78 – Membesarkan Bibit Api dan Angin

Ludra hanya memperhatikan keheranan Ki Alih dengan pandang mata bingung pula, dia selalu ingin mengucapkan terima kasih kepada salah satu penolongnya ini, tapi situasinya benar-benar tidak memungkinkan. Boleh dibilang nyawanya memang diselamatkan Jaka Bayu, tapi orang inilah yang melakukan pertolongan pertama di tempat kejadian!

Cukup memusingkan mengetahui fakta baru, tapi Ki Alih memutuskan untuk tidak memikirkannya lagi, ada pekerjaan yang lebih penting untuk dikerjakan saat ini!

“Kalian perhatikan keadaan disekelilingku. Aku akan menyapa orang-orang diatas.” Desisnya.

Ludra mengiyakan, beserta teman-temannya, dia bergegas pergi menyebar keseluruh penjuru. Ki Alih mempersiapkan segala sesuatunya sambil kembali menganalisa persoalan secara detail. Pada saat Jaka bertemu dengan orang berkedok di seputar Kuil Ireng, pemuda itu mengatakan hendak; memancing, menyulut api dan membumbui. Sebagai salah satu dari tujuh orang yang ikut bersembunyi dalam Kuil Ireng dan memperhatikan seluruh percakapan Jaka, dia paham benar apa yang diinginkan pemuda itu.

Bibit Angin adalah Benteng Ilusi, mengenai bibit Api; banyak sekali! Menurutnya, saat ini Para Pemabuk Berkaki Cepat adalah salah satu bibit Api yang diharapkan. ‘Memasak’ dengan api tanpa ‘angin’, tidak akan menambah besar api. Tetapi jika terlalu besar api, karena hembusan angin, segala sesuatunya akan melebar, dan tidak fokus. Mungkin saja menurut Jaka, ketidak fokusan ini akan membuat masakan mereka ‘hangus’ dan inilah yang dihendaki pemuda itu. Rencana bertajuk ‘tumis ikan arang’. Seolah ingin melempar anjing, tapi yang kena babi. Boleh dibilang tipu bersuara di timur menyerang barat. Tapi caranya sangat rumit dan sulit di lacak. Mengingat begitu banyak pihak yang terlibat di dalam pusaran masalah Perguruan Naga Batu, mungkin menurut Jaka, hanya inilah cara yang tepat untuk memancing keluar seluruh pihak yang berkepentingan.

Tanda Silam yang di sebarkan oleh Penikam, nampaknya membuahkan hasil yang cukup mencairkan kejenuhan di rumitnya persoalan Perguruan Naga Batu. Orang-orang yang tidak ada hubungannya dengan persoalan ini, mereka tidak memiliki undangan dari Perguruan Naga Batu—hanya kusus di berikan pada enam belas perguruan besar. Tentunya, sangat mudah baginya untuk ‘menggosok’ orang-orang ini.

Ki Alih sudah mantap dengan rencananya, serpihan kayu bekas kereta Perkumpulan Pratyantara, dihancurkan dengan hawa saktinya hingga menjadi bubuk debu. Sekujur tubuhnya ditaburi debu-debu kayu yang bercampur mesiu itu. Dengan melejit pesat, Ki Alih mendaki dinding jurang bagai berjalan di jalanan datar. Nama Kepalan Arhat Tujuh disematkan padanya, karena lelaki itu memiliki keistimewaan pukulan, tendangan dan kecepatan geraknya bagai bayangan rangkap tujuh, bisa dibayangkan secepat apa dia bergerak.

Hanya dalam satu tarikan nafas, dinding jurang setinggi belasan tombak dia lalui dengan mudah. Ki Alih mencari tempat persembunyian yang strategis, dia mengamati keadaan dengan seksama. Hal pertama yang di lihat olehnya adalah benteng ilusi buatan Jaka. Sungguh dia tak pernah mengira, jejak ‘pertarungan’ Jaka, menjadi perhatian demikian banyak orang! Sedikitnya separuh dari orang-orang dari enam belas perguruan utama sedang mencermati ‘bekas pertempuran’ itu.

