104 – Domino Effect : Dua Bakat

==Kilas Balik==

Kota Skandhawara—Pusat Pemerintahan Kerajaan Kadungga

Tiga bulan sebelumnya…

Sebuah kulit kambing yang di gulung dengan pita kuning emas tertulis dengan tinta hitam, menggoreskan nama sebuah jabatan. Dia merasa tidak puas dengan apa yang baru saja diperoleh, wajahnya menyiratkan dengan jelas. Lelaki tua berwajah bijaksana itu duduk dihadapannya, memperhatikan kegelisahan orang itu.

‘Kenapa, aku hanya mendapatkan jabatan setingkat ini saja?’ pikirnya dengan kemarahan membuncah didada.

“Apa yang raja tolol itu berikan padamu?” Tanya lelaki tua ini sambil meraih gulungan kulit kambing itu.

“Jabatan tidak berarti!” geramnya. “Aku sudah mengabdi selama lima belas tahun dalam berbagai situasi, aku pernah menyelamatkan kerajaan ini… tapi balasannya sungguh tidak setimpal!”

“Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?” Tanya lelaki tua ini dengan kening berkerut, agaknya diapun merasa jabatan yang diperoleh orang itu kurang memuaskan. Ini menjadi sebuah kendala bagi rencananya pula.

“Kau tidak perlu tahu! Aku bukannya tidak paham, kehadiranmu disini hanya berperan sebagai bara yang membakar pertimbanganku. Beberapa hari kemarin kau masih berguna, tapi saat ini tidak lagi! Saat ini kau cukup menyaksikan apa yang kulakukan, pertimbangmu tak lagi kubutuhkan!” ujar lelaki ini tandas tanpa basa-basi.

“Bagus… bagus! Kau merasa sudah bisa mengembangkan sayap sendiri, aku hargai pemikiranmu!” tukas lelaki tua ini datar, meski tersembunyi rona kecewa dan marah didalamnya, sembari berjalan menuju pintu, dia menoleh lagi. “Sangat jelas bagiku, kau tidak lagi membutuhkan diriku, semoga tidak menyesal!”

Lelaki itu mendengus, “Pergilah! Aku tidak menyesal! Ada atau tidak adanya dirimu, tidak berpengaruh bagiku.”

Tanpa mengatakan sesuatupun lagi, lelaki tua itu lenyap dikegelapan malam.

‘Aku harus bergegas, rencana berikut harus kujalankan!’ pikirnya. Malam itu juga, dia keluar dari ruangan kerjanya, menuju istal. Ada prajurit yang selalu berjaga di tempat itu.

Dua orang prajurit tengah memainkan dadu, mengisi waktu, membuang kantuk. Melihat lelaki yang menjabat sebagai Pratyadhiraksana (pengawal ulung—biasanya jabatan seperti itu menjadi kepercayaan dewan pertimbangan kerajaan) datang menghampir, mereka segera berdiri dengan sikap sempurna dan membang dadunya entah kemana.

“Selamat malam tuan…”

Lelaki itu mengangkat tangannya, melambai tegas. “Siapkan kuda-kudaku!” perintahnya.

“Baik!” keduanya segera menuju istal menyiapkan kuda yang diminta. Tidak mengherankan lagi bagi mereka jika seorang Pratyadhiraksana harus keluar larut malam, nampaknya kali ini ada tugas penting. Keduanya membawa empat ekor kuda kehadapan lelaki itu. sepert

Sambil mengangguk, lelaki itu segera meraih kekang-kekang kudanya dan menghela meninggalkan tempat. Dia memacu kudanya dengan perlahan sampai keluar dari pusat kota. Ditengah jalan, nampak empat orang lelaki datang menghampiri. Mereka berjalan bersama sampai di tengah padang rumput.

“Kalian sudah siap?” tanyanya menatap wajah keempat anak buahnya.

Mereka mengangguk yakin.

“Kali ini tidak seperti biasanya… saat ini adalah tugas hidup-mati bagi kalian, lebih baik mati dari pada gagal!”

“Kami, siap!”

