86 – ‘Peralatan Masak’ Gelombang Pertama

Sebuah penginapan yang sepi pengunjung nampak asri, dari tujuh belas kamar yang tersedia, hanya dua yang terisi, lokasi yang jauh dari keramaian seakan disengaja oleh pemiliknya. Salah satu tamunya nampak duduk dipojok pekarangan belakang, dengan mencangkung kaki di kursi goyangnya, lelaki dengan uban menghias kepala menyedot tembakau dalam-dalam. Dihadapan lelaki menjelang separuh abad itu ada seseorang yang tengah tertunduk.

“Jadi, kau terpaksa menyerahkan pasukanmu padanya?” ujar lelaki itu dengan menghembuskan asap kuat-kuat.

“Benar paman… sebenarnya bisa saja saya menolaknya, tapi dia memiliki lencana perintah. Jika kutolak, engkau tahu sendiri akibat yang kuterima.”

Lelaki itu mengangguk-angguk. “Tapi, aku tidak pernah menyangka kau bertindak terlalu bodoh…” desisnya dengan tatapan mata berkilat, seolah ada secercah hawa dingin menyambar lelaki itu, membuatnya tertunduk kian dalam.

“Mo..mohon petunjuknya paman…” ujarnya dengan suara menggeletar, manakala nada lelaki di hadapannya berubah, mengartikan suasana hati yang berubah pula, jika sudah demikian, orang itu bisa menjelma menjadi orang paling kejam.

Ya, lelaki yang menunduk itu adalah Bergola. Ketidakpuasannya terhadap Momok Wajah Ramah membuat dirinya harus menyambangi seorang kerabat jauh dari ayahnya. Dia tidak tahu mereka berkerabat macam apa, tapi ayahnya mengenalkan bahwa orang itu masih pamannya. Sejauh ini Bergola tidak tahu dari mana datangnya sang paman. Pernah sekali dia menganggap remeh lelaki dihadapannya itu dengan mengirimkan seorang anak buah untuk memata-matai, tapi tak sampai setengah hari, muncul kurir menyerahkan barang hantaran yang membuatnya mual hampir satu minggu.

Bagamana tidak, barang hantaran itu ternyata belanjaan ayahnya, yang ditempatkan dalam dua belas bagian peti, tapi pada masing-masing peti terdapat dua belas bagian anggota tubuh manusia terbungkus rapi tanpa darah, yang dapat dia kenali sebagai anak buahnya! Sejak saat itu Bergola tidak mau menyinggung sang paman, bahkan dia tak ingin berhubungan. Tapi kondisi yang membuatnya buntu, mau tak mau menghantar langkahnya menemui lelaki itu.

”Kau mengira, disini hanya dirimu sendiri yang bermain?” tanya lelaki itu dengan nada tajam.

Bergola tentu saja tidak terlalu bodoh untuk menjawab itu, namun dia belum sanggup memastikannya, adalah pertanyaan itu yang cukup berat baginya. ”Saya rasa… tidak demikian, ta-tapi jika paman beratnya kenapa bisa kujawab begitu, sayapun tidak tahu..”

Lelaki itu menatap kedepan, dengan menghela nafas dalam-dalam dia berujar. ”Dibandingkan Wingit Laksa, kau masih terlalu bodoh…”

Bergola makin tertunduk mendengar ucapan itu, dalam hati dia sangat terkejut mengetahui sang paman mengetahui hubungan dirinya dengan Wingit Laksa, bahkan ayahnya sendiri juga tidak tahu!

”Wingit Laksa dapat melakukan segala sesuatunya dengan sabar dan sedikit demi sedikit. Anak itu sadar, bahwa cita-cita besar memerlukan tenaga, waktu dan kesabaran. Usahanya sejauh ini sangat bisa kumengerti. Tapi kau…” lelaki itu menggeleng. ”Kau memainkan peranan yang tidak terlalu baik, kurang cerdas! Kau berupaya mengaduk kota ini dengan mengusik sesepuh kota. Pernahkah terpikir olehmu, selemah-lemahnya sesepuh kota, dia memiliki hubungan seperti apa dengan banyak kalangan? Dengan pemerintahan? Itu yang pertama! Syukurlah kau cukup pintar membaca situasi dengan tidak jadi mendatangi Kuil Ireng pada beberapa malam lalu…”

Bergola makin tertunduk.

