110 – Domino Effect : Rejeki Tak Akan Kemana

Jaka sudah berhenti tak jauh dari sekitar Perkampungan Menur, dia memperhatikan gerakan yang mungkin terjadi ditempat yang memperoleh perlindungan dari Keluarga Tumparaka. Bersama Ekabakhsa, pemuda ini sudah membnatu rekan-rekan lainnya untuk mengeluarkan racun dari dalam lambung. Jaka meminta mereka untuk kembali ke pos masing-masing, sementara dirinya bersama si Ular tetap mengintai.

“Kau yakin, dia akan kembali ke kota secepat itu?” Tanya Ekabaksha pada Jaka.

“Tidak terlalu yakin paman, mestinya orang itu harus mengatur penyimpanan harta lebih dulu. Aku yakin ‘si tua bangka’ yang dia sebutkan pun sedang mengincarnya. Kita cukup menjadi saksi pertikaian mereka.”

Benar dugaan Jaka, setelah mereka menunggu hampir setengah hari Sang Bendahara keluar dari perkampungan itu dengan berkuda, di pingangnya terselip senjata sepasang golok, menanti jaraknya sudah cukup jauh dari perkampungan, kuda yang ditunggangi Sang Bendahara meringkik dengan dua kaki terangkat, sebelum akhirnya jatuh dengan leher terkulai. Dengan cekatan orang itu melompat, gerakannya sangat ringan. Sejak awal Jaka melihat Sang Bendahara, dia yakin orang itu tidak selembek dugaan banyak orang, nyatanya dari gerakan yang sangat gesit itu, cukup bicara banyak.

Dengan tenang, Sang Bendahara menunggu, dia yakin si penyerang gelap akan dating. “Keluar kalian, aku sudah cukup sabar menunggu!” bentaknya tak sabaran.

“Seperti perintaanmu…” berkumandang satu suara dari arah melakang, dan itu membuat Sang Bendahara menggeser kaki hingga bisa mngawasi gerakan dibelakangnya, dia tidak mau ceroboh membalikkan badannya.

Dua orang lelaki muncul begitu saja, seperti datang dari balik tanah, dan itu membuat wajah Sang Bendahara menjadi sangat serius. “Nekawarnnarengit…” desis Sang Bendahara dengan mata menyipit.

“Kau sudah mengenal kami, Sandigdha?” sahut salah seorang dari mereka menyebutkan nama asli Sang Bendahara.

Ekabaksha melirik Jaka dan berbisik, “dua orang itu adalah kelompok pembunuh dari Kwancasakya, sebutan Nekawarnnarengit atau aneka jenis nyamuk adalah penggambaran dimana saja mereka bisa menyusup, tidak ada tempat yang tak terjangkau.”

Jaka mengangguk. “Artinya si tua bangka punya di sebut Sandigdha hubungan dengan Kwancasakya?” bisik pemuda ini.

“Belum tentu, organisasi Kwancasakya terlalu bias, setiap anggotanya bisa bergabung dengan perkumpulan manapun, tapi jika Sandigdha menyebutkan mereka sebagai Nekawarnnarengit, artinya; dua orang ini adalah bayaran. Tapi aku tak yakin pula…”

“Kudengar namamu sudah cukup mengguncang jagad persilatan puluhan tahun lampau, kenapa sekrang kau begitu ceroboh? Apakah karena terlalu banyak harta?”

Sandigdha diam tak menjawab. “Apakah kalian di utus olehnya?” akirnya dia buka suara, tak menanggapi pernyataan tadi.

“Ya, kami memang tidak ada hubungan dengan semua rencana-rencana orang itu. Tapi kebaikan yang sudah dia berikan pada kami, cukup membuat pekerjaan kali ini kami berikan harga gratis untuknya.”

“Katakan, untuk apa kedatangan kalian menjumpaiku?”

“Kau tidak lupa kenapa hartamu harus berpindah tempat, bukan?”

Sandigdha manggut-manggut. “Perkampungan yang menjadi tempat pernyimpanan hartaku adalah tempat teraman, jika sewaktu-waktu dia memerlukannya, akan lebih mudah mengambilnya. Kalian harus tahu kondisiku, tak memungkinkan aku bergerak sewaktu-waktu.”

“Itu kami paham, masalahnya… tempat penyimpanan yang kau tunjuk ini punya penyakit besar!”

