95 – ‘Peralatan Masak’ Gelombang Dua

Jaka tidak terkejut, manakala dia mendarat, dia memang mengetahui ada beberapa orang disitu, mungkin mereka musuh, mungkin pula bukan siapa-siapa. Tapi persetan dengan semua itu! Jaka lebih memikirkan kondisi tubuhnya. Jemarinya kembali menari-nari dengan gerakan tusuk, cubit, getar.

“Ah, itu bagian Taiyin tangan yang tersembunyi… titik Zhongfu, Yunmen dan Tianfu…” gumam suara itu lagi nyaris saja memecah konsentrasi Jaka. Pemuda ini tergoda untuk melihat siapa kiranya orang yang bisa menyebutkan titik-titik rumit syaraf secara runtut itu.

“Ohya?” orang satunya mengomentari dengan tidak antusias. “Lalu apa pula artinya kalimat yang kau katakan tadi?”

“Maksudmu, Neijing Huang Ti Nei Ching Su Wen? Itu artinya azas umum pengobatan yang di lakukan oleh Huang Ti—seorang kaisar masa lalu di daratan jauh sana. Huang Ti Nei Ching Su Wen sendiri adalah judul sebuah kitab kuno, yang membahas pengobatan tusuk jarum dengan beragam teknik, juga lebih kepada..”

“Baik-baik, itu sudah cukup…” kata rekannya memotong.

Sambil mengangkat bahunya, orang itu kembali berkata. “Kau tahu, yang dilakukan saat ini adalah teknik Zhen atau menggetar, dan Chan emm… artinya menggigil, secara bersamaan, sungguh terampil!” dia berkata pada orang disebelahnya. “Hm, dia melakuan Rou dan Nie dengan sangat sempurna, tepat ke syaraf.”

Orang itu menggumam tak jelas, penjelasan rekannya tak membuat dia paham lebih banyak, menurutnya bahasa yang digunakan terlalu asing di telinga. Tapi dia tahu Rou berarti pijit, dan Nie artinya cubit. Rekannya sering menggunakan kedua cara itu padanya—dengan mengatakan berkali-kali sampai dirinya hapal betul—saat dia pegal-pegal.

Rekannya itu memang mempelajari banyak bahasa asing, dan dengan sendirinya pengetahuan dari bangsa asing di pelajari pula. Diluar dari penjelasan itu, dia bisa mengidentifikasi yang dilakukan Jaka dengan jemarinya pada bagian lengan dan bahu, adalah cara untuk menahan aliran hawa murni.

Rasa penasaran melingkupi hati Jaka, tapi dia cukup bisa menahan diri untuk tetap menggetarkan berbagai titik dalam lengan kiri-kanan, dan sekitar bahu.

Hampir tiap gerakan Jaka di ikuti oleh kedua orang itu, bahkan beberapa gerakan yang terakhir, dikomentari pula secara detail. “Shaocung, Shaoze dengan teknik penguatan Qi? Ah bukan itu… itu lebih kepada titik Yanglao dipadukan dengan titik Shenmen? Tidak mungkin! Tapi… caranya menuju kepada arah perpaduan dua titik berjauhan. Teknik apa yang digunakan?” serunya terkaget-kaget sendiri pada rekan disebelahnya.

“Uh, jangan kau tanya aku…” ujarnya menjawab tak semangat.

Jaka bisa menyimpulkan sedikit dari pembicaraan itu, tapi gerakannya tak berhenti. Meski dia masih harus berkonsentrasi dengan apa yang di lakukan, Jaka sudah bisa mengalihkan perhatian dengan menegaskan pandangan matanya.

Dikegelapan malam, berangsur-angsur setelah bisa menyesuaikan pandangannya, Jaka bisa melihat mereka secara jelas. Dua orang, dengan sosok tinggi besar dan satu agak membungkuk. Agak menyipitkan mata, akhirnya Jaka mengatahui bahwa salah seorang diantaranya dia sudah pernah melihat, bahkan berbincang. Dia lelaki bertampang biasa yang menjadi lawan bicara pemilik Pancawisa Mahatmya. Orang kedua, lebih berumur—kalau tak ingin dikatakan renta. Cara berdirinya tidak tetap, Jaka menduga orang itu agak pincang.

