94 – Penguntitan

Jaka menyadari dirinya harus bergerak cepat, sengatan demi sengatan yang diterimanya dari Kiwa Mahakrura membuat lengannya sakit, bermula hanya rasa sakit ringan saja, tapi saat langkah kaki membawanya menjauh, rasa sakit itu kian menguat, dan pada akhirnya… Jaka merasakan kesakitan setengah mati! Dalam benaknya Jaka mencoba mencari tahu apa yang sedang menimpa dirinya, mutlak dengan kemampuan Kiwa Mahakrura, belum akan mampu mengguncangkan pertahananannya, berarti bukan karena ilmunya, pikir Jaka dengan rahang mengatup kian keras.

Ditubuh sang lawan ternyata mengandung racun! Dan itu membuat Racun Getah Biru yang tersimpan pada lengan Jaka—akibat serangan Pedang Baja Biru, bereaksi. Reaksi itulah yang membuat Jaka kesakitan, rasa sakit itu menjalar dengan cepat melingkupi sepanjang lengan dan sampai akhirnya membuat kebas jemarinya, kini bahkan sudah menyerang sekujur tubuh.

Terakhir racun tersebut kumat seingatnya sekitar dua bulan lalu, itu juga tidak separah saat ini. Keringat dingin mengucur berketel-ketel, Jaka paham benar laju Racun Getah Biru sulit di hadang, sungguh tak disangka racun dalam tubuh Kiwa Mahakrura yang bersifat pasif menjadi pemicu fatal bagi racun yang mengeram di tubuhnya. Seingat dia, hanya racun yang bersifat mengendalikan dan berdaya kerja sangat halus, dapat menjadi pemicu. Dalam rasa sakit yang makin menggila, Jaka akhirnya memahami bahwa; Kiwa Mahakrura merupakan pemilik tato racun—mungkin salah satunya, ya… dia adalah pion yang akan di gunakan oleh pihak tertentu untuk menjadi ujung tombak, mereka jelas tidak perduli dengan nyawa orang-orang ini, yang penting tujuan mereka tercapai.

Dalam hati Jaka menghibur diri, ‘untung saja racunku kambuh, ternyata aku jadi tahu orang yang seharusnya kucari…, tak perlu lagi repot kesana kemari mencari jejak pemilik tato racun’, pikirnya dengan getir.

Rasa sakit yang menyengat tiap sendi, membuat Jaka harus merebahkan diri di tanah, masih dengan kesadaran penuh, Jaka memilih tempat yang cukup tersembunyi. Halusinasi mulai menyerang benak pemuda ini, dengan nafas tersengal, Jaka mempertahankan pikirannya dengan mencoba menganalisa kejadian sebelumnya, dan itu cukup membantu untuk memfokuskan pikiran supaya dia tetap sadar.

Jaka teringat, Kiwa Mahakrura tidak memiliki rasa putus asa, meskipun dilihat secara akal sehat, saat itu Kiwa Mahakrura sulit untuk menang, untung dirinya tidak mendorong Kiwa Mahakrura untuk terus melakukan perlawanan, sebab makin banyak menyerang dia seperti kerbau gila yang hanya tahu lari lurus, makin lama kondisinya akan semakin memburuk dan pada akhirnya, dalam benaknya hanya ada nafsu membunuh—dan nafsu yang tak seimbang itu akan menelan Kiwa Mahakrura dalam kegilaan yang akan mencabut nyawanya. Anda saja Jaka terus memaksa Kiwa Mahakrura untuk menyerang, dia akan kehilangan jejak yang sangat berharga untuk menelusuri para pemilik tato racun. Dalam kondisi serba payah ini, Jaka masih bisa bersyukur, ada kemudahan dalam kesulitan.

‘Benar-benar dalam kesulitan ada sebuah kemudahan…’ pikirnya, dengan benak menerawang kejadian beberapa hari berselang, dia teringat Arseta memang pernah menceritakan padanya tentang kemungkinan para korban Serbuk Peluluh Jiwa—yang pada saat itu Jaka dianggap sebagai korban pula.

