85 – Mengguncang Gua Batu

”Siapa disana?!” terdengar suara membentak dari dalam. Dan suara langkah mereka terdengar kian cepat.

Baru kali ini Hastin merasa sangat cemas karena ketakutan, tentu saja dia bukan ketakutan karena kawatir menghadapi musuh, tidak sama sekali! Dia kawatir tugas yang dibebankan Jaka padanya untuk yang pertama kali justru gagal! Kebiasaannya yang makin hantam lebih dulu benar-benar membuatnya serba kikuk jika harus main sembunyi seperti ini.

Untunglah Cambuk cepat tanggap, dengan sigap dia turun dan berjalan memapaki orang-orang yang akan mendatangi tempat itu. Dengan gerakan sangat cepat, Cambuk menutupkan sehelai kain dan mengikatnya dengan simpul bak blangkon, tapi di pancangkan di samping kiri kepalnya, rumbai ujung kain dibiarkan terjuntai panjang, entah apa maksudnya melakukan itu…

Tampak dua orang sudah berada di hadapan Cambuk, sementara Hastin tetap diam mendekam mencengkeram langit-langit dengan perasaan tegang, tangannya sangat gatal untuk memukul orang! Kedua orang itu melihat Cambuk, mereka tampak membawa sebuah benda yang berkilauan, sebangsa mutiara air laut yang sudah bercampur fosfor, cahayanya yang redup malah sangat menguntungkan Cambuk.

”Siapa kau?!” bentak keduanya dengan siaga, tapi nampaknya keduanya juga ragu-ragu melihat bayangan didepannya.

Keraguan sikap itu tertangkap jelas oleh Cambuk, dengan suara yang dingin dan terkesan sadis, Cambuk membentak. ”Terkutuk kalian, tidak mengenali aku!”

Keduanya tampak menggeregap, ”Ap-apakah tu.. tuan..”

”Keparat! Berani kau sebut namaku?!” bentak Cambuk dengan suara mendesis. ”Kalian pingin kupenggal?”

”Oh.. ternyata.. tu-tuan…” kata salah satunya dengan tergagap-gagap. ”Apakah tuan hendak memeriksa?”

Cambuk mendengus. ”Tadinya aku ingin.. tapi aku tadi sudah berjumpa dengan mereka!”

”Oh.. y-ya, mereka memang membawa tugas dari Gusti…” Kata salah seorang dengan tanggap, karena yang keluar dari pintu itu memang baru kelima orang itu.

Dengan mengumam tidak jelas—seolah sedang marah-marah Cambuk, segera menepi masih dengan lagak yang angkuh dan tangan bersedekap. Nampaknya tanda itu cukup memberi tahu keduanya untuk mengantar ’si tuan’ yang mereka kenal sebagai orang yang bengis dan mudah marah. Keduanya dengan badan terbungkuk-bungkuk lewat di samping Cambuk, nampak keduanya saling mengaitkan seutas rantai di kanan dan kiri dinding gua. Lalu dengan bersamaan pula keduanya menarik tuas kebelakang. Lalu terdengar suara bergemersik lembut, nampak pintu geser tadi mulai terbuka.

”Enyah kalian!” usir Cambuk dengan suara bengis.

”Ba-baik tuan…” keduanya seperti memperoleh pengampunan segera bergegas pergi, begitu punggung mereka berbalik, Hastin dengan cekatan turun dan menyelinap secepat kilat, gerakannya yang menimbulkan kesiuran angin membuat kedua pengawal itu menoleh. Tapi mereka melihat Cambuk nampak sedang mengibas tangan, seolah angin itu keluar dari tangannya

”Tuan.. itu sungguh garang… tidak ada masalah besar saja harus menghamburkan tenaga seperti itu…” desis salah seorang pada kawannya. Tentu saja Cambuk mendengar kalimat itu. Dengan mendengus keras, suaranya cukup membuat kedua orang yang hendak menyatroni mereka segera berjalan cepat menghilang di balik cabang gua lain. Kesempatan itu cukup buat Cambuk untuk membuang salah satu bulatan bersumbu miliknya di tempat tersembunyi itu!

