112 – Domino Effect : Domba dan Kambing Hitam (1)

Sembilan Belantara sanggup fokus mencari jejak selama berhari-hari tanpa makan, tanpa tidur. Demikian pula saat keselamatan mereka harus menjadi taruhan akibat totokan istimewa murid sang junjungan. Lebih baik mati dari pada tidak menemukan jejaknya, begitu dia berpikir.

Bukan tanpa alasan, nama-nama mereka pernah disejajarkan dengan banyak pendekar hebat pada masanya. Tiap jengkal penelitian, membawa langkah kakinya memasuki Kota Skandhawara, pusat pemerintahan Kerajaan Kadungga. Setiap Sembilan Belantara menemukan kejelasan jejak, dia akan memberi tanda, dan semua rekan-rekannya selalu mengikuti, mereka hanya berjarak setengah hari dibelakang Sembilan Belantara. Demikian pula dengan Dua Bakat yang harus putar balik ke Kota Skandhawara, saat melihat jejak Sembilan Belantara mengarah ke sana.

Pagi itu, Sembilan Belantara sampai di sebuah hutan, di perbatasan pemerintahan kota Skandhawara. Sebuah gemertak suara kereta mengejutkan Sembilan Belantara, dengan sangat hati-hati, orang ini bersembunyi mengintai situasi.

Berturut-turut, enam belas kereta datang melewati jalan yang diambil Sembilan Belantara. Lelaki ini termenung, antara tergelitik rasa ingin tahu atau meneruskan pencarian. Dan ternyata, rasa ingin tahu lebih kuat mencengkeram benaknya. Dengan berindap-indap, Sembilan Belantara mengikuti kereta yang melaju kencang, peringan tubuhnya sangat cukup untuk membayangi kecepatan kereta yang berjalan tergesa-gesa. Tapi rasa penat akibat perjalanannya membuat Sembilan Belantara memutuskan untuk membonceng di kereta terakhir, tentu saja tanpa sepengetahuan kusir.

Enam belas kereta berhenti di tengah hutan yang cukup lebat, Sembilan Belantara bisa melihat ada kandang sapi di depan sana. Keheranan merayapi pikirannya. Kereta tertutup dengan ukuran menengah, jelas tidak cocok untuk angkutan sapi, lalu untuk apa? Tak menunggu lama, dia segera melompat menjauhi kereta tumpangannya, bersembunyi di balik semak.

Dari kereta urutan pertama, keluar orang yang wajahnya nampak pucat. “Selesaikan tugas kalian!” katanya dengan suara enggan.

Tapi mendadak dari balik rimbunan pohon, muncul dua orang berpakaian hijau menjumpai lelaki berwajah pucat itu. “Apa yang kau lakukan?” Tanya orang paling tua diantara mereka dengan kening berkerut dalam.

“Mengambil kembali milikku.” Katanya dengan tak acuh.

“Tidak bisa! Jika masih di perkampungan, aku tidak akan mencampuri keputusanmu. Tapi kau sudah meletakannya kesini, artinya; ini sudah menjadi milik keluarga.” Tegas orang itu dengan suara ketus.

“Kau lupa, berapa bayak sumbanganku selama ini?” Tanya lelaki wajah pucat itu tak kalah ketus.

“Aku tidak menutup mata dengan kontribusimu yang besar, tapi kaupun sudah mengerti peraturan dalam keluarga.”

“Ya, aku sangat paham, maafkan kekhilafanku!” gumam lelaki itu mengangguk, dan jemarinya menepuk pundak orang tua itu. Gerakannya sangat wajar, seolah dia hendak menyatakan penyesalan hatinya.

Tapi seringai kesakitan nampak tergores di bibir lelaki tua itu, “Apa yang kau lakukan…” desisnya dengan suara kering. Belum lagi habis suaranya, tubuh lelaki itu jatuh. Dan disaat bersamaan lelaki berwajah pucat itu sudah menepuk orang kedua yang masih terkejut dengan kejadian tadi. Tubuhnyapun turut jatuh menggelimpang, menimpa orang yang lebih tua. Rupanya, di jemarinya terpasang cincin dengan jarum lembut mencuat. Jarum itu berwarna hitam legam, menandakan sebuah racun yang sangat keras. Lelaki itu terlihat memutar cincinnya, jarum kecil berwarna hitam mengarah keluar.

