102 – Adu Licin

Sebelum kakinya menapak dengan sempurna, Jaka menyambut kehadiran sosok itu dengan sebuah lontaran energi padat. Tidak bermaksud membentur secara langsung, sebab lontaran energi pemuda ini menanjak tegak lurus menuju kaki, jika orang itu cukup punya nyali–mengacuhkan kemungkinan kakinya remuk diterpa himpunan hawa itu, dia akan memanfaatkan energi Jaka sebagai pijakan, jika kemahiran orang itu seperti yang di pikirkan Jaka, maka energinya akan diserap.

“Hmp… Kurang ajar!” seru orang itu dengan suara tajam. Ujung kakinya dia biarkan diterpa gumpalan hawa murni lawan yang melesat pesat. Warna dan bentuk hawa yang dilontarkan pemuda itu seperti himpunan embun pagi, begitu tersentuh ujung kaki orang tua itu, serangan itu tersedot begitu cepat, dan lenyap begitu saja.

Tapi sontak wajah orang tua itu berubah, “Hiaaah!” dengan pekikan membahana, dia menghempaskan tangannya kepermukaan tanah. Tubuhnya yang belum lagi menjejak tanah melambung kembali, dan kali ini telah menjejak tanah dengan kokoh.

Wajahnya tidak berubah dengan apa yang baru saja terjadi, tapi keningnya berkerut dalam. Dengan dingin orang tua itu berkata: “Kau tahu kenapa aku disebut sebagai Adiwasa Diwasanta?”

Jaka mengangkat bahunya seolah tak perduli. “Ya, Penghenti Malam… Aku cukup mengerti artinya.” jawabnya ringan.

Wajah pemuda ini terlihat cerah, pertanyaan dalam benaknya terjawab sudah. Saat dia menghindari pukulan-pukulan lelaki paruh baya itu, badai tenaga yang ditimbulkan oleh serangan itu, bukan menghempas, tapi menyedot, membuat nafas sesak. Jaka merasa pernah melihat tenaga semacam itu, tapi dia tidak ingat siapa yang melakukannya, maklum saja pukulan yang dilakukan Adiwasa Diwasanta–saat membuang tenaga sakti milik Alpanidra, memiliki tingkatan yang lebih tinggi jika dibandingkan serangan lelaki paruh baya itu. Maka serangan tadi dilakukan untuk membenarkan dugaannya.

“Bagus! Dan kau masih berani menghadapiku sekarang?!”

Jaka tersenyum. “Saat ini masih terlalu jauh dari malam, bagaimana aku tidak berani?” katanya dengan bahasa bersayap dan provokatif.

orangtua itu memperhatikan Jaka dengan seksama, baru disadarinya pemuda itu tidak mengenakan baju–hanya bertelanjang dada. Tapi bekas luka-luka itu… Wajah orang tua ini berubah serius.

“Hm… jadi dengan cara ini, kau mencoba menekanku?!” dengusnya mengomentari penampilan Jaka.

Jaka tertawa panjang. “Aku tidak bermaksud begitu, kebetulan saja bajuku hancur terkena pukulan-pukulan paman itu…” Jaka menunjuk kebelakang orang tua itu.

Tanpa menoleh Adiwasa Diwasanta paham, murid tertuanya memang mengikuti dia. Sempat diceritakan olehnya tentang kehadiran pemuda yang bermaksud aneh, dia hampir menduga jika itu adalah Jaka. Tapi saat muridnya menyatakan pemuda itu bisa menghindari serangan yang mengadung ilmu Menerobos Jazad Emas, orang tua itu menyangsikan dugaannya sendiri. Dalam pikirannya saat itu, kemungkinan besar yang menyambangi muridnya adalah tuan muda dari Pisau Empat Maut—jika benar begitu, akan sangat gawat baginya, karena itu dia bergegas untuk berangkat.

Tapi begitu sekarang bertemu, ada kelegaan di hatinya—bahwa dia bukan tuan muda dari Pisau Empat Maut. Dilain sisi, amarahnya muncul, sungguh berani anak muda itu mempermainkan dirinya! Ditengah amukan rasa dongkol dan marah, dia jadi teringat perbincangannya dengan Jaka.

