101 – Labrak!

Pemuda bercincin itu melesat kedalam rimba di pinggiran batas kota, gerakannya bagai geliat naga—gagah mempesona—selincah burung srikatan, dan begitu pesat. Jaka benar-benar harus memberikan apresiasi tinggi bagi peringan tubuh itu, sungguh tidak disangka semuda itu dapat menguasai ilmu luar biasa.

Meski Jaka bisa mengatasi pemuda itu, tapi dia juga bukan orang yang ceroboh tanpa perhitungan, ‘orang tua’ yang mereka maksud pasti memiliki kemahiran yang jarang ada bandingannya. Jaka sengaja meningggalkan kode di setiap jalan yang mereka lewati, siapa tahu ada kondisi yang membuat dirinya membutuhkan dukungan kekuatan.

Berbagai tempat sudah di datangi, nampaknya dia sedang mencari ‘orang tua’ yang khusus didatangkan untuk menghadapi Jaka Bayu. Tapi pencariannya tidak kunjung mendapatkan hasil. Dalam penguntitan itu Jaka menggerutu, sebab tengah hari nanti dia harus bersua dengan Sadewa sekalian, jika pencarian ini tidak membuahkan hasil, dia berminat untuk meninggalkannya—meski itu dengan berat hati.

Sampai akhirnya mereka sampai di sebuah lembah penuh bunga, seorang lelaki tampak sedang memetik bunga dengan perasaan riang. Keranjang di punggungnya tampak penuh dengan aneka bunga dan rerumputan. Jaka memperhatikan orang itu dengan seksama, gerak-geriknya lambat, tapi Jaka bisa merasakan urat-urat yang menonjol dari balik bajunya tidak bisa menyembunyikan himpunan hawa sakti yang amat kuat. Jaka benar-benar senang dengan apa yang lihatnya, jika ada pertarungan tentu ini menjadi pustaka pengalaman yang menyenangkan.

“Paman…” pemuda bercincin itu memanggil dengan hormat.

Lelaki itu menoleh dengan gerakan acuh, “Hm… perlu apa?”

“Mohon bertemu dengan Ki Di..”

“Tidak bisa!” potong orang itu tegas dan ketus. “Semua kepentingan aku bisa mewakilinya, jangan kau buang-buang waktunya yang berharga!”

Pemuda bercincin itu nampak gelisah. “Tapi ini ada kaitannya dengan kepentingan Bhre…”

“Aku tidak perduli! Biarpun beliau ada sangkutannya dengan Bhre, untuk setiap urusan yang sudah dipasrahkan beliau untuk kuwakili, dapat kuselesaikan tanpa menganggu waktunya!”

Kegelisaha makin menggerogoti tingkahnya, “Tapi untuk urusan ini paman jelas tidak bisa mewakili beliau… aku takut tidak sanggup.”

Perkataan itu kontan menyulut amarah lelaki itu. “Kecuali terhadap beliau, tidak ada yang kutakuti! Aku bisa hadapi semuanya!”

Pemuda bercincin ini nampak tersenyum tipis, nyatanya pancinganya berhasil. “Baiklah jika begitu, tapi jika paman tak sanggup menggadapinya, berjanjilah padaku untuk mengundang beliau mengadapi musuh kami…”

Wajah lelaki paruh baya itu nampak mengeras. “Kau dapatkan janjiku!” tegasnya. “Dimana aku harus menghadapi musuhmu?!”

Bola mata pemuda itu nampak berputar sejenak, “Kupikir di Kuil Tua saja…” usulnya itu membuat lelaki paruh baya itu mengerinyitkan keningnya, Kuil Tua itu terlalu dekat dengan Perguruan Naga Batu, pertarungan di tempat yang selalu dilalui jalur perondaan perguruan yang dibangun oleh Adipati Cakra Sapta itu, terlalu riskan.

“Baik, aku akan kesana! Pastikan lawanku ada disana…” akhirnya dia memutuskan untuk menyetujui.

“Itu akan kami usahakan.” Sahutnya, pemuda ini tidak sadar ada penyakit pada ucapannya, jangan disangka orang yang mudah diprovokasi itu tak berpikir panjang, nyatanya dia melihat kelemahan pada ucapan itu.

