83 – Mencapai Kesepakatan

“Apa yang direncanakan Wingit Laksa?” orang berkedok ini kembali mencecar dengan pertanyaan.

“Dengan sendirinya dia mengincar Perguruan Naga Batu sebagai basis kekuatan utamanya..”

“Tapi?” potong orang berkedok itu merasa ada nada lanjutan dari kawannya.

“Tapi, dia tidak sadar bahwa tiap langkahnya terpantau sangat baik oleh golongan kedua yang sedang merancang konflik dalam Naga Batu.”

“Siapa yang kedua itu?”

“Kita belum tahu, tapi orang ini menggerakan para petinggi Naga Batu dengan racun masa lampau.”

“Racun apakah itu?”

“Bubuk Pelenyap Sukma, tapi sekarang dikenal sebagai Bubuk Pelumpuh Otak.”

“Hm… aku merasa Wingit Laksa tidak bergerak sendiri, siapa yang ada dibelakangnya?”

“Aku mencurigai Kwancasakya yang menopang seluruh dana pergerakannya.”

“Kau yakin jika Kwancasakya dibelakang Wingit Laksa?”

“Tidak, tak terpikir olehku kelompok yang lain.”

“Bagaimana dengan Perkumpulan Dewa Darah?” tiba-tiba saja Jaka menyela.

Orang berkedok dan kedua kawannya menatap pemuda itu dengan tajam, seolah ada sebuah keterkejutan besar di tatapan mata itu. “Apa dasarmu mengatakan hal itu?” cecar orang berkedok.

Dalam sesaat Jaka tidak menjawab, pemuda ini menghela nafasnya dalam-dalam. “Pada saat pertemuan pertama, kau ingat aku pernah berkata begini : ‘Kala malam hujan badai, sesuatu muncul tanpa terasa, rupa tak teraba, kadang orang merasa tentram, tapi lebih banyak rasa terancam mencekamnya. Sayang… semua itu cuma masa lalu, tapi kini dia kembali!’…”

”Aku masih ingat.” Gumam orang berkedok ini sambil menebak apa yang akan di katakan Jaka.

“Dahulu ada yang bahu membahu menghancurkan Perkumpulan Dewa Darah, aku tak usah menyebutkan siapa dan perkumpulan apa yang ikut menghancurkan mereka… hm, mungkin akan lebih tepat aku mengatakan perkumpulan rahasia apa yang turut serta menghancurkan Dewa Darah…”

Penjelasan Jaka yang itu membuat wajah ketiganya berubah, tentu saja perubahan orang berkedok itu tak terlihat. “Memangnya perkumpulan apa?!” hanya pertanyaan itulah yang membuat Jaka bisa meraba keterkejutannya.

“Kau yakin aku harus menyebutnya?” Jaka balik bertanya.

“Aku rasa tidak perlu!” mendadak Si Mata Suram memotong.

Jaka tersenyum. “Baiklah, aku tak perlu mengatakannya.” Sambil menyesap minumannya, Jaka melanjutkan.  “Biar kuurai sedikit sumbang saranku. Wingit Laksa bukanlah masalah penting, Perkumpulan Dewa Darah-pun—jika itu benar, juga bukan hal penting…”

“Kenapa kau anggap itu tidak penting?” potong lelaki bertampang biasa dengan wajah berubah.

“Apapun namanya, Dewa Darah hanyalah perkumpulan yang sedang mencoba bangkit lagi. Dia membutuhkan sumber daya besar, dia membutuhkan jaringan yang luas. Hal pertama yang dilakukan Wingit Laksa—jika benar demikian adanya, adalah memperluas jaringan ini dengan membuka hubungan yang sama sekali baru. Mereka tidak akan mengulangi kebodohan yang sama. Jadi, membayangkan mereka bergerak saat ini adalah tidak mungkin.”

“Kenapa kau bantah dugaanmu sendiri?” tanya orang berkedok terheran-heran.

Jaka tertawa. “Aku hanya menyatakan dengan bahasa lain bahwa Wingit Laksa tidak mungkin menjadi pesuruh Kwancasakya. Aku tak perlu membeberkan apa alasanku mengatakan demikian, kuyakin dari pihak kalian sendiri mengetahui alasan ini. Yang ingin kutekankan adalah, mustahil Kwancasakya merekrut orang yang tidak dalam posisi strategis.”

“Tapi Wingit Laksa memiliki posisi strategis…” potong orang berkedok meralat.

Jaka manggut-manggut. “Sebagai orang yang bertanggung jawab dengan hubungan-hubungan luar memang cukup strategis, tapi tidak memiliki daya jual. Berbeda ceritanya, jika Kwancasakya merekrut murid utama pertama…” ucapan Jaka ini cukup membuat mereka bertiga tahu, bahwa tamu mereka juga bukan bicara asal bicara, tapi dia memiliki data akurat.

