93 – Meruntuhkan Semangat Lawan

Kiwa Mahakrura berusaha menegaskan pandangan, tapi kegelapan malam mengaburkan sosok dan raut wajah orang yang baru saja keluar dari tempat Arseta. Jika biasanya, dia yang harus memburu orang dengan tanpa susah payah, baru satu kali benturan saja dengan orang itu, sudah membawa alamat sulit buatnya.

“Apakah kau akan berdiri di situ sampai esok hari? Sampai terang tanah?” ucap Jaka menyindir.

“Diam!” bentak Kiwa Mahakrura dengan getas.

Jaka tertawa dalam gumam, “Caramu membunuh itu tidak cerdas, kasar dan bodoh, aku melihat potensimu cukup besar, tapi dengan sifatmu yang seperti babi ini, kau sama dengan penggali lubang tinja, tidak lebih.”

Gigi Kiwa Mahakrura bergemertuk mendengar cemooh lawan, tapi dia masih cukup berakal sehat untuk tidak menumpahkan kemarahan pada serangannya. Lain dari itu, harga diri yang mencegah dia melakukan cara yang tidak elegan. Dia dilahirkan dalam lingkungan istana, bahkan dasar keturunan yang dimilikianya bukanlah sembarangan, cuma lantaran sifatnya yang terlalu tertutup, sulit bergaul dan cenderung ganas, membuat kalangan istana memutuskan jika kerabat mereka itu paling cocok menjadi eksekutor, pada usia dua belas tahun, Kiwa Mahakrura sudah membunuh sebelas orang yang menjadi buronan keluarga mereka, dan pada usia sebesar ini—dua puluh enam tahun, korbannya memang bertambah, tapi diapun sudah memiliki gaya tersendiri dalam membunuh, jika bukan orang yang berilmu, dia tak mau. Alhasil ilmunya dari tahun ketahun meningkat sangat pesat.

Lelaki itu memang sudah mendengar, jika dalam lingkungan ‘telik sandi’ dadakan Arseta ketambahan satu orang lagi, dan orang inilah yang ada dihadapannya sekarang. Dia juga pernah mendengar dari anak buah kalangan Arseta, bahwa Arwah Pedang masih ada hubungan dengan Arseta, entah hubungan yang bagaimana, mungkin saja malah berhubungan dengan Ketua Bayangan Naga.

Maka, pada saat menjajal Arwah Pedang, dia menanyakan apakah Arwah Pedang adalah ‘teman-nya?’, nya yang dia maksud, adalah Arseta atau Ketua Bayangan Naga, sementara Arwah Pedang merasa itu ditujukan pada Jaka, tapi keduanya sama-sama tidak memperjelas siapa ‘nya’ yang di maksud itu. Tapi tak disangka, Kiwa Mahakurua harus menghadapi ‘nya’ yang ada dalam alam pikiran Arwah Pedang. Jika saja dia tahu, Jaka mempunya hubungan dengan lawan yang pernah memberinya pil pahit, tentu saat ini dia tidak akan melakukan tindakan ceroboh dengan menyergapnya, paling tidak, Kiwa Mahakrura akan membawa kawan-kawan setingkat. Tapi itu sudah terlambat…

Sungguh tidak disangka, orang yang dikiranya lawan setara dengan anak-anak murid enam belas perguruan utama, ternyata lebih menyulitkan. Lebih-lebih lidah orang itu mudah sekali menyulut emosinya. Kiwa Mahakrura teringat pertempurannya dengan Arwah Pedang, dia tidak pernah tahu siapa orang yang dilawannya itu, dia merasa lawannya itu sungguh sangat berat dan berkelas, jika dia sungguh-sungguh, mungkin tak sampai dua jurus nyawanya sudah melayang, harga dirinya sungguh terluka dengan cara lawan menghadapinya.

Berangkat dari perasaan tak mau kalah, dia berpikir dan mencoba mengingat-ingat kembali cara orang itu menempurnya, beberapa jam kemudian dia mencoba berbagai metoda, dan usaha kerasnya cukup membuahkan hasil, beberapa korbannya dalam dua belas jam terakhir dia selesaikan dengan cara yang baru saja didapatkan.

