100 – Mengenalkan Identitas

Tidur dua jam membuatnya merasa segar lagi, sebelum fajar menyingsing Jaka sudah melesat menuju Pasar Batu Galur. Pemuda ini ingin memastikan kebenaran hipotesanya, masih segar dalam ingatan, entah pihak itu Arseta atau Perguruan Naga Batu sudah menyewa orang-orang untuk menguntit dirinya, mereka adalah informan lepas. Sebelum pertemuannya dengan Sadewa sekalian, Jaka berniat mencari tahu, apakah kabar tentang dirinya lewat delapan penguntit yang sengaja di lepaskannya sudah merambat dengan lambat kedalam Perguruan Naga Batu?

Keramaian pasar itu cukup mengubur kepenatan Jaka, dia turut berdesak desakan, pemuda ini tentu saja memilih warung yang masih berada dalam ‘naunganya’. Ternyata sepagi ini sup ayam sudah siap, dengan lahap pemuda ini memakannya, sesekali matanya beredar kesana kemari mencermati situasi. Pagi yang cukup dingin itu sungguh sangat pas dengan minuman jahe panas dengan gula aren, pemuda ini menyesapnya perlahan-lahan.

Mendadak bola mata Jaka agak melebar, saat melihat seorang yang rasanya sempat dia jumpa—tapi tidak bertegur sapa, dalam situasi yang kurang menyenangkan. Apa bukan dia? Pikir Jaka menegaskan pandangan matanya lagi. Dan memang benar, orang itu adalah pemuda sepataran dirinya. Jaka menjumpai orang itu di rumah makan, pertama kali dirinya sampai di Kota Pagaruyung. Saat itu ada keributan yang dilakukan guru Bergola, orang itu tidak bereaksi sama sekali, tapi pada saat Jaka menatapnya—padahal dia tidak bermaksud seperti itu—pemuda itu terlihat gelisah. Orang itu tengah duduk di kedai persis diseberang tempatnya makan,

Jaka buru-buru menghabiskan minumnya, dan membayar. Dia langsung bergegas mencampurkan diri dalam kerubutan penjual dan pembeli yang berlalu lalang, sambil merapat kewarung dimana pemuda itu nampak sedang menikmati sarapannya. Dia terlihat sedang bercakap-cakap dengan sebayanya, Jaka hampir saja berteriak senang saat melihat siapa lawan bicara orang itu, Pradipa! Salah satu penguntit yang sengaja dia bebaskan. Pradipa bertugas menyusup di Perguruan Naga Batu untuk mencari buku tamu dalam rentang empat tahun sampai dua tahun kebelakang.

“…dilaksanakan hari ini…” Jaka mendengar pemuda itu mengatakan pada Pradipa dengan suara lirih.

Jaka memperhatikan gerak bibir Pradipa.

“Aku akan mencari tahu, jika memang orang yang sama, aku tidak berani…” itu kalimat yang Jaka tangkap.

Dari belakang, saat tangan pemuda itu melambai, Jaka bisa melihatnya mengenakan cincin di jari manisnya, sayangnya tidak terlihat cincin itu memiliki mata warna apa. Tak terdengar dia mengatakan apa pada Pradipa, Jaka hanya bisa menduga ucapan orang itu berdasarkan gerak bibir Pradipa yang menyatakan: “Kuusulkan untuk menarik diri, ini sudah terlalu keruh…”

Itu cukup buat Jaka untuk melenyapkan diri, tentu saja maksud dia melenyapkan diri tidak seperti kebanyakan orang. Jaka justru masuk kedalam kedai itu! Dengan santai, Jaka duduk di sebelah pemuda yang bercakap-cakap dengan Pradipa. Dalam kilasan detik, Jaka bisa merasakan suasana mereka membeku sesaat, sebelum akhirnya Pradipa mencairkan kebekuan sikap pemuda lawan bicaranya dengan menyapa Jaka.

“Ada yang bisa kubantu, tuan?”

“Bagaimana jika kau ceritakan semua yang ketahui, setelah berpisah dariku malam itu.” Jawab Jaka tanpa basa basi.

Wajah Pradipa memucat, Jaka tak mencoba mencari tahu reaksi pemuda disebelahnya, dengan ekor matanya Jaka bisa melihat bahwa mata cincinnya berwarna biru tua.