Lelaki itu menyerahkan keempat kudanya—termasuk yang ditunggangi, memandang kepergian empat anak buahnya yang memacu kuda kearah berlainan, diapun mengembangkan peringan tubuh melesat cepat, meninggalkan padang rumput itu.
===o0o===

Pagi itu di Perguruan Lengan Tunggal terjadi kegemparan, satu butir kepala kambing tergantung dipintu masuk. Tentu saja kegaduhan itu tidak akan membuat suasana menjadi kacau, jika saja bekas penggalan pada kepalanya tidak rata. Tapi ini sebaliknya, sebutir kepala kambing yang tergantung tepat di pegangan pintu gerbang, di potong sangat rata, dan tanpa mencecerkan darah. Seolah-olah urat diantara leher dan kepala, terbungkus sempurna.

Seorang murid melaporkan penemuan itu pada penanggung jawab peronda, dan berikutnya dia melaporkan pada tingkatan atas. Tapi informasi itu hanya berhenti sampai disana, tidak merambat lagi lebih jauh. Semua murid yang mengetahui perihal kepala kambing itu, mendadak mendapat tugas untuk keluar perguruan dan tidak pernah kembali. Sayangnya, ada tiga orang anggota baru Perguruan Lengan Tunggal yang mengetahui tentang kepala kambing aneh itu, namun mereka tidak menyatakan diri, bahwa; mereka mengetahui. Ketiganya mendapatkan tugas membersihkan lingkungan sekitar perguruan.

“Kau tahu kemana kepala kambing itu pergi?” bisik Kaliagni pada Ludra saat dia menyambit rumput di dekat kaki saudaranya itu.

Si Macan Terbang menggelengkan kepala. “Semalaman aku menunggui, tapi hanya karena terkantuk sekejap, kepala itu lenyap! Sialan… kurasa ada setan lewat!” sungutnya sambil memotong ranting-ranting yang mulai panjang menjela.

Terdengar tawa tertahan Kaliagni.

“Nampaknya isu yang beredar di perguruan ini memang benar adanya, Tujuh Ruas, Empat Srigala, Sembilan Belantara dan Dua Bakat. Merupakan hal yang paling misterius di perguruan ini.” Gumam Mintaraga membantu mematahkan ranting. Mereka berlaku seperti halnya orang awam pada umumnya.

“Apa yang kau sebutkan tadi, apakah mereka sekelompok orang, kakang?” tanya Kaliagni.

“Pastinya begitu, perguruan ini menyimpan banyak hal yang menakutkan. Kita harus waspada…” nasehat Mintaraga pada kedua adik angkatnya. Mereka berpencar dengan mengerjakan tugas masing-masing.
===o0o===

Sementara di sebuah ruangan tersembunyi di dalam perguruan, Tujuh Ruas sedang memperhatikan kepala kambing itu dengan seksama.

“Tidak disangka tanda ini muncul lagi…” gumamnya, dia lelaki dengan roman wajah pucat seperti penyakitan. Matanya sayu seperti orang yang selalu mengantuk. Tujuh Ruas merupakan kode panggilannya. Kemahirannya tidak banyak, hanya menginterogasi orang, dan menyisakan tujuh ruas yang masih normal.

“Tepat hari ini… sudah dua puluh tahun.” Gumam lelaki dengan uban menghias seluruh kepala. Usianya baru lima puluh tahun, tapi banyaknya uban membuat diantara mereka, dirinya disebut Sembilan Belantara, wajahnya tidak terlalu mengesankan, ada bopeng bekas cacar di sekitar pipinya. Pada masa lalu tugasnya menyelinap di banyak perguruan, mengumpulkan informasi yang beredar di sana, jika sempat dia akan mencuri beberapa ilmu silat andalan. Tak heran perkembangan pustaka ilmunya paling luas diantara temannya.

“Haruskah kita melakukan gerakan lagi?” gumam lelaki berwajah lonjong, berkumis tipis bermata agak sipit. Empat Serigala adalah kode panggilanya, sifatnya peragu; bukan ragu memutuskan suatu masalah, tapi lebih kepada; jika kau adalah pihak yang sedang dihadapinya, dan dia ragu untuk memutuskan apa yang akan diperbuat padamu, maka cara yang paling sering dilakukan adalah melukai dengan mencabik leher korban—mirip serigala. Membuatmu dalam keadaan ragu—apakah kau akan mati atau hidup. Perguruan Lengan Tunggal sudah menampung dirinya lebih dari dua puluh tahun, dan membuatnya berbakti dengan menyeleksi bibit-bibit calon pesilat terbaik di seluruh negeri.

