107 – Domino Effect : Tugas Aneh

Pagi hari sudah dijelang, Dua Bakat sekalian sudah bangun dengan perasaan yang tidak nyaman, selain perut masih berasa kembung, tenggorokan juga terasa lebih pahit.

“Kalian sudah bangun?” sebuah suara menyapa, membuat mereka bergegas bangun.

“Tuan…” serempak mereka menyapa orang tua berwajah teduh itu.

“Bagaimana dengan tugasmu?”

Dua Bakat merapikan bajunya sesaat, lalu dia mengisahkan semua kejadian dari awal sampai akhir. “… begitulah, ternyata murid tuan hanya bermaksud melihat situasi, saya pikir semula dia ingin melihat kesigapan para pengawal gadis sasarannya, tapi saya kira bukan seperti itu tujuannya.”

Orang tua itu terlihat diam sambil termenung, semua langkah ‘murid’ yang sudah diajari banyak hal tentang pengetahuan milik keluarganya, membuat dia bangga berbareng kecewa. Dia bangga melihat lelaki itu bisa mengembangkan ilmu totokan yang amat rumit menjadi sebuah kemahiran yang sangat khas, dan itu hanya di miliki dia sendiri—itu bisa dilihat dari jenis totokan yang menimpa Dua Bakat sekalian. Tapi disisi lain, dia kecewa karena orang itu tak lagi bisa di kendalikan.

“Kalian lakukan saja apa maunya, itu akan menguntungkan bagiku untuk mencari strategi untuk menghentikannya.”

Dua Bakat mengiyakan. “… apakah tuan dapat menyembuhkan totokan ini?” tanyanya berhati-hati.

Lelaki itu itu sudah menyangka anak buahnya akan bertanya begitu. “Sayang sekali, aku tidak dapat… totokan yang menimpa kalian adalah kemahiran khas keluarganya. Aku tidak menguasainya.” Tentu saja jawaban itu hanya untuk menyelamatkan mukanya sendiri, pada hakikatnya dia kurang percaya diri untuk membuka totokan yang bersumber dari ajarannya—tanpa membuat Dua Bakat sekalian menderita atau mati.

Lelaki tua itu memberi isyarat supaya selain Dua Bakat untuk keluar, tanpa membantah ketiga orang itu keluar. “Apa yang kau dapatkan dari Anusapatik?” tanyanya setelah dalam ruangan hanya tinggal mereka berdua.

“Ini tuan…” Dua Bakat menjawab sembari mengangsurkan benda yang dia dapatkan dari Anusapatik.

Lelaki tua ini melihat barang itu dengan termangu sesaat, sebuah helaan nafas yang sarat makna mengiringi jemarinya saat membuka bungkusan. Dua Bakat bisa melihat, ternyata dalam bungkusan itu hanya potongan-potongan besi, segumpal rambut, dan gagang pisau serta lipatan kulit yang diduga berisi surat. Dua Bakat memperhatikan tindak tanduk tuannya yang dirasa cukup aneh, sebab dia juga mengeluarkan bungkusan serupa dari balik bajunya. Caranya membungkus dan warna bungkusan itu sama persis. Dua Bakat tidak tahu, entah maksud apa yang tersembunyi di balik itu semua. Sang tuan membuka bungkusannya sendiri, isinya: kepingan kayu dengan lekukan bermotif segi lima terpahat didalamnya, ikat rambut, sarung pisau, dan lipatan kulit.

Masing-masing lipatan kulit itu di bentang dan di satukan satu sama lain, Dua Bakat bisa melihat jika itu adalah gambar peta. Terlihat seulas senyum di bibir tuanya.

“Kau siap dengan tugas kedua?”

Dua Bakat tergagu dengan pertanyaan sang tuan. “Apakah itu memakan waktu?” sahutnya dengan terbata.

“Tergantung caramu kerja…” ujarnya menjawab dengan sedikit tidak senang.

