106 – Domino Effect: Memastikan Kegagalan Rencana

Dua Bakat dan dua orang rekannya sudah melihat rombongan yang kini memasuki tempat persinggahan. Nampak olehnya lelaki paruh baya—yang beberapa saat kemudian diketahui sebagai guru Prawita Sari tengah mengendalikan situasi.

“Tahan, jangan buru-buru masuk!” serunya membuat langkah tiap orang terhenti, meski Prawita Sari terkadang suka membawa adatnya sendiri, terhadap gurunya dia cukup penurut.

Lelaki paruh baya itu memeriksa situasi rumah persinggahan, sejauh ini dia tak menemukan adanya kehadiran orang lain. Tapi itu belum membuatnya lega.

“Ada apa guru?” Tanya Prawita Sari dengan heran.

“Tempat ini pernah didatangi orang.” Katanya singkat, lalu dia menoleh kepada orang sepantaran dirinya. “Kapan tempat ini terakhir digunakan?” tanyanya.

“Satu bulan lalu.” Sahutnya pendek.

Guru Prawitsa Sari mengedarkan pandangan matanya, dia memeriksa pintu masuk bangunan dan menemukan setidaknya ada empat jejak baru. Dua Bakat hampir saja berteriak memaki ketololannya sendiri. Jejak mereka meski samar, namum bagi orang yang bertindak cermat seperti guru sang putri, pasti akan terlacak.

“Apa yang kau temukan?” teman seperjalanan guru sang putri membuka suara.

“Waspadalah! Jejak ini sangat baru. Mereka memiliki peringan tubuh sangat baik, kemampuannya saling mengatasi satu sama lain.” Lelaki itu menoleh, melihat kesekeliling, akhirnya dia menemukan satu titik lubang pada pohon yang memiliki retakan keatas. Dari pintu masuk sampai ke lubang yang ditemukan terpisah belasan langkah, kalau bukan orang ini, mungkin jejak yang dilepaskan murid junjungan Dua Bakat tak bisa ditemukan.

“Mustahil!” gumamnya.

“Apanya guru?” Tanya Prawita Sari mengikuti setiap langkah sang guru.

“Kau lihat titik ini?” ujarnya menunjuk setitik lubang sebesar jari kelingking. “Menurutmu, apa yang membuatnya ada disini?”

Prawita Sari mengamati dengan seksama, lalu katanya. “Lubang ini jelas tidak mungkin dibuat dengan besi dan dipalu, sebabaku tidak melihat adanya jejak disekitar ini. Bagi orang yang memaku, pasti membutuhkan pijakan kaki saat mengayunkan pemukulnya—ini akan menimbulkan bekas. Semisal ditemukan pijakan kakipun, hal ini tidak mungkin dilakukan dengan besi dan pemukul, efek yang ditimbulkan tidak bisa membuat retakan begini teratur dengan bentuk melingkar. Aku tidak tahu cara yang digunakannya, apakah mungkin ada orang yang melontarkan pukulan jarak jauh… ah bukan, maksudku totokan jarak jauh?” pungkas Prawita Sari membuat gurunya tersenyum.

Tidak mengurangi kewaspadaannya, lelaki paruh baya ini memuji kesimpulan muridnya. “Alasanmu masuk akal. Dugaanmu yang terakhir lebih mudah diterima. Perhatikan baik-baik…” katanya masih mengedarkan pandangan matanya kesana kemari untuk sesaat. “Kau tahu kenapa aku berkata mustahil?”

Gadis itu menggeleng.

“Seharusnya caramu berpikir dimulai dari kalimatku…” Kata sang guru, kondisi seperti saat ini akan lebih mudah menularkan pengalaman pada muridnya. “Aku sudah memeriksa sekitar tempat ini, selain empat jejak yang ada dalam rumah, tidak kutemukan jejak lain. Artinya orang yang melepas setitik lubang ini, jelas bukan empat jejak dalam rumah.”

“Kenapa bisa begitu guru?” Prawita Sari berkerut kening memikirkan ucapan gurunya. “Ah, aku tahu…” serunya menjawab sendiri. “mungkin karena untuk melepaskan totokan seperti itu—dengan jarak sekian ini, membutuhkan pemusatan tenaga yang sangat baik, eh… tapi seharusnya ada jejak langkah orang itu disini, maksudku… jejak waktu dia memusatkan tenaganya…” gadis ini bingung sendiri dengan kesimplannya.