Kali inipun Kiwa Mahakrura akan menggunakan cara serupa, lelaki yang pernah mengalahkannya itu memiliki ciri khas penyembunyian pancaran tenaga dan penggunaan tenaga sangat efektif. Diam-diam dira sudah mulai mengalirkan hawa saktinya kesekujur tubuh dalam beberapa putaran sirkulasi, lalu memusatkan pada kaki, menarik seluruh hawa sakti dari sekujur tubuh kedalam satu titik serangan, dan membuat tenaga sakti yang lain dalam kondisi siaga—tapi tanpa gerak, dilain sisi diapun mengembangkan pertahanan pada lengan kirinya yang paling biasa dia gunakan sebagai perlindungan.

Dalam satu tarikan nafas, akhirnya Kiwa Mahakrura memutuskan menyerang! Dia sudah melesat sangat cepat, bahkan terlalu cepat.. kehadapan Jaka yang berdiri tidak siap. Pada gerakannya tidak terdengar deru angin, begitu halus, namun pesat. Beberapa kejap berikut, sebuah serangan yang sangat cepat, sederhana dan kejam, menerpa kepala.

Jaka cukup kaget dengan gerakan Kiwa Mahakrura yang membersitkan satu aroma yang pernah dia ketahui, kesanggupannya dalam menghindari serangan sangat bisa dilakukan, tapi Jaka benar-benar ingin tahu pola hawa sakti lawan, dan ingin kali ini keras lawan keras. Dengan melambungkan badannya setengah meter, Jaka tidak melenting kebelakang untuk mengihindar, tapi pemuda ini justru menerima pukulan lawan dengan telapak tangannya.

Desh! Kepalan dan telapak kembali bertemu. Sebersit senyum dingin tersungging dari bibir Kiwa Mahkrura, dalam benaknya tadi, benturan pertama sudah cukup menjadi pelajaran, sang lawan itu ternyata bisa merambatkan serangan pada benturan, maka untuk mengantisipasi kejadian tadi dia mempertajam hawa sakti dalam satu serangan dan menariknya secepat mungkin untuk menghindarkan efek benturan yang bisa membuat jantungnya berdebar lebih cepat. Dan benarlah! Dia tidak merasakan perubahan pada degub jantungnya

Dilain sisi, Jaka merasa ada sengatan sangat menyakitkan pada lengan kanannya, dan itu menyentak kesadaran pemuda ini bahwa keberadaan Kiwa Mahakrura tidaklah sesederhana kelihatannya, mungkin dia adalah Tukang Sapu, mungkin dia adalah pembunuh, tapi bagi Jaka benturan kedua itu menceritakan banyak hal!

Kejab berikut, setelah serangan tertangkis, kakinya menjejak tanah dengan lebih kuat dan memukulkan kepalan kirinya, ke perut Jaka yang masih dalam kondisi melayang. Kedua serangan itu benar-benar sangat cepat dan runtut, jarak keduanya kurang dari satu tarikan nafas, tapi toh, ternyata dengan tangan yang sama, Jaka masih bisa menyabuti serangan kedua!

Menerima serangan dalam kondisi melayang, jelas tidak akan memiliki daya jejak yang kuat, tubuh akan sangat mudah terlempar, apalagi jika serangan yang menerpa itu memiliki daya hantam sangat besar. Tapi keadaan Jaka sungguh mencengangkan bagi Kiwa Mahakrura, seolah serangannya yang dilakukan dengan cepat dan pemusatan tenaga pada lengannya itu tidak memberikan efek apapun, karena lawannya tidak terlempar sama sekali.

Dalam kondisi tubuh lawan yang akan kembali menjejak tanah, Kiwa Mahakrura menyusuli dengan lompat kecil, dengan lutut mengarah kepala lawan, tapi itu ternyata hanya gerak tipuan, kejap berikut; lututnya ditarik untuk mendapatkan lejitan pada pinggang dan kedua kepalannya menghamburkan tinju dengan kecepatan dan kekuatan penghancur yang mengiriskan, lamat-lamat Jaka merasakan ada hawa panas yang membuat dirinya sulit menghimpun hawa sakti.

