87 – Wingit Laksa

Momok Wajah Ramah memperhatikan jalanan dengan seksama, dia merasa bimbang apakah ini adalah waktu yang tepat untuk mengganggu orang. Mengingat banyaknya orang-orang lihay datang ke kota Pagaruyung. Perintah ketuanya dan perintah anak muda yang dia temui adalah sejalan, artinya dia tidak memiliki kesulitan apapun untuk membuat alasan kepada mereka mana kala ada kesulitan. Tapi justru karena perintahnya sama, apapun yang terjadi dia harus melakukannya. Ada satu hal yang Momok Wajah Ramah tidak tahu, dia hanya paham mengenai informasi bahwa kota Pagaruyung akan kedatangan tokoh-tokoh dari Perguruan Sampar Angin, sama sekali tidak diketahui olehnya jika Sakta Glagah, rajanya para pengguna kepalan turut hadir bersama ketiganya.

Jalanan menuju Kota Paruyung dikala terik memang sepi, kegelisahan Momok Wajah Ramah membuat dia memutuskan untuk bertindak lebih cepat. Peritis yang dimiliki Bergola sudah di identifikasi. Seluruhnya ada empat belas orang, beruntung mereka hanya mengenal tanda perintah tanpa melihat orang. Keempat belas orang itu memiliki anak buah, tapi Momok Wajah Ramah tidak memerlukan anak buah mereka untuk turut serta dalam pengepungan kali ini. Mereka memiliki tugas masing-masing yang tak kalah penting. Meski dirinya bukan orang kaya, tapi harta simpanannya cukup untuk membiayai pergerakannya kali ini, tentu saja Momok Wajah Ramah tak mungkin bertindak bodoh dengan menggunakan harta bendanya lebih dulu, mutiara yang di mintanya dari Bergola benar-benar membawa manfaat banyak!

Dengan koneksi yang luas Momok Wajah Ramah berhasil mengumpulkan orang-orang bayaran untuk melakukan berbagai tindak kerusuhan di Kota Pagaruyung. Tentu saja dia sadar, hal yang dilakukannya itu tidak boleh diketahui pemuda yang memberi tugas serupa dengan atasannya. Harus diakui, tunduk dibawah orang sangat tidak menyenangkan, tapi dirinya kali ini benar-benar harus lepas dari semua kepentingan-kepentingan orang lain. Entah itu pimpinannya, atau pemuda aneh yang menakutkan itu. Kerusuhan di dalam kota akan membuat perhatian orang agak berpaling sedikit, dia bisa melakukan hal yang harus di lakukan sejak lama, sebelum menghilang.

Pada saat itu dalam hitungan jam saja, beberapa kerusuhan yang tidak pernah terjadi di Kota Pagaruyung pun pecah. Beberapa bangunan dalam kota dijarah oleh orang-orang berkemampuan tinggi, kejadian itu malah seperti api dalam sekam. Begitu ada kerusuhan, seolah-olah gerakan yang semula ada dibawah tanah, hampir seluruhnya menyeruak, meluluh lantakkan para perusuh. Kebanyakan dari mereka justru menumpas para perusuh, termasuk anak murid dari Perguruan Naga Batu yang menjadi sendi-sendi keamanan Kota Pagaruyung. Hasilnya pun cukup memuaskan, massa perusuh yang digerakan oleh Momok Wajah Ramah ditumpas sebelum mereka menggembangkan gerakan makin besar. Hampir seluruh pendekar yang sedang ada di kota itu pun, turut menangkap para perusuh yang di datangkan Momok Wajah Ramah dari beragam perkumpulan.

Momok Wajah Ramah jelas mengikuti perkembangan itu, dia sadar hasil dari pemeriksaan para perusuh akan menyeret pihak tertentu, yang jelas dia akan dengan senang hati menikmati hasilnya. Kali ini, tiap orang sedang bersiaga dengan serangan susulan yang boleh jadi akan segera datang. Dan tentu saja Momok Wajah Ramah akan mendatangkan serangan bergelombang. Mutiara yang didapat dari Bergola mampu mendatangkan lebih dari lima ratus orang perusuh dengan beragam tingkat kemahiran.