“Kurasa harus kita sampaikan padanya…” ujar Tujuh Ruas dengan tidak yakin. “Kau yakin, ini adalah cara Pratisamanta Nilakara?” tanyanya pada Sembilan Belantara.

Lelaki beruban itu mengangguk. “Mutlak, meski kebiasaannya lain, tapi caranya sangat benar dan tidak mungkin salah.” Katanya mengkonfirmasi.

Ketiganya mendesah gundah, Pratisamanta Nilakara secara harfiah berarti raja taklukan berwarna biru, bukan sebuah jenis ilmu yang maha sakti, tapi lebih kepada cara menotok yang amat rumit. Korban yang terkena totokan ini ibarat raja yang takluk—dan totokan ini hanya dikhususkan di daerah kepala(raja dari tubuh), menutup aliran udara di sebagian syaraf otak, membuat korban menjadi pucat—kebiruan. Jika korban masih hidup, menjadi idiot adalah efek paling ringan yang mungkin terjadi, sayangnya kebanyakan orang tidak akan hidup setelah kena totokan itu. Bagi sebagian kalangan maha guru silat, cara totok itu juga disebut Raja Diraja, karena hingga saat ini tidak diketemukan bagaiman cara memunahkan jenis totokan itu. Setelah pembuluh menutup sempurna, pada saat leher di penggal, tidak ada setetespun darah keluar. Sementara pada bagian tubuh yang terpenggal-pun, selama beberapa saat aliran darah masih akan bersirkulasi dan jatung masih berdenyut—sampai akhirnya udara dalam darah habis.

“Kita masih terikat sumpah, aku bukannya takut…”

“Omong kosong!” Sembilan Belantara memotong ucapan Empat Serigala. “Kita semua harus jujur jika ingin lebih maju! Kekuatan kita jika dibandingkan orang itu seperti langit dan bumi! Kita memang takut…” tukasnya dengan suara lirih.

Empat Serigala menunduk, dilihatnya segaris tipis luka di nadi tangan. “Aku bersumpah akan membalas mereka!” desisnya.

Sembilan Belantara tertawa pendek—lebih kepada mentertawakan dirinya sendiri, “Sepertinya itu tidak mungkin…” ujarnya tenggelam dalam keputusasaan.

Tujuh Ruas sangat paham apa yang sedang dirasakan rekannya, “Nasibmu, seperti nasib kita semua… Pedang Tetesan Embun terlalu hebat untuk ditandingi…” ucapnya.

“Bukan pedangnya, tapi orang yang memegangnya!” ralat Sembilan Belantara.

“Terserahlah… tapi aku menilai, saat ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan pembalasan!” tegas Tujuh Ruas diamini oleh Empat Serigala.

Sembil Belantara nampak berpikir sejenak. “Baik, jika menurut kalian tanda ini menjadi kesempatan bagi kita untuk membalas, aku akan melaporkan pada Dua Bakat.”

“Secepatnya!” ketus Empat Serigala menekankan.

Lelaki beruban itu mengangguk, kepala kambing itu dia bungkus dengan hati-hati. Benar kata Empat Serigala, dia harus secepatnya melaporkan ini kepada Dua Bakat, pimpinan mereka. Sebab ‘sinyal’ dari pimpinan masa lalu mereka sudah kembali bergaung. Entah ini menjadi pertanda baik atau pertanda buruk, dia akan memberikan pertimbangan terbaiknya pada Dua Bakat.
===o0o===

Dua Bakat, dia sebut seperti itu karena memiliki dua kemampuan sangat menonjol. Bersalin rupa, meniru wajah seseorang yang pernah dilihatnya—cukup sekali, dan mencuri barang-barang yang sangat sulit didapat. Asal kau tahu dimana tempatnya, tidak perduli serapat dan setangguh apapun penjagaannya, Dua Bakat memastikan bisa mendapatkan barang itu. Bayarannya tidak mahal, hanya seluruh harta bendamu—berikut baju yang melekat di tubuhmu. Tidak mahal kan? Sebab dia tidak meminta nyawamu.

