84 – Hastin Hastacapala

Hastin masih bengong tak jauh dari Gua Batu, dia sudah berhubungan dengan Cambuk, sungguh sialan dirinya harus mengaku sebagai ajudan Adipati Hanggana, salah satu wilayah yang dia tahu terlalu banyak pejabat kotor. Tapi dengan mengaku sebagai itu, ternyata memuluskan dirinya masuk kedalam ruangan birokrasi. Mengikuti Cambuk mengurus birokrasi, membuatnya langsung memberi penilaian, birokrasi sangat menjemukan, dengan mengobral bahasa bersayap dan janji ’suap’, Cambuk begitu mudah masuk ke salah satu tempat yang mengelola aset kota. Untuk mencari data yang dibutuhkan Hastin, demi mengefektifkan waktu, Cambuk terpaksa mengambil cara demikian, jika mereka harus satu persatu memeriksa Gua Batu… alangkah menguras energi dan memakan waktu terlalu banyak!

Seharusnya tidak setiap orang bisa meminta peta Gua Batu, detail tempat itu paling tidak hanya bisa di saksikan oleh orang-orang dalam pemerintahan sendiri dan sang pimpinan itu sendiri. Tapi Cambuk bisa mendapatkannya, Hastin sempat melihat orang itu mengeluarkan sesuatu dari kantongnya sebelum petugas yang menjaga peta Gua Batu memberikan satu salinan peta dengan wajah gelisah.

Begitu keluar ruangan itu, Hastin buru-buru bertanya. ”Kau gunakan apa untuk membuat dia menurut?”

Cambuk tertawa, dia keluarkan sebuah benda berwarna kuning. ”Bahasa emas itu sangat luas…” katanya.

”Sialan!” ketus Hastin sambil tertawa masam. ”Kupikir kau menggunakan jimat apa…” guraunya.

”Paling tidak aku mendapatkan informasi tidak terduga. Petugas jaga tadi ternyata memperjual belikan peta Gua Batu!”

Hastin tercenung, dia enggan berpikir terlalu rumit seperti Jaka atau teman-temannya, sekilas dia mengamati tiap orang yang dekat dengan Jaka ikut ketularan pemuda itu, menjadi rumit dan banyak berpikir! Tapi mendengar keterangan Cambuk membuat dia mau tak mau juga harus menggunakan otaknya.

”Dia menjual pada siapa saja?” tanyanya pada Cambuk.

“Tidak disebut, hanya saja dia sudah menjual tiga buah peta termasuk pada kita.”

Hastin langsung memeriksa peta di tangan Cambuk. Sebuah gambar yang rajin dengan denah cukup detail disertai keterangan mengenai beragam ruangan. Hastin menilai, Gua Batu seperti labirin yang menyesatkan jika kau tidak memiliki panduan, memasukinya akan membutuhkan banyak waktu untuk mencari jalan keluar.

“Kau yakin salinan ini sama dengan aslinya?” tanya Hastin.

”Tidak, tapi aku tahu orang itu pernah menjadi salah satu asisten juru ukur aset pemerintahan. Jadi tidak ada salahnya kita percaya…” terang Cambuk membuat Hastin berdebar.

“Wah, sialan! Masa aku harus menggantungkan keberuntungan pada orang yang mudah disuap?” gerutunya.

Cambuk tersenyum simpul. “Sebenarnya dia tidak sedemikian mudah disuap, karena takut dengan gertakanku yang mengatakan bahwa; ‘aku tahu dia sudah pernah menyerahkan salinan serupa’, maka dia memberikan padaku salinan yang lain.”

“Seharusnya, kau tak usah memberikan uangmu lagi.” Ketus Hastin tak setuju.

Cambuk menggeleng. “Orang itu memang brengsek… dia tadi memberikan aku dua pilihan, satu denah tanpa keterangan, kau tak usah membayar, sedangkan yang kedua seperti yang kita pegang sekarang… dan dia minta ongkos. Haha… dari pada aku ribut dengan orang tak jelas, lebih baik kubayar saja.”