Dilain kejap, Cambuk sudah keluar dari ruang rahasia, dia menghela nafas panjang-panjang, sungguh tegang rasa hatinya jika mengingat sandiwara tadi. Mengacau dengan cara membuat keributan tidak akan menyelesaikan masalah, justru orang yang dipancing oleh Jaka akan membat kesimpulan salah dan mungkin saja bisa membuat perubahan rencana yang makin rumit, dia tidak menginginkan itu!

Cambuk menatap Hastin sejenak, terlihat lelaki itu sedang memperhatikan dirinya dengan tatapan mata antara geli, heran dan takjub. ”Kau memang punya otak sialan…” ujarnya memuji, Cambuk ternyata menyimpan banyak kemahiran mengejutkan!

Dengan tertawa serba salah, Cambuk mengangkat bahunya. ”Harus kuakui, pengetahuanku tentang sistem dalam sandi di hampir setiap kerajaan sangat membantu…” jawabnya.

”Tadi kau berperan sebagai siapa?” tanya Hastin sambil mengedarkan pandangan mata mencermati kondisi disekitar.

Cambuk belum menjawab, dia mengajak Hastin kembali berjalan kembali kegua nomor dua, tentu saja sebelumnya Cambuk sudah meletakkan bungkusan bersumbu miliknya. ”Aku sebenarnya cuma asal tebak saja, satu hal yang kuketahui sebuah kekhasan sandi di kota ini adalah ikat kepala cingkrang.. misal saja mereka bukan orang-orang pemerintahan, ikat kepala yang kubuat pun akan sia-sia, dan kita sudah pasti harus meninggalkan jejak gaduh di dalam ruangan tersembunyi tadi. Untung saja Tuan Jaka sempat bercerita bahwa mereka tarkejut dengan lambang sandi cakram, jadi aku bisa menautkan bahwa entah siapapun mereka, masih ada hubungannya dengan pemerintahan tempat ini, maksudku… pemerintahan yang lampau.”

Hastin menggelengkan kepala berulang kali. ”Kalian hidup dengan cara yang sangat rumit. Aku tidak memahami sama sekali masalah seperti itu…”

Cambuk tertawa, ”Justru aku kagum pada anda… selalu bertindak tidak pernah memikirkan apa yang akan terjadi, terkadang malah mempersingkat masalah.”

”Tapi kadang membuatku pusing pula…” sahut Hastin disela langkah mereka yang sangat hati-hati, keduanya sudah mencapai gua ke tiga. Dengan hati-hati pula cambuk meletakkan bungkusan bersumbunya.

”Apakah kau bisa menebak, siapa yang ditakuti mereka?” tanya Hastin.

Cambuk menggelang, ”Sikap seperti yang kubawakan tadi, biasanya hanya semacam tabir saat mereka berhubungan dengan kelompok tertentu. Pada saat dia bergabung dengan kehidupan normal, boleh jadi sikap dan wataknya berbeda jauh. Sampai saat ini aku masih bersyukur bahwa ternyata ada orang bersikap tolol seperti yang kubawakan tadi…”

Hastin tertawa tanpa suara. ”Jika dibandingkan dengan kemampuan jaringan yang kalian miliki, tentu saja orang-orang yang bersembunyi dalam gua hanya orang-orang tolol!”

”Bukan maksudku meremehkan mereka…” sahut Cambuk buru-buru. ”yang kumaksud, betapa mereka menggunakan tata sandi sangat baku, terpola, sesuai ajaran dan belum berubah, seharusnya setiap periode tertentu mereka mengadakan perubahan. Entah itu dari karakter, dari sikap, dari cara bicara dan cara sapa…”

”Tapi, kau melupakan satu hal…” gumam Hastin dengan memperhatikan Cambuk yang meletakan bungkusan terakhirnya di gua ke empat dan kelima.

”Apa itu?” tanya Cambuk tanpa berpaling.

”Kau hidup di dalam sebuah ombak besar bernama perkumpulan rahasia, kau bergaul dengan beragam pikiran yang sudah terkondisi dengan pengalaman puluhan tahun dalam jaringan yang tak banyak diketahui orang, kau juga bercakap-cakap secara wajar dengan tokoh-tokoh yang sangat jarang bisa ditemui secara langsung… maka kau bisa memiliki pandangan seperti itu.”

Cambuk termenung sejenak. ”Mungkin anda benar…” sahutnya. Lelaki ini membagikan bola-bola sebesar ujung kelingking pada Hastin.