Kepala kambing itu seperti sebuah beban di hatinya, sambil memandang Sembilan Belantara, orang yang tidak pernah menampilkan wajah aslinya pada siapapun ini bertanya. “Apa pendapatmu?”

Lelaki beruban ini menghela nafas panjang. “Jika mengacuhkannya, kita jelas bersalah. Kemarahannya tak terbayangkan. Tapi jika kita lakukan ini, aku kawatir pemilik Pedang Tetesan Embun akan datang pada kita, satu-satunya cara, kita harus melakukannya dengan diam-diam—seperti biasanya…”

“Apakah cara itu bisa mengelabui pemilik Pedang Tetesan Embun?” potong Dua Bakat denga nada tajam.

Sembilan Berantara terdiam. “Kita akan bertindak lebih tersembunyi, lebih tenang… tanpa meninggalkan tempat ini.”

Dua Bakat menghela nafas panjang. “Orang itu memang siluman, dengan beragam cara aku mencoba keluar dari sini, tapi tidak lebih dari satu pal aku melihat tandanya ada dimana-mana. Itu memaksaku untuk kembali…” katanya dengan pahit. “Tidak disangka perguruan ini justru jadi penjara bagi kita!”

Sembilan Belantara menunduk, “Mu-mungkinkah dia bisa menandai ciri khas penyamaranmu itu?”

“Entahlah…” ujar Dua Bakat dengan putus asa. Biarpun dia ingin menjawab panggilan pimpinannya tapi diapun tak punya keberanian untuk keluar dari Pergurua Lengan Tunggal.

“Bagaimana jika kita mengutus murid-murid Perguruan Lengan Tunggal?” usul Sembilan Belantara. “Tua bangka itu sudah memeras cukup banyak tenaga kita untuk kepentingannya, saat ini… giliran kita peras dia!”

Dua Bakat terdiam sesaat, lalu menggeleng. “Memeras dan mengancamnya tidak akan menyelesaikan masalah kita. Selama ini aku mengikuti perkataannya bukan karena aku takut dengan ancaman, tapi aku sedang menunggu saat-saat seperti ini. Setiap kali usulku dipakai olehnya aku mencoba melemparkan umpan keluar… aku berharap tanda yang dibawa anak-anak murid perguruan ini akan dilihat beliau, jika saat ini beliau menjawab dengan memperlihatkan Pratisamanta Nilakara, sangat tidak sopan jika aku tidak menjawab panggilan itu!”

“Aku akan mengutus anak murid yang paling tidak berguna, untuk melakukan tugas ini.” Gumam Sembilan Belantara.

“Apa alasanmu?”

“Jika tiap gerakanmu di pantau oleh pemilik Pedang Tetesan Embun, artinya; setiap orang yang memiliki kemampuan yang mendapat tugas dari perguruan ini akan mendapat perhatian. Berbeda jika kita mengutus orang biasa, kupastikan dia tidak akan mengurus hal sesepele itu.”

Dua Bakat tercenung, “Begitupun baik…” lalu dia menuliskan sepucuk surat yang tidak mungkin dibaca orang lain, sebab tulisan itu hanya bisa diartikan oleh pimpinannya. “Berikan ini pada orang yang kau tunjuk. Kita akan menunggu hasilnya!”

Sembilan Belantara membawa surat itu kedalam ruangannya, dia mencoba mengartikan tulisan yang digoreskan Dua Bakat, tapi tak sepatah katapun dia bisa membacanya, entah huruf apa yang digunakan.
===o0o===

Macan Terbang terkaget-kaget saat dirinya dipanggil oleh penanggungjawab lingkungan perguruan, dengan hati berdebar takut, dia melangkah memasuki ruangan yang biasa digunakan untuk mendistribusikan kebutuhan rutin perguruan. Dalam hatinya dia khawatir penyamarannya sudah diketahui pihak Perguruan Lengan Tunggal.