“Ak-aku ti-tidak.. tidak ikut serta dalam kegiatan itu lagi, aku benar-benar menghindari itu.” Katanya dengan suara rendah.

Jaka manggut-manggut, “Kalau aku yang menyewamu dan kau kabur sebelum memberikan jawaban memuaskan, apakah aku akan diam begitu saja? Kurasa yang menyewa dirimu pun akan bertindak serupa denganku… jika saat ini adalah caramu menghindarkan diri, aku bisa mengatakan ini omong kosong! Hanya berkecimpung di bidang yang sama, dengan mencari sandaran yang lebih kuat-lah, baru kau bisa menghindari mereka! Betul tidak?” saat mengatakan kalimat terakhir Jaka menoleh pada pemuda disebelahnya, jika ada orang yang memperhatikan bisa segera menyimpulkan mereka ada dalam kelompok yang sama.

Jaka berbicara begitu bebas tanpa berupaya merendahkan suara. Karuan saja Pradipa yang kelabakan, dia melihat orang-orang disekitarnya yang mulai memperhatikan Jaka, dan tentu saja orang disekeliling Jaka—si pemuda dan Pradipa sendiri.

“Tidak perlu risau, kau tahu kekuatanku sangat besar. Tidak ada yang bisa menandingi caraku bekerja, tidak ada lubang yang tidak bisa kususupi, bagiku tidak ada rahasia yang tersimpan rapat bertahan lebih dari satu hari. Dan satu lagi, tidak ada yang berani bermain gila padaku!” Jaka menekankan kalimat terakhir. “Aku tahu kau memiliki ingatan bagus, tentu kau tidak akan melupakan apa yang kau alami dalam beberapa hari terakhir ini.”

Jaka berdiri sambil mengambil serenceng uang, “Aku pasti membeli informasi darimu dengan harga yang layak.” Satu potong emas dengan beberapa belas potong perak cukup membuat orang-orang dikedai itu terbelalak. Tapi yang membuat orang lebih terbelalak lagi, diantara uang itu ada beberapa lencana berukir naga.

“Ups… maafkan kecerobohanku.” Kata Jaka dengan nada merasa bersalah, tapi pemuda di sebelahnya sudah melihat adanya lencana perunggu, besi, dan perak berukir naga di kantung uang Jaka, juga ada sebentuk cincin bermata hitam.

Tapi saat ini yang paling mengenaskan adalah Pradipa, apa yang dilakukan Jaka adalah mendorongnya ke sudut mati, kecuali menggabungkan diri dengan pemuda itu, dan melakukan apa yang di inginkannya, dia tidak berdaya. Sebab semua orang di kedai itu sudah melihatnya dalam wujud yang sebenarnya. Pradipa yakin, para pengunjung di kedai itu ada beberapa orang telik sandi yang akan segera melaporkan kejadian itu. Karirnya tamat sudah!

“Aku menunggumu di Pesanggrahan Naga Batu setelah tengah hari. Kita akan membicarakan banyak hal.” Berkata begitu Jaka melirik pada pemuda bercincin biru itu. “Aku juga tidak keberatan jika kau membawa orang lain…” usai berkata begitu Jaka keluar dengan santainya dan menghilang di balik kerumunan orang.

Graham pemuda bercincin itu nampak bergemertak, tangannya mengepal kencang, agaknya kejadian yang begitu cepat ini diluar sangkaanya. Pradipa seperti melihat sinyal dari pemuda itu, dengan gerakan gesit bagai geliat kijang, Pradipa meremas pengaduk masakan hingga menjadi beberapa keping lalu melemparkan ke daun pintu dan jendela.

Brak-Brak! Pintu dan daun jendela tertutup seketika, dalam waktu yang bersamaan, pemuda bercincin itu mengibaskan tangan kebelakang tanpa mengubah caranya duduk. Tujuh orang pengunjung kedai itu membeku dalam beragam pose. Ada yang sedang menyedok makanan, ada yang hendak melompat keluar dari kedai itu, ada juga yang baru bangkit dari duduknya.

Pemuda ini membalikkan badannya, dia melihat keadaan yang baru saja ditimbulkan. Beragam posisi yang membeku akibat kibasan totokan anginnya cukup memberikan gambaran. “Amankan dua orang ini!” perintah pemuda itu pada Pradipa.