”Untuk apa ini?” tanya Hastin dengan heran.

”Menurut Tuan Jaka, anda memiliki himpunan hawa sakti yang langka,” kata Cambuk membingungkan Hastin.

”Heh?!” seragahnya bingung.

”Hawa sakti anda dapat membuat benda sepadat apapun meleleh bisa pula memercikan bunga api…” tukas Cambuk menerangkan.

Hastin tak mengira, dari jabat tangan beberapa hari lalu dan serangannya pagi tadi Jaka bisa menganalisis sedalam itu, padahal dia belum lagi mengerahkan tenaga andalannya, tapi pemuda itu ternyata bisa melihat sampai dimana jalur ilmunya akan bermuara.

Cambuk memberi petunjuk bahwa saat dirinya meletupkan bungkusan terakhirnya, maka Hastin harus melemparkan seluruh bola-bola dalam tangannya menurut jalur ilmunya. Kesetiap sudut ruangan rahasia yang saling menghubungkan tujuh gua itu. Masih dengan perasaan terheran-heran, Hastin mengangguk saja. Cambuk telah bersiap-siap, di dalam gua kelima, mereka menempatkan diri tidak terlihat dari para pengunjung, Cambuk melemparkan sebuah batu kecil tepat di sumbu bungkusannya, dan bersamaan itu pula Hastin melemparkan bola-bola kecil kesegala arah, termasuk ke jalur rahasia yang menghubungkan ketujuh gua.

Hastin tidak melempar, dia menjentikkan jarinya saja! Tapi begitu bola-bola kecil itu terlepas dari jemarinya, seleret warna merah langsung menebar warna merah membakar, bak meteor melintas langit, melesat dengan berkelak kelok. Warna kemerahan itu mula-mula menimbukan asap tipis, kemudian menimbulkan percik api yang berputar kesegala arah dan akhirnya menyambar sumbu bungkusan yang diletakan sedemikian rupa oleh Cambuk.

Wusss! Tidak terdengar ledakan, tidak terdengar letupan hanya tiba-tiba saja asap mengepul memenuhi seluruh ruangan begitu cepatnya. Seolah-olah asap itu dihasilkan oleh sebuah kobaran api dalam sebuah kebakaran hebat yang memencar merambati udara diseluruh ruang gua.

Hiruk pikuk tak terkendali terdengar lamat-lamat, Hastin dan Cambuk tidak bergerak ditempat mereka. Keduanya fokus dengan gerakan-gerakan yang mungkin saja timbul dari dinding-dinding gua seperti yang pernah mereka alami tadi. Dan benar saja….

Srk-srk-sreek! Terdengar desiran-desiran halus terkuak dari banyak dinding gua, karena mereka ada di gua nomor lima, tentu saja keduanya tidak tahu letak pasti dimana saja kemunculan pintu-pintu itu. Setelah memperhatikan dimana adanya pintu masuk rahasia muncul di gua itu, keduanya berpindah seluruh gua yang lain untuk memperhatikan dimana tempat pintu-pintu rahasia. Asap tebal dan cukup menyesakkan pernafasan itu tidak mereka rasakan sebagai hal yang mengganggu, tapi Hastin terlihat heran melihat orang-orang yang menghirup asap itu seperti orang mabok, dan ada banyak dari mereka yang sudah jatuh pingsan, kalaupun ada yang tidak pingsan, mereka terlihat sibuk mengucek matanya berulang kali.

Cambuk memberi isyarat pada Hastin untuk kembali memasuki salah satu pintu rahasia, ternyata dorongan asap-asap dari bungkusan bersumbu Cambuk begitu hebatnya, sampai-sampai lubang angin sebesar jari kelingking saja bisa diterobod dengan kepekatan asap kian menebal. Tentu saja kondisi itu membuat orang-orang yang bersembunyi didalam ruang tersembunyi dalam Gua Batu, kelabakan. Dengan leluasa, Cambuk dan Hastin masuk kedalam tiap-tiap ruangan tanpa diketahui orang.

