelidikan atas benda-benda yang mereka butuhkanpun sudah dilakukan sejak empatpuluh tahun lampau, sayangnya pada saat duapuluh tahun setelahnya; disaat mereka menemukan ketiga benda yang dibutuhkan, pemilik Pedang Tetesan Embun menceraiberaikan mereka! Demi menghindari benda-benda itu jatuh ketangan pemilik Pedang Tetesan Embun, mereka berinisiatif untuk menyerahkan masing-masing benda itu kepada orang-orang yang dipercaya.

Dan dua puluh tahun itu kini sudah terlalui. Tangan lelaki tua itu nampak bergetar karena terlalu emosional. Dalam sudut hatinya, dia masih mengkhawatirkan… kalau-kalau Pemilik Pedang Tetesan Embun akan muncul dan merebut benda itu.

Setelah menenteramkan perasaannya, lelaki itu itu menggengam, ketiga butir parwwakalamahatmya (Parwwakala=waktu matahari, bulan, bumi ada dalam satu garis lurus; gerhana. Mahatmya=mematikan. Secara harfiah=gerhana yang mematikan) dengan hati-hati. Rencana kali ini harus berhasil! Ketiga butir yang berwarna Merah-Hijau-Hitam adalah purwarupa dari racun aneh yang di ciptakan oleh angkatan sebelum dirinya, di tempat dan waktu yang berbeda. Ketiga benda itu merupakan salah satu dari peninggalan Tabib Malaikat, Tabib Dewa dan Maha Racun. Menurut catatan yang pernah dibacanya, benda itu tidak ada gunanya kalau tidak disatukan. Dan kotak yang diperoleh Dua Bakat dari Sandigdha adalah alat yang berfungsi untuk menyatukan ketiga butir peninggalan tokoh-tokoh yang pernah menggemparkan jagad persilatan di masa lampau. Dengan sendirinya, karena ketiga butir parwwakalamahatmya itu belum pernah dicoba keampuhannya, lelaki tua inipun tidak yakin dengan keistimewaannya. Waktu yang telah menggerus ketiga butir parwwakalamahatmya, apakah masih menyisakan kehebatan sesuai dengan catatan yang pernah dibacanya?

Dalam kotak kecil, ada tiga slot berukuran sama persis dengan butir ukuran parwwakalamahatmya, tiap slotnya tertera keterangan warna. Pada saat itu Dua Bakat melihat majikannya hendak memasukkan warna hitam terlebih dahulu.

“Tu.. tuan, tunggu sebentar.” Seru Dua Bakat terburu-buru, dia ingin mendekat, tapi tatap mata garang sang majikan menghentikan laju langkahnya.

Wajah sang majikan nampak tidak senang. “Ada apa?” ujarnya ketus.

“Ma-maaf tuan, saya lupa menyampaikan keterangan dari salah satu orang yang menyimpan benda itu.”

Wajah kesal lelaki tua itu nampak berangsur-angsur menghilang. “Sebutkan..”

“Gunakan sebelum hijau.” Kata Dua bakat mengulangi penjelasan si pande besi, dimana dirinya mendapatkan satu butir parwwakalamahatmya warna merah. “Jadi menurut saya, urutannya adalah; Merah-Hijau-Hitam.”

Sang majikan nampak tercenung sesaat. “Baiklah, kau bisa kembali ketempatmu.”

Dua Bakat mengangguk dengan sedikit rasa lega, tapi ketegangan masih membayang di pelupuk matanya. Dia bisa meraba, apa yang dilakukan sang majikan ternyata adalah sebuah eksperimen; yang kesempatan gagal, sama besarnya dengan kemungkinan sukses.

Meski ingin dilihat santai oleh anak buahnya, tidak bisa tidak hatinya merasakan sebuah ketegangan yang sudah lama dilupakannya. Warna merah sudah masuk kedalam slot yang tersedia, dan detik itu juga terkunci di dasar kotak, demikian juga warna hijau dan kemudian hitam secara berturut-turut. Lama, lelaki tua itu menunggu terjadinya reaksi, tapi tidak juga terjadi.

“Apa mungkin catatan itu salah?” pikirnya dengan heran.

Jika sang majikan memikirkan cara menyatukan benda itu, lain lagi dengan pikiran Dua Bakat, sebenarnya apa yang ingin dicapai dari ketiga benda itu? Jika dugannya tidak salah, kemungkinan besar ketiga benda itu merupakan perpaduan racun. Dia paham betul, sang majikan adalah ahli racun, selama perantauannya, dia belum pernah menyaksikan seorang ahli selain majikannya. Dengan kemahiran racunnya di kolong langit ini, siapa lagi yang layak dia takuti selain Pemilik Pedang Tetesan Embun?

