91 – Pembunuhan

Jaka menarik nafas lega sembari tersenyum, saat mendengar laporan dari Macan Terbang, bahwa; penyebaran informasi tentang Ki Sempana adalah anggota mata-mata, sudah tersebar di kalangan telik sandi.

“Kenapa tuan harus membuat orang yang tidak ada kaitannya, disebutkan sebagai telik sandi?” Tanya Macan Terbang.

Jaka diam saja, tapi Penikam yang akhir-akhir ini selalu menyertai Jaka, menjawab pertanyaan itu. “Justru itu untuk keselamatan Ki Sempana sendiri.” Sahutnya singkat.

“Lho, bukankah itu lebih membahayakan jiwanya?” Tanya Macan Terbang tak habis pikir.

Penikam tertawa. “Coba kau renungkan, seorang yang sudah seharusnya mati dalam tumpukan puing, tiba-tiba saja selamat dan nantinya dia akan kembali mendirikan rumah ditempatnya semula… apakah itu tindakan berani atau justru bodoh?”

“Wah.. sa-saya tidak berani mengatakan itu tindakan bodoh, tapi itu.. rasanya juga kurang cerdas…” kata Macan Terbang tanpa pikir. “Eh, mm, tapi itu menurut pikiran saya…” sambungnya, baru menyadari jika dia mengatakan itu adalah tindakan kurang cerdas, sama artinya dia mengatakan keputusan Jaka kurang perhitungan.

“Jangan kawatir, setiap orang akan mengatakan itu adalah tindakan bodoh. Tapi disaat sekarang ini, justru itu adalah tindakan paling cerdas. Sebab orang yang tadinya menyiksa Ki Sempana akan berpikir ulang jika mereka akan mendatanginya, mereka pasti berpikir orang-orang dibelakang Ki Sempana merupakan kekuatan yang menakutkan, sampai-sampai membiarkan Ki Sempana kembali ketempatnya.”

“Bukannya itu benar?” tukas Macan Terbang polos.

Jaka tersenyum, Penikam juga terbahak. “Ya, mungkin saja kekuatan kita ini memang bisa dikatakan sebagai kekuatan menakutkan, tapi kita tidak selamanya akan ada disini. Pencitraan sebagai kekuatan yang menakutkan ini, akan membantu Ki Sempana manakala kita tidak disini lagi.“

Macan Terbang manggut-manggut mendengarkan penjelasan Penikam. Mendadak, dari luar melangkah seseorang memberi isyarat kepada Penikam. Lelaki ini segera menghampirinya, terlihat kepalanya mengangguk. “Baiklah, kau kembali ketempatmu.“ Katanya pada orang itu. Dia mengangguk dan memberi hormat pada Jaka, lalu menghilang dari balik pintu.

Penikam kembali duduk disamping Jaka.

“Ada laporan apa paman?“ tanya Jaka.

“Nampaknya, tuan harus segera bergabung dengan anak-anak muda yang dikumpulkan Arseta.” Tutur Penikam singkat.

“Oh, nampaknya Arseta sudah menangkap pergerakan Sadewa.“ Gumam Jaka. Pemuda ini memiliki janji dengan Sadewa bertiga, untuk datang ke Pesanggrahan Naga Batu, pada hari kelima waktu tengah hari. Dan saat perjumpaan itu sudah dekat.

“Saya rasa begitu,“ sahut Penikam.

“Aku harus bergegas..” kata Jaka sembari berdiri, dan menepuk bahu Penikam. Lelaki itu menatap punggung Jaka sesaat, dia segera mengetahui apa yang harus dilakukannya. Rumah Mintaraga pun kembali diliputi keheningan.

***

 

Sore sudah dijelang, di pojokan sebuah tanah kosong terlihat sesosok tubuh berdiri disaput bayangan pohon. Nampak kokoh dan dingin, seolah menyatu dengan alam sekitar. Dia sudah berdiri disana sekitar satu jam. Matanya dipejamkan, kondisinya benar-benar kokoh seperti batu karang, dari kejauahan sana terdengar gemertak suara dan itu cukup membuatnya terjaga.

“Berhenti disana!” ujarnya ketus, tapi perkataan yang singkat itu mengandung bobot cukup berwibawa.

Dua sosok bayangan yang sedang melesat, begitu terperanjat, mengetahui ada orang yang menghentika mereka, dengan meningkatkan kewaspadaan mereka segera berhenti, hanya berjarak lima meter dari pohon rindang itu, suasana sore dengan cahaya yang berangsur mengabur itu membuat mereka bergidik.