“Kalian bersiap saja, aku akan memuluskan jalan.” Kata si wajah pucat melangkah memasuki rimbunan pohon.

Sembilan Belantara mengikuti tiap kejadian dengan jantung berdetak kencang, rasa kawatir menyergap hatinya. Diam-diam dia memaki ketololannya ikut campur urusan orang lain. Kalau sampai ketahuan, dia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi. Kalau saja saat ini kondisinya sedang sehat betul, dia tidak akan kawatir kecepatan larinya bakal disusul orang. Tapi karena otot jantungnya—beserta tiga rekan yang lain, diikat dengan cara khsus secara aneh oleh murid sang junjungan, membuat tiap gerak-gerik tak leluasa, sebab manakala terlalu banyak udara yang harus dia hirup—dengan terengah-engah, dengan sendirinya ikatan totokan pada otot jatung makin mengencang, dan membuat dia kesulitan bernafas, mati adalah kejadian berikutnya.

Tak berapa lama kemudian, si wajah pucat telah kembali, tidak tersirat perasaan apapun di wajahnya, kecuali senyum tipis. Bulu kuduk Sembilan Belantara berdiri perlahan, dia bukan orang yang asing dengan ‘warna’ wajah seperti si pucat itu. Manakala kau baru menghabisi korban sebagai obat pelampiasan rasa kesalmu, raut seperti yang di tampilkan si wajah pucat inilah, yang sering kali di lihat Sembilan Belantara pada masa lalu. Dalam hatinya, Sembilan Belantara seperti pernah mengenal orang itu.

“Kapan kita masuk?” Tanya salah seorang kusir pada si pucat.

“Setengah kentungan lagi.“ jawab si pucat singkat.

Dengan hati berdebar, Sembilan Belantara pun terpaksa ikut menunggu. Kelengangan situasi hutan itu, membuat suasana di pagi hari terasa kian mencekam. Hawa membunuh yang di timbulkan si pucat turut mempengaruhi kicau burung yang sebelumnya sempat bersenandung.

“Kalian boleh masuk sekarang…” kata si pucat sambil mengambil tempat duduk tak jauh dari kandang sapi.

Dari dalam, kereta keluar dua orang, bersama masing-masing kusir, mereka berdiri di belakang kandang sapi yang tiba-tiba saja menguakkan satu lubang. Sembilan Belantara terkesip, dia baru saja melihat satu persembunyian orang lain, jika saat ini jejaknya diketahui orang itu… “Ih!” Sembilan Belantara bergidik, tak berani lagi dia berpikir lebih jauh. Kecuali menahan nafas makin ketat—takut persembunyiannya di ketahui orang itu.

Dalam waktu singkat berturut-turut, semua orang yang masuk kedalam lubang terlihat menggotong peti dalam ukuran cukup besar. Sembilan Belantara bukan orang bodoh, dia tahu yang ada didalam peti itu tentunya uang emas. Hatinya cukup tergiur saat menyaksikan enam belas kereta dipenuhi berpeti-peti uang emas. Tapi akal sehatnya cukup cerdas untuk mencegah, nafsunya menguasai hati. Keinginan untuk merebut uang itu, akan membawa dirinya pada posisi berbahaya.

Sebenarnya Sembilan Belantara ingin segera meninggalkan tempat itu, tapi antara rasa kawatir dan ingin tahu, lagi-lagi dikalahkan rasa ingin tahu.

“Tuan tidak mengurus yang lain?” Tanya salah seorang kusir padanya.

“Tidak.” Jawabnya singkat, sambil memberi isyarat untuk membereskan semua peti harta itu. Dari dalam bajunya dia mengeluarkan satu bungkusan, dan sarung tangan. Dengan sangat hati-hati bungkusan itu dibuka, sebelumnya dia sudah mengenakan sarung tangan kulit. Sembilan Belantara bisa melihat sebuah benda serupa hati ayam berwarna hitam berada di gengaman tangan lelaki itu. Senyuman dingin yang membikin bulu kuduk meremang, membuat Sembilan Belantara yakin, benda itu pasti bukan barang baik. Pasti semacam biang racun, pikirnya menduga.