Pemuda itu menyatakan tekniknya nyaris sempurna, dan sungguh tidak disangka saat ini dia membuktikan ucapannya. Seharusnya teknik Menerobos Jazad Emas miliknya, bisa menyerap energi dalam bentuk apapun, meski itu hawa beracun! Dengan kemampuan itu, dia bisa menyalurkan hawa beracun itu sesukanya. Tapi kali ini berbeda.. gumpalan energi yang diserap dari Jaka, rasanya—seperti menelan duri—tidak menyakitkan tapi sangat tidak nyaman. Perasaan seperti itu benar-benar harus di enyahkan sesegera mungkin. Itulah yang membuat dia tanpa banyak pikir harus menyeburkan energi hasil serapannya secepat mungkin.

Seharusnya dengan teknik Menerobos Jazad Emas, penyaluran tenaga lawan bisa dilakukan dengan mudah, tapi rupanya tenaga yang di kerahkan Jaka seperti benalu, begitu terserap, langsung mengikat hawa murninya.

Akibatanya saat dia menghempaskan tenaga, tak sedikit tenaga sendiri yang turut terbuang sia-sia. Pemuda itu benar-benar membuktikan ucapannya, dia berhasil mengunci kemampuan Menerobos Jazad Emas secara sempurna! Kelemahannya terungkap tanpa pemuda itu harus menjelaskan.

Kemarahannya mereda perlahan, anak muda itu benar-benar tidak bisa dianggap remeh. Saat ini, dia harus mencari tahu motivasi apa yang membuat Jaka berani ‘menantang’ dirinya. Apa dia benar-benar akan ‘menolongnya’?

Lelaki paruh baya yang menjadi lawan Jaka melemparkan baju berwarna putih kepada pemuda itu. Tidak ada kesan permusuhan di wajahnya. “Tadi, aku bermaksud memberikan ini padamu… tapi kau pergi begitu cepat.”

Jaka menangkap dan segera mengenakan baju itu. “Sangat pas, terima kasih banyak…” katanya sambil merapikan bajunya.

“Jadi, apa tujuanmu?” orang tua ini bertanya tanpa basa-basi.

“Memijakkan kaki pada dua buah perahu itu berbahaya.” Kata Jaka perlahan.

“Kau tidak perlu mengajariku!” sahut orang tua ini berang, ucapan Jaka itu benar-benar satu tamparan buatnya. “Katakan, apa maksud semua tindakamu?!”

Jaka menghela nafas pendek. “Jika kau suka dengan posismu yang ditekan seseorang bernama Bhre, aku akan berlepas tangan dari urusan ini.” Kata Jaka membuat orang tua ini merasa pemuda itu seperti serigala, benar-benar licik.

Ucapannya seolah tidak memiliki tendensi, tapi betapapun Adiwasa Diwasanta adalah orang yang sudah kenyang pengalaman, memiliki nama yang ditakuti, dan sejauh ini belum memiliki lawan sepadan! Dia menyadari betapa berat ucapan Jaka. Jika dia mendebat ucapan pemuda itu, berarti dirinya lebih suka di ‘perbudak’ Bhre, dan kelanjutannya, dia bisa merasakan dalam ucapan itu ada bencana yang lebih besar. Jaka memiliki piutang janji dengan tuan muda dari Pisau Empat Maut. Dan memiliki posisi sejajar dengan tua muda yang dia ikuti. Adiwasa Diwasanta tak perlu berpikir panjang, untuk menyadari bahwa; sepatah kata dari Jaka bisa membuat dirinya terpojok dalam posisi sangat sulit.