“Ah… jadi selama ini kalian sudah dirugikan dan tidak yakin pula dengan kesanggupan kalian untuk membawa musuh ke Kuil Tua? Sungguh menyedihkan!” Sindir lelaki ini membuat wajah pemuda bercincin itu bak kepiting rebus. “Tapi itu urusan kalian, aku tidak perduli, pastikan dua jam kedepan, dia sudah ada disana! Jika tidak, kurasa ini adalah akhir dari hubungan beliau dengan Bhre!”

Ucapan yang terakhir itu membuat pemuda ini pucat. “Paman, jangan berbicara sembrono begitu…” desisnya.

“Haha.. sembrono bagaimana? Perjanjian yang pernah terjalin antara beliau dengan Bhre, hanya untuk satu kali tindakan saja. Hati-hatilah dalam meminta hal yang tidak perlu!”

Atas peringatan itu, mulut pemuda ini terkunci, tak bisa mendebatnya, sebab itu memang hal nyata! Dengan pikiran tak sefokus tadi, dia memohon diri. Dalam hatinya dia merasa beruntung bahwa orang yang dihadapannya itulah yang akan mewakili rencana pertarungannya dengan Jaka. Jika orang itu kalah, itu tidak ada hubungannya dengan beliau. Berpikiran demikian membuatnya sedikit tenang.

Tentu saja Jaka tidak turut serta pergi. Setelah memperhatikan keadaan dan memastikan hanya ada mereka berdua, Jaka memunculkan diri memperhatikan lelaki tua yang sedang asik memetik bunga yang beraroma lembut.

“Boleh kuminta satu tangkai?” pinta Jaka seraya mendekat.

Reaksi lelakti tua itu tidak seperti saat menghadapi pemuda bercincin, kali ini keterkejutan terpeta jelas di wajahnya, dengan sigap dirinya menurunkan keranjang tempat bunga dari punggungnya, dan memperhatikan tamu tak diundang itu dengan sikap siaga, maklum saja, kehadiran Jaka benar-benar tidak dia rasakan.

“Siapa kau?” tanyanya dengan nada setengah membentak.

“Hanya orang lewat, aku benar-benar ingin setangkai bunga yang paman petik, bolehkah?”

Wajah pemuda itu sangat simpatik, membuat lelaki paruh baya itu mengendorkan kewaspadaannya. Dengan gerakan perlahan dia melempar bunga itu kepada Jaka, lemparan yang biasa, tapi lajunya pesat tidak kepalang.

Tap! Dengan mudah Jaka menangkap bunga itu tanpa merusak kelopak dan tangkai. Pemuda ini tidak terkejut, apa yang di lakukan lelaki itu memang sudah dalam perkiraannya.

“Bunga bagus… aku benar-benar menyukainya.” Gumam Jaka sambil menghirup aroma bunga itu dalam-dalam.

Kewaspadan yang tadi ditarik, kembali disiagakan lagi, sangat tidak mungkin pemuda yang tak jelas asalnya dari mana ini muncul begitu saja, belum lagi cara munculnya yang tidak biasa—menumpulkan indera perasanya.

“Kuulangi, siapa kau?!”

Jaka menyimpan bunga itu di atas telinga kanannya. “Namaku Jaka Bayu, aku adalah lawan yang seharusnya kau hadapi di Kuil Tua.” Katanya tanpa basa basi.

Tentu saja lelaki itu terkejut. “Berani sekali kau kemari! Dari mana kau tahu tempat ini?!”

Jaka mengangkat bahunya, “Gerakan pemuda yang tadi menemuimu memang cepat, tapi bukan berarti aku tak bisa mengikuti. Lagi pula kedatanganku adalah untuk menolong tuanmu…”

“Sembarangan bicara!” bentak lelaki paruh baya itu sambil meninju kemuka, Jaka tidak merasakan ada hawa atau pukulan apapun menerpa dirinya, tapi beberapa saat kemudian udara disekeliling tubuhnya seolah tersedot kedalam sebuah pusaran yang menghempas tepat kewajahnya!

Tidak sempat terkejut, Jaka meliukkan tubuhnya dengan gerakan menyamping dan melakukan kibasan menetralisir efek pukulan jarak jauh lelaki itu.

Blar! Sebuah letupan berkumandang membuat keduanya mempertimbangkan berbagai hal untuk melakukan tidakan lanjutan.