Ya, tidak salah dugaan Sembilan Belantara. Sandigdha mengoleskan benda itu pada setiap peti harta, pada tiap tuas pintu kereta di oleskan dengan sangat sabar.

“Jangan ada yang menyentuh isi dan tuas pintu pintu.” Demikian Sandigdha memberi peringatan. “Berangkat!” perintahnya.

Kali ini Sembilan Belantara tidak berani lagi nebeng kereta, dia yakin benar, sesuatu yang dioleskan si wajah pucat pasti berdampak besar! Lebih baik sedikit capai dari pada harus mati konyol.

Tak berapa lama kemudian, derap kereta itu sudah menembus jalan pintas dalam hutan, rombongan kereta itu makin jauh masuk kedalam hutan. Hingga akhirnya, sampai pada sebuah tanah terbuka, disana tertancap sebuah ranting yang diujungnya terikat bendera merah. Hembusan angin yang mempermainkan kain, tidak membuat Sandigdha kesulitan membaca tulisan dalam bendera itu. Tapi dia maju lebih dekat untuk memastikan tulisan itu “Letakan disini.”

Dengan sangat segan, Sandigdha mengatur keenam belas kereta berkumpul rapi mengitari bendera merah itu—sesuai instruksi. Situasi lengang sekali, Sandigdha mulai terbatuk-batuk ringan, saat itu mentari sudah mulai tinggi.

“Hei! Keluar, aku sudah membawanya!” teriak Sandigdha disela-sela batuk yang kian menghebat, kecemasan nampak di wajahnya. Ancaman sang lawan dini hari tadi, sejak tadi sudah menari-nari di benaknya. Rasa sakit akibat ‘racun tujuh langkah’ yang disebar lawannya sudah mencengkeram ulu hati, saat batukpun, rasa mual dan pusing mendera kian hebat.

“Tuan, sepertinya pada bendera itu ada sesuatu.” Kata seorang kusir—yang sebenarnya adalah para anak buah berkemampuan tinggi yang di pelihara Sandigdha.

Dengan tindakan hati-hati, Sandigdha mendekat lagi, setelah merasa tidak ada jebakan disekitar bendera, Sandigdha berjalan lebih dekat lagi. Pada bendera merah itu tersulam secara kasar kain yang lain. Dengan cekatan Sandigdha menyentak kain itu hingga sobek, sulaman yag terdapat disana di buka dengan hati-hati. Ternyata sebuah surat.

“Terima kasih atas kirimanmu, atur kereta lebih teratur lagi
Masukkan semua kereta kedalam lingkaran yang ada.
Kita akan berjumpa sembilan ratus langkah dari sekarang
Berjalanlah kearah timur.”

Singkat dan padat surat itu, tapi sudah cukup memberi peringatan pada Sandigdha, betapa lawan yang mempermainkan dirinya ternyata orang yang sangat licin pula. Sandigdha memperhatikan tanah sekitar tempat itu, ternyata lingkaran yang di maksud lawannya secara tipis menggores tanah dan rerumputan. Garis lingkaran itu berwarna putih, dengan berhati-hati Sandigdha memeriksa warna putih itu. Hanya kapur bisa.

“Kumpulkan, semua kereta lebih dekat lagi! Berada dalam lingkaran ini!” Perintah Sandigdha pada anak buahnya. Suasanapun menjadi riuh sesaat, kereta kembali diatur. Seluruh orang masuk kedalam lingkaran dengan menginjak garis putih itu tanpa sadar.

Setelah semua beres, Sandigdha terbatuk-batuk dengan hebat.

“Kau tak apa-apa?” Tanya anak buahnya perihatin.

Sambil menggertak gigi, Sandigdha menggelang. “Ikuti aku!” katanya. Seluruh rombongan berjalan sangat perlahan dibelakang pimpinan mereka. Mulut Sandigdha berkomat-kamit menghitung sampai sembilan ratus langkah.