“Kau pintar, hanya karena kau belum mengetahui cara menghimpun hawa sakti sajalah maka jawabanmu jadi salah… ada dua cara dalam menghimpun hawa sakti, pertama; himpunanya membuat tubuh menjadi berat dan kokoh—sehingga bisa meninggalkan jejak. Kedua; membuat tubuh menjadi ringan, tapi tidak kehilangan kekokohannya. Pada kasus ini, orang yang melepaskan serangan pada pohon itu, menguasai ilmu yang memupuk hawa sakti dengan cara menghabiskan nafas. Kau harus bersemadi dalam kondisi nafas yang terkuras, sampai akhirnya kau menemukan cara untuk menghabiskan udara di paru-paru tanpa membebani tubuhmu…”

“Sulit sekali.” Timpal gadis ini sambil bergidik, dia tak sampai hati membayangkan dirinya harus belajar sampai seperti itu. Maaf saja, kalau aku disuruh latihan begitu! Pikirnya.

“Singkat kata, keempat jejak yang tertinggal disini, mutlak tidak mungkin melontarkan kemampuan seperti itu. Jadi, kau bisa menyimpulkan; adanya orang lain! Bisa kupastikan dia tokoh hebat. Di seputar kerajaan kita, hanya tiga orang yang memiliki dasar seperti itu.”

“Apa guru termasuk diantara ketiga orang itu?” Tanya Prawita Sari dengan mata berbinar. Sang guru tak menjawab. Gadis ini tak menyerah untuk membuat gurunya mengatakan tentang kemahiran dirinya.

“Orang menyebutmu sebagai Pemisah Hujan, selain kemampuan guru memang luar biasa untuk menganalisa semua masalah, aku tahu kelebihan utama guru bukan cuma itu…” puji gadis ini dengan tertawa-tawa.

Kini, Dua Bakat sekalian tahu, siapa guru sang sasaran, tapi mereka tidak mengenal nama Pemisah Hujan, kemungkinan besar orang itu muncul setelah mereka dipaksa sembunyi dalam Perguruan Lengan Tunggal. Meski mereka tidak mengenal nama Pemisah Hujan, dari caranya menganalisa dan gerakannya yang cekatan, mereka sama-sama mengeluh. Menculik Prawita Sari nampaknya akan menjadi tugas sangat berat.

“Jangan bicara hal yang tidak perlu!” tegur sang guru, tapi gadis itu tak menghiraukannya. Dia malah mengatakan, tidak perlu mempersoalkan siapa yang melepaskan pukulan itu segala, toh saat ini tidak ada apa-apa… kalau saja gurunya tidak melotot padanya, Prawita Sari masih saja berkicau.

Ternyata guru Prawita Sari adalah salah satu sesepuh dari Perguruan Naga Batu, seperti yang dikisahkan sebelumnya. Sang Raja memiliki kekerabatan dengan guru putrinya, jalur kekerabatan ini bermula dari adipati Cakra Sapta sang pendiri Perguruan Naga Batu, adalah kakak dari Raja Kadungga pada masa itu. Seharusnya Cakra Sapta menjadi pewaris tahta Kadungga, tapi dia lebih memilih mengurus satu wilayah kecil saja. Dan sejak saat itu Kota Pagaruyung menjadi kota dengan otonomi khusus, dan Adipati Pagaruyung memiliki hak untuk memberi pertimbangan langsung kepada raja. Lazimnya guru-murid yang memiliki selisih usia jauh dengan murid, pada Pemisah Hujan tidak demikian, dia memiliki murid yang beda usianya hanya berselisih enam tahun, mereka adalah Arseta dan Baraseta. Kadang ketiganya seperti kakak beradik, tapi karena status Pemisah Hujan sendiri sebagai keturunan langsung pendiri Perguruan Naga Batu, kekuasaannya sangat besar dalam menentukan maju tidaknya perguruan itu, tapi sampai sejauh ini dia lebih suka menjadi pengawas.

