81 – Tamu-tamu Hebat

Mintaraga mengerjakan tugasnya dengan sungguh-sungguh, dia tidak ingin mengecewakan Jaka Bayu, dewa penolongnya. Manakala pemuda itu meminta dia untuk membuka mata dan telinga untuk menyirap kabar diseluruh penjuru kota, ia lakukan itu dengan baik.

Jaka memang sudah memiliki Penikam yang sanggup menghimpun sumber daya informasi dari segala kalangan, pemuda itu tidak menyangsikanya, tapi justru karena Penikam juga pendatang di Kota Pagaruyung, maka Jaka memerlukan semacam informasi yang sudah mengakar dasar, informasi remeh, yang justru lebih di kuasai oleh Mintaraga.

Saat itu, beberapa orang kepercayaan Mintaraga menyaksikan dua orang masuk kedalam warung ronde, padahal tempat itu sudah tutup. Gerak-gerik mereka sangat luwes dan tidak mengundang rasa curiga, siapapun orangnya yang mampir di sebuah warung yang sudah tutup—hanya sekedar menjenguk—dalah sangat wajar. Tapi, jika mereka adalah orang Pagaruyung asli, tutupnya warung Ki Sempana mengartikan satu hal. Jangan ganggu aku! Tak perduli kau menangis dan berak di depan warungnya, pak tua itu tak akan keluar dari rumahnya, bahkan untuk melongok dari jendela juga tak akan dia lakukan. Itu sudah jadi pengetahuan umum di kota Pagarayung.

Dan beberapa teman Mintaraga, melihat ada orang yang masuk kedalam warung yang sudah tertutup, mereka sadar, pasti keduanya pendatang dan tidak mungkin berniat baik! Berhubung jarak mereka dengan teman-teman yang lain cukup jauh, maka keduanya berinisiatif mencari jalan masuk untuk melihat keadaan.

Suara mengaduh Ki Sempana, yang samar sempat mereka dengar, sadar dengan kemampuan yang terbatas keduanya berkeputusan untuk menggali lorong dekat jalur buangan air. Mereka memang bukan siapa-siapa, hanya kebetulan keahlian mereka justru adalah menggali, untuk menggali tanah lembek di sekitar rumah Ki Sempana sampai menuju jalur dalam ruangan, tak sampai satu jam mereka lakukan.

Mereka bukan orang-orang dunia persilatan, tapi mereka tahu, orang-orang yang berkecimpung di dunia persilatan pasti memiliki pendengaran tajam, keduanya mengira-ira waktu yang tempat untuk masuk kedalam. Begitu ’tamu-tamu’ Ki Sempana keluar dari rumah, mereka langsung mempercepat penggalian, dan disaat yang tepat berhasil meraih tubuh Ki Sempana.

Begitu sampai di luar keduanya masih merasakan dahsyatnya hawa panas yang meranggas di warung Ki Sempana, dengan tertatih mereka menggotong pak tua itu kedalam pekarangan di belakang warung. Melihat luka-luka yang diderita pak tua itu, keduanya sepakat untuk meminta pertolongan Mintaraga.

Salah seorang dari mereka memanjat pohon tertinggi di sekitar lingkungan itu, lalu mengeluarkan tembaga dan mencari-cari sinar matahari untuk memantulkan ke arah lain. Pantulan sinar matahari yang hanya beberapa kejap, ternyata ditangkap oleh orang lain di wilayah berbeda, mereka juga melakukan hal serupa. Begitu menerima balasan, orang ini turun.

”Bagaimana dengan kondisinya?”

”Sangat parah! aku tak tahu apakah orang ini masih bisa bertahan atau tidak…” jawabnya dengan panik.

”Mudah-mudahan bantuan segera datang, aku akan mengambil pedati dari rumah, kau tunggu disini..” orang yang memberi isyarat pantulan itu berkata pada kawannya.

”Bergegaslah, aku tak sanggup melihat kondisi orang ini..”