Sembilan Belantara mengikuti langkah lambat mereka dengan pandangan heran, karena punggung terakhir rombongan itu sudah di telan kerimbunan hutan, diapun keluar dari persembunyiannya. Dengan hati-hati Sembilan Belantara mendekati tempat parkir enam belas kereta itu. Meski dia menduga, kereta itu di olesi dengan racun, tapi rasa penasaran di benaknya harus dituntaskan! Tak disadari pula Sembilan Belantara menginjak kapur yang mengepung kereta. Sembilan Belantara, melemparkan sejumput bubuk pada kuda-kuda penarik kereta, membuat mereka tenang, dan akhirnya melipat lutut—tertidur.

Dengan kayu yang ada ditangannya, Sembilan Belantara mendongkel pintu kereta secara hati-hati. Setelah berupaya beberapa saat, akhirnya salah satu pintu kereta terbuka. Penuhnya peti-peti yang mengisi ruangan kereta membuat Sembila Belantara makin tergoda untuk membuka salah satunya.

Kayu yang ada ditangannya tidak sanggup untuk mendongkel, terpaksa pedang yang menjadi kebanggannya dipakai untuk mendongkel salah satu peti. Krak! Akhirnya penutup peti terbuka, pasak yang menutupnya tidak sanggup menahan kekuatan Sembilan Belantara.

Warna kuning yang menyilaukan, membuat Sembilan Belantara terbelalak, dia ingin sekali mengambil beberapa, tapi ingatannya mencegah dia untuk berbuat bodoh. Sebab si wajah pucat telah mengoleskan benda aneh pada tiap peti. Sembilan Belantara menutup peti itu dengan hati tak rela. Dengan hati-hati pula, dia menutup pintu kereta. Meski dalam hatinya timbul ingatan untuk membawa seluruh kereta itu, tapi diapun menyadari keterbatasan tenaganya. “Paling tidak satu kereta…” ujarnya berniat teguh.

Sudah kepalang basah mengikuti rombongan aneh itu sampai disini, Sembilan Belantara memutuskan menyusul mereka. Terlihat olehnya si wajah pucat sedang mengumpat panjang pendek.

“Kurang ajar! Dia mempermainkan kita!” dengus Sandigdha dengan rasa marah, mencengkeram hatinya.

Rupanya tempat yang di maksud sang lawan, tak berbeda dengan tiang bendera pertama. Setelah sembilan ratus langkah, Sandigdha menemukan bendera serupa, dan menyatakan harus melangkah sebanyak sembilan ratus langkah lagi kearah utara! Mau tidak mau mereka kembali melakukan instruksi itu, sebenarnya Sandigdha sudah sangat curiga dengan permainan busuk ini, tapi mengingat ancaman sang lawan, membuat dia mau tak mau menurut.

Begitu sampai pada tempat yang dituju, Sandigdha menemukan bendera serupa lagi. Kali ini, semua orang berpikir sama. “Apakah sembilan ratus langkah lagi?” dugaan itu muncul dibenak mereka.

Dan benar, Sembilan ratus langkah lagi menuju barat!

“Tuan, apa kah kita akan mengikuti permainan gila ini?” Tanya salah seorang.

Sandigdha menoleh dengan tatapan tajam. “Jika kau tidak mau mengikuti tiap langkahku, aku tidak memberatkanmu untuk mengikutiku.”

Beberapa orang tampak saling pandang, “Benarkah?” Tanya mereka ragu.

“Ya!” jawab Sandigdha singkat, tak lagi mengacuhkan mereka. Mulutnya berkomat-kamit menghitung lagi. Sementara beberapa anak buahnya tidak mengikuti langkah Sandigdha, tapi setelah bayangan Sandigdha lenyap, mereka jadi makin ragu meninggalkan tuannya.

“Kau pikir, dia bisa semurah ini?” ujar salah seorang dari mereka ragu.