“Hebat sekali!” puji pemuda ini sambil menatap dalam-dalam lawannya. “Kau tahu, aku tidak tertarik dengan pertarungan yang mereka rencanakan. Itu karena mereka terlalu bodoh dalam menyusun rencana, sampai-sampai aku bisa melihat rencana mereka seperti barang disakuku sendiri… apa kau perlu membela orang seperti itu?”

Jika saja Jaka mengucapkan hal itu sebelum serangan dibuka oleh lelaki paruh baya ini, mungkin orang itu akan mempertimbangkanya, tapi pukulan yang menjadi kebanggaan bisa dihidari semudah itu, membuat rasa penasarannya bangkit.

Tanpa berkata apa-apa, lelaki ini melesat cepat kehadapan Jaka dan menyerangnya dengan gerakan bertubi-tubi, Jaka bisa merasakan udara disekitarnya seperti tersedot oleh setiap gerakan orang ini, tapi Jaka tidak berminat untuk membenturkan tenaganya pada tiap serangan yang datang membadai itu.

Belasan jurus terhambur dengan sia-sia, selain Jaka bisa menghindar dengan mudah, pemuda ini lebih banyak berkerut kening melihat cara tarung lelaki itu. Rasanya Jaka pernah melihat caranya bertarung, tapi entah dimana… dia tak sanggup mengingatnya.

“Apa kau tidak bisa membalas?!” bentak lelaki itu dengan amarah membakar dada.

“Untuk apa? Apakah kita bermusuhan?” Tanya Jaka dengan ringan.

Sambil menggertak gigi, lelaki ini berkata. “Setidaknya, kau harus membalas seranganku karena menghancurkan bajumu!”

Alis Jaka terangkat, ucapan lawannya itu membuatnya sadar, ternyata rasa sejuk yang sedikit demi sedikit di rasakan saat menghindari semua serangan itu, karena meluruhnya inci demi inci baju yang dikenakannya, saat ini baju yang dikenakan pemuda itu sudah terbang terhempas dalam bentuk serpihan kecil.

Jaka berdecak kagum, “Ilmumu sangat hebat paman…” ucap Jaka tulus.

Tapi lelaki itu tidak mengatakan apapun, dia terlalu terkejut karena melihat bekas luka di sekujur tubuh pemuda itu. Begitu banyaknya luka yang membekas di tiap jengkal daging pemuda itu membuat bulu kuduknya meremang. Dia bisa membayangkan, dengan bekas luka-luka seperti itu, sangat jarang kiranya ada orang yang hidup karenanya, tapi tenyata dihadapannya ada seseorang itu! Ditatapnya pemuda itu sekali lagi, sebuah kesadaran baru menyeruak dalam benaknya[ jelas tidak mungkin orang yang memiliki luka demikian banyak dengan bekas yang begitu berat dan dalam, hanya orang kebanyakan yang bicara sembarangan, rasanya tidak ada salahnya dia mendengarkan orang itu. Lagi pula jika melihat caranya menghindari tiap serangan pun membuat lelaki paruh baya ini berpikir ulang untuk menempurnya kembali.

“Katakan alasanmu, kau datang untuk menolong beliau?!”

Jaka menarik sisa kain yang masih melekat pada ikat pinggangnya. “Jujur, apa yang kukatakan adalah ide yang datang dari ucapanmu, paman…”

Wajah lelaki itu mengeras lagi, nampaknya tempramennya jauh lebih keras dari Hastin. Jaka buru-buru memberi isyarat bicaranya belum selesai. “Kau tadi mengatakan, hubungan beliau dengan Bhre hanya terikat oleh satu perimintaan saja.” Lelaki itu mengangguk. “aku mengartikan itu, bahwa; Bhre memegang kelemahan majikanmu, dan menekannya dengan sebuah janji untuk melakukan sesuatu hal baginya, benar begitu?”

“Memang demikian.” Jawabnya tergagu kagum, tidak heran perkumpulan Bhre bisa diacak-acak pemuda ini, pikirnya. Nyatanya dari beberapa patah kalimat saja pemuda ini bisa menganalisa sampai sejauh itu.

“Janji itu tidak akan akan gugur, jika kau datang ke Kuil Tua.” Ujar Jaka dengan sungguh-sungguh.

“Maksudmu?”