Memang begitulah akibat yang ditimbulkan dari racun Pelumpuh Otak, yang oleh Arseta disebut Serbuk Peluluh Jiwa. Menurut Arseta mereka yang didalam tubuhnya terdapat tato naga (beracun), mutlak hanya mendengar perintah satu orang… tak perduli kau ini saudaranya, jika datang perintah membunuh, takkan berkerut kening mereka lakukan tugas itu.

Teringat perbincangan hal ini, Jaka jadi tersenyum. Dia tersenyum bukan karena mengingat Arseta yang demikian mudah dikelabui, tapi dia teringat dua gadis yang berbincang dengannya saat mencoba mengorek informasi darinya dengan cara memijat dengan mengenakan baju sangat minim.

‘Ah’, desah pemuda ini menjadi agak rileks saat mengingat mereka, bukan karena mengingat minimnya baju yang mereka kenakan. ‘Ya, seingatku mereka mengenakan baju dengan belahan dada rendah dan paha molek yang menantang untuk dijamah… uh, sial! Kenapa aku malah mengingat-ingat yang itu?!’ Gerutu Jaka mencoba meluruskan fokus pikirannya dari deraan racun yang menggila, dia menghela nafas perlahan dan kembali mencoba mengingat kejadian itu, tapi lagi-lagi sial… tak kala ingin mengingat raut kejut keduanya saat melihat tubuh Jaka penuh dengan luka, pikiran pemuda ini malah lebih fokus bahwa; salah satu dari kedua gadis itu memiliki tahi lalat di paha kiri…

‘Ya, nampaknya benar di paha kiri, di bagian atas, dekat dengan… oh sial! Jangan berpikir itu lagi!’ gerutu Jaka.

Pemuda ini menenangkan hatinya, lebih baik aku memikirkan hal lain. Putusnya dengan memejamkan mata, tapi dalam benaknya kembali terbayang senyum gadis-gadis itu. ‘Arrgh!’ Jaka meremas kepalaya. ‘Sialan…’ makinya. ‘Nampaknya aku bisa tertelan halusinasi akibat pergolakan racun ini.’

Jaka kembali fokus pada Kiwa Mahakrura, dalam analisisnya, lawannya tadi memiliki kasta ilmu yang tinggi, ilmu semacam itu hampir sama dengan ilmu-ilmu keluarga yang diajarkan secara turun temurun, ilmu rahasia. Jelas penyelidikan untuk membongkar jaringan ini akan sangat berkaitan erat dengan semua aktifitas Kiwa Mahakrura.

Sadewa ‘sudah’ memberinya racun dalam dosis rendah, yang membuatnya ‘harus’ tunduk pada mereka, sementara baru diketahui ternyata Kiwa Mahakrura diberi racun dalam dosis yang tinggi, tapi apakah Kiwa Mahakrura akan mendengarkan ucapan Sadewa dan teman-temannya? Jika memang mereka yang memberi racun itu pada Kiwa Mahakrura, mutlak orang itupun akan tunduk pada Sadewa. Tapi jika tidak, siapa yang memberikannya?

Jaka tahu benar, proses pemberian tato racun tidak semudah membalikan tangan, korban yang akan di tato harus berendam dalam larutan semacam cuka selama dua belas jam. ‘Aku bisa coba memancing Sadewa dengan informasi adanya pemilik tato racun ini’ pikir Jaka berkeputusan.

Rasa sakitnya sudah agak mereda, tapi pemuda ini paham benar, reda ini hanya sementara, berikutnya akan ada amukan yang lebih menyakitkan lagi. Pemuda ini tak mau menyia-nyiakan situasi, dengan segera Jaka mengambil tempat duduk, menghela nafasnya panjang-panjang, dan mulai menghimpun tenaga sakti Melawat Hawa Langit.