“Mohon ma-maaf tuan, bukan bermaksud menolak…” katanya buru-buru menyadari nada ketidaksukaan sang tuan. “Masalahnya, tiap dua minggu saya harus menjumpai murid tuan untuk melonggarkan akibat totokannya…”

Lelaki tua ini menyumpah dalam hati, dia tidak menyangka orang yang pernah diharap menjadi kaki tangan paling diandalkan, ternyata menjadi salah satu batu sandungannya. “Kau bisa gunakan teman-temanmu untuk melajak jejak muridku. Toh tugasmu untuk menculik Prawita Sari masih satu bulan lagi.” Katanya seolah tidak perduli.

“Ba-baiklah…” katanya dengan nada apa boleh buat. “Apa yang ingin tuan tugaskan?”

Lelaki tua berwajah teduh itu memasukan potongan-potongan besi yang di dapat dari Anusapatik kedalam kayu yang terlihat seperti cetakan itu. Ternyata potongan besi itu dengan sempurna mengisi legokan berbentuk segi lima dalam kayu itu. “Serahkan benda ini pada kasir bendahara kerajaan.”

Sambil menerima kayu yang sudah diisi potongan besi Dua Bakat mengeluh dalam hati, untuk menyerahkan benda itu, tidak semudah kelihatannya. Paling tidak dia harus menyamar belasan kali sebelum sampai kehadapan kasir. Pekerjaan itu bukan hal yang menyulitkan buatnya, tapi mengamati situasi untuk mendapatkan samaran yang tepat saat menjumpai si kasir, jelas masalah yang lebih pelik.

“Berikan ini, pada petugas pengurus bendungan.” Lelaki tua itu memberikan gumpalan rambut yang sudah diikat rapi oleh ikat rambut tuannya.

Dua Bakat mengiyakan, dia cukup tahu bendungan yang dimaksud tuannya.

“Terakhir, kau cari sebuah besi yang pas dengan sarung dan gagangnya di Pasar Larih, lalu kau minta tukarkan itu dengan sebatang pisau dapur.”

Dua Bakat manggut-manggut. “Tuan, boleh saya bicara?” ujarnya ragu, di masa lalu perintah tuannya tidak boleh di bantah, dan ditanyakan.

Wajah lelaki tua ini nampak membayangkan kemarahan, namun hanya sedetik saja. Dua Bakat tidak menyadari itu. “Kau mau bertanya?”

“Betul tuan, ma-maaf jika saya harus bertanya. Apakah saya harus melakukan ini sesuai urutan? Atau saya lakukan lebih dulu mana-mana yang lebih mudah?”

“Mana yang menurutmu mudah, lakukan saja.” jawab sang tuan singkat.

“Ma-maaf tuan… selama dua puluh tahun otak ini tidak dipakai dengan semestinya, saya kawatir banyak pertimbangan yang menjadi tumpul. Apakah tidak ada tindakan lain yang harus saya lakukan daripada yang sudah disebutkan tadi saya berharap, semua tindakan tidak lagi ditafsirkan ulang… khawatir otak saya tidak sanggup lagi. Malah membuat rencana tuan gagal…”

Lelaki tua itu tertawa pendek. “Tidak, lakukan saja seperti yang kukatakan. Setelah kau melakukannya, kau tinggal menanti di tempat ini. Aku akan datang dengan tugas terakhir, selanjutnya, kau bebas!”

Dua Bakat terkesima, tapi diapun menyadari bebas dari sang tuan, bukan berarti bebas dari muridnya… benar-benar ucapan tidak berguna. Tentu saja dia tidak akan menyampaikan keluhan itu pada tuannya. Hanya sebuah keluhan yang tersimpan dalam hati.

“Terima kasih.” Hanya itu yang bisa di ucapkannya, sepasang matanya menatap tubuh tua sang majikan yang lenyap dari balik pintu. Hatinya terasa sangat gundah. Pagi itu dia mengatur segala sesuatunya untuk melacak jejak murid sang majikan. Semuanya di serahkan pada ketiga rekannya, sementara dia sendiri harus melakukan semua tugas yang gampang-gampang susah dari sang tuan.