”Tapi apa kau yakin dengan keaslian keterangan ini?” tukas Hastin kawatir.

Cambuk mengangguk. ”Jika aku belum tahu secara umum tentang Gua Batu, tentu saja aku tak berani bertindak demikian.” lelaki itu menjelaskan.

Hastin menghela nafas lega. Gua Batu termasuk salah satu cagar atau tempat yang di lindungi oleh pemerintah Pagaruyung, karena tempat itu berhubungan sangat erat dengan sejarah berdirinya Kota Pagaruyung, dan masih memiliki kaitan dengan keturunan pimpinan pertama kota itu. Sejarah yang melatar belakangi Kota Pagaruyung memang cukup mendebarkan, sebab terampau banyak darah tertumpah di tanah itu. Maka tidak heran jika tempat-tempat yang menjadi sendi-sendi ingatan sebuah kota, di rawat sebagaimana mestinya.

Entah bagaimana caranya sebelum mereka meninggalkan bangunan sarang suap itu, Cambuk masih sempat menemui pimpinan Kota Pagaruyung, bahkan mereka sempat bertukar pikiran. Nama orang itu Ki Artanawasa, seorang lelaki paruh baya seumuran dirinya dengan wajahnya cerah dan sikapnya sangat lugas. Hastin memperhatikan, Cambuk berbicara dengan orang itu seolah mereka kenalan lama. Setelah keduanya benar-benar keluar, Hastin bertanya,

”Kau kenal dia?”

Cambuk mengangguk. ”Tapi tidak secara pribadi, pemerintahan kami saling menjalin kerjasama dengan baik. Jabatanku cukup membuat dia memandang hormat pada kita.”

Hastin menggumam tak jelas, dia memang sudah tahu jabatan Cambuk. Lelaki itu pesilat yang cukup handal, namanya juga dikenal didunia persilatan, tapi lebih dikenal sebagai murid Mpu Dwiprana, seorang ahli pembuat senjata; lebih istimewanya, Cambuk adalah ajudan Adipati Kalagan dari wilayah Hulubekti—salah satu daerah makmur yang jadi tujuan kaum kelana untuk mencari rezki. Secara fisik Cambuk memang cuma seorang ajudan, tapi buah pikirnya sangat banyak di gunakan oleh Adipati Kalagan untuk mengambil keputusan. Bisa dibilang Cambuk adalah orang kepercayaan pimpinan Kalagan. Maka, banyak orang segan padanya karena dia sangat dekat dengan kekuasan, yang dengan sendirinya memiliki hubungan-hubungan luas dengan pemerintahan lain daerah.

”Apa kita akan masuk sekarang?” tanya Cambuk, setelah mereka mengamati Gua Batu beberapa saat.

”Belum, nanti sebentar lagi…” sahut Hastin dengan tatapan nyalang menelisik lalu lalang orang disekitar Gua Batu, termasuk para penjaga.

”Kau menunggu seseorang?”

”Tidak, aku hanya menunggu isyarat yang meyakinkan.”

Menunggu Hastin merasa cukup dengan pengamatannya, Cambuk membenahi sesuatu dari kantung bajunya, beberapa bungkusan yang memiliki sumbu dia siapkan pada tempat yang mudah terjangkau jarinya. Dimasa mudanya Cambuk terbiasa membuat senjata dan beragam kerajinan tangan, tak disangka kali ini dia bisa memanfaatkan keahliannya untuk menemukan bentuk terbaik dari bahan-bahan olahan yang diberikan Jaka Bayu.

”Jaka berpesan padaku untuk melempar benda yang kau bawa, menurutnya tidak sesederhana itu, bagaimana menurutmu?” tiba-tiba Hastin bertanya.