“Entahlah, tapi… tak ada salahnya kita mengingat beberapa orang yang bermaksud mengundurkan diri, beberapa bulan lalu. Tuan memang mengizinkan mereka, bahkan memberi pesangon banyak. Tapi beberapa hari kemudian, ada diantara kita yang diperintah untuk mengambil ceceran uang di sebuah tempat. Apa kalian pikir, dia begitu baik hati?” ulasan salah satu dari mereka membuat rasa ragu mengguncang hati mereka lebih dalam pula.

“Aku tak mau ambil resiko, aku akan mengikuti tuan lagi.” Kata salah seorang segera bergegas mengikuti jejak Sandigdha, yang akhirnya di ikuti semua orang. Saat mereka menyusul rombongan utama, terlihat emosi Sandigdha makin tak karuan, makian terdengar berhamburan. Ternyata sampai ditempat yang telah mereka tuju sesuai instruksi, hanya ada sepotong kalimat yang menyatakan, segera menuju selatan! Sembilan ratus langkah pula! Bukankah itu artinya kembali ketempat semula? Pantas saja Sandigdha marah-marah. Jauh-jauh mereka berjalan, tak tahunya hanya disuruh berputar untuk menjauhi tempat diletakkannya uang dalam kereta. Menjauh sesaat.

Dan akhirnya rombongan mereka kembali lagi ketempat semula, bedanya disana sudah tidak ada kereta lagi, hanya belasan kuda yang terlihat pulas.

Sembilan Belantara yang mengikuti rombongan itupun ikut memaki dalam hati setelah melihat kereta harta tak lagi nampak, rasa menyesal dirinya begitu dalam. Sampai-sampai dia bersumpah untuk membantu si wajah pucat untuk menghajar orang yang mempermainkan mereka—tentu saja itu sumpah yang dilakukan secara emosional, pada prakteknya jika keadaan menghawatirkan si pucat, untuk apa pula dia harus ikut setor nyawa?

Sembilan Belantara bisa melihat di tanah kosong itu berdiri satu orang, memakai baju biru muda dengan kedok wajah berwana sama. Sudah tentu orang itu Jaka Bayu adanya.

“Selamat datang.” Sambut orang itu dengan ramah.

“Kau sudah mendapatkan barangnya?” tegur Sandigdha kasar. Adanya belasan anak buah berkemampuan tinggi yang menyertai Sandigdha, membuat dirinya berani.

Jaka mengangguk sambil tertawa pendek. “Ada penyakit yang kau sertakan pada hartamu, tapi tak apa, aku akan memaafkannya seandainya kau..”

“Memberikan penawarnya?” potong Sandigdha merasa menang.

Jaka tidak menjawab, dia membiarkan Sandigdha berbicara.

“Aku tidak akan memberikan apapun, sudah cukup banyak hartaku kau kuras! Sedikit kerugian yang kau terima dengan mampusnya anak buahmu, cukup memuaskan kedongkolan hatiku!”

“Oh, jadi kau memberikan racun?” Tanya Jaka dengan suara seperti kawatir.

Sandigdha tertawa lepas, ringan rasa hatinya. “Ya! Dan itu tidak ada penawarnya!”

Jaka mengangguk dan menggeleng berulang kali, seolah dia sangat prihatin. “Kalau begitu, rasanya impas pula jika ditukar dengan nyawamu…” ujar Jaka dengan suara perlahan.

“Tapi kau berjanji akan memberikan pemunahnya!” bentak Sandigdha.

“Aku tidak pernah berkata begitu.” Tegas Jaka.

“Tapi kau.. kau mengatakan akan memberikan kebebasan.”

Jaka tertawa. “Kau bebas berbuat apa saja, pada dasarnya tidak ada racun dalam tubuhmu. Hanya saja, aku perlu memberitahu kalian… kau dan teman-temanmu baru saja terkena racun, setibanya disini.”

“Hah!” suara-suara kegat terdengar. Wajah Sandigdha bersama seluruh anak buahnya memucat, bahkan Sembilan Belantara di persembunyiannya terlihat menggelosoh lemas. Keputusannya untuk mencampuri urusan si wajah pucat berbuntut tidak menyenangkan.