“Ohya? Aku tidak tahu…” pada saat kalimat terakhir diucapkan, kedua tangan Sandigdha sudah bergerak menghunus dua goloknya dan membacok dua orang yang berdiri di saping kanan kirinya. Jarak mereka sebenarnya tidak memungkinkan Sandigdha melancarkan serangan, tapi ternyata golok yang di hunusnya memiliki keistimewaan, pada gagangnya terdapat tali baja tipis, dan itu bisa dimanfaatkan oleh pemiliknya untuk melepas gengamannya. Posisi golok membacok meluncur dengan kecepatan tinggi, langsung menebas leher dan pinggang kedua orang itu.

Crak! Serangan secepat kilat itu nyata-nyata hanya lewat sekejap, tidak seperti umumnya gerakan membacok, sebab kedua korban bahkan masih sempat berkata-kata, sebelum akhirnya sadar tubuh mereka terbelah.

Jaka Bayu dan Ekabaksha menyaksikan itu dengan terkesima, dari caranya bicara dan bergerak, tidak kurang hanya berlangsung sekejap mata saja, dan dua tubuh yang masih sempat melontar tanya itu, terbelah sempurna. Mati!

“Dia terlalu meremehkan diriku, hanya mengirim pembunuh gratisan, huh!” dengus Sandigdha meludah, di geledahnya tubuh kedua orang itu, tapi dia tidak menemukan apa-apa tanpa menghiraukan tubuh yang bergelimpang, Sandigdha melanjutkan perjalanan menuju rumah tinggalnya, jabatannnya sebagai Bendahara Kerajaan, jauh lebih penting dari segala urusan saat ini.

“Ah, aku baru ingat… orang itu berjuluk Tangan Bayangan, namanya sendiri mencerminkan arti ketidak tentuan, dia termasuk dalam kelompok lima di keluarga Tumparaka.”

“Apa itu kelompok lima?” Tanya Jaka.

“Pengeksekusi, semacam algojo.”

“Tapi, dia terlalu ceroboh…” komentar Jaka.

“Kenapa?”

“Dia mengira, hanya ada dua orang Nekawarnnarengit, dia mengira itu akan lolos dari Kwancasakya dengan mudah.”

“Bukankah mereka hanya dua orang?”

Jaka mengangguk. “Tapi ilmu goloknya yang terlampau cepat, sama halnya menunjukkan dirinya sebagai pelaku.”

Baru saja Jaka berkata demikian, dari persembunyian, mereka menyaksikan sebuah kejadian yang mendirikan bulu kuduk, perlahan-lahan tubuh kedua korban itu bergemertak, lalu bergerak sesaat.. kemudian mencair! Dan hanya tersisa baju mereka.

“Aku salah, ternyata golok yang di gunakan orang itu memiliki rongga dan menyimpan racun…” gumam Jaka dengan prihatin.

“Kau tahu, itu racun apa?” Ekabaksha bertanya dengan mata masih melotot memperhatikan dua jazad yang kini tinggal berupa cairan kental saja.

“Banyak ragam, cara menghilangkan daging. Tapi kukira, dia akan menimpakan abu dari kejadian ini pada orang lain.” Kata Jaka sambil memperhatikan situasi, merasa aman, pemuda itu lalu keluar di iringi Ekabaksha. Sambil berjongkok, Jaka mengorek cairan kental itu dengan ranting.

“Kurasa sasaran Sandigdha adalah kelaurga Gumilata.” Gumam Jaka. “Apakah, paman pernah tahu ada persilisihan apa antara Gumilata dan Tumparaka?”

“Itu cerita lama, konon leluhur mereka adalah kakak beradik. Tapi, konflik apa yang menjadi perselisihan, aku tidak tahu persis. Tidak heran Tumparaka cukup mengenal racun Gumilata.” Ujar Ekabaksha memperhatikan krah baju korban. Dengan sangat hati-hati, disobeknya bagian ujung krah itu, ternyata didalamnya ada gulungan kain lain. Jaka tidak memperhatikan apa yang di lakukan rekannya, wajah pemuda itu nampak berkerut dalam.

“Seharusnya tidak semudah ini…” gumam Jaka, dengan rantingnya dia melakukan gerakan bacokan serupa yang dilakukan Sandigdha, matanya terpejam dengan kening berkerut.

Ekabaksha memperhatikan pemuda itu sejenak. “Kau bisa mengambil kesimpulan apa?” tanyanya, dia paham cara yang dilakukan Jaka melacak balik sebuah serangan, adalah untuk memahami latar belakang kejiwaan pelaku. Disiplin ilmu ini dikembangkan oleh Sadhana, sang Serigala. Dan Jaka cukup banyak menimba ilmu itu darinya.