“Paman, tidakkah kau ingat sudah mengatakan, ‘kecuali terhadap beliau, tidak ada yang kutakuti! Aku bisa hadapi…’, maaf bukan sedang meninggikan diriku sendiri. Arti ucapanmu itu; manakala majikanmu tidak datang, dan pertarungan sudah kita lakukan, terlepas hasilnya nanti. Majikanmu tetap memiliki hutang… tapi jika nanti majikanmu datang sendiri, terlepas apapun hasilnya, dia sudah tidak memiliki kewajiban terhadap Bhre. Paham dengan maksudku?”

Lelaki paruh baya itu manggut-manggut. “Ya, aku mengerti! Lalu apa yang harus kulakukan?”

“Tolong sampaikan kepada beliau, untuk menjumpaiku sesuai tempat dan waktu yang telah ditentukan. Dengan sendirinya beliau akan memiliki nilai tawar yang tinggi, aku pastikan tidak akan ada pihak yang turun tangan kecuali beliau!” janji Jaka.

Lelaki ini menatap lawannya dengan perasaan tidak percaya, kecuali Bhre yang dia tidak bisa menjajaki kelihayannya, orang-orang yang berada disekitar Bhre adalah para tokoh yang memiliki kepandaian luar biasa.

“Apa ucapanmu bisa dipercaya?” tanyanya dengan nada ragu.

Jaka tersenyum dengan mengangguk, “Itu permintaanku paman, terserah dengan keputusanmu, apakah kau atau beliau yang akan datang nanti… aku permisi!” Jaka sengaja mengembangkan peringan tubuh pada puncaknya—itu adalah hal yang paling jarang dilakukan.

Lelaki paruh baya itu berseru, “Lebih baik kau gunakan bajuku…” tapi matanya terbelalak, dia seolah melihat pemuda itu masih berada di hadapannya, pada saat tangannya mengulurkan baju, bayangan itu membuyar diterpa angin.

“Gila!” desisnya dengan kekaguman menyeruak di hati, hari ini benar-benar penuh kejutan. Terburu-buru, lelaki ini segera melejit masuk kedalam lembah. Dari gelagatnya, permintaan Jaka telah menjadi pertimbangan utama.
===o0o===
Hastin sudah mengenakan baju dalam balutan warna biru gelap, badannya yang kekar dan lebar nampak ringkas, satu tegukan air nira panas membuat dadanya terasa hangat. Perasaannya hari ini sangat riang, tentu saja itu berhubungan dengan kepalannya yang akan segera beraksi.

“Apa perlu kutemani?” Tanya Cambuk.

Hastin menyeringai, “Kau sudah memiliki tugas sendiri, lakukan saja tugasmu. Saat ini aku ingin bersenang-senang sejenak.” Katanya sambil melambai seraya masuk kedalam kereta sapi. Kereta itu biasa digunakan oleh Mintaraga mengangkut hasil bumi untuk di jual ke Pasar Joropasa.

Cambuk tersenyum dengan menggeleng-geleng, dia benar-benar suka dengan orang yang jarang berpikir panjang itu, cara yang ceroboh itu terkadang memangkas perhitungan tak perlu.
Ditengah jalan, Hastin turun dari kereta itu, memastikan tidak ada yang mengikuti, tubuhnya yang besar berkelebat menyusuri rimbunnya belantara hutan, tujuannnya sangat jelas. Sebuah rumah peristirahatan milik bangsawan. Apa yang dituturkan Jaka padanya, sejelas dia melihat tapaknya sendiri.

Sesampainya didepan pintu gerbang yang berdiri kokoh, Hastin segera mengetuknya sekali. Tapi, dalam sepuluh hitungan tidak ada orang yang membukakan pintu, bagi Hastin itu sudah cukup untuk berkesimpulan, bahwa mereka tidak akomodatif, maka kepalannya—untuk yang pertama kali dalam beberapa hari terakhir—beraksi lagi!

Brak! Sebuah pukulan ringan membuat gerbang selebar tiga meter dengan tinggi dua meter terjebol sempurna, serpihan kayu pintu gerbang itu menabrak para pengawal yang ada dibalik pintu, bahkan beberapa orang yang ada di bangunan utama juga terkena lesatan kayu pecahan, membuatnya jatuh pingsan.