Akhirnya Jaka menghembuskan nafas panjang-panjang secara cepat dan lambat, dengan tempo berbeda-beda. Gejolak dalam tubuh sudah mereda—meski hanya sementara. Saat ini tubuhnya di penuhi dengan tenaga yang sewaktu-waktu harus dimutahkannya. Karena oleh hawa murni yang dilakukan tadi dengan beragam teknik totokan, membuat tubuhnya mengembang, padat energi—seperti roti yang dipanggang, makin terkena panas, makin mengembang. Hal itu sengaja dilakukan Jaka untuk tetap membuat kondisi otot dan syarafnya ‘membeku’dalam bungkusan hawa sakti yang padat, setelah terbiasa dengan kondisi itu, Jaka bisa menekan pengaruh Racun Getah Biru sepenuhnya. Sebenarnya, dalam kilasan sesaat tadi.. Jaka sempat memikirkan untuk menekan pergolakan Racun Getah Biru dengan Tenaga Semu, tapi dengan kondisi saat ini yang membutuhkan pergerakan aktif, itu jelas bukan solusi terbaik—sementara dampak penggunaan Tenaga Semu bisa membuatnya harus berdiam diri berhari-hari.

“Hebat!” seru pemuda ini sambil bertepuk tangan. “Pengetahuan tuan sungguh luas. Kalau boleh, aku akan menambahkan sedikit…” Hal pertama yang diucapkan pemuda bukannya bertanya siapa dia, sedang apa disitu; tapi malah lebih memilih ‘meluruskan’ komentar orang itu.

“Shaochung, Shaofu, dan Shenmen…” kata Jaka sambil menunjuk titik-titik pada jari kelingking tangan kanannya, pangkal jari kelingking dan punggung tapak tangan. “berjumpa dengan Shouze, Quangu, Houshi, Wangu, Yanggu dan Yanglao…” sambil menunjuk titik-titik pada jemari kiri, dengan urutan yang sama seperti tadi, hanya saja ini mencapai pangkal pergelangan dan satu titik pada sambungan lengan. “untuk mendapatkan perlakuan Zhen dan Nie, karena itu sebagai dasar untuk membangkitkan Chan pada syaraf Jiquan dan Jianzhen…” Jaka menunjuk bawah ketiak sebelah kirinya.

“Ah ya… diantara titik Shaohai dengan titik Jiquan ada Qingling, titik ini harus dalam keadaan diam tanpa tambahan Qi…” Jaka menunjuk sendi sambungan lengan kanan dengan bawah ketiak kanan, Qingling sendiri terletak diataranya.

“Itu sulit!” seru orang itu berkomentar.

“Bukan berarti tak bisa dilakukan,” jawab Jaka dengan tersenyum. “Lebih jelasnya pada saat menambahkan Qi, untuk menutup antara jalur Shaohai dengan Qingling, lakukan lejitan Qi pada Fengmen…” terangnya memutar badan sambil sambil memegang tulang belakang ruas pertama. “Dengan sendirinya, lejitan Qi itu akan menghubungkan Jiquan, melewati Qingling…” kata Jaka sambil menghadap kemuka lagi.

“Ah…” seru orang itu terkesima.

“Kemudian lakukan sedikit lejitan Qi lagi untuk membangkitkan cara Bo, pada Qingling…”

“Tunggu! Bukankah kau bilang Qingling harus diam tanpa tambahan Qi?”

“Penambahan Qi dengan lejitan itu berbeda jauh, Qingling memang diam… tapi bukan berarti dia tidak bisa melontarkan Qi yang melewatinya, dia bisa menjadi pijakan untuk melejit. Gerakan itu akan menimbulkan Bo bersamaan dengan itu Mo juga muncul. Sesudah itu terjadi, gunakan Zhuo pada Dazhui..” lanjut Jaka kembali memutar tubuhnya sambil menunjukan satu titik di punggung, berjarak satu telapak tangan dari tengkuk.

“Ah, cara merenggut dan menggesek yang rumit…” gumam orang itu.

“Ooo.. jadi, Bo itu artinya merenggut, dan Mo adalah menggesek?” sahut lelaki berwajah biasa menimpali dengan gumaman.

Rekannya mengangguk tanpa komentar. “Lanjutkan, anak muda…”

“Pada akhirnya, sebelum Qi merambat ke Shaohai lagi, lakukan ledakan Qi beberapa saat sebelumnya dengan totokan pengunci.” Terang Jaka menutup pejelasannya.