 

“Kemudian, bagaimana guru?!” desak muridnya menunggu ulasan sang guru.

Pemisah Hujan mencermati lantai kayu di depan pintu masuk, debu disekitar situ lebih banyak dari sisi lain. “Tenaga yang dipancaran menyedot udara disekitarnya dengan sangat halus, debu yang terkumpul disini sangat alami—tidak tercecer,” katanya seraya terdiam sesaat. “Aku menarik pernyataanku tadi; belum tentu di wilayah kerajaan kita ada yang memiliki kemahiran sampai tingkat seperti ini.” Katanya dengan suara dalam. “Dia mengarahkan serangannya dari jarak ini…” Pemisah Hujan berjalan menuju pohon, dan menghitungnya. “Tepat enam belas langkah.” Katanya seraya kembali kedepan pintu. Lalu tangannya mengibas.

Crap! Satu lobang tercipta tepat di sebelah lubang yang ada. Lubang itu tidak menciptakan retak yang melingkar keatas, hanya lurus tanpa berkelok.

Brak! Satu ranting jatuh berderak terkena efek kibasan Pemisah Hujan. Lelaki ini nampak termangu-mangu.

“Guru?” tegur Prawita Sari menyentak kesadaran sang guru.

“Tenaga orang itu bisa diatur sesuka hati… dia sangat hebat dalam permainan jari, tiap ruasnya mengedutkan besaran hawa sakti berbeda hingga membuat pukulan bisa berkelok membuat pola yang dia kehendaki.” Pemisah Hujan meneruskan analisanya. “Aku tidak tahu, kedatangan dia kemari untuk menemui empat orang yang pernah hadir disini, atau untuk mengancam?” gumamnya dengan mata nyalang memperhatikan situasi.

Dua Bakat merasa tenggorokannya kering, tiap kalimat yang diucapkan orang itu membuat detak jantungnya mengencang—sebab hampir seluruhnya benar. Sebisa mungkin dia dan rekannya mengendalikan perasaan—takut si Pemisah Hujan mengetahui persembunyiannya.

“Kita kembali!” perintahnya dengan tegas.

“Tapi, guru?!” protes Prawita Sari.

“Jangan membantah!” tegasnya. “Aku tidak mau mengambil resiko. Jika orang-orang itu tak berniat baik, maka kaulah sasaran yang paling diincar!”

Mulut mungil Prawita Sari terkunci, dia hanya bisa cemberut dan menoleh kearah Winarsih. “Sekali-kalinya keluar, hanya berkuda sebentar saja… tidak menginap sama sekali.” Gerutunya.

“Sabarlah putri, mengingat kondisi dan letaknya.. tempat ini jelas tidak cocok untuk anda..” kata wanita yang sudah matang ini menghibur.

“Darimana kau tahu itu?”

Dengan tersenyum antara geli dan kasihan, Winarsih menjawab. “Disepanjang jalan yang tuan putri lewati, banyak katak bertebaran…”

“Ih!” jerit si gadis bergidik, membuat orang-orang tersenyum. “Ayo kita pulang!” katanya buru-buru.

Keputusan yang dilakukan Pemisah Hujan membuat Dua Bakat kehilangan akal untuk sesaat. Benar-benar tidak disangka, sedikit jejak bisa berbicara banyak. Menghentikan mereka secara paksa, jelas tidak mungkin dilakukan. Dia segara berpikir keras. Dua Bakat melihat di bagian belakang rombongan seorang prajurit menghela kudanya lebih lambat. Tidak berpikir panjang, dia segera bersiap menyergap.

Dua Bakat memberi isyarat pada rekannya untuk bersiap untuk mengganggu, memecah perhatian mereka. Lelaki ini memperhitungkan, setelah konsentrasi Pemisah Hujan dan kawannya diganggu dengan serangan mendadak, dia bisa bertindak leluasa. Sementara Sembilan Belantara akan mengganggu kuda tunggangan mereka untuk lari kearah yang telah mereka persiapkan. Bukan tanpa alasan julukan Sembilan Belantara disematkan pada lelaki beruban ini, kondisi hutan dan seluk beluknya, dia memahaminya secara mendalam. Kuda yang memiliki kekang, memang bisa berlari atas kehendak yang penunggangnya, tapi jika kuda lepas kendali?