Hastin menikmati hasil karyanya sejenak, dengan bibir menyeringai senang lelaki perkasa ini melangkah ringan. Pagi itu mentari belum lagi muncul secara penuh, apa yang dilakukan Hastin hanya berselang sesaat, setelah Jaka meninggalkan bangunan itu untuk mengikuti pemuda bercincin.

“Hei, siapa kau?!” bentak seseorang dari dalam, orang itu adalah Pradipa.

Hastin tidak menjawab, dia menyongsong kedatangan orang itu dengan sebuah pukulan sederhana, dan akibatnya langsung terlihat. Tubuh Pradipa yang sedang melesat seperti ditabrak bongkahan batu. Tubuhnya jatuh terguling-guling beberapa kali dan akhirnya diam.

“Aku Hastin,” jawab lelaki ini dengan suara lirih memperhatikan korbannya, beberapa hari bergaul dengan Jaka, mereka banyak memperbincangkan beragam teori. Hastin benar-benar dibuat gereget oleh Jaka saat pemuda itu dengan mudah menguraikan kelemahan dan kelebihan, ilmunya. Meskipun dongkol—tapi Hastin sangat berterima kasih atas kritik Jaka, bahkan pemuda itu memberinya masuk yang sangat berharga. Dan kali ini adalah saat yang tepat untuk mencoba buah pikirnya.

Lelaki ini tidak berusaha masuk kedalam bangunan, Hastin tidak begitu bodoh untuk masuk kesana, pastinya ada banyak jebakan didalam sana, dia cukup menunggu diluar saja. Sambil memukulkan tangannya lagi, Hastin melancarkan pukulan jarak jauh.

Duk!duk! pukulannya menerpa tembok depan bangunan megah itu, dan kelanjutannya bisa diperkirakan, seperti layaknya diguncang gempa saja, tembok dengan ketebalan setengah meter itu runtuh.

Suasana dalam bangunan itu, jangan dikira gaduhnya seperti apa, beberapa orang sudah terbangun gara-gara ledakan pertama, dan kegaduhan yang kedua ini membuat mereka semua terbangun siaga. Dalam belasan hitungan saja, sudah ada sembilan orang datang dengan lesatan tubuh begitu pesat mengurung Hastin.

“Bangsat! Apa kau tahu ini tempat apa? Berani bikin keonaran disini! Sebutkan namamu!” bentak suara dengan nada begitu menekan.

Hasitn paling benci suara keras yang ditujukan padanya. Dulu waktu tetangganya membentaknya gara-gara dia mencuri mangganya, Hastin mengakuinya dengan cara menampar mulut tetangganya itu. Setelah sadar apa yang dia lakukan, barulah Hastin meminta maaf. Apakah kesalahanmu satu atau dua kali, bagi Hastin meminta maaf cukup sekali saja. Sangat efektif, bukan?

Begitupula dengan orang yang baru saja membentaknya, dari lagaknya, Hastin menduga orang itu mungkin saja Dwisarpa yang menyiksa Ki Sampana. Sedetik setelah orang itu selsai mengatakan kalimat terakhir, Hastin sudah ada di depan kedua orang bertampang bengis itu, dan kejadian berikutnya sudah bisa diduga!

Plak! Plak! Sebuah tamparan keras melanda dua orang itu, secepat tamparan itu melanda, secepat itupula Hastin kembali ketempatnya.

“Persetan ini tempat siapa! Ini tak lebih hanyalah sarang bajingan tengik yang membuat suasana di kota ini jadi panas begini!” Hastin balas membentak.

Karuan saja Dwisarapa, orang orang yang disegani sebagai petugas lapangan (sebutan lain dari juru siksa), dibuat murka oleh penghinaan yang dilakukan Hastin. “Mati kau!” bentak mereka berbarengan.

Keduanya menyerang Hastin dari kanan dan kiri, tapi mereka tidak bisa bergerak lebih dari dua detik, sebab pukulan Hastin datang menerpa mereka, tepat di hidung masing-masing. Buk-buk!

Keduanya terjatuh dengan menggeliat-geliat kesakitan, tidak perduli kau memiliki hawa sakti kuat, saat hidungmu remuk, rasa sakit pasti akan menyengat sampai ubun-ubun.

“Benar-benar bajingan tengik! Tidak berguna sama sekali… ciuh!” ujar Hastin sembari meludah.

