103 – Menghentikan Satu Pergerakan

Kembaran Adiwasa Diwasanta memperhatikan Jaka dengan waspada, hatinya merasa sangat marah melihat sikap pemuda itu yang sangat meremehkan dirinya. Jaka berdiri sambil menatap langit, tidak melihat dirinya!

“Palingkan wajahmu!” bentak Kembaran Adiwasa Diwasanta geram.

“Kau tidak tahu kalau ini adalah pembukaan Ilmu Naga Menerima Wahyu? Benar-benar pengetahuanmu teramat cetek.” Kata Jaka, membual.

Lawan Jaka tidak berkomentar, melawan mulut tajam pemuda itu dia sadar, dirinya tak akan unggul.

Jaka sengaja bersikap seperti itu, bahkan matanya dikatupkan. Dia sama sekali tidak meremehkan lawan, itu pantangan baginya. Jaka justru sangat ingin mengetahui bagaimana pola serangan kembaran Adiwasa Diwasanta.

Warsopama, begitu si bungkuk disebut. Dia memilik julukan yang artinya ‘Bagaikan Hujan’, bukan tanpa alasan itu disematkan padanya. Adiwasa Diwasanta paham benar, julukan saudara kembarnya itu ada karena tidak pernah satu orangpun lepas dari serangannya. Begitu pula saat seseorang menyerangnya, tak ada satupun yang bisa mengenai dirinya. Itulah alasannya mengapa Beruang tidak menemukan apapun pada jejak ‘pertarungan tunggal’ di penginapan terpencil itu.

Kepada Alpanidra, dia pernah menyatakan ingin melihat ‘apakah orang itu (maksudnya Jaka) patut dilayani’, dia sudah melihat sekarang. Dari penampilannya dia berkesimpulan Jaka cukup berharga dilayani. Tapi caranya memprovokasi lawan, sungguh membuat dia yang pengalaman luas pun bergolak emosinya.

“Cerdas sekali…” gumam Adiwasa Diwasanta menyaksikan Jaka yang menutup mata, serangan dan elakan Warsopama itu mengandung unsur ilusi yang amat kental, menggunakan mata hanya akan merepotkan.

Jaka tentu saja tidak menyadari ilmu apa yang dimiliki lawannya, dia hanya merasa hawa sakti orang itu timbul tenggelam, seperti bayangan dalam kabut. Tadi dia merasakan tiap kata yang terucap olehnya menimbulkan tekanan udara yang membuat nafasn berat, dan itu cukup bagi Jaka untuk memikirkan cara mengatasi ilmu tersebut.

“Kau tidak menyerang?” Tanya Warsopama heran.

“Untuk apa, fungsi ilmuku justru menerima semua serangan.” Sahut Jaka sembari mengelak tiap serangan Warspoama.

Saat Jaka mengatakan ‘apa’, tebasan miring tangan kanan Warsopama bergerak memenggal leher Jaka, gerakannya sangat cepat. Tapi tanpa memutuskan kalimatnya, Jaka turut bergerak mengikuti serangan Warsopama, jarak lehernya dengan batas akhir tebasan itu hanya satu ruas jari saja, karena posisi Jaka yang merendah memudahkan Warsopama melihat kelemahan gerakan pemuda itu, sebuah tendangan kaki kiri memapaki gerakan elak Jaka, saat itu Jaka sedang mengatakan ‘fungsi ilmuku’, serangan itu menggencet dari atas dan bawah! Tapi gerakan Jaka—yang masih memejamkan matanya, lebih aneh lagi; tubuhnya melintir mencelat, seperti bola karet yang lepas dari gencetan atas-bawah.