===o0o===

Semua tugas yang di perintahkan sang majikan, seluruhnya ada di dalam Kota Skandhawara—Pusat Pemerintahan Kerajaan Kadungga, menurut Dua Bakat ini sebuah keberuntungan. Sebelum memasuki pusat kota, menuju kearah timur ada Bendungan Çubham, memang tidak keliru dinamakan seperti itu, karena berarti; kebahagiaan. Bendungan Çubham mendatangkan kebahagian bagi semua penduduk, baik dia berprofesi sebagai: nelayan, tukang pancing, pencari pasir, sampai petani, semua merasakan manfaat dari Bendungan Çubham.

Konon, arsitek yang membangun Bendungan Çubham didatangkan dari Negeri Majusi, bangsa yang kebanyakan penduduknya menyembah matahari. Pembangunan bendungan itu sendiri memakan waktu hampir sepuluh tahun, mengingat sungai yang dibendung begitu deras. Dua Bakat melihat dari tepi sungai kemegahan bendungan itu, sebuah bangunan yang melintang sepanjang 75 tombak (150 meter) dengan ketinggian hingga 15 tombak, lebar bendungan itupun membuatnya berdecak, 5 tombak. Entah berapa banyak tenaga dan biaya yang di butuhkan untuk membangun sebuah karya yang sangat bermanfaat itu.

Mata Dua Bakat jelas lelah memperhatikan orang-orang yang sekiranya akan dia berikan barang titipan tuannya. Empat kali dirinya menyamar untuk bertanya siapa gerangan petugas pengurus bendungan, ada dua jawaban berbeda, tapi ada tiga orang menjawab lebih banyak pada satu nama, dan dia memutuskan untuk menunggu orang yang bernama Tusarasmi. Hampir saja Dua Bakat tertawa saat menyadari itu adalah nama seorang lelaki. Tusarasmi berarti bulan, lebih cocok digunakan untuk wanita. Persetan amat! Yang penting tugasku selesai. Pikir Dua Bakat sambil berjalan memasuki penjagaan yang ada di seputar bendungan.

Kalau saja bukan Dua Bakat yang masuk, mungkin prosedur yang dilakukan para penjaga akan membuat siapapun kewalahan. Tapi wajah yang di gunakan Dua Bakat memang sangat familier bagi para penjaga, tentu saja tak satupun yang mempersulit lelaki yang kali ini sedang menyamar sebagai petugas ransum.

Begitu masuk, tanpa menjumpai kesulitan berarti; Dua Bakat berhasil menjumpai Tusarasmi, barulah dia paham kenapa orang itu dinamai ‘bulan’, sebab wajahnya kelewat bundar, pipinyapun montok, saat tersenyum matanya terpejam ditelan lekukan pipi yang mengembang. Sekilas orang itu terlihat sangat ramah, tapi Dua Bakat tak bisa dibohongi dengan penampilan semacam itu, hawa orang yang sering membunuh dengan yang tidak pernah, bisa dia bedakan dengan sangat jelas. Dan orang itu benar-benar membuat bulu kuduk Dua Bakat meremang. Satu pertanyaan besar kembali timbul di benaknya, kenapa tuan harus menghubungi orang-orang semacam itu? Tapi Dua Bakat tak sanggup menduga apa yang akan di lakukan tuannya, dari pada pusing memikirkan, dia lebih suka mengerjakan tanpa berpikir!

“Oh, kau… ada apa?” Tanya Tusarasmi dengan suara yang membuat Dua Bakat ingin segera berlalu dari tempat itu, suara lelaki gemuk berwajah bulat itu, persis suara wanita, sayangnya lebih melengking dan persis tikus terjepit pintu!