Sistem olah nafas yang dimiliki Jaka adalah dari luar menuju pusat, bukan dari pusat menuju kedalam—kesekujur tubuh, artinya; pemuda ini sanggup memanfaatkan hasil serapan hawa diluar lingkungan tubuhnya sebagai tambahan daya sakti. Gelegak rasa sakit berhasil dia tekan, tapi kondisi saat ini cukup menyulitkan dirinya bergerak tanpa harus mengerahkan hawa sakti yang berkesinambungan. Benar-benar sebuah pemborosan. Meskipun dirinya sanggup mengerahkan hawa sakti terus menerus tanpa membebani tubuh, tetap saja itu akan melelahkan otot-ototnya, kondisi yang cukup kontradiktif, sebab saat ini Jaka harus merilekskan otot dan syaraf, tapi dilain sisi jika dia tidak mengerahkan hawa saktinya, kemungkinan untuk kambuh, pasti akan sangat cepat.

‘Aku akan membatasi diriku dalam keadaan ini sampai malam ini berakhir…’ Pikir Jaka sembari bangkit, dia kembali ketempat pertarungan dengan Kiwa Mahakrura, untung saja belum begitu jauh.

Saat ini Jaka benar-benar ingin menyerahkan tugas penyelidikan latar belakang Kiwa Mahakrura pada kawan-kawannya, keadaannya yang kurang memungkinkan saat ini, membuatnya tidak leluasa untuk memulai.

Jaka sudah sampai di tempat tadi, dilihatnya Kiwa Mahakrura masih duduk tertunduk, nampaknya dia masih mencoba memulihkan tenaga. Jaka cukup paham, berapa lama waktu yang dibutuhkan seseorang untuk lepas dari pengaruh libatan jurus Karudhiran Rudita miliknya—jurus yang berarti Lumuran Darah yang Meratap adalah hasil jerih payah setelah menyaksikan dan merasakan ragam kemampuan Tujuh Satwa Satu Baginda, dalam tempo yang cukup panjang.

‘Muridnya’ saat ini pun hanya Ki Alih, seorang guru besar ilmu pukulan, bukan tanpa alasan Jaka memberi tahu kunci menguasai jurus itu, dia merasa ada kelemahan dari cara yang di terapkannya, berhubung dalam waktu dekat ini tak mungkin baginya untuk mendalami beragam hal baru dalam jurus itu, membuat Jaka memutuskan bahwa Kepalan Arhat Tujuh-lah satu-satunya kandidat paling meyakinkan dalam penyelidikan lebih lanjut.

Jaka berada dibalik kegelapan, mengawasi setiap gerak-gerik Kiwa Mahakrura, setengah jam kedepan mantan lawannya itu akan terbebas dari pengaruh yang membelenggu degup jantungnya.

Dari persembunyian, Jaka bisa merasakan tatapan nanar pemuda itu dan raut pucat lesi nampak berubah lebih fokus, perlahan namun pasti Kiwa Mahakrura sudah menemukan tenaganya lagi. Dengan berdiri perlahan Kiwa Mahakrura berjalan secara tergesa ke arah timur, bermula hanya berlari-lari kecil, lama kelamaan tenaganya dirasa sudah lancar, Kiwa Mahakrura menggunakan peringan tubuh dengan pesat. Tentu saja Jaka segera mengikutnya dengan sangat leluasa. Peringan tubuh adalah ‘nama tengah’ Jaka, tidak ada urusan yang membuatnya kesulitan jika harus mengunakan kemampuan yang satu itu.

Tak berapa lama kemudian Kiwa Mahakrura sudah berdiri di sebuah bangunan diantara rimbunan pohon, pemuda ini nampak ragu memasuki bangunan besar itu, namun pada akhirnya dia memberanikan diri untuk memasukinya, beberapa orang penjaga pintu gerbang terlihat menganguk hormat pada orang itu.

Pintu selebar tiga meter sudah didorong hingga membuka, Jaka tak mau ketinggalan, dia memperhatikan sekitar bangunan itu, dan akhirnya menggerutu. ‘Ternyata orang yang punya rumah ini benar-benar sangat berhati-hati.’ Pikir Jaka saat melihat sekeliling tembok yang berfungsi sebagai pagar luar ternyata tidak terdapat satupun pohon, yang dapat memudahkan Jaka untuk menyelinap.