“Kau pikir siapa yang sanggup melakukan gebrakan seperti ini, apakah kau pernah mendengar ada tokoh seperti ini?” terdengar salah seorang anak murid Perguruan Lengan Tunggal melontar tanya pada rekannya. Tapi pertanyaan itu, seolah kalimat yang di tujukan pada setiap orang. Sebab tak ada satupun yang menjawab.

Mereka mengikuti alur pertarungan yang memecah pada tujuh jenis kekuatan berbeda, semua tertera jelas di tanah padas dan dinding tebing.

“Apa ini bukan Tujuh Satwa?” gumam salah seorang menduga-duga. Tapi itupun tak ada yang menimpali, sungguh mereka tak berani menyimpulkan terlalu dini. Tapi jika ada yang berani menduga semacam itu, tentu saja karena mereka melihat ada ‘jejak’ Tujuh Satwa pada ‘bekas pertarungan’ itu.

Tiba-tiba kesunyian di pecahkan oleh derap langkah terburu dari kejauhan, dilihat dari bajunya, dia adalah anak murid Perguruan Matahari Tanpa Sinar.

“Guru, Kakang… ada kabar menghebohkan!” seru orang ini pada salah satu rombongan yang di kawal oleh orang lelaki paruh baya.

“Ada apa?” Tanya pemuda yang bertampang angkuh ini melirik sekilas.

Dengan menyesuaikan nafas yang berkejaran si pendatang ini menghirup udara dalam-dalam. “Baru saja kudengar, Perguruan Naga Batu diserang orang!”

“Ah…” kejap berikutnya suara bagai kumpulan lebah mendengung di sekitar jalan batu itu. Berita itu begitu menghebohkan! Kontan saja tiap orang memperbincangkan, siapa yang punya nyawa rangkap menganggu Perguruan Naga Batu?

“Kau tidak salah dengar?” tegur lelaki paruh baya yang menyertai pemuda bertampang angkuh itu.

“Tidak guru Rudra Lugas…” sahut pemuda itu dengan takzim.

“Dari mana kau mendengar berita itu?” Tanya lelaki yang di sebut sebagai Rudra Lugas. Dari kejauhan Ki Alih menengarai lelaki itu ada hubungannya dengan Matahari Dua Bukit, Singo Lugas, mungkin adiknya.

“Anak murid perguruan itu sendiri, konon katanya Serigala yang menerobos masuk dan membuat kalut. Tapi aku juga mendengar, malah Beruang juga ikut merecoki Perguruan Naga Batu.”

Ah, Cambuk dan Penikam sudah bergerak cepat menyebar berita. Pikir Ki Alih dengan gembira. Kebetulan sekali, aku bisa bertindak dengan membawa nama kalangan Perguruan Naga Batu.

Disaat bersamaan ini, seharusnya Serigala-lah yang sedang mulai mengusik Perguruan Naga Batu. Jadi sangat tidak mungkin anak murid Perguruan Naga Batu mengetahui demikian cepat. Cepatnya berita ini menjalar pasti akan di telusuri oleh orang-orang Perguruan Naga Batu. Entah apapun hasil yang mereka dapatkan, kesimpulan yang akan mereka hasilkan adalah; Ada sesuatu yang ikut ‘bermain’ dengan kekuatan besar. Jika perhitungan Jaka benar, ‘sesuatu’ itu akan memikirkan ulang langkah-langkahnya. Tapi jika dia nekat meneruskan langkahnya, kemungkinan besar penggalangan kekuatan besar-besaran akan dilakukan Perguruan Naga Batu.

Keterangan tadi membuat orang-orang makin kalut, jika benar dua satwa yang paling susah dihadapi sudah ada di kota ini, artinya ‘pertempuran’ di tebing ini benar adanya.