Lima-empat-tiga-dua, lalu langkah terakhir… kuda-kuda itu telah melewati bubuk yang sudah ditebarkan oleh Sembilan Belantara. Bukan bubuk beracun, hanya lada dengan cabai kering… nafas kuda yang dipacu kencang, akan membuatnya memiliki daya sedot amat kuat saat menghirup udara, apa lagi pada saat itu kepala kuda menunduk lebih rendah, debu-debu bubuk cabai dan lada tersedot masuk kehidung, dan membuatnya tersendak. Meringkik dengan kaki depan terangkat. Kuda serupa manusia, kondisinya juga bisa dibilang sama dengan yang dialami manusia saat tersendak cabai—batuk-batuk tak karuan. Bedanya, kuda-kuda itu melampiaskan dengan cara membuang beban di punggungnya.

Pemisah Hujan menyadari situasi ini tidak wajar, dengan cekatan lelaki ini melompat dari punggung kuda, dan menepuk leher kuda yang ditunggangi muridnya. Dia tidak memikirkan orang lain, prioritas pertama adalah sang murid.

Kekacauan akibat kuda yang gila sesaat itu bisa dimanfaatkan dengan baik oleh Dua Bakat, pengawal pada urutan paling belakang segera disergap. Tidak membutuhkan banyak waktu untuk melepas baju pengawal itu, Dua Bakat sudah melolosinya dengan singkat.

Didunia persilatan, banyak orang yang ahli menyamar, Kepalan Arhat Tujuh selain ahli di bidang ilmu pukulan juga merupakan maestro dalam penyamaran, tapi satu-satunya ahli yang sanggup menyamar secara sempurna dalam tempo singkat, hanya Dua Bakat orangnya. Kali ini kuda yang semula ditunggangi pengawal itu telah berganti orang, sangat mirip dengan aslinya.

Kekacauan akibat gilanya kuda-kuda dapat diatasi, situasi sudah bisa dikendalikan. Pemisah Hujan memutuskan untuk melakukan perjalanan dengan perlahan, sepertinya pada jalan-jalan yang akan dilalui ada banyak ‘penyakit’ serupa. Dan memang, kuda-kuda mereka berubah jadi liar dalam tempo hampir berurutan. Mengherankan, padahal sebelumnya mereka melewati jalur itu, tapi saat kepulangannya ada kendala yang tak terduga.

“Lebih baik kita melewati jalan yang lain.” Kata lelaki paruh baya disebelah Pemisah Hujan.

“Tidak!” jawabnya pendek, “idemu, adalah hal yang mereka inginkan…”

Baru saja, ucapan itu dikatakan, kuda mereka mengamuk lebih hebat, kekacauan itu membuat Pemisah Hujan dan rekannya bekerja cepat melumpuhkan kuda-kuda mereka.

Disaat yang bersamaan, Dua Bakat juga tengah bekerja…

“Bibi…?!” Prawita Sari memanggil berulang kali. “Ada yang lihat kemana bibi Winarsih?” teriaknya lagi, dan itu cukup menyentak kesadaran Pemisah Hujan, ada yang tidak beres. Tidak disangka bukan sang putri yang diincar, tapi malah Wianarsih?

“Guru… kita harus cari bibi!” rengeknya tanpa menyadari situasi sudah berubah.

Pemisah Hujan baru menyadari ada satu orang pengawalnya yang berkurang, dan kali ini pembantu sang murid. Wajahnya menjadi beku, dia mengerti apa yang sedang terjadi, tapi tidak berupaya untuk menghentikannya. Karena dia lebih suka menangkap si pengganggu. Dalam benaknya sudah terpeta dengan jelas, pola kerja seperti ini, dilakukan oleh siapa.

“Tenanglah, dia akan kembali…”

Tidak berapa lama kemudian, nampak Winarsih keluar dari balik rimbunan pohon, sesaat dia sedang membenahi bajunya. Prawita Sari menyadari pelayannya baru membuang air. Tanpa suara, Winarsih nampak mengatakan ‘maaf’ sambil tertunduk. Dengan ekor matanya, Pemisah Hujan juga menyadari pengawal yang tadi hilang sudah kembali sambil menarik kuda dengan bersusah payah, nampaknya tadi dia mengejar hewan itu.