Dua Bakat tak menjawab sepatah katapun, dia menyerahkan sebuah bungkusan dari kain, didalamnya terdapat rambut yang sudah diikat rapi. Tusarasmi menerimanya dengan alis menjengit, diperhatikan wajah ‘anak buahnya’ sekilas, lalu dia membuka perlahan.

Bukan ekspersi terkejut yang di lihat Dua Bakat, melainkan tawa yang amat lebar, membuat Dua Bakat mengira orang itu bisa memakan buah kelapa sekali telan.

“Bagus! Bagus!” katanya entah berapa belas kali, lalu dari laci mejanya dia mengeluarkan kain hijau, dan membungkus rambut itu. Begitu selesai, dia membuang bungkusan berisi rambut itu keluar jendela. Lontarannya ringan, tapi Dua Bakat bisa menyaksikan lontaran itu disertai dengan desakan hawa sakti yang cukup besar, membuat kain yang berbobot ringan itu terlontar jauh, sebelum akhirnya jatuh dan hanyut dibawa arus sungai.

Tidak menyaksikan lebih lanjut, Dua Bakat segera memutuskan untuk pergi.

“Tunggu!” lengking suara itu membuat langkah Dua Bakat terhenti. Lagi-lagi si wajah bulat itu mengeluarkan sesuatu dari lacinya. “Gunakan ini saat kau mengambil barang paling sulit!” sebuah benda dilemparkan dengan lambat kehadapan Dua Bakat, tidak ada pilihan lain selain harus menyambutinya. Sebuah bola berwarna hitam dengan permukaan yang sangat kasar, benda itu tidak besar, hanya seukuran jempol kaki. Dan itu sangat mirip dengan bola kabut asap yang pernah dia lemparkan pada Pemisah Hujan. Hanya saja, benda dari si wajah bulat itu, bobotnya lebih berat.

Dua Bakat mengangguk tanpa berkata apa-apa. Beberapa saat kemudian dia sudah berada jauh dari bendungan megah itu. Langkah kakinya sudah membawanya kesebuah pasar. Dua Bakat sudah pernah ketempat itu sebelumnya, itu terjadi sudah begitu lama. Dan Pasar Larih nampaknya belum banyak berubah, kecuali beberapa penambahan bangunan kecil di sayap barat.

Dia tahu—kalau belum pindah, penjual besi, tosan aji, benda-benda kebutuhan sehari-hari ada tepat di pojok kiri pasar, tempat paling jarang di injak orang. Maklum saja, tidak setiap hari orang membeli pisau dapur.

Satu los bagian belakang pasar di pojok kiri, hanya terdapat empat pande besi, satu kios yang menjual tosan aji tampak sudah tutup. Siang itu, suasana cukup ramai, sedikitnya ada belasan orang sedang memilih-milih barang. Dua Bakat memutuskan untuk berhenti sejenak di sebuah kedai kecil di luar pintu keluar pasar, dia memesan teh.

Matanya berkeliling menyapu mencari bangku kosong, sayangnya hanya tinggal satu, apa boleh buat Dua Bakat mengambil tempat itu, kebetulan di seberang meja seorang pemuda sedang asik menyantap hidangan ayam bakar.

“Silahkan?” pemuda itu menawari Dua Bakat, membuat lelaki yang sudah terbiasa sendiri dan dalam dua puluh tahun terakhir ini bahkan tak pernah bermasyarakat, tergagu sejenak. Kebaikan yang sangat alami dari kaum awam cukup menyentuh hatinya, dengan mengangguk seraya tersenyum, dia tidak berkata apa-apa.

“Kedai ini memiliki masakan panggang terbaik.” Ujar pemuda itu masih sambil mengunyah. “Tuan, saya sarankan anda memesan nasi campur dengan ayam panggang… sambalnya enak sekali..” berkata begitu, pemuda ini melambaikan tangannya. “Pelayan, dua porsi lagi!” katanya. “Aku mentraktirmu…”

“Jangan!” seru Dua Bakat terkejut melihat betapa luwesnya pemuda itu, keramahan yang tak pernah di rasa itu membuatnya lupa menaruh waspada.

