105 – Domino Effect : Prawita Sari

“Saya bingung, sebenarnya apa yang sedang terjadi?” Tanya Dua Bakat pada orang tua itu.

Wajah lelaki tua ini menampilkan rona kemerahan, seringaiannya sudah menghilang dari bibir, berganti wajah tua yang menampilkan kesan arif bijaksana. “Aku mencari orang berbakat yang kupikir bisa membantu usahaku. Aku mendapatkannya, dia sangat berbakat… terlampau berbakat malah. Tapi ambisinya berbeda dariku, aku tidak bisa mengarahkannya lagi.”

“Lalu, apakah saya harus menaati perintahnya?”

Nampaknya hanya Dua Bakat saja yang berhak bicara dengan orang tua itu, ketiga rekannya masih duduk dilantai mendengarkan percakapan itu.

Sesaat orang tua ini tidak menjawab, kemudian katanya, “Selain sangat hati-hati dan penuh perhitungan, dia sangat jenius, orang ini bisa memecahkan masalah pelik.” Ujarnya, tidak menjawab pertanyaan Dua Bakat, lelaki tua ini malah memberi peringatan dini pada Dua Bakat sekalian.

“Kalian lakukan saja rencananya. Sebenarnya… aku sudah menahan dia untuk tidak melakukan hal ini, tapi nampaknya tidak bisa.”

“Menculik orang, bukannya pekerjaan yang sangat mudah?” gumam Dua Bakat seperti bertanya pada dirinya sendiri—untuk membangkitkan semangat, maklum saja sudah dua puluh tahun dia tidak bergerak melakukan seluruh kebiasaannya, dia khawatir keahliannya sudah memudar.

“Sangat mudah… siapapun bisa melakukan! Tapi ada alasannya kenapa dia harus menunjukmu…”

Wajah Dua Bakat sekalian menampilkan rasa bingung. “Harus saya? Mengapa harus begitu?”

“Untuk kalangan tertentu, kau memiliki nama yang berharga, kau orang yang sangat dicari…” tukas orang tua itu berkata lambat.

Dua Bakat memucat seketika. “Apakah dia… ma-maksudku… yang mencariku adalah… adalah… pemiliki Pedang Tetesan Embun?”

Orang tua ini menghela nafas. “Aku tidak tahu,” jawabnya singkat.

Dan itu membuat Dua Bakat lemas, bukan tanpa alasan dia dan teman-temannya ketakutan menghadapi pemilik Pedang Tetesan Embun, tujuh orang teman seangkatan mereka dibuat hidup segan matipun tak mau, orang itu tidak pernah membunuh, tapi begitu kau berhadapan dengan dirinya, kau justru akan mengharapkan semoga dia membunuhmu. Pemilik Pedang Tetesan Embun merambatkan rasa takut tak terkira di hati mereka.

“Kau tak perlu kawatir! Menurutku, itu bukanlah dia. Baginya, namamu bukan sesuatu hal yang berharga…” tukas orang tua ini lagi membuat Dua Bakat tersenyum pahit, ada rasa senang bahwa dia tak cukup berharga dimata pemilik Pedang Tetesan Embun. “Itulah alasannya, mengapa dia hanya melakukan trik kecil untuk menakut-nakuti kalian…”

Dua Bakat menundukkan kepalanya, mengingat akan hal itu hatinya sungguh sakit, tapi diapun tak menyangkal, dua puluh tahun lebih ‘mendinginkan’ kepala di Perguruan Lengan Tunggal sudah banyak mengurangi ambisi dan kelakuannya.

“Kalau orang itu mengerti bahwa ini hanya trik kecil yang dilakukan pemilik Pedang Tetetsan Embun, kenapa harus repot-repot berhubungan dengan saya, bahkan harus menarik perhatian dengan melepaskan Pratisamanta Nilakara?”

Orang tua itu mengerti, siapa yang di maksud dalam pertanyaan itu. Tentu saja dia tak akan memberitahu alasan sebenarnya, ‘trik kecil’ itu bukan saja sudah mengecoh Dua Bakat, bahkan dirinya! Kalau bukan karena ketelatenan lelaki tadi, trik tersebut tidak akan dipecahkan oleh mereka.