Tapi dilain sisi, jika dia menyetujui rencana Jaka, bukankah sama artinya; dia harus mengaku kalah di depan pemuda yang pantas menjadi cucunya itu?! Karena pada akhirnya Bhre akan memerintah dirinya untuk melawan pemuda itu, dengan sendirinya dia harus melakukan itu untuk menunaikan hutang janjinya pada Bhre—apapun yag terjadi. Pada saat pertarungan nanti, jika dia berhasil memojokkan lawan, tentu Jaka akan menggunakan akal untuk memberitahukan pada tuan mudanya; bahwa dirinya berhubungan dengan perkumpulan lain. Amarah dalam dada membuatnya berniat membunuh Jaka, tapi nalarnya masih cukup kuat untuk berpikir bahwa; hal itu jelas tidak mungkin dilakukan, sebab jelas-jelas tuan mudanya sedang mengikat perjanjian dengan Jaka. Membunuhnya akan membuat urusan makin sulit dan rumit!

Kesana-kemari yang ada hanya jalan mati, baru kali ini seorang Adiwasa Diwasanta berada dalam posisi disudutkan begini, sudah jatuh tertimpa tangga! Benar-benar sialan! Orang tua itu menggeretakkan gigi hingga berderit.

“Aku tidak penah suka dalam tekanan orang—siapapun dia, tapi aku selalu memegang janjiku!” desis orang tua itu menjelasklan sikapnya dengan perasaan campur aduk. Jelas seluruh amarahnya bisa sewaktu-waktu tertumpah pada pemuda itu, tapi diapun sadar itu tak mungkin dilakukan secara sembarangan.

“Kau orang terhormat…” Puji Jaka.

“Tentu saja!” ujarnya dengan geraham menggembung. Orang tua ini benar-benar ingin menghajar wajah Jaka yang selalu tersembul senyuman itu. Senyum simpatik itu seolah-olah sedang mengasihani dirinya yang serba terjepit.

“Karena kau orang terhormat, maka aku akan melepaskanmu dari situasi sulit ini. Aku hanya meminta persetujuanmu. Apa kau mau ikut atau tidak?”

Ucapan Jaka itu seperti todongan pedang.

“Sialan, tentu saja aku ikuti rencanamu!” akhirnya orang tua yang biasanya memiliki wibawa menekan setiap insan persilatan itu, harus setuju dengan Jaka.

“Bagus!” tukas Jaka. “yang kita lakukan saat ini, adalah menunggu…” gumam Jaka kembali pada tempatnya berdiri, bahkan pemuda ini merebahkan diri dibawah sengatan mentari pagi.

Melihat sikapnya yang luwes dan tidak merasa teracam dengan kehadirannya membuat orang tua itu kesal. Dia ingin sekali melayangkan satu gaplokan ke wajah pemuda itu, tapi ucapan Jaka yang menyatakan dirinya adalah orang terhormat, sudah cukup menghentikan tindakan-tindakan konyol yang mungkin akan dia lakukan.

“Keparat!” makinya dalam gumam, membuat sang murid terheran-heran.
===o0o===

Beberapa jam sebelumnya…
Beruang dan Serigala, secara harafiah merupakan hewan-hewan yang memiliki insting pemburu. Keduanya memiliki penciuman tajam. Begitu pula ‘Beruang’ dan ‘Serigala’ yang mendapat tugas memata-matai semua pergerakan Alpanidra, keduanya memang jago mengendus jejak. Jaka tidak meminta kepada mereka untuk memata-matai perkumpulan Pisau Empat Maut, itu akan sangat membahayakan kerjasama yang mereka jalin. Jaka lebih cenderung meminta mereka menguntit Alpanidra dan kawannya.

Sebelum meminta mereka untuk mengikuti Alpanidra, Jaka sudah cukup menaruh kecurigaan kepada keduanya. Saat berjumpa dengan mereka secara tak sengaja, kondisi Jaka yang cukup gawat membuatnya kurang fokus berpikir. Dan pada saat pertemuan dengan rekan-rekannya, barulah Jaka menyadari kepergian mereka itu, kalau bukan untuk memata-matai bangunan peristirahatan, jelas mereka akan bertandang sebagai tamu. Untuk memastikan hal itu, Jaka meminta tolong pada kedua orang itu.