Pemuda itu nampak tertegun, penolakan lelaki itu terlihat begitu tegas dan agak sedikit tegang. “Jangan kawatir tuan, aku memiliki cukup uang untuk mentraktir dua puluh orang dengan hidangan terbaik… bukan berarti aku orang kaya, tidak! Aku baru saja mendapatkan bayaran tambahan dari majikanku.”

Dua Bakat memperhatikan pemuda itu, dari posturnya—meski sedang duduk, dia bisa menebak tinggi pemuda itu sekitar 6 kaki (183 cm), dibandingkan dirinya jelas, pemuda itu lebih tinggi satu kepala—mungkin lebih. Penampilannya bersahaja, seperti pekerja pada umumnya. Tenang, orang seperti itu tidak perlu diwaspadai, pikir Dua Bakat merasa geli dengan perasaan yang tiba-tiba membisikan kewaspadaan. Merasa kekawatirannya berlebihan, dia memperhatikan lebih lanjut, pemuda ini seperti kebanyakan orang, Dua Bakat merasa pemuda itu terlihat ramah, bibirnya terulas gurat senyum tak senyum, di dagunya terdapat gurat luka dengan belahan tipis. Hal yang paling menarik adalah, mata jernihnya yang cemerlang.

“Kalau kau bersikeras, baiklah!” kata Dua Bakat merasa tak enak untuk menolak.

Pemuda itu tersenyum, dua porsi hidangan ayam bakar menggoda hidung Dua Bakat untuk mencicipinya. Masa lalu yang membuatnya selalu harus waspada, membuat tiap tindak-tanduknya selalu berhati-hati, lidahnya mencicipi sedikit. Beragam racun dia sudah mengenal rasa dan aromanya, kali ini dia tidak menjumpai hal itu.

“Hahaha…” si pemuda tertawa lepas. “Begini caranya makan ayam panggang!” Katanya sembari menyikat paha ayam dalam gigitan besar. Tidak banyak bicara, seluruh hidangan sudah berpindah ke dalam perutnya, dengan duduk bersandar pada dinding kedai pemuda itu nampak mengeluarkan uang.

“Tuan, jika kau ingin menambah, kembalianku masih cukup untuk satu porsi lagi.” Katanya sembari berdiri setelah menghabiskan minumannya. Tanpa banyak cakap, pemuda itu pergi begitu saja.

Dua Bakat merasa berkesan dengan pertemuannya dengan pemuda itu, namun itu hanya sebuah jeda ‘hiburan’ disela-sela tugas-tugasnya yang aneh. Tidak menyia-nyiakan kebaikan hati pemuda itu, dia menambah lagi.

Satu jam sudah dilalui dengan menyenangkan, perut berisi membuat pandangan mata dan pertimbangannya lebih fokus. Dua Bakat memutuskan untuk mencoba satu demi satu para pande besi yang menjual beragam senjata dan alat kebutuhan sehari-hari itu. Jika mereka sama seperti Tusarasmi, apa yang menjadi nilai tukarnya tentu senada dengan yang di berikan lelaki berwajah bagai bulan itu.

“Aku mencari besi yang tepat dan seukuran.” Kata Dua Bakat pada salah seorang pande besi. Orang itu mencari-cari pisau yang panjangnya sama dengan sarung (dan gagang) yang diberikan Dua Bakat.

Pande besi itu tidak memiliki benda yang seukuran, dia berteriak pada kawan penjual lainnya, merekapun tidak memiliki.

“Sayang sekali, tidak ada barang seperti yang kau kehendaki…” kata pande besi itu sambil meneruskan mengasah pisau dapur.

Dua Bakat mengangkat bahunya, ternyata tugasnya cukup menguras kesabaran juga. Dia berdiri setelah membenahi sarung pisau dan gagangnya, bersiap pergi.