“Tujuan utamanya melakukan Pratisamanta Nilakara adalah, untuk menjajagi situasi. Dia bukan cuma mencari cara untuk melakukan kontak dengan kalian, tapi juga menyelidiki keadaan… benarkah orang itu, masih memantau kalian…”

Dua Bakat paham, kenapa pimpinannya tak mau menyebut kata Pedang Tetesan Embun, orang itu sudah merusak semua rencana yang sudah disusun tuannya. Secara psikologis menyebut nama musuhnya hanya akan menurunkan semangat juang sendiri.

“Setelah sekian lama ditelusuri, ternyata orang itu tidak pernah memantau kalian, tapi caranya berkomunikasi dengan kalian terus dilakukan. Dia menyadari ternyata ada beberapa pergerakan aneh di perguruan Lengan Tunggal, dia tak mau ambil resiko…”

Dua Bakat mengangguk, dirinya juga menyadari ada kejanggalan-kejanggalan ditempatnya bernaung itu, tapi sepanjang tidak ada hubungannya dengan mereka, dia malas mencari tahu dan tak akan ambil pusing.

Dengan menghela nafas panjang, cahaya matanya meredup. “Aku menyadari, usaha-usaha yang dulu kulakukan tidak pernah berhasil, karena satu hal…”

Mereka mendengarnya dengan seksama.

“Aku telah menodai keadilan dan kebenaran…” ujarnya membuat Dua Bakat saling pandang dengan rekan-rekannya dengan rona terkejut.

Di masa lalu; sang pimpinan adalah orang yang sangat tegas dalam memisahkan batas antara kekejaman dan keharusan bertindak—demi tercapainya rencana, dia tidak perduli apakah orang yang menjadi sumber beritanya mati, yang penting info yang dicari dia dapatkan. Orang itu pula yang mengajari Tujuh Ruas, menjadi ‘Tujuh Ruas’ yang sebenarnya, kemampuan melolosi tulang, didapati dari orang tua itu. Dan sekarang pimpinan mereka mengatakan hal yang sangat bertolak belakang, rasanya seperti matahari terbit dari barat! Tidak mungkin!

“Ma-maksudnya?” tanya Dua Bakat tak mengerti.

“Melihat ambisi muridku, dan itu menjadi kaca bagiku… bahwa yang telah kulakukan dimasa lalu begitu buruk… sangat buruk!” desisnya hampir tak terdengar. Akhirnya mereka bisa mendapatkan kepastian jika lelaki perkasa tadi merupakan murid sang majikan.

“Apakah bukan karena pemilik…” Dua Bakat tidak bisa meneruskan ucapannya manakala melihat rahang orang tua itu mengeras sesaat. Pemilik Pedang Tetesan Embun bukan hanya menggoreskan rasa takut di hati Dua Bakat sekalian, nampaknya sang pimpinan itupun merasakan hal yang sama.

“Orang itu memang membuatku terpaksa bersembunyi, selama dua puluh tahun ini dia tidak henti-hentinya mencariku. Semua rencanaku dapat diantisipasi dengan baik, sampai akhirnya aku lelah… aku menyadari aku harus berhenti.” Ujarnya dengan tatapan menerawang, agaknya dia sedang menumpahkan isi hati. “Aku harus menghentikan kegilaan muridku…” tegasnya. Lalu dengan menatap satu demi satu wajah anak buahnya, ia berkata dengan nada rendah. “Apakah kalian masih bersamaku?”

Tanpa ditanya dua kali, Dua Bakat mengangguk pasti. “Apapun keputusan tuan, kami akan ikuti!” sahutnya mantap.

“Baik, jika demikian ada satu tugas penting bagimu…”

Dua Bakat mendengarkan dengan seksama.

“Pertama, pergilah ke Perguruan Merak Inggil, cari Anusapatik…”

“Bu-bukankah orang itu sudah menghilang sejak dulu? Jika sampai saat ini dia tak terdengar kabarnya, berarti sudah hampir empat puluh tahun lalu?” Tanpa sadar Dua Bakat memotong.