Keduanya sama-sama type orang yang jarang berbicara, perjalanan mereka benar-benar sunyi. Melakukan perjalanan bersama merupakan pengalaman pertama kali bagi mereka, keduaya memperhatikan lingkungan sekitar. Penikam adalah petugas penyapu wilayah, dia menyapu seluruh wilayah Kota Pagaruyung dan sekitarnya, untuk mengidentifikasi seluruh tanda rahasia. Tugas untuk memecahkan arti kode-kode tersebut dilakukan bersama dengan Cambuk.

Tentu saja Jaka yang pertama kali diberitahu mengenai penemuan mereka dan menjelaskan kode yang tersebar diseluruh wilayah itu. Kepada Beruang dan Serigala, Jaka menjelaskan ciri-ciri yang mungkin digunakan perkumpulan Pisau Empat Maut.

“Ini pekerjaan omong kosong!” Gumam Beruang setelah mencari kesana kemari tidak mendapatkan apapun.

Serigala tidak berkomentar, dia juga sependapat.

“Bagaimana jika kita berpencar?” ujar Beruang setelah sekian lamanya mereka tak mendapatkan hasil.

“Kurasa itu ide bagus.” Gumam Serigala tanpa banyak bicara segera memisahkan diri, Beruang pun tak banyak komentar lagi, dia segera bertindak menjauh.

Ada beberapa tanda yang dia temukan disana, Beruang mengikuti, dan langkahnya menuju pada sebuah penginapan terpencil. Sebuah penginapan yang sepi pengunjung, Beruang tahu tentang penginapan itu, hanya ada tujuh belas kamar dengan lokasi yang jauh dari keramaian seakan disengaja oleh pemiliknya. Langkah lebar Beruang makin mendekat, keheranan membuncah dadanya, dia tidak melihat seorangpun di penginapan itu. Makin kedalam, makin heranlah dirinya, sebab tanda-tanda kehidupan tak terlihat, seolah penginapan itu ditinggal begitu saja. Apa mungkin karena masih terlalu dini dia datang? Sekitar halaman depan dan bagian dalam nampak banyak daun berserakan, paling tidak sudah seharian tidak disapu, Beruang mengetahui ada enam orang yang bertugas disana, tapi tak satupun nampak menyambut dirinya.

Beruang agak terkejut menyadari ada satu orang nampak duduk dipojok pekarangan belakang, dengan mencangkung kaki di kursi goyangnya, lelaki dengan uban menghias kepala menyedot tembakau dalam-dalam. Beruang menyapanya, tapi orang itu seolah tidak melihat dirinya. Kening lelaki ini berkerut, Beruang memutuskan untuk memeriksa orang itu secara seksama. Himpunan hawa sakti yang dimiliki lelaki itu tidak lemah, jemarinya juga berkuku rapi bersih, ujung jarinya meruncing, pada kedua ibu jarinya ada ada lekukan kecil memanjang.

Ciri-ciri itu membuat Beruang makin heran, dia tahu orang itu kemungkinan besar adalah pembunuh gelap, Beruang pernah hidup sebagai pembunuh. Lekukan pada ibu jarinya cukup baginya untuk mengidentifikasi bahwa orang itu sering menggunakan benang atau besi kecil untuk memotong korbannya. Tapi saat ini, kondisi orang itu seperti mayat hidup, tidak perduli dirinya dijamah oleh Beruang. Sungguh aneh.

Akhirnya Beruang memutuskan untuk melakukan penyelidikan, dalam keremangan dini hari itu, Beruang menyadari ada bekas pertempuran disana, lebih tepatnya bekas amukan seseorang, sebab dia tidak melihat adanya bekas lawan yang di amuk. Pada akhirnya Beruang menyimpulkan jika orang yang bagai mayat hidup itu beberapa saat lalu pernah melawan hantu. Tentu saja bukan hantu betulan, tapi orang yang sangat hebat ilmu peringan tubuhnya.

Tapi sehebat apapun peringan tubuh, selama dia berkeringat, disekitar tempat itu akan meninggalkan aroma. Dan itu yang dilakukan Beruang, dia mengkuti jejak aroma yang membawanya meninggalkan penginapan aneh itu.

