75-Arwah Pedang

Tubuh tinggi kurus dengan baju hijau pupus di dunia persilatan merupakan ciri yang mudah dikenal. Lelaki itu bernama Pariçuddha, lebih dikenal sebagai Arwah Pedang. Untuk menjumpai lelaki ini sangat sulit jika dia tak menginginkan untuk bertemu.

Tapi beberapa hari ini kaum persilatan yang ada di kota Pagaruyung, sering melihat orang yang disenyalir sebagai Arwah Pedang, muncul disana sini,meskipun dia tak memakai baju hijau, bahkan pedang juga tak tampak tersoren. Meski orang menyangka dia mirip dengan Arwah Pedang, tapi tak satupun berani memastikan dengan bertanya.

Saat ini, dia sedang terlihat duduk di sebuah rumah makan. Arwah Pedang memesan air jahe dengan nasi ketan. Meskipun Jaka sudah menerangkan detail arah bangunan, dimana Ketua Bayangan tinggal, dia lebih suka kedatangannya diundang. Tentu saja dia punya cara bagaimana anak buah Ketua Bayangan menjumpai dirinya.

Hari ini dia duduk di rumah makan yang diduga pengelolaannya ditangani kelompok Ketua Bayangan. Di tempat itu pula Jaka berjumpa dengan Momok Wajah Ramah. Simbol cara Arwah Pedang minta bertemu orang, diperoleh dari Jaka, sementara pemuda itu memperolehnya dari Arseta. Setelah wedang disajikan, Arwah Pedang menyelup jemarinya dan meneteskan ke meja sebanyak tiga tetes. Dan itu dilihat oleh pelayan saat mengantar nasi ketan. Lelaki ini percaya, sebentar lagi ada balasan serupa.

Nampaknya dia tak perlu menunggu lebih lama, sesaat kemudian masuk lelaki muda, dia duduk di seberang meja Arwah Pedang. Air yang dia pesan adalah air daun salam, uap yang mengepul dari gelas tanah liat itu tertampung oleh penutup gelas, lalu pemuda itu membuka tutup, mencecerkan dua butir air disamping gelas.

Arwah Pedang melihat itu, dia bergegas membayar lalu keluar, berjalan santai. Ternyata simbol yang dilakukan tadi adalah tanda ingin bertemu orang, jika si pelayan yang melihat tanda itu tidak memberi respon, Pariçuddha beranggapan dia salah tempat. Tapi ternyata tanda yang dia buat tadi mendapat balasan cepat, dua tetes air berarti: ikuti aku.

Tak berapa lama kemudian, pemuda dalam rumah makan juga keluar, berjalan cepat dan melewati Arwah Pedang, dipertigaan depan, dia berbelok kekiri. Pariçuddha segera mengikuti dengan tak kentara. Tak berapa lama, dia sampai di sebuah hutan pinus, terlihat pemuda itu berhenti menunggu dirinya.

Tangan pemuda itu diudara membuat suatu tanda bulatan, dengan jari manis. Pariçuddha melakukan hal sama dengan ibu jari. Pemuda itu membungkuk, “Harap tunggu sejenak.” lalu dia membalikan tubuh dan melepas bajunya. Saat sudah berhadapan dengan Arwah Pedang lagi, dia sudah mengenakan baju coklat ketat. Wajahnyapun tak lagi seramah tadi.

Arwah Pedang pada dasarnya memang bertampang dingin, serius, sifatnya juga nyentrik. Tapi sejak berkumpul dengan Jaka semua sifat itu tidak ada. Kini dihadapannya ada pemainan semacam ini, membuat kebiasaannya kembali. Dari tadi belum sepatah katapun keluar dari mulutnya, dia juga tak bertanya apapun.

“Di hari biasa, kami pasti akan menyilahkan tamu-tamu yang mengetahui simbol kami, tapi saat ini adalah kekecualian!” Kata pemuda itu dengan tawar, dia menatap Arwah Pedang penuh selidik.

Lelaki ini mengerutkan keningnya, dia teringat simbol tertentu, lalu tangannya bergerak dengan dinamis, jemarinya satu per satu bergerak bergiliran. Wajah pemuda itu berubah, tanda yang dilakukan orang didepannya itu adalah kesepakatan paling baru yang dibuat oleh Arseta sendiri. Apakah orang ini kawan dari Arseta? Jelas tidak mungkin. Setelah kedatangan seorang tamu yang diterima Ketua Bayangan, Arseta tak pernah keluar, jadi satu-satunya kesimpulan adalah; orang itu berhubungan dengan tamu terakhir. Sebab tamu terakhir mempelajari simbol rahasia terbaru. Dengan ragu pemuda ini menatap lelaki itu.