“Tunggu tuan,” tiba-tiba seorang pande besi memanggilnya, orang itu nampaknya sudah tua betul, jenggotnya menjela sampai kedada. Begitu mendekatinya Dua Bakat tahu, jenggot itu bukan bulu yang tumbuh di dagunya secara alami. Diam-diam dia tersenyum senang, nampaknya dia adalah orang yang dimaksud tuannya.

“Ya?” Dua Bakat mendekatinya.

“Mungkin aku punya, mari pinjam sarungnya… biar kuukur lebih dulu.”

Dengan tegang Dua Bakat memperhatikan.

“Bagus! Bagus!” orang itu berkata berkali-kali, kejadiannya sama persis saat dia berhadapan dengan Tusarasmi. “Benar-benar pas!”

“Ya, sangat pas!” timpal Dua Bakat, dia memperhatikan sekelilingnya, tak ada yang memperhatikan mereka. “Aku minta pisau dapur…” katanya seraya memasukkan besi baru itu kedalam sarungnya, sebuah pisau bersarung lengkap sudah. Dengan cekatan pande besi itu menukar pisau bersarung itu dengan pisau dapur yang diberi sarung pula dengan dibungkus kain. Dua Bakat sempat melihat dalam bungkusan itu, terdapat sebuah benda yang sama persis dengan pemberian Tusarasmi, bedanya; benda itu berwarna merah.

“Gunakan sebelum hijau.” Bisik pande besi itu sembari menghitung uang yang diberikan Dua Bakat, ada beberapa koin perak sisa kembali dari pemuda yang tadi mentraktir, ikut diberikan pada pande besi itu.

Dua Bakat bergegas pergi, dia akhirnya tahu urutan benda-benda yang akan dia dapat dari penukaran-penukaran itu. Dan urutan penggunaan benda bulat sebesar jempol itu adalah; Merah-Hijau-Hitam. Dia sudah mendapatkannya, tinggal satu benda berwarna hijau yang menurutnya akan membawa pada petualangan menegangkan.

===o0o===

“Sudah saatnya…” gumam seorang pemacing, setelah berhasil mengail kain hijau yang terapung dipermainkan derasnya arus sungai. Kain itu jelas datang dari bendungan nun jauh di hulu sana. Tubuhnya segera melesat diantara rerimbunan pohon beringin di tepi sungai.

Dua puluh tahun terakhir, dia sudah menjadi pemancing. Awalnya dia adalah salah satu tokoh yang sangat diperhitungkan, tapi gara-gara pemilik Pedang Tetesan Embun, terpaksa dia harus menyaru menjadi tukang pancing sialan. Itu tugas yang diberikan oleh pimpinan tertingginya, tugas yang seharusnya bisa dilakukan oleh orang lain, tapi apa boleh buat… sang pimpinan memutuskan untuk membunuh seluruh anak buah yang tidak berguna, dan menggunakan tenaga yang lebih segar. Meski dirinya termasuk orang yang sudah memutuskan untuk mengabdi setulus hati pada sang pimpinan, sebutir racun berkala tetap harus dia telan, sebuah racun yang membuat dirinya harus tiap bulan menghadap pada pimpinan untuk memberikan laporan. Benar-benar racun bangsat, pikirnya geram. Untungnya sekarang sudah saatnya kami bergerak!

“Kabar bagus!” kata pemancing ini pada sosok penjual aren. Hari itu begitu banyak orang mampir kekedainya, dia tidak bisa bersikap menghormat pada lelaki tua yang bermulut menggoreskan senyum itu.

“Kau mendapatkan hasil pancingan?” Tanya pemilik kedai sambil menuangkan minum.

“Ya, ikan yang sangat besar!” katanya dengan antusias.

Pemilik kedai manggut-manggut sambil menuangkan bumbung bambunya kembali. “Ah, arennya habis… maaf tuan-tuan, sebentar lagi saya akan tutup. Harus menderes aren untuk persediaan esok hari!” katanya dengan nada sangat sungkan dan memohon-mohon maaf pada para pelanggannya.