Tubuh Jaka belum berdiri dengan sempura, kakinya belum lagi menjejak penuh dan kalimat ‘justru menerima’ sedang dia ucapkan. Warsopama telah memburu dengan sangat pesat dengan satu langkah lebar pada kakinya yang gagal menyarangkan tendangan, kaki kanan mencuat membuat satu tendangan lurus, tepat mengarah ulu hati Jaka. Posisi tubuh yang belum sempurna itu bagi orang lain akan sangat sulit untuk menghindari serangan ketiga yang datang begitu cepat! Tapi lagi-lagi Jaka mengelak dengan memelintirkan tubuh, berputar seperti gasing, dan tapaknya menepis tendangan Warsopama memukul tepat di urat tungkainya! Saat itu Jaka mengatakan kata terakhir; ‘semua serangan’, dan telah berdiri dengan sempurna.

Sementara Warsopama harus melejitkan kakinya lebih tinggi untuk menghindari tebasan Jaka pada tungkainya. Gerakan serang dan hindar itu berlaku tak lebih dari dua hitungan, keduanya menyerang dan menghindar dengan dinamis, kelihatannya seimbang!

Warsopama tidak berupaya menyerang kembali, dilihatnya Jaka masih menghadap keatas dengan mata tertutup. Keraguan merasuki hatinya, pemuda itu benar-benar luwes dan mengalir, mengikuti kecepatannya, bahkan bisa menyerang balik dengan kecepatan sepadan.

“Tuan….!” Mendadak dari kejauhan terdengar satu seruan, dua sosok tubuh nampak berkelebat mendekat. Jaka mengenali mereka sebagai Dukhabhara dan sosok satunya jelas derajatnya satu tingkat diatas Dukhabhara.

Pemuda bercincin tampak melihat keduanya dengan kening berkerut. “Ada apa paman?” tegurnya pada Pratisara.

Orang itu membisikkan sesuatu yang membuat wajah Bhre berubah, rona kejut terpeta jelas. “Kembali!” serunya pada Warsopama.

Warsopama terlihat ragu, pemuda itu nampak menyeringai padanya seolah mengatakan, ‘kau beruntung’. Jemari Warsopama mengepal kencang, untuk mundur begitu saja jelas bukan caranya bertarung.

“Mundur!” bentak Bhre, mengingatkan lagi.

Akhirnya dengan perasaan apaboleh buat Warsopama berjalan mendekati Bhre, dan sekelumit ucapan lelaki tampan itu membuat Warsopama terkejut lalu menoleh menatap Jaka dengan seksama.

Pemuda ini menghembuskan nafas lega, dia tidak perlu membuang tenaga sia-sia untuk menghadapi Warsopama. Serangan dan elakan orang itu membuat Jaka kawatir pertarungan bisa memakan waktu lebih lama dari yang seharusnya. Keputusan Bhre untuk menarik mundur Warsopama sepenuhnya dimengerti Jaka, tentunya Hastin sudah mengobrak-abrik sarang mereka, dan menanamkan informasi yang salah.

“Kenapa tidak kita lanjutkan? Aku bahkan belum mulai apa-apa…” Tanya Jaka kembali memprovokasi.

Wajah Bhre terlihat sangat suram, informasi terbaru yang didapati membuat dia harus memikirkan semua keputusannya. Jika dia bersikeras untuk melawan Jaka, berbuat salah pada pemuda yang miliki Swara Nabhya sebagai tulang punggungnya, jelas satu hal yang harus dia pertimbangkan secara serius. Dia tak mau membahayakan kelompoknya!

“Adiwasa Diwasanta, saatnya kau turun tangan!” akhirnya sepatah perintah yang ditunggu-tunggu Jaka dan orang tua itu, keluar juga!

“Ini perintah?” Tanya Adiwasa Diwasanta memastikan.

“Ya, kalahkan dia! Aku ingin kau mengorek semua keterangan darinya!” perintah Bhre.

“Artinya?” Adiwasa Diwasanta kembali memastikan.

“Hutang janjimu padaku, impas!” jawab Bhre dengan mata mencorong tajam, nampaknya kejadian demi kejadian yang tidak dia perhitungkan membuatnya harus melakukan langkah drastis, dengan terpaksa pula harus melepaskan asset terbesarnya—tenaga seorang Adiwasa Diwasanta! Tapi diluar itu semua, dia merasa ‘aman’ jika berhasil berlepas tangan dari jangkauan Swara Nabhya, saat ini kelompoknya jelas tidak terlibat pada ‘aksi peringkusan’ pada orang yang ada dalam perlindungan Swara Nabhya.