“Kau temannya?”

Arwah Pedang, tidak tahu ‘nya’ yang dimaksud adalah siapa. Tapi jika itu bisa membawanya menjumpai adik iparnya, diapun mengangguk.

“Hm.. Kebetulan sekali, aku belum sempat berjumpa dengannya, sempat kudengar sedikit sanjung puji atas dirinya. Kupikir harus kubuktikan lebih dulu, aku mohon pengajaranmu!” tegas dan getas ucapan pemuda ini.

Arwah Pedang terheran-heran dengan ketusnya sikap pemuda itu, dia menangkap rasa iri didalamnya. Dengan perasaan apa boleh buat lelaki ini mulai mengawasi pemuda dihadapannya dengan seksama.

Ada yang mengejutkan dari penampilan pemuda itu. Sosoknya tidak setinggi Jaka, tapi raut dan sikapnya, cukup berbobot, wajahnya juga tampan, cuma berkesan dingin. Lamat-lamat Pariçuddha merasa ada hawa beku merembes dari tubuh si pemuda, padahal sinar mentari juga cukup menyorot hutan pinus, hawa itu sangat tipis nyaris tak bisa dirasakan, jika saja dirinya tidak pernah melewati puluhanan pertempuran hidup mati, tentu hawa semacam itu tak akan bisa dirasakan. Diam-diam Arwah Pedang mempertinggi kewaspadaan, sikapnya pun jadi prihatin. Hawa yang merembes dari tubuh lawanya, semacam cikal bakal hawa membunuh, bisa dirasakan olehnya, tak lebih dari sepuluh tahun kedepan pemuda itu pasti sanggup melampauinya.

Pemuda lawannya itu seperti batu mulia yang belum terbentuk. Sikapnya yang kokoh dan teguh, membawa satu perbawa cukup menakutkan. Perlahan tangan kirinya terangkat dengan lengan tertekuk kesamping sejajar bahu, jemari mengepal menempel dada, tangan kanannya memegang siku kirinya-tepatnya jemarinya menjumput siku. Melihat itu, berubah wajah Pariçuddha, sikap pembukaan itu dikenal Arwah Pedang sebagai Silat Baginda.

Terkesip juga lelaki ini menyaksikan gerak selanjutnya, dia pikir mungkin saja lawannya cuma mencangkok gerakan, tapi gerakan jemari yang sekelumit tadi memastikan kemurniannya. Silat Baginda adalah olah gerak yang hanya dimiliki kalangan bangsawan. Para leluhur mereka yang waskita telah mencipta olah gerak berdasarkan kewibawaan, sementara sistem pernafasan untuk membangun hawa sakti konon hanya bisa dilakukan oleh trah darah biru.

“Hiat!” pekik bagai lengking hewan, menusuk timpani telinga. Dengan melesat cepat kearah Arwah Pedang, tangan kanan yang memegang siku kirinya mencuat dalam kepalan dengan gemuruh laksana guntur.

Arwah Pedang terkesip menyaksikan jurus itu, dia pernah bertarung dengan orang yang memiliki jurus serupa, tapi perbawanya tak sedahsyat ini! Penasaran ingin melihat tataran ilmu lawannya, Arwah Pedang memapaki kepalan lawan dengan tapak tangannya, sebuah jurus sederhana yang digunakan oleh pintu perguruan manapun, ‘Mendorong Selaksa Angin’, cuma bedanya jika jurus itu seharusnya digunakan dengan jari lurus mengarah langit, Arwah Pedang menggunakannya dengan tapak miring ke kiri.

Plak! Benturan keras terjadi, terjangan si pemuda seperti batangan besi yang tak tertahankan, lengan Arwah Pedang sampai menekuk, tergempur! Ternyata gempuran pemuda itu belum selesai, dari bahunya mengedut sekali, dan Arwah Pedang merasa seperti disembur satu pukulan jarak jauh,tapi dengan jarak sedekat itu Telapakannya terasa kebas.

Tak mau dirugikan, telapak tangan lelaki ini memutar kebawah, dan ibu jari serta kelingkingnya mengait kepalan si pemuda yang terus saja mengeluarkan tenaga kedut dari bahu.