Pradipa segera menyeret kedua orang yang berpose dalam keadaan berdiri dan hendak melompat keluar, dari gerakan terakhir itulah nampaknya pemuda bercicin ini menentukan bahwa mereka adalah telik sandi dari golongan lain.

Keduanya di giring ke belakang kedai, Pradipa memasukkan keduanya ke sebuah tempayan besar! Begitu tutup tempayan dibuka, ada sepasang tangan terjulur menerima tubuh kedua orang itu. Nyatanya kedai sesederhana itupun memiliki tempat rahasia.

Pradipa berniat untuk membuka kembali daun pintu dan jendela, tapi melihat pemuda bercincin itu masih duduk dengan raut muka tegang dan terlihat menakutkan, dia mengurungkannya.

“Apa keadaannya seperti yang di bicarakan?” pertanyaan sederhana, tapi pandangan matanya setajam sembilu.

Jemari tangan Pradipa terlihat bergetar, dengan mulut terkunci dia hanya mengangguk-angguk. Sebenernya bisa saja dia mengatakan bahwa Jaka itu pembohong, tapi kalimat yang sudah ada diujung lidahnya, tak bisa dia keluarkan. Teringat olehnya betapa pemuda itu memiliki kekuatan yang tidak bisa diremehkan! Satu jawaban sembarangan bisa membuat nasibnya benar-benar tidak beruntung.

“Kau tahu kesalahanmu?” pertanyaan itu tandas membuat bulu romanya meremang, seolah nada tanya sesimpel itu datang dari dasar neraka.

Pradipa menelan ludah berkali-kali sebelum bisa menjawab. “Maafkan aku.. ak-aku sungguh tak menyangka dia bisa melacak sampai kemari…”

Pemuda bercincin itu tampak menghembuskan nafas perlahan-lahan, seolah kemarahan yang membakar dadanya hendak di padamkan dengan tarikan nafasnya. “Kau tidak melaporkan tentang dirinya padaku? Nampaknya dalam hatimu sudah timbul penyakit…”

“Ti-tidak… sungguh! Berganti haluan, berpikir pun aku tidak pernah… waktu itu, aku… aku hanya meyakini kejadian malam itu tidak memiliki dampak…”

“Tapi kau sudah melihat dampaknya!” ketus si pemuda bercincin dengan amarah yang mulai mereda.

“Aku mengaku salah…” Paradipa menatap pemuda bercicin itu sekilas, tidak ada tanggapan, tapi matanya seperti memberi perintah padanya untuk terus bicara. Sambil mengumpulkan nyalinya Pradipa kembali bertutur, “saat itu, aku mendapat order mengikuti dia dari Arseta dan Sadewa, seperti yang kau perintahkan… aku bisa menempatkan posisi diriku sesederhana mungkin sehingga orang-orang hanya menggunakan jasa remeh, mereka tidak tahu jika aku banyak bekerja di beberapa pihak sekaligus. Sungguh sebuah kebetulan yang jarang terjadi, dua belah pihak yang berlawanan bisa memintaku untuk mengikuti orang yang sama… aku hanya mendapatkan informasi bahwa ilmu peringan tubuhnya termasuk pada tataran tinggi, karena itulah aku menghubungi beberapa teman lain untuk mempersiapkan peringkusannya… tapi,” Pradipa tertawa rawan.

“Benar-benar hari sial, bukannya kami yang meringkus, tapi dia balik menjaring kami… memalukan…” ujar Pradipa dengan tertunduk.

“Bagaimana cara dia meringkusmu?”

Pradipa menunduk, kemudian dia menceritakan bahwa mereka berdelapan dibuat mati kutu oleh gerakan Jaka dan akhirnya dipaksa untuk menyerah, lebih dari itu Jaka memiliki profile mereka berdelapan.

“…ah sebelum itu dia juga menundukkan orang lain, orang itu cukup hebat, tapi nasibnya lebih mengenaskan dari kami. Bahan pemuda itu menakulkan orang itu tanpa mengakat jemarinya… aku terlalu takut menceritakan itu. Karena kupikir jika aku menceritakan hal ini, kau akan membuat antisipasi yang berlebihan, dan itu akan membuat pergerakanmu lebih cepat dicium olehnya… sebab kekuatan telik sandi di belakangnya cukup menakutkan.”