Pemuda ini tidak kehabisan akal, dia mencari pohon terdekat dan menaikinya hingga puncak, Jaka bisa melihat kondisi bagian dalam bangunan itu yang ternyata demikian terang. ‘Bagus!’ pikirnya. Penerangan yang berlebih, justru sangat membantu menyamarkan jejaknya diluar lingkup bias cahaya. Terlihat penjagaan juga disana sini, termasuk dibagian tembok. Dari ciri bangunan dan para penjaganya, Jaka bisa menyimpulkan, tempat itu adalah hunian keluarga kerajaan, semacam rumah peristirahatan.

Jaka tidak mau kehilangan jejak Kiwa Mahakrura, hal-hal lain di dalam bangunan itu dia tidak perduli—setidaknya untuk malam ini saja, bila berganti hari, lain cerita. Jaka pasti akan dengan senang hati mengaduk-aduk rahasia bangunan itu.

Dalam kondisinya yang teraliri hawa sakti terus menerus membuat segala sesuatu yang dilakukan Jaka dengan mudah dilakukan, namun dia juga harus berlomba dengan waktu, karena jika ototnya mengalami keletihan maka sistem pertahanan tubuhnya akan terganggu oleh bergolaknya Racun Getah Biru.

Jaka menghitung jarak pohon tempatnya mengintai dengan bangunan utama, kira-kira hampir lima belas tombak atau tiga puluh meter. ‘Aku bisa.’ Pikirnya dengan hati bergemuruh senang.

Dengan cekatan, Jaka memilih ranting beserta daun kering, lalu melemparkannya dengan penuh perhitungan, detik itu juga Jaka segera melejit mengejar ranting yang tadi dilemparnya, lalu menapak dengan ringan sebagai dasar pijakan, lalu melempar ranting lain, dan kembali dia melejit… demikan seterusnya, dan akhirnya Jaka sampai di atas bangunan utama.

Pemuda ini menghela nafas lega, dia menyaksikan penjaga di lingkungan halaman nampak terheran-heran, saat melihat ranting terjatuh dan beberapa daun kering melayang-layang.

“Hei, bukankah tidak ada angin?” seorang penjaga berkata pada kawannya.

“Ya.” Sahut kawannya pendek.

“Lalu dari mana datangnya ranting dan daun-daun ini?”

Pertanyaan itu membuat beberapa orang penjaga mendongakkan wajah mereka, tapi tatapan mereka tidak bisa menghasilkan objek apapun yang patut dicurigai, malahan mata mereka agak silau karena terangnya cahaya obor yang melingkupi sekitar halaman. Tapi lamat-lamat mereka mendengar kepak sayap burung.

“Burung membawa daun dan ranting sebagai sarangnya..” ujar salah satu penjaga itu berkesimpulan, dan teman-temannya juga sepakat dengan kesimpulan itu.

“Ya, sayang terjatuh…” sahut temannya sambil meneruskan rondanya.

‘Kalian pintar!’ puji Jaka tersenyum geli, pemuda ini segera menyusup ke dalam wuwungan bangunan utama, matanya berkisar mencari dimana adanya Kiwa Mahakrura, dan Jaka mendapatkan pemuda itu tengah berbicara dengan pemuda sepantaran.

“Kau kelihatan tidak seperti biasanya?” tanya rekannya perhatian.

Kiwa Mahakrura nampak gelisah sebelum menjawab, untuk menjawab secara jujur jelas dia malu, mengatakan tidak ada apa-apa, lebih-lebih tidak mungkin. Pemuda itu hanya mengangkat bahunya saja. “Paksi, aku harus berbicara dengan Duhkabhara!” tegas Kiwa Mahakrura.

Ah, ternyata dia yang bernama Paksi, batin Jaka merasa dirinya sangat beruntung. Berarti hasil analisa fisiknya tidak meleset.