Momok Wajah Ramah nyaris lepas kendali atas aksinya kali ini, ketakutan yang melingkupi hatinya membuat dia membabi buta dalam bertindak. Tapi, orang ini memang bisa menggunakan akal dengan sebaik-baiknya, dia tetap melakukan tugas yang dibebankan oleh sang atasan—juga Jaka, sebagai jalan keluar. Apa yang dilakukannya kali ini adalah sebagai hak jawabnya, seandainya ada dari mereka mencium apa yang tengah dilakukannya dia bisa berkelit bahwa dirinya tak terlibat karena berkonsentrasi mengganggu tiga orang dari Perguruan Sampar Angin.

”Kau yakin dengan rencanamu ini?” tanya seorang pemuda berusia akhir duapuluhan pada Momok Wajah Ramah.

”Aku yakin ini berhasil, siapapun yang terlibat akan memusingkan kondisi terakhir sebelum mereka mulai mencari siapa yang mendalangi semua ini.” Tutur Momok Wajah Ramah menjelaskan.

Pemuda itu mengangguk-angguk. ”Tapi kau bertindak terlalu jauh, apa kau belum mendengar jika di perguruanku datang serangan bergelombang?”

”Apakah itu penting?” tanya orang ini dengan kening berkerut.

”Ya, sangat penting. Sebab orang-orang yang datang keperguruanku bukanlah tokoh-tokoh kemarin sore! Kau harus waspada dengan mereka yang mungkin saja akan mendatangimu.” desis anak muda itu mengingatkan.

Momok Wajah Ramah tersenyum, ”Aku cukup paham dimana aku harus menempatkan diri, jadi aku tidak pernah mengkawatirkan apa yang terjadi di perguruanmu berimbas padaku.”

”Tapi, kau harus camkan benar-benar, bahwa kejadian itu tak boleh kau abaikan…”

”Aku tidak perduli dengan perguruanmu!” jawab Momok Wajah Ramah dengan datar, membuat kening pemuda itu berkerut, nampak selapis hawa  amarah di tahan olehnya. ”Saat ini kita bekerja sama demi kepentingan masing-masing! Jadi aku akan melakukan apapun yang kupandang perlu!”

”Aku hanya datang memperingatkan dirimu, jika kau bertindak terlalu jauh, hingga mengganggu urusan yang sudah di tetapkan dari jauh-jauh hari, percayalah, akan datang padamu saat yang tepat…”

”Kau mengancamku Wingit Laksa?” potong Momok Wajah Ramah dengan wajah mengeras.

”Terserah padamu, kau artikan ucapanku sebagai apa. Kau tahu aku bisa lakukan apa saja, seperti yang kau bilang, kita bekerja sama atas kepentingan masing-masing. Tapi jika tindakanmu terlalu jauh, meskipun itu tak membawa kemanfaatan apapun bagiku. Aku bersumpah, akulah yang pertama kali akan memburumu!”

”Kau bisa mengatakan apapun…” begitu kalimat ’apapun’ mengambang, tangan Momok Wajah Ramah sudah melesat menyambitkan senjata rahasia mengarah kepala pemuda itu.

Wajah Wingit Laksa berubah, dia benar-benar lupa dengan siapa dia sedang berbicara. Momok Wajah Ramah adalah lelaki yang dalam kondisi apapun bisa melakukan serangan mendadak dan mematikan. Dengan gerakan cepat dia mengelak menundukkan kepala, di detik yang sama pemuda ini mencabut senjata dan menyambitkan kedepan. Gerakannya sangat cepat, tidak kalah cepat dengan gerakan Momok Wajah Ramah.