“Ah…” tiba-tiba orang itu merasa penjelasan Jaka ternyata ada satu kejanggalannya. “Itu bunuh diri?!” serunya.

Jaka tidak menjawab.

“Kenapa kau berkesimpulan itu bunuh diri?” tanya temannya.

“Titik-titik yang dilewati beragam teknik itu, ditutup untuk menghalau tenaga, juga berguna untuk memacu fungsi jantung, biasanya itu hanya terjadi dalam waktu seratus hitungan, jika kau sampai melewati hitungan keseratus, pecah pembuluh darah di lengan kanan kiri adalah hal paling wajar yang terjadi…”

“Ah sialan! Dari tadi aku juga tahu teknik yang dilakukan pemuda itu untuk memampatkan tenaga, cuma pembicaraan sialan kalian ini membuatku pusing setengah mati!” Gerutu orang itu membuat rekannya tertawa terbahak.

“Puas, sungguh puas… berbicara denganmu membuat diriku memperoleh manfaat baru!” kata orang tua bertubuh agak bungkuk ini.

Jaka menganggukkan kepala. “Sama-sama, saya juga menginginkan hal serupa…” kata Jaka berdiplomasi, mengatakan bahwa dirinya juga inginkan informasi baru mereka.

“Boleh, cuma kau harus beritahukan kepadaku, kenapa harus menggunakan cara itu?”

“Ada cara yang bisa dan harus dilakukan, ada juga yang terlarang… tapi sebenarnya itu bisa dilakukan setiap saat.”

“Kau mengatakan dengan sangat samar, anak muda…”

“Akan kuperjelas saat mengetahui nama-nama kalian berdua.” Jawab Jaka sambil tersenyum kecil.

“Ah, cara meminta yang pintar…” gumam orang ini. “Kau bisa menyebutku, Adiwasa Diwasanta.”

Mendengar itu, Jaka seperti melihat kilat petir di malam hari. “Aku pernah mendengar nama itu. Menjadi kehormatan besar buatku…” sanjung Jaka dengan kejut tak berperi.

Ki Alih pernah bercerita sekilas, pada masa dia terjun ke dunia persilatan ada sesosok yang menurutnya menakutkan—dan dia sangat beruntung karena belum pernah bersua muka, orang itu dikenal dengan nama Adiwasa Diwasanta; yang berarti penghenti malam. Nama aslinya entah siapa, tapi semenjak orang ini mengalahkan salah satu anak keturunan Tabib Hidup Mati—dalam sebuah pertarungan yang beritanya hanya diketahui dari mulut kemulut—kemunculan namanya menjadi sebuah pertanda yang memusingkan. Senyumnya selalu ditafsirkan sebagai alamat maut buat orang yang dituju, kehadirannya menjadi bintang sial bagi siapapun itu, caranya bertindak tidak pernah diketahui. Informasi orang ini sangat tertutup rapat. Karena berbeda masa, derajatnya sudah tentu diatas Arwah Pedang sekalian. Bukan tanpa alasan nama ‘penghenti malam’ disematkan padanya, karena setiap orang yang dituju olehnya, tidak akan pernah bisa melewati malam hari berikutnya, dan pameo itu tidak pernah meleset.

Jaka menegaskan pandangan mata lagi untuk menyaksikan, sebuah legenda yang tidak pernah teraba itu, sesosok orang tua yang pada pandangan pertama akan sangat mengesankan kerentaan, tapi dikegelapan malam, Jaka masih bisa melihat setitik sinar bagai bintang dari matanya—menyaksikan itu, dalam hati Jaka bisa meraba ada semacam rasa sunyi, perasaan sunyi yang biasanya dimiliki jago yang belum pernah kalah. Diam-diam Jaka menghela nafas dingin dengan bulu kuduk meremang.

“Kita sudah pernah berjumpa, aku Alpanidra…” Kata orang yang bertampang biasa ini dengan nada lambat.

