88 – Pertarungan Sunyi

Momok Wajah Ramah memperhatikan jalanan lagi, tapi dia tidak melihat ada orang lain selain kereta kuda yang berjalan sangat perlahan. Dalam keadaan begini entah dia akan menunggu atau tidak, keretapun akan tetap berjalan lambat, dengan penuh kebimbangan, Momok Wajah Ramah memutuskan menunggu, dia tidak ingin memunculkan diri.

Tapi beberapa bunyi yang sangat tidak alami membuatnya curiga, dengan mengundurkan diri secara perlahan, Momok Wajah Ramah menuju salah satu pos persembunyian pimpinan pasukan perintis.

Alangkah kaget hatinya menyaksikan orang yang dipercaya untuk menyergap, kini dalam keadaan terbaring! Langkah kaki lelaki ini tak bisa lagi berlanjut saat dia merasa di belakangnya dirasa ada kehadiran seseorang. Tak menunggu orang menyerang dirinya, Momok Wajah Ramah mengibaskan dua tangan kebelakang dua kali berturut-turut dan tubuhnya menggelinding kedepan, berlindung pada batu di belakang sosok salah satu pimpinan perintis yang tergeletak.

Gerakan yang di lakukan Momok Wajah Ramah sangat cepat, dia bahkan merasa belum pernah melakukan gerakan semacam itu seumur hidupnya. Dengan seksama dia memperhatikan tempat tadi, tapi sayang tidak ditemukan apa-apa. Dengan wajah kecewa, lelaki ini keluar dari persembunyian.

”Apa aku salah?” pikirnya dengan perasaan tidak tenang, baru saja dia berpikir begitu, dirasakan olehnya ada tiupan pada leher!

Wajah Momok Wajah Ramah menegang, kali ini dia menjejakkan kaki kebelakang tanpa menoleh, begitu kaki menyepak, tubuhnya merunduk pula, menggelinding lagi kedepan untuk mencari keamanan buat diri sendiri, sebelum sempat dia melihat keadaan, tangannya menyambitkan senjata rahasia andalan kedepan dan belakangnya. Masih dalam keadaan menunduk, Momok Wajah Ramah tak mendengar suara apapun menanggapi senjata rahasia yang tadi dilepaskan empat kali berturut-turut. Lagi-lagi dia harus kecewa. Tidak ada siapapun disana! Tapi nalurinya tak bakal salah, seharusnya ada orang di belakang dia.

Sambil berdiri perlahan, akhirnya lelaki ini memutuskan bahwa nalurinya salah, meskipun dia menyangsikan hal itu. Dengan tergesa-gesa diperiksa sosok salah satu pimpinan perintis itu. Tubuhnya dingin, tapi masih hidup, dia masih bisa merasakan denyut nadinya. Nampaknya cuma tertotok, tapi sejauh ini dia tidak bisa membuka totokan itu, sudah tentu Momok Wajah Ramah sangat bisa menduga orang yang melumpuhkan anak buahnya ini adalah tokoh berkasta tinggi.

”Siapa orang itu?” pikirnya sambil menghubungkan dengan menghilangnya tiga orang yang sengaja dia hadang.

Momok Wajah Ramah buru-buru menghampiri pos berikutnya, tapi lagi-lagi dia merasa ada tiupan di leher belakangnya.

”Keparat!” runtuknya dengan sengit, tapi kali ini dia membiarkan saja tiupan itu. Karena kelengahannya, langkah Momok Wajah Ramah terhenti dengan wajah berubah sangat jelek. Rupanya ada hawa dingin menempel di lehernya, hawa dingin itu hanya setitik saja.

Keringat dingin bercucuran, dalam benaknya ada sebatang pedang menempel di lehernya. Dia tak berani bergerak lagi, tak berani bersuara, dalam keadaan begini biasanya orang yang sedang menodongnya akan bersuara, pada saat seperti itu Momok Wajah Ramah menyakinkan dirinya dia bisa mengambil kesempatan untuk balik menyerang, karena dia tahu dimana letak lawannya.

Tapi sejauh ini dia tidak mendengar suara apapun, hanya desir angin saja yang membuat susut keringatnya.

”Apa tidak ada orang?” pikirnya dengan sangat was-was, dengan memberanikan diri Momok Wajah Ramah menggerakan tubuhnya, dia mencoba meraba belakang lehernya. Tidak ditemukan apa-apa! Hanya saja dia mendapati sebatang jarum menyisip di leher baju.

”Ah…” wajahnya kembali memucat saat menyadari jarum yang menyisip di leher baju tadi adalah jarum beracun miliknya! Tapi lehernya tadi hanya tersentuh bagian belakang jarum, bagian yang tidak beracun. Makin berkejaran detak jantung Momok Wajah Ramah, dia menyadari jika orang itu mau membunuhnya, nampaknya itu semudah membalik telapak tangan.