Diwaktu bersamaan, Serigala-pun menjumpai jejak yang sama. Dan jejak itu justru membawanya menuju air terjun watu kisruh, tempat yang sudah seharusnya menjadi tanggung jawab Arwah Pedang. Serigala memutuskan untuk meninggalkan tempat itu, rasanya saat ini masih terlalu dini.
===o0o===

Jaka sudah membuka mata, dia mendengar ada beberapa orang mendatangi Kuil Tua, dengan ekor matanya dia juga melihat orang tua itu dan muridnya menyadari ada tamu mendatangi mereka.

Orang tua itu bertindak cepat, dia memberi isyarat pada muridnya untuk segera mengalihkan perhatian pendatang itu. Dari cara pendatang itu bergerak, Jaka tahu mereka adalah peronda dari Perguruan Naga Batu.

“Mereka dalam perjalanan …” gumam Jaka masih tetap tiduran. Adiwasa Diwasanta menggumam tak jelas, dia juga menyadari tekanan beberapa himpuna hawa sakti mendekat mengidentifikasi tingkatan orang-orang yang datang.

Tiga orang tampak sudah hadir, pemuda bercincin, seorang lelaki dengan pakaian sederhana tapi memiliki wibawa besar—Jaka menduganya sebagai Bhre, dan terakhir kakek tua berwajah seperti pinang dibelah dua dengan Adiwasa Diwasanta—kecuali tubuhnya yang lebih bungkuk.

Jaka terkejut melihat orang tua itu, dia melihat Adiwasa Diwasanta dan orang tua kembarannya berulang kali, mereka benar-benar kembar!

“Apakah dia saudaramu?” Tanya pemuda ini pada orang tua itu.

Orang tua itu mengangguk dengan wajah datar tanpa perasaan, Jaka sudah merasa ini adalah saaatnya untuk menyapa para tamu, sambil meregangkan badannya pemuda ini bangun, masih sambil menguap. Dikejauhan sana nampak murid orang tua itu kembali, agaknya dia sudah membereskan para peronda.

“Jadi, ini tokoh yang dipanggil Bhre? Luar biasa! Selamat datang… akhirnya aku berjumpa juga denganmu!” sambut Jaka dengan tersenyum lebar. Dengan gaya seenaknya pemuda ini masih saja menguap.

Lelaki itu menatap Jaka tanpa bicara, “Terima kasih.” Katanya singkat.

“Akan lebih menyenangkan jika kau mau membuka kedok yang menempel di wajahmu…” kata pemuda ini dengan wajah berseri, tapi ucapannya membuat wajah pengikut Bhre nampak berubah. Tapi Bhre sendiri nampak adem ayem.
“Kau tahu, penggunaan topeng kulit di wajah lebih dari dua jam akan membuat timbul ruam merah di seluruh wajahmu. Hari ini aku memastikan untuk menahanmu lebih dari dua jam di tempat ini, itu pasti. Jangan membuat dirimu kesulitan dalam penanganan masalah kulit wajah, itu sangat merepotkan…” lanjut Jaka membuat Bhre nampak bergeming.

“Dari mana kau tahu aku mengenakan topeng, ini adalah kulit!” tegas Bhre.

Jaka tertawa panjang, ucapan orang itu bersayap, penjajagan awal ini sudah cukup memberikan peringatan buat Jaka, jika orang itu sangat berbobot! Dia mengatakan itu memang kulit, tapi tak mengatakan ‘ini wajah asliku’. Mengelak tanpa berbohong, itu jawaban cerdik menurut Jaka.

“Baik, itupun tidak masalah. Tapi aku akan menawarkan satu hal yang akan membuatmu memiliki keuntungan lebih.”

“Katakan!”

“Kau buka topengmu, aku buka bajuku…” ujar Jaka membuat beberapa orang melihat kearah pemuda itu dengan tatapan mata heran—mereka berpikir pemuda itu mungkin sudah gila.

