89 – Melucuti Kedok

Sore sudah dijelang, Jaka sedang termangu di depan lelaki tua yang kali ini sudah mulai membuka matanya.

“Aku… masih hidup?” suara lelaki tua itu sangat lirih, hampir-hampir tak terdengar.

Jaka mengangguk dengan tersenyum. “Syukurlah, Tuhan masih memberi kesempatan pada kita, untuk berjumpa.”

Lelaki tua itu mengerjapkan matanya berulang kali, nampaknya dia pernah mendengar suara itu. “Apakah kau adalah dia?” tanyanya dengan suara hampir tidak terdengar.

Jaka tercenung mendengar pertanyaan itu, dia masih kenal dengan lelaki tua itu, seorang tukang ronde yang dititipi Momok Wajah Ramah saat masih pingsan ditepi Telaga Batu. Mintaraga dan anak buahnya juga sudah memberi laporan padanya, dan pertanyaan sederhana itu cukup memberi keterangan luas pada dirinya.

“Apa yang mereka inginkan?” pemuda ini balas bertanya.

Sambil mengambil nafas dalam-dalam, lelaki tua itu mencoba beringsut duduk. Jaka membantu memayangnya. “Aku tidak tahu apa yang mereka inginkan, mereka bertanya tentangmu dengan sangat rinci, apakah aku kenal denganmu, apa yang kau bicarakan…” tuturnya dengan tersendat.

“Apa yang kau katakan padanya?” tanya Jaka sambil meletakkan tangannya di lutut lelaki tua bernama Ki Sempana. Masih kuat dalam ingatan lelakitua itu betapa dirinya disiksa secara keji, justru kaki dan lututnya yang menjadi sasaran mereka. Hampir saja dia berteriak kesakitan saat telapak tangan pemuda itu menyentuhnya, tapi yang terjadi dia merasakan hawa sejuk yang membuatnya sangat nyaman.

Dengan memejamkan matanya, Ki Sempana menikmati kesejukan yang secara aneh meresap ke luka-lukanya, membuat dia merasa tak terlalu pedih dan ngilu. Sambil setengah terpejam, Ki Sempana menuturkan bahwa yang dia katakan hanya yang diingatnya saja.

“… kujelaskan pada mereka bahwa, aku hanya mengingat kau berkata begini, ‘jika perkerjaanmu terganggu, kau tidak naik peringkat… kau akan di kejar atasanmu… memulai pencarian dari pekerjaanmu yang terakhir disini kau takut dengan Kilat… Ada… Maut, … Emas, dan … Ekor apa, mereka mengiringi seorang tokoh termasyur’ aku juga mengatakan pada mereka bahwa kau sempat mengatakan ‘Bu..buat mereka tidak nyaman di kota ini…’, aku juga sempat menyebutkan nama ‘Sora’…” katanya terengah-engah dengan mata terpejam.

“Baiklah, aku paham…” Kata Jaka sambil menarik tangannya dari lutut pak tua itu. Pemuda itu memberi isyarat kepada anak buah Mitaraga untuk mengurus Ki Sempana kembali.

Sambil berjalan menuju ruang tengah, Jaka bertanya pada Cambuk yang saat itu mengikuti dirinya. “Bagaimana menurutmu paman?”

“Aku rasa, ada sekelompok orang yang sudah memperhatikanmu dari lama.” Kata Cambuk dengan menatap Jaka. “Apakah kau teringat sesuatu?”

Jaka menghela nafas, “Aku tidak pernah menarik perhatian siapapun…”

“Hm…” desah Cambuk dengan tatapan tak percaya.

“Akhir-akhir ini…” lanjut Jaka.

“Bagaimana dengan masa lalu?” tiba-tiba Hastin menimpali. Baginya, dengan kemampuan Jaka yang begitu unik dan mencengangkan, masa lalu pemuda ini sangat menarik baginya.

Jaka menatap Hastin sejenak, lalu mengangguk. “Boleh jadi mereka adalah bagian masa laluku.” Kata pemuda ini.