Pemisah Hujan tidak menampilkan reaksi apapun diwajahnya. “Lanjutkan perjalanan.” Katanya singkat. Dia berjalan paling belakang, sementara rekan sebayanya mengawal di depan. Sambil menuntun kudanya, Pemisah Hujan berjalan mendekati Winarsih. Hanya melewati saja, namun tiba-tiba jemarinya mencengkeram kearah payudara wanita itu.

Prawita Sari menjerit melihat tindakan sang guru, lebih-lebih Winarsih yang tidak menyangka tindakan itu, dia hanya memejamkan mata… ternyata cengkeraman itu tidak pernah sampai di tubuhnya.

“Hati-hatilah…” gumam Pemisah Hujan, ditangannya ada seekor ular hijau. Kepalanya hancur dijepit oleh jemari lelaki paruh baya itu. Entah darimana datangnya ular itu, tahu-tahu saja sudah menyelinap ke balik baju Winarsih.

Dengan wajah pucat wanita itu mengiyakan dan berterima kasih, tindakan Pemisah Hujan tak lepas dari para pengawal lainnya yang menatap dengan tegang. Mereka tidak menyadari rekan Pemisah Hujan tahu-tahu sudah menghilang bersama kudaya. Keheranan itu baru terpecahkan, saat perjalanan hampir mencapai ujung hutan, ternyata orang itu sudah menunggu disana.

Melihatnya, membuat Pemisah Hujan tersenyum, jemarinya kembali mencengkram Winarsih, kali ini mengarah wajah dengan deru angin menggidikkan. Bagi orang yang memiliki ilmu setinggi Pemisah Hujan, serangan yang dilakukan boleh dibilang berlebihan, untuk menjangkau lawan yang hanya dua langkah disampingnya, dia tidak perlu mengerahkan tenaga sampai menggebu suara.

Tapi kali ini Pemisah Hujan tidak menarik serangannya lagi, Winarsih-pun menyadari serangan itu bisa mencabut nyawanya. Pemisah Hujan tidak memperhatikan apakah wanita itu akan menghindar, lelaki ini lebih memperhatikan para pengawal lain, dan memang benar… serangannya itu, membuat dua pengawal lainnya menyerang dia, sementara Winarsih berhasil menghindar, dan melompat mendekati Prawita Sari, jemarinya meraih lengan tangan gadis itu!

Tapi alangkah kagetnya, saat tangan sang gadis menghindar balas mengibas kearah wajah Winarsih. Kibasan itu tidak mencerminkan kesan bahwa hawa sakti si gadis yang masih cetek, serangan itu menghimpunan tenaga yang sangat kuat. Winarsih berseru kaget, apalagi saat melihat dua orang rekannya juga terdesak hebat dibawah gempuran Pemisah Hujan. Dia bersuit dan segera mengundurkan diri, dua orang penyerang lainnya pun mengikuti tindakan itu. Beberapa gumpal benda dibanting, menyebabkan asap kelabu beraroma pedas. Prawita Sari nampak mengibaskan tangan berulang kali, dalam sekejap asap kelabu terhempas sirna, dan orang-orang yang menyamar itupun turut sirna. Situasi agak gaduh saat menyadari akibat yang ditimbulkan asap itu membuat mata pedih.

“Basuh kelopak kalian dengan ludah!” buru-buru Pemisah Hujan mengingatkan. Dia tidak berminat mengejar mereka, justru menyongsong rekannya yang sedang menunggu diujung hutan.

“Guru, permainanmu sangat menarik!” seru ‘sang rekan’ yang membuat beberapa pengawal tersisa terkejut.

Ternyata entah sejak kapan sang rekan, sudah berganti menjadi Prawita Sari, dan orang yang menjadi ‘Prawita Sari’ tentu saja adalah rekan Pemisah Hujan.

“Sejak kapan guru menyadari ada orang yang mengincar diriku?” Tanya gadis itu.