Tentu saja Jaka tidak sembarangan berbicara, Bhre pun pasti akan mempertimbangkan ucapan Jaka bukan hanya sekedar bicara, apa yang ditawarkan pemuda itu pasti memiliki nilai, dia nampak menoleh kearah pemuda bercincin, seperti meminta pertimbangan. Dengan ragu-ragu dia mengangguk.

“Baik!” katanya menyetujui.

Jaka berjalan mendekat, hal itu membuat pemuda bercincin dan kakek bungkuk itu waspada, mereka bergerak dua langkah kedepan, seperti melindungi sang Bhre.

Jarak mereka hanya tinggal lima langkah, kedua mata saling tatap. “Kulit yang kau gunakan terbuat dari daging kelelawar, bagus sekali! Perajin yang kusus menyamak kulit itu di daerah ini tidak ada, kurasa bisa kukatan sementara… kau datang diluar kerajaan Rakahayu dan Kadungga, tapi aku tahu jenis keleawar yang digunakan untuk membuat topeng kulit itu… aku tahu dari mana kau memesan itu.” Jaka berjalan menjauh. “Sangat beruntung…” gumamnya.

Setiap patah kata Jaka membuat kedua pengikut Bhre nampak tertekan, Jaka-pun bisa melihat Bhre terprovokasi dengan ucapannya.

“Apa maksud ucapan terakhirmu?” Tanya si bungkuk, sekali orang itu membuka suara, Jaka merasa udara disekitarnya mengalami tekanan yang hebat, orang itu benar-benar hebat!

“Tadi aku hanya memastikan kulit yang digunakan bukan kulit manusia!” ujarnya. “Dari situ aku bisa mengambil keputusan tindakanku pada kalian…” ucapan yang datar dan terkesan menganggap remeh, berkesan kemampuan pemuda itu bisa mengatasi mereka.

Tapi ucapan itu tidak membuat Bhre dan kedua pengikutnya tersinggung, mereka menjadi lebih waspada. Lebih-lebih pemuda bercincin itu menyadari setiap gerakannya sudah berada dalam pantauan Jaka, dia menganggap ucapan Jaka layak untuk mereka pertimbangkan—bukan sekedar omongan kosong biasa.

“Hmp, memanganya apa yang akan kau lakukan!?” lagi-lagi orang tua bungkuk itu membuka suara mewakili Bhre. Kali ini tekanan udara makin berat.

Jaka tidak berkata apa-apa, dalam keadaannya yang tanpa dukungan, mengambil inisiatif mengendalikan situasi adalah hal terpenting. Pemuda itu mengambil dua batu di dekat kakinya. Dalam telapak tangannya, kedua batu itu meleleh—lalu menjadi satu. Benar-benar leleh! Lalu mengeras dengan cepat, sebuah peringatan yang sangat jelas. Jaka ingin mengatakan, topeng itu selamanya akan menjadi wajah Bhre.

Dengan santai Jaka melemparkan batu itu kehadapan Bhre, masih ada kepulan asap tipis. Tanpa sungkan Bhre mengambil batu itu mengamati dengan seksama.

Wajah tiap orang berubah dengan serius, terutama si Penghenti Malam. Dia memiliki pengertian sangat dalam terhadap tiap teknik hawa murni. Tapi saat Jaka melelehkan batu, dia tidak bisa merasakan tekanan hawa sakti berpendar dari tubuh pemuda itu, sebelumnya dia mengira Jaka memilki lima jenis hawa murni—seperti yang diperlihatkan saat melawan Alpanidra. Tapi kali ini; tanpa tanda, tanpa ciri, tanpa tekanan, tanpa ancang-ancang, sebuah tenaga terpusat pada tangannya dan melelehkan batu tanpa mereka sadari. Jika Jaka menghancurkan batu membuatnya menjadi serpihan debu, semua orang yang ada saat ini sangat bisa melakukan itu, tapi yang dilakukan saat ini membuat derajat pemuda itu dalam pandangan mereka membumbung tinggi.