Cambuk berpikir sejenak. Lalu dia membuka peta Gua Batu. ”Mungkin Jaka ingin memastikan apakah di dalam Gua Batu, ada lorong rahasia atau tidak….” gumamnya.

”Sebutkan alasanmu..” ujar Hastin tak paham.

”Ini…” kata Cambuk seraya memperlihatkan benda bersumbu dan bola-bola kecil ditangannya. ”adalah benda yang akan memastikan itu. Begitu benda ini dilempar, asap akan segera memenuhi seluruh lorong yang ada… sekalipun didalam ada ruangan rahasia, tidak mungkin disana kedap udara, pasti ada beberapa lubang yang dijadikan sebagai jalan udara. Dengan sendirinya, kita akan melihat hasil dari benda ini…”

Hastin menimang bulatan kecil itu. ”Seperti mengaduk sarang semut.” ujarnya.

”Tepat! Jika memang ada, mereka akan segera keluar, entah berkerumun dengan para pengunjung, atau terpencar sendiri-sendiri.”

Hastin mengerutkan kening, ”Apakah akan kita lakukan bersamaan dengan banyaknya pengunjung? Bukankah itu akan semakin rumit?”

Cambuk mengangguk, ”Tunggu sebentar…” dia berlari kearah sebuah kedai nasi kecil tak jauh dari mereka bersembunyi mengintai Gua Batu. Disana ada beberapa orang sedang makan dengan kaki diangkat, Cambuk membeli dua bungkus nasi pecel. Sesampainya di hadapan Hastin, dibukanya bungkusan daun pisang itu. Didalamnya terdapat daun lontar dengan beberapa tulisan. Cambuk segera membaca perlahan.

”Gua pertama, dua belas orang. Tiga orang datang dari selatan sisanya datang dari arah timur. Gua kedua, empat orang; seluruhnya datang dari arah timur. Gua ketiga berisi enam orang pengunjung, satu orang datang dari arah selatan, lima dari timur. Gua keempat ada tujuh belas orang, tujuh orang dari timur, lima orang dari selatan dan lima orang lainnya datang dari gua kelima. Gua ke enam sampai ke tujuh kosong.”

Hastin menyimak dengan sungguh-sungguh, dalam hati dia sangat terkesima melihat cara kerja Cambuk, sungguh dia tidak paham entah sampai sejauh mana jaringan yang dimiliki Jaka Bayu menyisir kawasan itu.

”Saat ini, tidak ada lagi pengunjung tambahan, sepertinya ini adalah saat yang tepat. Sebentar lagi ada pergantian petugas yang menjaga masing-masing mulut gua.” tutur Cambuk menerangkan.

”Apakah ada jalan lain selain jalan masuk ini?” tanya Hastin sambil meneliti peta di tangannya. ”Hm… didalam peta ini tidak ada, tapi siapa yang tahu?”

”Jangan kawatir, jika ada yang lolos dari mata kita, tidak akan lolos dari mata yang lain.” tukas Cambuk dengan yakin. ”Tugas kita memang mengaduk sarang saja, semoga tidak mendapatkan kesulitan berarti…”

Cambuk memakan nasi pecel itu dengan tergesa, membuat Hastin heran. ”Makanlah, didalam nasi ini ada penawar untuk asap ini.” katanya disela-sela kunyahan.

Dengan hati masih penuh tanda tanya, Hastin memakan nasi itu. Rasanya cukup enak, ada sedikit rasa getir di beberapa sayuran tertentu, mungkin itu salah satu penawar yang dibicarakan Cambuk. Tapi tetap saja dia tidak paham, apakah seorang telik sandi juga dibekali pemunah racun? Darimana mereka tahu Cambuk akan menggunakan ’racun’ jenis apa pada asapnya? Jikalau memang sedemikian teratur dan terpola, Hastin tak bisa menyangkal lagi, bahwa Jaka Bayu adalah sosok yang menakutkan.

”Pasti kau ingin menanyakan bagaimana si penjual nasi tahu aku akan menggunakan racun jenis apa, begitu kan?”