Lelaki tua ini tertawa perlahan, nampaknya rekasi Dua Bakat membuatnya senang. “Bagi orang-orang yang mencarinya, dia memang sudah menghilang… tapi bagiku, dia tak pernah kemana-mana. kau tinggal memberikan ini padanya…”

Sebuah batu sebesar sekepalan tangan anak kecil berwarna abu-abu, diserahkan pada Dua Bakat.

“Kuberikan kepada dia? Tapi bagaimana?”

“Masukkan kedalam kolam, dia akan mencari dirimu.”

“Lalu penculikan yang murid tuan perintahkan, bagaimana?”

“Kau bisa melakukannya tugasku lebih dulu, menjumpai Anusapatik tidak akan memakan waktu lama.”

Dua Bakat mengangguk, kebingungan masih melanda otaknya bertubi-tubi… tugas-tugas ini semuanya sangat mudah baginya, dia merasa ada yang tidak benar, tapi entah di bagian mana, dia juga tidak tahu. Kepalanya tertunduk menekuri lantai kayu dengan pikiran bercabang.

“Tugas kedua, akan kuberitahu setelah kau berhasil menculik Prawita Sari…”

Itulah ucapan terakhir sang pimpinan, Dua Bakat baru menyadari setelah sekian lama suara orang tua itu tidak terdengar, mendongakkan kepala dia menoleh kesana kemari mencari bayangan sang pimpinan, nampaknya orang tua itu sudah pergi. Dua Bakat bangkit dari duduknya.

“Bagaimana menurut kalian?”

Pertanyaan Dua Bakat sontak membuat ketiga rekannya menampilkan wajah bingung. “Aku tidak bisa menilai apapun, sudah terlalu lama kita jauh dari dunia yang pernah kita geluti. Saat ini aku merasa seperti anak kecil yang harus dituntun… kepekaanku tumpul, aku tak bisa memberi pertimbangan …” gumam Sembilan Belantara.

“Apa yang mendasarimu berkata begitu?”

“Banyak hal… argh! Aku bahkan tak bisa merincinya, otakku terlalu dibingungkan dengan kehadiran tuan…” sungut Sembilan Belantara.

“Kurasa aku bisa menjelaskan beberapa keheranannya.” Kata Empat Serigala sambil menepuk bahu Sembilan Belantara. “Pertama, perubahan sifat tuan… ini sangat janggal, aneh…” lelaki ini menoleh kanan kiri sebelum meneruskan bicaranya, dengan merendahkan suaranya dia melanjutkan. “Sangat tidak masuk akal, kekejamannya sirna begitu saja, bahkan terlihat begitu… begitu… agung, membuatku merasa takut..” uraian itu diamini anggukan oleh ketiga rekannya. “Kedua, orang yang di tunjuk sebagai muridnya… aku merasa mereka seperti satu jalan, tapi entah kenapa… entah kenapa… aku melihatnya seperti ada sandirwara disini, ini.. ini.. hanya pikiranku saja, entah dengan kalian.” Empat Serigala memperhatikan reaksi mereka, nampaknya untuk dugaan keduanya tak menemukan kesepakatan. “Ketiga; Anusapatik… orang ini adalah bajingan busuk, kita sudah mendengar kabarnya bahkan saat kita baru berkecimpung di dunia persilatan. Lalu untuk apa? Untuk apa tuan harus menjalin hubungan dengan Anusapatik? Jika dia memang menyesali perbuatan masa lalunya? Aku tidak paham…”

Dua Bakat tidak mengomentari pikiran rekannya. Setelah beberapa saat, sambil mendengus dia berkata. “Aku tidak memikirkan itu, aku hanya mengikuti perintah beliau!”

Empat Serigala terdiam, kalimat tadi sudah cukup menjadi peringatan baginya. “Kurasa kau harus berangkat sekarang.” Katanya mengingatkan Dua Bakat, sekaligus mengalihkan perhatian Dua Bakat dari pendapatnya tadi.