“Maksudmu, orang yang disebut Ketua Bayangan?”

Jaka menyeringai. “Tapi, itu tidak mungkin terjadi.. benar?” katanya tak menjawab pertanyaan orang berkedok.

Kali ini semua orang sama-sama tahu bahwa mereka memiliki jaringan informasinya sendiri-sendiri. Menjadi tidak masuk akal, jika mereka melihat Jaka yang masih semuda itu bisa menguasai informasi yang tak sembarangan orang lain tahu. Entah jalur seperti apa yang dimiliki pemuda itu!

“Sekarang aku ingin tahu apa rencana kita selanjutnya?” Jaka langsung memasuki inti perjumpaan mereka.

“Kau berjanji padaku, akan mengumpulkan api dan angin..” desis orang berkedok mengingatkan.

“Sudah kulakukan itu.” Tegas Jaka.

“Sudah?” tanya heran. “Kapan dan bagaimana?” dia bertanya pada lelaki bertampang biasa dengan nada menuntut.

Lelaki itu tampak termenung, “Aku tidak bisa menyimpulkan. Tapi, mungkin adanya perubahan pergerakan yang terjadi di dalam Naga Batu itu sendiri yang dia maksud?”

“Bagaimana?” tanya si kedok pada Jaka dengan tatapan menyelidik.

Pemuda ini mengangkat bahunya. “Anggap saja seperti itu, bagaimana dengan pekerjaanmu?”

“Sebentar! Bukankah aku dulu pernah menyatakan padamu, api akan mengecil karena tertiup angin besar, dan kau tadi membenarkan jika kau juga mengumpulkan angin, bukankah itu sia-sia?!”

”Jika dikumpulkan pada saat yang bersamaan memang akan sia-sia, yang kita butuhkan hanyalah mengendalikan besar kecilnya angin, itu saja…”

Sikedok baru paham dengan maksud Jaka. “Mengenai peralatan masak yang kau inginkan, aku memilikinya! Kapan pun kau ingin menggunakannya, aku selalu siap. Masalahnya satu, kau bisa menggunakannya atau tidak.” Kali ini ucapan orang berkedok membingungkan kedua kawannya. Tapi tidak bagi Jaka, sebab dari awal dirinya memang sudah berjanji dengan orang berkedok itu akan melakukan kerjasama. Dia menyediakan, ‘api-angin-bumbu masakan’, orang berkedok menyediakan peralatannya. Tentu saja yang dimaksud peralatan masak adalah; sumber daya manusia—tenaga, dana, dan tempat yang representatif, dibawah komando Jaka.

Jaka berkelpok. “Kau sangat baik!” seru pemuda ini.

“Cuma satu hal aku ingin tahu, bumbu yang kau taburkan pada masakan… apakah sudah terkumpul lengkap?”

Jaka mengacungkan jempol. “Sedang dan terus dilakukan! Aku tanggung, cukup lezat. Sebenarnya aku sangat tidak ingin memasak tumis ikan arang, aku berharap tidak sampai memasak dengan resep itu.” Ujar pemuda ini dengan suara lambat.

Terdengar orang berkedok menghela nafas seolah ikut prihatin. Tapi kedua kawannya bingung dengan pembicaraan keduanya. Memang mereka mendapat laporan dari empat pengiring orang berkedok tentang percakapan itu, sampai sekarangpun mereka hanya bisa meraba apa yang sebenarnya sedang dipikirkan kedua orang itu. Tumis ikan arang, mungkin semacam rencana pembumihangusan?

“Menurutmu, ada penyerangan yang terjadi di Perguruan Naga Batu… siapakah yang mengacau perguruan itu?” kembali orang berkedok bertanya pada lelaki bertampang biasa. Nampaknya mereka kembali melakukan tanya jawab.

“Dari laporan, dua orang dari satwa.” Jawabnya. Diam-diam Jaka tersenyum dalam hati, nampaknya Serigala dan Beruang sudah menjalankan tugasnya dengan baik.

“Apakah ada kaitannya dengan bekas pertempuaran di tebing itu?” kembali orang berkedok bertanya dengan nada mengambang.

“Tidak bisa disimpulkan seperti itu. Aku tidak mengetahui seperti apa kemampuan tujuh satwa, tapi ada satu jalur serangan yang menyatakan sebagai, satu baginda. Aku sangat paham dengan orang itu… aku menyangsikannya!”

Orang berkedok ini manggut-manggut, sambil memandang kearah Jaka. Pemuda ini seolah-olah sedang ditodong dengan tatapan itu, tentu saja Jaka tak bereaksi dengan tatapan itu.