Kiwa Mahakrura dengan Paksi nampak saling pandang, keraguan menyergap hati mereka. Dwisarpa itu bukan orang yang sedemikian mudah dihabisi tanpa perlawanan. Keduanya memiliki tenaga dan keahlian mumpuni, tapi mengapa menghadapi orang ini seperti laron menerjang api? Seolah semua kemahiran Dwisarpa tidak ada artinya?

“Mana itu pemilik pukulan Triagni Diwangkara, kalau hanya cecurut seperti ini, seratus orang juga bisa kuhabisi dalam waktu singkat!” seru Hastin membuat dada tiap orang berkobar tersulut amarah.

“Kau manusia tak bermata,” desis Kiwa Mahakrura. Pemuda ini segera menghimpun sirkulasi hawa saktinya dengan cepat, tapi kecepatan penghimpunan itu benar-benar tidak bisa menandingi rekasi yang di lakukan Hastin, lelaki ini sudah mendengar dari Jaka tentang cirri-ciri ilmu hebat itu, tak menunggu lama hingga berkembang, Hastin sudah melesat kehadapan Kiwa Mahakrura. Gerakan yang pesat dan tak seimbang dengan besar badannya itu ditanggapi oleh Paksi dengan cekatan.

Apa yang akan dilakukan sang lawan pada adiknya bisa dia baca dengan sempurna, Jari Embun yang menjadi andalan pemuda ini membuat langkah Hastin sedikit tersendat, menurut Paksi, seharusnya sang lawan menghindari jemari yang datang dengan gerakan mengebor bagai gurdi es itu, tapi alangkah terkejutnya saat jemarinya menyentuh ulu hati lawannya, bukan aliran darah yang dia rasakan—untuk dihentikan lajunya, tapi sebuah desakan dengan hawa bagai korban api membuat dirinya menarik jari cepat-cepat. Sementara himpunan sirkulasi hawa sakti yang sedang di bangun oleh Kiwa Mahakrura, belum lagi usai, akibatnya…

Buk! Buk! Satu kali pukulan yang dilacarkan Hastin membuat kedua pemuda itu jungkir balik dengan kondisi mengenaskan. Pukulan Hastin tepat menghantam perut Kiwa Mahakrura, menghentikan laju sirkulasi dalam penghimpunan Pukulan Triagni Diwangkara, sementara sikut Hastin menerpa dahi Paksi.

Apa yang dilakukan Hastin tidak berhenti begitu saja, selesai dengan keduanya, Hastin menghamburkan pukulan-pukulan jarak jauh bertubi-tubi pada kelima orang pengurungnya yang masih terbelalak kaget.

Desh! Desh! Desh! Berturut-turut mereka jatuh terkapar terkena pukulan Hastin. Lelaki ini menyeringai dengan perasaan senang, sungguh tidak disangka Tinju Kerbau-nya menjadi seampuh ini setelah menerapkan masukan dari Jaka.

Bukan karena para pengurungnya itu tidak memiliki kemampuan, tapi karena Tinju Kerbau milik Hastin ini-lah yang dipenuhi kegaiban. Sebelum menerapkan masukan dari Jaka, tinju Hasti ini dikenal karena kekuatannya yang sangat mematikan. Tapi Jaka lebih cenderung memandang itu sebagai pemborosan tenaga, ibarat memecah telur dengan membanting sekuat tenaga itu adalah hal sia-sia.

Teknik tambahan yang disisipkan oleh Jaka adalah, pengekangan laju tenaga yang berlebihan pada pukulannya. Dan kekuatan kekang itu dialihkan untuk mencengkeram dan menotok lawan—nyaris serupa dengan kemampuan Beruang, bedanya timing dan daya cengeram hawa pukulan Hastin itu mengunci simpul hawa sakti lawan, hal itulah yang diherankan Paksi, kenapa saat menghadapi Hastin, seolah-olah mereka seperti anak kecil menumbuk batu—karena semua hawa sakti mereka macet!

“Terkutuk! Berani kau nodai kesakralan tempat ini?!” bentak satu suara membuat Hastin berpaling memperhatikannya.

Ada dua orang yang keluar, satu orang berperawakan agak kurus dengan wajah sedikit lonjong, mataya agak sipit Hastin bisa memastikan orang inilah yang di sebut Duhkabhara. Sementara satu orang lainnya, dia tidak tahu.

