82 – Bertanding Lagi

Jaka mengikuti ke lima orang itu dengan cara yang unik, terkadang mereka melesat cepat, terkadang mereka berjalan perlahan. Wilayah yang mereka tuju juga tidak ada satu orangpun terlihat—atau seperti itulah keadaannya, maklum saja, mereka berjalan mendaki bukit yang nampaknya tidak pernah dijamah orang. Jaka melewati jalan yang cukup familier baginya, jika dia harus sedikit membelok di utara, maka akan sampailah di ditebing jalan masuk kearah Kota Pagaruyung. Hal itu sudah membuat pemuda ini cukup memikirkan beberapa hal. Tapi Jaka tidak ambil pusing, dia ingin segera menyelesaikan pertemuan hari ini, dan segera mengerjakan hal lain.

Akhirnya mereka sampai di sebuah dataran diatas bukit, sebuah rumah batu yang mungil cukup menjadi pokok perhatian siapapun. Para penjemput itu sudah berjalan menuju rumah. Jaka belum mengikuti, dia masih menikmati pemandangan disekitarnya. Rumah itu bersih, terawat, tidak ada lagi semak-semak liar dalam radius lima tombak dari rumah itu, beberapa bunga anggrek nampak berbunga indah di tiap sisinya.

Jaka memperhatikan itu dengan seksama, lalu mengedarkan pandangan mata lagi, dipuncak bukit yang cukup curam itu, lamat-lamat terdengar gemercik air, cukup mengherankan bagi Jaka, jarang dipuncak bukit ada mata air, jika di kaki bukit sudah bisa dipastikan. Terlihat olehnya orang-orang itu memberi isyarat padanya untuk mengikuti mereka. Semula Jaka mengira akan dibawa masuk lewat pintu depan rumah batu itu, ternyata mereka berjalan kearah belakang rumah. Salah satu dari mereka menarik tali yang tersamar di salah satu sulur-sulur liar.

Sebuah pintu di bawah pintu bagian belakang rumah terbuka, diam-diam Jaka cukup mewaspadai kejadian itu. Memasuki sebuah wilayah rahasia orang lain, membawa konsekuensi yang sangat dia pahami.

”Silahkan…” salah seorang dari kelimanya menyilahkan dirinya masuk lebih dulu.

Jika orang lain mungkin akan ragu-ragu dan curiga, tapi Jaka tidak. Dengan yakin, pemuda itu langsung masuk kedalam lubang itu, ternyata didalam ada tangga yang cukup banyak, menyambung dengan ruangan lain didalamnya.

Entah berapa lama mereka buang waktu dan tenaga untuk membuat hal ini, pikir Jaka. Dari bau dan bentuk bangunannya, Jaka bisa menduga lubang itu sudah dibuat cukup lama. Bisa jadi identitas orang berkedok pemilik Pancawisa adalah seseorang yang pernah dia duga.

Didalam ruangan bawah tanah itu, ada seseorang yang memandu Jaka untuk memasuki ruangan lain. Sepanjang perjalanan, Jaka mengedarkan pandangan, pantas saja ada seorang petunjuk jalan, jika dia berjalan sendiri mungkin akan salah jalan. Ada banyak liang dan bentuk ruangan serupa di sana. Setidaknya tiap ruangan yang di masuki ada tujuh ruangan lain. Hal itu mengingatkan Jaka pada bentuk Gua Batu yang juga memiliki banyak celah masuk.

Akhirnya, Jaka sampai pada sebuah ruangan seluas—setidaknya—15 x 15 meter. Di pojokan ruangan itu ada meja dan kursi, diatas meja penuh dengan makanan. Jaka merasa cukup heran dengan hal itu, mendadak dari dinding timur, terdengar suara bergemuruh perlahan, sebuah pintu geser, terkuak lebar. Muncul tiga orang dari dalam. Seorang berkedok yang mempunyai Pancawisa, pernah Jaka temui di kuil ireng. Sedangkan keduanya Jaka tidak pernah menjumpainya.