“Kau begitu terburu-buru, apa begitu penting?” Tanya Paksi tidak bereaksi.

Kiwa Mahakrura mengigit rahangnya hingga berkriyut. “Tugasnya ternyata sangat sulit,” pada akhirnya Kiwa Mahakrura mengatakan hal yang bias membuat harga dirinya jatuh.

Wajah Paksi menapilkan rona tidak percaya. “Kau… mengeluh sulit? Dimana kesulitannya? Bukankah aku juga membantu tiap langkah yang kau lakukan?”

Kiwa Mahakrura menggeram. “Kau hanya melepaskan Jari Embun anak murid Cadas Merapi.”

“Kau salah, pada kesempatan lain, aku sudah menanam benih Jari Embunku pada semua mata-mata Arseta.”

Kiwa Mahakrura terdiam.

“Itu menjadi alasan bagimu, kenapa kau mudah melumpuhkan korban-korbanmu…”

Jaka yang mendengar sendiri dari mulut Paksi terperanjat, berarti semua mata-mata Arseta tinggal menanti hari ajal saja, sedikit saja mereka mengerahkan tenaga murni yang berlebih, ilmu Jari Embun milik Paksi akan membuat aliran darah mampat di berbagai tempat, selanjutnya korban hanya merasa pegal, pada kali kedua mereka mengerahkan tenaga murni, itu adalah saat-saat terakhir.

“Apa kau sudah berjumpa dengan nomor empat?” seragah Kiwa Mahakrura dengan nada dalam.

Paksi terdiam dan mengingat-ingat. “Apa dia orang yang direkrut oleh Sadewa?”

Kiwa Mahakrura mengangguk, “Ya, orang terakhir yang bisa diselamatkan Arseta…”

“Aku belum pernah menjumpainya…” Paksi secara jujur mengakui

“Itu keberuntunganmu…” dengus Kiwa Mahakrura. “Aku tidak punya waktu, aku harus berjumpa Duhkabhara, sekarang!”

Paksi akhirnya mengalah, dia paham sifat Kiwa Mahakrura, ya.. bagaimanapun hanya seorang kakak yang paham dengan sifat adiknya. Mereka masuk kesebuah ruangan yang tidak ada lagi penjaganya.

Jaka merayapkan tubuhnya dengan hati-hati mengikuti keduanya, setiap kayu wuwung yang dipinjak sebisa mungkin tidak menimbulkan getaran, hingga meruntuhkan debu dari langit-langit. Meski Jaka dapat saja mengadapi mereka, namun itu tak akan menghasilkan apa-apa. Bagaimanapun juga menghadapi orang-orang yang tidak ada keraguan membunuh, kewaspadaan adalah hal utama yang harus diperhatikan. Kau tidak akan pernah tahu cara apa yang akan digunakan oleh orang macam mereka.

Keduanya masuk kedalam sebuah ruangan yang hanya terhalang pintu kayu, Jaka melihat situasi sebentar, merasa aman dengan ringan Jaka melompat turun dan merapat kedinding ruangan, didengarkan dengan seksama seluruh percakapan.

“Kau sudah kembali, seharusnya aku mendengar kabar baik.” Terdengar suara bernada dingin dan ketus, Jaka mengasumsikan itu sebagai Duhkabhara.

Senyap beberapa saat, tidak ada jawaban dari Kiwa Mahakrura.

“Ada dua hal…” suara Kiwa Mahakrura memecah keheningan. “Aku sudah menyelesaikan tiga orang.”

“Bagus! Mana?” tanya Duhkabhara, Jaka tahu orang itu pasti meminta bukti. Sayang sekali bukti itu ada padanya sekarang.

“It-itulah hal kedua…” kata Kiwa Mahakrura dengan tersendat.

“Heh?!” dua suara dengan maksud berbeda terdengar Jaka, pemuda ini tahu, jika Paksi terkejut karena tidak percaya, Duhkabhara terkejut karena misi Kiwa Mahakrura gagal.