“Jadi, kau tidak memiliki nilai tawar apapun…” sambung Jaka lagi.

“Kau.. kau…” belum habis ucapannya, Sandigdha terbatuk-batuk sampai nungging, bukan hanya dia, bahkan semua orang. Termasuk Sembilan Belantara dipersembunyiannya, setengah mati menahan batuk, tapi tetap saja beberapa kali dia menyemburkan batuk kecil. Sembilan Belantara mengira menahan batuk akan menyelesaikan masalah—dia tak ingin ada orang tahu keberadaannya. Tapi rupanya, menahan batuk juga bukan jalan keluar, sebab perutnya tak kuat menahan tekanan. Suara kentut yang menggelegar ternyata melebihi kerasnya suara batuk!

Jaka menatap semak-semak di belakang rombongan lawannya, dia tersenyum, tapi tak beraksi. “Bagaimana? Kira-kira sekarang apa yang kuminta, bisa kau kabulkan tidak?”

Sandigdha menatap musuhnya yang dibalut kedok dengan dendam kian membara. Tapi sampai saat ini dia tak bisa menjawab. Maklum saja, batuk yang tak putus itu masih menyerang dirinya—juga semua orang yang pernah menginjak bubuk putih serupa kapur.

“Kau tahu, aku memiliki surat transaksi. Aku memiliki penawar racun, kira-kira nilai apa yang akan kau tawarkan padaku? Silahkan berpikir. Kalian akan batuk terus selama satu kentungan. Setelah berhenti, kalian memiliki waktu seperempat kentungan untuk menarik nafas. Setelah itu kalian akan batuk lagi.. demikian seterusnya.”

Sandigdha dan semua orang terbatuk-batuk sampai berlutut, bahkan ada yang menggelepar saking tidak tahannya. Batuk kering yang berulang-ulang menyakitkan dada dan lambung, membuat mereka tak berdaya. Jika saja saat ini Jaka memutuskan untuk membunuh mereka, alangkah mudahnya. Tapi pemuda itu tidak melakukan, dia bahkan berjalan dengan santai menuju semak-semak tempat persembunyian Sembilan Belantara.

“Ah, ada ikan ikut terjaring, sungguh tidak terduga. Nanti kita akan berurusan setelah pekerjaanku selesai.” Kata Jaka saat mendapati Sembilan Belantara yang sedang batuk sambil terkentut-kentut. Dengan menepuk bahu Sembilan Belantara, pemuda itu kembali kehadapan rombongan Sandigdha yang sedang sibuk dengan ‘koor’ batuknya.

Dalam hatinya, Sembilan Belantara memaki panjang pendek. Tapi apa daya, keselamatannya kini digenggam sang lawan yang tak dia ketahui identitasnya. Meski demikian, sepintas saja Sembilan Belantara bisa berpikir; jika orang yang memiliki kemampuan membunuh begitu menakutkan—seperti Sandigdha—ternyata habis-habisan dipermainkan orang itu, apakah dirinya yang sendirian ini akan selamat melewati kesialan luar biasa ini? Sembilan Belantara tak pernah berdoa, tapi kali ini dia berdoa semoga orang berkedok biru itu akan menurunkan tangan ringan padanya.

Tapi bilamana orang itu mengorek, memeras keterangannya sampai tak bersisa, apakah dirinya akan tetap berkeras untuk membela sang majikan? Dalam batuknya yang kian menghebat, Sembilan Belantara merasakan ketakutan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Lamat-lamat dia bisa mengerti, orang itu memiliki sebuah kesanggupan mempermainkan banyak orang, bukan hanya dirinya. Kemungkinan pula jika sang majikan berjumpa dengan orang itu, akan mengalami kesulitan pula.

Akhirnya batuk mereda, rasa lemas menjalari semua orang. Bayangkan terbatuk dalam satu jam tanpa henti, seperti apa rasanya?

“Kau sudah berpikir apa yang bisa kau sumbangkan lagi padaku?” Tanya Jaka sambil duduk diatas punggung kuda yang tengah tertidur itu.

Sandigdha terbatuk sesaat. “Aku.. aku akan berikan penawar racunku.”