Tapi ada salah seorang dari mereka mendapat perhatian Jaka, dia seorang lelaki paruh baya dengan sorot mata seperti ikan mati, buram dan suram, tapi menusuk sebuah kombinasi yang menakutkan. Ciri itu pernah diceritakan oleh Kaliagni padanya. Diam-diam, pemuda ini menghela nafas dingin. Sedangkan satu orang lainnya, juga lelaki paruh baya, cirinya mengingatkan Jaka pada Ki Alih, orang itu sangat biasa, cirinya sangat umum, kau bisa dengan mudah menemukan sebelas orang berciri serupa di jalanan.

”Akhirnya kau datang juga… silahkan!” si Kedok membuka suara.

”Sebentar! Aku ingin memastikan satu hal…” lelaki dengan mata suram membuka suara. Suaranya meski lirih, tapi jernih, pengucapannya sangat sempurna.

Jaka memperhatikan mereka dengan seksama, dia memang suka dengan hal-hal baru yang cukup membuat darahnya bergelora. Dan agaknya kejadian berikutnya akan membuat dia bersemangat.

”Benarkah kau keturunan Tabib Hidup Mati?” lelaki bermata suram menatap tajam pada Jaka.

Jaka tersenyum, pengakuan ngawurnya waktu di Kuil Ireng ternyata sudah mengguncangkan sendi kelompok si Kedok. Jika lelaki itu bermaksud meminta penjelasan, tentu ada hal menarik didalamnya. Dengan sangat mantap Jaka mengangguk.

”Aku tidak percaya!” seru lelaki itu dengan tegas.

”Aku tidak pernah menyuruhmu percaya…” sahut Jaka dengan senyum makin melebar.

Hal ini cukup mengherankan bagi di kedok dan lelaki bertampang biasa. Orang-orang yang mendapat pertanyaan dari lelaki bermata suram itu, biasanya akan gugup dan gelisah, bahkan kadang mereka tak bisa menyimpan rahasia lagi. Tapi melihat tamu mereka malah balas menatap Si Mata Suram dengan wajah berseri tawa, adalah hal baru yang hanya terjadi kali ini saja!

”Karena keturunan Tabib Hidup-Mati, tidak akan bertindak setolol dirimu, mencoba memunahkan racun dengan cara bodoh!” ketusnya dengan nada yang terdengar meninggi.

”Ya, kau benar. Memang cuma orang tolol yang mau mencoba racun…” ujar Jaka manggut-manggut. Hal itu menggirangkan mereka, seolah pemuda itu sudah dipengaruhi kharisma Si Mata Suram. ”Dengan demikian, tiap orang yang tak mau mencoba racun adalah keturunan tabib mati-hidup, benar begitu?” pernyataan Jaka membuat mereka malu, tak tahunya jawaban pertama tadi hanya basa-basi demi mematahkan tuduhan di mata suram dengan mengeluarkan argumen bodoh.

Dari kalimat terakhir pemuda itu, tentu saja Si Mata Suram cukup paham dia tidak akan menang berdebat. Maka jawaban yang paling tepat untuk menuntaskan tuduhannya adalah menguji secara langsung.

”Aku akan membenarkan tuduhanku!” usai berkata demikian, Si Mata Suram sudah melangkah kedepan, langkahnya lambat, tapi tubuhnya mendadak sudah berada di hadapan Jaka. Betapa cepat gerakannya, Jaka belum pernah menyaksikan gerakan semacam itu. Tapi dalam tempo sesingkat itu, Jaka sudah memundurkan langkahnya sejengkal dan menanti apa yang akan terjadi.

Sebuah gairah yang aneh sontak muncul dari dirinya, gairah yang meletup-letup karena menemukan hal baru. Wajah pemuda ini menampilkan rona senyum, tak ada keterkejutan melihat lawan sudah begitu dekat dengannya, apalagi Si Mata Suram juga sudah mengulurkan tangan untuk mencengkeram bahunya. Gerakan itu sangat sederhana, tapi dilakukan dengan kecepatan bagai kilat, membuat siapapun tak akan bisa mengelak!