“Apakah kau ada hubungannya dengan Sapang Saroruha?” Tanya Bhre membuat semua tokoh terkejut. Jaka pun dibuat terkejut, tentu saja pemuda ini terkejut bukan karena Bhre menyebutkan nama Sapang Saroruha, tapi karena Bhre bisa mengenali cara Jaka melelehkan batu, dan itu ada dalam catatan kitab yang pernah dia pelajari. Bhre benar-benar tokoh yang memiliki pengetahuan luas!

Untuk sesaat, Jaka tidak menjawab, dia mempertimbangkan apakah akan mengatakan ‘ya’ atau ‘tidak’. Dilain sisi, dia pernah memperkenalkan dirinya sebagai keturunan Tabib Hidup-Mati (dan itu diketahui Adiwasa Diwasanta), tapi disisi lain, dirinya meminta tolong pada Hastin untuk menyebarkan kabar bahwa dia adalah adik dari Ketua Bayangan Naga.

“Kurang lebih begitu…” Akhirnya Jaka pun menjawab dengan kalimat yang bias, biar mereka mengambil kesimpulan sendiri.

Jawaban Jaka membuat Adiwasa Diwasanta berkerut kening makin dalam, dia pernah mengalahkan salah satu keturunan Tabib Hidup mati, tapi kemampuan seperti yang ditunjukan Jaka, dia tak menjumpainya pada saat melawan mereka.

Bhre juga mengalami keadaan yang sulit, menurut pemuda bercincin tiap gerakan mereka bisa dibaca pemuda itu dengan sempurna, tidak menutup kemungkinan jika mereka tidak berdamai dengan pemuda itu, akan membuat segalanya makin rumit. Dan kali ini, dengan hadirnya Adiwasa Diwasanta membuat dirinya kian sulit mengambil keputusan. Untuk mundur teratur jelas bukan gayanya, dan dia tidak rela, tapi untuk menghadapi pemuda itu secara langsungpun dia masih ragu. Sapang Saroruha adalah pertimbangannya. Pun seandainya dia harus mengadapi Jaka, siapa yang akan diajukan sebagai lawannya? Jika dia meminta pada Adiwasa Diwasanta, jelas dirinya akan kehilangan bala bantuan yang sangat berharga, sebab Adiwasa Diwasanta hanya berhutang satu janji padanya. Dan dia tak bisa menekan tokoh tersebut lebih dari itu.

“Jadi, untuk apa kita bertemu?” Tanya Jaka kembali memprovokasi. “Apakah hanya berkenalan? Ayolah… jangan buat aku kecewa! Bertarung akan lebih baik… apalagi kalian bisa menggunakan bangunan milik orang-orang penting Kerajaan Kadungga,” ucapan Jaka yang ini mengkonfirmasi pada Bhre bertiga bahwa Jaka sudah tahu dan pernah menyusup kesana.

“Artinya kalian memiliki jaringan yang luas. Dan aku jamin, akupun memiliki jaringan yang cukup baik pula, cukup untuk menyusupi tiap lubang—mungkin dalam perkumpulanmupun aku punya mata-mata…” Ucapan Jaka memang sengaja menebar penyakit dalam hati Bhre. “Pertemuan saat ini harus menghasilkan sesuatu!” tegasnya.

Wajah Bhre tidak menampilkan perubahan apapun—tentu saja itu karena topeng kulitnya, tapi Jaka tahu, lelaki itu akan mengambil keputusan penting.

Dengan tindakan luwes dan pasti, tangan Bhre mengelupas wajahnya, dia berinisiatif melepas topengnya lebih dulu. Sebentuk wajah tampan dengan garis yang tegas nampak terlukis. Bukan berarti menyukai sesama lelaki, Jaka mengagumi ketampanan lelaki itu.

“Giliranmu!” kata Bhre dengan tandas.

Jaka tertawa, dia melepas bajunya dan berdiri menyamping di hadapan mereka bertiga. Mereka hanya bisa melihat sisi kiri tubuh Jaka, dan melihat mulai pergelangan tangan Jaka, terdapat banyak luka sayatan dan nampak bekas bacokan pula. Tapi yang menarik, dua baris warna biru kehitam dan merah kehitaman menggurat dari pangkal lengan sampai siku

“Sialan, cara macam apa itu?!” bentak orang tua bungkuk protes.

