90 – Bhre

Kesunyian yang mencekam membuat Momok Wajah Ramah tak nyaman, baru kali ini dia merasa takut mati! saat ini tubuhnya benar-benar tak bisa digerakkan, seolah seluruh fungsi tubuhnya luruh semua. Tapi, telinganya masih bisa membedakan mana bunyi wajar dan mana yang tidak, dengan sendirinya dia sangat paham ada langkah kaki yang mendekat.

“Kalau sudah begini, apa yang membuatmu berguna?“ warna suara yang asing itu nampak sangat familier baginya, tapi karena wajahanya miring dia tidak tahu siapa orang itu, saat ini dia hanya bisa mengingat langkah kaki orang itu, sangat khas, tap-tap, taptaptap, ada jeda kecil diantara langkahnya.

Sing…! suara yang menggaung diudara itu mereprentasikan sebuah senjata yang keluar dari sarungnya, sebuah bayangan terpeta dalam benak Momok Wajah Ramah, ‘matilah aku‘, pikirnya panik. Tapi…

Ting! Berselang satu detik atau mungkin pada detik yang sama, suara benturan yang sangat lembut membuat suara-suara lain mengabur dengan cepat. Momok Wajah Ramah kembali di cekam dalam hening. Dia bukan orang bodoh, apa yang terjadi dalam waktu yang singkat itu, ia bisa menduga, entah siapapun orang yang menyelamatkannya, dia sangat berterimakasih. Saat ini, dia hanya bisa memfokuskan pikiran untuk menahan daya sedot yang selalu menguras pusat tenaganya.

Tapi tidak berguna, makin dilawan, daya sedot itu makin ganas, tubuhnyapun lunglai. Pada akhirnya, dalam keputusasaannya Momok Wajah Ramah mencoba cara ekstrim, dia ingat sewaktu hendak menyerangi ada rasa sakit yang menyerang pinggang, sakit itu muncul saat dirinya mengalirkan tenaga pada lengan. Dengan menahan betotan tenaga Momok Wajah Ramah kali ini fokus untuk membangkitkan rasa sakit dalam pinggangnya, detik berikut.. seolah ada bacokan membelah pinggangnya. Tanpa bisa menahan lagi, Momok Wajah Ramah menjerit keras.

Rasa sakit itu mendera cukup lama, setelah mereda; hal pertama yang dirasakan ternyata dirinya bisa menggerakkan jemarinya, dalam beberapa hitungan kedepan, kepalanya sudah bisa ditolehkan kesana kemari, dan pada akhirnya dia bisa duduk dan beringsut.

“Rasa ingin hidup, harus kau ingat baik-baik!“ sebuah suara membuat Momok Wajah Ramah yakin, bahwa orang itulah yang menolong dirinya, tapi sayang lehernya masih sangat sulit untuk digerakkan dengan leluasa. Kesunyian kembali menjadi teman, ternyata diujung kematian timbul sepercik kesadaran, bahwa ternyata hidup memang berharga.

Setelah beberapa saat, Momok Wajah Ramah mengatur nafas, dia bisa bangkit berdiri, di edarkan pandangan matanya kian kemari, baru sadar ternyata disamping tempatnya terbaring tadi tergeletak jarum-jarum beracunnya. Dengan perasaan tidak karuan, lelaki ini memungut jarum, ditatapnya jarum yang selama ini menemani dalam setiap tindakan. Dicium dengan ragu, seperti dugaannya racun dalam jarum itu sudah tidak ada lagi, Momok Wajah Ramah bukan orang bodoh, hal itu adalah peringatan terselubung untuknya. Racun adalah pengejawantahan dari nilai kejahatan, penyerang gelapnya dapat menghilangkan racun yang cukup dikenal di duna persilatan dalam tempo singkat, artinya; orang itu bisa kapan saja ‘menjemput‘ nyawanya.

“Apa aku harus berubah? Lalu apa yang harus kulakukan selanjutnya?” pikirnya gundah. Dengan langkah tertatih, lelaki bernama asli Wangkar menapakkan kaki satu demi satu dalam kegundahan pikirannya.

****

 

Disebuah bangunan cukup besar dengan masing-masing ruangan cukup besar, nampak beberapa orang tengah duduk merundingkan sesuatu.

“Apakah Duhkabhara belum ada kabar?” tanya salah seorang pada bawahannya.

“Belum tuan,” jawabnya singkat.

Duhkabhara, bukanlah nama sebenarnya, itu adalah julukan. Arti julukan itu sendiri adalah kesusahan yang besar atau penderitaan yang besar, tapi bukan berarti orang yang dijuluki hal itu merupakan orang yang hidupnya payah dan dalam kesulitan, tapi justru orang itu selalu mendatangkan kesulitan bagi orang lain, kesulitan yang sangat besar!