Demikian juga dengan Jaka, dia tak bisa mengelak… bukan tak bisa, tapi tak mau mengelak! Bahunya dicengkeram dengan keras, seberkas tenaga yang mengingatkan Jaka pada Beruang, melingkupi dirinya. Cengkeraman lelaki itu seperti totokan, hawa yang menjalar dari cengkeramannya juga terasa membuat otot menjadi letih dan mengantuk, hal itu kembali mengingatkan Jaka pada kemampuan Samira yang dimiliki Serigala. Orang itu ternyata juga mampu mengubah hawa membunuhnya menjadi sebuah tenaga serangan yang melumpuhkan, sangat jenius!

Jaka memajukan langkahnya kembali, hanya satu jengkal, dan langkah itu membuat Si Mata Suram sedikit tertekan dan tersurut satu langkah, tapi cengkeramannya tetap berada di bahu pemuda itu.

Mendadak Si Mata Suram melepaskan tangannya, matanya yang tanpa gelombang itu seperti beriak, ada gejolak, seolah dia sangat terkejut! Cengkeraman yang dia lepas dibarengi dengan sebuah tebasan miring dengan tapak tangan kirinya yang mengarah telinga Jaka.

Pemuda itu bisa melihat serangan Si Mata Suram benar-benar jauh dari variasi dan keindahan, namun sangat efektif. Tak menanti tebasan secepat petir itu menghajar telinganya, Jaka memajukan langkah dan menjulurkan lehernya! Karena bacokan itu kehilangan sasaran, dengan sendirinya serangan Si Mata Suram berubah menjadi rangkulan. Tiap orang merasa heran dengan tindakan bodoh Jaka Bayu. Caranya menghindar itu, bukankah sama saja menyerahkan diri untuk dilibat Si Mata Suram?

Tapi, ada sebuah keanehan… ternyata gerakan mengumpankan diri Jaka, ditanggapi lain oleh Si Mata Suram. Dia melompat kebelakang sampai tiga tindak, dan memperhatikan lawannya dengan tatapan terheran-heran.

Jaka menatap lawannya dengan bibir tersenyum. ”Kau sudah mendapatkan jawaban dari tuduhanmu?”

Si Mata Suram tidak menjawab, dia mengundurkan diri dan kembali berdiri disisi si kedok. “Aku tidak dapat memaksakan tuduhanku.” Ujarnya dengan suara dingin.

Jaka manggut-manggut. “Apapun alasannya memang tidak baik memaksakan kehendak pada orang lain…” jawaban pemuda ini yang seolah tidak pernah ada kejadian tadi, membuat mereka bertiga malu.

Keheningan sesaat melingkup sesaat, “Baiklah, silahkan duduk… banyak yang harus kita bicarakan.” Si Kedok mengambil inisiatif mencairkan suasana.

Jaka mengiyakan dengan mengambil tempat duduk, setelah ketiga orang itu duduk lebih dahulu. Orang berkedok itu mempersilahkan Jaka bersantap, tanpa basa-basi pemuda ini mengambil beberapa lauk, yang diikuti ketiga orang itu.

“Apakah kita akan membahas rencana yang lalu? Jika di luar masalah itu, mohon maaf, aku benar-benar tidak memiliki waktu untuk berbicara hal lain.” Tegas pemuda ini membatasi makna pertemuan mereka, setelah mereka selesai bersantap.

Si Kedok mengangguk. “Ya, aku juga tidak tertarik membahas hal lain.”

“Silahkan, utarakan buah pikiranmu…” ujar Jaka langsung kepada pokok masalah, tanpa basa-basi.

Si kedok tampak termenung sesaat, kemudian dia menoleh pada lelaki yang bertampang sangat biasa. “Bagaimana perkembangan terkini?” tanyanya. Jaka diam-diam menggerutu, padahal Si Kedok ini cukup mengemukakan saja, tak perlu melempar lagi pada kawannya untuk menjelaskan.

Dengan mengangguk hormat, lelaki ini melaporkan. “Perguruan Naga Batu sudah mulai bergerak, adanya serbuan yang tidak mereka perhitungkan membuat mereka bertindak cepat dengan menyambut tamu-tamu undangan, jaduh dari wilayah kota ini. Setelah kita selidiki, ada tiga kelompok yang memiliki kepentingan berbeda saling bertarung dalam perguruan itu. Yang pertama; seorang pion bernama Bergola tak lebih dari kepanjangan tangan murid utama.”