Pemuda bercincin itu termenung, mengenalisa keterangan Pradipa. “Aku bisa menerima alasanmu…” gumamnya memutuskan. Sebenarnya bukan karena alasan Pradipa, tapi lebih kepada karena dirinya tak sanggup bereaksi saat Jaka duuduk disisinya, seharusnya dia sanggup melakukan itu.

Tapi entah kenapa, tubuhnya seolah membeku, daya refleknya menjadi tumpul. Dengan sendirinya saat refleknya menurun, dia membutuhkan tambahan waktu untuk konsentrasi yang lebih mendalam saat mencoba membangkitkan tenaga saktinya. Tapi lagi-lagi itupun tak sanggup dilakukannya, karena konsentrasinya buyar total, kehadiran Jaka tidak bisa dirasakan olehnya, padahal pemuda itu sedang berbicara di sebelahnya! Ini yang membuat dia memutuskan untuk diam saja.

“Lalu, apa yang akan kita lakukan?” Tanya Pradipa. “Anda jelas tidak mungkin bertemu dengan Sadewa, dia akan langsung mengenali anda…”

Pemuda itu terdiam. “Kau ikuti saja apa maunya, kecoh dia!” Katanya sambil berlalu. Tanganya mengibas, dan orang-orang yang membeku karena totokannyapun terbebas dengan perasaan bingung, seolah-oleh mereka baru saja terlelap.

Pradipa gundah dengan keputusan itu, sambil kembali membuka jendela, dia masih mencemaskan cara apa yang bisa dilakukan untuk mengecoh Jaka. Akan sulit sekali mengelabui orang yang memiliki sumber informasi sendiri, pikirnya. Setelah para pelanggannya membayar, Pradipa menutup kedai senjenak, dia ingin menggeledah dua orang yang tadi di totok pemuda bercincin itu.

“Sial!” umpat Pradipa sesampainya diruangan bawah tanah. Dua orang yang seharusnya masih tertotok sudah tidak ada, malah penjaga ruangan itulah yang sekarang terlihat membeku dengan posisi duduk. Pradipa bergegas keluar untuk mencari pemuda bercincin, kecolongan kali ini benar-benar membuatnya takut!
===o0o===

Jaka memperhatikan dua orang yang masih lumpuh karena pengaruh totok pemuda bercincin, bukan orangnya yang menjadi perhatian, tapi totokan pemuda itulah yang menjadi perhatian Jaka. Dengan seksama, Jaka memeriksa tubuh mereka. Tidak ditemukan adanya sumbatan syaraf atau apapun, Jaka bisa saja dengan caranya sendiri membebaskan mereka, tapi itu sama saja menghilangkan ‘barang bukti’, cara pemuda bercincin itu menotok sangat menarik. Jaka sudah mengikuti pembicaraan mereka dari awal hingga akhir—tentu saja tanpa diketahui mereka. Sungguh tidak pernah disangkanya, pemuda yang kelihatannya kikuk itu memiliki kemampua hebat, Jaka bisa memastikan kemahirannya diatas Kiwa Mahakrura.

Pemuda ini memeriksa leher, dan kepala keduanya, seulas senyum muncul penuh rasa puas. Rupanya tototkan yang dilakukan pemuda itu benar-benar teknik yang tinggi, jika dibandingkan cara totok si Matahari Dua Bukit, orang tua itu masih tertinggal jauh. Kibasan yang di lakukan pemuda bercincin itu disarangkan tepat di batang otak, empat cun (empat ruas tulang) diatas leher. Itupun bukan serangan yang menyumbat, tapi hanya menjempit secara halus—menghentikan fungsi dengan tekanan udara pada banyak titik, semacam akupresur tanpa sentuhan. Jika membebaskan dengan menyalurkan tenaga justru akan makin mengencangkan japitan (karena perbedaan tekanan tenaga—sebab orang tidak tahu seberapa besar tekanan tenaga yang digunakan pemuda bercincin itu).