Dengan tergesa, orang ini segera pergi meninggalkan kawannya. Untung saja rumahnya hanya berjarak puluhan tombak dari warung Ki Sempana, tak berapa lama kemudian, dia membawa pedati yang ditarik seekor kerbau. Supaya  tidak menimbulkan kecurigaan, dia terpaksa lewati jalan memutar. Keduanya segera membawa Ki Sempana untuk di baringkan kedalam gerobak pedati. Lambat laju pedati itu membuat keduanya cemas dengan kondisi Ki Sempana yang terus mengeluarkan darah, mereka sebisanya memapatkan darah dengan cara membalut dengan kain bersih.

Untunglah, beberapa langkah didepan sudah ada empat orang menyongsong keduanya. Salah satu dari mereka adalah Mintaraga.

”Apa yang terjadi?” tanya Mintaraga sembari melihat kedalam gerobak dan wajahnya menampilkan rona kejut.

Keduanya segera bergantian menceritakan apa yang terjadi, disela-sela kesibukan Mintaraga yang mencoba melakukan pertolongan lanjutan.

”Ganti kerbau itu dengan kuda… bawa dia kerumahku.” pinta Mintaraga pada kawan-kawannya. Dengan cekatan mereka segera meninggalkan Mintaraga untuk melaksanakan perintaannya.

Menyaksikan mereka meninggalkan dirinya, Mintaraga pun berlalu dengan hati galau. Kelihatannya badai sudah mulai menyelimuti kota ini, pikirnya resah.

***

 

Waktu sudah memasuki siang hari, jalanan bertebing menuju Kota Pagaruyung sudah sangat sepi, tapi lamat-lamat dari kejauhan terdengar derap suara kuda memecah sepi. Seperti yang terjadi sebelumnya, rombongan berkuda inipun berhenti di benteng ilusi.

Salah seorang yang berkepala polos memperhatikan dengan seksama lalu wajahnya berubah.

”Apa ada orang seperti ini?” gumamnya.

Dari dalam kereta berkuda, terdengar seseorang menegur. ”Kenapa kita berhenti? Bukankah sebentar lagi sampai?” suaranya lirih, tapi memiliki wibawa sangat kuat.

Seorang lelaki yang berdandan ala pedagang dan berwajah tirus menyahut dengan hormat. ”Ada sesuatu yang mungkin harus tuan periksa.”

Tak terdengar jawaban dari dalam, tapi beberapa saat kemudian pintu kereta kuda itu terbuka. Keluarlah sosok lelaki berusia empat puluhan, bertubuh kekar dengan bahu lebar, roman wajah tak terlalu tampan, namun terlihat begitu perkasa, orang yang memperhatikan wajahnya akan selalu timbul rasa hormat. Begitu dia keluar, yang pertama dilihat adalah bekas pertempuran yang berceceran di tanah.

Terdengar helaan nafas panjang dari hidung lelaki itu.

”Apa kesimpulanmu tuan?” tanya orang yang berperawakan mirip dirinya.

Lelaki itu tidak menjawab untuk sesaat, dia menjejakkan langkah tepat di bekas ’pusat’ serangan, seperti yang pernah Hastin lakukan. Dari sana dia memperhatikan tujuh bekas jalur serangan yang menuju kearah ’pusat’ dimana dia berdiri. Wajahnya agak berubah, tapi dia menyadari ada beberapa langkah kaki disampingnya, dan dia mengikuti langkah itu. Wajahnya nampak berubah lagi, dengan memicingkan mata pertarungan ’imajinasi’ dilakukannya berdasarkan serangan yang terpampang di tanah… usai melakukan itu lelaki ini terpekur sesaat.

Selanjutnya lelaki ini menghembuskan nafas panjang, di perhatikan dinding tebing, ada dua cekungan tapak kaki yang membuat dinding tebing melesak bagai terkena bongkahan batu raksasa. Dia melesat keatas dengan begitu ringan, memeriksanya sebentar, lalu turun.

”Menurutmu apa yang terjadi?” tiba-tiba lelaki itu bertanya pada orang yang memiliki perawakan sama dengan dirinya.

”Aku melihat jejak Tujuh Satwa menghadapi seseorang, dia sangat dominan dan mampu mengatasi serangan Tujuh Satwa.” jelasnya.