”Akh!” beberapa jeritan terdengar dibelakang Wingit Laksa, pemuda ini tidak berani menoleh sebelum dia melihat kondisi Momok Wajah Ramah, dia tidak berharap lawannya terluka dengan serangan yang terburu-buru tadi, dirinya sangat paham dengan kelihayan Momok Wajah Ramah  yang jarang di ketahui orang. Dan benar saja! Senjata yang dilemparkannya nampak di genggang dengan enteng oleh lawannya.

”Kau masih berguna bagiku, maka tidak ada untungnya aku harus turun tangan terhadapmu. Tapi kau terlalu ceroboh dengan membawa pengikut, mereka tidak ada kepentingan denganku!” desis Momok Wajah Ramah dengan dingin, dilemparkannya kembali pedang pemuda itu. Ternyata serangan tadi bukan dimaksudkan untuk menyerang pemuda itu, tapi orang-orang yang mengikutinya.

Dengan cekatan Wingit Laksa menerima kembali senjatanya, selanjutnya dengan hati-hati pemuda ini menoleh. Dia bisa melihat beberapa rumpun semak nampak merunduk lebih rendah, seolah-olah tertimpa sesuatu, samar-samar dia bisa melihat beberapa tubuh rebah.

”Kau terlalu menggampangkan nyawa orang!” desis Wingit Laksa dengan kemarahan mengguncang dada, bagaimanapun orang yang dibawanya memang dimaksudkan untuk mengikuti segala macam aktivitas Momok Wajah Ramah, sungguh tak disangka, lelaki itu mengetahui apa yang dilakukannya.

”Sama-sama!” tukas Momok Wajah Ramah. ”Kau kira yang kau lakukan tidak menggampangkan nyawa orang? Pergilah! Aku sedang sibuk dengan pekerjaanku. Kau lakukan saja tugasmu!”

Dengan menggertakkan gigi Wingit Laksa mundur perlahan, begitu sudah mencapai jarak aman, pemuda ini berbalik dan melesat pergi. Memandang kepergian pemuda itu Momok Wajah Ramah menghela nafas lega. Dihadapan pemuda itu, dirinya harus bersandiwara bahwa dia sangat menganggap remeh Wingit Laksa, padahal dia tahu pemuda itu memiliki kemahiran yang jarang bisa ditandingi anak muda seusianya.

”Tapi, apakah Wingit Laksa bisa menghadapi pemuda itu?” pikirnya saat mengingat Jaka, dia belum tahu sampai dimana kemahiran Jaka, tapi dari caranya mengelak dan membandingkan dengan kemahiran Wingit Laksa, menurutnya mereka sebanding.

Momok Wajah Ramah bersiul menirukan suara burung, dari kejauhan terdengar siulan serupa. Persiapannya sudah selesai, sehebat apapun tiga orang yang akan dihadangnya, menghadapi pembunuh gelap yang menjadi perintis Bergola, dirinya sangat yakin, bukan saja mampu menganggu, bahkan membunuh ketiganya.

”Jika aku bisa memberangus siapa-siapa yang kuinginkan, untuk apa pula aku harus menyesuaikan diri dengan perintah orang lain?” pikirnya dengan keberanian mulai timbul. Untuk mengadapi Wingit Laksa, dia sanggup, tapi jika harus beradu kelicikan dengan pimpinannya dan pemuda yang mempecundanginya, dia belum sanggup. Selain pengetahuannya tentang mereka sangat sedikit, dia juga tak berani ambil resiko. Hanya saja kehadiran pasukan perintis itu membuat dia makin percaya diri.