Jaka sangat beruntung bisa mengatahui fakta itu, mengatur tenaga dengan seksama Jaka mengibasan tangan yang menimbulkan daya tekan udara, ke sekitar kepala keduanya. Tidak sampai pada hitungan kesepuluh, keduanya siuman. Tentu saja keduanya siuman dengan perasaan terheran-heran. Saat itu Jaka sudah jauh dari mereka, pekerjaan menguntit orang yang disangka sebagai telik sandi itu, biarlah dikerjakan anak buah Penikam.

Sebelum berjumpa dengan Sadewa, Jaka memutuskan; memperoleh informasi tambahan tentang pemuda bercincin adalah pekerjaan yang cukup berharga. Jarak yang dibuat Pradipa dengan dirinya dipangkas dengan cepat, saat ini Jaka sedang membayangi orang itu dalam jarak yang aman dan tanpa diketahui, terlihat olehnya Pradipa sedang kebingungan mencari pemuda bercincin itu.

Jalan yang diambil Pradipa sangat familier bagi Jaka, dan ternyata tak berapa lama kemudian orang itu sudah ada di gerbang bangunan yang kemarin malam baru saja ditinggalkan Jaka. Tidai menunggu Pradipa yang sedang mengetuk pintu gerbang, Jaka melesat dengan gerakan amat pesat ke wuwungan bangunan dan segera menyusup kedalamnya, penyelidikan terakhir sudah membuatnya sedikit paham keadaan bangunan itu.

Pemuda ini merembat dengan lembut dan penuh perhitungan, tiap ruangan di jenguk dengan harapan dapat melihat sesuatu yang menarik. Pintu dimana Kiwa Makrura dan Paksi menemui Duhkabhara sudah Jaka buka dengan perlahan, dengan pengamatannya yang sangat sensitive, Jaka mengetahui dalam kamar itu tidak ada apa-apa.

Menyelinap dengan cepat, Jaka membuka jendela sedikit supaya ada celah cahaya pagi masuk kedalam. Ruangan itu cukup luas dengan perabotan dua lemari dan satu set meja kursi, pemuda ini melihat banyak catatan terserak di atas meja. Dengan cekatan Jaka segera memeriksa, membaca beberapa belas lembar pertama membuat Jaka menggeleng kagum atas kecakapan kerja Cambuk dalam mengartikan symbol di peta dan gulungan yang dia bawa dari Gua Batu, ternyata apa yang tertera diatas meja itu serupa benar dengan analisa Cambuk.

Saat hendak memeriksa lebih lanjut, Jaka mendengar desir langkah menuju ruangan itu, otaknya bereaksi cepat, dua lemari di pojok ruangan di buka perlahan, tidak ada celah untuk bersembunyi disana mengingat bentuk lemari berisi rak dengan jarak yang pendek, Jaka segera melecat keatas langit-langit, bergantungan pada kayu disana dan membuka lubang penutup (man-hole) papan yang berfungsi sebagaimana eternit, saat Jaka sudah masuk kedalam lubang, pintu terbuka. Dua orang masuk dengan langkah lebar, dari dalam persembunyiannya Jaka bisa melihat si pemuda bercincin dengan orang setengah baya, mungkin dia Duhkabhara.

“Apakah kita akan langsung melawan orang itu secara berterang? Gerakannya benar-benar mengganggu rencana Bhre!” kata pemuda bercincin ini sambil mondar-mandir.

Duhkabhara tidak berkomentar, sesaat kemudian dia berkata, “Jika dugaanku tidak salah, orang yang kau temui itu adalah orang yang sama…”

“Maksudmu?”

Duhkabhara menuturkan kisah kalahnya Kiwa Mahkrura secara tragis. “…yang menjadi catatan Kiwa adalah; kesanggupannya meniru pukulan Triagni Diwangkara. Menurut Kiwa, orang itu seperti ular… tiap lubang bisa dia masuki. Arseta yang memilki tempat sedemikian tersembunyi saja, dia bisa menyelundup… aku kawatir dia sudah bisa melacak keberadaan kita.”

Graham pemuda bercincin ini nampak mengeras, “Ya… aku bisa memastikan, dia adalah orang yang sama! Aku melihat cincin hitam ada padanya..” katanya mendesis. Pemuda ini teringat saat Jaka memberikan uang pada Pradipa, ada beberapa lencana dan cincin yang sengaja dia keluarkan. “Orang itu benar-benar gila… dia sengaja mengeluarkan beberapa barang yang diperolehnya dari Kiwa! Dipikirnya aku akan terpancing dengan permainan itu? Jangan harap!” gumamnya dengan perasaan campur aduk.