Lelaki ini mengangguk. ”Kutambahkan lagi, bukan tujuh orang… tapi sembilan. Salah seorang dari mereka adalah Baginda.” keterangan itu membuat ketiga orang yang mengiringinya terkesip. ”dan jejak terakhir yang dibuat diatas sana… dilakukan baru-baru ini, tidak satu waktu. Aku tak tahu maksudnya apa, mungkin untuk menantang atau sedang mengukur kesanggupan dirinya. Terus terang aku tidak bisa mengambil kesimpulan apapun. Tujuh Satwa Satu Baginda adalah bintang-bintang dalam dunia persilatan yang tidak boleh dipandang remeh oleh siapapun!” ujarnya dengan tegas. ”Tapi, akupun tak menutup mata bahwa ada langit diatas langit.” sambungnya dengan mantap, seolah mementahkan ucapan sendiri.

”Apakah kau bisa meladeninya?” tanya orang yang berkepala polos.

Lelaki itu tertawa, suaranya keras menggelegar, betapapun awamnya orang, akan segera tahu betapa lelaki itu memiliki himpunan hawa sakti sangat kuat. Ketiga orang yang mengikuti dirinya heran dengan tawa lelaki itu, tak biasanya dia bertindak begitu.

”Aku tak bisa menjawab pertanyaanmu berdasarkan jejak ini.” katanya tak secara langsung mengatakan ’tidak’.

Suasana jadi hening, lelaki itu mengatupkan matanya, kepalanya miring kekiri dan kekanan. ”Sepertinya kita harus menunggu disini untuk beberapa waktu.” ujarnya dengan suara lirih.

”Mengapa?” tanya orang berkepala polos itu terheran-heran.

”Sebab akan datang seseorang yang mulai memanfaatkan bekas pertarungan ini. Apapun maksud tujuan orang itu, dia sangat sukses membuat semua orang harus berhenti disini.” cetus lelaki ini dengan tatapan mata melihat jauh kengarai disampingnya. Tentu saja yang di maksud ’nya’ oleh dia adalah, orang yang memanfaatkan ’bekas pertempuran’ itu. Barulah ketiganya paham kenapa lelaki ini tertawa keras, itu adalah tanda kepada siapapun yang ingin memanfaatkan ’bekas pertarungan’, untuk segera datang ketempat mereka berada.

”Apakah, kita masih lama berhenti disini?” tiba-tiba suara yang halus lembut seperti berbisik terdengar dari dalam kereta.

Wajah lelaki itu nampak melembut mendengar suara barusan. ”Ya, kita melihat situasi sejenak.” katanya seraya masuk kedalam kereta.

Ketiga pengikut lelaki itu langsung bersiaga disekitar kereta, sebab mereka tidak tahu apa dan siapa yang akan datang menemui mereka.

Desau angin menerpa jalanan, membuat suara menggemuruh yang bisa membuat orang memicingkan mata untuk melindunginya dari debu, angin itu hanya bertiup sesaat. Dan ketiga orang itupun hanya sesaat memicingkan matanya. Namun begitu mereka menegaskan kembali pandangan mata, ketiganya terkejut sekali melihat dihadapan mereka ada seorang lelaki mengenakan baju hitam, berwajah sangat biasa, tidak membuat orang terancam—karena kehadirannya tak memberikan ancaman, juga tak membuat orang memberikan perhatian lebih. Tapi kehadiran orang semacam itu justru sangat menakutkan, karena membuat orang lengah.

”Tidak disangka, kalian akan datang sangat cepat. Kupikir paling cepat nanti sore.” suara yang datar dan tanpa tekanan nada membuat orang jadi bergidik, ketiganya segera bersiaga menghalang didepan kereta. ”Apakah kalian berjalan terus tanpa henti?” sambungnya lagi

”Siapa kau?” tanya orang berwajah tirus sembari berjalan satu langkah.

”Aku bukan siapa-siapa, hanya pembawa pesan saja.” jawab pendatang itu dengan nada yang tak sedap didengar.

”Katakan apa pesanmu.” kata orang berbadan tegap meningkatkan kewaspadaan.

”Pesanku tidak dalam kata…” beberapa patah katanya, disertai langkah yang kian mendekat.