“Sebenarnya apa yang sedang terjadi?” gumam Rudra Lugas kebingungan, sembari memperhatikan ‘bekas pertempuran’ dengan kening berkerut dalam.

“Guru, jika kabar itu benar datang dari anak murid Naga Batu. Artinya, ada satu tokoh besar yang sudah membuat tujuh satwa terpaksa harus menghadapinya secara bergilir…” pemuda bertampang angkuh ini tak berani menyatakan tujuh satwa ‘mengeroyok’ seseorang. Sebab dia paham, jika salah satu satwa mendengar ucapannya dan tersinggung, satu satwa saja bisa membuat perguruannya jungkir balik, konon lagi harus tujuh orang. “Apakah guru bisa mengambil kesimpulan siapa dia?”

Rudra Lugas menggeleng. “Jangan-jangan dia?” bisiknya.

“Dia siapa?” kejar pemuda yang tadi membawa berita menghebohkan.

“Kalian berdua sudah pernah melawannya!” tegas sang guru.

Wajah kedua pemuda itu tiba-tiba kemerahan dan memucat. Lelaki bertampang angkuh ini mengepalkan tangannya.

“Kukira bukan dia!” serunya dengan gigi bergemeletuk.

Sang guru menepuk bahu muridnya. “Aku tidak menyaksikan kau melawan dia, tapi aku dengar dari kakakku, bagaimana dia memunahkan Pancawisa Mahatmya. Cukup dari sini saja, aku pun harus mengakui diriku bukan lawannya.”

Ucapan Rudra Lugas menggegerkan orang-orang disekitar tebing, meskipun mereka tidak tahu seberapa tinggi kemahiran lelaki yang menjadi guru dua orang pemuda itu, tapi mereka paham. Perguruan Mentari Tanpa Sinar, tidak pernah membiarkan seorang anak murid dilatih oleh guru yang memiliki kemampuan semenjana. Yang menjadi pertanyaan, siapa orang yang dimaksud guru dan murid itu?

Keduanya tak mengatakan apa-apa, tetapi dari perubahan wajah keduanya seolah membenarkan ucapan gurunya.

“Mohon maaf…” mendadak seseorang mendekati ketiganya, dia pemuda berusia akhir dua puluhan, “saya Swatantra dari Perguruan Pedang Mentari.”

Rudra Lugas balas memberi hormat. Kedua muridnyapun membalas hormat Swatantra ala kadarnya. Di belakang Swatantra mengikut pula tiga orang pemuda lainnya. Mereka adalah Pancaksi dari Perguruan Awan Gunung, Kagendra dan Dwiya Galih dari Perguruan Merak Inggil. Swatantra memperkenalkan mereka satu per satu. Membuat Rudra Galih beserta murid-muridnya terkejut juga, sebab empat orang itu cukup memiliki nama di dunia persilatan.

“Ada keperluan apa?” Tanya Rudra Lugas mengerutkan kening.

“Sebenarnya ini tidak ada hubungannya, tapi maaf.. saya lancang bertanya. Tokoh seperti apa yang sedang tuan sekalian perbincangkan? Maaf, bukan bermaksud ingin ikut campur, tapi… di kalangan perguruan kami juga ada sedikit kehebohan dengan munculnya tanda yang seharusnya hanya bisa keluar jika keadaan kritis… sangat kritis.” Tutur Swatantra hati-hati.

“Oh…” Rudra Lugas terkejut, “Apakah maksudmu Tanda Silam?” tanyanya heran.

Swatantra mengiyakan, dia tidak terkejut jika kabar ‘Tanda Silam’ juga diketahui orang lain, sebab keluarnya lencana itu cukup menghebohkan dunia persilatan dan membuat beberapa tetua dari enam belas perguruan utama menjadi saksi.

Percakapan itu tidak menarik bagi Ki Alih, dia memutuskan untuk mencukupkan perbincangan yang tak ketahuan juntrungannya itu, dengan gerakan sangat pesat, dia melesat dari tempat persembunyiannya dan menghentakkan sebuah tendangan kearah dinding tebing, tepat disebelah tanda yang di buat Jaka.