“Apakah ini akan mengganggumu?” Tanya Hastin lagi.

Jaka tercenung, “Ini bukan persoalan menggangguku atau tidak, tapi orang-orang yang tidak berkaitan dengan masalah ini, menuai dampaknya…”

“Kau tidak bisa menyalahkan diri seperti itu, segala sesuatu memiliki dampak…” tukas Cambuk. Jaka mendesah dan mengiyakan.

Hastin menatap Cambuk dengan tatapan aneh, dia merasa hirarki dalam organisasi perkumpulan Jaka sangat aneh, kalau semua orang sangat takzim dan mengakui Jaka sebagai pimpinan, seharusnya tata cara bicara merekapun berubah. Ada kalanya Hastin melihat semua orang sangat menghormati Jaka, tapi dilain saat—seperti kali ini, mereka yang menjadi anak buahnya, bisa bersikap seperti seorang kerabat, seorang paman, atau seorang ayah, pada Jaka.

“Pada tiap-tiap pilihan memang memiliki harga tersendiri,” ujar pemuda ini dengan tatapan menerawang.

“Kejadian yang menimpa Ratnatraya memang membuat kita semua terpukul, tapi bukan berarti kita harus melangkah mundur…”

Ucapan Cambuk membuat Jaka tercenung, pemuda ini berjalan kesisi jendela jemarinya nampak bergetar. Tak ada ucapan apapun dari mulut pemuda ini, hanya helaan nafas yang berulang kali.

Mulut Hastin sudah terbuka, dia hendak menanyakan tentang Ratnatraya (permata tiga buah), tapi Cambuk membuat isyarat supaya dirinya tak berkata apa-apa.

“Terkadang aku merasa ragu, orang-orang yang tidak berkaitan dengan apa yang kulakukan, dan kerabat yang mungkin tersangkut… harus menjadi korban.”

“Kau memiliki aku, kau mendapatkan pengabdianku… tak perlu memikirkan hal-hal yang membuatmu ragu bertindak. Lakukan seperti biasanya!”

Jaka membalikan badan, dia tersenyum dan menepuk bahu Cambuk. “Terima kasih paman. Jika nyawa sudah tak dipikirkan, artinya; luka tak menjadi berarti lagi..” pada saat mengatakan itu, matanya bercahaya.

Cambuk menepuk dahinya, “aduh..” gumamnya, terkadang jika mata pemuda itu bercahaya karena rasa senang, ada kejadian yang membuat dirinya—dan banyak orang, harus sibuk luar biasa.

“Apakah berarti, semua kejadian ini bisa menjadi keuntungan buat tuan?” tanya Mintaraga bingung dengan pembicaraan kedua orang itu.

Cambuk tertawa, demikian pula Jaka. “Ya, nama Sora yang diucapkan pak tua itu memang akan jadi titik tolak penelusuran mereka. Ini akan sangat menarik… baiklah!” Jaka berdiri matanya bersinar penuh gairah. “Paman Mintaraga, aku mengharapkan titik-titik rawan pada kota ini, tidak perlu mendapat perhatian kusus.”

“Kenapa?” hampir bersamaan Mintaraga bersama Hastin bertanya.

“Ada pihak lain yang tidak suka urusannya dicampuri, kita harus membiarkan mereka menyelesaikan urusan pribadinya.” Sahut Jaka dengan wajah tersenyum. “Saat ini kita hanya perlu fokus pada hasil lain.”

Hasil lain yang dimaksud Jaka tentu saja umpannya yang ditebarkan pada orang yang membuat Jaka merasa bersalah dengan hal itu, karena apa yang dilakukan tenyata memakan korban pada orang yang tidak terlibat—seperti Ki Sempana.