Beberapa tamu yang baru masuk nampak kecewa, dalam kedai tinggal beberapa orang, dan selekasnya menghabiskan minuman, mereka pergi. Kini, tinggallah pemilik kedai dengan pemancing itu berdua.

“Mana?” ujarnya dengan nada yang berkesan sangat menekan, jauh berbeda pada saat melayani pelanggan.

Pemancing itu menyerahkan kain hijau yang dia dapatkan, ikat kain itu terbuat dari kain berwarna kuning emas. Begitu dibuka, pemilik kedai aren itu tertawa dingin, wajahnya menyembulkan kekejaman.

“Mulai malam ini, kita menghubungi seluruh kawan-kawan seperjuangan!”

Pemancing itu tak begitu atusiasi, dia hanya menggumam saja.

“Aku tahu… aku tahu!” seru pemilik kedai aren dengan senyum masih mengembang. “Ini penawar untukmu, jika satu tahun kedepan kau masih hidup, aku akan membebaskanmu secara utuh!”

Mata Pemancing itu bercahaya, dua belas butir obat penawar racun cukup membuat semangatnya bangkit. “Aku bersumpah! Cita-cita kita yang dulu tertunda kali ini tak akan terhalang lagi!”

Sedetik sepeninggalan mereka, kedai aren itu terbakar tanpa sisa.

===o0o===

Pandai besi itu mencabut jenggot palsunya, dalam ruang kerjanya dia membakar ujung sarung pisau dan gagangnya, yang didapat dari orang asing tadi. Sebuah api berwarna kehijauan membuatnya yakin, dengan berhati-hati disayatnya sarung pisau itu, sebuah lembaran rontal tergores tinta merah, membuatnya tersenyum.

“Tuan benar-benar sudah kembali…” pikirnya, segera mengganti bajunya. Dia sudah tahu tugas apa yang harus dilakukannya.

Perkumpulan Pratyatara adalah tujuan berikutnya, dia harus menyebarkan berita yang membuat pemilik perkumpulan milik Jung Simpar heboh karenanya. Jung Simpar, Jung Simpar.. kau bersumpah tidak pernah keluar meskipun ada berita paling menarik, tapi aku akan membuatmu keluar dari sarang anjingmu! Pikir pande besi ini dengan seringai bagai serigala.

Langkahnya tegap saat meninggalkan rumah yang disewa sebagai bengkel menempa besi. Tidak heran lelatu api yang masih banyak menyala tiba-tiba menghanguskan seluruh bangunan. Janda pemilik rumah itu hanya bisa menghela nafas penuh kesedihan. Kerugiannya memang tidak seberapa, tapi dengan terbakarnya rumah itu, artinya; lenyap sudah selimut malam yang membuat gairahnya berkobar tiap saat. Ya, pande besi berjenggot panjang itu sangat pande… membuatnya terbang kelangit tujuh… kali ini, dia mungkin akan mencari pande besi yang lain.

===o0o===

Dua Bakat menggunakan kemahirannya untuk menyerap informasi dalam beragam bentuk penyamaran, dan dia sudah mengerti jika kasir bendahara kerajaan hanya hadir satu minggu sekali, untuk melakukan beragam transaksi. Menurut informasi dari penjaga, hari kemarin adalah kehadiran kasir bendahara kerajaan. Dua Bakat mengeluh, sebelumnya dia sudah menghabiskan waktu tiga hari, jika harus menunggu enam hari lagi, bukankah waktunya akan sangat terbatas? Sebab dia hanya punya lima hari sisa waktu untuk melonggarkan totokan dalam ulu hatinya. Selain jejak murid tuannya dirina juga belum tahu, apa lima hari cukup untuk menemui si kasir? Syukur jika cukup, kalau tidak? Dia harus membuang tujuh hari berikutnya dengan harap-harap cemas.

“Sialan…” makinya gemas.