Mereka bertiga diselundupkan ke perguruan itu dengan perhitungan sangat matang, Sora Barung dan Sena Wulung yang diketahui sebagai Ketua Sembilan dan Ketua Sepuluh telah menyiapkan dengan sangat seksama. Meskipun mereka menekan ketiganya dengan menyandera seluruh keluarga mereka, untuk melakukan penyelundupan ini seluruh riwayat hidup ketiga orang itu mereka gubah sedemikian rupa.

Tidak aneh, saat pihak Perguruan Lengan Tunggal melakukan verifikasi secara langsung pada lokasi yang diinformasi ketiganya, mereka tidak menemukan kebohongan. Setiap warga yang mereka tanya, kenal baik denga Ludra bertiga, bahkan mereka bisa menceritakan masa kecil ketiganya. Bagaimana mungkin Perguruan Lengan Tunggal bisa menemukan kejanggalan, jika seluruh penduduk desa adalah kaki tangan jaringan Ketua Sembilan dan Sepuluh?

Itu alasan ‘sederhana’ kenapa Tujuh Ruas, Empat Srigala, Sembilan Belantara dan Dua Bakat tidak memeriksa kembali latar belakang orang-orang yang akan mereka gunakan, sebab mereka percaya penuh dengan cara penilaian pihak Perguruan Lengan Tunggal, terhadap anak murid atau orang-orang yang dipekerjakan di perguruan itu. Itu juga yang menjadi alasan mengapa tingkat kebocoran informasi pada Perguruan Lengan Tunggal sangat minim. Sayangnya, penyelundupan Ludra bertiga adalah kekecualian.

Ternyata Ludra mendapatkan tugas untuk memesan kain di toko kelontong yang berjarak cukup jauh, dia juga ditugaskan untuk membeli seluruh kebutuhan perguruan, mulai dari hal penting sampai tetek bengek lainnya. Tentu saja Ludra menyatakan keberatannya untuk melakukan tugas itu sendiri, dia meminta kedua saudaranya untuk ikut.

Sejak saat itu, selain memata-matai Perguruan Lengan Tunggal, mereka bertiga secara bergilir mendapatkan tugas untuk membeli macam-macam hal, dan tanpa sadar di manfaatkan menjadi kurir Dua Bakat.
===o0o===

Seperti biasa, setelah beberapa saat menjadi kurir Ludra melapor, bahwa dirinya sudah kembali, dan menyerahkan daftar belajaan serta hal-hal tidak penting lainnya. Ada beberapa barang yang dicurigai oleh Ludra bertiga, tapi mereka tidak memiliki kemampuan untuk menebak atau memecahkan apa arti barang itu. Barang apa itu? Kambing! Bukan hanya mereka, siapapun yang melihat hewan seperti kambing, cuma bisa menafsirkan dua hal; di potong atau di pelihara.

Cuma kali ini kambing itu hidup, dan Ludra harus bersusah payah menariknya sepajang jalan. Kalau hanya satu ekor, itu urusan kecil. Tapi dua belas? Walau keringat mengucur deras dan membuatnya memeras tenaga, caci maki Ludra tidak juga berhenti berhamburan sepanjang jalan… membawa dua belas ekor kambing yang terus membagal (mogok jalan) tiap lima langkah membuatnya hampir hilang sabar.

Setelah serah terima, beberapa saat kemudian barulah pengurus perguruan mengumumkan hal yang membuat semua penghuni Perguruan Lengan Tunggal bersorak gembira, mereka akan mengadakan pesta. Hari itu sang ketua tepat berusia enam puluh tahun, nampaknya hidangan kambing menjadi tema utama.

Jika semua penghuni perguruan bersuka cita, keempat tokoh yang bersembunyi dalam Perguruan Lengan Tunggal itu menanti dengan debar jantung berkejaran. Kambing adalah jawaban yang ditunggu, nampaknya pimpinan mereka berhasil menemukan cara menyusupkan kabar yang paling efektif—dengan lolos dari pengamatan pemilik Pedang Tetesan Embun. Dalam kesehariannya, mereka memang bertugas sebagai penanggung jawab bahan mentah dan menu di dapur, tentu saja urusan menjagal kambing adalah tanggung jawab mereka.