“Bukti-bukti dan beberapa tanda penting hilang…”

“Apa kau terjatuh saat berjalan?!” seragah Duhkabhara sinis. “Apa kau lupa mengemasi setelah selesai bercinta? Haram jadah! Perkerjaan mudah begitupun kau tidak bisa melakukan dengan benar!”

“Harap tenang paman… pasti ada alasan yang belum dia beritahu pada kita.” Kata Paksi menengahi.

“Korban keempatku… maksudku, calon korban, mengalahkanku dengan sempurna… sangat sempurna…” Kiwa Mahakrura mengatakan dengan suara lirih, Jaka bisa membayangkan pemuda itu tengah menundukan mukanya.

“Anak perguran mana?” tanya Paksi membantu mencairkan situasi.

“Aku tidak tahu, dia memiliki lencana perunggu nomor empat. Baru direkrut oleh Sadewa empat hari lalu, dan selanjutnya diselamatkan Arseta…”

“Kau pernah bertemu dengannya?” Dukhabara bertanya pada Paksi.

“Belum..” jawabnya singkat.

“Ada yang pernah mengetahui apa kegiatan orang itu selama disini?” tanya Dukhabara.

“Aku sudah mencarinya, tapi… jangan-jangan ada hubungannya dengan dia?” ujar Kiwa Mahakrura menduga-duga.

“Siapa?” tanya Paksi mendesak.

Kiwa Mahakrura menceritakan ciri-ciri orang yang pernah bertarung dengannya, dia juga menceritakan bagaimana dengan sangat mudah orang itu melumpuhkannya. Begitu selesai bercerita, wajah Dukhabara terlihat berubah.

“Paman mengenalnya?” tanya Paksi.

“Arwah Pedang…” katanya singkat. Dan jawaban itu cukup membuat dua anak muda itu bungkam dengan keterkejutan besar.

“Apa orang yang mengalahkanmu adalah anak murid Arwah Pedang?” tanya Duhkabhara menyelidik.

“Mutlak bukan, mereka berdua ada hubunganpun ini cuma dugaanku saja.”

“Bagaimana perbandingan ilmu Arwah Pedang dengan lawanmu itu?” tanya Paksi lagi.

“Tidak bisa kubandingkan, hanya saja orang itu jauh lebih menakutkan dibanding Arwah Pedang…” Jawab Kiwa Mahakrura dengan suara lirih.

“Dia mengalahkanmu dengan cara apa?” akhirnya Dukhabhara tertarik menyelidik.

“Aku tidak dapat melihat pola serangan orang itu, dia hanya menghindar dan membentur seranganku.”

“Bukankah seharusnya orang itu menerima dampak dari tiap benturan?” ujar Paksi.

Kiwa Mahakura menghela nafas, lalu dia menceritakan pertarungannya dengan Jaka. “…pada akhirnya, dia melakukan apa yang seharusnya bisa kulakukan dalam beberapa tahun kedepan.” Kataya dengan suara lemah.

“Maksudmu?” tanya Paksi tak paham.

“Pukulan Triagni Diwangkara dengan sempurna dia lakukan…”

Tidak ada komentar dari keduanya. Tapi Jaka cukup paham, mereka sedang dilanda keterkejutan tidak kecil.

“Aku hilang kepercayaan diri, aku takut jika harus berhadapan dengan dia lagi…” kata Kiwa Mahakrura.

“Dia mengatakan apa saja?” tanya Duhkabara dengan nada sedikit tinggi.

“Tidak ada hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan kita. Hanya saja, dia sempat mengatakan menunggu pukulanku yang sangat keras. Seolah orang itu sudah mengerti aku akan melakukan pukulan Triagni Diwangkara..”

“Berarti dia sudah melihat mayat anak murid Cadas Merapi.” Tukas Paksi berkomentar. “Arseta membawa jenasah itu keruang penyimpanan. Aku bisa bertanya padanya nanti…”

“Aku tidak akan melakukan itu!” desis Kiwa Mahakrura. “Arseta sekalian pasti sudah mencium ketidakberesan ini, dan kau yang tersangkut dengan semua kejadian, cepat atau lambat akan terendus!”