Dan seiring tenaga itu terhambur, tangan Arwah Pedang seperti sedang dipukul-pukul dengan besi. Kaitan pada kepalan dia kencangkan, sementara jari telunjuknya sudah menyentuh nadi pemuda itu.

Seperti dugaan Arwah Pedang, begitu jarinya menempel pada nadi, kepalan tangan kiri yang menempel didada begitu sebat mengibas, serangan itu terlampau mendadak, bahkan lebih dahsyat dari serangan pertama, pemuda itu sudah memiringkan tubuh, memanjangkan poros tubuh! Dia memukul kepala Arwah Pedang. Tapi agaknya pemuda ini lupa, kepalannya sedang dikait dan nadinya sudah disentuh Arwah Pedang.

Lelaki ini memiliki keistimewaan dalam pengerahan tenaga, dia tidak pernah melakukan hal yang sia-sia, semuanya selalu pas, tak lebih-tak kurang, hanya setitik saja. Sentuhan jarinya juga pas, tidak lebih untuk menghentikan serangan susulan, tidak kurang untuk membekukan gerakan pemuda itu selama satu tarikan nafas…

“Tangan kirimu kuat sekali.” Puji Arwah Pedang disamping si pemuda yang masih membeku, sesaat kemudian dia bisa bergerak, dan terburu-buru menjauhi Arwah Pedang.

“Kau bisa panggil aku Kiwa Mahakrura.” Dengus si pemuda merasa tak puas dengan kekalahannya, namun diapun harus bersikap jantan untuk tak meneruskan gebrakan.

Arwah Pedang menghela nafas dingin. “Tahukah kamu, sebutan itu bisa memendekkan usiamu?”

“Bukan urusanmu!” seru Kiwa Mahakrura ketus. “Ikuti aku!”

Arwah Pedang tak banyak bicara, dia mengikuti pemuda itu, melalui jalan yang pernah Jaka lalui, tak berapa lama Arwah Pedang pun terheran-heran dan takjub dengan keadaan disitu.

Sebuah bangunan tua cukup luas, dikelilingi bangunan lain sebagai dinding pelindung, lantai halaman yang kehitaman dan licin. Arwah Pedang, tahu batu lantai adalah kuarsa kasar, tapi sudah sedemikian licin, lelaki ini memperkirakan paling tidak, sepuluh dasa warsa adalah hitungan minimal keberadaan bangunan itu. Diantara keheningan yang mencekam, aroma kayu kuno juga teruar, membuat kesan bangunan itu begitu misterius. Arwah Pedang tak lagi memperhatikan kemana Kiwa Mahakrura, setelah puas melihat diapun duduk di sebuah kursi kayu jati.

Tak berapa lama, muncul lelaki dari dalam. Menyaksikan tamunya, wajahnya terperanjat. Dia memang dapat laporan ada orang berpenampilan mirip Arwah Pedang, tak disangka dugaan itu malah nyata. Buru-buru dia datang dan menjura. “Mohon maaf jika kedatangan tuan, tidak mendapat sambutan yang pantas.”

Arwah Pedang mengulap tangannya. “Aku tak ingin berbasa-basi, aku perlu bertemu Ketua Bayangan..”

Wajah Arseta nampak berubah, dia tak bisa menduga apa maksud Arwah Pedang, cuma jika dikaitkan dengan Jaka, bisa jadi kedatangannya untuk membalas dendam?

“Kau tak perlu memikirkan, kedatanganku gara-gara buah Jalanidhi atau bukan.” Arwah Pedang bisa membaca kecanggungan Arseta.

“Kalau demikian, mari.. Ikuti saya.” Setelah bimbang, Arseta memutuskan untuk membawa tamunya ke dalam. Tapi bukan tempat dimana Jaka pernah masuk, melainkan ruang yang berbeda.

Pada saat Jaka datang kesitu, memang sudah timbul rencana mereka untuk merekrutnya, dengan atau tanpa persetujuan. Maka ruangan yang lebih pribadi diperlihatkan. Tapi tokoh sekaliber Arwah Pedang jelas tidak bisa disamakan dengan Jaka. Cuma, ucapannya tentang buah Jalanidhi, memberi ilham aneh pada Arseta. Jangan-jangan kita salah bertindak? Pikirnya makin gundah.

Arwah Pedang sudah duduk dalam ruangan dibelakang bangunan utama, ada sebuah taman yang cukup luas disana. Meski dirinya cukup dingin menghadapi semua persoalan, tapi berpikir akan menjumpai adik iparnya, membuat denyut jantung lebih cepat.

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s