“Inikah Triagni Diwangkara?” pikir Jaka sambil menerima serangan-serangan itu dengan benturan-benturan pada telapak tangannya. Dan setiap benturan itu membuat lengannya seperti disayat-sayat. Aliran tenaga Kiwa Mahakrura menerobos paksa pada pori-pori telapak tangan, dan begitu cepat menembus mengarah jantung, dengan sentakan-sentakan bagai ledakan pada tiap sendinya, membuat orang yang tidak paham cara menaklukan jenis serangan itu, lumpuh. Tapi Jaka cukup sigap mengantisipasi hal itu, memang serangan Kiwa Mahakrura membuatnya kurang leluasa dalam menghimpun tenaga, tapi dengan sistem pernafasan Melawat Hawa Langit, membuat pemuda ini bisa menghimpun hawa saktinya tanpa membebani tubuh yang terluka atau terkena racun.

“Hiaaah!” Kiwa Mahakrura berteriak sesaat sebelum memukulkan serangan terakhirnya, sebuah tusukan jari mengarah tepat pada ulu hati lawannya.

Kali ini ini Jaka merasa sangat cukup menerima serangan sang lawan, dilain sisi dia juga sedang mencerna pola hawa sakti lawannya dalam bekerja. Maka satu-satunya cara adalah menggunakan olah langkahnya yang istimewa.

Serangan terakhir yang sangat mematikan itu bisa dilewatkan Jaka, dan berikutnya Kiwa Mahakrura harus mengundurkan dirinya dengan lompatan sampai lima kali, selain karena serangannya tidak mengenai secara telak dan harus menghindari seragan balas—jika ada, dia harus melihat apa yang terjadi pada lawannya karena berani menangkis serangan yang di landasi Pukulan Triagni Diwangkara.

“Untuk beberapa hela nafas kedepan, kau akan lumpuh…” desis Kiwa Mahakrura menegaskan pandangannya lagi pada sang lawan—tapi tak juga bisa dilihat dengan jelas. Dalam hati dia sudah menghitung, dan hitungan itu sudah sampai pada tiga puluh.

“Kira-kira aku akan lumpuh dalam berapa hitungan?” tanya Jaka dengan berkacak pinggang.

Kiwa Mahkrura terkejut mendengar lawannya bicara seperti tidak pernah ada kejadian apapun.

“Kau.. kau..”

Jaka memotong ucapan Kiwa Mahakrura dengan derai tawanya. “Jangan pikirkan nasibku, aku ingin berbicang-bincang lebih dulu denganmu sebelum kita bertarung lebih lanjut. Jangan kawatir, aku paling bisa menyembunyikan rasa sakit, bisa jadi saat ini akibat dari pukulanmu sedang bekerja di tubuhku, dan aku tidak menampilkan itu.. untuk mengecohmu, itu bisa saja kan?”

Gigi Kiwa Mahakrura bergeletuk saking marahnya, ucapan lawannya itu sama saja tamparan buat dirinya, bahwa Jaka sama sekali tidak mendapatkan dampak yang diinginkan. “Kau datang dari mana?” tanpa sadar pertanyaan itu terlontar.

“Aku datang darimana aku suka, kau tak usah hiraukan itu. Aku hanya ingin membahas ilmu pukulanmu yang keras ini…” kata Jaka membuat Kiwa Mahakrura terkejut.

“Lengan kirimu sangat kuat, kau pasti terbiasa menggunakannya sejak kecil. Pola seranganmu juga sangat bagus, bisa melepaskan dampak yang bisa membuatmu mati dengan jantung pecah. Tapi dilain sisi, cara penggunaan serangan itu membuat seranganmu yang bersifat mencengkram dan menghanguskan tidak terasa. Hawa panas yang dihasilkan dalam serangan-seranganmu, tidak memiliki efek, bisa dikatakan itu bertolakbelakang. Kurasa cara yang kau lakukan dalam mengkombinas metode serang ini masih sangat baru…”

Tidak ada setitik suara yang bisa di keluarkan Kiwa Mahakrura saat lawannya bicara panjang lebar, tepat menohok kelemahan.