Mereka tidak melakukan apapun kecuali melihat, mencatat dalam ingatan apa-apa saja yang ada didalam. Bahkan Cambuk sempat melihat sebuah ruangan yang dia yakini sebagai tempat dokumentasi seluruh kegiatan. Meminjam sinar mutiara yang sudah bercampur fosfor, Cambuk meneliti satu demi satu. Hastin pun melakukan perbuatan serupa. Meski lelaki itu paling malas menggunakan otaknya untuk berpikir, bukan berarti dia bodoh. Apa yang dilakukan Cambuk dia paham sepenuhnya.

”Aku dapat…” desis Hastin. Mesti pada awalnya dia tidak tahu apa yang mereka cari, tapi melihat bentuk rupa ruangan itu, Hastin bisa menduga bahwa Cambuk kemungkinan besar mencari sebuah daftar, sebuah indeks kegiatan!

Cambuk mengangguk, tapi dia tidak menghentikan tindakannya, dengan sangat cekatan lelaki ini memeriksa satu demi satu dan mengembalikan ke tempatnya lagi dengan rapi dan teratur. Ditangannya sudah ada sebuah selongsong bambu yang dikeluarkan dari balik bajunya, dengan hati-hati Cambuk mencuil satu demi satu lembaran daun lontar yang ada disana.

Hastin menyerahkan apa yang didapat pada Cambuk dan lelaki ini memasukannya kedalam selongsong bambu, lalu keduanya bergegas keluar dari ruangan itu. Dengan sangat hati-hati, mereka kembali ke gua nomor tujuh, dimana mereka tadi mencari jalan masuk.

”Apakah kita akan keluar sekarang?” tanya Cambuk pada Hastin.

Lelaki itu menggeleng. ”Meski kabut asap ini tebal, pasti banyak orang yang menyaksikan dari kejauhan. Bila kita keluar sekarang, maka gerakan kita akan sangat mudah terlihat oleh tiap orang.”

”Apakah kita harus menunggu?” gumam Cambuk merasa ragu.

”Berapa lama asap ini bertahan?” tanya Hastin.

”Sepenginangan lagi…” sahut Cambuk membuat Hastin berkerut kening, sepenginangan boleh dibilang sama dengan setengah kentungan, atau setengah jam.

Selagi mereka ragu hendak keluar, terdengar desir langkah yang sangat ringan menuju kearah mereka. Kepekatan kabut itu sangat menguntungkan keduanya dalam bersembunyi. Adalah sebuah keanehan bagi Hastin, kabut asap sepekat ini tapi kenapa pengelihatan mereka boleh dibilang tidak terganggu sama sekali? Pertanyaan itu baru dia pahami jawabannya saat Cambuk menerangkan dibelakang hari bahwa; selagi mereka tidak terpengaruh racun bius dalam kabut asap, dengan sendirinya pengelihatan mereka normal-normal saja. Betapa anehnya!

Desir seringan kapas itu bagi pendengan Hastin yang sangat terlatih membuatnya menegang. Seingatnya, Arwah Pedang sahabatnya juga memiliki langkah seringan itu, apakah ada tokoh hebat yang mengetahui perbuatan mereka?

”Jangan menunggu terlampau lama… mari keluar..” sebuah suara membuat keduanya terkejut.

Cambuk sangat hapal dengan suara itu, sambil menggamit Hastin mereka mengikuti sosok yang membuka jalan dan akhirnya menuntun mereka keluar dari dari Komplek Gua Batu dan terus menuju sebuah bukit.

”Ah…” barulah Hastin sadar bahwa yang menuntun mereka ternyata Jaka!

Ternyata sepulang dari bertemu dengan orang berkedok, Jaka langsung memutuskan untuk datang ke Gua Batu, dia bukan menyangsikan kemampuan kedua orang yang datang kesana, melainkan pemuda ini akan meninjau kembali rencananya. Jika dia biarkan keduanya tetap didalam, bukan tidak mungkin orang yang disangka sebagai salah satu elemen penggerak atau sebut saja benalu dalam kekacauan yang sudah timbul, tak jadi menampilkan diri.

”Kenapa kau kemari Jaka? Apa kau mengkahawatirkan kami?” tanya Hastin dengan kening berkerut.

Jaka tertawa. ”Mana mungkin aku mencemaskan engkau Paman Hastin.” katanya dengan menepuk bahu lelaki itu. ”Aku hanya berpikir, terlalu lama di Gua Batu itu tak akan membawah hasil lebih…”

Cambuk memandang sekeliling, dilihatnya lamat-lamat Gua Batu dikejauhan masih dikepung asap.