Kambing sudah dikelupas dengan sempurna, isi perut juga sudah di keluarkan. Pada masa lalu, mereka berempat adalah tokoh yang memiliki wibawa cukup disegani, tidak disangka kali ini mereka harus berkubang dengan kotoran kambing demi mencari ‘jawaban’ dari sang pimpinan.

“Aku dapat!” desis Empat Serigala mengakhiri pencarian mereka. Setelah membereskan semuanya, mereka kembali keperistirahatan masing-masing, sebelum akhirnya bertemu di ruangan tersembunyi.

Dengan berdebar, Dua Bakat membuka gulungan kulit yang dibungkus dengan kulit kayu, mereka menemukannya pada empat ekor perut kambing. Dua Bakat membaca dengan sangat seksama, wajahnya nampak memerah, dengan mengepalkan tangannya seluruh lembaran kulit itu hancur lebur. Tentu saja ketiga rekannya kaget.

“Apa yang kau lakukan?” Tanya Sembilan Belantara dengan nada meninggi.

Dua Bakat tidak menjawab. “Kita pergi hari ini!” tegasnya tidak menjawab pertanyaan tadi.

Melihat wajahnya yang mengeras penuh emosi, Sembilan Belantara tidak berani mendesak lebih jauh, mereka bersiap pergi dengan jantung berdebar.

Pagi harinya, para penghuni Perguruan Lengan Tunggal digegerkan dengan kosongnya mangkuk-mangkuk sarapan pagi mereka. Pesta yang direncanakan juga dipastikan batal. Orang yang biasanya di tugaskan untuk mengurus masakan sudah menghilang. Tentu saja itu bukan kehebohan yang cukup berarti bagi penghuni Perguruan Lengan Tunggal. Hanya ketua Perguruan Lengan Tunggal saja yang menggeram penuh amarah dan rasa kawatir.

“Apakah mereka sudah menemukan tokoh sandarannya kembali?” pikirnya dengan gelisah, pembalasan keempat tokoh yang sangat dia mengerti kekejamannya, membuat Ketua Perguruan Lengan Tunggal harus bersiap sedini mungkin.
===o0o===

Masih segar dalam ingatan mereka, sebatang pedang yang sangat tipis dan berhawa dingin sudah menghancurkan keberanian dan nyali mereka hingga berkeping-keping, setiap langkah selalu dihantu bayangan pedang itu, tak heran tiap tindaknya mereka begitu berhati-hati, kegelisahan dan kewaspadaan meningkat setiap jengkal. Keheranan melanda mereka saat tak melihat adanya tanda-tanda kehadiran pemilik Pedang Tetesan Embun, seperti yang selalu dikeluhkan Dua Bakat.

Akhirnya dengan mengembangkan peringan tubuh tertinggi keempat tokoh itu lenyap di telan kerimbunan hutan, sebuah asa pembalasan dendam mulai bersemi di hati mereka. Dengan pasti mereka menuju sebuah tempat yang hanya di ketahui Dua Bakat.

Beberapa saat kemudian, sampailah mereka di sebuah bangunan yang cukup mewah. Bangunan itu lebih cocok disebut rumah peristirahatan kaum bangsawan yang biasa berburu. Tanpa ragu Dua Bakat mendorong pintu rumah itu dan masuk, terlihat oleh mereka lelaki yang dibalut dengan pakaian kelabu. Sesosok itu berusia empat puluhan, bertubuh kekar dengan bahu lebar, roman wajah tak terlalu tampan, namun terlihat begitu perkasa, orang yang memperhatikan wajahnya akan selalu timbul rasa hormat.

Dua Bakat nampak tercengang, dia tidak mengenali pimpinannya lagi. Rasanya itu bukan orang yang dia kenal. ”Siapa kau?” tanyanya dengan kewaspadaan meninggi.

”Aku adalah orang yang membongkar kebodohanmu!” ketus orang itu. ”Duduk!” perintahnya.

Dua Bakat bukan orang yang bisa diperintah sembarangan, tapi keadaan orang itu membuat dirinya harus menahan sabar.