“Tak perlu kau kawatirkan itu, dia menganggapku seperti anak kadung sendiri, perasaan itu aku bisa manfaatkan sejauh mungkin…”

“Kau bisa simpulkan kejadian yang menimpa Kiwa Mahakrura sebagai apa, Paksi?” tiba-tiba Dukhabara bertanya.

“Dugaan Kiwa bahwa dia ada hubungan dengan Arwah Pedang, tak boleh juga kita kesampingan. Yang menjadi titik perhatianku adalah, dia mengambil seluruh barang Kiwa. Itu akan menceritakan banyak hal mengenai kita, orang yang bisa meniru mentah-mentah ilmu lawannya pada saat pertarungan terjadi, adalah sosok yang menakutkan. Kepada siapa dia bekerja, untuk apa barang-barang itu dirampas? Dan hubungan seperti apa yang terbina antara dia dengan Ketua Bayangan Naga, akan memperjelas kesimpulan kita. Aku khawatir pergerakannya akan sangat memperengaruhi pekerjaan kita.”

“Itu menjadi tugasmu mulai detik ini!” kata Duhkabhara pada Paksi.

“Baik!”

“Apakah kau masih bisa melakukan pekerjaan lain?” Duhkabhara bertanya pada Kiwa Mahakrura.

“Dapat!” jawabnya tegas.

“Kau lacak dari mana datangnya asap di gua batu, jangan melakukan pembunuhan yang tidak perlu! Ketidaktelitian yang di lakukan Dwisarpa sangat fatal bagi kita… gerakan kita ternyata sudah terpantau oleh pihak lain.”

Informasi itu bagi Jaka hampir tidak membicarakan banyak hal, tapi dia bisa membuat satu jebakan karena mengetahui rencana-rencana mereka. Mendadak telingannya yang peka menangkap bunyi dari arah belakangnya, Jaka dengan sigap segera melejit keatas dan bersembunyi di wuwungan.

Dari pintu lain, Jaka melihat dua orang masuk. Wajah mereka terlihat tegas dan keras, bahkan mendekati sadis. Jaka hampir dapat menyimpulkan mereka berdua adalah Dwisarpa yang dimaksud Duhkbarhara. Begitu pintu tertutup kembali, Jaka kembali turun untuk menyadap informasi apa yang di bawa kedua orang itu.

“Apa yang kalian dapatkan?” tanya Dukhabhara pada keduanya.

“Orang yang kemarin lolos di tolong oleh penduduk setempat, tapi jejak selanjutnya menghilang setelah melalui Pasar Joropasa…”

Aha, ternyata keduanya adalah orang yang menyiksa Ki Sempana, batin Jaka. Dia yakin berikutnya akan banyak informasi yang dapat diserapnya, informasi yang menyatakan ciri pergerakan kelompok ini.

Tapi, tiba-tiba wajah Jaka berubah.

‘Gawat, kenapa harus sekarang?’ pikirnya dengan gundah, rupanya Racun Getah Biru mendadak bergolak dengan geliat yang membuat syaraf dan otot Jaka menggeletar nyaris tak terkontrol. Kondisi itu jelas sangat menyulitkannya untuk tidak diketahui dalam aksi pengintaian. Untuk mendapatkan otot yang rileks, membiarkan dirinya tidak dialiri hawa sakti jelas solusi paling mudah, tapi dalam kondisi saat ini jelas tidak mungkin!

Jaka merambat dengan sangat perlahan, dalam hati dia ingin sekali segera keluar dari tempat itu, karena penderitaan yang mulai mendera saat ini membuat dia harus melakukan hal-hal yang tidak mungkin dilakukan di tempat itu!