“Ide bagus…” gumam Dua Bakat dengan pikiran tak tentu. “Kalian waspadai situasi disini…” perintahnya.
===o0o===

Perguruan Merak Inggil
Beberapa dasawarsa lalu, perguruan ini pernah dihebohkan dengan penyerbuan mendadak yang melibatkan banyak tokoh berkasta tinggi, titik pangkal masalah berada pada seorang Anusapatik, dia mengumpulkan para tokoh yang memiliki satu visi, menguasai kesadaran banyak orang dengan racun.

Dua Bakat melakukan perjalanan dengan melesatkan peringan tubuh tanpa henti. Mendapat tugas pertama dari tuannya—setelah sekian lama, ia ingin membuktikan dirinya belum habis. Dari rumah dalam hutan sampai ke perguruan itu hanya membutuhkan perjalanan delapan jam saja.

Sore sudah dijelang, Dua Bakat benar-benar mempraktekkan bakatnya, hanya sekali melihat seorang penjaga, dia bisa menirunya dengan sempurna. Baginya memasuki Perguruan Merak Inggil semudah membalikan telapak tangan.

Banguna utama perguruan itu tidak memiliki banyak perubahan dari masa lalu, namun demikian dirinya tak tertarik untuk memperhatikan apa saja yang terdapat didalamnya. Fokusnya haya satu, mencari kolam.

Selama menyusup, Dua Bakat sudah bersalin rupa sebanyak enam belas kali. Pada akhirnya ketekunannya mencari membuahkan hasil, sebuah kolam ikan seluas dua kali tiga meter terletak dibalik rerimbunan pohon trembesi, semak disekitar kolam begitu tinggi. Kalau saja Dua Bakat, tidak memiliki inisiatif untuk menyibaknya, mungkin dia tak pernah menemukan kolam itu.

Dengan terheran-heran, orang ini menyaksikan betapa kolam kecil itu ternyata menimbulkan rasa seram dalam hatinya, akar pohon trembesi yang sudah berusia puluhan tahun, nampak menonjol diantara dinding-dinding kolam, tapi bukan itu yang membuatnya jadi menakutkan, airnya yang jernih menjadikan dirinya bisa melihat sampai dasar kolam. Dua Bakat mengerutkan keningnya, warna dasar kolam itu terlalu muda untuk ukuran lumpur, dan itu tidak bisa mengelabui pandangan matanya, lumpur itu terbentuk akibat serpihan daging yang membusuk; kolam itu merupakan tempat pembuangan mayat, dimasa lalu! Pertanyaannya, masihkah saat ini digunakan? Dua Bakat bahkan tidak mencium adanya bau yang aneh pada kolam itu.

Mencermati situasi lebih dulu, akhirnya Dua Bakat melemparkan batu yang diperoleh dari sang junjungan. Air kolam yang semua jernih lamat-lamat menjadi keruh, dan meski tipis tercium bau seperti belerang. Dua Bakat menjauh dari pinggir kolam, dia masih memperhatikan keadaan sekitar dengan waspada. Sementara desir suara yang aneh membuatnya harus memalingkan wajah kearah kolam.

Dua Bakat terkesip, saat menyaksikan semak-semak disekitar rumput itu layu, bukan layu karena hangus tapi layu karena kehilangan kekerasannya sebagai daya dukung, warna yang makin hijau pada semak itu membuat Dua Bakat terheran-heran. Belasan jenis serangga keluar dari dalam kolam itu, nampaknya batu yang di lemparkan kedalam, mengganggu ketenangan mereka. Dua Bakat memperhatikan pucuk pohon trembesi, satu demi satu burung-burung yang hinggap disana juga mengepakkan sayap pindah kelain pohon, agaknya merekapun merasa terganggu.

Hatinya tidak yakin, apakah dengan perubahan setipis itu akan memberi tanda bagi Anusapatik untuk muncul? Dua Bakat menunggu dengan hati berdebar-debat, dia sudah mengambil tempat persembunyian yang menurutnya paling setrategis.