“Apa yang kau pahami dari Satu Baginda?”

“Orang itu sangat sombong, dan harga dirinya terlalu tinggi. Dia tidak akan pernah melakukan serangan bersama orang lain!” tutur lelaki itu memberikan keterangan.

“Apakah hal itu mutlak?” kembali orang berkedok bertanya

“Mutlak!” jawab lelaki bertampang biasa ini tegas.

“Menurutmu, tokoh yang diserang tujuh satwa satu baginda orang macam apa?”

“Orang seperti itu hampir tidak ada!” kali ini yang menyahut Si Mata Suram.

“Kenapa kau berkata begitu?” tanya orang berkedok heran, dia memang sudah melihat ‘benteng ilusi’ Jaka, menurutnya orang seperti itu bisa jadi memang ada.

“Dia terlalu sempurna, hakikatnya delapan serangan bersamaan itu tidak bisa di hindari manusia.” Tandasnya.

“Adakah serangan yang tidak bisa dihindari?” tiba-tiba Jaka bertanya. Pertanyaan itu di tujukan kepada Si Mata Suram, namun orang itu terdiam tak bisa menjawab. Jaka menghela nafas prihatin, kali ini dia bisa menilai secara utuh orang-orang di sekeliling si kedok ini ternyata tokoh yang sangat mumpuni lahir-batin, dia bisa menilai kesanggupan diri sendiri. Jika saja orang itu menjawab—apapun jawabannya, Jaka bisa menilai orang itu hanya suka memamerkan kemampuan.

“Bagaimana dengan yang ketiga?” kembali orang berkedok memecahkan keheningan diantara mereka. Tentu saja maksud pertanyaan itu adalah golongan ketiga yang bermain di dalam Perguruan Naga Batu.

Lelaki bertampang biasa itu menatap Jaka sekilas. “Jika saja dugaanku itu adalah pembenaran, maka aku bisa menyatakan orang itu adalah dia.” Katanya sambil menatap Jaka.

Pemuda ini tertegun. “Kenapa aku?” tanyanya heran. “Apakah aku memiliki kepentingan dalam konflik ini?”

Pertanyaan itu membuat mereka juga terdiam. “Aku tidak bisa mengutarakan alasannya, mungkin ini… menjadi semacam tuduhan, aku cuma merasa bahwa kau bisa jadi pihak ketiga itu!” Kata lelaki bertampang biasa dengan tegas.

Jaka manggut-manggut. “Ya, akupun berpendapat serupa dirimu…”

“Eh?” ketiganya berseru hampir bersamaan. Betapa anehnya tamu mereka ini!

“Maksudku, aku sangat berharap menjadi pihak ketiga itu…”

“Oh…” gumam orang berkedok baru paham.

“Kalian jangan pernah lupakan Ketua Bayangan, dia sewaktu-waktu meledak menjadi mata angin badai.” Timpal Jaka memperingatkan.

“Ya, itu sangat kami sadari. Sekarang akan kuperuncing hasil pembicaraan ini. Kau, akan menarik keluar seluruh golongan yang mencoba mengoyak ketenangan kota ini dari Perguruan Naga Batu, betul?”

“Aku usahakan.” Janji Jaka Bayu dengan mantap. “Bukan hanya pihak-pihak yang melingkupi perguruan Naga Batu, perkumpulan yang ada dikota ini pada umumnya!” suara pemuda ini begitu yakin, membuat lelaki bermata serupa ikan mati itu menatap tajam padanya.

“Kau sudah yakin dengan keputusanmu? Tidak kawatir mengusik singa tidur?” tanya lelaki berparas biasa memastikan.

Jaka menggeleng. “Ada kalanya singa juga harus bangun untuk mengaum, supaya seluruh hewan lain tahu bahwa sudah saatnya mereka berkumpul saling bahu membahu untuk menghadapi sang raja… kalau sudah begitu, bukankah sangat mudah menghadapi semua itu?”

Ucapan Jaka terlalu bersayap, lelaki bermata macam ikan mati itu adalah bagian dari kelompok rahasia yang pernah bertemu dengan Kaliagni, dengan sendiri kalimat pemuda itu seolah akan mengusik dirinya, demi memancing seluruh bibit kerusuhan yang mulai menyelimuti kota Paragruyung.

“Kuharap kau tidak bertindak keterlaluan…” desis lelaki bermata bak ikan mati itu mengagetkan kedua kawannya. Mereka belum pernah menyaksikan lelaki itu melontarkan kata yang ‘lunak’ seperti itu.