Hampir satu jam, lelaki tua itu menekuri kotak kecil yang terbuat dari campuran batu pualam dan besi pilihan itu. Dengan hati-hati di putarnya dasar kotak, memang ada semacam tuas mekanik, yang membuat dasar kota bergeser kekiri dan kekanan secara simultan namun terbatas, tetapi setelah di gerak-gerakan beberapa puluh kali, tetap tidak ada reaksi!

“Keparat!” geramnya, membuat Dua Bakat menyingkir jauh-jauh. Di masa lalu, kemarahan majikannya bisa membuat anak buahnya harus ‘pensiun dini’. Hawa beracun akan menyambar dari desakan hawa murninya, itu sangat cukup membuat orang-orang yang tidak memiliki dasar pengenalan terhadap racun, lumpuh seketika.

Karena tidak memiliki pilihan lain, lelaki itu itu melemparkan kotak itu hingga menghantam sebongkah batu.

Prak!

Benturan kotak dengan batu, membuat jantung Dua Bakat berdesir miris. Dia merasa apa yang dilakukannya untuk mengambil ketiga benda itu sama sekali tidak berguna. Tapi, sebuah pemandangan yang menakjubkan membuat mereka berdua harus menyingkir jauh-jauh dan menyaksikannya dari jarak tertentu.

Rupanya lapisan bagian bawah kotak, tanpa sengaja bergeser kekanan dan kiri dalam kombinasi acak yang akhirnya membuat kotak penggabung ketiga butir parwwakalamahatmya berfungsi. Trak-trak-krak! Bunyi berderak-derit silih berganti memecah sunyi. Kejap berikut asap dengan tiga warna—Merah-Hijau-Hitam, membumbung satu tombak, saling membelit, seolah asap itu mahluk hidup. Proses itu membuat lima tombak radius asap, layu dan bugar, silih berganti. Dua Bakat bisa melihat, batang pohon trembesi didekat asap aneh itu berwarna hitam legam mengeras layaknya batu, dan dikejap berikut menjadi lembek layaknya batang pisang. Lalu kembali normal.

Lelaki itu itu nampak berkerut, kedua tangannya menakup dengan satu getaran yang membuat Dua Bakat kembali menyingkir menjauh. Asap tipis bagai embun menggumpal sampai sebatas lengan sang majikan. Dengan termangu-mangu, Dua Bakat hanya bisa menyapukan kekaguman lewat tatapan mata. Sebuah pameran Ilmu Suksmasukabhitahetu (kegaiban penyebab suka dan duka) terpapar dengan dahsyat. Dimasa lalu, dia pernah menyaksikan dua kali, ilmu itu menunjukan keganasannya. Ilmu itu dapat membuat lawan terlena, membeku, bahkan tidak merasakan apapun saat menjelang kematiannya, mayat sang lawan biasanya akan menimbulkan rona wajah senyum. Pada puncaknya, kabut akan menyelimuti sekujur tubuh hingga akhirnya hanya menimbulkan satu gelombang fatamorgana yang menyelimuti tubuh, penampilannya seperti diselimuti hawa panas yang amat sangat, tapi ternyata tidak, serasa dingin membekukan, namun tidaklah demikian. Hawa hangat, ya… hawa hangat yang muncul menggebu dari kabut yang menggumpal dari lengan sang majikan membuat Dua Bakat beringsut makin menjauh. Hawa hangat itu akan menimbulkan satu sebab kebalikan dari biasanya; membekuan tubuh, sebelum akhirnya akan menyendat seluruh aliran darah, dan memecahkan pembuluh.

Nampaknya sang majikan sedang melakukan sebuah eksperimen terhadap asap itu, terbukti, saat ini dia tidak mengerahkan dalam tataran tinggi—meski hal itu bisa membunuh dirinya jika terlalu dekat.

Asap setinggi satu tombak yang saling memilin itu, mendadak menyambar si lelaki tua. Dua Bakat memekik kaget, kecepatan sambaran asap itu benar-benar membuat dirinya tidak percaya, ada benda (asap) yang menyerupai mahluk hidup. Kecepatan sambaran asap tiga warna itu, bahkan dirinya belum tentu bisa melakukannya.

“Hiaa!” teriakan tertahan dari sang majikan, mengalihkan pandangan Dua Bakat dari asap itu, nampak dari tangan sang majikan kabut yang menggumpal dilontarkan keatas dengan diikuti lesatan tubuhnya kebelakang.

Duar!

Asap tiga warna meliuk mengikuti arah kabut Pukulan Suksmasukabhitahetu, begitu benturan terjadi, lelaki tua ini secara bertubi-tubi menyerang kotak itu, dengan sendirinya ketiga asap yang sebelumnya menumbuk pukulan pertama, segera terpancing dengan kabut yang mengarah pada kotak, akibatnya…

Creees!