Satu jam berlalu sudah…

“Akhirnya datang juga…” seru sebuah suara mengejutkan Dua Bakat. Dengan terburu-buru dirinya berbalik dan menyaksikan seorang lelaki tua sudah ada dibelakangnya. Tanpa bisa ditahan keringat dingin menitik didahi, jika saja orang tua itu tak bersuara, sampai saat ini, dia tidak pernah tahu ada orang berdiri dibelakangnya. Wajahnya tersembunyi dalam bayangan rimbunan pohon, seolah orang itu merupakan bayangan itu sendiri.

“Berikan ini padanya!”

Dua Bakat tidak bisa mengaskan pandangannya untuk mencermati wajah orang itu, setelah melemparkan sesuatu, bayangannya pun menghilang. Betul kata tuannya, mencari orang itu sangat mudah. Pikir Dua Bakat dengan tersenyum getir, harga dirinya yang masih bersisa, kini bagai dihembus angin, dia merasa tidak berguna, hanya sekedar mendeteksi keberadaan orang-pun dirinya tak sanggup. Apa orang itu sehebat tuan? Pikirnya sambil mengambil barang yang dilemparkan padanya, sebuah kain yang membalut sebuah benda, entah benda apa. Dia tak berani membuka sebelum tuannya.

Dia sudah mendengar reputasi Anusapatik, tapi tentang apa dan siapa orang itu, bagaimana kelihayannya, dia tak pernah tahu. Tapi kini Dua Bakat bisa sedikit meraba seperti apa orang itu, orang yang tak bisa dirasakan himpunan hawa saktinya, kalau bukan orang mati, tentu orang itu sudah melampaui tingkatan Nibhawiçâla (menyerupai kilauan), seingat dirinya, ada empat tingkatan dalam menjelaskan tingkat kehebatan himpunan hawa sakti seseorang, namun Dua Bakat hanya mengingat satu nama saja.

Tak mau membuang waktu, orang ini segera bergegas keluar dari Perguruan Merak Inggil. Dua Bakat tidak pernah menyangka, benda yang dilemparkannya itu membuat delapan orang yang lewat disekitarnya mati dengan wajah seperti tercekik, namun tak satupun yang perduli dengan tempat itu. Seolah-olah, kolam yang di kelilingi rerimbunan pohon trembesi adalah wilayah terlarang.
===o0o===

Sebuah rombongan berkuda berjalan santai diantara rerimbunan hutan yang masih termasuk dalam wilayah Kerajaan Kadungga. Diantara rombongan itu, ada dua orang wanita yang nampak sangat senang dengan perjalanan itu. Salah satu dari mereka memakai atribut sebagaimana pelayan kerajaan pada umumnya, sedangkan gadis satunya memakai baju kuning gading. Rambutnya yang panjang menjela pinggang berkilauan di timpa sinar mentari. Nampak cudaratna (pemata perhiasan yang diletakkan didahi) berwarna biru berkilauan, membuat wajahnya yang memang sudah cantik, menjadi lebih anggun. Di pinggang kanan kirinya ada pedang tergantung rapi.

“Winarsih, temani aku!” seru gadis ini sambil menghela kudanya lebih dulu, masuk hutan lebih dalam lagi. Wanita yang di sebut sebagai Winarsih, tersenyum dia menyusul gadis yang menjadi junjungannya.

“Hamba, putri…” sahutnya sambil membedal kuda mengejar gadis itu.

Dengan sendiri, para pengawal turut membedal kudanya. Hanya ada dua orang paruh baya yang memperhatikan rombongannya berlalu, mereka tidak turut serta.

Tak berapa lama kemudian, gadis itu beserta rombongan sudah kembali. “Guru, lihat apa yang kudapatkan!” serunya pada lelaki paruh baya dengan bibir mengembang senyum manis.

Orang yang di panggil guru oleh sang putri menganggukkan kepala, dia memperhatikan kelinci yang diserahkan muridnya, terlihat seulas senyum tipis, tangannya mengusap sesaat, tubuh kelinci yang meregang kaku itu, tiba-tiba bergerak, kemudian dilepasnya kembali. “Nampaknya kau sudah siap untuk tingkat yang lebih tinggi…”

“Benarkah?” serunya dengan nada riang, suaranya bagai kicau burung yang menyejukkan telinga.