***

 

Momok Wajah Ramah berjalan perlahan di depan tiga orang kenalannya. Sebenarnya dia ingin sekali menjenguk apa isi dalam kereta itu, tapi keinginan itu harus dia tutup rapat-rapat, selain bisa membuka kedoknya, hal itu juga bisa membuat dirinya celaka. Saat ini hatinya merasa kebat-kebit, karena seluruh langkahnya sudah dijegal oleh orang yang misterius, dia benar-benar tak bisa berbuat banyak hal selain meneruskan sandiwaranya, bahwa dirinya adalah salah seorang pengikut kalangan petani—Argamas.

“Kau tahu mereka dari kelompok mana?” tanya Kepalan Maut pada Momok Wajah Ramah.

Sebelum menjawab, lelaki ini melirik kesekeliling, bagaimanapun orang yang mengacaukan rencana yang sudah disusun sedemikian rupa, adalah ancaman terbesar dirinya.

“Kukira, mereka adalah pembunuh bayaran..” baru saja ucapan itu diselesaikan, pinggangnya terasa sakit sekali seperti ada jarum panjang yang menembus dengan perlahan, wajahnya berkerut, dia terheran-heran, kenapa ada kejadian seperti itu.

“Kau terluka?” tanya Kepalan Maut pada Momok Wajah Ramah.

“Ti-tidak…” ujar lelaki ini dengan kening makin berkerut, dia sangat yakin apa yang sedang menimpa dirinya pasti karena orang yang mengacaukan rencananya. Berkali-kali orang itu sanggup menyentuh dirinya tanpa di sadari, dengan sendirinya Momok Wajah Ramah memaklumi begitu ada hal aneh menimpa dirinya.

“Sangat mencurigakan, pembunuh bayaran berkeliaran disekitar sini, dan ternyata harus kau bereskan sendiri.” Mendadak Elang Emas berkata sambil lalu, ucapannya yang sangat bersayap membuat Momok Wajah Ramah makin berdebar.

“Sudah kukatakan, akupun hanya karena kebetulan lewat dan mempergoki mereka, maka aku harus bertarung dengan mereka.” Usai berkata begitu, rasa sakit di pinggangnya makin menjadi, Momok Wajah Ramah harus menghentikan langkahnya, begitu dia berhenti, rasa sakit itu reda.

“Berarti kau sangat hebat.” Ujar Kepalan Maut ikut berhenti, dan Pecut Ekor Tujuh juga menghentikan laju kereta.

“Luka yang mereka derita adalah totokan yang tidak mematikan, tapi simpul utama mereka terkunci dengan teknik sangat tinggi, teknik ini aku pernah lihat dikuasai oleh golongan yang telah menyucikan diri. Dan Argamas bukanlah golongan yang menyucikan diri.” Kata Elang Emas dengan menatap tajam.

Momok Wajah Ramah terkesip mendengar ucapan itu, “Kau terlalu mengagulkan pengetahuanmu, bukan berarti aku tidak pernah belajar dari orang lain!” Sahutnya dengan sengit.

“Betul, dan aku tidak mengatakan kau tidak menguasai.” Sahut Elang Emas sembari tertawa pendek. “Mungkin memang benar kau menguasai, mungkin kau memang sudah sangat mahir sampai-sampai kami tidak bisa melihat ciri itu ada padamu.”

“Seseorang yang memiliki ilmu totok jenis itu memiliki peringan tubuh sangat mahir, badan seringan kapas, gerakan secepat kilat, tindakan mantap, mata tajam, dan nafas yang sangat halus, tidak pernah terengah.” Timpal Pecut Ekor Tujuh.

Sampai disini, barulah sadar bahwa dirinya sudah ditelanjangi. Mau tak mau Momok Wajah Ramah memang mengakui bahwa pelakunya memiliki ciri-ciri seperti yang baru saja disebutkan tadi, saking lihaynya si pelaku, dia bahkan tidak tahu tengah mengadapi siapa.

“Semua ciri itu tidak terdapat pada dirimu… mengingat kau mengakui menjatuhkan para pembunuh bayaran itu, tapi dari caramu bergerak kau tidak memiliki kemahiran itu.”