Pemuda ini sudah sampai di tempat dimana dia pertama kali ‘hinggap’, di atap itu masih ada sisa ranting dan daun kering yang tadi dikumpulkannya. Dengan merebahkan tubuh pada genting bangun itu, Jaka melepaskan hawa saktinya perlahan-lahan. Beberapa saat kemudian bergolaknya racun bisa mereda, tapi otot belum cukup rileks untuk menerima getaran hawa saktinya lagi. Dengan menenangkan hati, Jaka mengatur nafas sesuai kaidah Melawat Hawa Langit, dengan sangat perlahan. Pernafasan itu memang tidak membebani kondisi tubuh yang sedang terluka atau mengalami kondisi separah apapun, tapi cara membangkitkan hawa sakti itu yang membuat syaraf Jaka harus menggeletar tegang, pada kondisi normal itu tidak ada efek apapun. Tapi saat ini?

‘Sial…’ pikir pemuda ini sambil menghembus nafas panjang. Jika harus menenangkan otot dan syaraf maka waktu yang dibutuhkan berkisar dua sampai tiga jam, dan jelas itu tidak mungkin baginya.

‘Ah, kenapa aku tidak menggunakan cara yang dilakukan Kiwa Mahakrura?’ pikirnya dengan harapan membuncah.

Jaka mulai menarik nafas panjang. Lalu menyendatnya secara perlahan, berulang kali dengan jeda yang teratur, kemudian membangkitkan hawa saktinya seperti pola sirkulasi yang dilakukan Kiwa Mahakrura, jika sebelumnya Jaka terbiasa menghimpun dari luar kedalam, saat ini dia melakukannya dalam kondisi yag berbeda, dari dalam keluar. Pada pusat hawa saktinya tersimpan, seolah menyembur ledakan hawa saktinya dan itu ditanggapi oleh otot dan syarafnya dengan menegang kencang.

Begitu ketegangan dimulai Jaka tahu, bab paling sulit adalah menenangkannya, maka dengan penggunaan meridian olah nafasan yang biasa dia lakukan, Jaka menekan gejolak otot dan syarafnya. Kondisi pengolahan hawa sakti keras dan lembut yang hampir bersamaan itu membuat tubuhnya merasa menggelembung penuh Hawa Sakti yang harus di lepaskan, Jaka tahu saat ini syarafnya dalam kondisi ‘membeku’ dalam kepadatan tenaga. Dan itu cukup baginya untuk meloloskan diri dari tempat itu.

Dengan keringat bercucuran dari dahinya, Jaka meraih daun dan ranitng, kemudian dileparkannya dengan kekuatan terukur. Detik berikut, seperti leadakan asap, tubuhnya melejit mengejar banda yang dilemparnya, memijaknya dan melejit kembali, melakukan hal itu sampai, daun dan rantingnya habis.

Pada pijakan terakhir, Jaka mendarat di pepohon yang memiliki pucuk paling tinggi, dengan mendapatkan pijakan yang padat, lejitan pemuda ini membawanya menjauh dari bangunan itu dengan pesat. Jaka tahu dia harus membuang ‘kebekuan’ dalam syarafnya, tapi itupun tak boleh dihabiskan sehingga kepadatan tenaga dalam syarafnya melemah, dan saat ini dia harus menghentikannya lajunya!

Apa jadinya tubuh yang masih melayang dengan pengerahan hawa sakti pada peringan tubuh, tiba-tiba daya itu hilang?

Tubuh Jaka terjatuh dengan luncuran pesat, untungnya pemuda ini sudah bersiap-siap pada benturan itu, dengan memanfaatkan cengkraman jemarinya yang kuat, Jaka meraih batang pohon ya dilewatinya, akibatnya tubuh yang sedang meluncur itu terhenti dengan sentakan keras, dan itu membuat pergelangan tangan dan sendi lengan pemuda ini ngilu!

Tapi rasa sakit itu cukup sepadan dengan pendaratan tubuh yang baik. Jaka menjejakkan kaki dengan sempurna, dan detik itu juga, jarinya segera melakukan berbagai teknik totok pada sekujur tubuhnya sendiri dan remasan pada jantungnya.

“Neijing Huang Ti Nei Ching Su Wen?” tiba-tiba terdengar seruan suara yang di liputi keterkejutan.

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s