“Bagus!” seru Adiwasa Diwasanta terbahak. “Bersiaplah anak muda!” bentak Adiwasa Diwasanta dengan belasan pukulan jarak jauh membahana menghunjam sekujur tubuh Jaka Bayu.

Adiwasa Diwasanta sadar, ilmu Menerobos Jazad Emas tidak berguna dalam menghadapi pemuda itu, maka pukulan yang membuatnya ditakuti semua kalangan dipenjuru dunia persilatan terhambur mencengkram udara, membetot tiap kebebasan gerak lawan. Pukulan Nisturanisphala (kekerasan yang tidak berguna). Jika sebelumnya Jaka pernah melihat ilmu itu dilepaskan murid si orang tua, kali ini tingkat kedahsyatan benar-benar seperti langit dan bumi!

Jaka merasakan semua gerakannya ditahan oleh kehampaan yang sangat mendadak, kecepatannya hilang, kakinya menjadi lemah. Tapi dari awal pemuda itu memang tidak berupaya menghindar, melainkan membalasnya dengan satu pukulan sederhana yang memapaki belasan gumpalan hawa padat itu.

Bress! Satu benturan pukulan saling beradu, hawa sakti milik Jaka lenyap begitu saja seperti asap, sementara sisa pukulan Adiwasa Diwasanta menerobos pertahanan hawa murni pemuda itu dan langsung menghajarnya dengan bertubi-tubi!

Suara letupan bagai petasan terdengar dari tubuh pemuda itu, langkahnya tersurut mundur hingga belasan kali, sebelum akhirnya jatuh terguling-guling dan rebah terdiam.

Suasana begitu hening, senyap… apakah pemuda yang memilki tulang punggung kekuatan dari Lembah Halimun, terkalahkah? Tewas?

“Di-dia kalah?” Tanya pemuda bercicin itu pada Bhre dengan suara tergetar.

Wajah lelaki itu nampak tidak pasti, sampai akhirnya dia mengangguk membenarkan. “Nampaknya dia kurang beruntung… sayang sekali kita tidak bisa mendengar keterangan apa saja yang bisa dia berikan…”

“Lalu… akan kita apakan?” pemuda bercincin bertanya lagi.

Sebelum Bhre menjawab, tubuh Jaka Bayu bergerak… darah pemuda itu nampak berlumuran diwajahnya. “Betul sekali, aku sudah kalah!” katanya sambil berdiri.

Bhre terkejut sekali melihat lawan yang terkena Pukulan Nisturanisphala masih bisa bergerak, bahkan kini berjalan dengan entengnya. Dia sadar betul Pukulan Nisturanisphala selain menghilangka udara yang beredar didalam tubuh lawan—hingga menimbulkan efek lemas, juga memiliki kekuatan himpitan yang sanggup menghancurkan organ dalam lawan. Tapi selain wajah pemuda itu belepotan darah—karena semburan dari mulutnya, dia tidak melihat ada luka lain.

“Kau sudah mengatakan aku kalah, aku juga sudah mengakui diriku kalah… artinya, kau tak lagi memiliki cara untuk mengikat Adiwasa Diwasanta… menyedihkan sekali.” Ujarnya sambil menatap Adiwasa Diwasanta yang masih terdiam dengan posisi memukul.

Semua orang baru merasa heran dengan posisi Adiwasa Diwasanta yang membeku tidak bergerak, beberapa belas hitungan kemudian terdengar teriakan membahana dari mulut orang tua itu, dan belasan pukulan terhambur kembali kedepan, sayangnya Jaka sudah tidak ada disitu, pukulan itu menghancur leburkan semua objek yang dikenainya.

“Selamat! Kau sudah tidak dibawah kendali orang itu lagi…” kata Jaka menyadarkan ketermanguan Adiwasa Diawasanta.