Bergola mengira dirinya cukup cerdik, dia mengandalkan uang untuk mengikat kesetiaan pasukan perintis. Tak tahunya begitu mereka berada di bawah pimpinannya, beberapa pimpinan perintis menyatakan kesetiaan padanya, tentu saja itu bukan tanpa sebab. Jika kau mampu menggengam kelemahan setiap orang dan mempergunakannya, hanya menunggu waktu saja kau akan mendapatkan pengabdiannya. Momok Wajah Ramah memang mampu menyelami keinginan para pimpinan perintis, dengan janji dan ancaman yang halus, dia mampu meyakinkan mereka, bahkan dirinya memperlakukan mereka dengan lebih layak—satu hal yang jarang di lakukan olehnya, sebab Momok Wajah Ramah tahu, sedingin apapun perasaan orang, apalagi dia berprofesi sebagai pembunuh bayaran, jika orang itu diberi perhatian terus menerus, kebekuan hatinya akan cair.

Itu pula yang dilakukan Momok Wajah Ramah, dia memastikan orang-orang itu untuk mengikuti dirinya, karena banyak keuntungan yang di dapat, selain tentu saja dengan ancaman terselubung. Tapi dirinya tak akan mungkin disebut sebagai Momok Wajah Ramah, jika dia tidak membuat orang-orang itu keracunan tanpa mereka sadari, sebuah racun bekerja lambat yang dia dapatkan dari gurunya, sudah digunakan sebagai jalan terakhir ancamannya.

Sesosok bayangan mendekati tempat persembunyiannya, Momok Wajah Ramah memperhatikan dan memberi isyarat. Orang itu mendekat.

”Ada kereta berkuda yang dikawal oleh tiga orang.” lapornya.

”Seperti apa cirinya?” tanya Momok Wajah Ramah ingin kepastian.

”Seorang berbadan tegap, kemudian yang lain berkepala polos, dan terakhir memiliki wajah sangat tirus. Kupikir itu orang yang kau tunggu.”

Momok Wajah Ramah mengangguk-angguk. ”Benar itulah mereka! Apakah mereka menunggang kuda?”

”Tidak, mereka berjalan mengiringi kereta yang berjalan perlahan.”

”Hm, kurasa mereka membawa sesuatu.”

”Mengiring sesuatu, kupikir mereka mengawal barang atau orang.” ralat orang yang memberi laporan pada Momok Wajah Ramah.

”Apakah kau melihat langkah kuda agak tersendat?” tanya Momok Wajah Ramah meminta kepastian.

Orang itu mengingat sejenak. ”Kuda-kuda itu nampak ringan menarik beban.”

”Berarti yang dibawanya bukan barang, tapi orang.” Ujar Momok Wajah Ramah berkesimpulan.

Orang itupun mengangguk-angguk. ”Apa yang akan kita lakukan pada mereka?”

”Jika kalian sanggup, bunuh saja! Aku akan urus apa yang mereka bawa…” desis Momok Wajah Ramah dengan wajah penuh senyuman.

”Baik!” seru orang itu.

”Kalian bersiaplah! Aku tidak tahu sampai dimana kemahiran mereka bertiga, tapi mengingat betapa masyur namanya, kalian harus hati-hati!”

Orang itu mengiyakan, dengan mengundurkan diri perlahan seperti fatamorgana yang kabur ditiup angin dingin, bayangan orang itu lenyap dari hadapan Momok Wajah Ramah.

Dari kejauhan derap suara kereta sudah terdengar, Momok Wajah Ramah sudah bersiap-siap di persembunyiannya, seluruh senjata rahasia dipersiapkan di tempat yang mudah dijangkau. Dengan mata menyipit lelaki ini mengerutkan kening, dia sudah melihat kereta kuda itu berjalan perlahan, tapi tiga orang yang dilaporkan pasukan perintisnya, tidak terlihat sama sekali.

”Apa dia salah lihat?” pikirnya gundah, sebagai orang yang selalu waspada dan mudah curiga, situasi seperti itu—tiadanya para pengiring kereta membuat Momok Wajah Ramah sangat berperasangka bahwa mereka sudah berjalan lebih dahulu. ”Tapi itu tidak mungkin,” dia membantah pikirannya sendiri. ”Ini adalah jalan satu-satunya, jika mereka mendahului, tak mungkin kami tidak melihat gerakan mereka!”

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s