”Lalu kenapa kau mengajak kami kemari?” tanya Hastin tak mengerti.

Jaka tidak menjawab, dia mengedarkan pandangan matanya seperti Cambuk. ”Justru disini kita akan melihat perubahan lain.”

Benar saja, tak lama kemudian, asap yang mengepung Gua Batu seolah-olah tersedot kedalam gua, dalam hitungan belasan kali saja lenyap sama sekali. Jaka berpaling pada Hastin. ”Sekarang kita tinggal menunggu kemana asap itu dibuang…” ujarnya.

Dari ketinggian bukit dimana mereka berdiri, memang sangat cocok memantau keadaan sekeliling. Dari kejauhan terdengar beberapa anjing menyalak. Cambuk terlihat menyeringai lebar.

”Ternyata Tuan juga membawa anjing Penikam?” tanyanya memastikan.

Jaka mengangguk. ”Aku sempat mampir sebentar, kupikir salah satu anjingnya akan sangat berguna…” kata pemuda ini sambil menyipitkan mata, dia seolah sedang memastikan arah suara anjing dengan sesuatu yang tampak dalam pengelihatannya.

Menyimak pembicaraan itu, barulah Hastin paham. Ternyata asap yang mereka lepaskan memang hanya sebuah pancingan untuk mengetahui jalur rahasia lain. Hal paling logis dibalik lenyapnya kabut asap adalah udara dengan tekanan lebih tinggi menyebar di seluruh ruangan gua, artinya ada sebuah katup yang sengaja dibuka dari sisi lain dan karena sifat kabut asap memang mengejar udara, dengan sendirinya begitu ada ruang dengan himpunan udara lebih banyak, gumpalan asap itu akan tersedot kesana. Barulah Hastin mengatahui fungsi anjing yang di bawa Jaka. Tentunya anjing itu sudah mengenal bau kabut asap, dan salak anjing tadi menandakan kemungkinan besar disanalah letak lubang buangan!

”Kita kesana?” tanya Hastin bersiap-siap.

”Tidak paman,” sahut Jaka. ”Jika kita kesana, mereka akan waspada dan curiga. Bagaimanapun kehadiran beberapa anjing akan membuat mereka berpikir, meskipun itu tidak akan menimbulkan kecurigaan. Menanti anjing-anjing itu pergi mereka baru akan bergerak. Kita tidak perlu berjumpa dengan mereka, biar lain waktu saja kita temui mereka.”

Biarpun Hastin kurang sependapat dengan keputusan Jaka, namun dia mengerti dengan bantuan anjing-anjing tadi mereka bisa melacak kembali dimana tempat buangan asap itu. Dari sana mereka bisa melacak lebih jauh, apa-apa saja yang perlu diketahui. Dalam hati Hastin berulang kali memuji. Meski dia tidak penah terlibat dalam satu perkumpulan apapun, bukan berarti dia tidak mengetahui seluk beluknya. Dia pernah tahu ada sebuah perkumpulan yang memiliki usia cukup tua, bernama Sanatasona. Mereka memiliki keterampilan menggunakan unsur alam sebagai senjata dan alat mereka melacak jejak, terkadang mereka melacak jejak hewan buruan dari kicau burung, tapi adakalanya mereka juga melacak buruannya dengan menggunakan kaidah umum, seperti memperhatikan ranting patah dan jejak yang tertinggal.

Beberapa hari terakhir, dia melihat dalam himpunan orang-orang yang berada dalam lingkup pemuda bernama Jaka Bayu, memperlihatkan beragam metode lacak dan cara memancing jawaban yang membuat dia takjub. Entah apakah cara itu memang dibakukan menjadi sebuah metoda, atau berlahir begitu saja, yang jelas sosok pemuda disampingnya itu memang lelaki yang menyimpan beragam hal baru! Meski dia tidak pernah tertarik untuk bergabung dengan siapapun, atau organisasi macam apapun, tapi melihat begitu banyak tokoh kasta tinggi bergabung dengan Jaka membuat dirinya berpikir, tentu mereka menemukan hal baru pada diri pemuda itu—yang menjadikan nilai tambah untuk diri sendiri, seperti halnya dia.

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s