“Tentu… ayahmu, pasti bangga dengan kemajuanmu.” Katanya lagi.

Wajah gadis ini nampak berbinar-binar senang, dia tidak suka berlatih silat, tapi cara yang diajarkan gurunya itu sangat elegan dan tidak kasar, baru berlatih enam bulan saja dia sudah bisa berlari sekencang kuda tanpa lelah. Lebih dari itu, tarian pedang yang dilatih dalam sepekan terakhir secara khusus, telah menampakkan hasil. Dia tidak suka melakukan latihan yang bertujuan menyakiti atau bahkan membunuh, ayahnya pusing setengah mati saat membujuk anaknya supaya mau melakukan latihan. Untung saja kerabat jauh sang ayah—yang kini menjadi gurunya, memiliki metode latihan yang bisa menggugah minat sang putri. Ilmu totok dan peringan tubuh menjadi hal yang paling disuka gadis ini.

Lambat laun, Prawita Sari menyukai seni bela diri yang lain—cuma kodratnya sebagai perempuan yang terbisa dilayani, menjadikannya palah-pilih dalam latihan, dia enggan berlatih jika itu membuatnya repot. Padahal melatih hawa sakti tidak merepotkan, hanya membutuhkan kesabaran tinggi. Dan itu sangat dihindari Prawita Sari, padahal sang guru menilai anak didiknya sangat berbakat dalam pengolahan hawa murni.

Pagi itu Prawita Sari sedang melakukan serangkaian uji pada ilmu yang dipelajarinya. Sang Guru menyatakan, jika dia berhasil menotok perut hewan yang sedang berlari—dengan pedangnya, maka latihan tingkat berikut akan segera dimulai, tapi jika dirinya gagal, sang putri harus mengulangi selama dua pekan kedepan, sebelum ijin percobaan totokan diberikan.

“Ada beberapa catatan yang harus kau perhatikan; Totokanmu memang halus, himpunan hawa murnimu juga sudah mulai merata, sangat disayangkan kau tak mau menghimpun hawa sakti… kelemahannya cukup fatal, hanya dengan menambah sedikit tenaga pada si korban, dia akan segera terbebas.”

Prawita Sari cemberut, wajahnya yang cantik nampak semburat merah, perkataan sang guru yang terakhir—menyindir kemalasannya, membuat dia malu. “Menyebalkan jika aku harus berdiam diri duduk berjam-jam; hanya untuk berpikir bahwa diperutku seolah-olah ada udara panas yang bergerak mengililingi tubuh… geli, tahu!”

Mau tidak mau sang guru tertawa. “Dasar kau ini…” katanya sambil menggelengkan kepala berkali-kali, “Kita kembali sekarang?”

“Ayolah guru…. Baru sampai sudah mau kembali? Yang benar saja!” sungut Prawita Sari kesal. “Aku ingin, menuju ke pondok peristirahatan.” Katanya tanpa menunggu jawaban sang guru, dia segera membedal kudanya dengan kencang.

Tentu saja Winarsih segera memburu majikannya, dia takut terjadi sesuatu dengan putri, hutan bukanlah tempat yang ramah buat seorang putri yang takut pada serangga dan katak. Dan semua rombongan pun akhirnya mengikuti arah pergi Prawita Sari.

“Anak itu terbiasa dimanjakan!” gerutu sang guru, segera menyusul memasuki hutan. Dia melesat dengan gerak bagai sambaran kilat.
===o0o===

Sembilan Belantara mengikuti kepergian rombongan itu dengan perasaan campur aduk, semua orang bisa dia atas sendiri, kecuali sang guru dan seorang lelaki lainnya, yang tak bisa dia raba kedalaman hawa saktinya. Itu cukup membuatnya kawatir. Dia segera memencet kepala kumbang kayu yang dipegangnya. Jerit kumbang kayu segera mendenging keras, itu cukup menjadi tanda bagi Dua Bakat dan rekan lainnya untuk bersiap-siap.

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s