Jaka mengiyakan. Pemda ini merasa ada kekawatiran merambati hatinya, lelaki paruh baya bernama Alpanidra ini sejak awal dalam pandangannya memang memiliki bobot, melihat kondisinya saat ini yang bisa beriring jalan dengan Adiwasa Diwasanta, orang itu sudah tentu pilih tanding. Pemuda ini merasa kawatir bukan untuk dirinya, tapi dengan teman-temannya… Arwah Pedang sekalian, terkadang memiliki ego yan besar. Saat mereka menyaksikan ada nama besar yang hanya pernah didengar, semangat untuk ‘mencoba’ akan lebih besar dari biasa.

“Baik, aku sudah mendengar nama kalian berdua. Namaku sendiri Jaka Bayu. Mengenai alasan mengapa aku melakukan hal tadi, ehm… sebenarnya ini adalah tindakan pencegahan saja. Seperti yang sudah kukatakan tadi, ada cara biasa, ada cara terlarang yang bisa dilakukan setiap saat. Bagi kebanyakan orang, cara yang kugunakan mutlak bunuh diri, tapi bagiku adalah jalan hidup… inilah yang kumaksud dengan cara terlarang yang bisa dilakukan setiap saat.”

“Pertanyaannya adalah, mengapa?” tanya Adiwasa Diwasanta dengan sangat penasaran, untuk ukuran pengetahuan yang dikuasai, Jaka terlalu muda.

“Sulit dikatakan…” sahut Jaka dengan suara agak sumbang.

“Haha… dari kemarin, waktu kau berkenalan dengan kawanku itu, aku sebenarnya juga ingin menjajal dirimu, sepertinya malam ini benar-benar jodoh untukku…” kata Alpanidra seolah mengetahui maksud Jaka, dan langsung dia tanggapi. Orang ini maju satu tindak kehadapan Jaka.

“Tu-tunggu… aku tak akan melakukan itu..” seru Jaka sambil mengangkat kedua tangannya. “Anggap saja aku kalah…” katanya.

“Tidak bisa! Ini toh bukan pertarungan untuk menentukan kalah-menang, tapi untuk mengetahui alasanmu melakukan hal-hal itu…” tukas Alpanidra bersikeras.

Jaka merasa apa boleh buat, “Lakukan dengan perlahan saja.” Kata pemuda ini.

“Terserah dirimu!” balas Alpanidra tertawa pendek, penjelasan Harsa Banggi—nama yang berati ‘suka akan bahaya’—lelaki bermata seperti ikan mati yang sempat menjajal Jaka, membuat dia merasa tertantang, sayangnya pada saat itu bukan waktu yang tepat untuk menyatakan antusiasme. Saat ini Alpanidra benar-benar akan memanfaatkan semaksimal mungkin.

Jaka selalu memiliki jalan keluar dalam kondisi-kondisi sulit, kali ini pun dia memilikinya. “Kita hanya akan melakukan dalam tiga jurus, bisa tidaknya anda menarik kesimpulan dari sana tergantung pemahamanmu.”

Tidak menanti Alpanidra menjawab, Jaka menarik kaki kesamping, jemari kanan mengepal mengacung kedepan dengan buku jari tengah agak mencuat, sementara tangan kiri ditarik sejajar pinggang dengan telapak membuka kesamping dan kelingking tertekuk, lututnya agak merendah.

“Wah-wah… tangan kiri bersiap Merengkuh Arwah Rembulan, tangan kanan Kibasan Lengan Tunggal, kaki menggunakan persiapan Langkah Tujuh Raja.. dan tenaga itu, hm… terus berubah, sangat menarik…” Ujar Adiwasa Diwasanta memperhatikan setiap detail gerakan Jaka, dia merasa pemuda ini adalah orang paling menyentak minatnya dalam tiga puluh tahun terakhir.

Tidak menunggu Alpanidra berkomentar lebih jauh, Jaka memulai inisiatif penyerangan yang jarang dia lakukan. Dalam tiap ruas tulang yang melejitkan gerak, Jaka menggunakan perobahan beragam. Saat tangan kanan mengibas kedepan disusul dengan sapuan tangan kiri kemuka, tapi baru ditengah jalan gerakan itu ditarik kembali dengan kecepatan tak teraba, sehingga kedua tangan sejajar pinggang! Dalam kilasan detik gerakannya seperti menebar, dan gerak cengkeraman—menarik tangan sejajar pingang, membuat dadanya membusung dengan suara berderak. Sementara kakinya membuat tendangan menyamping, memotong pinggang Alpanidra.