Hastin mengangguk sembari menatap Cambuk meminta penjelasan.

”Seperti yang kau ketahui, penjual nasi diwarung itu tentu saja orang-orang kita. Dan mereka tidak memiliki penangkal racun apapun, tugas mereka hanya mengamati dan mencatat semua kegiatan disekitar Gua Batu…”

”Kenapa kau katakan ada penawar dalam nasi ini?” tanya Hastin terheran-heran.

”Disini, aku juga tidak tahu.. aku hanya percaya saja pada Tuan Jaka.” kata Cambuk sambil menghabiskan suapan terakhir.

”Memang Jaka mengatakan apa padamu?” tanya Hastin tertarik.

”Beliau mengatakan, ’sebelum menggunakan benda ini, makanlah nasi pecel secukupnya’. Tentu saja aku paham, didalam nasi pecel ini ada tercampur tujuh jenis macam sayuran. Dan agaknya sayuran jenis tertentu, bisa menawarkan racun yang terdapat pada benda ini…” kata Cambuk sambil memperhatikan bola-bola kecil dan benda bersumbu miliknya.

Hastin menggeleng-gelengkan kepalanya. Betapa rumit pikiran Jaka, dia sedikit bisa menyelami, tapi pengetahuan semacam itupun dia kuasai, agakanya jika pemuda itu menginginkan untuk menjadi lebih besar lagi, hanya menunggu waktu saja. Dan pertanyaannya, apakah pemuda itu mau atau tidak, cuma itu!

Cambuk menunjuk kemuka, terlihat ada pergantian pengawal Gua Batu, dia bergegas mengajak Hastin untuk menyelinap masuk kedalam gua, tepat saat para pengawal berganti. Bagi orang-orang macam mereka biarpun bertindak di terang hari seperti ini, tidak terlalu menyulitkan jika hanya untuk menghindari pandangan orang. Dengan mudah keduanya sudah menyelinap masuk kedalam gua nomor enam. Dalam gua itu menurut pengamatan petugas mata-mata, tidak terdapat pengunjung, kosong!

Dengan meminjam cahaya dari mulut Gua, keduanya melihat peta, kalau tidak mau tiap saat harus membuka peta, Hastin mau tak mau harus menghapal tiap gores peta itu. ”Setelah ini ada satu jalan yang menembus ketujuh gua ini…” gumam Hastin melihat sebuah garis lurus tanpa putus-putus yang menghubungkan ketujuh gua. Sebuah garis yang tersamar, dan dengan penasaran Hastin meneliti tiap lekuk dinding gua, akhirnya dia  sampai pada ujung gua yang tersembunyi, pada tempat yang dimaksud peta, dia melihat ada sebuah tonjolan batu, dengan ragu-ragu di tekannya tonjolan itu. Sebuah suara desir halus membuat Hastin dan Cambuk waspada, tapi ternyata tidak ada kejadian apa-apa, hanya sebuah pintu yang terbuka. Keduanya meneliti keadan disekeliling pintu yang baru bergeser.

”Ah, nampaknya pintu ini sering digunakan orang…” gumam Hastin.

Cambuk mengiyakan, dia juga melihat tonjolan batu yang tadi ditekan Hastin jauh lebih bersih dibanding batu yang lain. Lalu dengan sangat cekatan kedua orang ini segera menuju gua ke tujuh, di sana Cambuk meletakan bungkusan bersumbu, demikian pula pada saat mereka kembali ke gua nomor enam. ”Apakah kita akan langsung masuk ke gua nomor lima?” tanya Cambuk meminta pertimbangan.

Hastin berpikir sesaat, dia mengakui tugas ini tidak cocok baginya, sebab pembawaan orang ini selalu datang dari depan, hantam dulu tanya belakangan. Kalau harus berpikir begini, membuat pening saja. ”Kurasa, kita langsung ke gua nomor satu dan berturut-turut, selanjutnya kita akan keluar dari gua nomor lima.” kata Hastin yang sudah menghapal jalan berliku yang menghubungkan antar gua.