“Siapa murid utama yang kau maksud?”

“Wingit Laksa..”

“Mengapa dia harus berhubungan dengan Bergola?”

“Menurut analisaku, ada hubungannya dengan Datuk Mata Merah.”

“Hei, bukankah orang itu sudah mati? Apa hubungannya murid utama Naga Batu dengan iblis itu?”

Barulah Jaka paham, kenapa lelaki itu menyuruh kawannya yang melaporkan, tanya-jawab semacam ini bisa membuat laporan jauh lebih lengkap dan tak ada sesuatupun yang tertinggal karena terlupa.

“Dari jalur informasi yang kita dapatkan, kematian iblis itu berkaitan dengan Perguruan Sampar Angin, konon katanya kelompok Kilat yang membasmi Datuk Mata Merah. Hampir semua yang berkaitan dengan Datuk Mata Merah tidak bersisa lagi, tapi kelompok Kilat melupakan satu hal…”

“Apa itu?”

“Beberapa keturunan Datuk Mata Merah dititipkan di berbagai perguruan terkemuka, mereka masuk dengan cara sebagai anak angkat dari orang-orang yang ditimpa bencana alam. Sehingga para perguruan besar itu tidak curiga dengan asal muasal calon muridnya.”

Orang berkedok manggut-manggut. “Jadi Wingit Laksa dicurigai sebagai keturunan Datuk Mata Merah?”

“Bukan dicurigai, tapi dia memang anaknya!”

Jaka menyimak tanya jawab itu dengan kening berkerut, dia memang pernah mendengar Danu Tirta sempat menyebut masalah Datuk Mata Merah yang dibasmi Kelompok Kilat dari perguruannya, cuma dia tidak menduga ada detail semacam itu. Betapa hebatnya orang-orang dihadapannya menghimpun informasi!

“Lalu, apa hubungan Bergola dengan Wingit Laksa?”

“Bergola pernah diasuh oleh Datuk Mata Merah dalam waktu yang singkat, hubungan mereka cukup dekat, seperti adik dan kakak.”

Orang berkedok itu menghela nafas panjang. “Ternyata demikian…” gumamnya. “Apa yang dilakukan Bergola bagi Wingit Laksa?”

“Bergola berguru pada wakil tetua perkumpulan pengemis cabang selatan, itu atas ide Wingit Laksa…”

“Kenapa?”

“Wakil tetua perkumpulan pengemis cabang selatan, memiliki tabiat yang berangasan dan tidak ingin kalah, dia sangat mudah dihasut, Bergola berhasil merebut hati orang tua itu. Dengan sendirinya tiap langkahnya selalu di ikuti gurunya, orang itu menjadi pelindung Bergola yang sewaktu-waktu bisa menyumbangkan tenaga dari perkumpulannya yang memiliki jumlah ratusan orang.”

“Oh, ternyata begitu…” gumam orang berkedok sembari menatap Jaka, dilihatnya pemuda itu sedang menyimak tanya-jawab mereka dengan khidmat. “Tapi kenapa wakil tetua perkumpulan pengemis cabang selatan tidak lagi terdengar kabarnya? Bukankah dia sempat mampir kesebuah penginapan? Bahkan sebelumnya orang itu juga memancing onar dengan anak murid Merak Inggil dan kawan-kawannya?”

“Untuk jawaban itu, seharusnya dia yang menjawab …” ujar lelaki bertampang biasa sambil memalingkan kepala kearah Jaka.

Jaka tersenyum, dalam hati pemuda ini sangat terperanjat menyadari betapa luasnya jaringan informasi orang berkedok itu. “Mungkin orang itu sudah merasa dirinya tua, jadi sudah seharusnya dia mengundurkan diri.” Ujarnya singkat.

“Pantas…” gumam lelaki bertampang biasa ini menatap Jaka sesaat, entah kalimat ‘pantas’ itu mengiyakan ucapan Jaka, atau karena pemuda itu sangat ‘pantas’ bisa ‘menggebah’ wakil tetua perkumpulan pengemis cabang selatan dengan cara yang unik.

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s