“Aku ingin merasakan Pukulan Triagni Diwangkara dalam cara yang kau pelajari dari awal. Tenangkan hatimu, aku tidak akan menyerangmu… lakukan saja dengan fokus!” tutur Jaka dengan tenang, tapi kalimat itu sangat menggores perasaan.

“Keparaaat…” desis Kiwa Mahakrura dengan kemarahan sangat membuncah dada, cara Jaka bicara seolah sedang menghadapi murid atau pembantu, dan itu sudah sangat cukup menyulut kemarahan hingga puncak, berulang kali dia mengingatkan dirinya untuk tidak bertindak ceroboh, karena lawannya kali ini bukan orang kebanyakan.

Jaka tidak melihat adanya reaksi dari sang lawan, dia cukup paham seberapa tergoncang perasaan lawan menyaksikan dirinya tidak mengalami seperti yang dibayangkan. Sebenarnya itu juga tidak tepat sepenuhnya,  Jaka sangat merasakan dampak dari ilmu Kiwa Mahakrura, bahkan dia mengatakan secara jujur bahwa dirinya sangat bisa menahan sakit, tapi mana ada orang yang percaya dengan omongan seperti itu? Dalam bertarung, adu nyali, adu gertak adalah termasuk seni perang psikilogis atau kejiwaan, pengendalian keadaan adalah kunci yang membuat Jaka selalu dapat mengambil inisiatif dalam keadaan sesulit apapun.

Dari pengalaman yang sudah-sudah, ‘penyakit utama’ Jaka adalah selalu berupaya mencerna hal-hal baru yang belum pernah di ketahui, ilmu-ilmu lawan yang belum pernah dia hadapi selalu ingin dirasakannya, di terima dengan rasa sakit, bagi Jaka adalah melebihi pengajaran baik lisan maupun tulisan.

Dasar pengetahuan yang dia cerna sebagai dasar olah nalar adalah anatomi, cara pemuda ini mempelajari ilmu-pun sangat bertolak belakang dari kebanyakan orang. Bahkan orang-orang terdekat pemuda ini, tidak akan ada yang menyangka, bahwa; begitu banyak pengetahuan olah kanuragan dan kesaktian dalam benak pemuda ini, diperoleh dengan cara ‘merasakan sakit’, menganalisisnya dan mengeluarkan dalam bentuk dan cita yang baru, yang lebih baik.

Kalau saja ada yang dapat menarik kesimpulan seperti itu, konklusi terdekat yang bisa mengidentifikasi mengapa begitu banyak luka di tubuh Jaka, kemungkinan terbesar adalah karena ‘kenekatan’ pemuda ini dalam menyelami rasa sakit atas ilmu lawan yang di terima. Tapi apakah benar begitu adanya?

“Aku masih menunggu…” kata Jaka mengingatkan Kiwa Mahakrura untuk menyerang.

“Baik! Kau memintaku untuk membuka pintu terlarang…” desisnya dengan tatapan mata makin nyalang. Kegelapan malam merefleksikan sinar matanya yang berkilat-kilat, Jaka diam-diam tersenyum menyaksikan keadaan lawannya, dia merasa hawa sakti Kiwa Mahakrura sudah mengelilingi tubuhnya berkali-kali dalam waktu yang amat singkat itu. Dan mengalami peningkatan drastis. Ini adalah hal baru yang membuat Jaka makin bergairah untuk menyelaminya. Mensirkulasi hawa sakti kesekujur tubuh dalam waktu singkat adalah pekerjaan sulit, tapi lawan didepannya bisa melakukan dengan tanpa kesakitan, begitu ringan, begitu mudah.

“Lakukan!” perintah Jaka sambil melangkah makin dekat. Tiap langkahnya tidak memiliki tekanan apapun, ringan dan tanpa beban, tapi bagi pandangan Kiwa Mahakrura, dia merasakan tekanan justru makin besar, tanpa sadar setindak demi setindak dia mundur.