Ketiganya orang itu segera waspada dan maju mendekat pula. ”Lalu apa?” seru lelaki berkepala polos dengan tegang. Dia bukan tokoh kemarin sore, pengalamannya berkelana di dunia persilatan sudah belasan tahun. Tapi menghadapi orang yang tak ketahuan juntrungannya itu, hatinya berdebar-debar tidak enak.

”Ini…” hanya sepatah kata itu, tapi tangannya bergerak perlahan kedepan memukul begitu perlahan.

Ketiganya yang sudah bersiap-siap-pun terkejut dengan gerakan pendatang itu. Mereka memasang tameng hawa sakti secara penuh, bukan karena mereka menyangsikan orang yang mereka kawal, tapi karena mereka saat ini berposisi sebagai pengawal! Melewati mereka bertiga artinya penghinaan tiada tara! Tapi tak disangka, orang aneh itu hanya memukul perlahan, ketiganya tidak merasakan sesuatu yang mencemaskan. Dengan heran mereka menatap penghadang itu.

”Menyingkir!” tiba-tiba dari dalam kereta terdengar bentakan menggelegar. Tanpa menoleh ketiganya segera menyibak kesamping, dan detik itu juga, kerai bagian depan kereta itu, hancur menjadi debu. Dan deruan angin pukulan secepat kilat, mengincar dada pendatang itu.

Ketiga pengawal itu sangat maklum dengan kehebatan tinju orang yang dikawal, agaknya si pendatang inipun sadar dengan kedahsyatan serangan yang dilontarkan dari dalam kereta, dengan cekatan orang itu mundur empat langkah, lalu dia melakukan pukulan lambannya lagi.

’Aku percaya pada analisamu Jaka!’ batin orang ini, ternyata dia adalah Ki Alih, si Kepalan Arhat Tujuh. Jika ingin keras lawan keras, dia sangat bisa melakukannya, tapi lelaki paruh baya ini sangat percaya dengan perhitungan Jaka Bayu. Meski sempat terbetik dalam pikirannya—dalam kilasan kurang dari satu detik itu, bahwa pukulan semacam itu tak mungkin dilawan dengan pukulan lamban ajaran Jaka.

”Ih…!!” dari dalam terdengar teriakan kaget, mendadak lelaki bertubuh kekar itu menerobos keluar dengan cepat, dia ingin melihat orang macam apa yang sanggup membuyarkan pukulannya. Bukan cuma membuyarkan, tapi malah ada semacam rambatan tenaga yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat, tenaga itu tidak membahayakan, tapi bisa menyusup tanpa dia sadari dan tahu-tahu denyut jantungnya dipaksa berdetak lebih cepat, adalah sebuah kejadian yang tak pernah dialami seumur hidup!

Lelaki itu adalah Sakta Glagah si Raja Kepalan. Jika saja perjumpaan itu adalah petemuan resmi, perjuampaan maestro pukulan, antara Kepalan Arhat Tujuh dengan Raja Kepalan adalah sebuah sejarah dalam dunia persilatan. Sayangnya kini mereka berjumpa dengan tidak mengetahui kondisi masing-masing, lebih tepatnya Sakta Glagah tidak tahu dengan siapa dia berhadapan.

”Aku sudah menerima pesanmu!” kata Sakta Glagah dengan wajah datar.

Ki Alih dengan nada yang tanpa intonasi, menyahut. ”Terima kasih.”

”Apa maumu sebenarnya?” tanya Sakta Glagah heran, dia memperhatikan lelaki dihadapanannya, dicoba menggali dalam ingatannya seluruh informasi orang-orang yang memiliki kemampuan aneh seperti lelaki dihadapannya, tapi dia tak menjumpai satu nama-pun yang cocok. Dia mengira tadi adalah Pukulan Hawa Membuyar Berkirim Kabar milik Walet Hijau, tapi pukulan itu hanya mengenai rintangan didepannya, untuk memukul sasaran di belakang. Tapi jurus lelaki aneh itu tidak demikian.