Cambuk setuju dengan ide itu. Mereka segera mengambil jalan seperti yang tertera dalam peta. ”Tak sangka manusia sialan itu jujur juga…” gumam Hastin memuji tukang jiplak peta saat harus mengingat-ingat mengambil jalan kekanan atau kekiri.

Tapi tak disangka saat mereka hendak menggabungkan diri dengan para pengunjung Gua Batu, terdengar langkah banyak orang. Mereka ingat di gua nomor satu, ada dua belas orang, dan kedua belas pengunjung itu tersebar dalam satu ruangan, sedang menikmati gambar dan pahatan dalam dinding gua, lalu dari mana datangnya derap langkah orang?

Hastin dan Cambuk bergegas menuju cekungan batu untuk menyembunyikan diri, mereka menanti siapa yang mendatangi gua nomor satu itu. Tapi tak disangka, ada sebuah pintu bergeser bergerak di samping mereka, karuan saja keduanya terkejut bukan buatan, dengan cekatan Hastin melompat mencengkeram stalaktit gua, demikian juga Cambuk. Mereka berdua menempel bagai cicak, mengikuti lengkungan langit-langit gua. Dari atas mereka melihat beberapa orang keluar dari sebuah pintu rahasia!

”Aku tidak dapat menemukan jejaknya lagi…” serbuah suara lirih terdengar dari dalam jalan yang mendadak muncul itu, dan sesaat kemudian terlihat dua orang keluar, lalu berturut-tutut tiga orang lain juga mengikuti dari belakangnya.

”Benar, seolah-olah dia lenyap dari kota ini…” timpal yang lainnya.

”Apakah kita akan mencari orang yang pernah menguntit sampai kemari?” tanya salah satu dari mereka.

”Itu pekerjaan sia-sia, pada waktu itu dia mengetahui jejak kita, tapi tak mengikuti sampai kesini. Aku yakin dia bukan seorang pendatang, sebab dia tahu lambang yang digunakan oleh kalangan kita…”

”Jangan-jangan, dia orang kita juga?” seseorang menyahut lagi.

”Mutlak tidak mungkin! Tiap anggota mengenal satu sama lain, dan sejauh ini tidak ada anggota atau tamu undangan yang tidak diperkenalkan pada kita!” sahut orang terakhir.

”Lalu kita akan lakukan apa? Peringatan dari Gusti tentang keteledoran kita membuatku tidak nyaman…” gumam orang pertama mengeluh.

Dalam keheningan, kelimanya tidak lagi berkata-kata mereka bergerak hati-hati dan terlihat berbaur dengan para pengunjung gua. Menanti kelima orang itu hilang, Hastin dan Cambuk saling pandang. Agakanya pikiran mereka sama. Seringan burung srikatan, keduanya melayang turun dan langsung menyelinap kedalam pintu yang mulai bergeser perlahan, menutup!

Cambuk menghela nafas perlahan, menyadari hampir saja punggungnya terjepit oleh pintu batu itu, mereka terheran-heran saat melihat betapa tebal pintu batu itu, tapi kenapa tidak mengeluarkan bunyi sama sekali? Namun keterkesimaan mereka tak bisa bertahan lama, menyadari ada langkah mendatangi keduanya. Seperti sudah berjanji, Hastin melompat ke pojok kanan dan Cambuk ke pojok kiri, tapi begitu mereka menyadari persembunyiaan itu kurang bagus, keduanya melompat keatas kembali mencengkeram langit-langit.. sayang keduanya kurang memperhatikan jarak antar keduanya dan sempitnya langit-langit gua. Kepala mereka saling beradu satu sama lain!

Duuk! Suara kepala saling berbentur itu tidak keras, tapi keluhan kejut keduanya yang cukup keras, ternyata sangat fatal!

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s