Jaka memperhatikan setiap gerakan lawannya, saat ini Kiwa Mahakrura tengah memegang lengan kiri, cengkeraman itu nampak sangat kuat, Jaka juga melihat ada pendaran warna merah ada di tangan kanannya, dalam pandangan pemuda ini, denyut nadi sang lawan seolah mengalami sendatan dengan ritme teratur, Jaka memperhatikan diagfragma lawan, lalu beralih ke hidungnya, setiap jengkal perubahan dan gerak lawan di perhatikan secara seksama. Deru nafas Kiwa Mahakrura panjang dan sesekali tertahan, nampaknya itu adalah kunci dari ilmunya, Jaka sudah merasakan pukulan yang mengandung beberapa kelumit ilmu Triagni Diwangkara, tinggal memastikan sentuhan akhirnya saja. Tiap langkah yang dilakukan pemuda ini dalam pengamatannya, ada pengetahuan baru yang membuat dia semakin bergairah.

Jika saja Arwah Pedang sekalian melihat cara bertarung pemuda ini, mungkin akan sama merasa itu hal sia-sia. Secara kualitas dan kuantitas saja Kiwa Mahakrura bukanlah lawan sepadan, tapi kenapa pemuda ini sampai repot-repot membuang waktunya meladeni Kiwa Mahakrura? Alasan Jaka bukan terletak pada sang lawan, tapi kepada orang yang menurunkan ilmu ke Kiwa Mahakrura. mengetahui keadaan lawan, dan tahu diri sendiri; adalah kunci kemenangan. Meskipun Jaka sangat suka berspekulasi atas analisisnya, tapi jika dia memiliki kesempatan untuk mendapatkan bahan pertimbangan untuk menjadi pelengkap analisa, dia tidak akan pernah mengacuhkan itu, dia akan melibatkannya.

Jaka melihat tubuh Kiwa Mahakrura menggeletar sesaat, nampaknya dia sudah cukup dalam persiapan, akan segera menyerang… dan benar! Jaka melihat jejakan kaki Kiwa Mahakrura bertumpu pada ujung jari makin menguat, seluruh otot paha, betis hingga tungkai berkontrkasi secara cepat! Jaka tersenyum, dengan menghentikan langkahnya, pemuda ini menanti pukulan Kiwa Mahakrura.

Sebuah serangan melejit bagai kilat dengan suara letupan nyaring menghambur menohok dada Jaka, serangan itu sebelumnya didahului dengan jejakan yang sangat kuat.

Dessh! Pukulan itu ternyata dilakukan langsung, tanpa ada media seperti dalam analisa Jaka kepada Arseta sekalian. Jaka merasakan sebuah sengatan yang amat sangat menyakitkan, langsung menghunjam melingkupi jantung, seolah ada tenaga yang meremasnya, dengan menghembuskan nafas yang tertahan Jaka bisa menetralisir rasa sakit. Dan dia melangkahkan kaki kesamping kanan, mengantisipasi serangan kedua yang sedang dilayangkan Kiwa Mahakrura, tapi alangkah kagetnya, saat dia merasa kakinya seperti membentur tembok tak terlihat!

“Ah, menarik!” seru Jaka, sembari memiringkan tubuhnya, pukulan kedua Kiwa Mahakrura kali ini menggunakan tangan kirinya, deru serangan itu benar-benar membuat bulu kuduk berdiri. Tapi karena Jaka sudah memiringkan tubuh dan berada di samping jangkauan serangan kedua, dengan sendirinya serangan kedua lewat begitu saja.

Tidak tahunya, saat pukulan itu lewat tak mengenai sasaran, Kiwa Mahakrura memukulkan tangan kanan kelengan kiri yang sudah terjulur. Detik itu juga Jaka yang berada di sebelah kiri Kiwa Mahakrura merasa ada tekanan dahsyat merambat dari lengan kiri lawannya, dan tekanan itu langsung mencengkram dirinya dan kebekuan gerak. Jaka membeku! Tak bisa bergerak!

Dan detik berikutnya, seperti petir menyambar, seluruh tulang Jaka merasa ngilu dan berderak dengan rasa membakar yang amat sangat. Kurang dari satu detik berikut, susul-menyusul rentetan pukulan bagai martir menghujani kepala Jaka. Bagi Kiwa Mahakrura serangan tadi adalah kemutlakan yang tidak mungkin terhindar, dan serangan terakhir adalah pamungkas penghabis riwayat lawan.