Wajah orang tua itu nampak terpukul, apa yang terjadi pada Alpanidra ternyata terjadi pula dengan dirinya. Tidak di sangka belum lagi satu hari, pemuda itu sudah bisa menyempurnakan pukulan anehnya. Pada saat menghadapi Alpanidra, Jaka masih memerlukan beberapa belas gerakan ancang-ancang sebelum melepaskan pukulan yang membekukan, dan harus memukulkan secara langsung. Tapi kali ini Jaka tidak perlu lagi mengenai obyek serangannya, pukulan aneh pemuda itu bahkan merambat melalui jalur hawa sakti Pukulan Nisturanisphala.

Bhre menatap Jaka dengan pandangan aneh. “Jadi, kau membuat semua ini terjadi hanya untuk melepaskan dia dari kendaliku?”

“Betul!” sahut Jaka mengelap darah yang ada di mulut dan beberapa bagian wajahnya.

“Kau… kau… benar-benar menganggap remehku!” geram Bhre, pemuda itu melangkah mendekati Jaka, mereka kini berhadapan. Tatapan Bhre menyiratkan amarah dan kekuatan yang ingin segera melumat Jaka, tapi tatapan Jaka yang dalam dan tenang seolah menelan semua itu.

Dari tubuh Bhre terdengar letupan berderak, Jaka bisa merasakan hawa sakti pemuda itu meluap mengambur. Sebuah pukulan yang sangat lambat, lurus mengarah dada Jaka. Seantero kemarahan dan luapan hawa sakti yang terbit mengiringi.

Kesederhanaan pukulan itu mengingatkan Jaka pada cara yang biasa dilakukan Hastin, Jaka tidak menghindar, penyakitnya ingin tahunya muncul lagi! Dengan satu tarikan nafas yang cepat membuat sirkulasi hawa murninya berkumpul di dada.

Desh! Pukulan itu menerpa dada Jaka, pemuda itu merasakan sensasi yang pernah dirasakan pada pukulan Kiwa Mahakrura, bedanya ini jauh lebih kuat. Energi yang menyertai pukulan itu meletup menghambat seluruh jalur hawa murni, menerobos paksa pertahanan Jaka dan begitu cepat menembus jantung, dengan sentakan-sentakan bagai ledakan pada tiap sendinya dan seantero isi dada, membuat orang yang tidak paham cara menaklukan jenis serangan itu, lumpuh. Jaka sudah siap mengantisipasi hal itu, serangan yang senada dengan ilmu Kiwa Mahakrura berhasil dihalau dengan sistem pernafasan Melawat Hawa Langit.

Tapi mendadak wajah Jaka nampak berubah pucat diliputi penuh keterkejutan, sistem olah nafas Melawat Hawa Langit adalah dari luar menuju pusat, bukan dari pusat menuju kedalam—kesekujur tubuh, artinya; pemuda ini sanggup memanfaatkan hasil serapan hawa diluar lingkungan tubuhnya sebagai tambahan daya sakti. Tapi disekujur tubuh Jaka seolah diselimuti hawa yang sangat solid, padat! Membuat Jaka tidak bisa menyerap hawa dari luar untuk memperkuat pertahanannya. Buru-buru Jaka menarik nafas panjang.

Kali ini wajah Bhre yang menampilkan rekasi terkejut, kecepatan sirkulasi hawa murni Jaka benar-benar membuatnya percaya apa yang disampaikan pemuda bercincin, bahwa; lawannya memiliki kemampuan untuk menjiplak gaya dan ilmu. Kali ini sirkulasi dalam ilmu Triagni Diwangkara dilakukan Jaka untuk melawan ilmu yang sama!

Krek!Trak-trak! Suara berkrotokan seperti letupan bakaran ranting berkumandang disekujur tubuh Jaka. Tinju Bhre yang masih menempel di dada Jaka terpental! Lelaki itu terjajar beberapa tindak kebelakang, memperhatikan Jaka dengan tatapan bingung. Bagaimana dia tidak bingung, tenaganya yang dikerahkan menyerang jantung, dibalikkan dengan sempurna dengan hempasan yang begitu padat. Dan dia merasakan itu adalah tenaganya sendiri!