“Racun apa? Apakah kau tadi memberikan racun?” Tanya Jaka pura-pura bodoh.

Sandigdha mengeluh, alamat pengalaman pahitnya saat harus memohon hartanya diambil, akan terulang lagi!

“I-iya.. tolonglah. Aku.. aku toh sudah memberikan harta padamu, apakah itu tidak membuatmu bertindak lebih ringan?” ujar Sadigdha dengan suara timbul tenggelam, rupanya batuk yang begitu lama merusak suaranya.

“Oh, apa yang bisa kutolong?” Tanya Jaka sambil bangkit, duduk didepan Sandidgha yang tengah berlutut sambil memegangi perutnya.

Gigi Sandigdha mengatup kencang menimbulkan suara derit, jika saja padangan mata bisa menusuk lawannya, mungkin saat ini lawannya itu sudah dihasi dengan ribuan lubang! “To-tolonglah… terimalah pemunah racunku… ini.” Kata Sandigdha sambil memberikan bungkusan yang dilipat pada kantung kulit.

Jaka tidak menerima itu. “Apakah aku akan mendapatkan kebaikan jika menerima pemunah racunmu?” Tanya pemuda ini membuat Sandigdha merasa, kalau saja ada sebatang pedang di sampingnya, dia lebih baik memotong lehernya sendiri!

“Ti-tidak…” katanya, kalau dia mengatakan ‘ada’, takutnya sang lawan akan berulah lagi.

“Kalau begitu, untuk apa aku menerimanya?” jawab Jaka jual mahal.

Menangis adalah pantangan kelas berat bagi pembunuh, tapi kali ini Sandigdha benar-benar menangis saking jengkelnya. “Kurang ajar…! Lebih baik kau bunuh aku saja!” teriak lelaki itu dengan suara serak.

Jaka tertawa, jika lawannya sudah putus asa, itu adalah saat paling tepat untuk memasangkan kendali, seperti kerbau yang di cocok hidungnya.

“Aku tak bisa membunuh, aku hanya bisa menyaksikan orang tersiksa sampai mati…” kata pemuda membuat bibir Sandigdha berdarah, ternyata saking gemasnya orang ini sampai menggigit bibirnya keras-keras. “Baiklah, berhubung kau memintaku sampai menangis begitu, aku akan terima penawar racun ini.” Kata Jaka sambil mencium sejenak, dia tersenyum, penawar racun Sandigdha memang obat yang tepat—bukan tipuan. “Sungguh sial, mendapatkan benda tak berharga…” gerutu pemuda ini membuat Sandigdha terpikir ide lain.

“I-ini, adalah biang racun dari hati merak yang dibuat dengan bisa ular paling keras dari dunia barat. Sangat mematikan, ini adalah racun yang menyerang anak buahmu…” kata Sandigdha dengan suara agak lancar.

Jaka menerima bungkusan dengan kening berkerut. “Ah, untuk apa racun ini buatku? Untuk meracunmu? Ini kan tidak berguna… kau memiliki penawarnya. Tapi baiklah, mungkin saja bisa kuberikan ini pada anjing.”

Suasana senyap, sebuah pameran introgasi yang sangat aneh dan menggelikan terhampar mempermalukan Sandigdha, tapi tak satupun orang merasa hal itu menggelikan. Lamat-lamat mereka merasakan, betapa sialnya Sandigdha memiliki lawan semenakutkan ini. Bahkan Sembilan Belantara-pun sangat bersimpati dengan nasib Sandigdha. Tapi tiba-tiba dia menepuk kening, bukankah nasibnya juga serupa Sandigdha? Apa yang nanti bakal ditawarkan untuk pemuda itu, supaya dirinya terbebas? Keringat dingin segera mengucur keluar, rasa takut kembali menyelimuti hati Sembilan Belatara.

“Aku ada permintaan untukmu…” Jaka berdiri sambil berjalan mengelilingi rombongan apes itu.

“Apa yang bisa kulakukan untukmu?” Tanya Sandigdha dengan suara makin lancar, harapan bersemi dihatinya, boleh jadi sang lawan akan segera memberikan pengampunan.