“Apa kalian orang-orang Naga Batu?” tanya sosok yang berdiri dibawah pohon ini.

Keduanya saling pandang dan tidak menjawab, pertanyaan orang itu bagi mereka bisa bermakna ganda.

“Siapakah kau?” tanya salah seorang diantaranya.

Dia tak menjawab, tapi sesaat kemudian berujar. “Tahukah kalian, Perguruan Naga Batu, memiliki Janapada-Janapadi… kebanyakan dari mereka tak berguna.”

Keduanya saling pandang, sebutan orang itu secara tak langsung mengarah kepada mereka. Janapada-janapadi adalah sebutan bagi bawahan, pembantu.

“Siapa diantara kalian yang merupakan Janapada?” tanya orang dibawah pohon ini.

Keduanya benar-benar bingung, pertanyaan orang itu mencakup hal-hal baru dari banyak hal yang baru mereka pahami dan menjadi tanggung jawab mereka. Tiba-tiba orang itu menjentikkan jari, sebuah koin jatuh tepat diantara keduanya. Ah… ternyata sebuah lencana, terbuat dari besi, berukir siulet naga.

“Orang sendiri?” tanya salah satunya sembari menjumput lencana itu, dan dan melihat sisi lainnya, tertera nomor 58.

“Ya, kita orang sendiri…” tiba-tiba saja lelaki dibawah pohon sudah berada sangat dekat dengan mereka.

Merasa terancam, keduanya segera bergerak mundur saling berlawanan arah. Tapi gerakan itu ternyata tidak ditanggapi oleh lelaki ini, dia hanya memperhatikan pada orang yang memegang lencananya.

“Kau tahu, lencana lepas dari badan artinya mati…” katanya dengan dingin sembari menjulurkan tangannya meminta lencananya lagi.

“Ah…” katanya baru sadar dia masih memegang lencana itu, dengan terburu dilemparnya lencana itu pada lelaki tadi.

“Kau nomor berapa?” tanya si penghadang ini.

“60.” Sahut si pelempar lencana tadi, tapi anehnya penghadang yang memiliki lencana 58 ini tidak bertanya pada orang yang satunya. Setelah lencana itu di genggam dan disimpannya kembali, barulah dia mengalihkan pandangan pada orang kedua.

“Sebenarnya aku bisa bersenang-senang dengan kalian dalam waktu yang cukup lama, tapi aku diburu waktu.” Katanya dengan nada yang dingin.

“Apa maksudmu?” tanya salah satu dari keduanya merasa ada yang tak beres.

Lelaki itu tidak mengatakan apa-apa, menghunus pedangnya dengan lambat. Melihat gelagat tak menguntungkan itu, si pendatang mundur dua langkah, pada ekor matanya dia melihat rekannya yang tadi memungut lencana diam tak bereaksi. Hatinya menjadi cemas menyaksikan itu.

“Hati-hati!” teriaknya pada rekannya.

“Lebih baik kau perhatikan dirimu!” desis si penghadang sudah berada satu jangkauan dengan dirinya.

Dengan gugup lelaki itu mengisarkan langkah kesamping dan tangannya menebas miring mengarah leher, tapi si penghadang ini menghindar dengan gerakan hampir serupa dengan orang itu.

“Kau dari Perguruan Angin Tanpa Gerak?” tanya si penghadang ini dengan seringai sadis.

“Persetan!” bentaknya sambil mencabut senjatadan langsung menusuk keperut si penghadang itu.

Trang! Sebuah tangkisan yang sangat kuat, membuat pedang lelaki yang di senyalir datang dari Perguruan Angin Tanpa Gerak, terpental. Begitu lengannya terpental, sebuah serangan tusukan sangat sederhana mengarah jantung dengan gerakan sangat cepat!

Tapi lagi-lagi dengan olah langkahnya yang serba canggung lelaki itu bisa menghindar, tubuhnya melengkung kebelakang membentuk gerakan kayang, dan dilain kejap, kakinya menghentak dan melejitkan tenaga untuk mundur.

Si penghadang ini agak terkesima juga melihat cara menghindar lawannya. “Memang gerakan dari ilmu Angin Tanpa Arah, tidak bisa diremehkan.” Gumamnya makin bersemangat. Mendengar ucapan itu, lelaki yang memang datang dari Perguruan Angin Tanpa Gerak ini, terkesip. Sungguh tidak disangka beberapa gerakannya itu ternyata bisa dikenali lawan dengan cepat.