Jaka mengelus dadanya. “Ilmu yang hebat… sangat hebat!” gumamnya sambil menyedot nafasa dalam-dalam. “Hhhh!” sebuah hempasan nafas yang dalam, membuat wajah pucat Jaka kembali merah merona.

“Sebenarnya, tujuanku tidak hanya itu…” kata Jaka.

Bhre paham, yang dimaksud Jaka adalah; melepaskan Adiwasa Diawasanta di bawah kendalinya. Diapun merasa tidak ada gunanya mempertahankan Adiwasa Diawasanta, pertama; seseorang yang mendapatkan dukungan Swara Nabhya ternyata begitu ngotot membantu orang tua itu. Ini sangat tidak menguntungkan dirinya. Kedua; diluar kehebatan olah kanuragannya yang membuat Wasopama ragu dalam bertindak; cara pemuda itu bereaksi pada tiap situasi, dan caranya bicara, membuat Bhre harus menelan semua amarah dan ketidakpuasannya. Dia dipaksa mendengar perkataan pemuda itu lebih lanjut.

“Aku ingin kau mundur dari kancah ini…”

Geraham Bhre langsung mengembung begitu mendengar ucapan Jaka. “Kau pasti sedang bermimpi! Kau tidak sadar dengan ucapanmu?!”

Jaka menggeleng, “Aku sangat sadar. Akupun paham kau sudah mengerahkan biaya dan pikiran untuk kegiatan yang saat ini kau jalankan. Tapi kau harus mengerti, ada banyak pergerakan di tengah pusaran badai kekacauan ini. Aku harus menghentikan semua pergerakan yang ada, dan menangkap pengganggas semua kegilaan ini. Aku tidak melihat kau sebagai otak dibalik kejadian demi kejadian… maksudku apa yang ada di Perguruan Naga Batu. Kau hanya orang sekedar lewat dan memanfaatkan pergolakan yang ada, tapi kau tidak sadar… apa yang kau lakukan inipun berada dalam perhitungan orang lain! Setiap tindakanmu dibawah kendali orang!”

“Omong kosong!” bentak Bhre tidak percaya.

“Seorang putri telah diculik satu bulan yang lalu, sebuah lawatan persahabatan antar kerajaan telah dilaksanakan kurang lebih tujuh hari lalu, dan seorang putri kerajaan kembali hilang, dua kerajaan menegang. Situasi panas memudahkan segala sesuatu…”

“Dari mana kau tahu rencana itu?” potong Bhre dengan wajah berubah, berdasarkan jaringannya yang sudah bergerak kesegenap penjuru, dia berhasil memetakan beberapa masalah yang sedang terjadi.

Tentu saja Jaka tidak akan mungkin mengatakan itu adalah hasil kerja keras Cambuk dalam mengartikan simbol dalam peta gua batu yang mereka dapatkan. “Jika kau bisa menyimpulkan seperti itu, akupun bisa. Bukan hanya kau yang memiliki jaringan…”

Bhre terdiam. Apa yang dikemukaan Jaka memang sama persis dengan kesimpulan-kesimpulan yang mereka ambil.

“Aku menginginkan kau mundur bukan berarti menghalangi langkahmu dalam melakukan usaha-usaha tersembunyimu! Kau bisa melakukan itu setelah mendapatkan tanda dariku…”

“Tidak bisa! Apa kau pikir aku bekerja dibawah dirimu?!” bentaknya seperti kehliangan kendali.

Jaka terdiam sesaat. “Kau adalah manusia merdeka. Aku tidak perlu mengikatmu dengan macam-macam hutang janji…” katanya menyindir pola kerja Bhre.