“Benar-benar tidak berguna!“ desis lelaki ini dengan marah.

Tapi, baru saja dia selesai berucap demikian, muncul tiga orang menerobos masuk kedalam ruangan itu.

“Pratisara, kau selalu terburu-buru dalam setiap pekerjaan!“ Dengus seseorang yang baru saja menerobos masuk. Dengan langkah yang tegap, lelaki ini menarik kursi dan duduk di depan lelaki yang dipanggil Pratisara. Sementara orang yang menyertai Pratisara tadi sudah mengundurkan diri.

“Jika kau mencermati kejadian akhir-akhir ini, maka kau harus mengambil keputusan dengan cepat!“ Kata Pratisara dengan nada tegas.

“Untuk hal ini aku setuju denganmu.“ Sahut Duhkabhara. “Langsung saja, kita temukan satu nama yang cukup terkenal, Sora… aku duga dia adalah Sora Barung.“

“Cukup berguna, aku tahu orang itu, itu cukup jadi salah satu jalur informasi. Sayang cara kerja anak buahmu tidak rapi.”

Duhkabhara terkejut dengan pernyataan Pratisara, dalam kelompok mereka Pratisara atau panglima, bertindak sebagai penyelia, tanpa orang itu, mereka tidak bisa berhubungan dengan tingkat atas. Dengan agak gusar, Duhkabhara menoleh pada dua orang yang ikut dengan dirinya.

“Apa yang kalian lakukan?”

“Tidak ada yang salah, semua bersih, jadi arang!” sahut salah satunya.

“Apa kau sudah memeriksa ulang?” tanya Pratisara dengan tajam.

“Tidak perlu, sekalipun belum mati terbakar, dia sudah mati kehabisan darah!” Sahutnya dengan ketus.

“Aku tidak menanyakan sumbermu mati atau tidak, tapi sejak kapan puing rumah yang berisi satu orang, tidak terdapat bekas-bekas tubuh orang?”

Keterangan itu membuat kedua orang yang merupakan petugas eksekusi di lapangan, terkejut. “Mustahil!” seru keduanya bersamaan.

“Muncul satu lubang setelah kalian meninggalkan rumah itu, dari lubang itulah korban kalian diselamatkan…” kata Pratisara dengan datar. “Lebih celaka lagi, korban kalian bukan sekedar penjual wedang ronde, tapi perantara informasi.”

“Aku akui itu sebuah keteledoran, tapi itu tidak akan menguak identitas kita.” Kata Duhkabhara membela diri.

Pratisara tidak berkomentar, “Kita tunggu petunjuk beliau saja.” Katanya datar. Duhkabhara cukup sadar kali ini akan ada pembicaran sangat serius, dia memberi isyarat supaya dua orang yang menyertainya mengundurkan diri.

Susana ruangan itu jadi hening, tak berapa lama dari balik kelambu muncul satu orang, dia tidak berkata apapun, tapi langsung membereskan segala sesuatu yang diatas meja, lalu membentangkan sebuah kulit kambing, dalam kulit kambing itu ada banyak tulisan, tapi baik Pratisara dan Duhkabhara tak berani memandang tulisan tersebut.

Sesaat kemudian muncul lelaki dari dalam, dan langsung duduk. Dia tidak menyilahkan Pratisara dan Duhkabhara untuk duduk, melainkan dibacanya lebih dulu tulisan dalam kulit kambing itu. Setelah selesai, dia mengibaskan tangannnya memberi isyarat untuk duduk.

“Terima kasih Bhre…“ kata keduanya duduk dengan punggung tegak, dalam posisi siaga. (Bhre merupakan panggilan untuk raja)

“Aku ingin dengar perkembangan terakhir.“ Katanya singkat.

Pratisara mengiyakan dengan sangat hormat. “Kita memiliki keadaan yang diluar dugaan, sejauh ini sudah ada enam kelompok yang bergerak disini. Pertama, mereka bergerak di sekitar Perguruan Naga Batu, ada tiga golongan; kesatu, sempalan dari Perguruan Naga Batu, kedua; pendukung sempalan kelompok Perguruan Naga Batu, disenyalir merupakan kumpulan golongan-golongan sesepuh para pendiri kota ini, dan ketiga adalah telik sandi bebas, mereka biasa digunakan oleh banyak pihak, ini yang menyulitkan, telik sandi semacam ini kebanyakan dari pihak Kwancasakya.