Sambil maju setindak, lelaki ini memasukan pedang dengan cepat, lalu perlahan tangan kirinya terangkat dengan lengan tertekuk kesamping sejajar bahu, jemari mengepal menempel dada, tangan kanannya memegang siku kirinya-tepatnya jemarinya menjumput siku.

“Hiaat..” dengan pekik kecil, tangan kanan yang memegang siku kirinya mencuat dalam kepalan dengan gemuruh laksana guntur, meluncur deras mengarah samping kanan lawan. Sebuah serangan yang aneh, sebab jangkauan serangannya masih terlalu jauh dari lawan, dan bidikannyapun jauh dari presisi.

Orang ini terheran-heran melihat serangan itu, tapi kelenaanya dalam satu detik itu sudah sangat cukup bagi si penghadang untuk melejit sangat dekat dengannya. Lengan kiri yang masih tertekuk itu mencuatkan sambaran sebuah pukulan yang langsung mengarah ke batok kepala, sebuah pukulan yang sederhana, dan keji!

Lelaki dari Perguruan Angin Tanpa Gerak ini dengan sigap melejit kekiri, tapi mendadak saja dia terkejut, saat gerakannya tertahan. Bahunya yang membentur hawa tek telihat itu seperti tersengat pukulan. Barulah disadari serangan yang tanpa alasan tadi ternyata menciptakan selapis dinding hawa sakti untuk mengurung gerakannya!

Karena gerak hindar terhenti, dengan sedirinya serangan tangan kiri lawan masih tetap mengincar kepala, tidak ada waktu untuk berkelit lagi, dengan mengerahkan segenap tenaga sakti Awan Berkubang Mendung, dia menghadang serangan itu.

Plaaak! Benturan keras terjadi begitu dahsyat, sungguh tidak disangka serangan yang sederhana dari si penghadang itu ternyata melancarkan tenaga bagai petir, menyambar setiap benteng hawa saktinya. Dari kepalan tangan yang tertangkis tapak berisi hawa sakti Awan Berkubang Mendung, terasa ada sambaran tenaga yang tiada habisnya menggedor pertahanannya, benturan yang terlihat hanya sekali itu, pada kenyataannya dia rasakan hampir belasan kali gedoran serupa pukulan jarak jauh menghantam pertahanan hawa saktinya.

Tak terasa, kakinya mundur sampai dua langkah, sementara tangan lawannya masih mendorong telapaknya, seharusnya dia masih akan terus terdorong, dan pada saat itu dirinya bisa mempersiapkah himpunan hawa sakti yang berikutnya untuk menyerang, tapi dari belakang lagi-lagi tertahan oleh dinding energi yang sebelumnya diciptakan oleh si penghadang ini, sungguh mimpipun dia tak pernah mendengar ada ilmu seperti ini.

Wajah sang lawan menyeringai padanya sudah sangat dekat! Dia merasa detik-detik itu seperti mimpi buruk, sadar dengan bahaya yang akan menimpanya, tangan yang masih memegang pedang melemparkan senjata itu keatas dan menarik tangannya sejajar pinggang, dia tak lagi memikirkan pertahanan, itu adalah serangan terakhir.. dan pada kejap berikutnya sebuah tendangan menyambar pinggang, tak sempat mengelak, sebuah tendangan telak langsung mematahkan pinggang, dan kejap berikutnya bunyi ‘krak’, di sekitar kepala adalah bunyi terakhir yang dia dengar.

Tapi pada detik yang bersamaan saat serangan si penghadang menghantam kepalanya, pedang yang dikibaskan keatas menukik dengan desingan keras mengancam ubun-ubun si penghadang itu, tanpa melihat kearah serangan terakhir, si penghadang mengisarkan kaki kesamping dan menepis. Tapi sungguh aneh… pedang itu memang tertangkis, tapi hawa yang tajam tetap mengikuti dirinya dan menyayat lengan kirinya sepanjang satu jengkal.

Orang ini, menatap lukanya dengan terkejut. “Jika saja latihannya sudah mahir, menghadapi ilmu Perguruan Angin Tanpa Gerak benar-benar sulit…” Pikirnya, padahal lengan kirinya penuh dengan hawa sakti, tapi hawa pedang lawan masih sanggup penggoreskan luka disana. Tatapan matanya yang tajam dan kejam itu menyapu tubuh lawan yang tergeletak dengan setiap lubang dikepala mengalirkan darah. Dengan menggetak gigi, lelaki itu menyobek kedua lengan baju dan membungkus luka itu, tanpa sadar pada lengannya terlihat menyembul sedikit rajah dengan sisik hitam.