“Galok yang memiliki tali sebagai perpanjangan tangan memang cukup mengejutkan, tapi orang yang bisa melakukan gerakan membacok tanpa memegang gagang golok, lebih menakutkan lagi. Lebih dari itu, karena dalam gagang golok terdapat rongga—ruang kosong untuk menyimpan racun, caranya melontarkan senjata untuk membacok jelas lebih sulit dari kelihatannya. Ada tenaga yang harus dibungkus sedemikian rupa di ujung goloknya, dengan pengaturan waktu yang sempurna, pada saat senjata membentur sasaran, tenaga itu diledakkan dengan cepat, dan ditarik secepat kilat untuk memancarkan seluruh racun ke mulut luka lawan.”

“Dan artinya?”

“Sandigdha adalah orang yang sangat cermat, licik, bersedia dinilai rendah oleh orang lain, lebih dari itu… himpunan hawa saktinya cukup menakutkan.” Kata pemuda itu sambil melihat tempat berdiri orang itu yang tidak memimbulkan sedikitpun jejak.

“Padahal cukup besar tenaga yang di kerahkannya untuk membunuh dua orang tadi, tapi tidak menimbulkan sedikitpun jejak.” Gumam Ekabakhsa setuju dengan kesimpulan Jaka. “Orang ini sangat berbahaya!” sambungnya lagi. “Kau tidak ada keinginan untuk mengurusnya?”

Tidak, kehadirannya justru menjadi lawan bagi ‘si tua bangka’, jika aku harus berkonfrontasi dengannya, malah akan menguntungkan orang lain. Jangan kawatir paman, kita akan membuat rencana yang sesuai untuknya…” kata Jaka sambil tersenyum, dia mengajak Ekabaksha kembali ke Perkampungan Menur. “Kau menemukan apa tadi?” Tanya pemuda ini setelah mereka jauh dari tempat kejadian.

“Sebuah sandi berita, terlulis mereka sedang mengikuti Sandigdha.”

“Paman mengambil sandi itu?”

“Aku mengembalikannya.” Jawab Ekabaksha singkat. “Dengan ini Sandigdha, memiliki dua musuh yang cukup menakutkan…”

Jaka menggeleng, “Belum tentu paman. Kwancasakya bukan sejenis organisasi yang gemar membalaskan dendam bagi anggotanya. Bagi mereka, jika kematian anggotanya ternyata memberikan keuntungan yang lebih besar bagi kelompok, mereka tidak akan keberatan.”

“Hm.. aku jadi tertarik, apa yang di tawarkan Sandigdha saat orang-orang Kwancasaya menemuinya.”

“Jika dugaanku tak salah, Sandigdha menawarkan kerajaan beserta isinya.” Kata Jaka dengan tertawa ringan.

“Omong kosong tak berguna…” dengus Ekabaksha.

Jaka tidak membalas ucapan Ekabaksha, bagaimanapun itu hanya tebakannya, benar tidaknya harus melalui pendalaman fakta lebih jauh. Mereka sudah sampai di depan pintu gerbang Perkampungan Menur.

“Mau apa, kita kesini?” Tanya Ekabaksha.

“Bukankah aku mengatakan akan membuat rencana yang sesuai untuk Sandigdha?”

“Secepat ini?” mata Ekabaksha terbelalak.

“Mumpung kita disini, buat apa harus bolak-balik?” ujar Jaka sambil tertawa, lalu pemuda ini mengentuk pintu gerbang.

Dari dalam nampak lubang intai pada pintu terbuka. “Siapa? Oh.. kalian, ada keperluan apa?” rupanya penjaga gerbang masih mengenali seragam yang dikenakan mereka.

“Kami di suruh menunggu tuan Sandigdha ditempat tadi, katanya ada perubahan rencana.”

Wajah penjaga gerbang itu nampak terkejut. “Kenapa kau sembarangan menyebutkan nama beliau?”

“Maaf, ini supaya kita tidak bicara berbelit-belit, bisakah kau buka pintu ini?”

Karena nama Sandigdha semacam azimat bagi penjaga gerbang, Jaka dan Ekabaksha tidak kesulitan memasuki perkampungan itu. Barulah kali ini mereka memperhatikan secara seksama apa yang sedang dilakukan warga Perkampungan Menur. Selain beragam senjata tengah mereka buat, alat-alat pertanian dan beberapa bau belerang jelas menyengat hidung mereka berdua.