Menyadari keadaan itu, barulah Momok Wajah Ramah menyadari, entah siapapun orang itu, sedang memberi pesan padanya. Sebuah pesan yang beresonansi lemah tapi sangat jelas terpeta dalam hatinya. Pesan itu sebuah ancaman lunak.

”Apakah dia orang yang menyertai Wingit Laksa?” pikirnya menduga-duga. ”Ah, tidak mungkin! Jika dia adalah orang Wingit Laksa, pasti kepalaku sudah berpindah tempat. Wingit Laksa sangat pendendam!” tapi kesimpulan itupun dirasa tidak tepat, sebab dia tahu sekalipun Wingit Laksa sangat mendendamnya, selagi musuhnya masih memberi kemanfaatan buat dirinya, dia akan pelihara itu. Sifat Wingit Laksa boleh dibilang sama persis dengan dirinya. Kadang-kadang dia malah berpikir bahwa mereka boleh jadi bersaudara, lagipula usia mereka berpaut cuma delapan tahun saja.

”Persetan!” desisnya dengan hati masih menggeletar ketakutan. Langkahnya makin dipercepat menuju pos berikut. Meski jauh didasar hatinya dia memiliki dugaan bahwa anak buahnya kemungkinan juga sudah dilumpuhkan, tapi lelaki itu masih memilikin harapan bahwa dugaannya salah.

Tapi apa lacur, anak buahnyapun sudah meringkuk dalam kondisi seperti orang tidur, Momok Wajah Ramah langsung merasa cemas, dengan kaki lemas dia berjongkok memeriksa salah satu anak buahnya. Kondisinya pun sama dengan yang pertama tadi, tertotok seperti orang pingsan dengan tubuh dingin.

”Apakah dua belas orang yang lain mengalami keadaan serupa?” pikirnya dengan kawatir, tentu saja dia bukan mengkawatirkan keselamatan anak buahnya, meskipun mereka mampus semua dia juga masih sanggup tertawa, yang dikawatirkan adalah keselamatannya sendiri! Empat belas orang pimpinan pasukan perintis menurutnya cukup kuat sekalipun harus menghadapi tokoh paling kuat.

Momok Wajah Ramah berdiri dengan perasaan gundah, lagi-lagi wajahnya memucat, dia merasa ada setitik sentuhan di lehernya, dengan terburu-buru segera dirabanya, dia menemukan jarum yang di lepaskannya! Biasanya setelah beraksi Momok Wajah Ramah selalu mengambil kembali senjata rahasianya, dulu dia sanggup mencari jarum beracunnya karena tak perlu repot, sebab semua tertanam dalam tubuh musuhnya. Tapi pada saat melakukan serangan tadi, dia tak berharap senjata yang telah dibuat dengan susah payah dan memiliki racun mematikan itu, akan didapat kembali. Sungguh tak terkira, kini senjatanya bisa dia dapat tanpa kerepotan, sayangnya kondisi itu malah makin menghancurkan nyalinya.

Lelaki itu ingin berteriak melapiaskan kepepatan hatinya, tapi diapun sadar jika itu dilakukan, bukankah dirinya menjadi orang paling bodoh? Mana ada menyergap lawan dengan memberi tahu tempat persembunyiannya lebih dulu?

”Apakah aku akan melanjutkan pekerjaan ini?” kali ini dia memikirkan jalan mundur yang aman. ”Ketua, tidak mungkin tahu jika aku lenyap.” pikirnya dengan wajah agak cerah, nampaknya ide itu bukan hal buruk. ”Mereka tidak akan mengejarku… selagi keadaan Perguruan Naga Batu dalam kondisi tegang seperti ini.”

Manakala Momok Wajah Ramah memutuskan hal itu, teringat pula olehnya akan pemuda misterius yang menaklukannya. ”Ah… jangan-jangan ini adalah perbuatannya?” pikir lelaki ini dengan hati bergetar. ”Tapi tidak mungkin, bukankah dia menyuruhku untuk mengganggu orang-orang dari Perguruan Sampar Angin? Kenapa pula dia harus menghalangi maksud tujuannya sendiri?!”

Kali ini Momok Wajah Ramah merasa dirinya tidak memiliki pegangan apapun, bersembunyi salah, melakukan penyergapan lebih salah lagi, sebab dia sudah tidak memiliki keyakinan, mengingat dirinya berkesimpulan seluruh anak buahnya sudah dilumpuhkan orang… apa yang bisa dilakukan kali ini adalah mengikuti keadaan yang ada dihadapannya.

”Apa aku harus menyerah?” selintas pikiran itu langusng ditentang habis oleh batinnya, meski dirinya orang yang licik dan menghalalkan segala cara untuk membunuh lawan, kabur dari masalah merupakan satu pantangan bagi dirinya!