Brak! Sebuah bekas tapak kaki melesak dalam, membuat dinding-dinding di sekitarnya bergetar lalu berguguran. Bekas jejak itu melesak, dalam jarak beberapa depa kesamping kanan kiripun ikut amblas. Seolah-olah ada bola raksasa jatuh menghantam dinding tebing itu. Tentu saja kejadian yang sangat tiba-tiba itu membuat orang panik dan menjauh dari longsoran batu. Sadar ada bahaya mengancam, sontak belasan orang itu berkumpul dalam satu kelompok dengan Rudra Lugas dan Swatantra sekalian.

Ki Alih berdiri mendarat dengan ringan dihadapan mereka, disekujur tubuhnya terlihat percikan-percikan api berkelap-kelip. Bahkan mereka masih melihat kelap-kelip bara api serupa kunang-kunang di jalur gerakan pendatang itu. Seolah pendatang itu mengenakan serabut benang emas yang terurai panjang.

“Siapa yang menyiarkan omong kosong perguruanku di serang orang?!” bentak Ki Alih dengan nada dalam. Suaranya datar, tapi tiap orang yang mendengar seperti di godam dadanya. Mereka sadar pendatang itu memiliki hawa sakti amat tinggi.

Tatapan Ki Alih menjelajah tiap wajah orang dihadapannya. “Kalian datang kemari karena undangan dari kami. Jadi, jagalah tingkah laku kalian. Perguruan Naga Batu adalah tonggak pimpinan seluruh perguruan, jadi sangat tidak mungkin ada cecurut yang berani bertingkah didalam perguruan kami!”

“Omong kosong!” ketus seorang pemuda tiba-tiba maju. Ki Alih mengenalnya sebagai Pancaksi dari Perguruan Awan Gunung. “Perguruan Naga Batu memang sudah lama berdiri, tapi kau tidak sepantasanya mengaku memimpin seluruh perguruan di bawah perintahmu!”

“Tutup mulutmu!” bentak Ki Alih dengan garang. “Kau hanya berasal dari perguruan kecil, tidak patut mengatas namakan enam belas perguruan utama!” cetusnya membuat seluruh orang di luar enam belas perguruan utama tersinggung.

“Kau terlalu sombong tuan!” sahut Swatantra terbakar emosinya.

Ki Alih tertawa. “Kau mau membuktikan bahwa Perguruan Naga Batu ada diatas seluruh perguruan?” katanya menantang.

Ucapan Ki Alih yang terakhir seperti minyak menyiram api, bahkan Rudra Lugas yang cukup dingin pikirinya pun terusik karena ucapan sombong Ki Alih.

“Kau terlalu tinggi hati kisanak!” geram Rudra Lugas.

“Adalah sebuah kenyataan, enam belas perguruan utama memenuhi undangan kami dengan mengirimkan salah satu jajaran tertinggi, jika itu bukan pengakuan akan status kami sebagai pimpinan, memangnya itu apa?!” pancing Ki Alih membakar emosi massa.

“Bualanmu memang harus dihentikan!” teriak Pancaksi, mendadak melompat dengan pedang terhunus, gerakannya gesit, dalam satu tarikan nafas sudah ada di hadapan Ki Alih.

Pedang yang terhunus tentu saja bukan sebagai hiasan semata, begitu sampai dihadapan Ki Alih, Pancaksi membacok lurus dari atas kebawah dengan gerakan kilat, seolah akan membelah tubuh lawanannya. Dengan sangat mudah Ki Alih menghindari serangan itu, kakinya hanya bergeser satu tapak, lalu tangannya mengibas dada lawannya.