“Untuk apa mereka membuat semua ini?” bisik Ekabaksha bertanya.

“Seperti yang kukatakan tadi, Sandigdha boleh jadi menawarkan Kerajaan Kadungga kepada Kwancaskaya, senjata ini bisa jadi digunakan untuk menyerang, kan?”

“Sembarangan menyimpulkan…” desis Ekabaksha tidak setuju.

Mereka sudah duduk di tempat sebelumnya, Jaka memperhatikan suasana. Dengan pendengarannya pemuda ini bisa mendeteksi belasan orang ada di dalam bangunan ini. “Paman, tunggu disini sebentar, aku mau ke kamar kecil…” ujar pemuda ini sambil tertawa, Ekabaksha tahu, Jaka tak mungkin sekedar buang air.

Tak berapa lama kemudian, Jaka sudah kembali duduk bersisian dengan Ekabaksha. “Giliranmu paman, tolong perhatikan hal-hal yang perlu..” bisiknya.

Ekabaksha masuk kedalam, mataya melotot tak percaya, melihat belasan orang dalam kondisi tak bergerak, jelas itu perbuatan Jaka yang menotok mereka. Sudah tentu Ekabaksha tahu apa yang harus di lakukannya, dengan sangat terperinci, lelaki gemuk ini mulai menyisir tiap ruangan, sejangkalpun tak dia lewatkan. Waktu yang di butuhkan Ekabaksha jelas lebih lama dari Jaka, pada saat itu beberapa orang masuk membawa nampan.

“Heh, mana temanmu?”

Jaka tidak mau repot-repot menjawab, jemarinya bergerak cepat. Tiga orang itu tertotok sempurna. Tak berapa lama kemudian Ekabaksha muncul.

“Paman temukan sesuatu?” Tanya pemuda ini.

“Kita harus bergegas pergi, aku menemukan peta!”

“Nanti dulu paman, masuk baik-baik, keluarpun harus baik-baik.” Kata Jaka mengambil minuman yang masih berada diatas nampan, di periksanya sesaat. “Sialan, beracun juga…” gerutunya.

“Kau pikir orang-orang itu tidak curiga setelah kau totok?” dengus Ekabaksha menyalahkan pikiran naïf Jaka.

“Mereka tidak akan merasakan dampak totokan, saat bebaas nanti, mereka hanya merasa seperti baru berkedip.” tukas Jaka sambil tersenyum membuat Ekabaksha cukup santai. Dia cukup tahu kemahiran Jaka yang berkaitan dengan anatomi manusia, berbicara masalah itu dengan Jaka, bisa berhari-hari anak muda itu menjelaskannya.

“Berapa lama, mereka akan sadar?”

“Sebentar lagi…”

Baru saja Jaka bicara, Ekabaksha sudah bisa menangkap suara-suara aktifitas kembali berlangsung di balik dinding itu. Dan beberapa saat kemudian, tiga orang yang membawa air juga meneruskan gerakannya.

“Ah, ternyata kau disini.. mataku silaf..” kata orang itu mengerjap matanya berulang kali.

“Aku memang duduk disini terus.” Jawab Ekabaksha agak ketus.

“Kami hanya menunggu setengah kentungan lagi, bila tuan Sandigdha belum juga menyusul kemari, kami harus segara menuju tempat yang telah di tunjuk beliau.” Kata Jaka pada pembawa nampan itu.

“Terserah kalian, tapi kami harus bagaimana saat tuan Sandigdha datang?” ujar si pembawa nampan itu.

“Katakan saja, kami sudah ketempat yang di tunjuknya.” Kata Jaka sambil meminum air yang dia ketahui ada racunnya.

Melihat kedua tamu itu meminum air tanpa curiga, mereka menjadi lebih tenang. Setengah kentungan sudah lewat, Jaka memutuskan mereka harus segera keluar. “Kami akan pergi sekarang…” katanya pada salah seorang di dalam ruangan itu.

“Sebentar…” kata orang itu sambil kembali ke dalam, dia kembali sambil membawa nampan air. “Kalian minum dulu..”

Ekabaksha menatap Jaka meminta pertimbangan, melihat Jaka tidak ragu untuk meminumnya, Ekabaksha-pun turut serta. Mereka sudah berjalan tanpa tegesa-gesa keluar dari perkempungan itu. Setelah agak jauh, Ekabaksha bertanya pada Jaka.

“Kenapa kita harus minum dua kali disana?”