===o0o===

Malam hari di Perguruan Merak Inggil nampak sunyi senyap, sesosok bayangan berindap-indap keluar dari perguruan itu. Gerakannya sangat cepat, tapi lesatannya nampak tak leluasa, sebab dia harus berhenti dan mencermati situasi. Memasuki Gunung Kumbhira, bayangan itu nampak sangat lega, sebab dia yakin tidak ada yang mengikutinya.

Tapi langkah kakinya surut selangkah, dia ingat betul… hawa dingin itu, hawa dingin itu… wajahnya memucat, jemarinya mengepal dengan kencang.

Aku orang paling luar biasa, kenapa aku harus dipaksa sembunyi terus menerus? Geramnya dalam hati.

“Kali ini aku tidak akan mundur, keluarlah!” bentaknya dengan nafas mengombak dada, pandangannya nyalang menyusuri kegelapan.

“Apa kau yakin?” tiba-tiba satu suara yang amat lembut membuat keringat dingin menitik di dahi orang tua itu.

“Jahanam!” gerungnya penuh amarah, tubuhnya memancarkan sinar kekuningan, hawa panas berkobar meranggas membakar seputar lima puluh kaki darinya. Batang-batang pohon yang terkena sengatan hawa panasnya, nampak tercabik dengan sayatan tipis dan amat halus.

“Tak ada gunanya kau kerahkan ilmu mustika Jari Sakti Tanpa Tanding, latihanmu memang sudah meningkat jauh dari waktu itu… tapi tetap tidak berguna!” saat kalimat ‘berguna’ lenyap, orang tua itu merasakan satu titik hawa dingin mengincar dahinya, cuma satu titik.

Dia ingat betul, ilmu itulah yang membuatnya tak bisa bergerak leluasa dalam sarangannya. Setitik serangan yang membidik dahinya membuat dia tak bisa berkonsentrasi, hawa saktinya berputar liar karena hawa satu titik itu menggoncangkan nalarnya. Putaran hawa saktinya yang tak terkendali jelas membuatnya gugup.

“Bangsat!” makinya dengan perasaan kacau, akhirnya dia memilih mundur, pada saat datang orang tua itu begitu cepat, saat kaburpun lebih cepat lagi.

Terdengar helaan nafas halus.

“Kenapa kau paksakan diri guru?” Tanya seorang lelaki pada wanita tua yang sedang duduk dengan mata terpejam.

“Aku tidak…” sekumur darah tumpah dari mulutnya.

“Guru…” seru suara wanita penuh rasa kawatir.

“Aku tidak apa-apa… hanya saja penyakit lamaku kambuh disaat bersamaan. Tidak disangka tua bangka itu berhasil menguasai puncak tertinggi dari tataran akhir Jari Sakti Tanpa Tanding. Jika dia bisa mendobrak rahasia-rahasia dibaliknya, aku kawatir jarang orang bisa menghadapinya. Kalian harus hati-hati…”

“Guru tidak perlu kawatir.” Kata si lelaki dengan tegas. “Dimataku ilmu mustika tak lebih dari sampah!”

“Ai… sejak kapan kau menjadi sombong seperti itu?” Gumam sang guru membuat lelaki itu meminta maaf berkali-kali.

“Apakah dia siap menghadapi ini?” Tanya wanita tua itu dengan suara lemah.

Lelaki dan wanita itu saling pandang. “Saya yakin dia sudah sangat siap, semenjak terakhir kali kami bertemu, hingga saat ini kami tak sanggup mengendus jejaknya lagi. Dan agaknya lukayapun bukan halangan bagi dia.” Kata sang wanita.

“Bagus… bagus… bagus… “ gumamnya dengan tertawa perlahan, sambil tertatih perempuan tua itu di bimbing kedua muridnya, mereka menuju puncak Gunung Kumbhira dengan perlahan. Sebatang pedang yang menancap pada batu bergetar hebat, pancaran hawa amat dingin dari pedang itu tidak menggangu genggaman si lelaki saat menyedotnya dari jarak jauh, dia membelitkan begitu saja di pinggangnya.

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s