Blang! Pancaksi terpental, nyaris menggelinding mauk jurang, tapi rupanya pemuda itu cukup keras kepala, dengan mencengkeram tanah padas dia menghentikan laju tubuhnya. Mendadak, dia kembali melenting dan langsung mengeluarkan seluruh jurus simpanannya menyerang Ki Alih, tebasannya kali ini bagai sambaran puting beliung. Mengingatkan orang dengan hembusan angin gunung, tapi lagi-lagi serangannya tidak membuahkan hasil sama sekali. Melihat kondisi Pancaksi yang mulai kepayahan, Swatantra dan dua pemuda lainnya turut menyerang Ki Alih.

Ketiganya berturut-turut menghunus pedang, seraya berkelebat mendekat mereka membacok Ki Alih dengan berbagai ilmu simpanan perguruan masing-masing. Desingan pedang Swatantra bagaikan kilat, berkerjap menyambar-nyambar seluruh bagian tubuh lawan. Tiap sambaran di sisipi hawa sepanas bara!

Demikian pula dengan kakak beradik seperguruan dari Perguruan Merak Inggil. Pedang keduanya sangat aneh, melengkung seperti celurit, tapi panjangnya bagai pedang pada umumnya. Ki Alih pernah melihat pedang semacam itu, dari negeri seberang, hanya saja pedang orang-orang negeri seberang itu, tidak semelengkung pedang anak murid Merak Inggil. Jika sambaran Swatanta bagai petir menyambar, sambaran kedua anak murid Merak Inggil bagai, hembusan biang es, dingin menggigit dan membuat bulu kuduk meremang. Diam-diam Ki Alih memuji kemahiran keempat anak muda itu, kemampuan mereka benar-benar tidak dibawah anak murid perguruan utama!

Namun Kepalan Arhat Tujuh bukanlah sebuah nama kosong, tebasan demi tebasan, bacokan dan tusukan, dengan mudah dia elakkan. Semua hadiri melihat gerakan Ki Alih dengan terpesona, tiap gerakannya membawa kerlip bara, yang kemudian membumbung, tercampur dalam pusaran gerak lawan. Hadirin seolah melihat satu garis fatamorgana yang bergerak-gerak mengikuti kelebatan tubuh mereka.

Setelah begitu lama, Ki Alih menghindari serangan mereka, lelaki paruh baya ini merasa cukup, dia sudah melihat seluruh gerak serang mereka, dan itu cukup bagi anak buah Penikam untuk ‘merekam’ seluruh pertarungan. Dengan menghentakkan hawa saktinya, tiba-tiba Ki Alih melakukan bacokan mendatar. Kejap itu juga, seluruh senjata lawannya terbawa dalam arus hisap bacokan tangan kosong itu, begitu senjata lawan terseret dalam arus hawa saktinya, tangan Ki Alih membentuk cakar, dan melakukan gerakan menarik dan menghempas. Hadirin melihat keempat orang itu seolah dibetot oleh tangan tak terlihat, berikutnya keempatnya bagai dihempas badai, tanpa ampun mereka jatuh bergulingan!

Di tangan Ki Alih kini ada, empat batang pedang. Dengan tertawa menghina, dia membolang balingkan pedangnya kesana kemari, lalu melemparnya ke dinding tebing. Betapa cepat dan kuat lemparannya, semua orang kini hanya melihat gagangnya saja yang tak tertanam.

“Melawan Perguruan Naga Batu berarti membuat kesalahan besar!” dengusnya memberikan pandangan menantang pada tiap orang. Tapi apa daya mereka yang hadir disitu justru hanya setingkat dibawah Swatantra dan kawan-kawannya, tentu saja mereka tidak mau melakukan tindakan sia-sia.

Tapi Rudra Lugas tentu saja berbeda. Bagaimanapun ucapan Ki Alih sangat menyinggung harga dirinya! Rudra Lugas cukup mengenal Perguruan Naga Batu, dan gerakan terakhir itu membuatnya benar-benar meyakini orang di depannya memang salah satu tokoh Naga Batu, Cakar Naga Menghisap Gelombang, adalah jurus andalan yang hanya di miliki tokoh-tokoh tetua. Rudra Lugas mengepal tangan demikian keras, untuk menahan amarah yang meluap-luap. Sungguh tak di sangka, Perguruan Naga Batu yang terhormat itu, melakukan hal-hal semacam ini!