”Dua puluh tahun terperangkap di Perguruan Lengan Tunggal, hanya karena takut dengan bayang-bayang.. konyol sekali!” gumam orang itu membuat Dua Bakat menunduk. ”Orang yang kau kawatirkan, tidak pernah mengunjungi wilayah Perguruan Lengan Tunggal selama dua puluh tahun terakhir, dia hanya menyewa orang-orang untuk menyebarkan dan melepas tanda-tanda khas miliknya, dalam waktu yang acak. Dan sangat menggelikan, itu membuatmu ketakutan…”

Barulah Sembilan Belantara dan kedua rekannya mengetahui, mengapa Dua Bakat begitu marah setelah selesai membacanya.

”Tapi, itu bukan urusanku! Aku memiliki tugas besar untukmu.” katanya dengan nada sangat mengintimidasi.

”Kau memiliki kemahiran yang cukup kukagumi. Aku ingin kau menculik Prawita Sari!”

”Siapa dia?” tanya Dua Bakat heran, dua puluh tahun tanpa keluar dari Perguruan Lengan Tunggal sudah membuatnya seperti katak dalam tempurung.

”Tidak perlu tahu! Dua hari sejak sekarang, kau cukup menunggu disini untuk menculiknya…”

”Hanya itu?” tanya Dua Bakat dengan keheranan membumbung, kalau hanya untuk urusan culik menculik wanita, rasanya terlalu janggal orang itu sampai rela menghabiskan waktu untuk ’berkoresponden’ secara teratur dengannya!

Lelaki itu mengangguk. ”Tugas berikut, akan kuberitahukan pada saatnya.” katanya sambil meninggalkan empat orang yang masih terheran-heran dengan semua kejadian ini. Orang itu melangkah melewati Tujuh Ruas dan Empat Serigala yang berdiri menghadang dipintu.

Hawa sakti yang berpendar di seluruh tubuh orang itu benar-benar membuat kedua tokoh yang dipaksa mengasingkan diri itu, buru-buru menyingkir. Tangan lelaki ini nampak melambai tanpa tenaga. Mendadak…

Kraaak! Suara berderak lirih membuat empat pasang mata melihat kearah pohon yang ’dilambai’ oleh lelaki itu. Terlihat satu lubang kecil yang membuat retakan dengan pola melingkar yang merambat secara lambat keatas batang hingga akhirnya mematahkan dahan yang berada di ketinggian lebih dari enam meter.

Wajah Dua Bakat berubah, ”Pratisamanta Nilakara…” desisnya.

“Kalian sudah paham artinya,” ujar lelaki itu sambil melirik tajam, sebelum akhirnya pergi meninggalkan mereka.

Sembilan Belantara memeriksa lubang yang dihasilkan akibat lambaian tangan orang itu, wajahnya sangat terkejut. ”Bagaimana mungkin Pratisamanta Nilakara dilakukan pada benda selain manusia? Selain kepala?” katanya sambil menatap Dua Bakat dengan bingung.

Dua Bakat menggeleng penuh rasa sesal. “Orang itu bukan seperti yang kupikirkan, tapi mengapa dia tahu keberadaan kita?” gumamnya. “Dia juga menguasai Pratisamanta Nilakara yang dikuasai junjungan kita…”

“Mungkin dia adalah muridnya?” sambung Tujuh Ruas.

“Aku tidak tahu.” Jawab Dua Bakat pendek, otaknya terasa ruwet.

Desau angin gunung membuat keempat orang itu merasa bahwa, urusan yang sedang mereka hadapi lebih memusingkan dari pada yang terlihat.

“Dia memang sangat berbakat…” tiba-tiba terdengar satu suara yang mengejutkan mereka, buru-buru mereka menoleh dan melihat lelaki tua yang berpenampilan bersahaja, dan berwajah bersih—menatapnya menimbulkan satu perasan aneh, antara lega dan takut.

“Aaah, tuan…!” seru mereka hampir bersamaan. Mereka berebut memburunya, dan bersimpuh dihadapan lelaki tua itu. Rasa haru nampak menguasai hati mereka. Lelaki tua itu pun bukan tanpa perasaan, dia menyentuh kepala mereka satu persatu. Lalu berdiri membelakangi mereka.

“Sudah lama sekali…” gumamnya dengan mata menerawang, wajah yang terlihat penuh kasih itu, menampilkan sebuah seringai yang membuat bulu kuduk meremang.

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s