”Jika saja kau mendatangi Kuil Ireng, maka permainanmu tidak akan pernah berlanjut!” tegas lelaki itu.

”Apa yang terjadi disana? Ketua memang mengatakan pada saya, ada banyak perubahan…” tanya Bergola.

”Aku tidak tahu.” sahut lelaki ini singkat. Dia tak mungkin memberitahu pada Bergola, betapa pada waktu itu, dirinya tidak memiliki keberanian memasuki wilayah itu. Sebagai seorang yang terlatih dalam urusan membunuh, perasaannya sangat tajam dalam mencium keadaan sekitarnya. Waktu itu dia merasakan hawa yang sangat berat menekan hatinya, seolah-olah menggayuti kehendaknya untuk menjauh dari tempat itu, kala itu kebimbangan sempat mengambang lama di benaknya, namun setelah menimbang berdasarkan kepentingan yang lain, akhirnya dia menghilang dari sana. Pagi hari setelahnya, dia bersama kawannya kembali datang ke Kuil Ireng, tidak ada orang disana, tapi dari kawan yang bisa melacak jejak, memberitahu padanya, bahwa; orang-orang yang berdiam di Kuil Ireng sehari berselang adalah para tokoh yang tak pernah terpikirkan akan ada di sebuah tempat dalam waktu bersamaan! Itupula yang membuat dirinya makin hati-hati di kota itu. Saat ini Kota Pagaruyung seolah menjadi sarang naga dan harimau.

”Momok Wajah Ramah lelaki yang cukup berbahaya, sejauh ini dia bisa bekerja sama denganmu karena dia mengharapkan manfaat darimu, pada saatnya kau dipandang tidak lebih baik dari sampah, usiamu pun tinggal menghitung hari.”

”Aku tidak takut dengan orang itu!” seru Bergola dengan jantung berdetak lebih kencang, kemarahan seolah sudah membakar hatinya jika mengingat Momok Wajah Ramah.

”Kau pernah mengukur kelihayan rekanmu?” tanya lelaki beruban itu.

Bergola menggeleng. ”Tapi aku tidak takut!” katanya lagi.

Lelaki itu mendesis, ”Kau memang tolol! Tidak takut, dengan bertindak cerdik itu sangat berbeda. Aku pernah melihat Momok Wajah Ramah membunuh orang saat dia sedang tertawa, bahkan pada saat dia berbincang… kelihayannya yang utama kau sudah tahu, kelicikannya! Kewaspadaanmu sangat buruk, dia sewaktu-waktu bisa membunuhmu, maka itulah… pergunakan sikapnya sendiri saat kau bertemu dengannya!”

”Aku harus membunuh orang itu?” kata Bergola dengan nada ragu.

”Benar!”

”Ta-tapi, bagaimana dengan ketua nanti?”

Lelaki itu tersenyum sesaat. ”Pimpinanmu saat ini dipusingkan dengan banyak hal, kehilangan Momok Wajah Ramah tidak akan membuatnya berat hati! Kau pikirkan bagaimana caranya kau membuat situasi yang mendukung alasan bagimu untuk membunuhnya!”

Bergola mengangguk-angguk. ”Bi-bisakah paman membantuku?” pintanya dengan ragu.

Lelaki itu menatap Bergola sesaat. ”Bukankah kau memiliki pasukan sendiri? Kenapa itu tidak kau gunakan untuk menyerang?”

Bergola tertunduk. ”Saya tidak yakin untuk menggunakannya paman, bukan karena saya menyangsikan keberhasilannya, mengingat tugas terakhir Momok Wajah Ramah justru untuk mengganggu tokoh-tokoh yang sedang berkunjung kesini. Saya kawatir, rentetan dari pristiwa itu akan merambat pada Wingit Laksa, cepat atau lambat itu pasti akan bermuara kesana.”