“Untuk beberapa saat kedepan, aku minta kau menjadi dombaku.”

“Hah?!” Sandigdha terperangah tidak paham, jika maksud sang lawan untuk menghinanya, maka ucapan tadi termasuk lembut.

“Maksudku, aku sedang membuat rencana besar. Sangat besar! Kau tolong aku untuk menjadi domba-dombaku, bagaimana?” pinta Jaka seolah persoalan ini hanya transaksi biasa.

Sandigdha terpekur, dengan suara serak dia berkata. “Nasib domba, biasanya disembelih selepas berjasa. Selepas dia korbankan bulunya untuk dipintal…”

Jaka mengangguk. “Memang itu bisa terjadi, tapi kaupun bisa memegang perkataanku, bahwa aku tidak bisa membunuh. Aku hanya bisa menyaksikan orang terbunuh. Bagaimana?”

Belum sempat, Sandigdha menjawab. Waktu seperempat kentungan sudah habis, kembali paduan suara batuk berkumandang di hutan yang senyap itu.

“Aku.. uhk-uhuk-uhuk.. setuju! Berikan pe.. uhk-uhuk-uhuk nawarmu…” dengan susah payah Sandigdha mengambil keputusan cepat. Sebab serangan batuk yang kedua kali ini, membuat perutnya serasa disayat-sayat.

“Bagus!” seru Jaka senang. Pemuda ini bersuit sejenak, lalu dari rimbunan pohon yang lain muncul sesosok tubuh gemuk di selimuti kedok memberikan teko berisi air pemunah. “Terima kasih paman.” Ucapnya, lalu dengan cekatan Jaka menuangkan seteguk-seteguk kepada tiap orang—kecuali Sembilan Belantara.

Suara batuk mereda saat itu juga. “Ingat ini hanya penawar untuk satu minggu, berikutnya aku akan memberikan pada kalian, tempatnya nanti kukabarkan menyusul. Pergilah, hartamu itu sangat berguna. Aku berterima kasih padamu…” kata Jaka dengan berwibawa. Membuat Sandigdha sekalian tidak berani bercuit lagi. Dengan terburu-buru, mereka pergi, membawa caci maki dalam hati.

Satu suara batuk masih terdengar dari balik rimbun semak-semak. “Aku akan berbicang dengan kambing hitamku dulu paman, nanti kita bicarakan banyak hal!”

Ekabaksha yang terpaksa mengenakan kedok, hanya bisa menggeleng-geleng dengan perasaan sedikit seram. Dia tahu apa yang dilakukan pemuda itu. Meskipun bubuk putih serupa kapur itu dikatakan Jaka sebagai racun, padahal itu hanya belerang yang di campur beberapa rempah-rempah yang seharusnya bisa menyembuhkan penyakit diare. Tapi ditangan pemuda yang sangat mahir pengobatan ini, ramuan sederhana bisa membuat orang batuk sampai setengah mati.

“Entah akal setan apa lagi yang akan dilakukan terhadap mahluk malang itu.” Pikirnya sambil nyengir, dia bergegas mengurus belasan kuda yang masih terlelap. Mendapat harta sebanyak enam belas kereta—dengan bonus kereta kuda memang kejadian yang belum pernah ada dimanapun. Hanya seorang Jaka Bayu yang bisa membuat itu terjadi.

Cuma satu hal yang saat ini ingin ditanyakan Ekabaksha, kenapa Jaka harus membuat mereka berjalan berputar-putar? Memang itu dilakukan untuk mengenyahkan mereka supaya pihaknya dengan leluasa mengamankan barang. Tapi, atas alasan apa, Jaka harus membuat mereka melakukan ‘jalan sehat’ dengan mulut komat kamit menghitung langkah? Barangkali persoalan itu akan ditanyakan selepas Jaka menyelesaikan urusan dengan Sembilan Belantara—si kambing hitam.

Suara batuk tunggal masih menghiasi suasana, sementara matahari kian terik bersinar. Jaka terlihat tengah asik dengan ‘mainan barunya’.

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s