“Apakah kau merasa apa yang kau lakukan itu sangat gemilang?” sindir Rudra Lugas, seolah mengatakan, menang dari anak kecil bukanlah tindakan yang bisa dibanggakan.

“Hahaha… keempat orang itu cukup ternama di dunia persilatan. Tapi dimataku mereka hanya semut saja, kau pun tak terkecuali!”

Ucapan Ki Alih membuat kedua murid Rudra Lugas menggeram. “Biarkan aku menghadapi dia guru!” dengus pemuda yang bertampang angkuh ini.

Sang guru, tak menyahut, tapi sinar matanya yang tajam bagai membara, mengingatkan dirinya bahwa dia belum bisa bertarung dengan leluasa semenjak terkena serangan Jaka. “Seta Angling, Gemati… kalian berdua harus ingat! Bertindak sembrono, tanpa perhitungan hanya mendatangkan kehancuran lebih cepat!”

Keduanya mengiyakan sambil menunduk, semisal kondisi mereka tidak dalam keadaan lemah seperti saat ini-pun, belum tentu keroyokan mereka bisa memberikan perlawanan berarti pada lawannya yang sangat sombong itu.

“Apakah kau akan mengulangi kekalahan keempat anak bawang itu?” Tanya Ki Alih lagi.

Perasaannya dikocok begitu rupa, membuat nalar Rudra Lugas benar-benar nyaris pudar! Tapi dia masih memiliki sisa kesadaran untuk berpikir. Bahwasanya keempat pendekar muda yang cukup disegani itu tidak dapat memberikan perlawan yang berarti, diapun tahu diri… namun untuk melindungi harga dirinya, tak mungkin dia membiarkan hinaan lawan begitu saja. Andaikata dia harus kalah-pun, dirinya harus mencari jalan mundur yang aman, yang jelas tidak membuat malu perguruannya.

“Jika dalam tiga jurus aku tak mampu mendesak dirimu, anggap saja aku terlalu bodoh, karena tak sanggup menyerap ilmu perguruanku dengan sempurna!” desis Rudra Lugas sambil melangkah menghampiri Ki Alih.

Ucapan itu memang mencari jalan mundur aman, Ki Alih sangat paham. Sebenarnya dia juga enggan membuat tokoh-tokoh itu jadi bahan tertawaan, tapi demi melakukan peranan pentingnya, dia pun harus mengeraskan hati.

Menanggapi ucapan lawannya Ki Alih membuat lingkaran dengan kakinya di tanah padas itu. “Tiga jurus? Membosankan, jika seranganmu bisa membuatku keluar dari lingkaran ini, anggap saja Perguruan Naga Batu memang tidak becus memimpin seluruh perguruan utama. Tapi jika kau tak sanggup… hm, suka tidak suka, kau telah mengakui, perguruanmu terlalu jauh untuk bersaing dengan kami!”

Rudra Lugas menyedot udara dalam-dalam, rasa-rasanya jika dia tak melakukan itu dadanya bisa meledak saking kesalnya. “Aku tak mengakui apapun!” dengusnya. Wajahnya tiba-tiba membeku, jemari tangan yang dari tadi terkepal mendadak memucat dan tiba-tiba merah meranggas. Dari tempatnya berdiri, Ki Alih bisa merasakan pancaran panasnya.

“Kemarilah!” tantang Ki Alih dengan nada meremehkan, meski demikian dia pun bersiap-siap.

Dengan pandangan tajam, Rudra Lugas berjalan perlahan menghampiri Ki Alih, setiap langkahnya menimbulkan tekanan yang begitu menghendak dada. Tapi Ki Alih menanggapinya dengan tenang.

Kini jarak mereka tinggal dua jangkauan. Ki Alih merasakan Rudra Lugas memendarkan hawa panas yang terpusat pada kepalan tangannya, namun sebaliknya, Rudra Lugas tidak merasakan hawa atau tekanan apapun dari lawannya.