Lelaki itu menatap Bergola sejenak. ”Baiklah, aku akan membantumu! Kecintaanmu pada Wingit Laksa membuatku tergerak…”

”Terima kasih paman.” kata Bergola dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Dia meminta diri pada sang paman, dengan tergesa Bergola menaiki kudanya dan menghelanya cepat-cepat.

Lelaki ini kembali menghisap tembakaunya dalam-dalam, tiba-tiba dari sudut matanya dia melihat orang bergerak didalam ruangan, jarinya sudah menegang, sebuah jarum sudah ada diantara jari telunjuk dan jari tengah, dia perhatikan sesaat orang itu dengan seksama, akhirnya niat untuk membungkam orang yang disangka mencuri pembicaraan, di urungkan. Ternyata bayangan dalam ruangan tadi adalah pelayan penginapan, dia lelaki sepantaran dirinya dengan kaki timpang. Dengan membawa nampan air dan beberapa rebusan ubi, pelayan timpang itu menghampiri dirinya.

”Silahkan tuan….” katanya sambil meletakkan makanan di meja sebelahnya.

”Hm…” gumam lelaki beruban itu mengiyakan, tiba-tiba matanya membeliak saat melihat tatakan gelasnya ada secarik kertas.

”Tunggu!” serunya.

Pelayan itu berhenti dan membalikan badannya, ”Ada yang kurang tuan?”

”Darimana datangnya barang ini?” ujarnya sambil menunjuk secarik kertas yang dilipat rapi menjadi tatakan gelasnya. Pelayan itu nampak heran, dengan langkah pincang dia menghampiri kembali.

”Ah…” desahnya. ”saya tidak tahu tuan, saya sendiri yang menyiapkan air ini. Bagaimana mungkin ada benda lain?” ujarnya dengan wajah bingung.

Lelaki itu ragu-ragu mengambil gelasnya. ”Kau buka kertas itu.” perintahnya pada pelayan timpang itu.

Dengan ragu-ragu, pelayan itu mengangkat gelas dan memindahkan kesamping, lalu dia mengambil kertas itu. ”Dibuka?”

Lelaki beruban itu mengangguk, punggungnya tak lagi menempel pada kursi goyangnya. Dengan penuh perhatian dia mengawasi pelayan timpang itu membuka lipatan kertas yang dibuka perlahan.

”Kosong…” gumam pelayan itu sambil menyerahkan kertas itu pada lelaki beruban. Namun dirinya tak lekas menerima kertas kosong itu.

”Buang saja!” perintahnya. Mungkin aku terlalu curiga, pikirnya. Sebagai orang yang berkecimpung dengan kalangan hitam, kewaspadaan selalu menjadi bagian dari dirinya, tak pernah sekalipun dia mengendorkan perhatian, seolah-olah dirinya adalah anak panah yang siap lepas dari busur, kapan saja. Dengan perlahan lelaki beruban itu menghempaskan punggungnya ke kursi goyang itu.

Mendadak wajahnya berubah sangat buruk, wajahnya yang beroman datar seolah tanpa perasaan, tiba-tiba menggambarkan perasaan terkejut, marah dan takut. Pelayan berkaki timpang itu memperhatikan paras orang dihadapannya dengan heran.

”Kau lihat sesuatu dibelakangku?” tanya lelaki beruban dengan suara tegang.

”Tidak… tidak ada siapapun tuan..” sahut pelayan berkaki timpang itu terheran-heran.

Tiba-tiba saja lelaki beruban itu bergerak, sungguh pesat gerakannya, tangannya bagai ular yang mendadak membelit pergelangan tangan pelayan berkaki timpang. Seperti menghadapi impian buruk saja, pelayan itu menyeringai kesakitan karena pergelangan tangnnya seolah retak dalam cengkraman tamu itu.

”Tu..tuan?” rintihnya dengan pandangan tak mengerti.

Lelaki beruban itu menatap si pelayan dengan seksama, perlahan-lahan dia mengendorkan cengkeramannya, tapi belum sama sekali dilepas. Biasanya dia tidak pernah ragu dalam membunuh, lebih baik salah membunuh seratus orang dari pada melepaskan orang yang akan menjadi beban pikirannya.