“Setelah aku menemukan keanehan di rumah singgah,” jawab gurunya. Dia memandang berkeliling, beberapa orang terlihat muncul dari balik pohon, mereka tidak mendekat hanya memperhatikan Pemisah Hujan. “Apa yang kalian temukan?”

“Tidak ada jejak, kecuali kami menemukan wanita dan tiga orang pengawal yang dilumpuhkan.” Sahut orang itu, dan mereka kembali lenyap di balik rimbunan pohon. Sudah menjadi kewajaran jika kemanapun sang putri melangkah, ayahnya akan mengirimkan orang-orang paling baik untuk melindungi, baik secara terang-terangan atau tersembunyi.

“Ada satu orang yang tidak muncul…” gumam Pemisah Hujan.

“Dia tentu berpikir ulang saat melihatmu bisa menguraikan keadaan di rumah singgah itu.” Sahut rekannya yang sudah mengganti riasannya.

“Apakah dari awal guru tahu, ada orang yang memalsu pengawal?” Tanya Prawita Sari penasaran.

“Tidak. Aku hanya mengenal ada aroma tubuh yang berbeda. Jadi, sudah jelas itu bukan orang kita … sederhana sekali.” Cetusnya membuat sang murid manggut-manggut. Pantas saja sang guru sempat mengendus tiap orang sebelum mereka berangkat. Rupanya itu caranya ‘mengenal’ orang.

Pada saat Dua Bakat masuk dalam rombongan, Pemisah Hujan menyadari ada orang asing bersama mereka. Manakala kuda-kuda mereka meronta, dan keadaan menjadi ricuh dia memberi isyarat kepada rekannya untuk bertukar posisi dengan Prawita Sari—keadaan itu dilakukan bertepatan dengan masuknya Empat Serigala dan Tujuh Ruas menggantikan posisi para pengawal lain yang sudah mereka lumpuhkan, dan dilempar kedalam semak. Sang murid merasa permainan ini menarik, diapun segera melakukan perintah gurunya, sementara rekan Pemisah Hujan cukup berkuda didepan Winarsih dengan atribut yang dikenakan Prawita Sari, dia tidak perlu menyamar, cukup menutup wajahnya dengan selendang—seperti kebiasaan wanita bangsawan pada umumnya. Sebelumnya, Pemisah Hujan sangat keberatan dengan pengawalan tambahan yang dilakukan oleh sembilan prajurit dibawah perintah ibu muridnya, tapi dengan kejadian ini, dia malah bersyukur, muslihatnya bisa berjalan dengan baik. Masing-masing pihak saling mengatur cara untuk menjebak satu sama lain, tapi kesudahannya tak satupun dari mereka yang mendapatkan hasil.

Sembilan Belantara menyaksikan dari kejauhan berlalunya rombongan itu, dia sudah bersusah payah menyiapkan jebakan pada jalanan yang lain. Tapi apa boleh buat, jebakannya tak sempat digunakan. Pemisah Hujan terlalu cerdas untuk terpancing kedalam siasatnya.

Dia kembali ke pondok persinggahan, masuk begitu saja. ketiga temannya pun sudah ada disana, duduk terpekur. Bagi orang lain, kegagalan rencana yang didapat tadi cukup untuk merontokkan semangat, tapi tidak bagi mereka. Keempat orang itu selain memiliki perhitungan jitu, juga menguasai psikologi lapangan. Jika orang lain akan beranjak jauh-jauh dari pondok itu, mereka justru kembali kesana. Logikanya mudah, seorang pencuri tidak akan bersembunyi di rumah yang dia curi. Tinggal membalik kebiasaan itu, sudah cukup bagi mereka untuk mengelabui banyak orang. Yang mereka kawatirkan hanya satu, kegagalan ini apakah bisa ditoleransi?

Dua Bakat meraba pinggangnya, disana ada benda titipan dari Anusapatik yang akan diberikan pada tuannya. Pikirannya melayang, dia masih terngiang kalimat tuannya, bahwa; alasan muridnya menggunakan jasa mereka adalah karena namanya sangat berharga? Tapi berharga untuk siapa? Dua puluh tahun cukup untuk mengubur kenangan buruk tentang mereka, adakah yang masih mengingatnya hingga sekarang? Siapa dia? Pusing kepala Dua Bakat memikirkan itu.