“Aku toh sudah membuka baju, kalian bisa mengamati dengan beranjak dari sana, kan?” ujar Jaka masa bodoh.

Jaka memaksa Bhre bertiga harus bergerak mengamatinya dalam jarak lima-enam langkah. Apa yang dilakukan pemuda itu menurut Adiwasa Diwasanta merupakan cara yang cerdas, dalam berbagai hal dia melihat pemuda itu sudah mengendalikan situasi—karena berhasil membuat Bhre mengikuti keinginannya.

Jaka mengamati tiap perubahan pada wajah Bhre, luka di tubuhnya memang bukan sembarang luka, jika Bhre cukup cerdas, dia akan mengambil kesimpulan seperti yang diinginkan Jaka.

“Kau pernah berhadapan dengan Raja Jagal?” Tanya Bhre dengan nada ragu.

Jaka tertawa kecil, Bhre cukup cerdas mengambil kesimpulan itu. “Kau pintar, bagi kebanyakan orang, dia cukup menakutkan, tapi saat ini… dia tidak lebih jadi alas kakiku.”

Ucapan Jaka jelas membuat suasana makin tidak nyaman, Raja Jagal hingga saat ini adalah legenda pembunuh yang tidak pernah tersentuh nilai keadilan—apapun yang dia lakukan tak satupun bisa membendungnya, menurut kabar Raja Jagal masih cucu murid dari Tabib Malaikat, jadi masih berkerabat dengan Sapang Saroruha Si Tabib Hidup-Mati yang merupakan adik seperguruan Tabib Malaikat. Tidak akan penah ada kabar korban yang selamat dari tangan Raja Jagal, tapi dengan entengnya pemuda itu menyatakan Raja Jagal sudah menjadi alas kakinya. Terlepas apakah itu omong kosong atau bukan, ciri luka yang tertera pada dada Jaka memang membuat siapapun bergidik. Sebuah garis yang dalam—dan kali ini sudah ditumbuhi daging baru, tertera dari pertengahan tulang belikat (atas dada), sampai ke pusar. Melulu dari bekas luka itu saja, orang akan sama-sama menyangsikan siapapun yang terkena bisa hidup panjang. Tapi kenyataan itu saat ini terpampang.

Bhre bisa mengenali luka itu memang ciri khas Raja Jagal, karena pada bagian terdalam sayatan pedang yang tertera, menimbulkan pola bercak seperti bintang. Di masa lalu, dia pernah melihat satu orang korban—tewas—dengan cara serupa, korban itu memiliki nama dan kemampuan amat tinggi, melihat luka itu, kembali mengugah ingatannya.

Jaka membenahi bajunya lagi. “Kau tentu bisa mengambil kesimpulan, apa yang harus dilakukan saat ini.”

Bhre menggertak gigi, kedua pengikutnya nampak heran dengan kelakuan tuannya, sangat tidak biasa bagi orang yang memiliki emosi terkontrol dengan kecerdasan tinggi, harus menunjukan emosi berlebihan seperti itu.

“Paman, kau hadapi dia!” nyatanya Bhre lebih suka memerintahkan kembaran Adiwasa Diwasanta untuk menghadapi Jaka, dia tidak ingin tenaga yang sangat berharga lepas dari genggamannya.

Keputusan itu membuat Jaka berkerut kening, Adiwasa Diwasanta-pun merasa itu diluar dugaan. Kelihatannya Bhre lebih suka mengambil resiko mengadapi Jaka secara langsung, latar belakang pemuda itu diacuhkannya!

“Bagus! Aku memang sudah menunggunya…” desis orang tua bungkuk itu maju kehadapan Jaka.

Sesaat lagi pertarungan terjadi, Jaka mendesah… rencananya kali ini meleset menghadapi kekerashatian Bhre. Pagi ini dia akan bertarung paling tidak tiga kali. Orang tua bungkuk, Adiwasa Diwasanta dan terakhir Bhre, akan jadi lawannya. Jakapun bersiap.

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s