“Tapi saat ini, tolong… tolong jangan paksa aku mengerahkan kekuatanku untuk beradu dengan gerakanmu. Itu akan merugikan kita berdua, kau dapat telanjang di pentas ini, dan akibatnya aku juga terpaksa membrangus semua orang yang terlibat disini. Aku tidak ingin ada pertumpahan darah!”

“Lagakmu seolah kau ini yang paling berkuasa!” ketus Bhre.

Jaka tertawa, “Kita sama-sama berkuasa.” Wajah pemuda yang biasanya murah senyum ini kini mengeras dengan penuh ancaman. “Aku tahu kau memiliki kemampuan yang tak mengecewakan, tapi jika kau harus melawanku saat ini.. kemenangan yang mungkin bisa kau peroleh akan dibayang dengan mahal… sangat mahal!”

Pada saat mengatakan ‘sangat mahal’, semburat hawa panas keluar dari tubuh Jaka, menggulung sampai dua puluh kaki disekitar mereka berdiri, menghanguskan semua kehidupan disekitar itu. Hawa sepanas gejolak merapi itu tapi pada sepuluh kaki disekeliling Jaka dipenuhi uap putih membekukan—melindungi rerumputan dari hempasan hawa panas, wajah yang nampak mengeras itu nampak meredup dengan tatapan mata beku, buram, dan tidak bersemangat. Dan dalam beberapa kejap saja, seluruh hawa panas dan dingin yang berpendar hebat, lenyap begitu saja seolah ada daya hisap dari tubuh pemuda ini.

Bhre adalah orang yang sangat pintar, dia menguasai beragam ilmu, dia bisa mengambil apapun yang diinginkan, dia bisa menyuruh siapapun untuk melakukan apapun aksinya, tapi menyaksikan kondisi lawan yang ada dihadapan saat ini, membuatnya harus berpikir panjang. Meditasi Batu Mulia yang bercampur dengan gabungan beberapa hawa sakti, bukan hal mudah yang bisa ditaklukannya begitu saja. Kecerdasan lawan yang lebih muda itulah yang lebih menakutkan dari semua ilmu yang dipelihatkan tadi.

“Aku tidak rela jika harus mundur begitu saja!” gumam Bhre dengan mengambil sikap tempur pula.

Jaka bisa merasakan kekuatan mencengkram udara begitu menekan muncul secara cepat, agaknya Pukulan Triagni Diwangkara yang dikuasai Kiwa Mahakrura jika dibandingkan dengan orang ini, seperti langit dan bumi, tapi Jaka bisa melihat jalur yang berbeda. Satu kesamaan yang bisa di identifikasi adalah kecepatannya dalam menghimpun hawa murni, seolah Sang Bhre memiliki cadangan hawa sakti yang tak terbatas, selama masih bisa mengolah nafas, dia bisa menghimpun sekehendak hatinya.

Wajah Adiwasa Diawasanta berubah, ancang-ancang yang dilakukan Bhre adalah ilmu Lima Kipas Terkembang. Sungguh tidak disangka semuda itu menguasai ilmu langka yang sudah punah. Lima Kipas Terkembang dibagi dengan lima tingkatan, jika seseorang sudah berhasil menguasai satu jalur kipas terkembang, tiap serangannya akan mengeluarkan debur angin yang membuat pohon pun tercabut hingga akar-akarnya. Jalur kedua, bisa mencabik objek yang dituju, jalur ketiga menghanguskan, jalur keempat membekukan. Dan jalur kelima adalah gabungan keempat tingkatan sebelumnya.

Meskipun Adiwasa Diawasanta merasa dirugikan oleh kedua pemuda itu, dia merasa saying jika salah satu dari keduanya harus luka atau mati. Kondisi mereka berdua seperti anak panah yang siap di lepas, pergolakan hawa sakti keduanya membuat situasi di sekitar Kuil Tua itu begitu muram dan menakutkan.

Jaka melirik sepintas kearah Adiwasa Diawasanta, bibirnya tersungging senyum tipis. “Hiaah!!” Dengan bentakan nyaring, pemuda ini menghamburkan pukulan, sebuah inisiatif serangan yang sangat jarang di lakukan.