Lelaki itu termangu-mangu, pada saat itulah dia menyadari anak buah yang tadi menggeletak sudah tidak ada di tempatnya lagi! Kondisi anak buahnya tidak mungkin bisa bergerak sendiri pasti ada orang lain yang membawa tanpa sepengetahuan dirinya! Kejadian itu sudah merupakan tanda positif bahwa dirinya sedang berhadapan dengan tokoh entah macam apa. Dengan berdebar, dia memandang berkeliling, meski seudah sekian kali dirinya kecolongan, tapi kewaspadaannya kembali ditingkatkan sampai sedemikian rupa. Setelah memandang berkeliling dan tidak menemukan apa-apa, Momok Wajah Ramah memutuskan memeriksa tempat yang lain, dalam benaknya sudah melupakan tiga orang yang hendak disergapnya.

Takut dengan kejadian sebelumnya, begitu melihat ada tubuh tergeletak, dia tak memeriksanya lagi, dengan cepat dia berpindah ke tempat lain, berturut-turut sampai empat belas tempat dia periksa, kondisi anak buahnya tak jauh beda! Di sela-sela langkahnyapun seluruh jarum yang dia hamburkan untuk menyerang lawan misterius tadi sudah kembali ke tangannya dengan cara yang sama persis seperti awal!

”Nampaknya usahaku tidak bisa dilanjutkan…” pikirnya dengan putus asa, tapi dia juga cukup cerdas untuk berpikir, bahwa baik atasan atau pemuda misterius itu tidak bisa mentoleransi kegagalannya, karena tidak ada bekas-bekas usahanya!

Tidak mungkin dia melabrak ketiga orang dari Perguruan Sampar Angin hanya untuk mencari mati. Satu dari mereka saja sudah cukup untuk membuat dirinya pontang panting.

”Aku mencium bau darah disini…” tiba-tiba terdengar sebuah suara yang membuat Momok Wajah Ramah membeku ditempatnya, dia tak berani banyak bergerak. Dengan sangat perlahan di lihatnya siapa pendatang itu. Ternyata seorang berbadan tegap denga  bahu lebar, dari ciri-cirinya dia mengenal orang itu sebagai Kepalan Maut, konon kesempurnaan pukulannya mampu menghancurkan apapun yang di hantamnya. Nampak lelak itu sedang berbicara dengan orang berwajah tirus, Momok Wajah Ramah mengenal orang itu sebagai Pecut Sakti Ekor Tujuh.

Pecut Sakti Ekor Tujuh tidak menyahuti ucapan Kepalan Maut, dia sedang berjongkok memeriksa tubuh yang terlentang membeku itu. ”Orang ini masih hidup, kondisinya sama dengan yang lain…” desisnya. ”Bau darah bukan disini.”

”Tapi petunjuk yang kita terima justru mengarah kemari.” tukas Kepalan Maut. ”Rasa-rasanya aku juga bisa menicum setitik bau darah, tapi belum kutemukan dimana tempatnya.”

”Hidungmu memang terlampau tajam…” ujar Pecut Sakti Ekor Tujuh sambil berdiri memandang berkeliling.

”Ya, untung saja dia mencium bau darah, jika tidak, boleh jadi kita kerepotan dengan apa yang terjadi disini.” satu suara terdengar dari balik pohon, muncul lelaki  berkepala polos, dia Elang Emas! Momok Wajah Ramah makin cemas menyaksikan kemunculan orang terakhir itu, justru karena Elang Emas dikenal sebagai orang yang memiliki ketajaman mata dan pengamatan jauh lebih baik dari orang kebanyakan, dirinya makin tak berani berkutik, bahkan untuk bernafas pun dilakukan dengan sangat hati-hati, takut jejaknya terungkap!

”Bagaimana hasil pencarianmu?” tanya Kepalan Maut.

”Ada tiga orang tewas keracunan, akupun menemukan sebab-sebabnya.” kata Elang Emas mengeluarkan tiga jarum yang di bungkus dengan daun.

Kedua rekannya melihat benda itu dengan kening berkerut. ”Untung saja kau menyadari ada bau anyir darah.” gumam Pecut Sakti Ekor Tujuh pada Kepalan Maut. ”aku tidak mau direpotkan dengan kejadian-kejadian aneh lagi, tapi tak disangka orang-orang yang nampaknya sudah menunggu kita ini sudah dibereskan lebih dahulu.”

Dari pembicaraan mereka barulah Momok Wajah Ramah bisa menarik kesimpulan, ternyata serangannya pada pengikut Wingit Laksa-lah yang membuat ketiga orang itu menjadi waspada, padahal apa yang dihasilkan dari serangan jarum beracunnya hanya titik darah yang mengembun, sungguh tak disangka, setitik darah saja sudah disadari oleh Kepalan Maut. Dia tak tahu kemahiran lelaki berjuluk Kepalan Maut ini adalah mengendus jejak, indra penciumannya sangat tajam, dari jarak satu pal saja, dia bisa membaca kondisi lingkungan dari angin yang membawa aroma ke hidungnya.