Kalimat terakhir Pecut Ekor Tujuh adalah vonis bagi dirinya. Momok Wajah Ramah merasa wajahnya memerah, dengan tertawa dia membalikan badan. “Sepertinya, caraku berbohong tak bisa mengelabui kalian…”

Begitu kalimat ‘tak bisa’ dia ucapkan, tangan Momok Wajah Ramah sudah melepaskan jarum embun yang beracun, gerakannya begitu cepat dan tidak terduga, saat kalimat ‘mengelabui kalian’ terlontar puluhan jarum disertai sambitan tujuh pisau mengarah mata dan jangkun ketiga orang yang hanya terpisah lima langkah darinya.

Ketiga orang yang diserang Momok Wajah Ramah bukanlah orang biasa, dari awal mereka tidak begitu bodoh percaya begitu saja dengan keterangan lelaki itu, tapi sungguh tidak disangka, serangan mendadaknya begitu mematikan!

“Hiaah!” Kepalan Maut menepukkan kedua tangannya menciptakan lapisan hawa dan resonansi gelombang untuk menolak belasan jarum yang mengarah kesekujur tubuhnya, tapi pisau yang datang belakangan justru sampai lebih dulu, dengan sangat terperanjat, lelaki ini memutar tubuhnya, pisau itu begitu tipis melawati sisi tubuhnya, hanya berkisar seujung jari dari dahinya.

Elang Emas yang mendapat serangan serupa, segera melejit kebelakang dan tangannya membentuk satu putaran dan mengibas kedepan, seketika itu juga jarum yang dilepaskan Momok Wajah Ramah, runtuh. Tapi ada satu yang tak terpengaruh kibasan energi Elang Emas, jarum itu melesat menancap tepat di pinggang.

Clap-Trak! Wajah Elang Emas berubah pias, untung saja serangan pisau yang mengarah padanya tak begitu sulit dihindari.

Yang paling beruntung adalah Pecut Ekor Tujuh, posisinya yang berada di belakang kedua rekannya membuat dirinya leluasa menghindari serangan mendadak itu. Letupan pecutnya yang memiliki tujuh rumbai itu, menggelegar menyapu sisa serangan Momok Wajah Ramah.

Dengan sendirinya setelah melakukan serangan, Momok Wajah Ramah tidak berdiam diri disana, detik yang sama begitu serangan terlontar dengan seringaian menghina, lelaki ini melejit meninggalkan tempat itu. Sayangnya dia lupa ada orang didalam kereta, orang itu kemahirannya berada jauh diatas ketiga orang yang diserang Momok Wajah Ramah.

Begitu badannya melenting dan peringan tubuh terkembang, kakinya terasa dilibat sesuatu. Dengan menendangkan kaki kirinya, Momok Wajah Ramah seolah ingin melepas jeratan di kaki kanannya, tapi begitu kakinya menendang angin, barulah dia sadar, yang melibat kakinya bukan benda (dalam bayangnnya itu adalah bendang tipis), tapi sebuah hawa sakti yang amat liat.

Sentakan yang amat kuat membuat tubuh Momok Wajah Ramah tertarik dan hampir saja dia jatuh terguling, untungnya begitu kaki menapak tanah, lelaki itu masih sempat mengatur keseimbangannya.

Dengan wajah pias, dan nafas memburu, Momok Wajah Ramah memperhatikan seseorang dari dalam kereta, tapi setelah ditunggu beberapa saat, orang itu tak juga keluar.

“Kau melakukannya perananmu dengan baik, tapi jika ingin keluar dari sini, jangan harap bisa kau lakukan dengan mudah.” Terdengar suara dengan nada rendah dari dalam kereta.

Keringat deras mengucur dari dahi Momok Wajah Ramah, kalimat itu memang tidak mengerikan, bahkan suaranya terkesan lembut, tapi pada setiap patah kalimat yang diucapkannya, jiratan dikaki kanannya mengencang dan membuat setiap jengkal kulitnya merasa perih, demikian juga dengan tulangnya, rasa ngilu yang menusuk membuat dia merasa tulang diseluruh tubuhnya seperti dilolosi.