“Sakral? Tahi anjing!” maki Hastin sambil meludah. “Kalian berani membunuh, dengan cara sangat pengecut! Sudah seharusnya aku menghancurkan sarang anjing kalian!”

Duhkabhara memperhatikan situasi dengan seksama, dia sangat memahami kemampuan orang-orang yang barusan di taklukan pengacau itu. Diam-diam hatinya dirambati rasa cemas.

“Dari mana kau datang?!” Tanya orang di sebelah Duhkabhara, dialah Pratisara. Orang itu sengaja datang menemui Duhkabhara, demi menyokong ide penggunaan tenaga ‘orang tua’ dalam menghadapi musuh yang mulai meruntuhkan sendi-sendi kerahasian operasi mereka.

“Dari mana kau datang?!” ujar Hastin menirukan dengan suara yang sama persis.

“Bangsat! Jangan main-main!” bentak orang itu lagi.

“Bangsat! Jangan main-main!” kata Hastin masih menirukan.

“Kubunuh kau!” geram orang itu dengan kepalan menggeletar saking marahnya.

“Kubunuh kau!” ujar Hastin dengan cara dan logat yang sama. Beberapa patah kalimat itu seolah di ucapkan oleh orang yang sama seolah ada gema—pantulan bunyi.

Duhkabhara menatap Hastin dengan pandangan aneh. “Kau, anggoata Lembah Halimun? Swara Nabhya?”

“Kupikir kau orang tolol!” kali ini Hastin tidak menirukan suara orang lagi. “Kau sudah melewati batas yang sudah kami tentukan. Pertama menganggu orang yang kami lindungi, meski pengganggu yang melakukan tugas ternyata tidak becus sama sekali!”

Wajah Pratisara dan Duhkabhara berubah, apa yang dimaksud orang yang mereka kira datang dari Lembah Halimun, adalah kegagalan yang di alami Kiwa Mahkrura. Jika si Nomer Empat yang menjadi lawan Kiwa—dan juga orang yang sama menyusup dalam kedai Pradipa, ada dalam dukungan kekuatan Swara Nabhya dari Lembah Halimun, tidak disangsikan lagi fakta itu membuat mereka harus berpikir ulang dan harus menata banyak hal.

Lembah Halimun adalah tempat yang membuat orang sama pusing kepala jika menghadapinya. Apakah mungkin seumur hidup, kau tidak akan bicara? Apakah mungkin seumur hidup kau tidak pernah mendengar suara? Jika kau membuat salah kepada orang-orang dari Lembah Halimun, menjadi bisu dan tuli adalah hal terbaik! Sebab, semua suara yang di dengar, akan ditirukan mereka, perduli itu suara angin, suara kentut, suara manusia, suara binatang. Pendek kata, tiap suara yang di dengar; apa lagi, jika kau bicara… itu semua akan ditirukan dengan sempurna oleh mereka. Mereka tidak membunuh, sampai akhirnya kau putus asa dan minta dibunuh oleh mereka, barulah mereka melakukan tindakan.

Tidak disangka saat ini mereka bisa melihat cara ‘pembalasan’ dari Swara Nabhya benar-benar brutal dan mengerikan. Lebih dari itu, kemampuan yang diperlihatkan anggota Lembah Halimun ini membuat mereka tidak berani secara gegabah melakukan perlawanan secara langsung. Baru satu orang saja sudah membuat pusing, apa lagi nanti datang sekelompok?!

“Aku memberi peringatan pada kalian, selama adik Ketua Bayangan Naga sebagai orang yang kami lindungi, maka kami akan mendukung dengan seluruh kekuatan tiap gerakan dan rencananya. Jika kalian berani main gila… apa yang kulakukan saat ini bukanlah ancaman! Ini hanya perkenalan saja!” ujar Hastin sambil mendengus penuh ancaman.

Lelaki ini membalikkan badan meninggalkan mereka begitu saja. Sebenarnya jika mau menuruti kata hatinya, Hastin ingin sekali menghajar kedua orang itu, tapi menanamkan kesimpulan yang salah pada mereka adalah hal terpenting yang dipesankan Jaka—dia tak boleh mengacaukan itu. Lebih dari itu, dia tidak ingin aksinya ditunggangi pihak lain, yang menurut Jaka ada yang mengawasinya saat ini.