Suara bagai bara masuk kedalam air, membuat kuduk Dua Bakat berdiri. Sebab dia bisa merasakan ada damparan gelombang yang cukup membuat kulitnya mengencang. Kotak yang terhantam sulur asap itu, mengeluarkan cahaya hijau tua. Berpendar terang, dan akhirnya meredup, bersamaan dengan menipisnya asap tiga warna itu, hingga akhirnya berangsur-angsur hilang.

Sebuah tawa kecil, terlontar dari mulut sang majikan. “Sempurna…” gumamnya dengan mata bercahaya, sepertinya dia sudah mendapatkan hal yang diinginkan. Telapak tangannya masih diselimuti kabut ilmu Suksmasukabhitahetu, kotak itu dipegang dengan eratnya, seolah-olah itu adalah benda paling berharga.

Dua Bakat jelas tidak berani mengganggu suka cita sang majikan. Benaknya sibuk menduga-duga, entah berfungsi sebagai apa benda dalam kotak kecil itu?

“Kau!” tiba-tiba saja sang majikan memanggilnya, membuat Dua Bakat mengeregap.

“I-iya tuan…” sahutnya seraya mendekat dengan ragu.

“Sekarang, adalah saat untuk tugas utama!” Tegas lelaki tua itu.

Rasa takut menyelinap dalam hati Dua Bakat. Entah tugas apa yang harus dia emban, jika berhubungan dengan benda misterius dalam kotak, seolah-olah dia akan menuju tempat paling mengerikan didunia.

“Pergilah ke Lembah Halimun…”

“Aaaah…” Dua Bakat mengeluh. “Apakah maksud tuan, Lembah Halimun yang itu?”

“Tidak ada Lembah Halimun kedua, selain tempat tinggal Swara Nabhya!”

Wajah Dua Bakat memucat, Swara Nabhya, adalah golongan yang pantang di ganggu, sama dengan Riyut Atirodra, golongan ini akan membalas gangguanmu sampai kau meminta mereka untuk membunuh dirimu. Belum pernah ada orang yang pernah bertemu secara langsung dengan mereka, entah mereka lelaki atau wanita, entah tua atau muda, tiada yang tahu. Dan pastinya, tiap orang yang berurusan dengan Swara Nabhya selalu memiliki akhir cerita sedih, tak satupun kisah akhir yang bahagia, beredar di dunia persilatan jika menyangkut Swara Nabhya.

“Me-mengapa harus mereka, tuan? Ap-apakah tua-tuan memiliki dendam dengan mereka?” tanya Dua Bakat dengan raut kecut.

“Diam!” bentak sang majikan dengan wajah menampilkan rona keganasan di masa lalu, membuat Dua Bakat mengkeret ketakutan. “Kau mau terima tugas ini atau tidak?!”

“Te-tentu… ta-tapi, mungkin sebelum saya sempat menunaikan tugas, kematian akan menjemput lebih dulu.” Kata Dua Bakat dengan suara lirih.

Gigi sang majikan nampak bergemeletuk, kemarahan amat sangat sempat menyelimuti hatinya. Dia sadar, yang dikawatirkan bawahannya itu adalah karena perbuatan sang murid. ‘Kau benar-benar membuatku susah!’ geramnya dalam hati menyumpahi muridnya.

Berkaitan dengan tugas menuju Lembah Halimun, jelas hanya bisa dilakukan oleh Dua Bakat, Swara Nabhya tidak semenakutkan Riyut Atirodra atau memiliki anggota mata-mata bertebaran seperti Kwancasakya, tapi keberadaan orang-orang dari Lembah Halimun bisa dimana saja. Belum pernah ada orang yang lolos dari incaran mereka. Tapi Dua Bakat yang memiliki kemahiran menyamar dalam hitungan detik, bisa memperbesar kemungkinan sukses untuk menyusup kedalam Lembah Halimun.

Tapi saat ini, kondisi Dua Bakat jelas mencemaskannya. Dia bukan orang yang memiliki belas kasihan. Dirinya cemas karena takut rencananya gagal lagi. Untuk mencari jejak muridnya jelas bukan urusan gampang, meski Dua Bakat sekalian menemukan orang itu, belum menjadi jaminan juga, si murid akan memberi kelonggaran.

Sang majikan menghela nafas panjang-panjang, dia mencoba membuang rasa gusarnya dalam satu helaan nafas. “Kau baca ini dulu, camkan dan jangan sampai terlupa!” katanya sambil menyimpan kotak berisi parwwakalamahatmya yang telah menyatu.

Dengan tangan gemetar, Dua Bakat membaca catatan yang sebelumnya berada di dalam kotak. Ternyata dua lembar yang di berikan sang majikan, adalah cara mendapatkan sesuatu dari dalam Lembah Halimun. Berulang kali mata Dua Bakat harus terbeliak, dan keringat dingin mengucur deras.