”Pergilah…” ucapanya memang sederhana, dengan melepas pergelangan tangan pelayan timpang itu, dirinya mengibas perlahan. Sebuah jarum melesat sangat cepat, menghunjam dada pelayan itu.

”Uh…” pelayan itu hanya merasakan sebuah sengatan kecil, lalu dengan menyeringai kesakitan dia mundur-mundur, baru beberapa langkah tiba-tiba tubuhnya terjengkang jatuh dengan wajah berkerut kesakitan. Matanya membeliak dengan tubuh menggeliat-geliat beberapa saat, lalu diam.

Lelaki beruban itu memperhatikan pelayan timpang itu dengan tatapan mata dingin. Dia tidak perlu memeriksa pelayan itu, karena racun dalam jarumnya bahkan bisa membunuh kerbau dalam sepuluh hitungan saja. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa, dia kembali duduk, tapi teringat tadi waktu punggungnya menyentuh kursi goyang ada hawa dingin menerobos syaraf di pungunggnya, seolah ada sebatang pedang ditodongkan padanya, dengan seksama diperiksa sandaran kursi itu. Tidak ada apa-apa, tapi ekor matanya menangkap ada perubahan didalam kertas yang tergeletak di lantai, bukankah tadi kertas itu kosong,  tapi ternyata sekarang ada beberapa baris tulisan!

’Diamlah, jangan berulah jika masih sayang nyawamu!’

Wajah lelaki beruban itu berubah sangat jelek, apalagi saat dia menyadari mayat pelayan pincang itu sudah tidak ada lagi.

”Kemana mayatnya?” desisnya dengan kewaspadaan meninggi. Dia sempat membelakangi mayat pelayan itu untuk memeriksa sandaran kursi, tidak lama.. paling banyak dua puluh hitungan, tapi dalam jangka waktu sesingkat itu, mengapa ada tulisan yang muncul di kertas kosong dan mayat si pelayan timpang pun menghilang?

Dengan terburu-buru, lelaki beruban itu memburu kedalam penginapan. Tiba-tiba matanya membeliak. Dia melihat pelayan pincang itu sedang menyapu lantai.

”Apakah ada yang kurang dengan air minumnya tuan?”

Mulut lelaki beruban itu seolah terkunci rapat, betapapun dirinya seorang yang sangat berpengalaman, tapi menghadapi kejadian yang baru saja dia alami, dirinya benar-benar mati akal.

”Mampuslah!” desisnya dengan kaki menjejak lebih dalam, dan tubuhnya dengan sangat pesat menabrak pelayan timpang itu! Bukan sembarang tubrukan, sebab pada bagian depan pakaian lelaki ini sudah terpasang jarum bulu kerbau! Jarum beracun!

Brak! Tubuh pelayan pincang itu ditubruk dengan sangat mudah, dia tak sempat mengeluarkan pekik kesakitan atau apapun, menerima serangan mendadak seperti itu. Tubuhnya terlempar ke pintu keluar disisi lain!

Tak mau kecolongan seperti tadi, lelaki beruban itu memburu keluar, dan lagi-lagi matanya membeliak. Dia tidak melihat tubuh pelayan timpang itu!

”Apakah air teh tadi kurang gula?” mendadak dari dalam ruangan bergema suara yang membikin keringat dingin menitik di kening lelaki beruban itu, dia percaya itu suara pelayan berkaki timpang tadi.

”Siapa kau sebenarnya?!” bentak lelaki beruban ini dengan perasaan tak karuan, dia masih saja melihat pelayan itu menyapu dengan lambat-lambat, seolah-olah serangannya tadi tidak pernah ada.

Pelayan itu menatap lelaki beruban dengan tatapan bingung. ”Saya pelayan disini tuan, bukankah sejak awal tuan masuk kemari sudah mengetahuinya?”

”Tingkah pura-puramu, membuatku muak!” geram lelaki beruban itu dengan tangan menggeletar. Belum pernah seumur hidupnya dia dipermainkan seperti ini.