“Kalian gagal…” sebuah suara mengejutkan mereka. Lelaki gagah perkasa itu sudah duduk di belakang mereka tanpa disadari kehadirannya. “Aku ingin mendengar setiap detail laporanmu…”

Menata debar jantungnya yang tak teratur, Dua Bakat menghirup nafas dalam-dalam. Akhirnya ia menuturkan semua yang dilihat dan didengarnya.

“Bagus! Bagus! Bagus!” berturut-turut lelaki itu memujinya. Tadinya mereka pikir akan ada kemarahan atau nada sinis, ternyata tidak. Suara orang itu seperti sedang Tentu saja mereka tak mengerti apa maksudnya. “Aku memang sudah menyangkanya, jika orang itu ikut, kau tak akan berhasil! Lebih dari itu, aku hanya memastikan saja… aku hanya memastikan saja… bagus sekali!” katanya berulang-ulang

“Jadi, bagaimana?” Tanya Dua Bakat merasa marah, tapi ditahannya perasaan itu. Dia cukup sadar, kemampuannya belum bisa memadai murid tuannya.

“Tidak ada apa-apa lagi…”

“Maksudnya?” Dua Bakat benar benar tidak mengerti perilaku orang itu.

“Untuk saat ini, tak ada yang harus kau lakukan. Tapi terhitung satu bulan dari sekarang menculik Prawita Sari adalah keharusan!” kata lelaki perkasa ini dengan nada dalam, senyumannya sudah menghilang dari bibirnya.

Dua Bakat ternganga, “Tapi.. Tapi…”

“Saat ini dan esok hari tentu berbeda. Aku cukup mengenal reputasimu, dan untuk yang berikutnya aku tidak ingin mendengar berita kegagalan!” dari tempat duduknya lelaki ini menggerakkan tangan seperti melambai, akibatnya luar biasa… keempat orang yang memiliki kemahiran hebat itu tersedot seperti daun kering, mereka tidak sempat mempertahankan diri, karena semua itu begitu mendadak.

Tap-tap! Sebuah totokan bersarang di ulu hati masing-masing.

“Uhhuk…” empat orang itu terbatuk-batuk sampai rasanya ingin mutah, tapi tak bisa juga, yang keluar hanya dahak. Perut rasanya kembung, dan rasa pahit menjalar ke tenggorokan.

“Apa yang kau lakukan?!” seru Dua Bakat masih terbatuk-batuk.

Lelaki itu tersenyum, “Bukan apa-apa, hanya kuberikan cara supaya kalian menghamba padaku dengan ikhlas.”

Mereka saling pandang, tiap orang memiliki perasan yang sama: ‘penjara’ lama mereka tenyata lebih menyenangkan.

“Kalian akan tergantung padaku, tiap dua minggu sekali… kalian harus menjumpaiku untuk sedikit melonggarkan ikatan pada jantung.”

Nasi sudah menjadi bubur, perkataan lelaki itu membuat mereka serasa mengalami dêjavû, ya… pada masa lalu pemilik Pedang Tetesan Embun juga mengancam mereka dengan hal semacam itu, bedanya; dia menginginkan supaya mereka terpojok dan tidak banyak melakukan banyak hal—jika tak ingin mengatakannya sebagai bertobat. Kalau dibandingkan dengan lelaki ini, prilaku pemilik Pedang Tetesan Embun jauh lebih baik.

“Di..dimana kami bisa menemukanmu?” Tanya Sembilan Belantara.

Lelaki itu tertawa pendek. “Kalian bisa mencari jejakku dengan upaya yang keras.” Dengusnya datar.

Rupanya kedatangannya kali ini hanya untuk ‘mengikat’ empat orang itu, tanpa memberi kesempatan Dua Bakat sekalian untuk bertanya, bayangannya sudah lenyap ditelan temaran sore.

“Semoga tuan bisa menolong kita…” gumam Tujuh Ruas merasakan perutnya mulai penuh dengan angin, dan hampir bersamaan mereka berempat melepas kentut, makin banyak kentut, makin membuat perasaaan lega. Nampaknya bunyi ‘dut-pret’ yang saling bersahutan, akan bertahan cukup lama.

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s