Tapi alangkah kaget dirinya, saat leher sang lawan meliuk-liuk dengan lincah mengindar setiap serangan, belum pernah disaksikan cara menghindar seperti itu. Tapi kekagetan yang lebih besar karena lawannya itu masih bisa bergerak, dengan sendirinya serangan berikut, mengarah selain kepala. Pukulan pertama menghantam bahu, pukulan kedua mengarah leher, pukulan ketiga dan seterusnya secara runtut menghantam dada hingga perut. Tapi secara ajaib, semua serangan itu bisa dihindari dengan jarak yang sangat tipis, hingga akhirnya Kiwa Mahakrura harus terlolong bengong, menyaksikan lawannya mundur secara teratur dan menghela nafas dengan suara keras. Dia benar-benar tidak paham bagaimana cara lawan menghindari jerat membeku dari ilmunya.

Seluruh rentetan gerakan itu seolah sangat lama, tapi itu terjadi tak lebih dalam sepuluh hitungan. Dan itu membuat Kiwa Mahakrua mendapatkan pukulan batin yang cukup berat.

“Menarik… ilmu yang sangat menarik.” Seru Jaka sambil berkeplok.

“K-kau.. siapa sebenarnya kau ini?” tanya Kiwa Mahakrura dengan perasaan tidak karuan.

Jaka tertawa berkepanjangan. “Tak usah memikirkan diriku, ayo kita lanjutkan gerakanmu…”

Jaka kembali mendekati Kiwa Mahakrura, dia mendekat dengan langkah biasa, tidak dalam ancaman tidak dalam serangan. Tapi tiap langkah lawannya itu kembali membuat tekanan yang sangat berat bagi Kiwa Mahakrura. Akhirnya dengan mengacuhkan segala pertahanan, Kiwa Mahakrura menyerang Jaka secara membuta, seluruh gerakan, seluruh tenaga dan semua kejelian dikerahkan dalam setiap pukulan, tendangan, meski selanjutnya Kiwa Mahakrura mengunus senjatanya, itu juga tak membuahkan hasil!

Jaka dapat menghindar semua pukulan itu, ada suatu kita tusukan dan tebasan yang dilakukan secara gencar seolah ingin menebas pinggang Jaka menjadi dua bagian, dapat dihindari dengan cara yang membuat Kiwa Mahakrura meneteskan keringat dingin. Bagaimana tidak, saat tebasannya datang; posisi lawan sedang setengah berjongkok, ditengah jalan tebasan itu berubah menjadi hunjaman dan serangan kedua juga menyusul dalam sebuah tusukan dengan bilah senjata yang tersembunyi… serangan tiga tingkat semacam itu sangat mustahil untuk di hindari! Tapi toh lawannya dengan ketenangan yang menakjubkan bisa memelintirkan bahunya untuk menghindari hujaman, lalu dengan liukan sangat tipis, menghindari hujaman senjata kedua yang belum pernah dikeluarkan, elakan itu secara dramatis hanya berjarak setengah ruas jari saja dari leher Jaka.

Kejap berikut dengan setengah memutar, Jaka sudah memunggungi Kiwa Mahakrura, dengan jarak yang amat tipis, dia bergerak bagai bayangan Kiwa Mahkrura, menguntit setiap gerak Kiwa Mahakrura dan sudah tentu tidak mungkin terjangkau serangan. Apakah ada serangan yang bisa mengenai bayang dalam cermin? Kira-kira itulah yang dirasakan Kiwa Mahakrura.

Semua serangan yang terhambur, membuatnya putus asa, setiap serangannya selalu dihiasi sentuhan jari lawan yang membuat jantungnya kian lama kian berdebar kencang dengan degup berlipat. Ini adalah penghinaan! Ini adalah pengacuhan luar biasa! Dan ini merupakan kejadian yang pertama dalam hidupnya!

Dengan menggertak giginya, Kiwa Mahakrura bergerak kesana kemari untuk berusaha menjangkau Jaka yang masih saja membayang di pungguhnya. Sampai pada akhirnya, Kiwa Mahakrura nekat, dengan gerakan seolah hendak membalikan badan, tangan kanannya melempar senjata secara melingkar kebelakang, membuat pedang melengkungnya berputar pesat seperti bumerang melibas lawan di belakangnya, dan disaat bersamaan dia mengecoh Jaka dengan melakukan tusakan serangan di bawah belikatnya sendiri hingga tembus! Serangan yang sangat berbahaya itu menembus bawah bahunya dengan cepat, menembus dan akhirnya mengenai Jaka. Gerakan Kiwa Mahakrura terhenti, karena rasa sakit menyengat, dia juga merasa serangan tadi turut menembus lawannya.