”Saya berpura-pura?” pelayan itu melegak dengan wajah makin heran. ”Kau aneh tuan, sejak dua puluh tahun lalu saya memang menjadi pelayan, kenapa harus berpura-pura?”

Gigi lelaki beruban itu berderak, dia tak lagi memaki, dirinya sadar sedang berhadapan dengan orang berkemampuan sangat tinggi, adalah sebuah kesia-siaan dia harus memaksakan diri untuk mengetahui kepura-puraan yang sudah terang benderang itu. Meskipun dia tahu, pelayan itu hanya berlagak, tapi jika si pelayan selalu menyangkal, dan dirinya juga tak bisa memaksa, bukankah artinya dia harus menerima alasan pelayan itu?

Kepalan tangannya makin mengencang, berikutnya sebuah pukulan yang menerbitkan angin berhawa sangat panas menerpa dada pelayan itu. Kejadian itu hanya dalam kejapan mata saja, lelaki beruban itupun mendengar suara berderak seolah patah terhempas pukulan jarak jauh lelaki beruban ini. Tidak menanti tubuh pelayan itu jatuh menyentuh lantai, lelaki beruban ini melepaskan kembali pukulan jarak jauhnya berkali-kali. Terdengar suara bak-buk berkali kali menerpa tubuh si pelayan timpang itu sebelum dia jatuh terpental keluar dan terhempas ketanah. Lelaki beruban ini sudah gelap mata, meskipun pelayan itu sudah bergulingan dan terdiam, dengan kejam lelaki beruban ini mengeluarkan golok dari sarungnya.

Singg! Suara berdenging saat golok terlepas dari sarungnya masih menggantung diudara, tapi bacokan dengan tenaga sangat kuat sudah datang membelah tubuh pelayan timpang itu.

Crak! Bacokan itu benar-benar mengenai pinggang pelayan timpang itu! Tapi lelaki beruban inipun harus membelalakan mata lagi, ternyata dia hanya membacok tanah! Dalam pandangan matanya tadi, dia berhasil menebas pinggang si pelayan timpang, bahkan memenggalnya! Tapi kenapa dikejap berikutnya apa yang disaksikan itu hanya tanah?  Dengan mengerjapkan mata berulang kali, lelaki ini mengedarkan pandangannya, tiba-tiba keringat dingin keluar tanpa bisa dia cegah lagi. Dari ujung kakinya dia bisa merasakan hawa dingin yang pelan-pelan merambat ke jemarinya. Tangannya mengeletar hebat. Dirinya merasa ingin kencing, tapi ditahannya. Dia tahu benar, apa yang di saksikan itu telah menerbitkan rasa takutnya… seumur hidup, baru kali ini dia merasakan ketakutan luar biasa!

Seorang pelayan timpang dengan wajah yang sama, baju yang sama sedang menyapu lantai ruangan. Pelayan itu menyampanya dengan suara yang khas, ”Ada lagi yang tuan inginkan?”

Lelaki beruban itu seolah berada dalam impian yang menakutkan, jika ini adalah mimpi buruk, dia ingin selekasnya bangun. Tapi berkali-kali dia mencubit lengannya untuk memastikan bahwa dirinya tak sedang tertidur, membuatnya makin ketakutan. Langkah timpang si pelayan yang mendekati dirinya membuatnya mundur dan terus mundur… sampai dia sadar kakinya sudah menyentuh kursi goyang yang tadi dipakainya.

Tanpa sadar, pantatnya terhempas kedalam kursi dan punggungnya menyender dengar perasaan sangat tegang. Pelayan itu berdiri dihadapnnya.

”Tuan, harus memakan ubi ini…” kata pelayan itu dengan suara tetap menghormat, sikap selayaknya seorang pelayan.

Lelaki beruban ini merasa mulutnya kelu, ”I-iya…” jawabnya dengan serak, padahal sikap atau mata pelayan itu tak memancarkan ancaman, tapi kejadian yang aneh dan bertubi-tubi sudah meruntuhkan nalarnya.

”Silahkan…” kata pelayan timpang itu mengingatkan dirinya untuk menyantap ubi rebusnya.