Alpanidra tidak melihat ada hal aneh, pada serangan itu, dimatanya itu sama dengan tendangan dengan pembukaan gerak tidak berguna. Kecepatan tendangan itu sulit dielakkan, apa boleh buat dia harus menangkisnya dengan mengibaskan tangan kanan.

Tidak tahunya begitu tendangan itu hampir sampai, Jaka menarik balik tendangan itu sampai-sampai badannya memutar, dan akhirnya berganti kaki kiri menendang. Waktu yang dibutuhkan untuk menarik serangan tendangan dan meluncurkan tendangan lain, hampir tidak ada satu detik! Tapi Alpanidra merasakan tekanan sangat fokus pada tulang panggul dengan kekuatan berkali lipat.

Jelas itupun dia tak sanggup untuk mengelak, terlalu cepat! Yang bisa dilakukan hanya mengempos tenaga sakti melingkupi sekujur tubuhnya, dengan rencana serangan balasan, begitu benturan terjadi. Sebab tangan kirinya juga tak sempat lagi melakukan tangkisan!

Tapi lagi-lagi, Jaka menarik serangan itu membuat badannya berputar lagi dengan arah kebalikan, dan begitu kaki menyentuh tanah, tubuhnya mencondong kemuka pada saat bersamaan kedua tangan memukul dengan posisi badan miring.

Gerakan demi gerakan aneh itu terjadi kurang dari satu helaan nafas, bagi orang yang biasa, hanya akan melihat satu gerak serangan pukulan terakhir sebagai jurus pertama, padahal Jaka sudah melakukan tiga jurus dalam kombinasi yang sangat rumit dan beragam.

Dessh! Tidak ada pilihan bagi Alpanidra kecuali menerima serangan itu dengan hawa sakti terpusat pada dadanya! Seluruh rencana dalam benaknya buyar seketika begitu merasakan gumpalan-gumpalan tenaga sakti lawannya menerobos hampir seluruh pembunuh darah. Tidak ada rasa sakit yang dialami, hanya tiba-tiba saja seluruh pembuluh darah terasa melebar dan pada kejap berikut tenaga serangan itu menciut sama sekali—hilang tidak berbekas, membuat syaraf-syarafnya merespon dengan hal yang sama—menciut.

Dampak yang dirasakan Alpanidra tubuhnya seolah lumpuh, padahal himpunan hawa saktinya masih berputaran disekujur tubuh, tapi serangan Jaka yang tidak menimbulkan rasa sakit itu seolah merenggut bagian dalam dirinya. Membuat dirinya keras diluar, hancur didalam!

“Sudah tiga jurus…” gumam Jaka dengan tubuh berdiri sempurna sembari mememperhatikan Alpanidra.

Alpanidra masih berdiri termangu, pada hitungan kelima, tiba-tiba dia berteriak keras dan melancarkan pukulan kedepan. Dalam alam pikirnya, Jaka masih berdiri tepat didepannya, padahal saat ini Jaka berada disamping.

Brak! Gemuruh suara batang pohon dilanda pukulan Alpanidra membuat Jaka terkagum-kagum. Batang pohon itu meledak dengan serpihan berhamburan kemana-mana. Jika pukulan Triagni Diwangkara menghancurkan objek serangan dengan pola menghanguskan lebih dulu, maka pukulan Alpanidra seolah meluluh lantakan dalam bentuk aslinya, jelas itu pekerjaan lebih sulit, karena dibutuhkan himpunan tenaga sakti yang sangat besar.

“Hiaaat!” Alapanidra berteriak kembali dengan melakukan pukulan kedepan.

“Cukup!” bentak Adiwasa Diwasanta melesat cepat kehadapan Alpanidra dengan mencengkeram kepalan tangan rekannya.

Jaka sangat terkejut melihat tindakan Adiwasa Diwasanta yang ceroboh, tapi dilain saat, pemuda ini terkagum-kagum saat orang tua agak bungkuk itu mengibaskan tangannya yang lain, sebuah angin yang membadai terbit dari kibasannya dan membuat ranting, bebatuan dan beberapa batang pohon meledak!

“Luar biasa… seperti Mengalir Menembus Besi…” gumam Jaka dengan bertepuk tangan terkagum-kagum. Ternyata, Adiwasa Diwasanta dapat menyalurkan serangan Alpanidra lewat kibasannya tadi, hebatnya lagi cengkeraman tangannya membuat pergolakan tenaga dalam tubuh Alpanidra yang meliar akibat serangan Jaka, reda seketika!