“Kau bisa mengancamku, tapi anakbuahmu pun tak akan bernasib baik…” desis Momok Wajah Ramah dengan suara mendesis.

Suara tawa dari dalam kereta meledak begitu saja. “Ha-ha.., matamu memang kurang awas, coba kau perhatikan lagi.”

Mata Momok Wajah Ramah terbelalak, dia melihat Elang Emas masih berdiri tegak, padahal siapapun yang terkena jarum embunnya, hal pertama yang akan terjadi adalah tubuh menjadi kaku sebelum akhirnya secara lambat memucat dan akhirnya berkerut kering.

Elang Emas meraba pinggangnya, “Jarummu memang hebat, sayangnya aku memakai baju kusus pula.”

Momok Wajah Ramah menampilkan mimik aneh saat Elang Emas mencabut jarumnya. Bagitu jarum tercabut, matanya menyipit. “mampuslah…!” desisnya dengan nada riang yang tak bisa di tutupi.

Elang Emas menatap Momok Wajah Ramah dengan mimik riang pula. “Tak perlu kau menghitung sampai sepuluh, aku tahu Jarum Embun milikimu berbahaya, tapi saat ini, siapapun yang menyentuh jarummu tak akan mendapatkan efek yang kau harapkan.”

Momok Wajah Ramah benar-benar seperti menelan pil pahit, dalam kilasan detik saja dia sudah memahami kenapa jarumnya tidak memiliki efek lagi, seseorang yang mengganggunya tadi! Dia mengembalikan jarum-jaum itu padanya, dengan seksama di periksanya kembali jarum yang belum sempat di lontarkan.

“Keparat!” seru Momok Wajah Ramah dengan marah, disadari olehnya ternyata jarum beracun itu sudah netral sama sekali.

Kepalan Maut adalah orang yang cukup teliti, dia menyadari keanehan yang terjadi pada Wangkar. “Kurasa aku tahu apa yang menimpamu. Kau tidak menyadari jarummu sudah tidak berguna, artinya kau sudah di tipu mentah-mentah oleh lawanmu atau justru kawanmu, yang berikutnya; bisa jadi orang-orang ini adalah teman-temanmu, tapi mereka entah kenapa dilumpuh oleh seseorang atau sekelompok orang. Dan saat itu, kau berada di dua pilihan, terus menyergap kami atau harus menghindar… seharusnya kau menghindar, tapi ada sesuatu yang membuatmu jadi terpaksa memunculkan diri.”

Kesimpulan Kepalan Maut memang tak jauh berbeda dengan apa yang menimpa dirinya, tapi seluruh uratnya merasa mengejang, dia bahkan tak bisa menggerakkan gerahamnya untuk mengucap kata.

“Orang ini sudah tidak berguna lagi…” timpal Pecut Ekor Tujuh. Ucapannya bagi orang lain terdengar tidak beralasan, tapi bagi rekan-rekannya itu masuk akal. Seseorang yang dilibat tenaga sakti Sakta Glagah, akan mengalami pembalikan sirkulasi tenaga dengan sangat lambat, bayangkan; seseorang yang biasa menghimpun hawa sakti dengan menyebarkan hawa tersebut pada seluruh tubuh, tiba-tiba dari sekujur tubuhnya muncul tenaga sedot yang membuat pusat tenaga harus menyuplai tenaga terus menerus.

Momok Wajah Ramah merasa tubuhnya melemah, dia tidak merasa lagi jiratan hawa pada kakinya, tapi sekujur tubuhnya begitu berat untuk digerakkan.

“Apakah kita akan tinggalkan orang ini?” Tanya Elang Emas dengan menoleh kearah kereta.

“Ya, dia hanya menjadi beban.“ Ucapnya lirih.

Mereka kembali bergerak dengan perlahan, Sakta Glagah menyadari, terdapat perubahan mendasar dengan situasi Kota Pagaruyung

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s