Bhre-pun melakukan hal yang sama, tenaga yang tercurah membuat tanah disekelilingnya terbongkar.

Adiwasa Diawasanta bergerak cepat, dua buah tenaga yang tercurah itu direnggutnya dengan kekuatan Menerobos Jazad Emas, kedua kekuatan yang amat dahsyat itu dibelokkan oleh orang tua itu kedepan.

Blar!! Dentuman memekakkan telinga membuat semua orang terdiam dengan berbagai perasaan teraduk.

Bhre menatap Adiwasa Diawasanta dengan pandangan berterima kasih, Jaka juga tersenyum pada orang tua itu.

“Kalian berdua merupakan sendi-sendi masa depan dunia persilatan… saling bertarung ditengah himpitan banyak masalah yang merugikan, itu perbuatan tolol!” seru Adiwasa Diawasanta menasehati.

Semua orang bisa merasakan hawa sakti Bhre sudah mereda, demikian pula dengan Jaka, pemuda itu terlihat seperti orang yang tidak pernah bertarung.

“Kau dapatkan keinginanmu!” mendadak Bhre memutuskan menyetujui permintaan Jaka. Dia merasa memaksakan egonya hanya akan membawa kepada kehancuran dan kerugian yang sangat besar.

Pemuda itu mengangguk-angguk. “Terima kasih banyak…”

Tanpa mengucapkan kata-kata lagi, Bhre melesat meninggalkan tempat itu diikuti empat orang pengikutnya.

“Jaka…” panggil Adiwasa Diawasanta. “Boleh aku memanggil namamu?” seperti itu.

“Itu memang namaku Ki,” kali ini Jaka merubah panggilan dari ‘kau’ menjadi ‘Ki’, artinya apa yang sudah terjadi tadi sepenuhnya adalah cara untuk mengontrol situasi. Dengans sendirinya Jaka selalu mehormati orang yang lebih tua.

“Kenapa kau sengaja tidak menggunakan tenaga yang bisa menyegel Menerobos Jazad Emas?”

Jaka tersenyum, tidak menjawab.

“Kau sengaja, melakukan itu untuk memancingku bergerak?!” tanya Adiwasa Diawasanta memastikan. Melihat pemuda itu tidak menjawab kecuali hanya tertawa, membuat orang tua ini geregetan.

“Ilmu Ki Adiwasa Diawasanta benar-benar hebat, aku tak sepenuhnya bisa menyegel daya sedot tenagamu..”

Ki Adiwasa Diawasanta tahu Jaka hanya membual untuk menyenangka dirinya. Tapi diapun tidak bermaksud mendebat ucapan sembarangan Jaka. Orang tua itu hanya menghela nafas panjang.

“Aku harus permisi Ki, ada pekerjaan yang harus kulakukan…” kata Jaka sambil menghormat. “Sayang sekali paman, bajumu harus rusak lagi…” kata pemuda ini pada murid Ki Adiwasa Diawasanta.

“Jika kau tak keberatan, kau bisa gunakan bajuku…” kata lelaki paruh baya ini.

“Terima kasih atas kebaikanmu, dengan senang hati.” Sahut Jaka menerima baju yang di gunakan murid Ki Adiwasa Diawasanta.

Dengan menganggukan kepalanya, pemuda itu meninggalkan guru dan murid yang masih disekap berbagai pertanyaan.

“Dia mengaku kalah dariku… sialan! Benar-benar sialan!” gerutu Ki Adiwasa Diawasanta dengan hati rusuh, bersama muridnya dia memutuskan meninggalkan Kuil Tua secepat mungkin, ledakan terakhir itu pasti akan memancing orang-orang dari Perguruan Naga Batu untuk mendekat.

Kesunyian kembali melingkupi Kuil Tua, aura sakral kembali berpendar, seolah kedatangan sekelompok orang-orang tadi menekan wibawa kuil yang sudah berusia ratusan tahun itu.

Dan burung-pun kembali bersenandung…

TAMAT – BAB I

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s