“Minuman pembuka adalah racun ringan, jika kita tidak meminum penangkal—pada minuman terakhir tadi, beberapa hal akan kita lupakan…”

“Oh, sama dengan racun yang diberikan Sandigdha sebelumnya?”

Jaka mengangguk. “lalu, kau mendapatkan peta apa, paman?”

Ekabaksha mengambil gulungan lontar tipis dari balik bajunya. Sebuah coretan serupa dengan peta yang pernah diberikan Sandigdha pada Jaka, nampak menggambarkan sebuah jalur untuk menyimpan sesuatu.

“Aku tahu tempat ini…” kata Ekabaksha dengan senyum lebar. “Dan kurasa aku tahu apa yang sedang mereka simpan.”

Jaka mengangguk-angguk, jika tebakannya tidak salah, harta yang tadi dibawa tentu saat ini sedang disimpan pada peta yang tertera itu. Mereka bergegas mengikuti jalan yang tertera pada peta. Ekabaksha benar-benar seperti ular yang paham dengan tiap liang yang di gali, jalur pada peta tidak sepenuhnya diikuti, sebab Ekabaksha mengerti jalur tembus yang lebih pendek.

Sebuah kandang sapi dengan belasan ekor sapi tampak menyambut mereka. “Apa aku salah?” gumam Ekabaksha sambil berulang kali melihat peta.

“Tidak, kita tunggu saja…” Jaka mengambil keputusan, dia bukan meragukan ketepatan Ekabaksha dalam mengambil jalur, tapi bisa jadi peta yang diambil tadi memang bukan menyatakan apapun.

Tak berapa lama kemudian, sebuah lubang Nampak terkuak setelah bagian tanah dibelakang kandang sapi bergeser! Ah, nampaknya lubang rahasia, dari dalam keluar belasan orang dengan wajah-wajah kuyu. Jaka masih mengenal beberapa orang, mereka ikut mengawal perjalanan kereta ke Perkampungan Menur.

Ekabaksha memandang Jaka dengan tatapan berbinar. Benar-benar rejeki nomplok, tak perlu bersusah payah, mereka kini mengetahui tempat penyimpana harta Sandigdha. Jika Ekabaksha tidak salah duga, tentu bukan hanya harta yang baru mereka bawa, boleh jadi ada harta lain.

Mereka menunggu dengan sabar, setelah orang terakhir keluar dari dalam liang dekat kandang sapi, Jaka mendekati tempat itu. Sebelumnya dia sudah memeriksa sekitar tempat itu, tak jauh dari kandang sapi ternyata ada dua rumah yang disenyalir sebagai ‘pemilik kadang sapi’, letak rumah itu cukup tersembunyi tertutup rerimbunan pohon.

Ekabaksha sudah siang-siang menyusup masuk kedalam lubang itu, Jaka menunggu di luar dengan sabar. Tak berapa lama kemudian, nampak kepala Ekabaksha keluar dari lubang lain, dia segara mendekati Jaka. Matanya berbinar-binar.

“Rupanya dugaanku benar! Kurasa, ini adalah salah satu tempat penyimpana harta keluarga Tumparaka. Apakah akan kita angkut?” tanya Ekabaksha dengan bersemangat.

Jaka tertawa lebar. “Kau begitu tidak sabaran, paman… tentu saja!” tegasnya. “Tapi tidak sekarang, kita akan meminta tolong Paman Alih. Dengan caranya, mereka akan memindahkannya semua ini dengan sukarela.”

Ekabaksha menyeringai, dia paham dengan maksud Jaka, Ki Alih memang jagoan menyamar, nampaknya menyamar sebagai Sandigdha sudah menjadi ide awal pemuda ini. “Kalaupun nantinya terjadi kekerasan, kita tidak akan kesulitan.”

“Kuharap demikian, aku tidak mau kekuatan kita berkurang lagi.” Kata Jaka dengan serius. Ekabaksha memahami benar betapa pemuda ini menanggung beban berat karena tewasnya beberapa rekan mereka. Secara pribadi, Ekabaksha tidak mengenal anak buah Jaka yang lain, tapi jika mendengar nama besarnya, tentu kelompok pembunuh yang melakukan penyergapan pada rekan-rekan mereka merupakan organisasi yang menakutkan.

Mereka sudah meninggalkan tempat itu, dan kembali ke rumah batu tempat peristirahatan si Ular. Jaka sedang menunggu kedatangan Ki Alih yang mendapat ‘order’ pengiriman perdana.