Seolah tangannya digayuti timah, lelaki beruban itu menjamah sepotong ubi rebus, ternyata masih hangat. Rasa hangat itu kembali menyentakkan kesadaran dirinya bahwa apa yang dia alami benar-benar nyata. Ternyata kejadaian tadi begitu cepat, dirinya dipermainkan oleh seseorang yang tidak dapat diukur keliahayannya. Jika saja pelayan timpang itu mau bersungguh-sungguh menyerang, mungkin masih ada kebanggaan dalam dirinya—meskpiun nanti kalah, tapi sekarang ada bedanya… bedanya harga dirinya runtuh total. Tidak ada lagi kebanggaan dihati saat menyebut dirinya sebagai Pembunuh Bayangan.

Sebuah deheman dari dalam ruangan membuat pelayan itu menyisihkan diri, dia berdiri disebelah lelaki beruban yang sedang mengunyah ubi dengan persaan sangat berat.

Seorang lelaki dengan perawakan sedang datang mendekat, wajah lelaki itu biasa saja, tidak mencerminkan apapun, wajah yang sangat umum, kau bisa menemukan wajah dua-tiga orang dengan wajah seperti itu, dipasar. Lelaki beruban ini sudah tidak memiliki tenaga lagi, dia merasa kakinya lemas karena dicekam ketakutan luar biasa. Kali ini dia melihat dengan perasaan lebih jernih bahwa, orang yang mendatangi merekapun bukan sembarangan.

”Sudah saatnya, kau melaksanakan tugas.” kata pendatang itu kepada pelayan berkaki timpang. Diapun menyerahkan beberapa lembar daun lontar.

”Baik tuan,” sahut pelayan kaki timpang menganggukan kepala sambil menerima kertas dari lontar itu. Dalam sekejap pelayan itu membaca dan menggumam berkali-kali. ”Menarik sekali….” katanya sambil menggenggam daun lontar itu, genggamannya seolah mengeluarkan hawa menyengat, namun hanya sesaat saja, daun lontar itupun terurai dalam bentuk yang sangat halus.

”Benar, memang sangat menarik!” sahut pendatang itu dengan tersenyum. ”Kali ini kujamin kau tak akan kecewa.”

”Seumur hidup melayani, itu memang tugasku. Tapi, akupun akan melihat lebih dulu apakah orang itu layak kulayani.” jawab pelayan berkaki timpang itu berjalan tertatih masuk keruangan penginapan.

Si pendatang itu menatap punggung pelayan timpang dengan tatapan mata kagum. ”Kau memang orang yang tak mudah di selami.” lalu dengan tatapan mata sebagaimana pelayan timpang, si pendatang itu berkata pada lelaki beruban. ”aku yakin kau tidak akan kemana-mana, benar?”

Lelaki beruban itu menatap sesaat lalu mengangguk, dengan terbata-bata dia berkata. ”Ya..ya, agaknya aku sudah terlalu tua untuk keluar…”

”Bagus, jika kau mengerti. Tetaplah disini!” katanya tegas, dengan langkah sebagaimana dia datang tadi, lelaki itupun sudah lenyap dari hadapan Pembunuh Bayangan.

Rentetan kejadian tadi bagai sebuah impian buruk, disadari tenggorokannya terasa sangat kering, meneguk air teh yang di sediakan pelayan timpang itu, barulah rasa kering di kerongkongannya sirna. ”Siapa orang-orang itu?” pikirnya dengan gundah, dia sudah tidak memikirkan janjinya pada Bergola lagi. Sebab saat ini dia sadar, dirinya sudah menjadi ’tahanan’ orang-orang aneh itu. Sebagai orang yang sarat dengan beragam pengalaman, melarikan diri dari orang-orang semacam itu hanya akan menyiksa batinnya dengan ketakutan yang lebih besar lagi.

Satu-satunya jalan menghindar hal itu hanya mengikuti apa kata mereka. ”Aku memang sudah tua… benar-benar tua.” gumamnya. Masih dengan perasaan berat, lelaki beruban itu menggoyangkan kursinya dengan perlahan.

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s