Teriakan membahana, terlontar dari mulut Rudra Lugas, tinju yang membara itu menghujani Ki Alih dengan kecepatan tak terukur. Jika berganti orang lain, menghadapi serangan seperti itu pasti kepayahan, tapi Kepalan Arhat Tujuh justru orang yang sangat mahir menggunakan tenaga lawan untuk menyerang balik. Seluruh serangan Rudra Lugas diterima dengan tapaknya. Dia menghalau serangan lawan dengan tenaga si penyerang itu sendiri! Tentu saja Rudra Lugas cukup merasakan betapa semua serangannya seperti membentur baja. Tiba-tiba hadirin, melihat tubuh Ki Alih bagai kembang api yang disulut satu demi satu, dimana serangan Rudra Lugas mengarah, disanalah percik api berkerjap dan kemudian berkobar. Mata kedua anak murid Perguruan Matahari Tanpa Sinar berbinar melihat kejadian itu. Mereka mengira serangan-serangan gurunya membuahkan hasil dan membakar hangus lawan. Padahal mereka mana tahu, kobaran-kobaran api itu terjadi karena sisa bubuk kayu bercampur mesiu yang masih menempel di baju Ki Alih.

Setelah beberapa belas kali benturan terjadi, kepalan Rudra Lugas meluruh. Ki Alih memperhatikan lawannya dengan tatapan mata ‘meremehkan’, beberapa orang yang tadinya berteriak menyemangati Rudra Lugas, terdiam melihat tak secuilpun baju lawannya hangus.

“Kau cukup bagus menjadi salah satu orang berbakat dari Perguruan Matahari Tanpa Sinar. Tapi kau melupakan hal paling penting dari perguruanmu! Coba kau ingat kembali kenapa perguruanmu bernama Matahari Tanpa Sinar.” Kata-kata Ki Alih itu adalah kalimat terakhir orang bisa melihat wujudnya, kejap berikut, tubuh Ki Alih sudah lenyap begitu cepat. Tak ada yang bisa mengikuti kemana dia pergi.

Rudra Lugas menatap kosong kedepan. Dia merasa seluruh serangannya bagai memukul baja tapi juga seperti menghantam sepercik air, tiap tangkisan sang lawan membuat kepalannya yang membara meredup, seperti api unggun yang terkepung embun. Jika seluruh pemuncak Perguruan Naga Batu memiliki kemampuan seperti itu, alangkah menakutkan ambisi yang tadi diungkapkan lawannya. ‘Apakah kami harus menghadiri undangan ini? Jika yang kami dapati hanya penghinaan dan pemaksaan?’ pikirnya gundah.

Dia baru sadar manakala muridnya menyapa. “Engkau mengalahkannya guru?!” Tanya Seta Angling bersemangat.

“Bukan kalah menang yang menjadi masalah.” Katanya menghindari pertanyaan sang murid. “Agaknya Perguruan Naga Batu memiliki sandaran kuat untuk meneruskan ambisi gilanya!” cetusnya sembari memperhatikan Swatantra dan teman-temannya yang masih duduk memulihkan tenaga.

Swatantra dan tiga orang temannya menghampiri Rudra Lugas, langkah mereka masih lemah. “Apakah tuan memiliki pendapat setelah menghadapi orang itu? Mohon petunjuknya…”

“Kau mengatakan Tanda Silam muncul?” Tanya Rudra Lugas menegaskan, disambut anggukan mereka berempat. “dengan kejadian tadi, aku bisa menyimpulan, bahwa kemunculan lambang perserikatan perguruan kalian berkaitan dengan sesuatu yang sedang berkembang di Perguruan Naga Batu. Mungkin salah seorang tetua perguruan kalian ada yang menyadari hal ini dan ingin meminjam mulut kalian untuk memberi kabar pada semua anak murid kalian…”

Swatantara mengangguk-angguk. “Saya berpikir juga demikian. Tapi rasanya ada yang tidak benar…”

“Bagian mana yang kau rasa meragukan?”