”Hanya meminta perhatianmu saja.” jawab Ki Alih dengan nada mulai mencair. Dari baik bajunya dia mengeluarkan sebuah bungkusan kecil. ”Ada yang harus kau perhatikan dengan lebih seksama mulai saat ini…”

Sakta Glagah adalah lelaki yang memiliki ketegasan dalam bertindak, dia melihat orang dihadapannya tak membawa maksud jahat. Tanpa ragu, dia menerima bungkusan itu lalu diperiksannya dengan hati-hati.

Sebuah tulisan dengan goresan yang kuat, itu hal pertama yang Sakta Glagah lihat, berikutnya adalah kalimat yang menyatakan sebuah resep. Wajahnya benar-benar berubah, ketiga orang pengiringnya, yakni : Kepalan Maut lelaki berbadan tegap, si kepala polos Elang Emas, dan Pecut Sakti Ekor Tujuh yang berwajah tirus, belum pernah melihat Sakta Glagah menjadi pucat pasi seperti itu.

”Siapa sebenarnya kalian?” Sakta Glagah bertanya dengan nada sumbang.

Ki Alih masih diam, dia menatap wajah-wajah bingung di hadapannya. ”Jika mau, kau bisa anggap kami sebagai sahabat.”

Mendengar suara Ki Alih yang masih datar tanpa intonasi tidak membuat keempat orang itu merasa risih.

”Sahabat… hahaha… sahabat…” Sakta Glagah tertawa, entah tertawa riang atau tertawa prihatin. ”Baik! Memiliki sahabat seperti kau, aku tidak akan rugi!” tegasnya. ”Tapi akupun tak mau kau merasa rugi, jika aku bersahabat dengan orang lain, akupun akan melakukan hal terbaik bagi sahabatku. Hendaknya kau beritahukan padaku, dimana aku bisa menjumpai dirimu… menjumpai kalian?”

Ki Alih tidak menjawab, dia membalikan badannya lalu melesat pesat masuk kedalam jurang. ”Manakala kau membutuhkan pertemuan, kau akan menjumpai aku. Menjumpai kami…” terdengar suara Ki Alih dari kejauhan.

Sakta Glagah masih termenung menatap arah pergi Ki Alih. ”Aih, aku tidak pernah menyangka ada manusia memiliki kemampuan demikian aneh…” gumamnya.

”Dimana keanehannya?” tanya Pecut Sakti Ekor Tujuh memecah keheningan yang kembali menyapu jalanan.

”Aku ditasbihkan orang sebagai ahli pukulan, tapi pukulan orang itu… aku tidak pernah tahu dan tidak pernah mendengar, ada hal semacam itu…” lalu Sakta Glagah menceritakan perasaanya saat tadi dia mendapat ’pukulan’ lemah, dan saat pukulan dibuyarkan.

Kepalan Maut, sebagai orang yang juga menguasai beragam jenis teknik pukulan termenung mendengar rincian itu. ”Tapi, bukankah itu tidak membahayakan?” ujarnya.

”Tidak ada satu halpun yang tidak membahayakan dimuka bumi ini, tergantung dari mana kau memandangnya. Pukulan itu hanya menaikan detak jantungku satu kali lipat, tapi jika aku mendapat kenaikan seratus kali lipat, apa jantungku mampu memompa sebanyak itu?”

Mendengar penjelasan itu, mereka baru memahami. ”Ternyata dunia itu sangat luas…” gumam Kepalan Maut dengan mata menerawang.

”Tapi, apa mungkin orang itu yang melawan tujuh satwa?” tiba-tiba Elang Emas menukas.

”Bisa jadi, tapi aku tidak akan menebak sembarangan. Sebab ini berkaitan dengan nama baik seseorang.” yang dimaksud Sakta Glagah, adalah nama baik Tujuh Satwa Satu Baginda.

”Lalu apa yang di berikan padamu?” tanya Elang Emas.

”Sebuah resep obat… obat yang sangat kubutuhkan. Benar-benar kubutuhkan…” desisnya dengan suara sumbang, wajahnya tampak mengeras menakutkan.

Lalu mereka memutuskan untuk kembali meneruskan perjalanan. Desau angin kembali menerpa dinding tebing yang menjadi saksi beragam kejadian aneh.

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s