“Luar biasa!” seru Jaka yang entah sejak kapan sudah berpindah didepan Kiwa Mahakrura, ditangannya ada pedang melengkung yang tadi dilemparkan Kiwa Mahakrura dengan cukup akurat. “Lontaran pedangmu sangat bagus, sayang terburu-buru. Untuk melakukan serangan terakhir, dibutuhkan keberanian dan kematangan luar biasa. Nyaris saja…” kata pemuda ini membuat seri dalam hati Kiwa Mahakura menguncup dalam serpihan keputusasaan.

Jaka melemparkan pedang yang ditangkapnya tadi tepat kehadapan Kiwa Mahakrura. Dan melangkah begitu dekat, hingga jarak mereka hanya satu jangkauan saja.

“Kau bisa melihatku baik-baik…” desis Jaka menatap lawannya yang masih tertunduk.

Dengan gemuruh emosi yang luar biasa, Kiwa Mahakrura menengadahkan wajah, dia bisa melihat raut wajah lawan yang memiliki postur tubuh lebih tinggi dari dirinya. Seraut wajah gagah denga sorot mata yang sangat mengintimidasi.

“Kau sudah mengingatku?” tanya Jaka dengan nada datar.

Kiwa Mahakrura menelan ludahnya berkali-kali, baru di sadari olehnya, sejak tadi sang lawan tidak pernah menyerang. Pada saat dia membututi tiap gerakannya, jika mau; dalam satu raihan saja, tangan sang lawan bisa mematahkan lehernya, tapi itu tidak dilakukan!

“Kau pikir aku akan melepaskanmu? atau kau mau menghabisi dirimu sendiri karena gagal dalam usaha membersihkan mata-mata yang ditanam Arseta dalam Perguruan Naga Batu?!” ketus Jaka membuat harga diri Kiwa Mahakrura hancur berkeping-keping.

Jaka bukanlah orang yang suka menyindir, tapi saat ini pemuda ini sengaja berkata demikian, orang semacam Kiwa Mahakrura yang berani melukai diri sendiri untuk bersepekulasi pada serangannya, tidak akan takut membunuh diri karena kegagalan. Maka cara paling bagus adalah mencemoohnya.

“Tadinya, aku mengira akan mendapatkan lawan yang sangat tangguh. Tapi ya… harus diakui, kau setangguh kecoa, sulit membuatmu menyerah kalah…” desis Jaka membuat hati Kiwa Mahakrura yang mendingin karena kekalahanya tadi, bergolak kembali.

Meskipun sakit hati dengan ucapan Jaka, namun toh Kiwa Mahakrura seolah mendapatkan titik terang kelemahan lawan. “Kau menginginkan aku menyerah?!” akhirnya Kiwa Mahakrura menemukan tujuan, bahwa ternyata sang lawan ingin dirinya menyerah, dan itu tidak akan mungkin dia berikan! Semangatnya membumbung kembali!

Jaka tertawa pendek. “Apa perlunya? Toh kau yang mengejar aku, bukan aku mengejar kau… aku hanya perlu melepasmu sekali ini dan menunggumu dalam kali berikutnya, apa susahnya? Apalagi aku bisa menjamin, bahwa hasilnya selalu sama!”

Kedekatan mereka benar-benar membuat Kiwa Mahakrura dicengkeram rasa amarah tak terkira, tapi saat ini dia tak berdaya, sebab selain semangatnya sudah runtuh, untuk mengangkat jemarinyapun dia merasakan keletihan yang amat sangat. Bukan letih karena tidak bertenaga, tapi begitu dirinya ingin menyalurkan tenaga, jantungnya menghendak dalam degub yang tak beraturan, dan itu membuat otot di sekjur tubuhnya melemah.