“Kau tahu teori Mengalir Menembus Besi?” tanya Adiwasa Diwasanta dengan tatapan menyelidik—merasa tertarik dengan ucapan Jaka. Setelah melakukan gerakan yang cukup berat tadi, tak juga terlihat adanya engahan berarti orang tua ini.

Jaka mengangguk. “Tapi yang tuan lakukan lebih hebat daripadanya,” tukas Jaka. “Kulihat rambatan tenaga lawan, selain bisa dimanfaatkan sesuka hati, tuan pun bisa menggunakan untuk keperluan pribadi…” sambungnya dengan maksud yang absurd.

Adiwasa Diwasanta tertawa, hatinya senang bukan kepalang! Untuk kali pertama dalam hidupnya dia akhirnya menemukan orang yang bisa diajak ‘bicara’ dalam banyak hal. “Katakan padaku, apa maksud keperluan pribadi?” tanyanya dengan senyum masih mengembang.

“Jika itu terjadi pada orang lain, tiap serangan lawan akan digunakan untuk mendobrak kebuntuan pada syaraf-syaraf ditubuhnya. Sebuah teknik nyaris tanpa cela…”

Adiwasa Diwasanta mengangguk-angguk. “Masih nyaris ya?” ujarnya. “Ternyata belum sempurna…” gumamnya.

“Ya, nyaris…”

“Apa kau sanggup mengungkap kelemahan kemampuanku?” Adiwasa Diwasanta bertanya tanpa basa-basi.

“Jika saja tadi aku harus menghadapi tuan, akan sulit buatku. Tapi, tadi aku sudah cukup menyaksikan, dan ini cukup buatku.” Jawab Jaka tidak langsung, membuat Adiwasa Diwasanta termenung sambil menghela nafas. Jika itu keluar dari mulut orang lain, dia akan menghajar sampai setengah mati karena omong kosongnya. Tapi bobot Jaka Bayu dimatanya saat ini berbeda, pemuda yang bisa melakukan teknik pembekuan syaraf tanpa harus menghambat gerak, adalah sebuah pembenaran bahwa kemampuan Menerobos Jasad Emas miliknya masih bisa dilumpuhkan.

“Apa yang terjadi?” tiba-tiba saja Alpanidra berseru mengejutkan mereka. Lelaki ini seperti disentak kesadarannya matanya berulang kali diusap.

“Kau terjebak dalam ilusi tenagamu sendiri..” jawab Adiwasa Diwasanta menjelaskan.

“Terjebak?”

“Ya, tiap gerakan yang di lakukan anak muda itu membuat syarafmu terlena dan akhirnya kaupun terjebak kebelakang, apa yang kau lakukan lebih lambat dari seharusnya, jika itu terjadi pada pertempuran sesungguhnya, kau sudah mati. Karena syarafmu merespon serangan lawan dengan lambat…”

“Ah….” Desah Alpanidra akhirnya menyadari sesuatu. “Aku paham…” tiba-tiba Alpanidra berseru. “Jadi, kau melakukan teknik pada dirimu sendiri, selain membekukan tenaga, juga untuk memeliharanya… maksudku supaya tidak menghilang, dan bisa digunakan sewaktu-waktu.. ah bukan-bukan.. maksudku..”

“Aku sudah menangkap maksudmu, dalam mengamati sesuatu kau memang tanpa cela!” sela Adiwasa Diwasanta sambil menepuk bahu sahabatnya. “Jelaskan padaku dalam bahasmu anak muda…” katanya seraya menatap tajam pemuda ini.

Jaka terdiam, dia merasa sungkan menjelaskan hal-hal yang mungkin saja bisa disalah pahami mereka. “Masih sulit kuungkap dengan bahasa… tapi jika tuan sudah memahaminya, tetaplah seperti itu.”

Geraham Adiwasa Diwasanta menggembung, dalam masa hidupnya, hampir semua permintaannya selalu dituruti orang, siapapun dia. Tapi sikap pemuda ini membuatnya merasa geram, tapi dilain sisi ada rasa sungkan yang membuat hatinya tak sanggup memaksakan kehendak.

“Baiklah, bisakah kira berbagi informasi?” tanya Jaka tanpa basa-basi.