“Jika dia adalah orang Perguruan Naga Batu, kenapa menyangkal adanya kerusuhan di perguruannya sendiri?” ujar Swatantra.

“Kupikir itu hanya propaganda orang itu.” Sahut Gemati si pembawa kabar. “Aku bisa menjamin kebenaran berita itu, karena yang mengatakan adalah beberapa orang anak murid Naga Batu yang tergesa mencari tabib. Coba bayangkan, jika dua orang anggota satwa mengobrak-abrik sarang mereka, kerusakan seperti apa yang akan di timbulkan? Sampai-sampai mereka harus mencari juru obat dari luar perguruan?”

Semua orang mendengarkan dengan seksama, meskipun kesimpulan Gemati terasa menggantung dan kurang meyakinkan, tapi mereka semua sudah bisa menangkap satu jalinan masalah yang sangat serius.

“Apakah kalian tidak merasa aneh?” tiba-tiba Dwiya Galih membuka suara.

“Aneh bagaimana?” Tanya Kagendra pada saudara seperguruannya.

”Kita semua memperhatikan bekas pertempuran ini, tapi orang itu tidak memperhatikan sama sekali. Bahkan dia melakukan satu serangan disebelah bekas pertarungan ini…”

Ucapan Dwiya Galih menyadarkan mereka, dengan tergesa semua orang memperhatikan bekas telapak kaki Ki Alih yang bersebelahan dengan ‘bekas pertempuran’ itu.

“Ah… serupa!” terdengar seruan dari beberapa orang.

Apakah lelaki tadi yang telah bertarung dengan tujuh satwa? Pertanyaan serupa itu menggantung dibenak tiap orang.

“Adalah jamak, jika dia tidak memperhatikan bekas pertarungannya sendiri.” Kata Dwiya Galih berkesimpulan. Pendapatnya di amini oleh banyak orang.

“Ja-jadi… yang kulihat dan kudengar itu, bagaimana?” kata Gemati kebingungan.

Tak ada satupun yang bisa menjawab itu.

“Apapun itu, dengan kejadian tadi, aku harus menghubungi guru…” Gumam Swatantra di benarkan ketiga temannya. Keempat orang itu berpamitan pada Rudra Lugas sekalian. Tak lupa mereka menarik senjata masing-masing yang tertanam di dinding tebing, dengan susah payah. Tak berapa lama kemudian jalanan tebing itu senyap, tiap orang membubarkan diri dengan pertanyaan membingungkan bergayut di benak mereka.

Tapi ternyata tidak semua orang pergi, ada dua orang yang masih asik melihat ‘bekas pertempuran’ itu. “Langkah kita bergabung dengan mereka ternyata sebuah keberuntungan.” Dia berkata pada kawannya.

“Melihat lihainya cara orang-orang Naga Batu membuat sebuah relief pertarungan ini, ternyata bisa menyesatkan pandangan orang.” Ujar temannya dengan tertawa. Lalu keduanya berlalu sambil bercakap-cakap riang.

Jalanan kini benar-benar senyap, angin keras menderu menyapu dinding tebing, membuat beberapa batu bergulir jatuh. Ditempat persembunyiannya, Ludra si Macan Terbang berkata pada temannya.

“Aku yang bodoh atau mereka yang bodoh?” ujarnya dengan menggaruk kepala yang mendadak gatal.

“Kenapa kau bertanya begitu?”

“Sebenarnya siapa yang membuat bekas pertempuran itu? Bukankah itu jelas dilakukan oleh Mahapandra, kenapa orang-orang membuat kesimpulan berbeda-beda?!” tanyanya dengan tatapan mata bingung. Teman-temannya tertawa mendengar ucapan Ludra. Tentu saja mereka paham, ‘lelucon’ Ludra adalah sindiran untuk mengatakan orang-orang sok tahu itu sempurna masuk dalam perangkap.

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s