Dengan tergesa, di geledah seluruh tubuh lawannya, sambil menyeringai senang dia memungut lencana yang tergantung di leher, dilihatnya lencana besi itu, ternyata bernomor 63. Dengan berjalan perlahan, kali ini dia menghampiri satu orang yang lain.

Keadaan orang itu sungguh aneh, dia tidak bereaksi terhadap kematian rekannya, hanya diam termenung.

“Apa yang kuucapkan tadi adalah hal sebenarnya, lencana lepas dari badan artinya mati! Kau memang belum melepas lencanamu—itu hanya masalah waktu, tapi sebelumnya kau sudah melepaskan lencanaku.” Katanya sembari menyeringai, dia menggeledah sekujur tubuh orang itu, tanpa ada perlawanan!

Dilihatnya lencana yang sudah didapat, memang benar bernomor 60. “Hm… 58, 60, dan 63 sudah kudapat. Tinggal satu orang lagi pemilik lencana besi, selanjutnya, satu pemilik perunggu dan dua pemilik perak.” Pikirnya dengan langkah lugas menghilang dari balik kerimbunan pepohonan.

Burung sudah kembali kesarang, suara serangga malam mulai berkumandang menderik disetiap penjuru, desau angin sore yang makin lemah senada dengan sang mentari yang kian temaram, kembali keperaduannya. Kejadian tadi hanya sekejap saja, dua nyawa yang masih bugar kini hanya tinggal seperempat, ya.. ternyata si pemungut lencana yang dilemparkan si penghadang, sudah dibalur racun, dan itu membuatnya sekarat, sebab racun itu berjalan lambat, merambat lewat pori-pori, mematikan sistem motorik dan akhirnya akan menghentikan denyut jantung untuk beberapa waktu kedepan.

***

 

Jaka duduk di kedai makan, dimana dia pernah bertemu Arseta. Dengan sendirinya pemilik kedai paham, siapa yang akan ditemu Jaka. Tak berapa lama kemudian, seorang pelayan menyapa Jaka dan menyilahkan pemuda itu untuk duduk di dalam ruangan yang lebih pribadi. Bagi kebanyakan orang, kedai yang penuh cita rasa itu memang enak untuk disinggahi, tapi bagi orang macam Jaka, kedai itu adalah pintu masuk ke dalam dunia yang berbeda.

Tak berapa lama kemudian Arseta muncul dengan wajah tersaput muram. Jaka berdiri dan menyalami orang itu. “Silahkan duduk…” kata pemuda ini pada Arseta.

Melihat wajah yang tidak seperti biasanya itu, Jaka menduga ada banyak perubahan telah terjadi. “Apakah usaha kalian sudah tercium pihak lain?” tanya pemuda ini dengan menuangkan secangkir teh dan diberikan pada Arseta.

Sembari menghela nafas panjang, Arseta menyesap tehnya, lalu menatap Jaka sesaat. “Kami kehilangan pemilik lencana besi nomor 58…” katanya.

Jaka tidak bereaksi, pemuda ini mengambil lencana perunggu yang di berikan oleh Sadewa padanya, baru disadari olehnya ternyata lencana itu memiliki nomor. Miliknya adalah nomor empat.

“Ada indikasi, nomor-nomor yang lain juga akan menghilang.” Katanya sambil menatap Jaka.

“Aku akan berhati-hati,” tukas Jaka.

Aresta mengangguk, dia tidak akan mencemaskan Jaka, karena ada Arwah Pedang di belakang pemuda itu. Dalam mimpi pun Arseta tidak menyangka, pemuda ini tidak pernah mengandalkan orang lain untuk keselamatannya sendiri, justu orang lain-lah yang seharusnya berhati-hati saat menghadapi anak muda bernama Jaka Bayu itu.

“Lalu… apa arti kehilangan itu bagi kalian?”

“Banyak sekali,” Arseta kembali menyesap air tehnya. “Ada yang sudah tahu apa yang sedang kami lakukan, itu pasti. Pihak ini bisa jadi dari luar, bisa jadi dari dalam.”

“Sudah ada yang dicurigai?”

“Saat pemeriksaan jenasah pegang lencana, Ketua sudah memiliki nama, cuma dia masih belum yakin, begitu banyak hal bias yang kutemukan.. aku sendiripun jadi ragu, tidak bisa menyimpulkan apapun.”

Jaka segera berdiri, “Ayo…”

Arseta bengong, tidak mengetahui apa maksud pemuda itu. “Kemana?”

“Tentu saja ketempat penyimpanan jenazah, kalian belum menguburkannya kan?” tanya Jaka. Arseta menggeleng masih dengan perasaan bingung. “Aku akan melihatnya, siapa tahu ada kesimpulan yang bisa membantu kalian.”