Dini hari berlalu, beberapa tubuh nampak berjalan santai mendatangi rumah batu. Jaka dan Ekabaksha masih terjaga. Pintu terbuka, Cambuk masuk dengan wajah penuh kerut, agaknya dia terlalu capai. Sementara Ki Alih tidak memperlihatkan perasaan apapun.

“Bagaimana hasil kalian?” Tanya Ekabaksha dengan antusias.

“Seperti yang diperingatkan oleh Penikam, kami memang diserang oleh para pengawal kerajaan sendiri.”

“Berapa orang yang terluka?” Tanya Jaka, dia tidak bertanya apakah Ki Alih berhasil atau tidak, sebab pemuda ini lebih cenderung memperhatikan keselamatan rekan-rekannya. Bagi Jaka, dengan adanya Ki Alih, tidak ada satu perkerjaanpun yang menyulitkannya.

“Dua, tapi sudah ditangani oleh tabib istana.”

“Oh, tabib istana.. sepertinya ini berkembang cukup jauh. Bagaimana pandangan pihak kerajaan pada pekerjaan perdana ini?” Tanya Jaka pada Cambuk.

“Sangat baik, siang nanti, kita akan di undang untuk memberikan kesaksian para pengawal yang menyerang kawalan.”

“Aku tidak, berharap kita terlampau jauh mencampuri urusan kerajaan, ini sudah terlalu rumit. Sementara urusan kita sendiri masih banyak…” lalu Jaka menceritakan hasil mereka hari itu. Baik Cambuk dan Ki Alih termenung mendengar berita cukup menghebohkan itu.

“Kau benar-benar menginginkan harta itu?” Tanya Ki Alih pada Jaka dengan sorot mata tajam.

“Ya, dan paman tahu aku akan menggunakannya untuk apa…”

Ki Alih nampak terpekur sesaat. “Kau mengatakan supaya kita tidak ikut campur masalah kerajaan, tapi dengan mengambil uang milik Keluarga Tumparaka, kau harus siap melibatkan diri dalam segenap kerumitan dalam kerajaan. Karena bagaianapun Sandigdha akan menyeret pihak kerajaan untuk menghadapimu.”

Jaka mengangguk. “Itu akan terjadi, jika kita secara terang benderang mengambil harta itu. Pada kenyataannya tidak demikian. Sekarang kita urai lebih dahlu siapa musuh terdekat Sandigdha… dia sudah berniat membelot pada ‘si tua bangka’, dengan sendirinya dia sudah menyiapkan kekuatan yang cukup untuk melakukan perlawanan. Saat nanti Paman Alih mengambil harta dengan menyamar sebagai Sandigdha, pihak Tumparaka sendiri akan segera mengacungkan jari pada ‘si tua bangka’, kalian tentu tidak lupa, orang yang diutus ‘tua bangka’, dapat menyusup dalam beragam rupa hingga masuk kedalam istana Bendahara Kerajaan. Kita hanya memanfaatkan itu.”

“Kapan kita akan bergerak?” setelah mencerna dengan hati-hati paparan Jaka, Ki Alih menyetujuinya. Cambuk pun merasa ide Jaka ini sempurna, mereka bisa berkamuflase pada setiap kejadian.

“Nanti, bersamaan dengan pemanggilan pihak Ki Alih dalam menghadapi kesaksian, aku merasa apa yang akan terjadi, tidak sesederhana yang dibayangan. Jika seorang petinggi kerajaan tertangkap tangan mengadakan pekerjaan kotor, tentu dia akan berupaya menggigit kesana kemari—mencari kawan senasib. Sandigdha jelas akan tertahan untuk sementara di istana, kita akan leluasa menggunakan wajahnya untuk menyusup ke sendi-sendi penyimpanan Keluarga Tumparaka.”

“Bagus!” desis Cambuk setuju seratus persen dengan pemikiran Jaka. “Jika bendahara kerajaan itu harus banyak berkelit dengan ragam alasan, kukira kita bisa mengulur waktunya lebih lama lagi.”

Jaka mengangguk setuju. “Beristriahatlah, aku akan menyiapkan keperluan kita nanti.” Kata Jaka sambil melangkah keluar.

Ki Alih menatap punggung Jaka yang menghilang dari balik pintu. “Kapan dia sendiri istirahat?” gumamnya.

Ekabaksha tertawa tanpa suara. “Dia lebih muda dari kita, tentu saja semangatnya lebih tinggi, menyuruh istirahat sama saja meminta untuk merantai kakinya.”

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s