Duhkabhara menggeleng-geleng, “Kiwa Mahakrua terlalu membawa adatnya sendiri, dikiranya setiap orang-orang baru yang di rekrut Arseta haya anak-anak murid utama enam belas perguruan utama, si nomer empat itu benar-benar duri yang menghalangi kita.”

Tok-tok! Terdengar pintu di ketuk.

“Masuk!” seru Duhkabhara. Jaka melihat Pradipa Nampak masuk dengan wajah pucat. “Ada apa?” Tanya Duhkabhara dengan nada tidak senang.

“Aku ingin sampaikan berita…” katanya denga menunduk.

Duhkabhara Nampak melirik pemuda bercincin itu. Setelah melihat orang itu mengangguk, Duhkabhara mengizinkan.“Bicaralah…”

“Tawanan kita hilang…” katanya sambil bersimpuh.

Pemuda bercincin itu tampak terkejut. “Tidak mungkin! Apa sudah kau cari disekeliling pasar? Tidak ada yang bisa melepaskan totokanku, kecuali aku sendiri!”

“Sudah, bahkan aku sudah mengerahkan teman-teman kita untuk mencari, tapi tak terlihat dimanapun. Satu hal lagi… orang kita yang menjaga dibawah, ditotok dengan cara seperti halnya cara tuan…”

Duhkabhara tampak saling pandang dengan pemuda bercincin itu dengan sorot mata terkejut, kali ini mereka yakin, bahwa pemuda yang mengalahkan Kiwa Mahakrura dan orang yang tadi baru saja menemuinya, adalah orang yang sama! Nampaknya pendapat Kiwa Mahakrura memang benar, lawannya seperti ular, tidak ada lubang yang tidak dia masuki.

“Apakah tawananmu adalah orang penting?” Tanya Duhkabhara.

Pemuda bercincin itu menggeleng. “Kau berdirilah..” katanya pada Pradipa yang sudah siap menerima hukuman. “Mereka bukan tawanan penting,” katanya pada Duhkabhara. “Aku lebih kawatir dengan cara musuh yang bisa meniru kebiasaan…”

Nyatanya Jaka sudah dianggap sebagai musuh oleh mereka, dalam persembunyianya pemuda ini tertawa masam. Tapi dia tidak menyalahkan sikap mereka, perang mata-mata memang penuh dengan ketegangan dan terkadang memuakkan.

“Apa akan kita lanjutkan kerja kita ini?” Tanya pemuda itu meminta pertimbangan pada Duhkabhara.

“Orang itu sudah mendapatkan beberapa benda penting dari Kiwa, dia juga berhasil masuk hingga pintu tersembunyi markasnya. Cepat atau lambat, semua jejak itu akan membawanya kesini…” ujar Duhkabhara. “Apakah perjalananmu di kuntit?” Tanya Duhkabhara pada Pradipa.

“Tidak, aku yakin kita aman…” jawab Pradipa dengan perasaan tidak yakin pula, jika Kiwa Mahakrura idolanya ternyata bisa ditumbangkan oleh lawan yang mempermalukan dengan pembebasannya, persembunyian pada tempat tetirah bangsawain ini hanya menunggu waktu untuk ditemukan!

“Kukira, aku akan meminta pada orang tua itu untuk menghadapinya. Jika dia tidak bisa mengatasinya, aku akan mengusulkan pada Bhre untuk menghentikan kegiatan kita… menentikan untuk sementara!” ujar Pemuda bercincin itu memutuskan.

“Begitupun baik, aku akan mendukung usulmu, Pratisara pasti akan menyetujui ini.” Kata Duhkabhara sambil keluar dari ruangan.

Jaka mengikuti tiap detik dengan debar senang, pada dasarnya dia tidak suka bertarung, tapi jika ada lawan yang belum pernah dia ketahui ilmunya, itu menjadi sebuah kesenangan yang secara aneh merambati hatinya, Jaka bersumpah untuk mengikuti pemuda bercincin itu—dia benar-benar penasaran dengan ‘orang tua’ yang mereka maksud, jangan-jangan ada hubungannya dengan Wrddhatapasa?

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s