“Kau bisa memegang ucapanku! Aku pasti akan melakukannya tanpa membuat kau.. kalian, kecewa!” Tukas Jaka sungguh-sungguh pada lelaki bermata suram. “Bukankah itu salah satu dari alat masak yang kubutuhkan?” tanyanya pada orang berkedok.

“Ya! Kau benar… satu hal lagi aku ingin mengingatkanmu sebelum kau terlampau banyak mengumbar janji…” kata orang berkedok ini dengan tegas. “Kau pernah mengatakan padaku, bahwa; kau selalu punya cadangan minyak untuk membuat api lebih besar, juga kau bisa membangun tembok untuk menghalang datangnya angin… apakah cara kerja ini akan kau penuhi?”

”Jika Tuhan mengijinkan aku berbuat demikian, aku pasti lakukan!” tegas dan tandas suara Jaka meyakinkan mereka.

Orang berkedok ini menyandarkan punggung kekursi, berbicara dengan Jaka membuatnya serasa diayun ketegangan oleh tanya-jawab yang tiada habisnya. Dia melirik kepada dua kawannya meminta pertimbangan, mereka tampak mengangguk memberi persetujuan.

”Baiklah, alat masak yang akan kau butuhkan segera kami datangkan!” katanya tegas.

Jaka mengangguk. ”Kau sudah tahu dimana mencariku..” kata pemuda ini berdiri dan memohon pamit. Akhirnya ’proposal’ kerjasama itu sudah mereka sepakati. Sebuah kerjasama aneh yang belum ketahuan apa dan bagaimana cara mereka berjalan beriringan, sebab kedua belah pihak masih saling curiga.

Dengan diantar oleh penjaga, mereka memandang punggung Jaka yang hilang dari ruangan itu. Orang berkedok ini bertanya pada lelaki bermata suram. ”Paman, kenapa kau bersikap sangat lunak padanya?”

Lelaki itu menghela nafas. ”Tahukah kalian kenapa aku memutuskan tidak mengujinya lebih lanjut?”

Keduanya menggeleng.

”Pada saat cengkeramanku mengenai bahunya, jantungku berdetak lima kali lebih cepat. Kupikir aku bisa membuatnya lumpuh dengan jurus Kemilau Pagi Pecah Tiga Kali…”

”Ah…” lelaki bertampang biasa terkejut mendengar pengakuan kawan karibnya itu. ”Kau tidak salah bertindak?” tanya memastikan.

”Tidak, kalian sendiri tahu… jurusku itu bisa membuat orang yang terkena angin gerakanku—apalagi terpegang, akan kaku! Bahkan bagi yang berkemampuan lebih rendah, bisa mati. Tapi… orang itu… aku tidak bisa mendesaknya, dari dalam tubuhnya seolah memancar sebuah aliran tenaga yang sangat halus… begitu halusnya, sampai-sampai aku tak sadar jantungku sudah berdegup lebih kencang. Makanya aku melepas cengkeramanku padanya…”

Orang berkedok terperangah mendengar uraian itu. ”Bukankah kau bisa meneruskan dengan seranganmu yang kedua?”

Lelaki itu menggeleng. ”Itu alasannya kenapa aku mundur… kalian melihat seolah aku dengan sangat mudah bisa melibat leher pemuda itu… padahal sebenarnya seluruh sendi tangan dan bahuku tiba-tiba kaku, seolah aku sedang menyaksikan kemampuanku dipakai olehnya! Begitu aku mundur rasa kaku itu hilang…”

”Jadi… itu alasanmu bersikap lunak padanya?” tanya orang berkedok ini dengan bimbang.

”Itu salah satu pertimbanganku saja. Dari pembicaraan tadi, aku bisa membaca, bahwa dia juga seperti kita—memiliki kekuatan yang cukup mencengangkan. Jika dia sudah berniat mengaduk seluruh perkumpulan rahasia yang bertebaran di kota ini, aku percaya dengan kemampuannya, dia bisa melakukan hal yang paling buruk…”

Orang berkedok membenarkan pikiran itu.

”Makanya kau memohon padanya untuk berlaku murah?” sambung lelaki bertampang biasa.

”Ya… ” jawabnya singkat.

”Jika kau lebih siap dan telah mengetahuinya lebih dalam, apakah kau siap melawannya lagi?” tanya orang berkedok.

”Entahlah, yang jelas dalam waktu dekat ini aku tidak mau berhadapan dengannya lagi…” desah lelaki ini dengan mata mengandung riak emosi. Kawannya menatap lelaki dihadapannya dengan kening berkerut, pemandangan seperti itu pernah terjadi dua puluh tahun yang lalu. Tak disangka hari ini, kawan seperjuangannya kembali menampilkan emosi berlebihan.

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s