Kemudian, ada dua golongan yang kemungkinan bergerak didalam Perguruan Naga Batu, pihak pertama; adalah golongan lama yang ingin bangkit kembali, mereka digerakkan oleh anak murid Perguruan Naga Batu sendiri. Kemudian yang, kedua; adalah pihak yang belum diketahui, mereka merubah kebijakan yang ada didalam perguruan. Kami belum bisa mengambil informasi sampai sejauh itu, sebab setap orang yang dikirim untuk menyelidiki kondisi tersebut, lenyap.

Dan pihak yang terakhir; golongan yang membuat onar di Perguruan Naga Batu, saya tidak tahu apakah mereka menjadi satu golongan atau tidak, sebab Beruang dan Serigala adalah dua pribadi berbeda, tidak pernah diketahui saling bekerja sama.“

Lelaki yang di panggil Bhre manggut-manggut, jari manisnya yang menggunakan cincin dari batu hijau mengetuk-ngetuk meja.

”Kalian melupakan tanda pertarungan di pintu masuk kota ini?“ tanya lelaki separuh baya ini.

“Saya tidak bisa mengambil kesimpulan, karena terlalu bias dan kabur…” sahut Pratisara tertunduk.

“Bagaimana menurutmu?” tanya Sang Pimpinan pada Duhkabhara.

“Tujuh satwa satu baginda, setidaknya itu yang bisa saya baca Bhre… tapi seperti kata Pratisara, itu semua sangat kabur. Kemiripan tanda itu sembilan puluh bagian mendekati kebenaran, apalagi ada kabar munculnya Serigala dan Beruang di kota ini, saya rasa menjadi penegasan akan beneran tanda itu.”

“Aku belum menangkap inti pembicaranmu!” tandas lelaki ini menatap tajam Duhkabhara.

Duhkabhara menundukkan kepalanya, sehari-hari dia dikenal sebagai orang yang sangat sadis dan bertindak tanpa pandang bulu, tapi menghadapi sang junjungan yang dapat mengalahkannya dalam dua jurus, dia sama sekali tidak berani berkutik.

“Maksudnya, kita menghadapi ancaman serius. Jika memang tujuh satwa satu baginda benar-benar nyata, maka orang yang di hadapi mereka ini adalah ancaman terbesar…” kata Pratisara menyelamatkan situasi.

“Orang dengan kemampuan sebesar itu apa tidak bisa dilacak?”

“Sama sekali tidak, sejauh ini kami tak bisa menemukan tanda-tandanya, tapi ada beberapa tokoh yang menjadi perhatian kami, menghilang.. apa mungkin ada kaitannya dengan tokoh ini, saya tidak tahu.” Tutur Pratisara menjelaskan.

“Bagaimana dengan yang terakhir?”

Pratisara dan Duhkabhara saling pandang, mereka tidak paham dengan pertanyaan sang junjungan. “Apakah maksud Bhre tentang lolosnya sumber informasi?”

Sang Junjungan tidak menjawab, tapi itu sudah cukup bagi Pratisara untuk meneruskan bicara. “Ini memang keteledoran kami, sungguh tidak disangka… orang itu bisa diselamatkan. Tapi dari kondisinya, saya meragukan orang itu bisa berguna.” Selesai berkata begitu Pratisara menundukkan kepala, sementara dalam hatinya Duhkabhara merasa berterima kasih, karena kesalahan mereka ditanggung oleh Pratisara.

“Kalian tahu apa yang terlewat?” tiba-tiba Sang Junjungan berdiri sambil membelakangi mereka.

Keduanya tak berani menjawab.

“Gua batu didatangi orang, ada beberapa hal yang hilang didalam sana. Asap yang digunakan merupakan pekerjaan golongan yang tidak sembarang bertindak. Apa kalian pernah menyalahi mereka?”

Pratisara dan Duhkabhara terkejut, mereka saling pandang. “Kami tidak mendapatkan laporan itu…” kata Pratisara terbata, dengan keringat dingin menitik.

“Tak bisa menyalahkan kau, kabar ini kudapat dengan tidak mudah.” Kata Sang Junjungan sambil melangkah keluar ruangan, dan menghilang dari balik kelambu.

Sepeninggalan Sang Bhre, mereka Pratisara segera menoleh kepada Duhkabhara, “Segera percepat pengumpulan informasi, jika perlu lakukan dengan berbagai cara!“

Duhkabhara mengangguk, biasanya dia sering berbantah kata, tapi pertemuannya dengan Sang Bhre membuatnya tak punya selera untuk membantah. Tak mengeluarkan sepatah katapun, Duhkabhara keluar dari ruangan.

Anak buah Pratisara kembali masuk menjumpai pimpinannya. “Apa yang harus kulakukan?”

“Temui, Kiwa Mahakrura! Kau tahu apa yang harus dilakukan…” perintahnya singkat.

“Baik!” sahutnya sembari mengundurkan diri.

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s