”Aku kenal dengan barang ini… ini Jarum Embun,” gumam Kepalan Maut.

”Ya,” sahut Elang Emas. ”Beberapa tahun lalu aku pernah bertarung orang yang menggunakan benda ini.”

”Apakah dia berbahaya?” tanya Pecut Sakti Ekor Tujuh.

”Tidak, meski cukup merepotkan Tupai dari Kalapandan sudah kukirim kebalik tanah.” terang Elang Emas membuat paras Momok Wajah Ramah berubah, tak disangka kakak seperguruan yang dicari-cari sejak lama sudah dibunuh oleh Elang Emas! ”Orang itu cukup licin, racunnya juga beragam… kutahu gurunya adalah lelaki yang tak pernah mau disebut namanya.”

”Oo.. maksudmu si Ulat Bulu itu?” timpal Kepalan Maut. ”Bukannya orang itu juga sudah mati?”

”Aku tak tahu, tapi sejauh ini dia sudah melakukan kesalahan pada salah seorang kerabat Dewan Penjaga Sembilan Mustika, sejak saat itu dia diburu, berita selanjutnya aku tidak tahu.”

Mendengar keterangan itu barulah Momok Wajah Ramah paham kenapa gurunya tidak pernah mau keluar dari tempat tetirahnya, menghadapi orang-orang dari Dewan Penjaga Sembilan Mustika memang lebih gawat dari apapun.

Tiba-tiba dirasakannya ada sebuah sentuhan yang membuah iganya kesemutan, dengan gerakan reflek lelaki ini bergerak mengibas kebelakang, dan sentuhan ujung dahan yang tak tahu muncul dari mana itupun terlepas, sayang gerakan itu membuyarkan persembuyiannya sendiri!

”Siapa disitu?!” bentak Kepalan Maut.

Momok Wajah Ramah tak mungkin mengelak lagi, di segara turun dari persembunyian, seluruh tubuhnya menegang. Dia takut ketiga orang itu mengenalnya, tapi detik itu juga kesadaran dalam benaknya berbicara lain, selama ini dia tak pernah berkecimpung dalam perkumpulan yang terbuka, tentu saja kondisi dirinya secara umum tak mungkin dikenali orang-orang itu. Sambil menjura, Momok Wajah Ramah mengambil resiko dengan keputusannya.

”Mohon maaf membuat kalian terkejut, saya terpaksa bersembunyi karena begitu banyak penyergap yang menyulitkan saya…”

Ketiga orang itu saling pandang, Kepalan Maut melangkah maju, dia mengamati Momok Wajah Ramah dengan seksama. ”Siapa kau?”

Dengan seulas senyum terkembang, lelaki ini kembali menjura. ”Nama saya Wangkar, saya datang dari daerah Suramajan.” jawab Momok Wajah Ramah dengan luwes, dia bisa menyebut beribu nama, tapi lelaki ini memutuskan untuk menyebut nama asli, kecuali sang guru tak satupun orang tahu namanya.

”Jadi kau menyaksikan orang-orang itu bersembunyi?” tanya Kepalan Maut lagi.

”Ya, saya juga sempat bentrok dengan mereka.” jawab Momok Wajah Ramah dengan sangat lugas, dia mulai berharap banyak apa yang sedang dibawakannya merupakan satu satu jalan keluar.

”Apakah kau melihat bagaimana mereka dilumpuhkan?”

Sebuah kebimbangan menyergap sesaat, tapi akhirnya lelaki ini memutuskan mengambil resiko. ”Saya tidak sengaja…”

Dengan jawaban itu, maka ketiganya mengambil kesimpulan bahwa Momok Wajah Ramah yang melumpuhkan semua.

”Tuan dari perguruan mana?” tanya Kepalan Maut yang agaknya menjadi juru bicara yang lain.

Momok Wajah Ramah sadar, meeka adalah orang-orang berilmu tinggi, salah menjawab saja bisa membuat kebohongannya terbongkar. ”Saya bukan dari perguruan ternama, hanya seorang murid petani saja.” lelaki ini mengucapakan dengan menunduk, tentu saja bukan karena malu, tapi takut kebohongannya dibongkar oleh orang yang melumpuhkan pasukan perintisnya!

Murid pertani bermakna sangat luas tapi di kalangan dunia persilatan, murid petani hanya mengarah pada satu golongan khusus, dia bernama Argamas. Seorang tokoh yang disegani karena begitu mudah menempatkan diri ditiap golongan.

”Hm…” Kepalan Maut mengumam dengan kening berkerut.

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s