Duhkabhara menatap Pratisara meminta pertimbangan apakah mereka harus menghentikan orang itu. Pratisara nampak bimbang, akhirnya dia menggeleng. Dalam hati Duhkabhara, sangat bersyukur bahwa mereka tidak jadi melawan si pendatang. Tapi demi gengsinya dia berkata.

“Sungguh beruntung kau…” desisnya.

Tapi sungguh sial, Hastin memang berwatak kerbau, dia mendengar ucapan Duhkabhara, Hastin menghentikan langkahnya dan membalikkan badan.

“Aku menunggu!” katanya sambil mengembangkan tangan lebar-lebar, sikapnya yang provokatif, membuat Duhkabhara memucat.

Tapi agaknya, Pratisara lebih berkepala dingin, tidak mengacuhkan tantangan Hastin, dia lebih memilih masuk kedalam bangunan yang bagian depannya sudah rusak. Karuan saja Duhkabhara kelimpungan, mentalnya sudah jatuh lebih dulu jika harus berhadapan seorang diri dengan orang dari Lembah Halimun. Buru-buru orang ini menyusul langkah Pratisara.

“Huh!” dengus Hastin sambil meludah, dia meninggalkan rumah itu dengan langkah ringan, meskipun kurang puas, tapi secara keseluruhan hari ini adalah saat-saat terbaik dalam sebulan terakhir. Tugasnya berakhir sudah.
===o0o===

Jaka sudah menunggu di Kuil Tua, pemuda itu masih bertelanjang dada. Suasana ditempat kuno itu benar-benar sepi dan sakral, dari kejauhan Jaka bisa menyaksikan pemuda bercincin mendatangi tempat itu dengan terburu-buru.

“Apakah kau berusaha mencariku kemana-mana?” Tanya Jaka menegur pemuda itu setibanya di halaman Kuil Tua.

“Aaaah…” pemuda itu memejamkan mata melihat kondisi Jaka yang tanpa baju dan lebih hebatnya lagi tubuh pemuda itu penuh luka. Dengan wajah memerah—entah karena lelak kesana kemari, entah karena hal lain, pemuda bercincin itu menegur Jaka. “Sedang apa kau disini?”

Jaka tertawa. “Menunggu orang…”

Jawaban itu membuat pemuda itu pucat.

“Siapa yang kau tunggu?”

Jaka mengangkat bahunya, dengan kemalas-malasan Jaka bersandar pada dinding yang mulai tersorot mentari pagi. “Mungkin anak muda, mungkin orang tua…”

Jawaban itu membuat pemuda bercincin benar-benar makin pucat, terbayang dalam benaknya setiap langkah yang mereka lakukan ternyata sudah bisa dibaca oleh orang ini, bulu kuduknya meremang secara perlahan.

Tiba-tiba saja percakapan mereka terhenti oleh suasana yang menjadi aneh, suara kicau burung dan derik serangga tersirap begitu saja—seolah mati secara bersamaan, Jaka masih adem ayem. Tapi pemuda bercincin itu saat gelisah, karena tanda-tanda sehebat itu hanya jika ada seorang tokoh sangat hebat datang.

Jangan-jangan, orang tua itu? pikirnya dengan cemas. Kedatangan ‘orang tua’ itu bisa membuat seluruh rencana Bhre buyar.

Dan benar saja, sesat kemudian sosok tubuh nampak menyeruak dari atas stupa Kuil Tua, caranya turun benar-benar seperti dewa. Jaka menatap dengan terpesona, matanya agak disipitkan karena dia tidak bisa melihat dengan jelas sosok yang disiram oleg gemilang sinar mentari pagi.

“Celaka…” desis pemuda bercincin itu terkejut menyadari ternyata memang benar si ‘orang tua’ yang hadir, tanpa menunggu lebih lama lagi dia segera melesat cepat—dia harus mengundang Bhre ke Kuil Tua, untuk melakukan pencegahan.

Jaka sendiri akhirnya berhadapan dengan ‘orang tua’ yang di sebut-sebut oleh pemuda bercincin.

“Ah… ternyata kau!” seru Jaka dan ‘orang tua’ itu bersamaan—keterkejutan jelas menyentak mereka berdua.

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s