Jaka menyentuh bahu Kiwa Mahakrura, dan meremas lukanya. Meskipun wajah Kiwa Mahakrura seolah terpahat dengan raut dingin dan beku, remasan yang di lakukan lawannya membuat dia meringis kesakitan.

 

“Kau itu bukan siapa-siapa bagiku, hanya orang lewat yang iseng pamer keburukan. Tak lebih…” kata Jaka sambil berbalik membelakangi Kiwa Mahakrura, tangannya meremas batang pohon yang ada disampingnya. “Jika kau merasa dendam dengan kejadian ini, dan ingin membalas… kalau kau masih ada nyali, kau bisa mendatangi Ketua Bayangan Naga dan mengatakan maksudmu. Tapi kalau kau sungkan melakukan itu, dan tidak bisa menemukan jejakku, aku yang akan mencarimu…”

Kalimat terakhir seolah menggaung dalam benak Kiwa Mahakrura, bukan tantangan yang di lontarkan pemuda ini, bukan pula ancaman, tapi mengapa dirinya seolah ditodong dengan sebuah senjata yang tak bisa dihindari?

Kegelapan malam sudah menelan bayangan lawannya, dan Kiwa Mahakrura hanya bisa mendesah dengan kegetiran menggigit batin. Semula dia sangat dendam dengan perlakukan terakhir lawannya… barulah dia pahami, remasan Jaka ternyata dilambari totokan pada uratnya, mengunci pendarahan dan secara aneh merapatkan luka tusukan. Benar-benar dia tidak bisa mengerti orang yang dilawannya itu manusia macam apa. Kenapa niat membunuhnya malah dibalas dengan cara seperti itu? cara yang lebih baik dan tidak bisa ditolaknya?

“Bangsat!” desisnya secara tiba-tiba menyadari disekujur tubuhnya tak lagi tersimpan benda-benda berharga, termasuk lencana-lencana yang dia dapat dari korban-korban terakhirnya. Tapi selain memaki, apa pula yang bisa dilakukannya? Mengejar lawan jelas tak mungkin, saat ini keletihan masih menggayuti tubuhnya. Kalaupun dirinya bisa mengejar lawan, apakah dia akan mengemis-ngemis memohon semua barangnya dikembalikan? Hal itu jelas lebih-lebih tidak mungkin!

Braaak! Tiba-tiba saja Kiwa Mahakrura di kejutkan dengan tumbangnya pohon di hadapannya. Dengan langkah berat dia mendekati pohon itu, alangkah kejut rasa hatinya mendapati batang pohon itu ternyata hancur menjadi arang, hancur secara merata seluas satu hasta, dan itu yang membuat batang tersebut akhirnya tak kuat menopang beban diatasnya… hingga akhirnya rubuh.

Wajah Kiwa Mahakrura memucat pias, apa yang dilakukan lawannya kali ini jauh lebih menohok dari pada semua kekalahan tadi. Dia melihat ciri khas Pukulan Triagni Diwangkara dilakukan pada pohon itu! Seingatnya, pemuda lawannya tadi tidak melakukan ancang-ancang apapun, hanya menyentuh begitu saja, tapi dampak yang terjadi begitu mengejutkan. Hal yang bisa dilakukan gurunya itu ternyata demikian mudah dilakukan lawannya.

“Siapa dia? Siapa dia?” bisiknya berkali-kali dengan perasaan terpukul. Kiwa Mahakrura hanya bisa duduk menggelosoh bersandar pada sisa batang pohon yang tumbang.

Kepenatan lahir batin dia rasakan benar, di benaknya memang terpatri sebuah niat untuk melakukan pembunuhan pada orang tertentu, tapi kejadian hari ini membuat semangatnya runtuh total, apa yang dilakukan lawan adalah hal yang ingin dia capai dalam sepuluh tahun terakhir.

Dunia sungguh tidak adil! Pikirnya. Mengapa jika ada Kiwa Mahakrura yang jenius muncul pula orang macam dia? Geramnya dalam hati.

Dengan dada naik turun menahan kegeraman diantara ketidakberdayaan, Kiwa Mahakrura menelungkupkan wajah diantara lutut. Saat ini dia hanya ingin menenangkan batin. Malam ini benar-benar, hari tergila dalam hidupnya.

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s