Lelaki paruh baya itu terdiam sesaat, “Baiklah…” merekapun meninggalkan kedai untuk menuju ketempat penyimpanan jenazah.

***

 

Hastin dan Cambuk sedang mencermati beberapa lembaran yang mereka dapati dari gua batu. Sebuah catatan sejarah yang tidak mengambarkan apapun. Cambuk hampir putus asa, dia sudah membacanya bolak-balik sampai lima belas kali, tak juga mendapatkan apapun.

“Anda mendapatkan sesuatu?” tanya Cambuk pada Hastin.

Tampang lelaki bertubuh besar ini malah lebih mengenaskan ketimbang Cambuk. “Benar-benar sialan, aku paling tidak suka pekerjaan konyol macam begini!” katanya seraya mencampakkan gulungan lontar yang sudah dibaca jauh lebih banyak dari jumlah Cambuk.

Cambuk hanya bisa menghela nafas, ditatapnya lembaran lontar yang dilempar Hastin, tanpa berusaha mengambilnya lagi. Keheningan meliputi mereka dalam waktu yang cukup lama, sampai akhirnya Cambuk seperti diingatkan sesuatu.

“Tolong, anda balik semua lembaran!” seru Cambuk pada Hastin, dengan bersemangat lelaki ini mengambil lembaran yang di buang Hastin, di lembaran depan memang tercantum banyak tulisan, masing-masing tulisan itu ada yang ditulis dengan tinta yang ditekan lebih kuat, membuat huruf-huruf tertentu menjadi lebih tebal. Cambuk membalik lembaran itu, di baliknya terlihat titik-titik tinta yang meresap, menimbulkan titik-titik yang tidak beraturan. Cambuk segera mencari ururtan-urutan pada halaman.

“Aku sudah selesai dengan tulisan sialan ini, memangnya mau kau apakan?” tanya Hastin heran.

“Tolong susun sesuai urutan halaman.” Kata Cambuk tanpa menoleh, dia sedang mengamati titik-titik dibalik lembaran itu, dalam banyak hal seolah di benaknya muncul jawaban dari hal yang sedang dicari, tapi begitu di lihat lebih dalam, dia sendiri bingung… entah apa yang sebenarnya sedang dicari.

Semua lembaran sudah di balik dan di susun berdasarkan urutannya, dibalik lembaran-lembaran yang lain itu juga terdapat titik-titik bekas rembesan tinta. Cambuk segera meletakan lembaran terakhir yang masih di tangannya.

“Apa yang anda lihat?” tanya Cambuk dengan tatapan mata tidak lepas dari lembaran itu.

“Kecuali, titik-titik tak jelas, memang ada yang lain?” ujar Hastin dengan kening berkerut dalam.

“Aku seperti mengingat sesuatu, tapi apa ya…” gumam Cambuk menggaruk kepalanya berkali-kali.

“Ah….” Tiba-tiba Hastin berseru. “Peta!” keduanya berseru bersamaan.

Dengan terburu, Cambuk mengeluarkan peta gua batu yang di dapat dengan cara menyogok, peta itu diletakkan di atas lembaran-lembaran lontar yang sudah tersusun sesuai halaman. Enam lembar membentuk kolom, sisanya membentuk baris dengan diletakan memanjang, keseluruhan lembaran itu ada enam. Luas lembaran lontar itu pas benar dengan gulungan peta yang didapatkan Cambuk.

Keduanya saling pandang, “Paham?” tanya Cambuk pada Hastin dengan wajah penuh tawa.

Hastin juga tertawa, “Tidak!” jawabnya, membuat tawa Cambuk makin keras.

“Titik-titik ini adalah pelengkap peta Gua Batu, jika kita salin ulang, akan tercipta peta dengan keterangan sangat akurat.”

“Darimana datangnya keterangan itu?”

“Tentu saja dari tulisan-tulisan yang ada dibaliknya.” Kata Cambuk dengan puas, bisa membuat Hastin harus berkali-kali bertanya.

“Menurutmu kegunaan peta itu untuk apa lagi?”

“Kurasa, semacam rancangan untuk sebuah pergerakan yang akan di lakukan secara serempak atau bertahap…” jawab Cambuk menganalisa. “Waktunya berkerja…” sambungnya sambil menyiapkan tinta dan lembaran kulit kambing untuk menyalin peta.

Hastin menguap, pandangannya terlihat bosan, dia benar-benar ingin bertarung.. kalau pekerjaan semacam ini bisa membuatnya mati mengantuk.

***

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s