Masih dengan perasaan bingung—karena gelombang hawa murni dalam tubuhnya yang naik turun akibat serangan Jaka, Alpanidra menghela nafas lalu berbicara. “Kau pernah mendengar nama Lindu Wastu dan Wingit Laksa?”

Jaka mengangguk.

“Mereka sudah ada di tangan kami, satu benang merah sudah didapat. Seolah semua yang terjadi di Perguruan Naga Batu tumpang tindih tak karuan, pandangku sekarang bisa kupertegas padamu. Jika kemarin kukatakan ada tiga kelompok dan mengasumsikan kelompok ketiga adalah dirimu, maka saat ini aku menyatakan kelompok ketiga adalah orang lain.”

Jaka termenung. “Apakah ada yang mengetahui kabar tentang kaum Riyut Atirodra?” pertanyaan itu membuat keduanya terkejut.

“Bukankah mereka sudah tidak ada diseputaran kota pagaruyung lagi?” tanya Alpanidra.

“Seharusnya,” jawab Jaka. “tapi aku merasa mereka akan kembali ke kota ini lagi.”

“Merasa? Itu tak bisa dibenarkan sebagai dasar pikiran. Tentu kau punya alasannya anak muda!” tandas Adiwasa Diwasanta.

Jaka menghembuskan nafas perlahan. Lalu dia menceritakan tentang pertemuannya dengan Kanayana—anggota Riyut Atirodra yang di hajar sampai konyol oleh Hastin Hastacapala. “Mereka memang bukan anggota penting, tapi jika mereka sampai hilang dari pantauan penanggungjawabnya, ini akan memancing pergerakan salah satu hulubalangnya… aku mengkhawatirkan itu.”

“Akan kuselidiki informasimu…” kata Alpanidra. “Lalu, kau sendiri sedang apa disini?” dia balas bertanya. Dan Jaka juga menceritakan apa adanya, tanpa ada yang ditutupi—kecuali pertarungannya.

“… Duhkabhara merupakan tokoh sentral sementara, sebelum kita bisa memegang kepala mereka yang sebenarnya. Besok siang aku akan berjumpa dengan para tokoh Perguruan Naga Batu, petang esok hari aku akan menemui tawanan kalian.” Pungkas pemuda ini.

“Para wakil dari enam belas perguruan utama sudah ada disini semua, apakah kau atau kami yang akan mengurus mereka?”

“Lebih baik kalian saja.” Ucap Jaka menjawab pertanyaan Alpanidra.

“Oh satu lagi, kau tadi menyebutkan Pratyantara?”

“Ya, ada apa dengan mereka?” tanya Jaka.

“Besok kau bisa berjumpa Jung Simpar, mungkin ada hal baru yang bisa kau korek…” ucapan Alpanidra memang seperti tiada maksud apa-apa, tapi bagi Jaka, itu seperti tamparan.

Jung Simpar sudah menjadi tanggung jawab Ki Alih dalam ‘mengurusnya’, bagaimana mungkin mereka mendapatkannya—menawannya? Apakah hanya sekedar gertakan? Apakah ada kebocoran dalam perkumpulannya?

“Baik, kita tetapkan seperti itu saja.” Kata pemuda ini sambil menangkan goncangan hatinya. “Aku permisi lebih dulu…” tanpa menunggu jawaban, Jaka melangkah menjauh, tapi mendadak pemuda ini kembali membalik badan.

“Oh satu lagi…” katanya menirukan gaya ucapan Alpanidra. “Aku berterima kasih atas apa yang kau lakukan pada Momok Wajah Ramah…”

Selesai berkata begitu, tubuh Jaka sudah telan kegelapan malam. Meninggalkan Alpandira yang menatap bayangan pemuda itu dalam keterkejutan.

“Bagaimana dia bisa tahu, aku yang melakukan?” tanyanya pada Adiwasa Diwasanta dengan rona masih terheran-heran.

“Mana aku tahu?! Setan yang tahu!” dengus Adiwasa Diwasanta merasa perbincangannya dengan Jaka masih sangat kurang, dia ingin mencari pemuda itu, menanyakan beragam hal.. jika perlu mengorek benaknya! Jika benar ada—cela pada ilmu Menerobos Jasad Emas miliknya jelas tidak boleh terjadi!

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s