“Ja-jadi ini tugas saya?” tanyanya dengan suara serak.

Sang Majikan mengangguk.

Dua Bakat sadar, dia akan menjadi ujung tombak rencana berdarah. Kehidupan ‘dalam pengasingan’ selama dua puluh tahun, cukup menyisipkan sepercik ketenangan dalam hatinya, sungguh tak disangka saat ini dia akan melakukan sebuah dosa yang mungkin belum pernah dilakukan siapapun. Jika rencana majikannya sukses, benda dalam kotak itu, bisa membuat punah kehidupan dalam satu lembah, bukan sembarang lembah. Tapi, Lembah Halimun! Tempat Swara Nabhya bersemayam. Dua Bakat membayangkan, dirinya menjadi jagal dari belasan—mungkin puluhan, mungkin ratusan—kehidupan yang ada didalam lembah itu. Dari manusia sampai hewan!

Keringat dingin makin menitik deras. Tiba-tiba Dua Bakat merasa sangat sulit untuk menelan ludahnya.

“Kabut dalam Lembah Halimun bukan sembarang kabut, itu alasannya kenapa aku menggunakan ilmu Suksmasukabhitahetu untuk mencoba keampuhan parwwakalamahatmya. Fungsi parwwakalamahatmya pada Lembah Halimun, sama seperti besi dengan sembrani, saling mengikat. Setiap barang bernyawa yang diselimuti kabut, dalam lembah itu akan musnah saat kau meletakan parwwakalamahatmya tepat pada pusat kabut. Racunnya akan menjalar melalui setiap titik kabut!”

Dua Bakat hanya mengangguk lemah. ‘Itu akan berhasil, jika aku sudah menuju tempat itu.’ Pikirnya pesimis. Entah kenapa, pesimisme akan kegagalan membuahkan setitik kegembiraan. Diapun merasa aneh saat hatinya membesitkan perasaan lega, mengetahui kegunaan parwwakalamahatmya hanya berfungsi optimal di Lembah Halimun saja.

“Dan selanjutnya apa?” sang majikan mengujinya.

“Saya harus mencari tempat yang ditengarai sebagai penyimpanan benda-benda yang berada dalam pengawasan Swara Nabhya.”

“Kau sudah tahu apa yang akan diambil?” cecar sang majikan.

“Saya sudah mengingatnya dalam hati.” Sahut Dua Bakat mencoba bersemangat.

“Baik, jika kau sudah merasa siap, aku akan mencari jalan untuk memunahkan totokan muridku.” Kata sang majikan. “Ikuti aku!”

Pandangan Dua Bakat menerawang kosong, mengikuti punggung sang majikan yang makin menjauh, terburu-buru dia berlari mengikuti jejak lelaki tua yang memiliki maksud misterius itu. Maksud yang Dua Bakat tahu; amat-sangat-jahat! Sungguh aneh, keraguan yang menyelinap dalam hati—atas rencana jahat itu, tetap saja tak membuatnya bisa menolak maksud sang majikan.
===o0o===

Jaka mengunjungi toko obat di seluruh penjuru Kota Skandhawara, dia mencari beberapa jenis ramuan—yang dalam dugaannya, dipastikan habis. Dan ya! Ada tiga jenis ramuan yang tidak bisa Jaka temukan di tiap toko. Pemuda ini menghembus nafas lega.

“Terima kasih, paman…” gumamnya merasa bersyukur, atas kesimpulan awal Ekabaksha dan kejadian tertularnya Penikam. Kali ini pemuda itu bisa meraba sedikit jelas. Obat yang habis itu jelas bukan digunakan oleh sembarang orang. Panas dan demam memang biasa menyerang siapapun, tapi jika tiga jenis ramuan (yang habis) itu dicampur, akan menjadi obat yang sangat cocok untuk melonggarkan pernafasan, dan meredakan tekanan darah—yang menyebabkan nafas memburu. Karena dengan obat itupula Jaka melakukan pengobatan terhadap Penikam—ditambah dengan beberapa jenis metoda pengobatan khas miliknya.

Orang yang mengetahui cara pengobatan tersebut, tentu paham pula bahwa dirinya harus berada di tempat yang bisa mengumpulkan hawa sejuk dan panas hampir bersamaan. Satu satunya tempat seperti itu di Kota Skandhawara, ada di sekitar Bendungan Çubham. Bibir pemuda ini mengembangkan senyumnya yang khas, matanya nampak berbinar. Dia merasa akan mendapatkan sedikit kejelasan dari nasib Phalapeksa. Entah Jaka sadar atau tidak, langkahnya tengah diikuti pandangan mata yang menatap dingin tiap gerak-geriknya.

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s